Senin, 30 Desember 2024

Membedah Dampak Kenaikan PPN Menjadi 12% pada Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Global

Pertama-tama aku mau disclaimer keras dulu; aku sama sekali enggak punya latar belakang dalam disiplin ilmu ekonomi. Aku cuma kebetulan belajar aja karena menekuni market finansial, di mana ada keharusan untuk mempelajari ekonomi sedikit demi sedikit, tetapi apa yang aku tulis ini berdasarkan pemahaman pribadi dan referensi yang ada.

Harapannya, tulisan ini aku buat agar kita bisa lebih kritis lagi dalam memahami ekonomi secara global yang juga turut berdampak pada keuangan pribadi kita. Kendati orang Indonesia sendiri malas membaca. Namun, setidaknya aku punya legacy pribadi. Harapan selanjutnya semoga tulisan ini bisa membuka ruang kritis dan atensi kita terhadap politik, karena pengaruh politik itu punya dampak yang sangat signifikan pada setiap aspek kehidupan bermasyarakat.


A. Kondisi ekonomi makro menjelang pergantian tahun 

Beberapa hari lagi menjelang kenaikan PPN yang resmi dilakukan mulai awal tahun 2025. Secara keseluruhan, sudah ada banyak orang di media sosial yang membedah bagaimana kenaikan PPN dari 11% ke 12% ini akan menjadi efek domino. Sebelum lanjut lebih jauh, di bagian ini aku akan membahas dampak eksternal terhadap pengaruh nilai tukar rupiah kita. Secara sederhananya, kita bisa melihat dari kondisi ekonomi saat ini, per Desember 2024, setelah The Fed mengeluarkan Summary Economic Projection untuk tahun 2025—simpelnya, ini tuh kayak proyeksi atau gambaran bagaimana The Fed melihat kondisi ekonomi Amerika di tahun 2025 nanti, berdasarkan data-data yang sudah di dapat di tahun ini. 

Poin utamanya menyangkut bagaimana The Fed akan memangkas suku bunga acuan pada 2025 hanya menjadi 2 kali, data ini dianggap lebih rendah dari proyeksi di bulan September 2024 menurut ekspektasi analis terkait kebijakan The Fed. Ekspektasi ini justru jadi trigger bahwa dollar akan menguat dan dampaknya akan terjadi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dilansir dari CNBC, kepala Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah ini dibarengi oleh ekspektasi pasar yang kecewa dengan proyeksi penurunan suku bunga The Fed yang lebih kecil. Selain dari ekspektasi analis terhadap pemotongan suku bunga, ada faktor lain yakni inflasi di Amerika yang masih dinilai tinggi dan juga menjadi faktor tambahan.

Data-data penting lainnya juga menjadi perhitungan detail, seperti perbandingan indeks harga produsen, indeks harga konsumen dari tahun ke tahun. Kalau ingin melihat data ini bisa merujuk ke website investing.com atau forex factory, ini kalau punya skill learning data-data ekonomi, bisa jadi indikator penting. Tapi aku akan langsung skip bagaimana data tersebut bisa menguatkan dollar, dan justru menekan nilai mata uang negara lain, termasuk negara berkembang. Karena aliran modal keluar dari negara berkembang ke aset berdominasi dollar.

Berdasarkan indikator penting yang sudah aku bahas tadi, dollar mendorong penguatannya, otomatis ini akan berdampak ke imbal hasil surat utang AS (US treasury) yang menjadi naik—simpelnya ini tuh kayak obligasi kita di Indonesia. Nah, ketika dollar menguat, persentase keuntungan dari US treasury ini akan naik per tenornya. Di mana hal tersebut mendorong para investor untuk lebih tertarik berinvestasi di US treasury, ketimbang di aset beresiko lainnya, seperti pasar saham.

Data ini juga menjadi alasan kenapa setelah The Fed mengeluarkan Summary Economic Projectionnya, IHSG cenderung melemah, saham-saham big caps merosot tajam, pun rupiah juga sekaligus tertekan. Semua kejadian ini disebabkan karena data-data tadi, di mana investor akhirnya lebih punya ketertarikan pasti terhadap US treasury ketimbang aset beresiko yang berpotensi mengalami penurunan karena kebijakan ini.

Namun, data-data ini bersifat dinamis dan sangat mungkin untuk terus mengalami perubahan ke depannya. Hanya saja, indikator mengenai guncangan mata uang yang kita gunakan saat ini mempunyai pengaruh besar terhadap standar internasional currency.


B. Kenaikan PPN 12% di awal tahun 2025

Seperti yang sudah aku bilang di awal, bahwa sebenarnya pembahasan detail dari efek kenaikan PPN menjadi 12% ini sudah banyak dibahas orang-orang di media sosial secara mendetail. Di sini aku cuma akan sekilas menambahkan saja. Bahwa utamanya iya, pajak naik 1%, tapi implementasi hasil akhir dari bagaimana pajak itu dipungut, mengalami kenaikan rata-rata berkisar di angka 9%. 

Lantas apa artinya? 

Nah, sebelum membahas lebih jauh terkait efek domino dari kenaikan PPN, kita perlu melihat gambaran ekonomi Indonesia dulu secara internal.

1. Suku bunga acuan kita berada di angka 6%. 

Berdasarkan pernyataan dari gubernur Bank Indonesia, per Desember 2024, BI tetap mempertahankan kebijakan suku bunga untuk tetap di angka 6% agar memastikan inflasi yang terkendali, serta mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, katanyaaaaa.

Nah, ilustrasinya ketika kebijakan moneter yang menetapkan suku bunga kita di angka tersebut, tentunya akan membuat masyarakat menahan diri untuk mengeluarkan transaksi keuangan dengan aset-aset beresiko, karena masyarakat mempunyai alternatif imbal hasil yang lebih tinggi dengan suku bunga 6% tersebut. Imbasnya, daya beli menurun, roda perekonomian jadi macet.

Untuk tahu alasannya kenapa, kita perlu mengetahui suku bunga acuan itu sendiri. Suku bunga acuan adalah kebijakan moneter yang mengatur peredaran uang di masyarakat. Semakin rendah suku bunga, maka akan semakin banyak uang yang beredar. Semakin banyak uang yang beredar, maka akan semakin tinggi pertumbuhan ekonomi. Namun, peredaran uang yang begitu banyak juga akan menimbulkan inflasi. Ketika inflasi terjadi, nilai mata uang akan melemah. Sebaliknya, ketika semakin tinggi suku bunga, maka akan semakin sedikit uang yang beredar di masyarakat. Dan ini akan berdampak kepada menguatnya mata uang di negara tersebut. 

Nah, efek dari suku bunga acuan di angka 6% ini menggambarkan bagaimana peredaran uang sedang dikendalikan oleh bank sentral di Indonesia. Mengingat nilai tukar rupiah terus melemah karena faktor eksternal tadi. Namun, ketika suku bunga acuan tinggi, sedangkan daya beli masyarakat menurun, terjadi dilema juga pada akhirnya. Ditambah kebijakan fiskal pemerintah dalam menaikkan PPN menjadi 12%.

Secara gambaran sederhana tadi, melihat kondisi suku bunga yang tergolong tinggi, peredaran uang di masyarakat cenderung masih akan terus menurun, dan ini memicu deflasi.

2. Deflasi di Indonesia 

Kalau kita lihat faktanya, Indonesia sendiri terbilang tidak begitu tercekik oleh inflasi, justru malah mengalami deflasi. Selama tahun 2024, Indonesia sempat mengalami deflasi selama 5 bulan berturut-turut—Maret - September 2024. Untuk tahu kenapa deflasi bisa terjadi, ini dikarenakan uang yang beredar di masyarakat lebih sedikit, dan permintaan terhadap barang dan jasa menurun, sedangkan produksinya tetap tinggi. Ini menyebabkan perusahaan produksi menjadi tercekik mengingat daya belinya cenderung turun.

Hal ini akan berdampak pada perusahaan produksi karena daya beli yang turun, sehingga mengurangi pendapatan perusahaan. Kalau pendapatan perusahaan menurun, sedangkan kewajiban untuk memberikan gaji kepada karyawannya tetap, ini yang justru membuat perusahaan tercekik dan terpaksa membuat perusahaan untuk merampingkan tenaga kerja (PHK)

Kalau PHK terjadi, otomatis angka pengangguran akan semakin meningkat, kalau angka pengangguran semakin meningkat, ini akan menjadi efek tambahan terhadap daya beli yang menurun.

Simpelnya begini ketika deflasi → uang yang beredar sedikit → masyarakat jadi kurang belanja → daya beli menurun → produksi tetap tinggi → perusahaan tercekik → terjadi PHK → pengangguran meningkat → daya beli semakin turun.

Sekarang kembali ke topik utama terkait kenaikan PPN, jika melihat realita yang ada ketika PPN naik menjadi 12%, otomatis nilai beli kita akan bertambah ketika melakukan transaksi, sedangkan rata-rata pendapatan masyarakat cenderung tetap. Kalau ini terus-terusan terjadi, kita akan semakin mengalami deflasi karena masyarakat kelas menengah akan menurunkan aktivitas belanja. Ini tentunya sangat menekan ekonomi masyarakat kelas menengah dan menengah ke bawah. Idealnya, ketika PPN dinaikkan, otomatis UMR juga harus dinaikkan. Namun, ini juga menjadi keputusan sulit dan tidak sederhana.

Dilansir dari CNN, analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan bahwa secara fiskal, meskipun PPN naik, imbasnya pendapatan uang ke negara jadi turun karena daya beli masyarakat yang sejak awal juga menurun, ditambah dengan kebijakan ini. Kalau pendapatan negara menurun, otomatis akan terjadi pengurangan produksi, kalau produksinya menurun, otomatis pendapatan negara juga menurun jika mengacu kepada transaksi yang dikenai PPN secara nominal.

Center of Economic and Law Studies (Celios) mengatakan bahwa kenaikan PPN akan berdampak kepada kelas miskin dan menengah karena menambah pengeluaran mereka. Mengutip data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tentang pengeluaran rumah tangga terkait makanan dan nonmakanan serta asumsi inflasi sebesar 4,11 persen. kenaikan PPN menjadi 12 persen bisa menambah pengeluaran kelompok miskin sebesar Rp101.880 per bulan. Sementara kelompok kelas menengah mengalami kenaikan pengeluaran sebesar Rp354.293 per bulan.

Dampak lebih jauhnya, ini akan menurunkan laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dilansir dari artikel berita Tempo, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan bahwa kenaikan PPN akan melemahkan ekonomi. Namun, menteri keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa kenaikan PPN masih sesuai dengan amanat UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Sri Mulyani juga mengingatkan APBN sebagai instrumen penyerap kejut (shock absorber) perekonomian harus dijaga kesehatannya.

Simpelnya, tujuan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan dalam menaikkan pajak ini salah satunya karena ingin menjaga agar APBN tetap sehat. Nah, yang menjadi pertanyaan, memangnya APBN kita selama ini nggak begitu sehat, sampai-sampai harus menaikkan pajak? 

Nah, mengutip informasi dari KJKN Kemenkeu, dalam berita 'APBN 2024 resmi meluncur' yang pemberitaannya datang dari akhir tahun 2023. Selama tujuh kuartal berturut-turut, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Hal ini merupakan sebuah prestasi dimana Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara yang berhasil mempertahankan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat. 

Sekilas, APBN kita tergolong sehat. Namun, jika kita mencoba kritis dalam melihat situasi, di tahun 2024 ada penyelenggaraan pemilu, pilkada, pun pernah terpotret berita bahwa Presiden saat itu membagikan BLT menggunakan dana APBN. Belum lagi setelah presiden terpilih saat ini membentuk kabinet yang cukup besar, belum nanti proses penyelenggaraan program-program dari visi misi kampanye kemarin, tentu anggaran yang dikeluarkan ke depannya juga akan membesar. 

Namun, tentu saja paparan di atas hanya bersifat subjektif, kita sebagai masyarakat pastinya hanya bisa bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah dan mengkritisi kebijakannya apabila ada yang membebankan rakyat.

3. Dampak kenaikan PPN 

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa alasan dinaikkannya pajak penghasilan negara dari 11% menjadi 12% karena ingin meningkatkan pendapatan negara. Sederhananya seperti itu. Namun, jika kita telaah lebih dalam, kenaikan PPN ini bisa mengancam perekonomian. Kalau kalian tahu, penyumbang PDB terbesar negara kita itu sebagian besarnya ada di sektor konsumsi rumah tangga. Simpelnya PDB (Produk Domestik Bruto) itu adalah perhitungan yang dilakukan oleh negara untuk mengukur aktivitas ekonomi negara kita. 

Nah, kalau PPN dinaikkan, otomatis ada tekanan di masyarakat, ada beban tambahan terhadap pengeluaran masyarakat ketika ingin membeli barang-barang konsumsi. Ketika hal ini terjadi, akan ada banyak kelas menengah yang terhimpit, apalagi kelompok miskin yang secara daya beli terbatas, yang kemungkinan besarnya akan memaksa mereka untuk mengurangi konsumsi sehari-hari. Artinya, dampak dari kenaikan PPN ini akan sangat dirasakan oleh lapisan masyarakat paling bawah sampai menengah.

