Rabu, 22 Desember 2021

Egoisme dan kapabilitas sosial

Menjadi seseorang yang mengedepankan idealisme dan prinsip-prinsip yang dibangun secara mandiri, terkadang selalu tidak mendapatkan tempat validasi yang layak di antara orang banyak. Ya, wajar, stigma kebenaran akan berhak divalidasi jika hal tersebut berada pada ranah mayoritas.

Tidak mengherankan kenapa orang-orang yang begitu takut terhadap sebuah kesalahan akan cenderung mengikuti pilihan-pilihan yang banyak orang lain lakukan, karena menurutnya pilihan tersebut sudah terasa benar. Meski jauh di dalam kepalanya, ada kebenaran yang lebih absolut daripada kebenaran yang saat ini ia yakini.

Orang cenderung akan kesulitan menghadapi kenyataan-kenyataan, yang berangkat dari keasingan seseorang dalam memulai pilihan pada hidupnya, dan hal itu tentu bertolak belakang dengan kenyataan yang dari sekian banyak orang lakukan.

Karena buat beberapa orang, kesalahan akan terasa menjadi begitu menakutkan ketika kita merasa berbeda dengan orang lain, dan merasa bahwa perbedaan itu adalah pilihan yang tidak benar. Kadang kita memang sebegitu takutnya terhadap sebuah perbedaan yang tidak siap kita hadapi keberadaannya, seolah-olah perbedaan menjadi salah satu kesalahan pribadi yang bahkan orang lain tidak boleh tahu jika kita sempat memiliki pilihan tersebut. Pilihan yang sempat berbeda tetapi dipaksa sama lantaran takut pada kesalahan.

Pada kenyataannya, kita berhak memilih menjadi egois atas pilihan-pilihan yang kita ambil dan kita yakini benar, selama pilihan-pilihan tersebut tidak merugikan orang lain. Namun sayangnya, tidak semua orang memiliki keberanian untuk menunjukkan perbedaan tersebut dan kita tidak siap atas kenyataan yang kita terima terhadap stigma orang lain.

Ada ketidaksiapan masing-masing dari kita semua terhadap hal-hal yang kita inginkan keberadaannya, dan tentu saja hal itu menjadikan semua yang kita jadikan sebagai sebuah pilihan, menjadi pertaruhan yang begitu rumit. Dan lebih krusialnya lagi, egoisme yang seharusnya kita bangun untuk menopang rasa takut kita terhadap sebuah perbedaan, disalah kaprahi pada zona nyaman yang kita rasakan.

Namun, memilih menjadi egois atas pilihan-pilihan yang kita ambil juga tidak lantas membuat kita menutup mata atas rasionalitas yang nilainya lebih tinggi dari idealisme kita. Dalam konteks bahwa kita menolak untuk menyadari akan sesuatu yang sifatnya lebih mutlak agar tidak cenderung menjadi sebuah pembenaran.
Share:

Minggu, 12 Desember 2021

Menghadirkan keindahan dari (yang katanya) perhatian

Kata banyak orang, berbagi itu indah. Iya, benar. Namun, validasi keindahan akan dirasakan jika berhasil divisualisasikan. Dan kita hanya akan meluruhkan perhatian jika berhasil memvalidasi keadaan-keadaan yang benar demikian adanya.

Saya berucap demikian bukan karena saya merasa tidak memiliki panggung untuk bisa memvalidasi perhatian-perhatian yang saya miliki, untuk kemudian membuat orang lain memiliki perhatian yang sama seperti yang saya terima. Tentu tidak.

Jauh sebelum saya memutuskan untuk membuat konten daily journal ini dengan kegiatan memotret street photography, saya selalu memiliki perhatian-perhatian yang cukup memprihatinkan kepada orang-orang tertentu. Namun, saya tidak pernah memiliki upaya untuk menyalurkan rasa perhatian itu. 

Sebagai orang yang idealis dan kadang suka apatis, saya cukup memvalidasi karakter saya yang cukup introvert ini. Saya agak begitu kesulitan membuka ruang percakapan dengan orang lain. Meski apapun niat baik yang saya ingin berikan, saya selalu memiliki ketidakmampuan untuk memvalidasi hal-hal tersebut.

Saya memang selalu suka sendirian, tetapi di beberapa keadaan tertentu, saya akan benci dengan kesendirian, jika itu harus membuat saya berbaur dengan lingkungan yang tidak memungkinkan agar saya berada di dalamnya sebagai seseorang yang apatis terhadap lingkungan.

Di malam akhir pekan sekitar pertengahan bulan November 2021, saya dan teman saya iseng-iseng berjalan di sepanjang jalan kota A Yani sembari memotret keadaan sekitar. Seperti biasa, akan selalu ada yang merebut perhatian saya, tetapi sayangnya hal itu hanya bisa terekam jelas di sebuah gambar pasif yang menunjukkan betapa sepelenya pandangan-pandangan kita terhadap hal-hal yang ingin diacuhkannya.


Saya akui, saya memang orang yang cukup apatis, tetapi karena saya memiliki hobi photography, terutama di bidang street photography, yang memang fokus utamanya adalah mengambil kejadian-kejadian di jalanan, akhirnya membuat perhatian saya terus-terusan luruh ke sana, kepada hal-hal yang pada kebanyakan orang begitu mudah mengacuhkannya. 

Namun, bukan berarti dengan acuhnya mereka, akhirnya menjadikan mereka sebagai orang yang jahat terhadap perhatian-perhatian yang tidak mereka lihat. 

Karena terkadang, kita hanya akan memilih kata hati, bagaimana kita dapat disentuh oleh kejadian-kejadian yang tertangkap di mata kita, dan hal tersebut tidak berlalu begitu saja.

Cukup sampai di sana, akhirnya di beberapa hari kemudian saya terlibat dialog dengan seorang teman yang biasanya selalu menemani saya memotret. Awalnya topik yang kami bicarakan menyangkut konsultasi teman saya yang ingin memulai belajar mengelola keuangan dan berinvestasi ke bursa efek Indonesia. Di tengah dialog konsultasi itu, kami akhirnya mulai memasuki bercandaan-bercandaan yang menyangkut tentang kemewahan, uang, dan ya, puncaknya tiba ketika teman saya mengatakan bahwa kemewahan terbesar adalah sedekah. Tentu saya akan menyepakati hal itu. Dari sana kemudian saya menimpali bahwa tiap bulan, saya memang selalu menyisihkan sebagian uang saya untuk mendonasikan kepada orang-orang yang membutuhkan sebagai bentuk sedekah saya.

Saya ingin bercerita sedikit, sebelum dialog-dialog itu kami ciptakan dengan perhatian-perhatian yang kami miliki ketika melakukan kegiatan street photography, saya sudah memiliki kesadaran tersendiri untuk berbagi. Setiap bulannya, saya selalu mendonasikannya ke platform online untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Saya memilih platform online karena hal itu adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan agar saya tidak merepotkan diri sendiri yang cukup introvert ini. Karena saya pasti akan kesulitan untuk menyampaikan bagaimana caranya berbicara normal, meskipun itu untuk kebaikan. Semua murni karena kemauan saya, tentu saya memilih terhadap kehendak hati agar saya benar-benar ikhlas mendonasikannya. 

Singkat cerita, akhirnya teman saya menawarkan saya untuk berbagi kepada orang-orang di jalanan yang membutuhkan, tetapi dalam bentuk makanan. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiakannya. Di kepala saya, ini menjadi salah satu jalan pembuka bagi saya untuk mulai terjun pada keindahan-keindahan yang kata orang-orang akan didapatkan dari keikhlasan kita dalam membagikan hal-hal yang orang lain butuhkan. Akhirnya kami berbagi menyisihkan uang untuk memesan makanan, karena di sini posisinya saya hanya menerima jadi dan kebetulan teman saya yang bersedia direpotkan untuk mengurus pemesanan makanan, akhirnya saya menambahkan lagi uang yang kami kumpulkan agar bisa menambah porsi makanan yang nantinya bisa kami bawa dan bagikan. Rencananya, di awal bulan kami akan rutin melakukan kegiatan seperti ini.

Di awal bulan Desember 2021 kemarin, kami mengawali aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya. Kebetulan pada hari itu hujan sedang gerimis menggugur tipis, tetapi kami tetap melanjutkan niat. Karena tidak mungkin membatalkan pesanan makanan yang sudah dibuat untuk hari yang sudah kami tentukan, maka akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Kami memang benar-benar berniat ingin berbagi, jadi kami benar-benar tidak ingin mendokumentasikan apapun dari kegiatan sederhana kami ini sebagai bentuk momen street photography.

Meski makanan yang kami bawa tidak cukup banyak, tetapi setidaknya keikhlasan kami untuk berbagi cukup membuahkan kebahagiaan di hati orang lain. Beberapa orang yang kami singgahi untuk kami berikan rezeki, apalagi di tengah-tengah gerimis yang membuat mereka harus menepi, terlintas raut wajah gembira dari cara mereka menerima.
Share:

Rabu, 01 Desember 2021

Berdamai dengan kekecewaan

Saat kita menyadari bahwa ada jurang di antara ekspektasi dan realita, maka kita akan merespons hal tersebut dengan emosi yang bernama kekecewaan. Wajar kecewa muncul karena ekspektasi yang diharapkan tidak terwujudkan. Namun, bagi mereka yang mempunyai value dalam dirinya untuk bisa menyadari kekecewaan itu sendiri, maka dia akan merespons kekecewaan tersebut dengan penerimaan, bukan penolakan.

Kecewa bisa menjadi salah satu respons tubuh berupa emosi yang jika kita sadari maka akan menimbulkan dampak positif, seni dari rasa kecewa dan rasa sakit yang kita terima, itu mampu mengubah pilihan-pilihan kita di hari ini agar ke depannya kita tidak kembali mengulang hal yang sama seperti sebelumnya. Mengutip perkataan dari seorang konten kreator psikologi, Analisa Widyaningrum, ada 4 perilaku yang bisa membuat kita termotivasi, salah satunya adalah perasaan untuk takut kecewa lagi. 

Dari perasaan takut kita untuk kecewa lagi nantinya, itu mampu menimbulkan usaha yang lebih berbeda dari sebelumnya, karena kita sadar bahwa kita ingin menghindari satu fase bernama kekecewaan. Namun, saat kita kembali menemukan rasa kecewa dari motivasi kita yang sebelumnya ingin menghindari kekecewaan, maka kita telah dibentuk oleh kekecewaan itu sendiri dengan sebuah keberanian yang lebih luas lagi dalam hal penerimaan.

Kadang emang kita yang nggak pernah bisa sadar, saat diri sudah mampu melawan terhadap penerimaan yang menyakitkan, maka kita dibentuk oleh kenyataan yang lebih luas lagi perihal kesiapan.

Mengutip dari buku "Duduk Dulu" karya Syahid Muhammad, kesiapan kadang tidak menunggu ketakutan hilang, atau cemas dan ragu lenyap. Kesiapan tidak melihat apakah kamu sudah merasa pantas atau belum. Kesiapan datang, ya karena sudah waktunya. Tahunya dari mana? Tidak ada yang tahu. Tidak ada. Bertindak, kadang karena siap, entah agar siap.

Share:

Minggu, 21 November 2021

Musim hujan dan harapan yang tenggelam

Weekend kemarin, saya baru punya waktu luang sekaligus niat, usaha, dan upaya untuk motret kembali. Kali ini saya berniat motret di daerah alun-alun Martapura. Lokasi yang belum pernah saya jadikan tempat untuk hunting street photography. Awalnya saya memang sudah punya niat ini dari sejak lama, tetapi apa ada daya waktu yang saya punya rasa-rasanya serba nggak bisa menyempatkannya. Selain ada kesibukan, tentu saja saya juga malas jika harus berkeliling dan berjalan sendirian, walaupun sembari memotret keadaan sekitar memang adalah hobi saya.


Seperti biasa, pastinya saya mengajak salah seorang teman yang biasanya memang selalu menemani saya ketika sedang hunting street photography, dia juga orang yang cukup suka dengan kegiatan tersebut. Maka di hari Minggu tanggal 14 November 2021, kami berangkat dari Banjarmasin pada pukul 3 siang. Nah, yang menariknya, drama dari wacana kami adalah, rencana awal ingin berangkat sekitar jam 9 pagi, biar udaranya masih fresh, enak, segar, apalagi kalau membayangkan nanti suasana di alun-alun sedang ramai pengunjung yang sedang beraktivitas menikmati akhir pekan. Pasti ada banyak momen yang bisa diabadikan. Namun kenyataan membuktikan bahwa rencana akan tetap menjadi wacana, pada malam harinya, saya memang sengaja begadang hingga sampai jam 4 pagi di rumah teman saya. Ketika sampai di rumah maka saya langsung tertidur dan terbangun saat hari sudah menjelang adzan Zuhur. Pun juga dengan teman saya yang terbangun kesiangan, membuat kami akhirnya merubah sedikit jadwal dan berencana untuk berangkat sekitar jam 2 siang, dan tentu saja lagi-lagi itu hanyalah rencana yang menjadi wacana.


Seperti yang tadi saya katakan, kami berangkat pada pukul 3 siang, dengan bonus awan mendung yang menyelimuti langit. Memang, rencana motret di musim-musim penghujan bukanlah ide yang baik, tetapi terkadang hasil-hasil jepretan foto sehabis hujan turun, akan sangat menakjubkan. Okelah, saya mengantongi opsi kedua tersebut, jika seandainya nanti memang hujan akan turun.


Belum ada setengah perjalanan kami tempuh, hujan mengguyur di sekitar daerah gapura selamat datang kota Banjarmasin. Saya tetap melanjutkan perjalanan meski hujan mengguyur lumayan deras. Beruntungnya saat saya sudah memacu motor membelah jalanan lintas kota tersebut, hujan berangsur-angsur berhenti.


Ketika kami melintasi jalanan di depan bandar udara Syamsuddin Noor, saya melihat awal hitam yang cukup tebal di depan mata saya, dan memang keadaan sudah cukup gelap. Saya sudah berfirasat besar bahwa sebelum tiba di Martapura, kami akan diguyur hujan. Dan benar saja, tidak jauh setelah kami melewati bandara, hujan mengguyur dengan sangat deras, kali ini saya tidak bisa memaksa untuk meneruskan perjalanan tanpa memakai jas hujan. Berhentilah kami di pinggir jalan untuk membenahi tas yang berisi kamera agar tidak terkena air hujan, sekaligus saya ingin memakai jas hujan agar kami bisa tetap melanjutkan perjalanan walaupun secara perlahan. 


Di tengah hujan yang sangat deras itu saya memacu motor dengan sangat pelan, jas hujan yang saya pakai rasa-rasanya tidak cukup menangkal kami yang sedang ingin berlindung di baliknya. Tetesan-tetesan air yang terhempas di atas jas hujan berbunyi nyaring. Saya tetap nekat melajukan kendaraan sampai akhirnya saya menemukan sebuah masjid. Kami berhenti di sana untuk melaksanakan sholat ashar sekalian menunggu hujan agak sedikit reda. Agak ciut juga nyali saya jika tetap nekat memaksakan keadaan, terlebih ada kamera yang sangat saya khawatirkan.


Namun, setelah usai sholat, hujan juga tidak kunjung reda. Kalut juga akhirnya rencana kami yang ingin motret sehabis hujan jika sampai saat ini hujannya tidak kunjung reda. Sekitar kurang dari setengah jam menunggu hujan reda yang sebenarnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, akhirnya kami memutuskan untuk bersinggah ke rumah salah seorang teman perempuan saya, kebetulan dulu kita satu sekolah Aliyah Negeri di Banjarmasin, tetapi rumahnya di Banjarbaru, dan kebetulan jarak rumahnya sudah cukup dekat dari masjid yang sekarang kami singgahi ini. Karena hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, maka kami menunggu intensitas derasnya agak sedikit menurun, agar kami bisa tetap melanjutkan sedikit perjalanan ke rumah teman saya walaupun masih harus menggunakan jas hujan.


Sekitar jam lima sore akhirnya kami tiba di rumah teman saya, dan ternyata di sana juga ada dua orang teman saya yang lainnya yang sudah lebih dulu tiba. Katanya memang ingin berkunjung. Jadi lah kami berteduh di sana sembari kembali bercengkrama setelah sekian lama semenjak lulus SMA kita semua sibuk dengan dunia masing-masing. Percakapan hangat itu rasa-rasanya mampu menghalau atmosfer kedinginan yang diciptakan oleh tetesan hujan.


Benar saja dugaan kami bahwa hujannya pasti akan awet, karena hingga menjelang adzan maghrib pun masih tidak ada tanda-tanda akan reda. Paling mentok sampai gerimis lalu kemudian kembali deras, begitu saja terus. Kami akhirnya mulai jenuh menunggu, sampai kemudian waktu isya datang. Saya bersama dua orang teman laki-laki saya melakukan sholat isya berjamaah, lalu kemudian menunggu sebentar sampai hujan benar-benar kembali gerimis, maka kita semua akan nekat beranjak dari rumah teman saya. Tidak enak juga rasa-rasanya berlama-lama di sana, takut merepotkan.


Sekitar jam delapan malam lewat sedikit akhirnya hujan mulai kembali gerimis, dua orang teman saya yang sebelumnya lebih dulu tiba itu memutuskan untuk pulang ke Banjarmasin lebih dulu. Sementara saya dan teman saya tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Martapura walau hujan masih mengguyur tipis. Karena memang teman saya ada memiliki hajat dan keinginan untuk menyempatkan waktunya berziarah ke kubah alm guru sekumpul.



Sekitar jam sembilan malam kami tiba di alun-alun, dengan kondisi hujan yang agak semi-semi reda tetapi masih meneteskan airnya meski secara tipis-tipis, saya akhirnya memutuskan untuk tetap memotret walau hanya mendapatkan hasil foto yang sangat sedikit, ditambah lagi pada saat itu suasana di alun-alun sudah sangat-sangat sepi dan gelap. Hanya ada beberapa pedagang yang bersiap menutup lapaknya, beberapa masih ada yang bertahan.



Kami terus berjalan mengelilingi sekitar alun-alun dengan tempo berjalan yang cukup cepat, suasana sekitar yang cukup sepi membuat kami tidak cukup bergairah untuk memotret lebih banyak.



Namun, ada yang cukup menarik perhatian saya. Dulu, Martapura selalu menjadi tempat yang selalu saya kunjungi setiap minggu malamnya untuk menghadiri majelis maulid yang ada di Sekumpul, tetapi semenjak pandemi covid-19, saya menjadi sangat-sangat jarang ke sana. Baru kali ini saya kembali berkesempatan menjejakkan kaki di sini. Martapura yang dikenal dengan julukan kota santri ini benar-benar tidak lepas dari euforia yang saya rasakan ketika melihat ada sekelompok pemuda yang melewati kami dengan memakai pakaian muslim lengkap. Saya kembali merasakan kehadiran betapa menyenangkannya menjadi mereka.



Sebenarnya, semenjak saya menyukai dunia sastra, saya banyak melahirkan tulisan-tulisan di kota ini. Daya tarik untuk mengungkapkan betapa kagumnya saya pada kota ini menjadikan sebuah jembatan bagi saya menjadi seorang penulis. Walau entah sekarang apakah saya masih bisa seproduktif dahulu ketika saya bersinggah di kota ini, saya akan meninggalkan barang kali beberapa tulisan untuk kemudian saya baca ulang di rumah. 

Jika ingin melihat lebih lanjut lagi mengenai jepretan saya, bisa dilihat di instagram saya atau klik di sini 



Mungkin hanya sekitar 30 menit lebih kami berjalan dan berkeliling, akhirnya kami memutuskan berhenti dan berencana untuk langsung pulang ke Banjarmasin. Namun, sebelum memutuskan pulang, teman saya mengajak makan di salah satu lapak nasi goreng yang kebetulan tidak jauh dari kami memarkirkan motor. Saya pun hanya mengiakannya saja.



Setelah selesai makan, kami semua bertolak dari Martapura ke Banjarmasin pada sekitar jam 10 malam. Dengan kondisi hujan yang masih tidak sepenuhnya reda, saya tetap melanjutkan perjalanan dengan kondisi pakaian yang sudah lumayan cukup basah. Apalagi saat itu saya sudah tidak memakai hoodie dan hanya memakai kaos biasa karena hoodie yang saya kenakan sebelumnya sudah cukup basah.

Sesampainya di Banjarmasin, lebih tepatnya sebelum fly over, saya berhenti sejenak di pinggir jalan A yani untuk memesankan teman saya ojek online. Karena malam sudah cukup larut dan hujan masih tidak juga reda, rasa-rasanya saya sudah cukup malas untuk mengantar teman saya karena rumahnya tidak searah dengan tujuan ke rumah saya, apalagi besok pagi sehabis subuh saya sudah harus masuk kuliah, walaupun masih online.

Di saat kami sedang santai sembari menunggu tukang ojek itu datang menjemput teman saya, ada satu hal yang menarik perhatian saya, lagi-lagi bias bekas hujan dan langit yang membiru gelap lekat, membuat saya sangat-sangat bergaira untuk memotretnya menggunakan kamera. Namun, karena lensa dan body kamera sudah terpisah, saya sudah cukup malas untuk mengeluarkannya, jadilah saya memotret hanya dengan mengguakan kamera HP.



Setibanya tukang ojek itu menjemput teman saya, akhirnya saya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan perasaan setengah menyesal setengah tidak, karena niat saya ingin memotret hari itu benar-benar tidak sesuai ekspektasi, walaupun ada beberapa hasil yang saya dapat, tetap saja saya belum cukup puas. Namun, niat saya untuk motret kembali di sana masih ada dan pastinya saya akan kebali lagi ke sana di lain waktu yang semoga hasilnya akan memuaskan dan memenuhi ekspektasi saya. Dan ya, meski sematang apapun kita berencana, sekeras apapun kita memaksa, pada akhirnya keadaan yang bertolak belakang tidak seharusnya membuat kita menyesal. Karena sejatinya penyesalan datang dari orang-orang yang sedari awal tidak pernah mempunyai pilihan untuk memulai.

Share:

Kamis, 18 November 2021

Self healing

Fenomena self healing ini menjadi salah satu kemarakan yang ada di sosial media, orang-orang dengan mudahnya mengklaim metode self healing mereka yang mungkin dalam dunia psikologi itu nggak akan sama kasusnya dengan tiap-tiap manusia lainnya. 

Ngerti, mungkin maksud mereka adalah menunjukkan bahwa cara mereka melakukan self healing untuk dirinya tuh, gitu. Nggak salah sih sebenarnya. Cuma, kasian aja orang-orang yang mendapati hal-hal kayak gitu menjadi terdoktrin dan menganggap bahwa punya self healing sendiri tuh baik. Bahkan kelirunya kalau sampai mengira kalau nggak self healing, nggak baik. 

Orang lagi rame posting cara self healingnya masing-masing, terus kita malah jadi terobsesi untuk ikutan dan mencoba mencari-cari apa self healing yang cocok untuk kita, nggak gitu konsepnya. Jangan sampai menjadikan self healing itu sebagai sebuah keharusan untuk kita lakukan.

Menurut konten kreator psikologi, Analisa Widyaningrum, kemampuan memahami diri sendiri aja sudah termasuk self healing loh padahal.

Dari segi keilmuan, self healing mengarah pada proses pemulihan atau penyembuhan yang biasanya diakibatkan oleh gangguan psikologis atau trauma di masa lalu.

Sedangkan menurut Syahid Muhammad, kita baru akan bisa melakukan self healing kalau kita sudah punya kapasitas pengetahuan dan cara-cara yang tepat. Minimal kita mendatangi psikolog, minta bantuan sama mereka, biar kita tahu self healing yang cocok buat kita tuh apa. Jangan sembarangan milih-milih, bahwa, oh, ini bisa jadi cara self healing untuk kita, nggak sesempit itu sih kalau menurutnya. Ya dengan berkonsultasi ke profesional tadi bisa jadi salah satu cara yang tepat, dan nggak ada salahnya gitu. Malah kita jadi tahu penyebabnya apa dan kita bisa mengatasinya.

Ibarat kalau kita lagi sakit pilek, (terus kita konotasikan dengan konsep self healing tadi) kalau pilek itu kita konsultasikan ke dokter, pasti akan dikasih obat kan sama dokternya? Nah obat itu lah yang jadi self healingnya. Jangan karena kita pilek, terus kita self healing sendiri dengan milih obat sendiri. Gitu juga self healing, jangan malah karena satu masalah, kita memilih self healing kita sendiri yang padahal itu belum tentu sesuai. Nah gitu kira-kira konotasinya.

Namun, kecendrungan pilihan untuk membawa diri ke psikolog itu mungkin masih ada rasa sungkan. Soalnya kadang kita terlampau menganggap diri baik-baik aja, yang padahal kalau dikondisikan psikisnya lagi nggak baik-baik aja, dan kita menyangkali hal tersebut dengan harapan bahwa besok-besok kita sudah lebih baik daripada sebelumnya. Saya juga pernah memberikan cuitan di Twitter seperti ini, memendam dan menahan emosi secara terus-terusan hanya akan membuat kita merakit bom waktu dalam hidup kita sendiri, ibaratnya kayak kita lagi ngisi air ke dalam balon yang kalau udah kepenuhan akan ada saatnya buat pecah.

Makanya padahal sepenting itu emang buat kita punya profesional psikolog sendiri, biar kita tahu harus ke mana mengatasinya. Tapi stigma orang terhadap psikolog yang membuat kita nggak aware sama tindakan tersebut. Di era maya digital ini mungkin kesehatan mental sudah nggak jadi tabu lagi, walaupun sering kali banyak yang disalah kaprahi. Tapi di masyarakat mungkin masih aja belum bisa aware sama kesehatan mental ini.
Share:

Selasa, 02 November 2021

Keresahan

Semakin berkembangnya zaman, saya menyadari bahwa selama ini panggung yang sedang diperebutkan oleh orang lain itu adalah intelektualitas. Masing-masing dari mereka bahkan kita, akan berlomba-lomba menjadi orang yang piawai berbicara, beropini, berpendapat, bahkan mengkritik. 


Semuanya mungkin lahir dari kesadaran-kesadaran kita yang perlahan tumbuh, kita menyadari akan persetujuan banyak pihak yang oleh beberapa pihak lainnya tidak menyetujui. Dengan kemampuan bernalar dan menghadapi kenyataan, kita berada di pihak tidak setuju atas pilihan yang kita amini.


Lalu jalan keluar yang kita miliki atas semua hal yang tidak kita setujui oleh mayoritas banyak orang adalah dengan beropini dan berpendapat, sedangkan pendapat hanya akan bisa dilakukan ketika kita sudah mulai menyampaikannya, dan menyampaikan pendapat berarti menuntut kepiawaian berbicara dari diri kita.


Maka dari karena itu, kemampuan dan keberanian diri dalam berbicara untuk menyampaikan pendapat, menandakan bahwa kita sudah memiliki kemampuan bernalar yang kritis, artinya kita sudah menggerakkan nalar untuk mengkritisi hal-hal tertentu yang mungkin saja akan memiliki beragam konsekuensi.


Namun, fokus utamanya bukan di sana. Fokus utamanya adalah tertuju pada semua orang yang berambisi ke sana. Tujuannya mungkin sudah benar, tapi cara memperlihatkan proses dalam menuju tujuannya yang jadi tidak benar.


Sederhananya begini, orang kalau sudah ngomong panjang lebar, apalagi membawakan bahasan yang menarik, akan ada orang lainnya yang ikut tertarik, tetapi ada juga yang tidak. Yang mungkin tidak kita mengerti dari kepiawaian berbicara adalah, menganggap bahwa kita perlu diakui, isi kepala kita berhak disanjung, dan apa yang ada di kepala kita adalah benar. Di mana dalam hal tersebut terdapat salah satu indikasi bahwa paradigma berbicara yang dikemas oleh intelektualitas, menjadi salah kaprah oleh mereka yang menuhankan asumsinya. Karena kenyataannya tidak seperti itu adanya.


Mengkritisi beberapa hal tertentu memang lahir dari penalaran kita pada keadaan-keadaan yang tidak kita setujui atas diri kita sendiri; yang sifatnya pribadi. Namun, menggalakkan opini yang berangkat dari ranah pribadi kepada orang-orang yang belum tentu mampu menerimanya, tidak berangkat dari penalaran semata. Harus ada perlindungan-perlindungan di dalamnya, harus banyak sandaran di dalamnya, agar apa yang ada di dalam kepala kita bisa berdiri tegak dan tidak mudah jatuh. Karena percuma berdiri tegak kalau akhirnya akan jatuh juga.


Pada konteks ini saya memicu kepada beberapa orang yang ngomongnya cuma doang. Meskipun keresahannya nggak doang, tapi pengemasannya ini yang menjadikan stigma intelektualitas disalah kaprahi dan akhirnya membuat orang menjadi latah sama intelektualitas. Orang zaman sekarang tuh jadi serba nggak tahu batas, dalam semua konteks apapun, mereka jadi ngerasa bahwa yang dilakukannya adalah hal yang wajar aja. Salah satunya kepiawaian berbicara tadi, yang jika dibandingkan dengan kualitas isi otaknya dibandingkan keresahannya, jelas lebih berisi keresahan tersebut daripada isi otaknya. 


Nah masalahnya, kalau keresahan nggak dibarengi sama isi otak yang nggak bagus, dalam konteks ini adalah bacaan dan wawasan yang luas, maka hanya akan memperburuk keresahan itu sendiri jika semakin disalah kaprahi. Sebenarnya berwawasan nggak hanya dengan membaca, sih. Tapi, kan, secara objektif, berwawasan didapatkan dari seberapa banyaknya bacaan kita. Sederhananya, keresahan yang kita bawa bersama pemahaman yang seadanya dari kepala kita, hanya akan membentuk satu paradigma baru dalam hidup kita, yang kita sendiri mungkin akan kebingungan menghadapinya.

Share:

Minggu, 24 Oktober 2021

Yang terlewatkan begitu saja dari kita


Tidak seperti mendatangi coffeshop pada umumnya yang bisa saya lakukan sendiri dan merasa nyaman-nyaman saja. Kegiatan hunting street photography agak sedikit berbeda rasanya, saya yang sejak awal merasa introvert ketika bersama orang asing, agak sulit jika harus memotret sendirian di tengah-tengah orang ramai, maka jadilah saya selalu mengajak teman saya untuk menemani barang kali sebagai teman ngobrol sembari berjalan mencari momen yang bagus untuk diabadikan di dalam kamera.


Kebetulan tanggal 23 Oktober 2021 kemarin, Banjarmasin sedang merayakan hari jadi yang ke-495 tahun. Malam itu lokasi di sekitar kawasan siring tendean dan sekitarnya dipadati oleh masyarakat. Selain karena level PPKM yang sudah rendah menjadi level 2 dari yang sebelumnya level 4, juga penyebaran virus covid yang sudah mulai berkurang. Masyarakat tentu ingin memanfaatkan momen tersebut dengan ikut merayakan hari jadi kota tempat tinggal mereka.


Saya sendiri pastinya juga ingin memanfaatkan momen tersebut dengan melakukan kegiatan hunting street photography. Sudah cukup lama juga rasanya saya tidak menemukan kondisi di mana Banjarmasin akan seramai itu dipadati oleh masyakarat. Karena semenjak saya mempunyai kamera DSLR di tahun 2021 awal dan mulai menekuni dunia street photography, saya belum pernah bertemu secara langsung dengan momen seramai itu. Sedangkan di tahun 2020 saja, saat itu Banjarmasin kalau tidak salah sedang melaksanakan PSBB secara ketat karena pandemi covid yang menyebar luas di daerah Kalimantan Selatan, dan pada saat hari jadi kota Banjarmasin yang ke-494 kemarin, perayaannya hanya dilakukan terbatas, tidak semeriah seperti tahun-tahun sebelumnya.


Sebenarnya tujuan utama saya ingin melakukan kegiatan street photography malam itu karena saya ingin melihat pertunjukan watershow dan laser yang sudah diagendakan pada pukul sembilan malam. Sedangkan saya sudah berangkat dari rumah menuju kawasan siring dari jam delapan malam. Karena terlalu asyik berjalan sembari mencari momen, tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, sedangkan agenda acara yang saya tunggu-tunggu tidak kelihatan kapan mulainya. Sementara masyakarat sekitar masih cukup ramai menikmati malam akhir pekannya di tengah keramaian tanpa harus diiringi oleh rasa takut berlebih akan penyebaran virus covid-19 yang sudah mulai mereda ini.


Saya masih mewajarkan jika agenda acara watershow tersebut diundur ke waktu yang jauh dari rencana awal, karena terakhir kali saya menyaksikan acara watershow pada tujuh tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2015 saat perayaan hari jadi Banjarmasin yang ke-488. Agenda acara yang direncanakan juga agak jauh mundur dari waktu yang sudah dijadwalkan. Yang saya tahu, itu adalah acara watershow terakhir yang saya lihat dan sesudahnya memang tidak ada lagi acara tersebut. Baru di tahun 2021 ini saya sempat melihat jadwal agenda acaranya, akan tetapi sampai ketika saya ingin pulang pun juga tetap tidak ada, bahkan masyarakat yang sebelumnya beramai-ramai berada di kawasan sekitar siring tendean juga sudah mulai sepi dan suasana menjadi sedikit agak lengang.


Akhirnya saya memutuskan untuk lanjut saja mencari momen untuk dipotret dan menghiraukan rencana awal saya, toh di keadaan seperti itu saja saya kelimpungan mendapati banyak momen yang berkesan untuk diabadikan. Jika sebelumnya saya cukup sulit dan harus menunggu lama untuk beberapa momen yang berkesan, lain halnya di malam itu yang ada banyak momen tetapi keadaan yang terlalu ramai membuat saya jadi agak kewalahan. Padahal saat itu saya juga berganti-gantian memotretnya dengan teman saya. Pegal juga rasanya tangan jika memotret terus, karena memang kamera DSLR agak cukup berat dibandingkan kamera mirrorless yang bobotnya lebih ringan dan lebih canggih tentunya.


Yang menarik pada malam itu adalah, orang-orang yang awalnya dirundung oleh rasa takut dengan berbagai macam kekhawatiran, akhirnya mulai berani percaya bahwa semua akan baik-baik saja, meski tidak seleluasa sebelumnya. Meskipun di balik itu, ada sebagian orang yang menentang kuat dan menolak mentah-mentah, tetapi seni menghadapi hidup memang hadir dari sana. Ada berbagai macam penolakan dan penerimaan di dalamnya, entah kita akan berperan sebagai apa.


Kita semua yang hadir di sana, secara tidak langsung membangun negosiasi perihal interaksi untuk mencapai kesepakatan, antara menyetujui dan disetujui pada masing-masing keinginan, untuk kemudian bertukar kasih dan tawa, melalui keuntungan dan kebahagiaan yang sama-sama dirasa. Walau keadaan membentuk kita dengan pandangan yang cukup berbeda.


Akan selalu ada hal-hal yang kita lewatkan begitu saja tanpa tahu pada makna-makna apa yang kejadian berikan lewat tatap mata kita, karena pada akhirnya semua akan berlalu begitu saja tanpa kita sadari keberadaannya. Semua memang akan berkesan di sepanjang sudut ruang ingatan yang pernah melaluinya, dengan sisa-sisa cerita yang nyata.


Bahkan pada masing-masing keluarga kecil, akan selalu ada malaikat yang kehadirannya bisa dirasakan secara nyata, ikut merasakan euforia yang sama, walau untuk saat itu ada banyak hal yang belum bisa dimengerti dari kepalanya. Namun mereka ada, dalam menyempurnakan bahagia untuk orang-orang yang mencintainya, dari tawa dan senyumnya.


Pada akhirnya, semua memang akan berakhir sebagaimana mestinya, kesepian di tengah keramaian yang pernah menjamah, juga akan kembali menemukan tempatnya, tetapi tidak dengan kejadian-kejadian yang mungkin bagi sebagian orang memiliki berbagai macam arti yang berbeda-beda.


Sampai bertemu kembali di daily journal selanjutnya, semoga saya selalu diberikan niat dan kemampuan untuk bisa membagikan apa-apa yang telah saya dapatkan.
Share:

Minggu, 17 Oktober 2021

Menemukan keindahan dari hal-hal kebiasaan

Semenjak saya mulai kuliah, saya menjadi terobsesi untuk mengalokasikan waktu-waktu menjadi produktif, dalam artian bahwa saya memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal lebih giat lagi dari sebelumnya. Terlepas dari tuntutan akademik tentunya. Kendati setiap saya belajar, saya merasa bahwa saya sedang memenuhi tuntutan akademik, tetapi saya menikmatinya karena ini perkara kemauan saya sendiri. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan tuntutan akademik, apalagi dibarengi dan dilabeli oleh ambisiusitas, tetapi hanya saya saja yang kurang enak dalam mengartikannya, apalagi mempersepsikannya. Bahkan dalam kasus ini, saya sangat bertolak belakang dengan makna dan arti ambisiusitas yang didambakan oleh banyak orang.

Kebetulan waktu-waktu kosong saya untuk melakukan me time hanya ada pada Sabtu malam, tidak seperti dulu-dulu ketika sebelum saya kuliah yang bahkan hampir setiap malam kalau saya mau, saya bisa keluar rumah dan menikmatinya. Pada Sabtu malam tanggal 16 Oktober 2021, seperti biasa saya selalu berangkat sendiri dari rumah, kebetulannya lagi pada malam itu saya sedang ingin menggunakan motor, biasanya saya selalu menggunakan mobil. Saya berangkat dari rumah menuju ke salah satu tempat makan sendiri, lalu menghabiskan waktu di sana hingga tempat tersebut ingin tutup.

Sebagai seseorang yang terkadang bisa menjadi introvert, saya biasanya akan menghabiskan waktu di sana dengan membaca buku atau menulis apa saja yang bisa saya tulis, dan hal yang saya lakukan saat itu hanyalah membaca, karena semakin ke sini saya semakin menyadari akan keaktifan saya menulis sudah sangat jarang. Bahkan ketika daily journal ini saya rilis, saya perlu mengumpulkan niat dulu karena setelahnya saya merasa perlu membagikan hal-hal yang saya temukan di kepala saya mengenai perjalanan ini.

Ketika jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:30 lebih, saya menghubungi seorang teman yang biasanya saya ajak untuk nongkrong bareng, barang kali saya bisa ngumpul bersama. Kalau pun tidak saya biasanya akan mencari tempat lain sendirian untuk bisa melanjutkan me time saya. Karena kebetulan saat itu dia mengatakan sedang berada di tempat angkringan teman saya, maka bergegaslah saya ke sana. Sesampainya di sana, ada 4 orang teman saya yang lainnya. Namun, saya tidak menemukan teman saya yang membuka lapak angkringan ini. Saya masih berprasangka bahwa mungkin dia sedang sibuk, karena kebetulan saat itu orang-orang di angkringannya sedang ramai pengunjung.

Hingga menjelang sekitar pukul 22:30, saya dapat kabar dari yang menjaga angkringan tersebut bahwa teman saya ini sedang ada kesibukan di daerah Barabai. Alhasil kami berlima yang biasanya akan begadang di situ bersama teman saya yang membuka lapak angkringan ini, menjadi kehilangan arah untuk menentukan tempat di mana nantinya menghabiskan waktu untuk menikmati malam.

Saya mengusulkan untuk mencari tempat nongkrong di daerah Banjarbaru. Karena cukup bosan juga rasanya kalau terus-terusan menjamah tempat nongkrong di daerah sendiri, maka dari karena itu sesekali saya mau mencoba ke tempat yang berbeda dan cukup membutuhkan waktu untuk sampai ke sana, apalagi ini sudah menjelang larut malam. Meski awalnya sempat ada perdebatan sesaat, tetapi setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya kami berlima sepakat untuk mencari tempat nongkrong di sana. Sekitar pukul 22:45, kami berangkat dari Banjarmasin. Di sini keputusan saya untuk membawa motor menjadi tepat karena kebetulan kami berlima. Biasanya kalau saya sedang bawa mobil, saya biasanya cuma membawa dua orang teman dekat saya, atau bahkan terkadang mereka sama sekali tidak saya ajak, jikalau kebetulan saya memang sedang ingin sendiri.

Karena di tengah perjalanan kami menempuh dengan kecepatan sedang, akhirnya kami baru tiba di daerah Banjarbaru pada pukul 23:30, itu pun harus dipenuhi oleh drama dengan tempat tujuan yang sudah mau tutup. Karena memang jam kami tiba di kota tersebut sudah cukup larut. Namun, kami tidak menyerah begitu saja untuk menentukan di mana tempat yang masih buka dan bisa melayani kami. Hingga akhirnya kami menemukan salah satu tempat kopi yang ada di sekitar bandar udara Syamsuddin Noor.

Yang unik dari keinginan saya untuk memilih Banjarbaru sebagai tempat kopi adalah, karena saya mendapati euforia yang cukup jauh berbeda seperti tempat-tempat kopi di Banjarmasin. Menurut persepsi saya pribadi, orang-orang di Banjarmasin pergi ke tempat kopi hanya untuk berbangga diri dan memewahkan crycle masing-masing. Menurut persepsi saya pribadi, ya. Beda kalau di Banjarbaru, saya selalu mendapati tempat-tempat kopi di mana baristanya cukup royal dalam melayani dan berbicara dengan kami, lebih tepatnya saya sendiri. Karena pada dasarnya saya bukan orang yang mudah buat diajak bicara, apalagi sama orang asing. Meski di Banjarmasin saya juga mempunyai salah satu kedai kopi seperti itu. Namun sayangnya, saat ini tempat tersebut sudah berubah menjadi ranah yang cukup hedonisme. Hingga akhirnya sampai saat ini saya sudah tidak lagi berkunjung ke kedai kopi tersebut.

Setelah kami selesai memesan, seperti biasa saya akan mengasingkan diri dengan membaca buku, sedangkan empat teman saya yang lainnya bermain kartu domino. Ditemani oleh secangkir americano hangat tanpa gula, saya tenggelam dalam lautan kata yang saya baca, imajinasi merebak memenuhi isi kepala. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi, dan keempat teman saya sudah selesai bermain kartu domino. Sebenarnya kami masih ingin untuk berlama-lama, tetapi salah satu dari teman saya ada yang tidak bisa pulang terlalu larut, maka akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Di saat dalam perjalanan pulang ini lah, kepala saya disinggahi oleh berbagai macam kecamuk pikiran ketika saya melihat sesuatu apapun dari pandangan mata saya. Pertama, ketika saya melihat lapangan bandar udara Syamsuddin Noor, saya menengadahkan kepala sembari menatap takjub rasi bintang yang berpendar indah, ditambah lagi dengan rembulan yang sudah setengah purnama. Pada malam itu kebetulan langit sedang cantik-cantiknya, dan yang sangat saya sayangkan adalah pada saat itu saya sedang tidak membawa kamera DSLR. Ketika saya mencoba untuk memotret keindahan langit malam itu menggunakan kamera hp, maka representasi hasilnya sangat tidak sesuai seperti apa yang saya lihat. Estetika keindahannya sama sekali tidak ada. Hingga pada akhirnya saya hanya bisa bergumam pada diri sendiri, merutuki atas penyesalan karena saya tidak membawa kamera. Bahkan oleh kecamuk pikiran yang saat itu memenuhi kepala, saya memendamnya bersama makna-makna yang ketika saya menatap keindahan langit, kecamuk pikiran tersebut mereda dan hilang begitu saja.

Bahkan setibanya saya di Banjarmasin dan baru memasuki gapura selamat datang di Banjarmasin, pandangan mata saya tidak bisa lepas dari keindahan langit yang terus saja menggugah, indah, bahkan membuat mata candu akan keindahannya. Ditambah lagi saat sudah memasuki perkotaan di jalan A Yani, lampu-lampu yang berderet rapi dari pinggir, tengah marka jalan, hingga pepohonan kiri dan kanan, membuat definisi kesempurnaan yang sangat indah. Untuk malam itu, Banjarmasin seperti sedang berbunga-bunga, kesunyian menjadi tajuk utama yang menyempurnakan keindahannya. Dan saya menemukan keindahan dari sudut-sudut yang tak biasa saya sadari keberadaannya.
Share:

Senin, 20 September 2021

Stigma masyarakat terhadap filsafat

Dari dulu semenjak kali pertama menyukai buku, saya sudah cukup resah dengan keberadaan orang-orang yang memiliki stigma negatif tentang filsafat. Karena kebetulan dulu beberapa buku yang saya sukai adalah buku-buku yang membicarakan tentang ketuhanan dan keterkaitannya dengan filsafat itu cukup erat. Namun, keresahan saya itu hanya bisa dipendam karena saya tidak serta merta fanatik kepada filsafat. Saya hanya suka dan sesekali mempelajari. Dan sejauh ini buku yang saya miliki yang isinya murni membahas filsafat hanya satu saja, selebihnya saya hanya mengoleksi buku-buku tentang ketuhanan yang biasanya dikaji kembali oleh ulama-ulama terkemuka seperti Dr. Haidar Bagir, atau prof Quraish Shihab, itu pun mengambil konteks kepada Syaikh Jalaludin Rumi.


Stigma orang-orang yang tiap kali mendengar kalau ada orang belajar filsafat pasti akan berasumsi, "Hati-hati jadi orang yang atheis," atau "Hati-hati kalau tersesat dalam memahaminya." Itu adalah asumsi paling familiar di mata masyarakat yang cukup dangkal dalam memahami ilmu pengetahuan, meski masih ada banyak stigma lainnya yang cukup negatif terhadap filsafat.


Kebetulannya lagi karena kuliah saya adalah jurusan filsafat, meski ini bukan jurusan yang saya inginkan, karena sedari awal saya lebih tertarik kepada psikologi. Saya cukup muak jika ditanyai orang mengenai jurusan perkuliahan saya, karena saya sudah lebih dulu tahu bagaimana tanggapan orang-orang yang bertanya cuma sekadar basa-basi.  Padahal tempat kuliah saya yang sedari awal berbasis islam saja tetap membuat (sebagian) orang berasumsi negatif terhadap filsafat.


Bagi sebagian orang yang mengerti filsafat, kadang mereka memandang sinis ketika saya menjawab pertanyaannya bahwa jurusan kuliah saya adalah filsafat. Pandangannya terhadap saya seolah memancarkan keraguan kepada saya apakah saya sanggup mempelajari serta memahami ilmu filsafat itu sendiri. Padahal, secara sederhana tidak ada yang diberat-beratkan di dalam filsafat. Orang-orang saja yang keduluan memandangnya seperti itu karena tidak pernah tahu bahwa kenyataannya bertolak belakang. Namun, ada benarnya jika filsafat menjadi pelajaran yang cukup berat, yaitu bagi orang-orang yang malas membaca dan malas berpikir terhadap pendalamannya kepada ilmu pengetahuan. 


Orang yang belajar filsafat tentu lahir dari karena banyaknya bacaan, hingga kemudian melahirkan rasa ingin tahu yang tinggi. Apapun bacaan yang kita baca, selama kita menyimpulkannya dengan penuh tanda tanya dan mencoba mensiasati kesimpulan tersebut, secara tidak langsung kita sudah berada di dalam ruang lingkup filsafat itu sendiri. Meski hanya secara garis kecil.


Sederhananya kalau ada orang yang berasumsi negatif kepada filsafat, ya karena mereka nggak pernah ngerti gimana konsep pengetahuan itu dipelajari. Dikatakan oleh dosen saya yang mengajar tentang pengantar filsafat, bahwa arti filsafat itu secara harfiah bermakna mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu dalam pengertian yang lebih umum yang bisa dipahami adalah cinta kepada pengetahuan. Jadi orang yang cinta kepada ilmu pengetahuan itu pasti menyukai yang namanya aktivitas belajar, ada semangat berpikir dan ada gairah berpikir di situ untuk mencari tahu terhadap persoalan-persoalan yang sebelumnya tidak diketahui.


Jadi, menurut saya pribadi, cuma orang-orang yang nggak pernah belajar yang nggak bisa ngerti apa kontekstualisasi terhadap pembelajaran itu sendiri, terlepas dari ilmu filsafat tentunya. Karena semua bentuk pembelajaran dan pengetahuan, induknya ya filsafat. Mengambil analogi dari perspektif agama, kalau ada orang yang mencaci maki manusia, maka berarti ia sama dengan mencaci maki Tuhan. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Sama dengan filsafat, kalau stigma terhadap filsafat sudah negatif, maka terhadap apapun pengetahuan yang dipelajarinya, juga pasti negatif. Karena filsafat adalah induk dari segala cabang ilmu pengetahuan.


Share:

Minggu, 12 September 2021

Antara karya dan personalitas

Orang-orang yang dalam hidupnya nggak pernah punya karya nggak akan pernah bisa ngerti gimana caranya menghargai. Kendati personalitas seseorang yang membawakan karya tersebut dinilai cukup buruk, tetapi dia juga berhak untuk dinilai dan dihargai dari keberaniannya dalam melahirkan karya-karya tersebut, terlebih jika karya-karyanya membawakan impact untuk orang banyak. 


Jangan mempersempit kehidupan kita hanya dengan personalitas, buka mata untuk melihat bahwa sebagian dari kita mengupayakan banyak cara untuk mengurung ide-ide yang sifatnya liar, menjadi sebuah karya yang mempunyai nilai. Personalitas hanyalah bagian dari kehidupan seseorang, sedangkan karya adalah bagian dari ide, pikiran, dan bahkan keresahan seseorang. Pada laman blog sebelumnya, saya sempat membawakan sebuah redaksi yang menyatakan bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh kita. Kendati di dalam tubuh kita terdapat otak yang secara nyata kita ketahui keberadaannya, tetapi otak akan berguna ketika kita memanfaatkan fungsinya.


Menurut saya pribadi, otak adalah kemampuan kita dalam menangkap keluasan isi dunia yang kemudian masuk ke dalam diri kita menjadi yang namanya pikiran. Dan seperti yang saya katakan dan yakini sebelumnya bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh manusia. Jika kita memanfaatkan pikiran-pikiran yang bersifat liar itu untuk menjadi pemahaman yang lebih kompleks, maka lahirlah sebuah karya. Entah apapun bentuknya. Maka dari karena itu filosofi berfungsi untuk menyandarkan karya sebagai makna yang memiliki arti-arti tersendiri di berbagai kepala manusia yang menangkapnya.


Kembali ke personalitas, keberadaan orang-orang bijak yang terlampau mengerti bagaimana caranya menghargai dan menikmati karya orang lain, mungkin telah kalah saing oleh keberadaan mereka-mereka yang katanya juga "menikmati karya." Orang-orang menjadi keliru dalam menikmati karya ketika mereka juga menempatkan harapan di dalamnya, bahwa personalitas seseorang yang membuat karya tersebut harus sejalan dengan karyanya sendiri. Sederhananya, perbuatannya harus sesuai dengan ucapannya. Ya kembali lagi, karya adalah bagian terpisah dari personalitas, karya bisa hadir menjadi apapun bagi siapapun, terlebih jika itu menjadi motivasi terkuat bagi yang membuat karya itu sendiri, atau pun orang lain yang menikmatinya.


Karya memang selalu punya value  masing-masing, dan itu memang tidak bisa terbantahkan begitu saja bahwa nilai itu berlandaskan pada personalitas seseorang yang membuat karya tersebut. Namun, value tersebut hanya menjadi bentuk indikasi bagi orang-orang yang memahami bahwa cara kita dalam menikmati karya, adalah murni menikmati karya tersebut, terlepas apa kisah hidup dan personalitasnya. Karya seni bukan soal memamerkan tentang kehidupan pribadi seseorang, karya seni adalah buah hasil dari persembunyiaan seseorang dari kehidupan pribadinya. Namun, yang disalah kaprahi dalam menikmati karya adalah, orang-orang akan  berbondong-bondong menikmati suatu karya apabila itu menyangkut bagian dari kisah hidup pribadinya, seakan personalitas seseorang lebih penting dari karyanya. Kita sebegitu inginnya mencoba akrab dengan seseorang yang mempunyai bakat untuk berkarya dengan mencoba untuk mendekati kehidupan pribadinya. Hingga akhirnya kita membuat reputasi karya menjadi tergeserkan oleh stigma yang tidak bisa terbantahkan lagi karena bersifat pragmatis.

Share:

Senin, 06 September 2021

Egosentrisme Kebenaran


Omong kosong banyak orang sama semua masalah yang dialami dalam hidupnya sendiri adalah mengedepankan egonya untuk memenuhi apa yang selama ini diperlukannya. Bullshit lah itu sama jalan keluar lewat saran, renungan akal sehat sama kata hati, diskusi sama diri, halah bacot. Selama jawaban yang tetap menang masih ego sendiri, itu nggak ngejadiin saran sebagai jawaban, tapi sebagai kampanye untuk menjawarakan sesuatu yang ego mau.


Pada akhirnya, setinggi apapun idealisme yang kita miliki terhadap ego yang ada di dalam diri kita, kita akan tetap hidup di dalam dunia yang isinya nggak cuma kita aja. Masih ada orang lain, dan itu jelas punya impact yang jauh bertentangan sama apa yang ego kita mau. Kendati demikian, hidup akan tetap berporos dengan semestinya, dengan dunia yang isinya nggak cuma kita aja, dan kita kehilangan hak untuk merasa sedemikian rupa menjadi manusia seutuhnya. Karena ya, yang ego mau sama apa yang kita mau beda, kesederhanaan nggak ada di sana sebagai jawaban yang menyehatkan.


Pun andai kita punya keberanian untuk memilih, saturasi eksistensi kita terhadap stereotipe yang dianut oleh banyak orang, tentu tergeserkan. Hingga akhirnya keberanian kita dalam memilih tadi diragukan, kendati yang kita pilih adalah kebenaran yang kita kita yakini. 


Perkara kebenaran yang diyakini, kebanyakan orang akan mengatakan hal yang sama untuk berlindung terhadap apapun idealisme yang tiba-tiba muncul di kepalanya, dan itu memperluas variabel keprimitifan nalar dalam membijaksanai sesuatu, di luar konteks kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita yakini harusnya kebenaran yang murni nggak memuat kepuasan ego kita di dalamnya, agar kita mengerti bahwa kebenaran yang diyakini bersifat lebih subjektif.


Saya pernah mendapati ungkapan bahwa pemikiran yang ada dalam diri kita adalah bagian yang terpisah dari tubuh, sama halnya perasaan, pun keinginan. Entah, saya lupa pernah membaca atau mendengar ungkapan tersebut dari mana, saya hanya bisa mengingat bagian itu saja, dan saya mengamininya. Bahwa makhluk hidup bernama manusia hanya terbatas pada organ tubuh, dan yang menariknya dari manusia adalah karena ia dianugerahi akal dan pikiran. Agar akal dan pikiran berguna, maka diciptakanlah ego agar kita berupaya menggunakan pikiran kita untuk menentang semua kemauannya yang selalu melampaui batas dari kehidupan kita.


Namun, bagian buruknya adalah saat kita menemukan ada banyak orang yang secara sukarela memelihara egonya dalam bentuk dalih, semata agar kemauan dan pilihannya dibenarkan. Dan sayangnya lagi, kita juga kehilangan antusiasme untuk menuding sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang, kendati yang kita sampaikan adalah kebenaran. Contoh sederhananya seperti ketika kita mendapati perlawanan dari seseorang yang ada di konteks sebelumnya, bahwa ia mengakui kesalahannya dalam memutuskan pilihan dan menyadari kalau pilihannya terdinding oleh logika. Namun, upaya untuk keluar dari sana nyatanya nggak bisa ditemukan, kesadaran menjadi ada karena berbasis diskusi, dan menyadari penuh atas kesalahan tersebut juga hanya sebagai dalih, agar dia terhindar dari aspek-aspek yang sedang mencoba menyudutkannya.


See? Menjalani pilihan berdasarkan ego sendiri tuh enak, kendati resiko yang didapat cukup pahit. Namun, masih ada banyak korban yang bisa ditumbalkan. Dan bagian bodohnya, beberapa diantara kita juga secara sukarela menutup mata, ketika orang lain berlari kepada kita dengan membawa permasalahan yang bahkan sebelumnya sama sekali belum terselesaikan.

Share:

Jumat, 20 Agustus 2021

Kebencian di hati saya

Sebagai seorang manusia biasa yang tidak memiliki kuasa untuk terus berbuat baik kepada sesama manusia lainnya, yang ternyata nasib mereka juga tidak lebih buruk dari saya dalam menginterpretasikan pencitraannya. Maka saya ucapkan kebencian dari lubuk hati saya yang tulus dan dalam kepada mereka-mereka yang masih tidak bisa memahami diri mereka sendiri, tetapi berlagak seolah paling mengerti terhadap apa yang menjadi keinginan dalam hidup yang mereka jalani.


Kadang saya cukup heran kalau punya relasi pertemanan yang isinya seperti nggak ada arah ataupun tujuan, tapi anehnya mereka merasa bahagia atas kehampaan yang saya lihat itu. Kadang mereka mencuit, bahagia adalah di saat temanmu ada di kala kesepian sedang bertahta. Atau seperti ini, habisi masa mudamu dengan kegembiraan bersama teman, agar kelak jika kau tua nanti kau memiliki banyak cerita. Jika dua kutipan di atas cukup asing karena memang itu adalah karangan fiktif dari kepala saya atas observasi yang dikemas di dalam kepala saya. Namun mungkin, ada satu yang kiranya cukup fenomenal kita temukan. "Muda berkelana, tua bercerita." Itu captionnya loh. Latar belakangnya bisa berupa perjalanan saat sedang liburan, dan sialnya itu cuma terpampang di dunia yang nggak sepenuhnya nyata. Kalimat dan kata-kata itu cuma panggung buat nunjukin ke orang-orang yang katanya "teman" bahwa dia sedang berkelana untuk mengisi masa tuanya dengan cerita.

Padahal nih ya, kalau menurut pemikiran buruk saya, isi sebenarnya dari perjalanan itu juga nggak ada yang berarti untuk diceritakan. Karena saya juga pernah mengalami hal yang sama, dan sialnya saya cuma menjadi satu-satunya orang yang nggak bisa melakukan apa-apa selain ada dan hadir di dalamnya untuk menyaksikan hal-hal yang nggak bermanfaat itu, yang jelas sekali jauh dari selogan dari kutipan di atas. See, orang-orang sekarang tuh terkesan sangat ingin terlihat intelektual. Saya bicara seperti ini bukan karena saya merasa sudah intelektual, tapi karena saya merasa panggung yang mau ditunjukkin oleh orang lain itu perebutannya sama, ya cuma biar bisa kelihatan pintar aja.

Namun, dari beberapa perjalanan yang sudah pernah saya lalui, saya pernah mendapat banyak pemaknaan dan membawanya pulang saat saya menikmati perjalanan itu bersama diri saya sendiri. Tanpa ada keterlibatan orang lain di dalamnya, tanpa ada diskusi orang-orang di sekitar saya. Pemaknaan itu tumbuh secara tiba-tiba dari pemikiran saya yang begitu leluasa menikmati perjalanan itu sendiri. Saya cuma bisa memiliki waktu di dalam kepala saya untuk merekam semua yang saya dapatkan dari perjalanan tersebut. Makna-makna yang nggak akan pernah bisa habis walaupun berkali-kali sudah disebut. Saya kehilangan waktu untuk mengabadikan cerita di kehidupan yang nggak sepenuhnya nyata itu, apalagi untuk memikirkan kalimat bijak singkat sebagai penyempurna cerita dua puluh empat jamnya.

Karena sesusah-susahnya kita nyari caption buat dipajang di sosmed, nggak menjadikan diri kita terlihat lebih bijak dari kenyataan hidup yang kita lihat. Heran juga kadang sama orang yang berlagak merasa bijaksana saat mendapat kutipan bermakna yang terlintas begitu saja di kepalanya. Seolah motivasi bisa dilahirkan lewat kata-kata, seolah orang lain akan termotivasi dengan kalimatnya. Justru orang-orang kayak gitu jadi latah hidup sama kebijaksanaan, dan orang-orang yang latah dengan kebijaksanaan akan merasa bahwa dirinya benar-benar terlihat bijaksana daripada orang lain. 
Share:

Senin, 09 Agustus 2021

Integritas Intelektualistas


Zaman sekarang tuh banyak juga ya orang-orang yang sok intelektual, merasa open minded, merasa bijaksana. Karena, ya, kelihatannya cukup keren aja gitu, apalagi kalau di tongkrongan ada salah satu teman yang bicaranya panjang lebar ngebahas banyak perspektif. Duh, berasa paling bijaksana aja udah.


Mungkin emang karena open minded itu sendiri punya citra positif gitu kan ya, buat menarik perhatian banyak orang? Semata-mata supaya orang lain bisa ngelihat dirinya kalau dia punya wawasan yang luas, atau minimal dengan mengakui seperti itu dia punya barometer untuk merasa dirinya intelektual daripada orang lain yang bisanya cuma mendengar.


Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita mungkin saja sedang kekurangan orang-orang yang merelakan dirinya untuk menjadi pendengar, sedangkan di luar sana sudah terlalu banyak orang yang memaksa dirinya untuk berbicara karena ingin merebut perhatian publik. Biasanya orang-orang seperti itu wawasannya baru keluar dari zona nyamannya, dia baru melompat dari dangkalnya formalitas wawasan, ke banyak perspektif yang nggak punya batasan sebagai barometer kebijaksanaan pun wawasan. Semua hanya perkara perspektif, opini, dan wadah utamanya adalah diskusi.


Sedangkan orang-orang yang merasa intelektual karena baru mengenal luasnya wawasan, mereka suka mengajak orang untuk bicara yang jatuhnya bagi dia adalah diskusi, tapi bagi orang lain jatuhnya malah dia pamer wawasan. Tau kan maksud saya? Yang tiap ada orang mancing-mancing kita buat ngebahas sesuatu, dia yang nanya, malah dia sendiri yang jawab panjang lebar. Dan karena dia bicara panjang lebar begitu, dia jadi nggak punya banyak waktu untuk orang lain agar bisa ikut bicara dengannya.


Selain itu ada juga orang-orang yang merasa dirinya benar. Ini di atas orang yang merasa open minded tadi. Karena setelah merasa open minded, mereka merasa apa yang ada di dalam kepala mereka tuh adalah sesuatu yang output kendalinya adalah kebenaran.


Saya tidak menjustifikasi orang-orang seperti mereka, justru saya ingin mengajak semua yang membaca ini untuk melihat kembali atas dasar apa seseorang berbicara sedemikian beraninya, apalagi sampai mengemukakan perkara benar atau salah yang jatuhnya di luar diskusi satu arah. Kita harus tau apa yang menyebabkan seseorang punya pemikiran seperti itu, karena kebenaran yang datang dari satu mulut, selalu memiliki sebab atas kedatangannya, untuk kemudian diterima pada isi kepala dengan pemahaman yang cukup baik.


Mungkin kesannya akan terdengar cukup filosofis, tapi memang dari sinilah kita akan mampu mengerti bagaimana berwawasan yang sesungguhnya. Orang yang merasa dirinya intelektual karena mendengarkan pembicaraan orang lain, belum seintelektual orang yang membaca buah hasil pemikiran orang lain. Karena jelas jauh perbandingannya.  


Sederhananya, orang kalau ngomong cuma sekadar ngomong, bisa aja salah, dan kesalahan itu murni terucap dari mulutnya, karena bentuknya adalah omongan. kendati kesalahan tersebut mampu diklarifikasi secara langsung. 


Sedangkan tulisan dihasilkan melalui banyak proses, tulisan tidak langsung hadir begitu saja tanpa diketik dengan penuh riset, dan seseorang tidak akan pernah bisa membuat sebuah tulisan kecuali sedang mempunyai keresahan. Dan keresahan juga merupakan isi dari pemikiran seseorang yang kemudian diakumulasikan menjadi sebuah tulisan. Paling genap lagi, tulisan yang dibukukan. Karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan.

Share:

Rabu, 28 Juli 2021

Memaknai Rasa Cinta Kepada Diri Sendiri

Semenjak kampanye mencintai diri sendiri terdengar cukup familiar, orang-orang sering salah persepsi dalam memaknai dan merepresentasikannya. Paradigma mencintai diri sendiri adalah mindset yang terbentuk dari dalam diri kita saat kita sudah mengenali siapa diri kita yang sebenarnya.


Contoh, saat kita tahu apa yang menjadi keinginan dalam diri kita, maka kita akan mengusahakannya agar bisa tercapai, dan ketika kita berhasil mendapatkannya, kita tahu harus bagaimana mengelola pencapaian tersebut. Lebih terbuka soal keinginan, dan tidak enggan untuk bersuara terhadap penolakan. Terlebih ketika itu berhadapan dengan masalah sosial yang menyangkut dengan orang lain, seperti ajakan seseorang yang sebenarnya kita tidak ingin untuk mengiakannya. 


Apabila kita mengenali apa yang menjadi keinginan dalam diri kita, maka kita akan berusaha menolaknya. Nah, perihal menolak ini pula yang menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang tengah mencintai dirinya. Karena kita tahu, seberapa besar cinta kita kepada diri sendiri. Maka kita juga harus tahu, orang lain juga bisa mempunyai asumsi yang sama terhadap cinta kepada dirinya. Maka dari karena itu, kita harus bisa mengakumulasikan rasa penolakan kita dan menyuarakannya tanpa membuat orang itu kecewa kepada kita. 


Simpulnya, kita menolak ajakannya dengan cara yang halus dan sopan. Namun, sopan itu sendiri memiliki beragam arah untuk bisa diterima orang lain sebagai kerelaan, jangan sampai karena kita terlalu dalam mencintai diri, kita akhirnya melahirkan rasa apatisme yang membuat orang lain kecewa terhadap tanggapan yang sudah menjadi keinginan kita, yaitu penolakan itu tadi. Dan kebanyakan mereka yang menggunakan label cinta diri sendiri sering salah kaprah di bagian itu.


Saya sering mendapati orang-orang yang merasa dirinya superior karena merasa 'berhasil' mencintai dirinya sendiri, ditekankan dalam tanda kutip berhasil. Mereka merasa apa yang menurut mereka tidak sejalan dengan pilihannya akan begitu mudah untuk mereka tolak keberadaannya, salah satu contoh sederhananya adalah seperti ajakan seseorang tadi yang ditolaknya dengan rasa apatismenya, dan dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadap dampak dari pilihan yang dia buat atas dirinya sendiri; jatuhnya malah egois.


Bahaya mencintai diri sendiri tanpa membawa rasa kemanusiaan itu adalah di saat cinta yang dirawat atas nama diri sendiri, dibangun dengan cara membunuh personalitas orang lain yang ada di sekitarnya. Bahkan terkadang, saat ada seseorang yang sadar dan peduli dengan caranya mencintai diri yang tidak tepat, seseorang yang sudah cukup piawai menghadapi kebijaksanaan dalam mencintai diri sendiri, mengambil sebuah tindakan kepadanya dengan menasehati, tetapi malah ditanggapi secara mentah-mentah oleh sebuah penolakan yang lagi-lagi digunakan atas nama mencintai diri, demi kebaikan diri sendiri. Cinta dan kebaikan yang tentu membunuh kepedulian orang lain dengan sikap apatismenya. Apa itu yang namanya mencintai diri sendiri?


Mungkin memang cara mereka untuk menjadi baik bagi diri sendiri harus diawali dengan menumbuhkan luka di hati orang lain, terlepas dari salah atau tidaknya tindakan atau perbuatan tersebut. Paradigma yang mungkin tercipta di kepalanya adalah mementingkan diri sendiri bahwa ke depannya harus bisa tetap mencintai diri, karena memang semenenangkan itu hasilnya. Kendati yang dikorbankankan adalah kepedulian orang lain kepadanya.


Orang-orang menjadi salah kaprah dalam mencintai diri sendiri karena mereka merasa nyaman telah menemukan semua pilihan yang selama ini mereka inginkan, tetapi mereka lupa untuk menyetarakan derajat orang lain untuk sama dengannya. Bahwa mencintai diri sendiri memiliki banyak sentimental yang dibangun oleh sebuah kepedulian dengan kapasitas yang cukup tinggi. Maka dari karena itu, sebelum kita mampu mengendalikan apa-apa yang ingin kita kendalikan, kita perlu mengendalikan diri kita sendiri dengan rasa kepedulian itu tadi. Tetapi kenapa saat kita ingin mengendalikan yang di luar diri, kita malah menyembunyikan rasa peduli?

Share:

Kamis, 22 Juli 2021

Perjalanan paling menyedihkan

Dalam sebuah caption yang saya gunakan untuk sebuah postingan di Instagram, saya menulis; mengamati semua bentuk keindahan bisa menjadi upaya terbaik dalam menghilangkan banyak alasan untuk menyerah.

Saya tersenyum miris membacanya saat saya menyadari bahwa di tengah kegiatan saya dalam menikmati keindahan dengan sebuah pengasingan seperti ini, sama sekali tidak pernah menghilangkan alasan saya untuk menyerah. Sama sekali tidak. Bahkan saya semakin kesulitan menemukan alasan-alasan untuk bangkit, tetapi saya tidak kunjung menemukan halaman akhir dari semua rasa sakit ini.

Di lain waktu, saya sempat menulis narasi yang cukup mempunyai banyak tanda tanya atas karakter yang saya ciptakan. Seorang bocah ingusan keluar dari rahim ibunya dengan keadaan menangis tatkala menghadapi kenyataan pahitnya dunia, namun kemudian kasih sayang orang tuanya menyambut kehadiran bocah mungil tersebut dengan penuh senyum dan tawa. Singkat saja, sepaling tidak saat bocah itu beranjak dewasa, lalu kemudian jiwanya dibunuh secara perlahan.

Secara tidak sadar mereka seperti sedang mendidik, tetapi yang dirasakan bocah itu seperti sedang dihardik. Dan satu-satunya keputusan terburuk bocah itu adalah, mengiakan permintaannya kepada Tuhan untuk hidup di dunia saat merasa sesak ketika hidup di dalam rahim ibunya, lalu menyesal ketika menghadapi kenyataan bahwa kehidupan dunia lebih kejam daripada kehidupan dia sebelumnya.

Tidak ada yang perlu diistimewakan, semua hanya tentang kerelaan diri dalam mempertahankan hidup dari dunia yang tidak henti-hentinya menikam.

Saya tidak ingin memberikan penjelasan panjang lebar mengenai sebab apa dan kenapa saya menulis tulisan tersebut. Pada akhirnya, saya menemukan satu alasan terbesar mengapa saya lari dari semua masalah yang selama ini saya hadapi, karena akhirnya saya menemukan satu alasan dari penyesalan tersebut. Penyesalan yang harus saya hadapi sepanjang saya hidup. Penyesalan yang tidak lagi bisa saya kembalikan selain menghabiskan semua waktu kekecewaan tersebut dengan penuh rasa sia-sia. 

Saya ada di dunia, tetapi seperti tidak dianggap ada. Saya cukup mampu mendapatkan semua yang saya mau, tetapi saya tidak menemukan kebahagiaan di dalamnya. Saya seperti sedang tidak merasakan hidup yang sebenar-benarnya hidup. Dan atas kehidupan yang selama ini masih saya jalani, saya seperti sedang menghabiskan penyesalan saya sendiri. Di dalam penyesalan yang saya ciptakan karena sudah memilih untuk terlahir ke dunia ini.

Di sebuah tempat wisata yang pernah saya kunjungi, saya sempat menyaksikan dan melihat bagaimana cara seorang anak kecil yang sedang merengek manja ingin meminta dibelikan mainan kepada orang tuanya. Namun karena hal terdesak, entah karena alasan apa pun yang saya tidak ketahui, orang tuanya berbohong kepada anaknya bahwa toko mainan tersebut sedang tutup, dan mirisnya orang tua itu langsung berkata kepada sang pemilik toko mainan itu, seolah bekerja sama untuk sang anaknya agar tidak jadi membeli mainan yang diinginkannya itu. Kemudian orang tua tersebut menggendong anaknya menjauh, dan baru beberapa langkah kemudian, sang anak kembali menunjuk ke arah sesuatu pada seorang penjual yang sedang diinginkannya, dengan isak tangis tentunya. Namun, orang tuanya seolah tutup telinga dan semakin mempercepat langkahnya menjauh dari daerah tersebut, sampai akhirnya hilang dari pandangan saya.

"Dek, semoga nanti hidupmu tidak seburuk aku. Perasaan yang kita rasakan persis sama, walaupun keadaan kita cukup berbeda. Semoga kau tidak menemukan penderitaan serupa yang sering disembunyikan banyak orang, Dek." Saya berdiri dari tempat duduk, kemudian mengusap pelan kedua mata saya yang entah kenapa tiba-tiba berkaca-kaca. Di ujung sana lembayung senja tengah berlabuh, menggantikan terik yang siap melepas sauh.

Share:

Minggu, 11 Juli 2021

Konteks Sebuah Rasa Peduli



Hal paling brengsek yang sering diharapkan oleh manusia saat sedang punya masalah itu adalah kepedulian, tetapi sayangnya harga kepedulian untuk sebuah rasa yang tulus tidak pernah menemukan tempat yang tepat, selain jatuh dalam sebuah kesialan.

Bullshit sekali rasanya ketika ada orang yang menyarankan untuk bercerita dengan dalih siapa tahu bisa membantu. Karena pada akhirnya cerita itu nggak lagi berharga untuk membayar sebuah rasa lega. Bahkan lebih parahnya, rasa percaya kita atas sebuah cerita yang kita tuangkan dengan penuh emosi dan harapan untuk bisa menemukan jalan keluar dari inti masalah kita ini, nyatanya sama sekali tidak terpenuhi. Hanya karena kebijaksanaannya dalam menyikapi kepedulian tersebut setingkat dengan perasaan superiornya bahwa masih ada rasa kemanusiaan di hatinya. 

Mungkin benar adanya jika titik tersulit seorang manusia untuk mengerti terhadap manusia lainnya adalah mengakui ketidaksanggupannya dalam membijaksanai dirinya sendiri atas rasa pedulinya terhadap orang lain, namun tetap mengupayakannya dengan tingkat kepercayaan diri yang cukup bodoh.

Peduli yang saya maksud di sini adalah peduli dalam konteks terhadap masalah yang poin utamanya, kita nggak ada waktu buat cerita saat kita dituntut untuk bercerita. Karena mereka merasa setelah kita bercerita kita akan menemukan rasa lega seperti kebanyakan masalah manusia pada umumnya, maka dari karena itu kepedulian yang mereka berikan isinya cuma berupa ucapan semangat yang sama sekali nggak menemukan kita pada solusi atas masalah yang kita hadapi ini.

Sialnya lagi, konteks kepedulian seperti ini sudah terkontaminasi jauh dan dalam dengan drama-drama yang memang menuntut sebuah rasa semangat. Semata-mata hanya karena ingin dilihat dan dipedulikan, hingga sebegitunya merendahkan diri untuk meminta sebuah pandangan. Bahkan dengan begitu, seolah masalah dapat selesai begitu saja ketika ego berhasil mendapat apa yang diinginkannya.

Mungkin memang, bagi sebagian banyak orang atas suatu masalah yang bahkan jawabannya hanya bisa ditentukan oleh waktu, mereka dapat menemukan semangat barunya ketika mereka merasa ada yang tengah memedulikannya ketika bercerita dan mendapati tanggapan yang isinya berdampak dalam menciptakan energi positif serta dapat membangun keyakinannya untuk tidak terlanjur pasrah dan menyerah begitu saja. Dalam lain konteks, kepedulian dua arah atas beberapa masalah yang disetarakan oleh satu jawaban, sama sekali tidak membentuk kepedulian atas nama kemanusiaan.

Kepedulian itu menolong, bukan semata menanggapi. Kalau dari awal cuma modal tanggapan, ada baiknya tidak menunjukkan rasa superior karena bersedia menjadi wadah untuk bercerita. Lain halnya ketika ada orang yang merasa tertolong saat ceritanya sudah didengar, itu bentuk kepedulian. Dan bentuk itu pula yang wujudnya paling menonjol dalam kehidupan kita, hingga kita lupa bahwa masih ada kepedulian yang setingkat lebih tinggi dari menuntut cerita kenapa dan memastikannya dengan baik-baik saja setelah selesai bercerita. Dan toleransi paling manusiawi dari sebuah rasa peduli adalah ketika seseorang tidak sedang merasa superior atas kepeduliannya terhadap orang lain dengan sebab dan latar belakang tertentu.

Superior yang sedari tadi saya maksud di atas adalah ketika mereka menunjukkan rasa pedulinya, maka mereka ingin menunjukkan rasa kemanusiaannya dengan bukti-bukti nyata bahwa dengan aksi seperti ini lah jalan untuk mewujudkan ego dirinya agar dipandang sebagai manusia yang manusiawi--tak tahu diri--dapat terbukti.
Share:

Sabtu, 03 Juli 2021

Perempuan cantik, menarik?


Teman saya tiba-tiba menyodorkan sebuah pertanyaan random, benar-benar random. Seperti sebuah angin yang tiba-tiba saja berhembus secara tiba-tiba. Bagai petir yang tiba-tiba menggelegar di siang yang terik tanpa ada mendung barang setitik. 


Di sebuah perjalanan pulang saat akan menuju rumah, sehabis membincangkan banyak hal di sebuah coffeshop, entah kenapa teman saya seperti ketinggalan tanya dan baru sempat mengingatnya ketika kami sudah ingin menuju persimpangan komplek rumah saya, dia tiba-tiba bertanya “Apa sebenarnya definisi wanita cantik?” Saya menerima pertanyaan itu sebagai pertanyaan yang benar-benar menarik. Saya memelankan laju motor sejenak, kemudian memberikan indikasi dan ruang waktu untuk memikirkannya sejenak.


Benar juga, kadang banyak orang yang menyebut wanita lain di luar sana sebagai wanita yang cantik. Namun, apa sesungguhnya kecantikan yang ia sebut itu? Dari mana ia mampu menyebut wanita itu sebagai wanita cantik? Saya tiba-tiba dibuat berpikir keras. Ternyata, hal-hal sederhana yang biasanya dilakukan orang lain bisa menjadi hal-hal rumit untuk dijelaskan.


Saya mengasumsikan kecantikan pada seorang perempuan itu karena ada sesuatu yang menarik dalam dirinya, hingga ia bisa dikatakan cantik karena ia telah memenuhi dirinya sebagai daya tarik yang membuat orang lain merasa tertarik padanya dan mengatakan bahwa ia cantik. Tidak mungkin kita mengatakan keindahan pada hal-hal buruk yang ada di depan mata kita. Setidaknya, yang secara spontan kita keluarkan adalah ketidaksukaan kita terhadap hal buruk itu, hingga kita tidak menemukan ketertarikan di dalamnya.

 

Lalu, jika orang-orang sering mengatakan para wanita itu sebagai cantik secara spontan dan tiba-tiba, itu artinya dia hanya melihat suatu keindahan secara sekilas dan tiba-tiba. Sebenarnya, saya tidak ingin mengatakan mereka bodoh karena telah mengatakan para wanita itu cantik dari yang telah ia lihat dengan matanya, karena sebenarnya yang mereka katakan cantik itu hanya pilihan sembarang dari yang telah dilihatnya.


Kecantikan seorang wanita itu terlahir dari dalam diri wanita itu sendiri, ada sesuatu dalam dirinya yang bisa membuat orang lain merasa tertarik padanya hingga mereka berkata cantik. Apabila seorang perempuan tidak memiliki daya tarik dalam dirinya, dia akan  menemukan kehampaan atas dirinya sendiri. Saya ambil contoh, ada seorang wanita yang penampilannya sangat biasa dan tidak ada orang lain yang mampu menilainya cantik dari kesederhanaannya. Namun, jika ada seseorang yang mengatakan ia cantik dengan pembawaan karakter yang ada dalam diri wanita tersebut, maka lahirlah kecantikan sesunnguhnya yang tidak bisa dilihat oleh orang lain sebagai sebuah kecantikan yang biasa. Seperti misalnya karena pikirannya yang kritis mungkin, atau karena ia produktif dalam setiap bakatnya, dan orang lain mengagumi itu sebagai sesuatu yang menurutnya menarik hingga mereka mampu melihat kecantikan dirinya yang utuh.


Jadi, cantik itu bukan semata-mata tentang responsif secara tiba-tiba dari fisik seseorang. Cantik itu adalah ketertarikan kita pada sesuatu yang ada dalam diri seseorang hingga kita mampu mengatakan ia sebagai seseorang yang benar-benar cantik. Jadi, kalau ada seseorang yang secara tiba-tiba mengatakan para wanita itu cantik dari pandangan matanya, itu adalah sikap responsif seseorang yang sifatnya sangat-sangat sementara. Karena perlahan-lahan, saat kita mengevaluasi kalimat yang kita ucapkan dengan mengenali karakteristik seorang perempuan itu tadi, maka baru akhirnya kita mengerti bahwa masing-masing orang punya kacamata yang beragam dalam menilai kecantikan seorang perempuan. Dan seperti yang sering kita temukan adanya di manapun kita menangkapnya, bahwa cantik itu adalah relatif. Tinggal bagaimana kita mengintervensikannya sebagai penilaian adaptif.

Share: