Rabu, 22 Desember 2021
Minggu, 12 Desember 2021
Menghadirkan keindahan dari (yang katanya) perhatian
Rabu, 01 Desember 2021
Berdamai dengan kekecewaan
Minggu, 21 November 2021
Musim hujan dan harapan yang tenggelam
Weekend kemarin, saya baru punya waktu luang sekaligus niat, usaha, dan upaya untuk motret kembali. Kali ini saya berniat motret di daerah alun-alun Martapura. Lokasi yang belum pernah saya jadikan tempat untuk hunting street photography. Awalnya saya memang sudah punya niat ini dari sejak lama, tetapi apa ada daya waktu yang saya punya rasa-rasanya serba nggak bisa menyempatkannya. Selain ada kesibukan, tentu saja saya juga malas jika harus berkeliling dan berjalan sendirian, walaupun sembari memotret keadaan sekitar memang adalah hobi saya.
Seperti biasa, pastinya saya mengajak salah seorang teman yang biasanya memang selalu menemani saya ketika sedang hunting street photography, dia juga orang yang cukup suka dengan kegiatan tersebut. Maka di hari Minggu tanggal 14 November 2021, kami berangkat dari Banjarmasin pada pukul 3 siang. Nah, yang menariknya, drama dari wacana kami adalah, rencana awal ingin berangkat sekitar jam 9 pagi, biar udaranya masih fresh, enak, segar, apalagi kalau membayangkan nanti suasana di alun-alun sedang ramai pengunjung yang sedang beraktivitas menikmati akhir pekan. Pasti ada banyak momen yang bisa diabadikan. Namun kenyataan membuktikan bahwa rencana akan tetap menjadi wacana, pada malam harinya, saya memang sengaja begadang hingga sampai jam 4 pagi di rumah teman saya. Ketika sampai di rumah maka saya langsung tertidur dan terbangun saat hari sudah menjelang adzan Zuhur. Pun juga dengan teman saya yang terbangun kesiangan, membuat kami akhirnya merubah sedikit jadwal dan berencana untuk berangkat sekitar jam 2 siang, dan tentu saja lagi-lagi itu hanyalah rencana yang menjadi wacana.
Seperti yang tadi saya katakan, kami berangkat pada pukul 3 siang, dengan bonus awan mendung yang menyelimuti langit. Memang, rencana motret di musim-musim penghujan bukanlah ide yang baik, tetapi terkadang hasil-hasil jepretan foto sehabis hujan turun, akan sangat menakjubkan. Okelah, saya mengantongi opsi kedua tersebut, jika seandainya nanti memang hujan akan turun.
Belum ada setengah perjalanan kami tempuh, hujan mengguyur di sekitar daerah gapura selamat datang kota Banjarmasin. Saya tetap melanjutkan perjalanan meski hujan mengguyur lumayan deras. Beruntungnya saat saya sudah memacu motor membelah jalanan lintas kota tersebut, hujan berangsur-angsur berhenti.
Ketika kami melintasi jalanan di depan bandar udara Syamsuddin Noor, saya melihat awal hitam yang cukup tebal di depan mata saya, dan memang keadaan sudah cukup gelap. Saya sudah berfirasat besar bahwa sebelum tiba di Martapura, kami akan diguyur hujan. Dan benar saja, tidak jauh setelah kami melewati bandara, hujan mengguyur dengan sangat deras, kali ini saya tidak bisa memaksa untuk meneruskan perjalanan tanpa memakai jas hujan. Berhentilah kami di pinggir jalan untuk membenahi tas yang berisi kamera agar tidak terkena air hujan, sekaligus saya ingin memakai jas hujan agar kami bisa tetap melanjutkan perjalanan walaupun secara perlahan.
Di tengah hujan yang sangat deras itu saya memacu motor dengan sangat pelan, jas hujan yang saya pakai rasa-rasanya tidak cukup menangkal kami yang sedang ingin berlindung di baliknya. Tetesan-tetesan air yang terhempas di atas jas hujan berbunyi nyaring. Saya tetap nekat melajukan kendaraan sampai akhirnya saya menemukan sebuah masjid. Kami berhenti di sana untuk melaksanakan sholat ashar sekalian menunggu hujan agak sedikit reda. Agak ciut juga nyali saya jika tetap nekat memaksakan keadaan, terlebih ada kamera yang sangat saya khawatirkan.
Namun, setelah usai sholat, hujan juga tidak kunjung reda. Kalut juga akhirnya rencana kami yang ingin motret sehabis hujan jika sampai saat ini hujannya tidak kunjung reda. Sekitar kurang dari setengah jam menunggu hujan reda yang sebenarnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, akhirnya kami memutuskan untuk bersinggah ke rumah salah seorang teman perempuan saya, kebetulan dulu kita satu sekolah Aliyah Negeri di Banjarmasin, tetapi rumahnya di Banjarbaru, dan kebetulan jarak rumahnya sudah cukup dekat dari masjid yang sekarang kami singgahi ini. Karena hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, maka kami menunggu intensitas derasnya agak sedikit menurun, agar kami bisa tetap melanjutkan sedikit perjalanan ke rumah teman saya walaupun masih harus menggunakan jas hujan.
Sekitar jam lima sore akhirnya kami tiba di rumah teman saya, dan ternyata di sana juga ada dua orang teman saya yang lainnya yang sudah lebih dulu tiba. Katanya memang ingin berkunjung. Jadi lah kami berteduh di sana sembari kembali bercengkrama setelah sekian lama semenjak lulus SMA kita semua sibuk dengan dunia masing-masing. Percakapan hangat itu rasa-rasanya mampu menghalau atmosfer kedinginan yang diciptakan oleh tetesan hujan.
Benar saja dugaan kami bahwa hujannya pasti akan awet, karena hingga menjelang adzan maghrib pun masih tidak ada tanda-tanda akan reda. Paling mentok sampai gerimis lalu kemudian kembali deras, begitu saja terus. Kami akhirnya mulai jenuh menunggu, sampai kemudian waktu isya datang. Saya bersama dua orang teman laki-laki saya melakukan sholat isya berjamaah, lalu kemudian menunggu sebentar sampai hujan benar-benar kembali gerimis, maka kita semua akan nekat beranjak dari rumah teman saya. Tidak enak juga rasa-rasanya berlama-lama di sana, takut merepotkan.
Sekitar jam delapan malam lewat sedikit akhirnya hujan mulai kembali gerimis, dua orang teman saya yang sebelumnya lebih dulu tiba itu memutuskan untuk pulang ke Banjarmasin lebih dulu. Sementara saya dan teman saya tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Martapura walau hujan masih mengguyur tipis. Karena memang teman saya ada memiliki hajat dan keinginan untuk menyempatkan waktunya berziarah ke kubah alm guru sekumpul.
Sekitar jam sembilan malam kami tiba di alun-alun, dengan kondisi hujan yang agak semi-semi reda tetapi masih meneteskan airnya meski secara tipis-tipis, saya akhirnya memutuskan untuk tetap memotret walau hanya mendapatkan hasil foto yang sangat sedikit, ditambah lagi pada saat itu suasana di alun-alun sudah sangat-sangat sepi dan gelap. Hanya ada beberapa pedagang yang bersiap menutup lapaknya, beberapa masih ada yang bertahan.
Kami terus berjalan mengelilingi sekitar alun-alun dengan tempo berjalan yang cukup cepat, suasana sekitar yang cukup sepi membuat kami tidak cukup bergairah untuk memotret lebih banyak.
Namun, ada yang cukup menarik perhatian saya. Dulu, Martapura selalu menjadi tempat yang selalu saya kunjungi setiap minggu malamnya untuk menghadiri majelis maulid yang ada di Sekumpul, tetapi semenjak pandemi covid-19, saya menjadi sangat-sangat jarang ke sana. Baru kali ini saya kembali berkesempatan menjejakkan kaki di sini. Martapura yang dikenal dengan julukan kota santri ini benar-benar tidak lepas dari euforia yang saya rasakan ketika melihat ada sekelompok pemuda yang melewati kami dengan memakai pakaian muslim lengkap. Saya kembali merasakan kehadiran betapa menyenangkannya menjadi mereka.
Sebenarnya, semenjak saya menyukai dunia sastra, saya banyak melahirkan tulisan-tulisan di kota ini. Daya tarik untuk mengungkapkan betapa kagumnya saya pada kota ini menjadikan sebuah jembatan bagi saya menjadi seorang penulis. Walau entah sekarang apakah saya masih bisa seproduktif dahulu ketika saya bersinggah di kota ini, saya akan meninggalkan barang kali beberapa tulisan untuk kemudian saya baca ulang di rumah.
Jika ingin melihat lebih lanjut lagi mengenai jepretan saya, bisa dilihat di instagram saya atau klik di sini
Mungkin hanya sekitar 30 menit lebih kami berjalan dan berkeliling, akhirnya kami memutuskan berhenti dan berencana untuk langsung pulang ke Banjarmasin. Namun, sebelum memutuskan pulang, teman saya mengajak makan di salah satu lapak nasi goreng yang kebetulan tidak jauh dari kami memarkirkan motor. Saya pun hanya mengiakannya saja.
Setelah selesai makan, kami semua bertolak dari Martapura ke Banjarmasin pada sekitar jam 10 malam. Dengan kondisi hujan yang masih tidak sepenuhnya reda, saya tetap melanjutkan perjalanan dengan kondisi pakaian yang sudah lumayan cukup basah. Apalagi saat itu saya sudah tidak memakai hoodie dan hanya memakai kaos biasa karena hoodie yang saya kenakan sebelumnya sudah cukup basah.
Sesampainya di Banjarmasin, lebih tepatnya sebelum fly over, saya berhenti sejenak di pinggir jalan A yani untuk memesankan teman saya ojek online. Karena malam sudah cukup larut dan hujan masih tidak juga reda, rasa-rasanya saya sudah cukup malas untuk mengantar teman saya karena rumahnya tidak searah dengan tujuan ke rumah saya, apalagi besok pagi sehabis subuh saya sudah harus masuk kuliah, walaupun masih online.
Di saat kami sedang santai sembari menunggu tukang ojek itu datang menjemput teman saya, ada satu hal yang menarik perhatian saya, lagi-lagi bias bekas hujan dan langit yang membiru gelap lekat, membuat saya sangat-sangat bergaira untuk memotretnya menggunakan kamera. Namun, karena lensa dan body kamera sudah terpisah, saya sudah cukup malas untuk mengeluarkannya, jadilah saya memotret hanya dengan mengguakan kamera HP.
Kamis, 18 November 2021
Self healing
Selasa, 02 November 2021
Keresahan
Semakin berkembangnya zaman, saya menyadari bahwa selama ini panggung yang sedang diperebutkan oleh orang lain itu adalah intelektualitas. Masing-masing dari mereka bahkan kita, akan berlomba-lomba menjadi orang yang piawai berbicara, beropini, berpendapat, bahkan mengkritik.
Semuanya mungkin lahir dari kesadaran-kesadaran kita yang perlahan tumbuh, kita menyadari akan persetujuan banyak pihak yang oleh beberapa pihak lainnya tidak menyetujui. Dengan kemampuan bernalar dan menghadapi kenyataan, kita berada di pihak tidak setuju atas pilihan yang kita amini.
Lalu jalan keluar yang kita miliki atas semua hal yang tidak kita setujui oleh mayoritas banyak orang adalah dengan beropini dan berpendapat, sedangkan pendapat hanya akan bisa dilakukan ketika kita sudah mulai menyampaikannya, dan menyampaikan pendapat berarti menuntut kepiawaian berbicara dari diri kita.
Maka dari karena itu, kemampuan dan keberanian diri dalam berbicara untuk menyampaikan pendapat, menandakan bahwa kita sudah memiliki kemampuan bernalar yang kritis, artinya kita sudah menggerakkan nalar untuk mengkritisi hal-hal tertentu yang mungkin saja akan memiliki beragam konsekuensi.
Namun, fokus utamanya bukan di sana. Fokus utamanya adalah tertuju pada semua orang yang berambisi ke sana. Tujuannya mungkin sudah benar, tapi cara memperlihatkan proses dalam menuju tujuannya yang jadi tidak benar.
Sederhananya begini, orang kalau sudah ngomong panjang lebar, apalagi membawakan bahasan yang menarik, akan ada orang lainnya yang ikut tertarik, tetapi ada juga yang tidak. Yang mungkin tidak kita mengerti dari kepiawaian berbicara adalah, menganggap bahwa kita perlu diakui, isi kepala kita berhak disanjung, dan apa yang ada di kepala kita adalah benar. Di mana dalam hal tersebut terdapat salah satu indikasi bahwa paradigma berbicara yang dikemas oleh intelektualitas, menjadi salah kaprah oleh mereka yang menuhankan asumsinya. Karena kenyataannya tidak seperti itu adanya.
Mengkritisi beberapa hal tertentu memang lahir dari penalaran kita pada keadaan-keadaan yang tidak kita setujui atas diri kita sendiri; yang sifatnya pribadi. Namun, menggalakkan opini yang berangkat dari ranah pribadi kepada orang-orang yang belum tentu mampu menerimanya, tidak berangkat dari penalaran semata. Harus ada perlindungan-perlindungan di dalamnya, harus banyak sandaran di dalamnya, agar apa yang ada di dalam kepala kita bisa berdiri tegak dan tidak mudah jatuh. Karena percuma berdiri tegak kalau akhirnya akan jatuh juga.
Pada konteks ini saya memicu kepada beberapa orang yang ngomongnya cuma doang. Meskipun keresahannya nggak doang, tapi pengemasannya ini yang menjadikan stigma intelektualitas disalah kaprahi dan akhirnya membuat orang menjadi latah sama intelektualitas. Orang zaman sekarang tuh jadi serba nggak tahu batas, dalam semua konteks apapun, mereka jadi ngerasa bahwa yang dilakukannya adalah hal yang wajar aja. Salah satunya kepiawaian berbicara tadi, yang jika dibandingkan dengan kualitas isi otaknya dibandingkan keresahannya, jelas lebih berisi keresahan tersebut daripada isi otaknya.
Nah masalahnya, kalau keresahan nggak dibarengi sama isi otak yang nggak bagus, dalam konteks ini adalah bacaan dan wawasan yang luas, maka hanya akan memperburuk keresahan itu sendiri jika semakin disalah kaprahi. Sebenarnya berwawasan nggak hanya dengan membaca, sih. Tapi, kan, secara objektif, berwawasan didapatkan dari seberapa banyaknya bacaan kita. Sederhananya, keresahan yang kita bawa bersama pemahaman yang seadanya dari kepala kita, hanya akan membentuk satu paradigma baru dalam hidup kita, yang kita sendiri mungkin akan kebingungan menghadapinya.
Minggu, 24 Oktober 2021
Yang terlewatkan begitu saja dari kita
Minggu, 17 Oktober 2021
Menemukan keindahan dari hal-hal kebiasaan
Senin, 20 September 2021
Stigma masyarakat terhadap filsafat
Dari dulu semenjak kali pertama menyukai buku, saya sudah cukup resah dengan keberadaan orang-orang yang memiliki stigma negatif tentang filsafat. Karena kebetulan dulu beberapa buku yang saya sukai adalah buku-buku yang membicarakan tentang ketuhanan dan keterkaitannya dengan filsafat itu cukup erat. Namun, keresahan saya itu hanya bisa dipendam karena saya tidak serta merta fanatik kepada filsafat. Saya hanya suka dan sesekali mempelajari. Dan sejauh ini buku yang saya miliki yang isinya murni membahas filsafat hanya satu saja, selebihnya saya hanya mengoleksi buku-buku tentang ketuhanan yang biasanya dikaji kembali oleh ulama-ulama terkemuka seperti Dr. Haidar Bagir, atau prof Quraish Shihab, itu pun mengambil konteks kepada Syaikh Jalaludin Rumi.
Stigma orang-orang yang tiap kali mendengar kalau ada orang belajar filsafat pasti akan berasumsi, "Hati-hati jadi orang yang atheis," atau "Hati-hati kalau tersesat dalam memahaminya." Itu adalah asumsi paling familiar di mata masyarakat yang cukup dangkal dalam memahami ilmu pengetahuan, meski masih ada banyak stigma lainnya yang cukup negatif terhadap filsafat.
Kebetulannya lagi karena kuliah saya adalah jurusan filsafat, meski ini bukan jurusan yang saya inginkan, karena sedari awal saya lebih tertarik kepada psikologi. Saya cukup muak jika ditanyai orang mengenai jurusan perkuliahan saya, karena saya sudah lebih dulu tahu bagaimana tanggapan orang-orang yang bertanya cuma sekadar basa-basi. Padahal tempat kuliah saya yang sedari awal berbasis islam saja tetap membuat (sebagian) orang berasumsi negatif terhadap filsafat.
Bagi sebagian orang yang mengerti filsafat, kadang mereka memandang sinis ketika saya menjawab pertanyaannya bahwa jurusan kuliah saya adalah filsafat. Pandangannya terhadap saya seolah memancarkan keraguan kepada saya apakah saya sanggup mempelajari serta memahami ilmu filsafat itu sendiri. Padahal, secara sederhana tidak ada yang diberat-beratkan di dalam filsafat. Orang-orang saja yang keduluan memandangnya seperti itu karena tidak pernah tahu bahwa kenyataannya bertolak belakang. Namun, ada benarnya jika filsafat menjadi pelajaran yang cukup berat, yaitu bagi orang-orang yang malas membaca dan malas berpikir terhadap pendalamannya kepada ilmu pengetahuan.
Orang yang belajar filsafat tentu lahir dari karena banyaknya bacaan, hingga kemudian melahirkan rasa ingin tahu yang tinggi. Apapun bacaan yang kita baca, selama kita menyimpulkannya dengan penuh tanda tanya dan mencoba mensiasati kesimpulan tersebut, secara tidak langsung kita sudah berada di dalam ruang lingkup filsafat itu sendiri. Meski hanya secara garis kecil.
Sederhananya kalau ada orang yang berasumsi negatif kepada filsafat, ya karena mereka nggak pernah ngerti gimana konsep pengetahuan itu dipelajari. Dikatakan oleh dosen saya yang mengajar tentang pengantar filsafat, bahwa arti filsafat itu secara harfiah bermakna mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu dalam pengertian yang lebih umum yang bisa dipahami adalah cinta kepada pengetahuan. Jadi orang yang cinta kepada ilmu pengetahuan itu pasti menyukai yang namanya aktivitas belajar, ada semangat berpikir dan ada gairah berpikir di situ untuk mencari tahu terhadap persoalan-persoalan yang sebelumnya tidak diketahui.
Jadi, menurut saya pribadi, cuma orang-orang yang nggak pernah belajar yang nggak bisa ngerti apa kontekstualisasi terhadap pembelajaran itu sendiri, terlepas dari ilmu filsafat tentunya. Karena semua bentuk pembelajaran dan pengetahuan, induknya ya filsafat. Mengambil analogi dari perspektif agama, kalau ada orang yang mencaci maki manusia, maka berarti ia sama dengan mencaci maki Tuhan. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Sama dengan filsafat, kalau stigma terhadap filsafat sudah negatif, maka terhadap apapun pengetahuan yang dipelajarinya, juga pasti negatif. Karena filsafat adalah induk dari segala cabang ilmu pengetahuan.
Minggu, 12 September 2021
Antara karya dan personalitas
Jangan mempersempit kehidupan kita hanya dengan personalitas, buka mata untuk melihat bahwa sebagian dari kita mengupayakan banyak cara untuk mengurung ide-ide yang sifatnya liar, menjadi sebuah karya yang mempunyai nilai. Personalitas hanyalah bagian dari kehidupan seseorang, sedangkan karya adalah bagian dari ide, pikiran, dan bahkan keresahan seseorang. Pada laman blog sebelumnya, saya sempat membawakan sebuah redaksi yang menyatakan bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh kita. Kendati di dalam tubuh kita terdapat otak yang secara nyata kita ketahui keberadaannya, tetapi otak akan berguna ketika kita memanfaatkan fungsinya.
Menurut saya pribadi, otak adalah kemampuan kita dalam menangkap keluasan isi dunia yang kemudian masuk ke dalam diri kita menjadi yang namanya pikiran. Dan seperti yang saya katakan dan yakini sebelumnya bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh manusia. Jika kita memanfaatkan pikiran-pikiran yang bersifat liar itu untuk menjadi pemahaman yang lebih kompleks, maka lahirlah sebuah karya. Entah apapun bentuknya. Maka dari karena itu filosofi berfungsi untuk menyandarkan karya sebagai makna yang memiliki arti-arti tersendiri di berbagai kepala manusia yang menangkapnya.
Kembali ke personalitas, keberadaan orang-orang bijak yang terlampau mengerti bagaimana caranya menghargai dan menikmati karya orang lain, mungkin telah kalah saing oleh keberadaan mereka-mereka yang katanya juga "menikmati karya." Orang-orang menjadi keliru dalam menikmati karya ketika mereka juga menempatkan harapan di dalamnya, bahwa personalitas seseorang yang membuat karya tersebut harus sejalan dengan karyanya sendiri. Sederhananya, perbuatannya harus sesuai dengan ucapannya. Ya kembali lagi, karya adalah bagian terpisah dari personalitas, karya bisa hadir menjadi apapun bagi siapapun, terlebih jika itu menjadi motivasi terkuat bagi yang membuat karya itu sendiri, atau pun orang lain yang menikmatinya.
Karya memang selalu punya value masing-masing, dan itu memang tidak bisa terbantahkan begitu saja bahwa nilai itu berlandaskan pada personalitas seseorang yang membuat karya tersebut. Namun, value tersebut hanya menjadi bentuk indikasi bagi orang-orang yang memahami bahwa cara kita dalam menikmati karya, adalah murni menikmati karya tersebut, terlepas apa kisah hidup dan personalitasnya. Karya seni bukan soal memamerkan tentang kehidupan pribadi seseorang, karya seni adalah buah hasil dari persembunyiaan seseorang dari kehidupan pribadinya. Namun, yang disalah kaprahi dalam menikmati karya adalah, orang-orang akan berbondong-bondong menikmati suatu karya apabila itu menyangkut bagian dari kisah hidup pribadinya, seakan personalitas seseorang lebih penting dari karyanya. Kita sebegitu inginnya mencoba akrab dengan seseorang yang mempunyai bakat untuk berkarya dengan mencoba untuk mendekati kehidupan pribadinya. Hingga akhirnya kita membuat reputasi karya menjadi tergeserkan oleh stigma yang tidak bisa terbantahkan lagi karena bersifat pragmatis.
Senin, 06 September 2021
Egosentrisme Kebenaran
Omong kosong banyak orang sama semua masalah yang dialami dalam hidupnya sendiri adalah mengedepankan egonya untuk memenuhi apa yang selama ini diperlukannya. Bullshit lah itu sama jalan keluar lewat saran, renungan akal sehat sama kata hati, diskusi sama diri, halah bacot. Selama jawaban yang tetap menang masih ego sendiri, itu nggak ngejadiin saran sebagai jawaban, tapi sebagai kampanye untuk menjawarakan sesuatu yang ego mau.
Pada akhirnya, setinggi apapun idealisme yang kita miliki terhadap ego yang ada di dalam diri kita, kita akan tetap hidup di dalam dunia yang isinya nggak cuma kita aja. Masih ada orang lain, dan itu jelas punya impact yang jauh bertentangan sama apa yang ego kita mau. Kendati demikian, hidup akan tetap berporos dengan semestinya, dengan dunia yang isinya nggak cuma kita aja, dan kita kehilangan hak untuk merasa sedemikian rupa menjadi manusia seutuhnya. Karena ya, yang ego mau sama apa yang kita mau beda, kesederhanaan nggak ada di sana sebagai jawaban yang menyehatkan.
Pun andai kita punya keberanian untuk memilih, saturasi eksistensi kita terhadap stereotipe yang dianut oleh banyak orang, tentu tergeserkan. Hingga akhirnya keberanian kita dalam memilih tadi diragukan, kendati yang kita pilih adalah kebenaran yang kita kita yakini.
Perkara kebenaran yang diyakini, kebanyakan orang akan mengatakan hal yang sama untuk berlindung terhadap apapun idealisme yang tiba-tiba muncul di kepalanya, dan itu memperluas variabel keprimitifan nalar dalam membijaksanai sesuatu, di luar konteks kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita yakini harusnya kebenaran yang murni nggak memuat kepuasan ego kita di dalamnya, agar kita mengerti bahwa kebenaran yang diyakini bersifat lebih subjektif.
Saya pernah mendapati ungkapan bahwa pemikiran yang ada dalam diri kita adalah bagian yang terpisah dari tubuh, sama halnya perasaan, pun keinginan. Entah, saya lupa pernah membaca atau mendengar ungkapan tersebut dari mana, saya hanya bisa mengingat bagian itu saja, dan saya mengamininya. Bahwa makhluk hidup bernama manusia hanya terbatas pada organ tubuh, dan yang menariknya dari manusia adalah karena ia dianugerahi akal dan pikiran. Agar akal dan pikiran berguna, maka diciptakanlah ego agar kita berupaya menggunakan pikiran kita untuk menentang semua kemauannya yang selalu melampaui batas dari kehidupan kita.
Namun, bagian buruknya adalah saat kita menemukan ada banyak orang yang secara sukarela memelihara egonya dalam bentuk dalih, semata agar kemauan dan pilihannya dibenarkan. Dan sayangnya lagi, kita juga kehilangan antusiasme untuk menuding sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang, kendati yang kita sampaikan adalah kebenaran. Contoh sederhananya seperti ketika kita mendapati perlawanan dari seseorang yang ada di konteks sebelumnya, bahwa ia mengakui kesalahannya dalam memutuskan pilihan dan menyadari kalau pilihannya terdinding oleh logika. Namun, upaya untuk keluar dari sana nyatanya nggak bisa ditemukan, kesadaran menjadi ada karena berbasis diskusi, dan menyadari penuh atas kesalahan tersebut juga hanya sebagai dalih, agar dia terhindar dari aspek-aspek yang sedang mencoba menyudutkannya.
See? Menjalani pilihan berdasarkan ego sendiri tuh enak, kendati resiko yang didapat cukup pahit. Namun, masih ada banyak korban yang bisa ditumbalkan. Dan bagian bodohnya, beberapa diantara kita juga secara sukarela menutup mata, ketika orang lain berlari kepada kita dengan membawa permasalahan yang bahkan sebelumnya sama sekali belum terselesaikan.
Jumat, 20 Agustus 2021
Kebencian di hati saya
Sebagai seorang manusia biasa yang tidak memiliki kuasa untuk terus berbuat baik kepada sesama manusia lainnya, yang ternyata nasib mereka juga tidak lebih buruk dari saya dalam menginterpretasikan pencitraannya. Maka saya ucapkan kebencian dari lubuk hati saya yang tulus dan dalam kepada mereka-mereka yang masih tidak bisa memahami diri mereka sendiri, tetapi berlagak seolah paling mengerti terhadap apa yang menjadi keinginan dalam hidup yang mereka jalani.
Senin, 09 Agustus 2021
Integritas Intelektualistas
Mungkin emang karena open minded itu sendiri punya citra positif gitu kan ya, buat menarik perhatian banyak orang? Semata-mata supaya orang lain bisa ngelihat dirinya kalau dia punya wawasan yang luas, atau minimal dengan mengakui seperti itu dia punya barometer untuk merasa dirinya intelektual daripada orang lain yang bisanya cuma mendengar.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita mungkin saja sedang kekurangan orang-orang yang merelakan dirinya untuk menjadi pendengar, sedangkan di luar sana sudah terlalu banyak orang yang memaksa dirinya untuk berbicara karena ingin merebut perhatian publik. Biasanya orang-orang seperti itu wawasannya baru keluar dari zona nyamannya, dia baru melompat dari dangkalnya formalitas wawasan, ke banyak perspektif yang nggak punya batasan sebagai barometer kebijaksanaan pun wawasan. Semua hanya perkara perspektif, opini, dan wadah utamanya adalah diskusi.
Sedangkan orang-orang yang merasa intelektual karena baru mengenal luasnya wawasan, mereka suka mengajak orang untuk bicara yang jatuhnya bagi dia adalah diskusi, tapi bagi orang lain jatuhnya malah dia pamer wawasan. Tau kan maksud saya? Yang tiap ada orang mancing-mancing kita buat ngebahas sesuatu, dia yang nanya, malah dia sendiri yang jawab panjang lebar. Dan karena dia bicara panjang lebar begitu, dia jadi nggak punya banyak waktu untuk orang lain agar bisa ikut bicara dengannya.
Selain itu ada juga orang-orang yang merasa dirinya benar. Ini di atas orang yang merasa open minded tadi. Karena setelah merasa open minded, mereka merasa apa yang ada di dalam kepala mereka tuh adalah sesuatu yang output kendalinya adalah kebenaran.
Saya tidak menjustifikasi orang-orang seperti mereka, justru saya ingin mengajak semua yang membaca ini untuk melihat kembali atas dasar apa seseorang berbicara sedemikian beraninya, apalagi sampai mengemukakan perkara benar atau salah yang jatuhnya di luar diskusi satu arah. Kita harus tau apa yang menyebabkan seseorang punya pemikiran seperti itu, karena kebenaran yang datang dari satu mulut, selalu memiliki sebab atas kedatangannya, untuk kemudian diterima pada isi kepala dengan pemahaman yang cukup baik.
Mungkin kesannya akan terdengar cukup filosofis, tapi memang dari sinilah kita akan mampu mengerti bagaimana berwawasan yang sesungguhnya. Orang yang merasa dirinya intelektual karena mendengarkan pembicaraan orang lain, belum seintelektual orang yang membaca buah hasil pemikiran orang lain. Karena jelas jauh perbandingannya.
Sederhananya, orang kalau ngomong cuma sekadar ngomong, bisa aja salah, dan kesalahan itu murni terucap dari mulutnya, karena bentuknya adalah omongan. kendati kesalahan tersebut mampu diklarifikasi secara langsung.
Sedangkan tulisan dihasilkan melalui banyak proses, tulisan tidak langsung hadir begitu saja tanpa diketik dengan penuh riset, dan seseorang tidak akan pernah bisa membuat sebuah tulisan kecuali sedang mempunyai keresahan. Dan keresahan juga merupakan isi dari pemikiran seseorang yang kemudian diakumulasikan menjadi sebuah tulisan. Paling genap lagi, tulisan yang dibukukan. Karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan.
Rabu, 28 Juli 2021
Memaknai Rasa Cinta Kepada Diri Sendiri
Semenjak kampanye mencintai diri sendiri terdengar cukup familiar, orang-orang sering salah persepsi dalam memaknai dan merepresentasikannya. Paradigma mencintai diri sendiri adalah mindset yang terbentuk dari dalam diri kita saat kita sudah mengenali siapa diri kita yang sebenarnya.
Contoh, saat kita tahu apa yang menjadi keinginan dalam diri kita, maka kita akan mengusahakannya agar bisa tercapai, dan ketika kita berhasil mendapatkannya, kita tahu harus bagaimana mengelola pencapaian tersebut. Lebih terbuka soal keinginan, dan tidak enggan untuk bersuara terhadap penolakan. Terlebih ketika itu berhadapan dengan masalah sosial yang menyangkut dengan orang lain, seperti ajakan seseorang yang sebenarnya kita tidak ingin untuk mengiakannya.
Apabila kita mengenali apa yang menjadi keinginan dalam diri kita, maka kita akan berusaha menolaknya. Nah, perihal menolak ini pula yang menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang tengah mencintai dirinya. Karena kita tahu, seberapa besar cinta kita kepada diri sendiri. Maka kita juga harus tahu, orang lain juga bisa mempunyai asumsi yang sama terhadap cinta kepada dirinya. Maka dari karena itu, kita harus bisa mengakumulasikan rasa penolakan kita dan menyuarakannya tanpa membuat orang itu kecewa kepada kita.
Simpulnya, kita menolak ajakannya dengan cara yang halus dan sopan. Namun, sopan itu sendiri memiliki beragam arah untuk bisa diterima orang lain sebagai kerelaan, jangan sampai karena kita terlalu dalam mencintai diri, kita akhirnya melahirkan rasa apatisme yang membuat orang lain kecewa terhadap tanggapan yang sudah menjadi keinginan kita, yaitu penolakan itu tadi. Dan kebanyakan mereka yang menggunakan label cinta diri sendiri sering salah kaprah di bagian itu.
Saya sering mendapati orang-orang yang merasa dirinya superior karena merasa 'berhasil' mencintai dirinya sendiri, ditekankan dalam tanda kutip berhasil. Mereka merasa apa yang menurut mereka tidak sejalan dengan pilihannya akan begitu mudah untuk mereka tolak keberadaannya, salah satu contoh sederhananya adalah seperti ajakan seseorang tadi yang ditolaknya dengan rasa apatismenya, dan dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadap dampak dari pilihan yang dia buat atas dirinya sendiri; jatuhnya malah egois.
Bahaya mencintai diri sendiri tanpa membawa rasa kemanusiaan itu adalah di saat cinta yang dirawat atas nama diri sendiri, dibangun dengan cara membunuh personalitas orang lain yang ada di sekitarnya. Bahkan terkadang, saat ada seseorang yang sadar dan peduli dengan caranya mencintai diri yang tidak tepat, seseorang yang sudah cukup piawai menghadapi kebijaksanaan dalam mencintai diri sendiri, mengambil sebuah tindakan kepadanya dengan menasehati, tetapi malah ditanggapi secara mentah-mentah oleh sebuah penolakan yang lagi-lagi digunakan atas nama mencintai diri, demi kebaikan diri sendiri. Cinta dan kebaikan yang tentu membunuh kepedulian orang lain dengan sikap apatismenya. Apa itu yang namanya mencintai diri sendiri?
Mungkin memang cara mereka untuk menjadi baik bagi diri sendiri harus diawali dengan menumbuhkan luka di hati orang lain, terlepas dari salah atau tidaknya tindakan atau perbuatan tersebut. Paradigma yang mungkin tercipta di kepalanya adalah mementingkan diri sendiri bahwa ke depannya harus bisa tetap mencintai diri, karena memang semenenangkan itu hasilnya. Kendati yang dikorbankankan adalah kepedulian orang lain kepadanya.
Orang-orang menjadi salah kaprah dalam mencintai diri sendiri karena mereka merasa nyaman telah menemukan semua pilihan yang selama ini mereka inginkan, tetapi mereka lupa untuk menyetarakan derajat orang lain untuk sama dengannya. Bahwa mencintai diri sendiri memiliki banyak sentimental yang dibangun oleh sebuah kepedulian dengan kapasitas yang cukup tinggi. Maka dari karena itu, sebelum kita mampu mengendalikan apa-apa yang ingin kita kendalikan, kita perlu mengendalikan diri kita sendiri dengan rasa kepedulian itu tadi. Tetapi kenapa saat kita ingin mengendalikan yang di luar diri, kita malah menyembunyikan rasa peduli?
Kamis, 22 Juli 2021
Perjalanan paling menyedihkan
Minggu, 11 Juli 2021
Konteks Sebuah Rasa Peduli
Bullshit sekali rasanya ketika ada orang yang menyarankan untuk bercerita dengan dalih siapa tahu bisa membantu. Karena pada akhirnya cerita itu nggak lagi berharga untuk membayar sebuah rasa lega. Bahkan lebih parahnya, rasa percaya kita atas sebuah cerita yang kita tuangkan dengan penuh emosi dan harapan untuk bisa menemukan jalan keluar dari inti masalah kita ini, nyatanya sama sekali tidak terpenuhi. Hanya karena kebijaksanaannya dalam menyikapi kepedulian tersebut setingkat dengan perasaan superiornya bahwa masih ada rasa kemanusiaan di hatinya.
Sabtu, 03 Juli 2021
Perempuan cantik, menarik?
Teman saya tiba-tiba menyodorkan sebuah pertanyaan random, benar-benar random. Seperti sebuah angin yang tiba-tiba saja berhembus secara tiba-tiba. Bagai petir yang tiba-tiba menggelegar di siang yang terik tanpa ada mendung barang setitik.
Di sebuah perjalanan pulang saat akan menuju rumah, sehabis membincangkan banyak hal di sebuah coffeshop, entah kenapa teman saya seperti ketinggalan tanya dan baru sempat mengingatnya ketika kami sudah ingin menuju persimpangan komplek rumah saya, dia tiba-tiba bertanya “Apa sebenarnya definisi wanita cantik?” Saya menerima pertanyaan itu sebagai pertanyaan yang benar-benar menarik. Saya memelankan laju motor sejenak, kemudian memberikan indikasi dan ruang waktu untuk memikirkannya sejenak.
Benar juga, kadang banyak orang yang menyebut wanita lain di luar sana sebagai wanita yang cantik. Namun, apa sesungguhnya kecantikan yang ia sebut itu? Dari mana ia mampu menyebut wanita itu sebagai wanita cantik? Saya tiba-tiba dibuat berpikir keras. Ternyata, hal-hal sederhana yang biasanya dilakukan orang lain bisa menjadi hal-hal rumit untuk dijelaskan.
Saya mengasumsikan kecantikan pada seorang perempuan itu karena ada sesuatu yang menarik dalam dirinya, hingga ia bisa dikatakan cantik karena ia telah memenuhi dirinya sebagai daya tarik yang membuat orang lain merasa tertarik padanya dan mengatakan bahwa ia cantik. Tidak mungkin kita mengatakan keindahan pada hal-hal buruk yang ada di depan mata kita. Setidaknya, yang secara spontan kita keluarkan adalah ketidaksukaan kita terhadap hal buruk itu, hingga kita tidak menemukan ketertarikan di dalamnya.
Lalu, jika orang-orang sering mengatakan para wanita itu sebagai cantik secara spontan dan tiba-tiba, itu artinya dia hanya melihat suatu keindahan secara sekilas dan tiba-tiba. Sebenarnya, saya tidak ingin mengatakan mereka bodoh karena telah mengatakan para wanita itu cantik dari yang telah ia lihat dengan matanya, karena sebenarnya yang mereka katakan cantik itu hanya pilihan sembarang dari yang telah dilihatnya.
Kecantikan seorang wanita itu terlahir dari dalam diri wanita itu sendiri, ada sesuatu dalam dirinya yang bisa membuat orang lain merasa tertarik padanya hingga mereka berkata cantik. Apabila seorang perempuan tidak memiliki daya tarik dalam dirinya, dia akan menemukan kehampaan atas dirinya sendiri. Saya ambil contoh, ada seorang wanita yang penampilannya sangat biasa dan tidak ada orang lain yang mampu menilainya cantik dari kesederhanaannya. Namun, jika ada seseorang yang mengatakan ia cantik dengan pembawaan karakter yang ada dalam diri wanita tersebut, maka lahirlah kecantikan sesunnguhnya yang tidak bisa dilihat oleh orang lain sebagai sebuah kecantikan yang biasa. Seperti misalnya karena pikirannya yang kritis mungkin, atau karena ia produktif dalam setiap bakatnya, dan orang lain mengagumi itu sebagai sesuatu yang menurutnya menarik hingga mereka mampu melihat kecantikan dirinya yang utuh.
Jadi, cantik itu bukan semata-mata tentang responsif secara tiba-tiba dari fisik seseorang. Cantik itu adalah ketertarikan kita pada sesuatu yang ada dalam diri seseorang hingga kita mampu mengatakan ia sebagai seseorang yang benar-benar cantik. Jadi, kalau ada seseorang yang secara tiba-tiba mengatakan para wanita itu cantik dari pandangan matanya, itu adalah sikap responsif seseorang yang sifatnya sangat-sangat sementara. Karena perlahan-lahan, saat kita mengevaluasi kalimat yang kita ucapkan dengan mengenali karakteristik seorang perempuan itu tadi, maka baru akhirnya kita mengerti bahwa masing-masing orang punya kacamata yang beragam dalam menilai kecantikan seorang perempuan. Dan seperti yang sering kita temukan adanya di manapun kita menangkapnya, bahwa cantik itu adalah relatif. Tinggal bagaimana kita mengintervensikannya sebagai penilaian adaptif.