Dampak seperti ini akan menjadi tidak sejalan dengan tujuan dinaikkannya PPN, mengingat kondisi masyarakat sosial yang cenderung masih memiliki tekanan terhadap kondisi finansialnya.


C. Gejolak rupiah sebagai uang fiat di tengah dinamika yang ada 

Secara keseluruhan, value rupiah yang kita pegang sekarang ini mengalami banyak sekali serangan dari internal maupun eksternal, seperti yang sudah dibahas di atas tadi. Namun, tetap saja kita harus bisa melihat fiat hanya sebagai alat tukar atau mata uang, bukan sebagai aset. Ini aspek penting dalam menjaga nilai keuangan kita. Karena seperti yang sudah dipaparkan, fiat rupiah kita digerus oleh berbagai macam aspek seperti devaluasi ke mata uang internasional dan dipungut sebagian ke negara melalui pajak. 

Adapun bagaimana gejolak rupiah di tengah terpaan semua ini, itu semua bergantung kepada kebijakan fiskal dan moneter yang sudah ditetapkan oleh lembaga tersendiri secara masing-masing, sehingga kita hanya bisa menjaga value dari keuangan kita pribadi. Namun, kebijakan fiskal dan moneter ini tentunya harus berjalan beriringan agar pertumbuhan ekonomi di Indonesia tetap berjalan dengan baik. Mengutip kalimat penutup dari artikel berita di Tempo yang berjudul "Risiko Besar Ekonomi pada 2025"; Di pengujung 2024 ini, pemerintah dan BI malah mengambil opsi kebijakan yang sungguh berisiko itu. Maka ada satu doa amat penting di malam tahun baru nanti: semoga keberuntungan Indonesia masih berlanjut pada 2025. (Untuk tahu konteksnya silahkan baca lengkap di website Tempo)

Adalah hal yang wajar ketika di tengah situasi seperti ini orang cenderung menahan diri untuk membelanjakan uangnya dalam membeli sesuatu, apalagi memilih berinvestasi ke aset beresiko seperti pasar saham yang cenderung melemah karena menurunnya minat investor asing.

Semua keputusan finansial berada di tangan individu masing-masing, tapi jelas bahwa kita harus bisa melihat kondisi ekonomi secara objektif bahwa fiat yang nantinya akan kita pegang mengalami begitu banyak tekanan. Imbasnya, sekali kita melakukan pengeluaran, kita akan mengeluarkan lebih banyak dari yang seharusnya, berdasarkan pertimbangan dari data-data di atas tadi.

Jadi, sebagai masyarakat Indonesia, aku pribadi berhak untuk tidak setuju dengan kebijakan kenaikan PPN ini, sebagaimana masyarakat banyak juga untuk tidak setuju. Namun, kalau kita melihat fungsi kenaikan PPN secara linear, jika itu berbicara pertumbuhan ekonomi yang tinggi, PDB yang tergolong baik, itu akan jadi nilai positif. Namun, realitanya kita selalu mendapati situasi di mana APBN kita yang digunakan untuk kepentingan negara selalu punya alokasi yang tidak best to deal, mengingat banyak kebijakan yang condong menekan ke masyarakat, pun bernilai kurang dari segi manfaat. Seperti contohnya ketika kemarin data pribadi kita diserang karena security akses yang lemah dan tidak ada backup data yang mumpuni. Kalau APBN bisa dialokasikan sebagaimana mestinya dan dijalankan sebagaimana mestinya, harusnya kejadian seperti ini tidak akan terjadi. 

Sebenarnya, melihat laporan dari website Celios tentang dampak kenaikan PPN, masih ada alternatif lain yang bisa menumbuhkan pendapatan negara tanpa harus menaikkan PPN. Bagian ini nggak akan aku bahas mendetail, kalian bisa cari tahu sendiri. Intinya, kebijakan dalam menaikkan PPN bukan salah satu alternatif yang konstruktif, melainkan bisa jadi destruktif bagi setiap kelompok masyarakat.

Kenaikan PPN menjadi 12% bukan hanya soal beban pajak tambahan, tapi soal bagaimana kebijakan ini menekan daya beli masyarakat, memicu potensi PHK, dan meningkatkan angka pengangguran, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi. Di tengah tekanan global dan lemahnya nilai tukar rupiah, kebijakan ini harusnya dipertimbangkan lebih matang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.


Daftar pustaka:

celios.co.id

tempo.co 

kompas.com

investing.com

cnnindonesia.com

cnbcindonesia.com

tradingeconomics.com

silastik.bps.go.id

djkn.kemenkeu.go.id

mediakeuangan.kemenkeu.go.id

umj.ac.id 

Share:

Jumat, 11 Oktober 2024

Membedah paradigma teori konspirasi: antara pola palsu dan superioritas semu

Buat orang-orang yang menyukai teori konspirasi, emang apa sih yang dikejar dari itu semua? Hal-hal yang kerasa mind blowing? Berasa pinter karena nebak-nebak isi teori konspirasinya? Coba benahin dulu cara berpikir tentang teori konspirasi ini, mulai dari definisi awalnya dulu. 

Aku berani bertaruh ke orang-orang yang cuma sekadar menyukai teori konspirasi, sesederhana untuk mendefinisikan teori konspirasi aja kayaknya gak akan bisa. Pun bisa, ya paling penjelasannya seputar apa yang ada di pikirannya, terbatas. 

Jadi gini, kita mulai dari konspirasi dulu, menurut KBBI, konspirasi adalah komplotan atau persekongkolan. Lebih lengkapnya, secara akademis konspirasi itu diartikan sebagai persekongkolan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk menjalankan suatu rencana yang besar; rencana yang dimaksud di sini cenderung negatif dan ilegal. Sementara teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan didukung oleh data dan argumentasi. 

Nah, banyak orang yang salah kaprah dalam melihat teori konspirasi karena menganggap teori konspirasi sebagai "kebenaran alternatif". Tapi ironisnya, mereka justru terjebak dalam pola pikir yang sempit dan kurang kritis terhadap sumber yang mereka percayai. Hal ini terjadi karena mereka terus dihujani dengan narasi yang sama dan sejenis secara terus menerus tanpa ada counter argumen atau pandangan yang berbeda, lama kelamaan narasi itu akan menguasai pikiran mereka, sehingga hal itu menimbulkan yang namanya confirmation bias. Mereka cenderung hanya mencari dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan atau kecurigaan mereka, dan cenderung menolak informasi yang bertentangan. Ini yang bikin mereka semakin yakin pada teori konspirasi, walaupun bukti-bukti yang ada nggak mendukung atau malah lemah.

Selain itu, orang yang fanatik terhadap teori konspirasi, cenderung memiliki skeptisisme yang berlebihan. Mereka sering kali merasa tidak percaya dengan narasi resmi atau dari otoritas. Rasa skeptis ini sebenarnya bagus, tapi kalau berlebihan, bisa bikin mereka gampang percaya pada narasi alternatif tanpa bukti yang jelas. Jadi, intinya mereka merasa "membuka mata" terhadap sesuatu yang tersembunyi, padahal justru terjebak dalam informasi yang kurang kredibel.

Orang yang fanatik terhadap teori konspirasi juga cenderung merasa dirinya lebih pintar dari orang lain. Mereka sering merasa istimewa dan percaya diri karena karena “mengetahui” sesuatu yang orang lain tidak tahu. Ini semacam superioritas intelektual, padahal kadang mereka nggak menyadari kalau mereka malah dimanipulasi oleh informasi yang salah atau sesat.

Untuk menyederhanakan semua itu, orang-orang yang fanatik terhadap teori konspirasi memandang fenomena, sejarah, politik, ekonomi, dan semua kejadian besar yang ada di dunia, adalah hasil dari skenario yang sudah diatur oleh sekelompok orang tertentu. Dan ini adalah bentuk dari kecacatan berpikir paling mendasar terhadap teori konspirasi.

Misalnya gini, berbicara soal sejarah, gak ada sejarah yang berjalan dengan sempurna. Banyak peristiwa besar yang terjadi karena memiliki interaksi yang rumit dan kompleks, tapi saling berhubungan, bahkan banyak tragedi yang gak terprediksi, dan kita gak bisa memandangnya cuma dari satu sisi. Artinya, gak semua hal bisa dijelaskan dengan teori konspirasi, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi, kayak ekonomi, alam, perubahan kondisi sosial, intinya cukup rumit lah untuk bisa memahami sebuah sejarah. 

Hal ini berkaitan dengan poin selanjutnya, bahwa teori konspirasi cenderung menyederhanakan segala sesuatu yang rumit karena memberikan kebenaran alternatif. Misalnya dalam konteks sejarah tadi, orang yang mengikuti teori konspirasi pasti mempercayai narasi yang lazim didengar, bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Nah, narasi singkat itu kan cenderung sederhana atas peristiwa-peristiwa yang cukup rumit dan kompleks untuk menjelaskan semuanya. Itu menjadi bentuk salah kaprahnya seseorang dalam memandang sejarah sebagai teori konspirasi. 

Kalau kita mau bedah lebih dalam soal bagaimana teori konspirasi bekerja, kita harus pahami bahwa mekanisme ini seringkali melibatkan beberapa tahap atau unsur psikologis dan sosial yang mempengaruhi cara seseorang menerima informasi dan membentuk keyakinan. Aku akan coba elaborasi proses kerjanya dan gimana caranya biar kita nggak salah kaprah dengan narasi teori konspirasi.

1. Kecendrungan untuk menemukan pola

Otak manusia secara alami dirancang untuk mencari pola dalam dunia di sekitar kita. Ini adalah cara kita bertahan hidup dan memahami lingkungan kita. Namun, kecenderungan ini bisa berlebihan ketika kita mencoba mencari pola di tempat di mana pola itu sebenarnya tidak ada. Dalam teori konspirasi, orang sering melihat hubungan atau pola di antara peristiwa yang mungkin tidak terkait sama sekali.

Contoh: Teori Konspirasi tentang Pengendalian Ekonomi oleh Elite Tertentu di Indonesia

Narasi ini sering muncul di media sosial atau forum online, terutama ketika ada krisis ekonomi atau kebijakan pemerintah yang nggak populer. Teori konspirasi ini biasanya menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia dikendalikan oleh segelintir elite atau "kelompok rahasia" (kadang disebut '9 Naga'), yang bertujuan untuk memiskinkan rakyat dan memperkaya diri mereka sendiri. Orang yang percaya teori ini sering menemukan "pola" dalam kebijakan pemerintah dan hubungan antara pengusaha besar atau konglomerat dengan kekuasaan politik.

Salah kaprahnya banyak orang: Meskipun benar bahwa ada hubungan antara bisnis dan politik, serta bahwa beberapa kebijakan mungkin menguntungkan pengusaha besar, bukan berarti semua peristiwa ini merupakan hasil dari konspirasi terorganisir. Banyak dari kebijakan ekonomi dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti pasar global, tekanan ekonomi, atau kebutuhan negara untuk meningkatkan investasi. Tapi dalam teori konspirasi, orang lebih suka melihat pola yang terhubung secara langsung, meskipun kadang hubungan tersebut hanya kebetulan atau terlalu disederhanakan.

Contoh ini memperlihatkan gimana orang bisa salah kaprah dalam mencari pola yang sebenarnya nggak ada, dan gimana kecenderungan itu bisa membuat orang percaya pada teori konspirasi yang mungkin nggak berdasarkan bukti nyata.


2. Kesederhanaan yang menipu 

Teori konspirasi sering menawarkan penjelasan yang sederhana untuk sesuatu yang kompleks. Ini menarik bagi banyak orang karena lebih mudah untuk memahami dan lebih nyaman bagi pikiran kita. Misalnya, peristiwa yang melibatkan ekonomi global atau kebijakan politik besar sering kali sangat rumit dan penuh dengan faktor-faktor yang tidak bisa dilihat secara langsung. Orang lebih cenderung menerima narasi bahwa ada kelompok tertentu yang "mengendalikan" semuanya daripada menerima bahwa dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan tidak bisa diprediksi


3. Menggunakan ambiguitas dan ketidakjelasan

Teori konspirasi sering tumbuh di atas celah-celah dalam informasi. Ketika ada ketidakjelasan dalam narasi resmi, teori konspirasi langsung memanfaatkannya. Teori ini mengisi kekosongan informasi dengan cerita yang lebih seru atau menggelitik rasa penasaran. Orang cenderung lebih mempercayai cerita yang menawarkan jawaban atas sesuatu yang tidak jelas.

Contoh: Saat pandemi COVID-19 muncul, karena belum banyak informasi pasti soal asal-usul virus, banyak teori konspirasi berkembang, mulai dari virus buatan lab hingga teori tentang kontrol populasi.


4. Pengulangan dan penyebaran cepat

Teori konspirasi menyebar dengan cepat, terutama di era digital dan media sosial. Informasi yang berulang kali muncul di berbagai tempat bisa mulai tampak benar bagi sebagian orang. Ketika orang melihat hal yang sama diulang-ulang, meskipun tanpa bukti, mereka mulai percaya bahwa itu benar hanya karena banyak orang lain juga membicarakannya.


Jadi, buat orang-orang yang menyukai tentang teori konspirasi, sekilas emang kelihatannya cukup mind blowing kalau kita bisa mengetahuinya, tapi sebenarnya itu tuh cuma cangkang luar dari sebuah pengetahuan, bahwa berangkat dari teori konspirasi, kita bisa mempelajari banyak hal dari sana. Terlebih kalau teori konspirasi itu masih melibatkan aspek yang masih bisa dijangkau pikiran kita, dalan artian masih masuk akal untuk terjadi. Makanya dugaan itu lumrah muncul, dan reaksi terpukaunya menyusul kemudian. Tapi itu cuma hal remeh temeh biasa aja, gak ada yang istimewa. Tolok ukur teori konspirasi tuh gak bisa jadi kesimpulan utuh atas suatu fenomena. Teori konspirasi tuh cuma menarik untuk jadi bahan refleksi diri atas pengetahuan yang kita miliki aja, bukan untuk dipercayai sepenuhnya.

Share:

Rabu, 25 September 2024

Melihat keindahan dengan memahami matematika

Di sini aku tidak akan membahas tentang angka-angka atau rumus yang ada di dalam matematika secara spesifik, karena toh aku juga tidak terlalu menyukainya wkwk. Aku cuma mau menguliti semampu yang aku bisa, apa yang ada di balik matematika, sehingga matematika mampu menciptakan keindahan, bukan hanya ke diri kita sendiri, bahkan ke alam semesta. Tapi sebelum itu disclaimer dulu bahwa tulisan ini datang dari seseorang yang sama sekali tidak pernah mencintai matematika dari ujung ke ujung, aku hanya suka dan tidak begitu serius menekuni bidang ini. Jadi tulisan ini sebisa mungkin ditulis dengan kemampuan kepenulisanku yang sederhana dan semoga bisa terbayang-bayang di kepala ketika sedang membacanya. 

Matematika pada dasarnya bukanlah angka atau simbol, matematika adalah bentuk. Karena pada akhirnya, matematika digunakan untuk mengukur sesuatu. Nah, kalau matematika terlihat tampak dalam mengukur sesuatu karena bentuknya yang reguler, dalam artian bisa dihitung, diperkirakan, dan dirumuskan, itu cukup mudah. Sedangkan kenyataannya, ada banyak bentuk yang sangat acak, random, tidak beraturan, dari dunia ini. Contohnya seperti gunung, kelihatannya seperti segitiga tetapi bukan. Awan, gelombang di lautan, pasir-pasir di pantai, bentuk petir, ranting-ranting pohon, semuanya tampak tidak beraturan. Tapi di dalam matematika, ini disebut dengan fractal. Salah seorang matematikawan bernama Benoit Mandelbort, mempelajari dan menemukan bahwa ada pola matematis sederhana yang justru memperlihatkan keteraturan. 

Tapi sebelum ke situ, sekarang coba bayangkan bentuk bumi yang sedang kita tinggali sekarang, adalah berbentuk lingkaran—bagi yang berkeyakinan bumi itu datar, kalian tidak diajak, jadi silakan skip saja. Pun matahari, bintang-bintang, planet-planet lain, bahkan lintasan bumi dalam mengelilingi matahari, lintasan matahari mengelilingi bima sakti, juga melingkar. 

Sekarang coba kita kembali sejenak ke pembelajaran matematika di sekolah dasar, rumus mencari luas lingkaran; Ï€r². Kalau kita bahasakan agar bisa dimasukkan ke dalam hitungan, r² adalah jari-jari lingkaran sedangkan Ï€ adalah 3,14 atau 22/7. Tapi mungkin banyak di antara kita yang tidak tahu darimana asal bilangan tersebut. Jadi, Ï€ adalah rasio keliling lingkaran, kemudian dibagi diameternya. Hasil rasionya selalu sama 3,14, tidak peduli berapa pun besar atau kecilnya sebuah lingkaran, rasio itu tetap sama.

Tapi yang perlu kita tahu, angka 3,14 bukanlah angka yang sesungguhnya, angka tersebut hanyalah angka pendekatan. Karena di belakang 3,14 masih ada banyak angka lain yang berderet sangat panjang dan itu tidak ada habisnya. Menariknya, mengukur rasio keliling lingkaran dibagi diameternya tidak pernah semudah seperti kita menghitungnya di atas kertas menggunakan penggaris. Karena lingkaran memiliki lengkungan yang sempurna. Jarak dari titik pusat lingkaran ke setiap titik di sepanjang sisinya, itu sama. Maka dari karena itu banyak ahli matematika yang berusaha untuk mengukur rasio ini secara akurat, dan semakin akurat, nilainya akan semakin panjang. 

Melihat di website Wikipedia tentang π, pada abad ke-20 dan ke-21, para matematikawan dan ilmuan komputer menemukan pendekatan baru yang apabila digabungkan dengan daya komputasi komputer yang tinggi dan canggih, mampu memperpanjang representasi desimal π, komputer tercanggih hari ini sudah menghitung sampai 202 ribu triliun digit, di belakang koma. Link referensi, tanggal dimuat, beserta spesifikasi komputer dan orang yang melakukannya aku sertakan di sini. Maka dari karena itu nilai π masuk ke dalam bilangan irasional, karena itu tidak ada ujungnya dan tidak bisa dipecah ke bilangan apapun. Memang agak gila kalau mikirin sampai sejauh ini, aku aja mau muntah membayangkannya wkwk

Nah, karena nilai Ï€ tidak pernah ada ujungnya, itu artinya kita tidak pernah bisa menghitung luas keliling lingkaran dengan sempurna. Dengan kata lain, lingkaran sempurna itu tidak ada di dunia nyata. Semua hal yang ada di dunia ini, secara natural akan membentuk lingkaran, contohnya seperti yang aku sebutkan di awal tadi, bahkan tetesan air, sel-sel di tubuh manusia, sampai atom, bahkan sains dan teknologi, tidak akan ada tanpa memperhitungkan nilai Ï€. Itu alasannya kenapa Ï€ ada di mana-mana, bahkan di dalam rumus fisika, bahasa pemrograman komputer super canggih, di dalamnya pasti ada Ï€. Kalau kita bahkan menyadari sesuatu, Ï€ bahkan sangat dekat berada di sekitar kita. Namun, ini hanyalah satu fakta kecil yang belum membuat kita bisa melangkah lebih jauh dalam melihat bagaimana akhirnya matematika mampu menciptakan keindahan. 

Sekarang aku mau lanjut membahas bagian penting lainnya dari matematika, yakni fibonaci dan golden rasio. Secara singkatnya aku mengenal fibonaci dan golden rasio ini karena pekerjaanku dalam menggeluti pasar finansial dari teknis analisanya. Ada tools yang bernama fibonaci, kalau kita mengerti cara menganalisa lebih jauh, di dalam fibonaci ada istilah yang namanya golden rasio, yang mana ketika harga menyentuh area golden rasio dan melakukan reaksi dari sana, kita mampu mengambil keuntungan dengan mengambil posisi pembelian atau penjualan. Simpelnya, fibonaci adalah sebuah bilangan yang di mana setiap bilangannya adalah jumlah dari dari dua bilangan sebelumnya. Bilangan yang merupakan bagian dari bilangan Fibonacci dikenal sebagai deret Fibonacci. Kalau golden rasio ini adalah rasio panjang garis, yang mana kita membagi sebuah garis menjadi dua bagian, menjadi antara titik a ke titik b, dan titik c. Maka di dalam deret fibonaci, kita membagi panjang garis tersebut menjadi dua bagian, sehingga rasio tersebut digunakan sebagai area entry ideal. Berikut aku berikan contoh gambarannya.

Tapi faktanya, walaupun golden rasio ini cukup sederhana, tidak seperti nilai Ï€ tadi, hampir semua ukuran di alam semesta ini mengacu kepada golden rasio. Salah satunya ada di tubuh kita sendiri. Panjang lengan kita dari siku ke ujung jari dan siku ke ujung bahu, rasionya 1,618. Panjang tubuh kita dari pusar ke ujung kaki, dan pusar ke ujung kepala, rasionya sama. Begitu pula dengan anggota tubuh lainnya, seperti jari-jari tangan, rasionya sama. Bahkan sampai ke dalam organ tubuh kita pun, seperti jantung dan detak jantungnya, memiliki rasio yang sama. Dan golden rasio tidak hanya ada di tubuh manusia, golden rasio ada di mana-mana, di semua hal yang ada di sekitar kita. 

Dari semua penjelasan tersebut, kita tahu bahwa bilangan irasional tidak bisa memecahkan sesuatu. Bahkan fakta menariknya, seorang filsuf Yunani yang bergabung dalam grub matematikawan pyhtagoras bernama Hippasus menjadi penemu teori bilangan irasional. Namun sayangnya, teori tersebut ditolak dan bahkan penemunya dibuang ke laut. Tapi kenyataannya, bilangan irasional justru memperlihatkan banyak keindahan di alam semesta ini. Seperti nilai π yang ternyata banyak terjadi secara alami di alam semesta, menjadikannya satu keindahan yang tidak bisa kita ungkapan secara definisi, karena itulah esensinya.

Bumi, bulan yang kita lihat entah itu sabit atau purnama, matahari yang kita saksikan entah itu pagi atau petang, bintang-bintang yang mempercantik langit, planet-planet yang turut serta, di mana kita semua mampu melihatnya dari bumi, maka kita akan menjabarkannya sebagai bentuk keindahan. Tapi di balik itu, keindahan tersebut mempunyai pola matematis dari bilangan irasional atas bilangan yang tidak terhingga nilainya. Keajaiban π terletak pada bagaimana angka ini bisa menghubungkan berbagai fenomena alam, dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Di mana ada pola melingkar atau siklus, di situlah π muncul dan membawa harmoni matematis yang indah. π bukan cuma sekedar angka, tapi semacam "kunci" untuk membuka keindahan tersembunyi di alam semesta.

Dan kalau kita sadari bahwa nilai desimalnya nggak pernah berakhir atau berulang. Sifat ini menambah unsur mistis atau spiritual pada π, seakan-akan ini adalah angka yang menggambarkan keabadian dan tak terhingga. Meskipun kita bisa memotong lingkaran fisik sampai batas terkecil, nilai π selalu ada di sana, terus menyambung keliling dan diameter. Kalau kita mengacu pada keabadian, di mana sesungguhnya semua hal yang ada di alam semesta ini akan berakhir termasuk kehidupan kita sendiri, lantas π bisa jadi bernisbah kepada sesuatu yang lebih besar dari yang ada di pikiran kita.

Di awal aku sempat menyinggung soal fractal. Setelah memahami bilangan irasional dari bentuk-bentuk reguler, mari kita bedah bentuk-bentuk tidak reguler yang ternyata juga mempunyai pola matematis. Fractal adalah salah satu contoh keindahan pola matematis yang paling memukau. Fractal adalah pola yang berulang dalam berbagai skala, atau dengan kata lain, memiliki sifat self-similarity. Secara sederhana, kalau kita perbesar sebagian kecil dari pola fractal, kita akan menemukan bahwa pola yang sama akan terus berulang di setiap level zoom, dan itu bisa terjadi secara tak terhingga. Fenomena ini tidak hanya indah secara visual, tapi juga punya aplikasi nyata di alam dan ilmu pengetahuan.

Sebelum itu, untuk bisa memahami soal fractal, mari berkenalan sedikit sama istilah chaos game. Menurut Wikipedia chaos game merujuk pada metode pembuatan fraktal. Seperti yang kita tahu bahwa fractal itu adalah memahami pola matematis di balik ketidak beraturan. Chaos game itu simpel banget kalau dilihat dari konsep dasarnya. Pada dasarnya, chaos game adalah cara untuk menghasilkan pola fractal melalui aturan sederhana dan pengulangan. Caranya adalah dengan memulai dari sebuah titik acak di dalam sebuah bentuk geometris, seperti segitiga atau bentuk lainnya, dan kemudian kita bergerak menuju titik sudut bentuk itu dengan aturan tertentu.

Misalnya, untuk segitiga:

1. Pilih tiga titik sudut segitiga sebagai acuan.

2. Mulai dari satu titik acak di dalam segitiga.

3. Pilih salah satu titik sudut secara acak, lalu bergerak dari titik acak awal menuju titik sudut yang dipilih dengan aturan, seperti bergerak setengah jarak ke sana.

4. Tandai titik baru tempat kita berhenti.

5. Ulangi proses itu berkali-kali.

Hasil dari pengulangan ini akan menciptakan pola fractal, seperti Sierpinski triangle. Meski aturan yang diterapkan sederhana, hasil akhirnya adalah pola yang sangat teratur dan kompleks, yang menunjukkan bagaimana keteraturan bisa muncul dari proses acak. 

Fractal mampu mengungkapkan keindahan yang muncul dari keteraturan yang tersembunyi di balik kerumitan. Meskipun pola fractal sering terlihat kompleks dan tidak teratur pada pandangan pertama, mereka sebenarnya memiliki struktur yang sangat teratur yang dihasilkan oleh aturan matematis sederhana. Misalnya pola cabang-cabang pohon, gelombang di lautan, atau guratan kilat di langit, itu sebenarnya memiliki ketertiban dan pola matematis. Guratan petir di langit juga menunjukkan pola fractal. Dari sambaran utama, petir bercabang menjadi sambaran-sambaran lebih kecil, yang kemudian bercabang lagi. Pola ini mencerminkan bagaimana energi menyebar melalui medium udara.

Keindahan fractal bukan hanya di permukaan visual yang mengesankan, tapi juga pada kedalaman matematis yang menggambarkan cara alam bekerja. Fractal membuka pemahaman kita bahwa di balik kompleksitas yang kita lihat, ada pola-pola sederhana yang bisa mengatur fenomena-fenomena alami. Fractal adalah bukti nyata bahwa alam semesta bekerja dengan prinsip-prinsip matematis yang luar biasa, di mana sesuatu yang tampak acak dan kompleks bisa diatur oleh aturan sederhana yang mengulanginya secara terus-menerus. Mereka menggambarkan perpaduan sempurna antara keteraturan dan kekacauan, yang, pada akhirnya, adalah esensi dari keindahan.

Dengan memahami matematika, kita tidak hanya melihat dunia dengan lebih dalam, tapi juga menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terhubung oleh pola yang luar biasa indah. Matematika adalah bahasa yang menggambarkan harmoni tersembunyi, dari yang terlihat sederhana hingga yang tak kasat mata. Keajaiban Ï€, fractal, dan golden ratio menunjukkan bahwa meskipun alam semesta tampak acak dan tak terduga, ada keteraturan yang menunggu untuk ditemukan. Pada akhirnya, keindahan yang kita lihat hanyalah refleksi dari harmoni kosmik yang dapat kita pahami lebih dalam melalui matematika—membuat kita merasa lebih kecil namun terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar.

Share:

Jumat, 20 September 2024

Ketika kemiskinan menjadi komoditas paling fenomenal

Sadar nggak sadar, peduli nggak peduli, mental pengemis itu selalu hadir di sekitar kita, atau bahkan di diri kita? Tau itu semua karena apa? Karena kita terkontaminasi sama kenyamanan ketika diberi, dengan usaha yang hanya perlu apresiasi. Gila, bro pikir cara dunia bekerja semudah itu? Aku akan ngomongin hal yang paling sensitif dan krusial, yakni uang dan kemiskinan.

Berdasarkan data dari BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2024 berkisar sebanyak 25,22 juta orang. Tau apa artinya? 25 juta orang sekian ini, akan menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang punya power untuk mengeksploitasi kemiskinan mereka, untuk mendapatkan hati mereka, untuk mendapatkan simpati mereka, dengan cara memberikan bantuan secara cuma-cuma entah itu dengan memberikan bahan pokok, uang, atau kebutuhan hidup lainnya. Sekilas, memang terlihat baik, bukan? Tapi yang namanya hidup, akan selalu mempunyai timbal balik yang berdasar, dalam hal ini jelas sekali konteksnya adalah maksud yang terselubung. 

Indonesia adalah negara dengan penganut sistem demokrasi, sehingga tantangan para penguasa untuk mendapatkan kekuasaan adalah mendapatkan suara terbanyak dari rakyat. Idealnya, ketika elite politik ingin menduduki suara terbanyak untuk mendapatkan kekuasaan, mereka harus melakukan kampanye, menyuarakan visi dan misi mereka selama nanti ketika menjabat sebagai pemimpin negara. Namun, ironinya, yang justru terjadi adalah, mereka menggunakan cara kotor yang terkesan bersih dan kita semua tau bagaimana bentuknya, tapi kita terkesan acuh karena merasa lumrah untuk dilakukan.

Berdasarkan pernyataan direktur eksekutif perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Nur Agustyati, "penyalahgunaan bantuan sosial (bansos) dari sumber anggaran negara (APBN/APBD) termasuk kategori politik uang saat masa kampanye". Dilansir dari website perludem. Sebagaimana yang aku tau dan temukan, realitanya ada banyak orang yang menganggap hal itu wajar dan sah-sah saja, ini seolah-olah menjadi semacam dogma tak berdasar yang sialnya dengan mudah untuk dianut oleh setiap orang. Apalagi ketika masyarakat yang memang secara ekonomi itu terbilang rendah, mereka sukar untuk menolak, mengingat kondisi hidupnya yang pas-pasan atau kurang. Hal ini menjadi beban berat untuk menolak tawaran yang diberikan ketika ada bantuan sosial. Bahkan ketika kasus bansos di masa pandemi misalnya, memperlihatkan bagaimana bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru dijadikan alat politik. Bukannya memberdayakan, bantuan ini malah memperpanjang ketergantungan masyarakat pada elite politik.

Kendati demikian, sasaran empuk ini tak berhenti dari situ saja, ada banyak konten kreator yang memanfaatkan kemiskinan dari masyarakat Indonesia sebagai komoditas bagi pertumbuhan followersnya. Aku mau mencoba membedah ini secara perlahan, di titik ini memang ada banyak hal yang terkesan tumpang tindih. 

Memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan daripada kita itu sebenarnya baik, bahkan sangat baik. Tapi sejak awal luruskan dulu niatnya, luruskan dulu tujuannya. Memang faktanya, banyak kita temukan di media sosial bagaimana seorang konten kreator dapat mempublikasi aksinya dalam memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Di titik ini, ada banyak persepsi yang bisa jadi tumpang tindih. Pertama, bisa menjadi baik karena akan mengundang simpati orang lain untuk ikut membantu. Kedua, bisa menjadi bahan bersyukur ke orang lain yang ternyata hidupnya masih lebih beruntung. Ketiga, bisa membentuk mental pengemis kepada setiap orang yang merasa dirinya, itu juga perlu untuk diberi. Atau bisa jadi ada persepsi lain selain ini.

Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa menghakimi setiap orang akan berada di posisi yang mana. Tapi agak kurang etis untuk mempertimbangkan baik buruknya dari segi konten kreator yang membagikan aktivitasnya dalam memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang membutuhkan. Di satu sisi, ada banyak orang yang bisa terbantu dengan aksinya. Di sisi yang lain, juga ada banyak orang yang bisa jadi berharap lebih kepada si konten kreator agar dirinya juga bisa diberi. Karena dengan data 25 juta lebih rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, kelompok ini menjadi target empuk, bukan hanya bagi politisi yang ingin mengamankan suara melalui bansos, tetapi juga konten kreator yang mencari engagement dengan memberi 'hadiah' tanpa menyelesaikan akar masalah.

Di sini aku mau membahas lebih jauh tentang mental miskin yang secara tidak langsung itu seperti ditanamkan ke dalam otak kita melalui apa yang kita konsumsi di sosial media. Ini bisa merujuk ke apa aja, kebanyakan pada label giveaway. Secara umum, tujuan dan diadakannya giveaway itu bagus, bisa jadi untuk mengapresiasi diri. Namun, ironinya ketika giveaway ini lumrah terjadi, ada banyak orang yang justru meminta untuk diadakan giveaway lagi, lagi, dan lagi. Entah karena memang awalnya terjadi karena rutinitas sebagai bentuk perayaan ketika apa, gitu, bisa jadi. Nah, ketika orang mulai merengek meminta untuk diadakan giveaway lagi, lagi, dan lagi. Secara nggak langsung, kan, itu menumbuhkan mental pengemis. Kita tau enaknya diberi, dan kita tau bahwa si orang yang memberi ini akan mudah memberikannya, dan kita melumrahkan hal ini terjadi. Belum lagi ketika giveaway berlangsung, kita berkompetisi dari banyak orang sebelum akhirnya menjadi pemenang. Ketika menang, dikata memang sudah rezekinya. Ketika kalah, bilangnya memang belum rezeki. Kendati demikian memang benar begitu konteksnya, tapi bisa menggeser bagaimana maksud sesungguhnya. 

Rezeki itu datang ketika kita berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkannya. Kendati dalam konteks giveaway kita juga melakukan usaha untuk mendapatkannya, misal dengan melakukan semua syarat yang diberikan, dan itu juga jadi salah satu bentuk ikhtiar. Benar, dan itu sah-sah aja. Tapi kalau akhirnya sampai ngegampangin rezeki lewat giveaway, ironi sekali. Bahkan utamanya rezeki itu kan mempunyai nilai ibadah untuk meningkatkan takwa. Kalau giveaway memang demikian membuatmu bertaqwa, alangkahnya dzolimnya dirimu sendiri terhadap rezeki. Di titik ini, minimal belajar bertahan di atas kaki sendiri. 

Dengan demikian akhirnya membuat label giveaway, yang awalnya terlihat sebagai cara influencer untuk 'berbagi rezeki', ternyata juga punya dampak buruk. Ketika pola ini jadi rutinitas, banyak orang mulai meminta lebih, berharap lebih, tanpa memberikan usaha yang sebanding. Ini adalah benih mental pengemis yang berbahaya: sebuah siklus di mana kita lebih fokus untuk menerima daripada berusaha menciptakan sesuatu sendiri.

Aku bukan orang yang berkompeten untuk mengomentari masalah kemiskinan ini, dan aku juga bukan orang yang banyak berkontribusi. Tapi yang mau aku sampaikan adalah, kalau tingkat kemiskinan di negara kita masih begitu tinggi, ini harus jadi pertimbangan erat kepada pemerintah untuk mengentaskannya. Bisa jadi dengan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, kendati kita semua tau, bagaimana susahnya mendapatkan pekerjaan di negara ini. 

Membagikan bantuan sosial juga sebenarnya bukan solusi utama, karena akan menjadi percuma ketika bantuan sosial diberikan secara masif, kalau masyarakatnya masih belum bisa berpikir kritis, minimal rasional, untuk keluar dari jerat kemiskinan. Karena kemiskinan tidak bisa dientaskan dengan hanya memberi, melainkan dengan menciptakan kesempatan bagi mereka untuk bangkit sendiri. Kendati hal ini juga berkaitan erat dengan kepentingan para elite dalam mengeksploitasi hal ini. Mohon maaf, aku mau menyebut sesuatu yang terkesan kurang etis dan kurang ajar, yakni bagaimana masyarakat dibiarkan nyaman untuk diberi dan membiarkannya dalam lingkaran setan bernama kemiskinan, karena eksploitasi dari hal yang paling fundamental, yakni kebodohan 

Karena sebenarnya antara kebodohan dan kemiskinan itu bisa jadi dua hal yang saling berkaitan. Orang akan sulit mendapatkan akses ke pendidikan tinggi karena kurang mampu secara biaya, sehingga taraf pendidikan banyak orang bisa jadi hanya sampai kepada pendidikan wajib yang masih ditanggung oleh negara. Itu pun, beberapa dari mereka bahkan ada yang tidak bisa mendapatkan akses karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan operasionalnya, seperti membeli seragam, sepatu, alat tulis, dll. Bahkan ironisnya, pendidikan wajib yang ditanggung oleh negara pun, memiliki sistem yang kurang baik jika itu dijadikan kiblat utama bagaimana masyarakat menempuh pendidikan. 

Asumsi liarku selalu mengatakan ini; masyarakat kita tuh seolah-olah dibiarkan dalam lingkaran setannya masing-masing, dengan suatu kenyamanan atau kebodohan. Dibiarkan dalam artian, semua yang terjadi dalam kehidupan sosial kita tuh terkesan akan terjadi secara baik-baik saja tanpa ada kurang, misalnya. Hal ini akan membatasi kita untuk berpikir lebih jauh, bagaimana semua sistem ini bekerja.

Share:

Kamis, 05 September 2024

Gaya hidup yang ideal nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial

Mau seidealis apapun lu menghadapi hidup, dengan standar yang lu bangun sesimpel apapun demi menunjang kelangsungan hidup, atau apapun itu lah dengan seabrek alasan dan harapan lu bertahan hidup. Lu cuma akan jadi bidak catur yang ada di dalam papan permainan, selama lu nggak berusaha keluar untuk berganti posisi sebagai seorang pemain, bukan diposisi yang dimainkan. Nggak ngerti?

Gini, realita kehidupan sosial kita sekarang tuh dibentuknya dari apa sih? Mayoritasnya kan dari media sosial yak, dunia maya. Semua standar dan bayang-bayang harapan, itu dibangun di atas algoritma dari paparan yang ada di media sosial. Lu nggak mungkin berbicara tentang healing dalam konteks liburan, kalau selama ini lu nggak terpapar sama standar media sosial. Iya, kan? Dan toh kenyataannya memang demikian. Konotasi healing akan mengarah kepada liburan, di luar makna harfiah yang berarti penyembuhan. Kendati konteks healing sebagai liburan juga dapat menjadi sarana penyembuhan dari sisi-sisi tertentu.

Namun, coba kita tarik lebih jauh lagi strukturnya, bagaimana standar sosial dan gaya hidup ideal, dibangun dari dua hal yang mestinya tidak saling berkaitan, menjadi saling berkaitan. Sehingga menjadi pilar ideologi di kepala kita yang cukup kerdil untuk memangkunya. Karena kerangka berpikir kita diatur oleh arus yang lebih besar; bernama algoritma. Dan dari semua sistem saraf yang ada di otak kita, sulit untuk menolak segala hal yang rasanya kian lumrah untuk diseragamkan, sehingga kita terbuai dan menjadi tidak berdaya atas standar hidup yang kita bangun untuk diri kita sendiri.

Paparan algoritma, dan bias kerangka berpikir kita, menyeret paksa diri kita untuk membangun standar sosial yang setara, sehingga terbentuklah pola hidup baru, yang menjadi standarisasi paling normal, sesimpel healing tadi salah satunya. Dalam contoh lain, sesimpel nongkrong di cafe, terus di story in sebagai ritual atau penyembahan atau validasi, atau apa lah itu, terserah. Terus nonton film di bioskop sambil story in tiketnya, atau story in judul film nya pas sudah di dalam studio. Terus nonton konser musisi favoritnya, atau konser musisi legendaris yang bahkan lu baru tau lagunya pas lu beli tiketnya, tapi lu tetap bela-belain datang ke konser itu demi menunjang eksistensi diri lu, dan jangan lupa, hampir nggak pernah ada orang yang absen dari mengangkat kamera hp nya, dan mengabadikannya di insta story. Masih banyak lagi lah yang lainnya, sialan, taik banget nulisin ritual Gen Z ini cokkk. Padahal aku gen Z, tapi aku nggak se-berdaya itu buat menyembah segala hal dari apa yang ada di media sosial.

Intinya nih ya, dari segala hal itu, dari pola hidup baru itu, dan karena standarisasi yang dinormalisasi itu, emang lu bisa membangun gaya hidup yang ideal di tengah realita sosial yang ada? Sedangkan gaya hidup ideal, nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial. Gini deh, idealis yang lu bangun aja kek gimana sih? Bisa menunjang kehidupan diri sendiri demi kelangsungan hidup, kan? Kalau iya, emang lu bisa nggak terpapar sama pola hidup baru sesimpel nongkrong-nongkrong di cafe gitu? Belum dengan meluapnya cafe-cafe yang punya nuansa berbeda yang semua orang akan menormalisasi untuk selalu berpindah tempat nongkrong dari cafe ke cafe.

Ah, nggak usah deh, katakan lu nggak suka nongkrong, introvert gitu, kek yang lagi nulis tulisan ini. Introvert tapi bacotan di tulisannya songong, iya itu saya. Ah lanjut, jadi lu cuma kerja nih, buat mencukupi hidup lu, demi kelangsungan hidup lu, udah nih cukup. Lu nggak peduli dengan semua kebisingan yang dilakukan oleh sebangsa lu. Tapi apa lu yakin, lu bisa tetap selamat dari paparan algoritma? Selama lu masih mengakses dunia maya? Ada banyak dunia hiburan yang disediakan media sosial, salah satunya judi online. Tapi ada satu kata nih buat pemain-pemain judol ini, "TOLOL".

Katakan lu nggak tertarik sama hiburan begituan, oke bagus lah, nggak usah jadi orang tolol minimal. Jadi lu tetap dengan ideologi lu yang ada nih, lu cuma perlu ngelakuin hal-hal yang menunjang kelangsungan hidup lu dengan cara bekerja. Oke, bagus. Tapi apa lu yakin, lu bisa survive dengan kondisi sosial di tengah finansial yang sistem ekonominya nggak begitu stabil? Udah bagus nih ideologinya cuma kerja buat menunjang kelangsungan hidup, pertanyaannya sekali lagi, apa lu bisa survive di tengah gejolak finansial yang nggak begitu stabil? Kalau lu cuma kerja dan terima gaji terus lu tabung tanpa lu berpikir tentang stabilitas ekonomi, apa lu bisa tetap survive?

Sekarang lu cek nilai tukar fiat lu, apakah itu naik atau turun? Gini ya, untuk yang kesekian kalinya diulang, ideologi kita atas gaya hidup yang ideal, itu nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial. Dengan seminimalnya lu kerja tanpa perlu nongkrong, healing, nonton, dan segala hal lainnya, lu tetap akan dihajar sama hidup, karena toh hasil terima gaji lu, berada di dalam aturan yang semuanya sudah dikontrol dengan sangat apik. Semua upaya lu menyimpan hasil gaji lu dengan berhemat, ujung-ujungnya itu hasil keringat lu akan tetap digerus oleh sistem ekonomi bernama inflasi, deflasi, devaluasi, dari hasil kebijakan moneter.

Simpelnya gini, harga-harga barang pokok lambat laun akan terus naik, jadi otomatis kebutuhan daya beli lu juga jadi ikutan naik dong seiring waktu, nah tapi gaji lu nggak ikutan naik sesignifikan daya beli lu. Maka ujung-ujungnya? Lu juga tetap dihajar sama kehidupan sosial yang memang nggak sebanding lurus sama realita sosial. Dan ujung-ujungnya, lu hanya akan tetap menjadi bidak catur yang tengah dimainkan kehidupan, kendati sekeras apapun ideologi lu membentuk tentang gaya hidup ideal.

Bukannya bermaksud nyangkut pautin sama hal-hal sensitif berbau ekonomi apalagi finansial, tapi kan realitanya memang demikian adanya. Dan pada akhirnya, paradigma di dalam media sosial akan ngebuat hidup lu penuh dengan delusi; bahwa selama ini lu sudah cukup pintar melewati banyak hal, lu cukup bijak dalam mengambil pilihan, lu cukup kuat dalam menghadapi kehidupan, dan itu semua terjadi tanpa pernah lu sadari, bahwa di antara semua yang lu lakukan, ada di dalam bias yang sama sekali nggak pernah terjamah oleh pikiran lu.

Sekian, bacotan panjang lebar tak ada gunanya, terima gaji

Share:

Rabu, 03 Juli 2024

Lebih dari egoku

Pemutar musik di dashboard mobil terus mengalunkan lagu yang berjudul "Lebih Dari Egoku" milik Mawar De Jongh. Kedua mataku hanya menatap lurus ke arah jalanan yang ada di depan. Mobil yang tengah kukendarai berjalan normal di siang hari yang terasa begitu terik ini, jalanan cukup lengang, laju mobil bergerak dengan leluasa membelah jalanan di tengah kota. 

Lagu terus mengalun merdu melalui indera pendengaranku, membuat kepalaku terus memikirkan setiap bait-bait liriknya yang berjalan merdu.

Di kursi sebelah, ada seseorang yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri, tangannya terus bergerilya menggulir layar handphonenya, sesekali berpose dengan berbagai macam gaya dengan bentuk muka yang dibuat berbeda. Sementara lagu terus mengalun merdu, menuju reff yang akhirnya berhasil membuat aku bersenandung pelan.

Melalui senandung itu, pendengarannya mulai terusik, wajahnya mendelik ke arahku, kedua matanya ikut menyipit dengan tatapan penuh penasaran, sontak aku berhenti menyenandungkan lirik lagu tersebut, lantas kembali fokus menyetir mobil. 

Wajahnya mendelik penasaran, "Kenapa lo?" tanyanya.

"Hmm." Aku berdehem singkat, "Ya nyanyi aja tadi." pungkasku menimpali pertanyaannya. Lagu terus berlanjut.

Karena untukku kamu lebih penting dari egoku. 

Mulutku kembali bersenandung melanjutkan lirik lagu, kali ini sedikit lebih keras sehingga terdengar jelas di telinganya. Sampai di titik akhir aku bersenandung, dari sudut mata aku menangkap wajahnya yang hendak mengalihkan pandangannya dariku. 

Jelas sekali kedua pipinya bersemu, kendati hanya lirik lagu, ada kemungkinan lirik yang keluar dari mulutku terdengar seperti rayuan baginya. Meski sekilas, dia langsung kembali sibuk memainkan handphone-nya, dan aku kembali fokus menyetir mobil.  

"Nyanyi apa ngungkapin isi hati tuh?" sindirnya di balik mata dan tangan yang masih fokus memainkan handphone.

"Maunya apa?" tanyaku balik.

"Kebiasaan ya, orang nanya malah ditanya balik." ketusnya seraya melayangkan tangannya dan memukul pelan bahuku.

Obrolan berhenti sejenak, lagu terus berputar hingga akhirnya berhenti. Hening terjadi beberapa saat sebelum akhirnya lagu berikutnya diputar.

"Mau jawab, nggak?" tanyanya lagi dengan suara lirih.

Kini dia sudah tidak lagi sibuk memainkan handphone, kedua matanya nanar menatap jalanan di depan. Sesekali aku melirik ke arahnya, masih enggan menjawab pertanyaannya. Entah ego mana yang mengendarai isi kepalaku saat ini, sampai tanya seremeh itu saja masih enggan aku ungkapkan.

"Kalau gue ngungkapin isi hati, emang lo percaya?" ucapku lirih sambil mencuri pandang ke arahnya, mobil terus melaju membelah jalanan yang lengang.

"Gue?" tunjuknya ke diri sendiri. "Lebih dari ego, lo?" timpalnya dengan nada datar hingga membuat jeda sejenak. 

"Percaya aja sih, walaupun kadang ada ragunya." Dia melanjutkan.

"Ragu kenapa emangnya?" tanyaku mulai penasaran. Hati kecilku sedikit mencelos, obrolan seperti ini harusnya tidak terjadi ketika aku sedang menyetir mobil.

Belum sempat dia menjawab, secara kebetulan beberapa meter lagi ada Indomaret yang terdapat Coffe Point, tanpa berpikir panjang aku langsung memutar setir dan memarkirkan mobil.

"Mau pesan apa?" tawarku kepadanya seolah melupakan pertanyaan barusan.

"Kopi susu gula aren aja deh, sekalian beliin air mineral botol ya." ucapnya yang kemudian aku balas dengan anggukan kepala. 

Kakiku mulai beranjak keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu masuk Indomaret. Aku terlebih dahulu memesan kopi pesanannya dan kopi Americano untukku, baru kemudian aku melipir untuk membeli air mineral sesuai pesanannya.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai membeli air mineral, kopi pesananku juga sudah selesai dibuat. Aku melanjutkan langkah keluar Indomaret dan menuju ke pintu mobil di samping tepat duduknya, kedua tanganku yang penuh dengan pegangan kopi dan air mineral botol itu sampai mengetuk kaca jendela mobil. 

Begitu kaca mobil dibuka, aku menyerahkan salah satu kopi dan juga air mineral pesanannya, baru kemudian aku melipir untuk kembali masuk ke kursi kemudi. Siang hari masih terasa begitu terik, aku enggan bersantai di luar. Aku biarkan mobil terparkir dengan mesin yang masih menyala.

Beberapa kali menyesap kopi, aku mulai kembali ingin melanjutkan obrolan. "Tadi gue mau nanya, emangnya lo ragu kenapa?" 

Dirinya sempat tersedak kecil ketika masih menenggak kopinya. "Masih penasaran lo?" timpalnya.

"Ya, iya, heran aja." tukasku lagi.

"Heran? Berarti lo berharap gue percaya gitu?" tukasnya dengan nada membingungkan.

"Ya, enggak terlalu berharap juga sih, cuma penasaran aja sama tanggapan lo." Aku menimpali datar, berusaha menyembunyikan rasa penasaran.

Wajahnya kini tersenyum lebar, dan aku selalu dibuat tersipu oleh senyumannya. Kedua sudut di bibirnya selalu menjadi pemandangan paling indah di setiap kedipan mataku. Sontak kedua tanganku bergerak, menyelipkan rambutnya yang masih tergerai menutupi wajah cantiknya ke balik telinga.

Dia dengan begitu impulsifnya langsung mendekatkan tubuh ke arahku, kepalanya bersandar di bahuku, senyumnya masih terpampang jelas, indah sekali. Kedua tanganku dibuatnya tidak bisa diam untuk barang sejenak mencubit kedua pipinya yang membentuk guratan indah itu di senyumnya.

"Jawab ngapa, malah senyum-senyum ngehe begini," tukasku menutupi rasa salah tingkah sendiri.

"Jujur gue nggak bisa berkilah bagaimana, gue juga nggak jago menjawab pertanyaan begitu. Iya, percaya kok gue sama lo, percaya banget malah, secara dari semua sikap lo aja, itu udah cukup ngebuat gue percaya, tapi kadang emang ada ragunya."

"Ya, itu, ragu kenapa?" tanyaku berusaha untuk fokus pada inti pertanyaan.

"Dari semua hal yang ngebikin gue percaya sama lo, kenapa lo malah tertarik dan penasaran sama apa yang ngebuat gue ragu sama lo, kenapa? Emang dari banyak hal yang bisa ngebuat gue percaya sama lo, itu tuh nggak cukup buat lo? Sampai lo lebih tertarik kenapa gue punya keraguan itu?" gerutunya mendadak kesal.

Mulutnya terus berceloteh di dalam dekapanku. Aku menghela napas sejenak, berusaha tenang menyikapi pertanyaannya itu. Kadang memang secara realita, inilah kami yang dipertemukan oleh ragam tanya, menghadapi hubungan dengan penuh makna tanda tanya, dan menjalani semua rasa percaya dengan alasan-alasan yang selalu tercipta di balik setiap tanya.

"Gue cuma ragu, kenapa sih sampai saat ini, lo masih betah berlindung di balik semua rahasia, berharap semua orang yang lo kenal agar enggak sepenuhnya tahu apa yang terjadi di antara kita. Emang apa sih alasan terbesar lo sampai saat ini masih nyembunyiin hubungan kita dari publik? Lo punya ideologi lain atau emang lo lagi nunggu sesuatu dari masa lalu lo?" 

Rentetan pertanyaan itu mendadak pecah dari mulutnya, ia menarik diri dari dekapanku, lantas bersandar kembali pada sandaran di kursinya. Kepalanya mendongak sebentar diiringi helaan napas yang terasa berat. Ini yang kadang selalu membuatku ambigu dengan sikapnya, semua terjadi secara tiba-tiba jika kesempatan itu ada. 

"Gue sama sekali nggak nunggu sesuatu dari masa lalu gue, justru gue sudah berdamai sama semua itu. Kalau gue nggak berdamai sama masa lalu gue, yang jelas sekarang gue nggak mungkin ada di sini bareng sama lo." Jelasku.

"Ya, terus, apa dong alasan terbesar lo?" Sahutnya.

"Gue cuma mau ngejaga omongan gue sendiri setelah hubungan terakhir gue yang terasa bangsat itu, gue nggak mau kalau harus ngulangin drama-drama anjing yang bikin kepala gue pusing, hanya karena karena dinaungi status semu. Dan gue nggak mau bawa-bawa permasalahan dari status hubungan yang pada akhirnya kita bentuk begitu; seperti justifikasi yang diakui, misalnya. Gue nggak mau begitu. Kalau gue beneran suka, gue akan komit sama lo semampu gue, bukan mainin perasaan lo semau gue."

"Tapi dengan lo nggak ngasih kepastian sama hubungan kita aja, lo udah mainin perasaan gue, tau." Sanggahnya cepat.

"Oh, ya? Coba sebutin dari segi mananya gue mainin perasaan lo? Apa hal yang kurang dari gue atas semua hal yang udah lo dapetin dari gue sampai sekarang? Validasi kebahagiaan kayak standar video-video romansa di tiktok? Drama-drama cinta menggugah hati? Cerita romansa perjalanan kita yang harusnya bisa dipublikasikan di sosial media, gitu? Kalau maunya emang begitu, dari awal lo harusnya nggak perlu segigih itu buat ngeruntuhin keyakinan gue untuk tetap sendiri, karena dari awal gue udah nyaman sendiri. Tapi semenjak lo segigih itu berusaha, dan setiap kita sering menghabiskan waktu bersama, lo selalu bisa memaklumi gue atas ideologi yang berdiri di atas kepala gue sendiri, sampai pada akhirnya gue ngerasa welcome dengan semua sikap-sikap lo yang kayak begitu." Jelasku penuh penekanan.

Keadaan menjadi hening secara tiba-tiba. Suara berisik lalu-lalang yang terjadi di luar mobil seolah menjadi latar belakang yang mengisi keheningan di antara kami. Helaan napas di antara kami pun terasa bagai dentuman yang nyaring. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara.

"Kalau lo emang nggak nyaman sama ideologi gue, harusnya dari awal, La. Dari awal, harusnya kita enggak terlalu mengenal lebih dalam. Dari awal, harusnya kita enggak perlu berkomunikasi intens. Kalau sekarang udah terlanjur sayang begini, gimana gue menghadapi semuanya? Gue manusia keras kepala, La. Ideologi gue selalu tegak lurus di atas kepala gue, tapi gue juga udah terlanjur sayang sama lo. Kalau lo punya cara, kasih tau gimana gue harus menghadapinya. Gue nggak mau kalau harus menjadikan lo sebagai orang yang terus-terusan mengerti bagaimana ideologi gue, nggak mau gue."

Keadaan kembali hening, suara mesin mobil bahkan bisa terdengar jelas di telinga kami setelah perdebatan kecil itu. 

"Tapi gue juga sayang sama lo." Gumamnya pelan.

Lagi-lagi hati kecilku mencelos, degup jantungku seperti ada yang tengah menyentil, berdetak tidak keruan, tak seirama seperti biasanya. 

"Dan itu cukup, gue nggak minta lebih sama lo." Sambungnya lagi.

Ucapannya barusan, benar-benar di luar kendali logika untuk direspon secara tiba-tiba. Ada banyak hal yang sulit dipercaya bahkan hingga sampai di titik ini, di tengah hubungan yang selalu menjadi pertanyaan apakah dua di antara kami saling mencintai? Namun perasaan untuk menyayangi, itu selalu lebih besar daripada ingin memilikinya sebagai seseorang yang dicinta.

Kehadirannya, adalah yang utama setelah kemelut sesak menyela. Perasaan tak terungkapkan itu, menjadi nisbi di dalam amigdala. Dan kasih sayang itu, menjadi lebih besar dari egoku. Ego yang selalu menghimpun segenap apa maunya diri, tanpa harus disetir ekspektasi.

Salah satu tanganku merangkul bahunya, menarik dirinya untuk mendekap di balik tubuhku, sementara dia hanya menurut saja. Begitu kepalanya tersampir di depan dadaku, aku memeluknya erat sekali, menghidu harum aroma parfum khasnya yang menyatu di tubuh, juga wangi rambutnya selalu candu untuk dihidu. Dengan pelan, kepalaku bertumpu di puncak kepalanya, mengelus lembut rambutnya yang tergerai sedikit berantakan. Samar kudengar detak jantungnya berdegup, berpacu dengan detak jantungku. 

"Apaan deh, masa gara-gara lirik lagu doang, malah jadi gini. Maaf deh ya, gue nggak bermaksud bikin masalah sama lo. Love you." Ucapnya seraya kepalanya menyembul keluar menghadap ke arah wajahku.

Lagi, ucapannya tergelar usai diamku yang terus merajai diri. Wanita jenis apa dia sampai rela meminta maaf hanya karena perdebatan kecil oleh kemelut egoku yang tak jua memenuhi inginnya? Tuhan, kali ini aku kembali meminta, agar tak libatkan dia dengan seluruh egoku yang masih keras kepala. Karena dengan jujur, aku masih ingin menganggapnya lebih dari egoku, dan lebih dari sekedar orang yang menyayangiku. 

"Love you to, btw." Bisikku cepat seraya mengecup pelan bibirnya. Dengan gegas tanganku langsung menurunkan tuas rem tangan, kemudian kembali melajukan mobil.

Kebiasaan deh, kalau nyium tuh singkat-singkat terus." Decaknya sembari mencebikkan mulut. 

"Takut khilaf," timpalku cepat.

"Khilaf apaan, orang lo nyosor tiba-tiba, gue kokop juga tuh sekalian ubun-ubun," hardiknya dengan raut wajah menyebalkan. Sementara aku hanya bisa terkekah pelan mendengar kelakarnya.

Share:

Senin, 29 April 2024

Kebohongan Terbesar Bank Sentral dan hegemoni new world order

Pertama-tama aku mau disclaimer keras dulu; aku sama sekali enggak punya latar belakang dalam disiplin ilmu ekonomi. Aku cuma kebetulan belajar aja, dan apa yang aku tulis di sini sama sekali enggak mencerminkan suatu kebenaran. Bisa jadi ada banyak kesalahan di dalamnya. Namun, beberapa aspek dalam tulisan ini juga diambil dari sumber-sumber yang cukup kredibel, salah satu di antaranya termasuk kolom media Tempo. Tema tulisan ini layak untuk dikritisi lebih dalam, sehingga muncullah tulisan ini. Dan satu hal yang menjadi alasan kuat kenapa aku ingin membagikan tulisan ini. Aku mau membuka pikiran kepada mereka-mereka yang secara sadar telah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan ini, untuk menyadari akan realita yang kita hadapi saat ini dalam dunia ekonomi, yang mana itu tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. 


Untuk menjembatani konteks tulisan selanjutnya, ada baiknya simak dulu tulisan berikut ini

Jadi gini, awalnya aku pernah nulis kalau sistem fiat di seluruh dunia itu selalu melahirkan pemerintahan yang korup. Kenapa demikian? (Asumsi pribadi aja ini, kemungkinan salahnya bisa banyak) Karena banyaknya jumlah nominal uang yang dimiliki oleh negara atau istilahnya APBN, maka ketika pejabat-pejabat yang punya kekuasaan untuk mengelola dana tersebut dan melihat nominal uang sebanyak itu untuk digunakan sebagai perputaran ekonomi negara, bisa jadi dibuat kalap untuk melahap sebagian uang negara tersebut oleh oknum-oknum keparat. 


Throwback dikit ke tulisan "changing world order" tadi pas bagian sejarah tahun 1971 ketika Amerika melepaskan standar emas dari dollar. Buat ngerti maksudnya, dulu mata uang dollar itu dicetaknya gak bisa sembarangan, harus ada emas fisik yang menjamin nilainya agar bisa mencetak dollar. Jadi ketika ada pasokan emas baru yang disimpan oleh pemerintah Amerika, baru lah dollar dapat dicetak sesuai nilai emas saat itu. 


Nah permasalahannya, pada tahun 1971, Richard Nixon sebagai presiden Amerika saat itu menyatakan bahwa dollar telah melepas standard nya dari emas. Artinya, bank sentral dapat mencetak uang tanpa harus dijamin lagi oleh emas fisik sebagai pelindung nilainya. Nah terus pertanyaannya, kalau dollar dicetak tanpa standar emas, apa yang melindungi nilai mata uang dollar itu sendiri? Ngga ada, sama sekali nggak ada. Even rupiah yang sampai saat ini kita pakai buat transaksi sehari-hari pun, nggak ada pelindung nilainya. Sekarang itu, pelindung nilai mata uang cuma sebatas kepercayaan. Itu makanya "fiat" dalam kata latin diartikan sebagai "terjadilah" atau "biarlah terjadi". Artinya masyarakat cuma disuruh percaya aja, disuruh tunduk sama keputusan pemerintah, bahwa kertas yang dicetak sama pemerintah itu, memiliki nilai untuk dijadikan sebagai alat tukar.


Ngomong-ngomong soal bank sentral, the federal reserve system adalah bank sentralnya dunia saat ini, yang berada di Amerika Serikat. Tapi sifatnya federal reserve ini independen, dia terpisah dari pemerintah Amerika itu sendiri. Karena sifatnya independen, semua kebijakan yang dibuat tidak harus meminta izin dan persetujuan kepada presiden Amerika, makanya federal reserve ini menjadi satu kekuatan tunggal yang berdiri di atas kakinya sendiri. Karena kekuatannya melebihi politisi dan hukum manapun, tidak ada sistem di luar federal reserve yang bisa mengontrol dan mengaudit semua kebijakannya, bahkan sekaliber negara. Tujuan pembentukan dari federal reserve sendiri awalnya adalah untuk mengontrol pusat sistem moneter agar meringankan krisis keuangan Amerika pada saat itu. Namun setelah itu barulah kebohongan tentang uang dimulai, dengan kebebasan federal reserve mencetak uang dari angin tanpa memiliki basis standar yang melindungi nilai keuangannya, mereka dapat dengan mudah untuk terus mencetak uang, dan meminjamkan hasil dollar yang dicetaknya kepada pemerintahan Amerika untuk menstabilkan atau menguatkan perekonomian. Alhasil melalui sistem mereka, baik itu pasar ataupun saham yang ada di dunia, dapat dengan mudah dibuat naik atau jatuh dengan waktu yang mereka suka. Dengan keleluasaan sistem dan kebijakan yang dimiliki federal reserve, keuangan dunia dapat dibuat jungkir balik sesuka mereka.


Karena dollar menjadi global reserve currency, itu sebabnya semua negara yang mempunyai mata uangnya sendiri, memiliki standarisasi nilai tukar yang mengacu pada dollar Amerika sebagai pusat mata uang dunia. Sederhananya begini, ketika Amerika melepas standard emas dari dollar, maka negara-negara lain pun demikian, yakni hanya dengan mendirikan bank sentral di setiap negara, sebagai pemangku kebijakan moneter atas nilai mata uang yang beredar di negaranya, maka terbentuklah regulasi yang melindungi fiat itu sendiri sebagai mata uang yang memiliki nilai untuk dijadikan alat tukar di masing-masing negara.


Kemudian, kebohongan terbesar bank sentral saat ini datang dari inflasi yang terjadi setiap tahunnya, maksud dari inflasi sendiri adalah kenaikan harga barang dan jasa yang mencakup kebutuhan pokok masyakarat. Mengutip tulisan dari kolom media Tempo, "Hasil penelitian menunjukkan, jika bank sentral hanya memfokuskan perhatiannya pada inflasi, mereka dapat mengendalikan inflasi dengan lebih baik. Tapi mengendalikan inflasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar cara untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, stabil, dan dengan tingkat pengangguran yang rendah. Tak ada bukti kuat yang menyimpulkan bahwa bank sentral independen yang memfokuskan upayanya hanya pada stabilitas harga punya kinerja lebih baik dalam menggapai sasaran ini."

Tapi untuk tau penggerak inflasi, kita perlu tahu dulu konsep supply and demand, atau hukum permintaan dan penawaran. Ketika terjadi banyak permintaan terhadap suatu barang, tetapi penawaran atau penyediaan barang yang beredarnya berkurang, maka harga-harga dari barang yang dibutuhkan ini akan melambung tinggi.


Nah ini, berdasarkan hukum permintaan dan penawaran. Karena bank sentral yang berdiri di setiap negara ini bersifat independen, artinya tidak terikat pada hukum-hukum yang dibuat oleh pemerintah di suatu negara. Maka setiap kali bank sentral ingin mencetak uang atas dasar kepentingan-kepentingan tertentu, bank sentral pasti akan mencetak uang tersebut tanpa mengkhawatirkan standar atau basis dari mata uang yang akan dicetaknya. Jadi, seberapa mereka perlu uangnya, sebanyak itu lah mereka akan mencetaknya. Artinya ketika ada uang yang dicetak, maka akan semakin banyak uang yang beredar, kemudian dampaknya akan semakin menurunkan nilai currency itu sendiri. Tapi ini uniknya makro ekonomi, ketika uang dicetak, terus inflasi terjadi, kebijakan moneter berperan untuk mengendalikan suku bunga agar nilai mata uangnya masih terkendali. Itu kenapa ironisnya mata uang fiat, sudah lah basisnya cuma kepercayaan, yang punya kuasa bisa nyetak duit dari angin, standar nilai alat tukarnya diukur dari kebijakan suku bunga; ilusi besarnya adalah keyakinan yang sifatnya semu. Ini semua terjadi dalam sistem moneter yang dikendalikan oleh bank sentral. Makanya Henry Ford pernah bilang; "Untungnya masyarakat tidak mengerti tentang konsep perbankan dan sistem moneter, karena jika mereka mengerti saya percaya akan ada revolusi besok pagi."


Tapi ini poin pentingnya; karena fiat ini cuma berbasis keyakinan, dan bank sentral bisa nyetak duit dari angin. Artinya uang yang selama ini kita usahakan dari kerja keras kita untuk mendapatkannya, lama kelamaan akan semakin tidak berarti nilainya karena bank sentral yang terus-terusan mencetak uang. Makanya, mau kalian kerja sampai goblok pun, numpuk duit lewat fiat, nabung di bank, nilainya akan mampus digerus inflasi. Iya secara nominal terkumpul banyak, tapi secara pricing power atau daya beli, akan terus menurun, karena harga-harga barang dan kebutuhan pokok semakin tinggi, mengalahkan upaya kita yang mengumpulkan kekayaan cuma mengandalkan tabungan dalam bentuk fiat. Ini yang kemudian menciptakan distopia antara masyarakat yang kaya dan miskin, yakni kesenjangan sosial yang tinggi.


Buat orang-orang yang ngerti sama hegemoni seperti ini, mereka pasti punya aset (modal) yang minimal bisa mempertahankan kekayaannya atau justru melipatgandakan kekayaannya. Justru kesenjangan sosial antara orang yang kaya dan miskin ada di sini nih, karena bagi orang-orang kaya yang punya aset, mereka bisa melakukan sesuatu agar asetnya (modal) tetap bertahan di tengah inflasi yang terus-terusan terjadi. Sementara orang miskin ini, katakanlah dia juga punya aset (modal), tetapi tidak begitu mencukupi untuk melakukan sesuatu agar bisa mengembangkan asetnya dalam melawan inflasi. Di situlah titik jurang yang memisahkan antara yang kaya akan semakin kaya karena pertumbuhan asetnya, dan yang miskin akan semakin miskin karena aset yang dimilikinya tidak kunjung berkembang, bahkan semakin digerus oleh inflasi.


Makanya dalam tatanan dunia saat ini, di tengah global reserve currency yang cuma di back up sama keyakinan kita pada pemerintah terhadap kebijakan bank sentral, semua sistem finansial kita diatur oleh mereka. Perdagangan pasar modal? Pasar valuta asing? Pasar cryptocurrency? Sedikit banyaknya pasti dipengaruhi oleh federal reserve lewat kebijakan moneter yang mengontrol keuangan dunia. Namun yang perlu kita ketahui sekarang adalah, sejak pandemi covid-19 federal reserve mencetak lebih banyak dollar. Bahkan di tahun 2021, 40% dollar yang beredar dicetak hanya dalam satu tahun. Tujuannya sih emang baik buat stimulus bagi negara yang saat itu lagi lockdown karena pandemi, tapi apa nggak mampus itu ke depannya dihajar sama inflasi? Ketika hal itu nanti terjadi, ketika dollar mulai collapse karena terlalu banyak mencetak uang, tatanan dunia baru akan dibentuk lagi. Karena berdasarkan sejarah, rata-rata global reserve currency hanya berlangsung 1 abad. Apa jadinya jika saat ini kita sedang berada dalam masa transisi? Dan apa jadinya aset kita yang cuma nganggur, diam, dan tidak menghasilkan apa-apa untuk kelangsungan hidup kita? Penting bagi kita untuk melawan inflasi atas kemudahan bank sentral dalam mencetak uang ini. Metodenya ada banyak yang bisa digunakan, bisa investasi di properti, real estate, emas, cryptocurrency, dll. Nah, dari banyaknya instrumen tersebut, cari yang paling ideal dan paling kita ngerti banget sama instrumennya, baru jalanin aset kita di sana. Karena orang-orang kaya itu yang kerja asetnya, bukan orangnya.

Share:

Selasa, 02 April 2024

Bias kasus korupsi terhadap stigma masyarakat

Indonesia udah jadi hal yang lumrah lah, ya, kalau membicarakan terkait kasus korupsi, tapi kalau bicara soal data dari seluruh negara, Indonesia memang bukan negara yang paling buruk dari segi korupsi, kendati pun menurut skor CPI, Indonesia berada di angka 34 dalam skala penilaian 0-100. Angka ini menunjukkan korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya berada pada angka 43. Dengan skor tersebut, Indonesia menempati peringkat 65 terburuk soal korupsi dari total 180 negara yang dinilai. (detik.com)

Tapi kesampingkan dulu perihal data. Ketika media-media membombardir headline nya dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum bajingan, maka sontak atensi masyakarat melambung tinggi dengan luapan penuh emosi, akan hal-hal delusi yang dilampiaskan sesuka hati. Wajar, kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum tolol dan bajingan itu pasti selalu mengundang kemarahan masyarakat, sekaligus merugikan banyak pihak. Akhir-akhir ini masih hangat berita korupsi terkait tambang timah yang merugikan negara hingga mencapai total 271T. Ini angka yang cukup fantastis untuk total kerugian yang disebabkan oleh oknum bangsat tersebut. Namun, terkait penindakan dan hukuman sudah mestinya kita serahkan saja kepada pihak yang lebih berwenang, kendati pun pihak berwenang tidak selalu memberikan kesimpulan paling setimpal atas kasus yang dibuatnya, lagi-lagi kepentingan oligarki akan selalu merugikan masyarakat kelas bawah yang tidak punya kekuatan apa-apa, selain suaranya yang dipungut dengan bayaran berupa angka. Demikian lah penindasan terus-terusan terjadi akibat pemangku kepentingan yang melindungi kepentingan oligarki.

Nah, dari kasus korupsi yang dilakukan oleh koruptor keparat itu, dan dari sekian banyak kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, masyakarat semakin membentuk paradigma baru di kepalanya terhadap para penguasa yang dilimpahi kekayaan, imbasnya tidak luput ke seseorang yang secara personal juga dilimpahi kekayaan. Akan selalu ada asumsi kotor yang beranggapan bahwa kekayaan yang dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, sedikit banyaknya adalah hasil korupsi atau minimal dari cara yang tidak halal. Nista sekali toh, literasi finansial masyakarat kita kalau sampai menganggap demikian? Kendati faktanya sesuai dugaan. 

Tapi bukan itu yang mestinya disorot dari orang-orang yang dilimpahkan rezeki lebih berupa kekayaan, kalau asumsi-asumsi yang datang dari masyarakat kita selalu membentuk pola pikir begitu, ya selamanya tingkat kelas sosial kita nggak akan bisa maju. 

Mestinya kalau kita kilas balik lebih jauh lagi, bagian paling naif dari korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum tolol itu, justru karena peran dari masyarakat itu sendiri. Karena apa? Literasi politik kita sangat cetek buat menentukan calon-calon pemimpin rakyat, selain presiden. 

Lagian, budaya korupsi itu sudah tumbuh subur sejak zaman dulu, sejak kita mengenal dari buku sejarah di sekolah bahwa ada yang namanya sistem kerja paksa dan para pekerjanya tidak digajih. Bullshit, faktanya bahwa pekerja kita memang dibayar, tetapi melalui seorang pejabat daerah, hanya saja pejabat daerah tersebut tidak menyalurkannya. Walaupun ada juga, ya bayarannya nggak sebanding. Nista sekali, bukan? Apalagi kalau sampai menganggap dulu waktu di zaman penjajahan belanda yang kasus datangnya VOC ke Indonesia dianggap sebagai penjajah, bukan. VOC adalah sebuah perusahaan, dia berbisnis di Indonesia. Tapi faktanya saat itu Indonesia dijajah, kan? Iya, perusahaan dari Belanda, berbisnis di Indonesia, dan memonopoli serta mengeksploitasi perdagangan di Indonesia, yang akhirnya meraup keuntungan secara ekonomi dengan memanfaatkan SDM kita. Gitu ya blok.

Nah, buat orang-orang tolol yang nggak ngerti sejarah dan malah melanggengkan budaya korupsi, emang awareness kalian segimana sih? Nerima suap dari politisi, nerima bantuan sosial pas lagi kampanye politik, manipulasi informasi ke orang tua atas kepentingan tertentu biar dapat duit lebih, dan lain sebagainya. Awarenes kalian sama budaya korupsi tuh gimana sih? Giliran level pejabat yang korupsi, teriakannya kencang, giliran level masyarakat atau dirinya sendiri, anyep. Emang tolol. Langgengin aja tuh budaya korupsi.

Skenarionya begini; Perusahaan tambang atau perusahaan dengan sektor komoditas lainnya, untuk bisa beroperasi secara legal, pastinya harus memiliki regulasi yang dibuat dan diatur oleh negara, mengerucut terus tuh izinnya hingga ke daerah di mana operasi tersebut dijalankan, nah yang bisa mengatur dan membuat regulasi itu adalah penguasa yang disebut sebagai wakil-wakil rakyat yang dipilih lewat pemilu; dalam hal ini kesampingkan dulu soal presiden. Kalau penguasanya bisa meloloskan izin pertambangan tanpa banyak pertimbangan hanya karena melihat potensi kekayaan yang bisa diraup demi kepentingan oligarki, ya jelas izin yang diberikan tidak akan menguntungkan bagi semua pihak dalam konteks ini adalah masyarakat. Ini bicara soal legal loh, apalagi kalau legal tapi di monopoli lewat kecurangan-kecurangan yang merugikan lebih banyak pihak. Izin tersebut diloloskan lewat penguasa yang mewakili kepentingan rakyat loh, mereka dipilih dari rakyat loh jadi bisa memimpin.  Nah, pertanyaannya, ketika masyarakat berperan aktif dalam pemilu, memang seberapa besar dan yakinnya kita untuk memilih setiap orang dari partai politik tertentu yang mewakili kepentingan kita sebagai rakyat? 

Kalau soal politik aja masyarakat kita dibutakan oleh suap-menyuap dengan imbal uang ratusan ribu, kemudian dalihnya harus memilih paslon-paslon tertentu. Ya artinya masyarakat kita memang setolol itu sama kepentingan negara, maunya kepentingan pribadi aja. Dampak dari ketololan itu yang akhirnya membuat negara jadi banyak dirugikan, karena dipimpin oleh orang-orang yang secara integritas memang bobrok, dan berawal dari hak individu yang pemilihnya juga bobrok. Dengan tidak mempertimbangkan kualitas paslon yang dipilih, ketika mereka menjabat sebagai wakil rakyat, maka apabila terjadi kasus-kasus besar yang merugikan rakyat, otomatis yang jadi peran utamanya kan, ya rakyat. Indonesia sudah bagus jadi negara demokrasi, syukur-syukur negara kita sudah diberikan hak memilih dalam menentukan pemimpin, justru harusnya itu digunakan sebaik mungkin, seselektif mungkin, agar suara kita ke depannya sebagai rakyat masih bisa didengar, lewat paslon yang kita kritisi.

Kalau sekarang aja masyakarat berdalih kepada pemangku kepentingan yang tidak mendengarkan suara rakyatnya. Lah, orang dia aja memimpin karena dipilih kok. Terus yang bela-belain golput karena sudah tahu endingnya akan begitu, ya itu lebih bobrok lagi, hak istimewa suara pilihannya tidak digunakan sebaik mungkin. Literasi politik kita yang justru harusnya ditingkatkan, agar orang-orang yang secara integritas tidak punya kredibilitas tertentu, dapat kita pertimbangkan sebelum hari pemilihan berlangsung. 

Share:

Minggu, 28 Januari 2024

Harga sebuah kejujuran

    Berulang kali teleponku terus memutar nada dering, berulang kali juga aku mengacuhkannya. Namun semakin lama dibiarkan, aku mulai merasa terganggu. Entah sudah panggilan yang ke berapa itu sampai-sampai aku muak mendengarkan dering yang terus menggema memenuhi seisi kamarku. Dengan keadaan setengah sadar dan ngantuk yang masih memuncak, aku meraih handphone dan berusaha memaksa untuk membuka mata dan melihat layar handphone untuk mengetahui siapa yang tengah memanggil. Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku, dengan gegas aku langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.

    "Apaan?" ucapku begitu panggilan mulai tersambung ke seberang sana.

    "Lama banget sih ngangkat teleponnya, lo masih tidur apa jam segini?" omelnya kemudian.  

    "Hmmmm," sahutku dengan malas-malasan.

    "Dih, nggak sehat banget hidupnya, siang-siang begini masa masih tidur,"

    "Ini kalau lo masih mau lanjut ngomel, gue lanjut tidur ya, gue biarin aja nih panggilan telepon nyambung terus, ntar kalau udah matiin sendiri aja." Sergahku langsung memotong ucapannya, aku pun menyalakan loud speaker dan kembali meletakkan HP di samping tubuhku.

    "Ih jangan gitu dong, samperin gue kenapa, nggak kangen lo? Gue lagi di Banjarmasin ini."

    "Apa-apaan lo tiba-tiba di sini, ngapain heh?" kataku dengan sedikit terkejut dan kembali meraih handphone. 

    "Bosen gue di rumah, tadi sempat ngumpul bentar sama temen-temen gue. Terus mereka udah pada balik, nah gue masih belum pengen pulang, makanya gue telepon lo."

    "Terus?" timpalku kemudian.

    "Ya inisiatif nyamperin kek, gitu," ketusnya dengan nada agak kecewa.

    "Atau lo nggak pengen ketemu gue, ya?" lanjutnya dengan suara yang sedikit terisak.

    Mendadak aku langsung mendudukkan tubuh seraya mengalihkan panggilan telepon ke panggilan video, tak butuh waktu lama, wajahnya sudah terpampang memenuhi layar handphoneku. Dan benar saja dugaanku, raut wajahnya sedang menunjukkan kesedihan. Posisinya sedang berada 

    "Apaan jelek banget mukanya kalau sedih gitu, mirip kambing nyengir, hahaha," kelakarku diiringi oleh suara gelak tawa dari mulut. 

    Dia tidak terima dan langsung mengumpat kepadaku, semua hinaan mendadak tersemat di balik namaku. 

    "Itu lo lagi di mana kayak gelap gitu?" 

    "Gue lagi di parkiran mall, bimbang mau balik atau nanti aja," sahutnya masih menunjukkan wajah sedihnya. 

    "Balik aja, nggak sih?" timpalku iseng menanggapi.

    "Yaudah kalau lo mau gitu," ketusnya langsung menyambar ucapanku, membuatku terkekeh pelan.

    "Udah ah jangan sedih gitu, gue mau mandi dulu, ntar gue samperin. Sabar, ya." Tuturku tanpa meminta persetujuan darinya dan langsung melompat menuju ke kamar mandi.

    Selang setengah jam kemudian aku sudah mengendarai motorku dan tiba di parkiran mall. Dengan gegas aku melangkahkan kaki menuju ke parkiran mobil untuk menemuinya. Begitu langkahku sudah dekat dengan keberadaan dirinya, muncul seonggok manusia yang baru saja keluar dari mobil dan dengan tergesa melangkahkan kakinya ke arahku.

    Mendadak wajahnya terlihat ceria dan penuh semangat serta memamerkan senyum semringahnya. Begitu tiba di samping tubuhku, ia dengan sifat impulsifnya langsung bergelayut manja. Langkah kaki kami bergerak pelan menuju pintu masuk mall tanpa tujuan apa-apa.

    "Perasaan tadi pas vc lo masih pake hoodie, kenapa sekarang cuma kaosan begini?" Aku mendelik melihat ke arah tubuhnya di sampingku.

    "Emang, hoodie nya gue lepas, itu gue taroh di mobil, gerah soalnya."

    Aku mendadak menghentikan langkah dan langsung mengamati seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, ia mengenakan kaos Acme lengan pendek dengan motif beruang besar di depannya, serta celana jeans panjang abu-abu yang tidak sampai menyentuh mata kakinya. Rambut hitam legamnya yang panjang itu menjuntai di balik jepitan rambut yang menyatukan helaiannya.

    "Kenapa lo?" tanyanya ketika aku mendadak menghentikan langkah.

    "Ini gue masih tidur apa udah bangun, ya?" imbuhku.

    "Kenapa sih?" timpalnya ikut merasa kebingungan dengan ucapanku.

    "Gue kayak lagi lihat siluman katak lagi geloyotan sama gue," celaku yang kemudian langsung membuat dia menghajar tubuhku dengan pukulan di tangannya.

    Padahal aku cuma sengaja mengalihkan rasa terperangahku yang melihat penampilannya dengan begitu menawan, berbanding terbalik dengan diriku yang asal comot begini. Sedih sekali. 

    "Ini kita mau ngapain, dah?" tanyaku begitu kami kembali melanjutkan langkah.

    "Gak tau juga, nonton kali, ya?" usulnya.

    "Yeh, yang ada malah lanjut tidur gue kalau nonton mah," timpalku menjawab usulannya.

    "Lo udah makan belum?"

    Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan menggelengkan kepala.

    "Nah, pas banget kalau gitu. Kita makan aja dulu, habis itu temenin gue belanja, ada yang mau gue beli nanti." 

    Dengan gegas kami mulai melanjutkan langkah menuju restoran yang diinginkannya, sedangkan aku hanya mengikuti saja kemauannya.

***

    "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," lirihnya beberapa saat setelah kami menuntaskan makan.

    Aku hanya membalas ucapannya dengan menautkan alis dan menatap serius ke arah wajahnya yang seperti sedang diliputi raut gelisah. Tidak seperti biasanya dia bertingkah seperti itu. Matanya berulang kali mengedip, seperti sedang mengumpulkan kepercayaan untuk membicarakannya kepadaku. Sementara aku sendiri memang cukup penasaran dengan apa yang ingin dia sampaikan.

    "Janji dengerin penjelasan aku dulu, ya?" lirihnya lagi berusaha tegar dari keraguannya. Lekas aku menganggukkan kepala dan meraih pergelangan tangannya, dia mendadak terkejut ketika aku menggenggam tangannya.

    "Jujur, tadi aku habis ketemu sama mantan aku. Awalnya aku ke sini emang sama teman-teman cewek aku, tapi aku enggak sengaja ketemu sama dia di sini, dan dia ngajakin aku jalan. Awalnya aku nolak, tapi kata dia cuma minta temenin bentar. Jadi aku pamit duluan sama temen-temenku, terus nemenin dia jalan. Dia emang enggak tahu kalau sekarang aku tuh ada hubungan sama kamu, makanya mau nolak karena alasan itu juga aku sungkan, mending aku iyain aja. Niatnya kalau udah kelamaan dan aku enggak nyaman, mau aku tinggalin duluan, tapi dia beneran megang omongannya yang cuma sebentar itu. Tapi," ucapannya terjeda begitu saja. Aku yang sejak tadi terus menyimak penjelasannya, mendadak muncul dugaan-dugaan tidak jelas di dalam kepala, ada amarah tertahan yang berusaha aku sembunyikan, meski jelas itu akan memompa rasa sesak di dalam dada.

    "Tapi apa?" timpalku yang masih merasa penasaran.

    "Dia bilang masih nyaman sama aku, dia minta aku meluk dia sebelum kita pamit pulang."

    "Terus, lo iyain?" potongku berusaha tetap menerima kenyataannya.

    Dia hanya menggelengkan kepalanya. "Tapi sepanjang kita jalan, kita pegangan tangan kaya dulu."

    "Cuma itu?" tanyaku kembali memotong ucapannya, kepalanya mengangguk pelan sebagai jawaban, rasa gelisahnya masih terpampang jelas di raut wajahnya.

    Aku mendengus kasar, berulang kali aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarah yang masih tertahan, berusaha agar dia tidak menyadari emosiku, aku tidak ingin membiarkannya menyesal karena sudah memilih bercerita jujur kepadaku.

    "Maafin aku, ya." lirihnya memohon dengan perasaan bersalah.

    Aku masih bergeming setelah mendengar ucapannya, emosiku masih meluap-luap mendengar pengakuannya yang menusuk hati sedemikian kuatnya. Meski aku sadar, aku bisa apa atas kehidupannya? Lambat laun aku berusaha mengontrol emosi, meredakan amarah. Melihat dia yang masih gelisah, aku memindahkan posisi duduk ke sampingnya, aku raih tubuhnya untuk menyandar di pundakku. 

    "Sebenarnya gue nggak bisa terima, tapi gue bisa apa atas hidup lo? Itu semua hak lo buat ngelakuin itu, selama itu nggak berlebihan dan matahin kepercayaan yang udah gue berikan, rasa-rasanya gue masih bisa maklumin. Gue nggak mungkin se abusive itu buat bisa ngatur segala tindak-tanduk di hidup lo, dan padahal hidup kita itu berbanding jauh, tau. Gue juga masih heran kenapa bisa-bisanya lo ngeruntuhin pertahanan gue, setelah kekecewaan terbesar gue dulu?" 

    "Ih, kamu kok ngomongnya gitu," racaunya menimpali ucapanku.

    "Enggak, maksud gue, lo padahal berhak kok milih hidup lo sama siapa, mau lo pengen memperbaiki hubungan sama mantan lo juga, itu pilihan lo, kalau lo emang mau, jalanin itu."

    “Maksud kamu, aku belum selesai sama masa lalu aku gitu? Jangan samain masa lalu aku yang jelas beda sama masa lalu kamu, dong. Aku tuh jelas-jelas udahan karena emang akunya yang udah enggak nyaman, beda sama kamu yang udahan karena masih ninggalin rasa nyaman apalagi masih menempatkan harapan. Beda, ya.” Sentaknya menjelaskan panjang lebar, emosinya seakan tersulut karena ucapanku barusan. 

    “Maaf, gue nggak ada maksud buat nyinggung masa lalu lo. Maaf, gue kebablasan cemburu pas ngebayangin cerita lo tadi. Maaf banget, gue salah. Lo udah berani jujur aja, gue bangga, tapi maaf banget udah bikin lo salah paham sama sikap bodoh gue.” 

    Satu-satunya yang aku sadari dari konflik dalam sebuah hubungan adalah, emosi yang saling membumbung di antara keduanya akan selalu berebut mencari pengakuan untuk dibenarkan. Dan aku lekas mengalah untuk mengakui bahwa aku memang salah, karena yang aku kejar dari ego merasa benar adalah melihat bahwa sesungguhnya aku merdeka untuk tidak memenangkannya. 

     Kedua mataku kini melirik ke arah wajahnya yang sudah dipenuhi kekesalan, bisa jadi masih banyak ego-ego lain yang masih membara di dirinya sejak aku memantik emosinya tadi, dan aku berusaha menerima realitanya, menerima semua sikapnya untuk beberapa saat ke depan yang masih dipenuhi kekesalan.

    Lambat laun, dalam gemingnya yang tak jua merespon apa-apa setelah ucapan terakhirku tadi, akhirnya raut wajahnya berubah datar, menatap kosong di depannya dalam beberapa saat.

    "Yang perlu kamu tahu, aku tuh cuma menuhin permintaan dia, aku sebenarnya juga enggak nyaman. Makanya setelah itu aku nelpon kamu, aku mau langsung cerita jujur, aku nggak mau nutupin ini,” ungkapnya kembali membuka suara.

    Aku menelan ludah, melihat betapa kuatnya dia menceritakan kejujuran itu kepadaku yang entah telah menganggapou menganggap aku sebagai apa di hatinya, tapi aku benar-benar bangga dengan semua pilihan yang dia lakukan. Aku seperti melihat diriku yang selama ini terbiasa berkompromi dengan isi kepala sendiri, dalam bentuk wujud seorang manusia yang mempunyai isi kepala berbeda.

    "Udah, ya, over thinking nya?" lirihnya di samping tubuhku.

    "Dih, siapa yang over thinking, nggak ada over thinking di kamus hidup gue," selaku cepat.

    "Ketahuan kok itu, kamu lagi ngerespon emosi dalam dirimu dengan baik, kan? Sampai aku nggak pernah punya rasa takut buat jujur soal apapun ke kamu. Walaupun ada ragunya, gelisahnya, tapi kamu menghadapi semua itu dengan baik, aku cuma berharap semoga itu nggak destruktif ke kamu," ungkapnya yang kini meraih pergelangan tanganku dan membenamkan sela-sela jemariku dengan genggaman tangannya, dan itu menenangkan sekali. Aku mendadak diam, kepalaku kembali mengurai apa yang baru saja aku hadapi, ucapan-ucapan seperti apa yang sudah aku lontarkan.

    "Maaf ya, kalau udah bikin perasaanmu nggak nyaman," ucapnya lagi saat aku masih bergeming dengan pikiranku sendiri.

    "Lo belajar dari mana sih, tiba-tiba ngerti beginian?" Tanyaku heran.

    "Ngerti beginian tuh maksudnya apa?" timpalnya malah kebingungan.

    "Itu, lo bisa-bisanya ngerti sama perasaan gue," imbuhku cepat.

    Dia mendadak tertawa, wajahnya menyeringai lebar, kedua sudut bibirnya melengkung indah seakan menghapus seluruh gundah di benak kepalaku. "Tau nih, ketularan lo kaya nya."

    Sontak aku mengacak-acak puncak kepalanya dengan gemas, menyentil keningnya yang berkerut karena tersenyum semringah. "Makasih, ya," imbuhku. 

    Tak lama setelahnya, dia lanjut mengajakku untuk menemaninya berbelanja. Sepanjang siang menuju sore kala itu, aku menemani hari-harinya yang tidak seperti biasa. Intensitas pertemuan kami terbilang jarang, aku selalu mengindahkan pertemuan atas hal-hal krusial yang mengacuhkan atensi dengan beragam drama. Tak ayal dia selalu bisa berkompromi dengan ideologi yang sama-sama kami sepakati. Berulang kali rasa syukur terus terpanjat begitu menerima kehidupannya yang membawaku pada makna-makna yang terajut di ujung kepala. 

Share: