Kredibilitas seorang manusia dalam mengejar kesuksesan adalah saat kita sudah mampu untuk mencukupi apa yang ada dalam hidup kita. Nggak harus jadi terkenal dan bergelar, minimal punya kebanggaan yang membuat kita layak dikenal.
Berhenti untuk membentuk mindset kita agar bisa sesuai dengan tokoh-tokoh sukses dunia. Berhenti untuk menuntut diri kita agar bisa mencapai sesuatu yang berada di luar batas kemampuan kita, kecuali jika memang kita berada di lingkaran yang cukup membuat kita ada di dalam sana, you get what I mean lah ya.
Seorang tokoh terkenal dunia yang bernama Elon Musk (technology enterpreneur) pernah menulis di Twitternya bahwa "Orang-orang yang cuma bekerja 40 jam dalam seminggu, nggak akan pernah bisa mengubah dunia. Kalau kita mencintai apa yang kita kerjakan, hal tersebut nggak akan terasa seperti sebuah pekerjaan." Dalam kasus yang sama saya juga pernah menulis di Twitter pada beberapa waktu yang lalu "Punya kesibukan sesuai hobi itu emang asyik banget, ngerjain berjam-jam juga jadi nggak masalah, ya karena hal yang kita senangi itu jadi bagian dari sebuah pekerjaan." Konteks ini mungkin memicu pada sebuah keproduktifan dan semangat kerja.
Namun, bukan berarti dengan kita mencintai sebuah hobi yang bisa dijadikan sebagai pekerjaan dan produktivitas, lantas mengeksploitasi diri kita dalam pekerjaan tersebut. It's not like that, hei! Membahas soal time working people, rasanya masing-masing orang sudah cukup mengerti harus seperti apa memaknainya. Jangan jadikan acuan bahwa apa yang selama ini kita kerjakan harus memiliki tujuan seperti kebanyakan orang-orang sukses di luar sana. Motivasi mereka mungkin berguna untuk menumbuhkan semangat kerja, tapi jangan jadikan itu sebagai eksploitasi metabolisme dalam tubuh kita menjadi kinerja yang memaksa.
Maksudnya, jangan terlalu memaksakan diri kita dalam suatu pekerjaan secara berlebihan hanya karena kita terpicu oleh motivasi ingin sukses, sehingga yang kita lakukan adalah dengan giat bekerja melebihi kapasitas tubuh kita. Bekerjalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada di dalam pekerjaan kita dan jangan rakus untuk melahap banyak pekerjaan dalam hidup kita jika itu akhirnya membuat energi dari tubuh kita terkuras. Sukses itu tidak dibentuk dari kekayaan yang diraih, tapi dari segenap rasa cukup yang tanpa pamrih.
Mengenai produktivitas, saya sebagai seorang penulis (abal-abal) juga memerlukan waktu yang tepat untuk membuat otak saya bekerja dan menghasilkan tulisan yang memuaskan, tentunya yang sesuai dengan imajinasi saya. Tapi sayangnya, hal itu tidak berguna pada jam-jam yang terjadwal, dan lebih condong pada jam-jam yang kebanyakan saat orang-orang sudah tidur. Saya mengakui jam tidur saya hampir mirip seperti Bj Habibie, yaitu tidur ketika sudah pukul sebelas malam, dan akan (harus) bangun minimal jam tiga pagi. Dan yang saya lakukan pada jam tersebut adalah menulis naskah tulisan saya. Namun hal itu tidak saya lakukan setiap hari, karena saya masih punya kegiatan lain yang tidak harus selalu terkurung di satu pekerjaan.
Seorang penulis juga tidak akan bisa terus-terusan menulis secara berjam-jam, karena seperti dikutip oleh banyak media bahwa setiap penulis itu pasti mengalami yang namanya writer block, suatu keadaan di mana otak kita saat itu benar-benar nge-stuck dan tidak bisa berpikir apa-apa. Maka jalan keluarnya ialah dengan berhenti menulis sejenak, dan istirahatkan pikiran. Saya sendiri sering kali menulis hanya kisaran dalam waktu rentang dua jam, setelahnya akan berhenti. Demi menjaga imajinasi untuk tulisan saya bisa tetap terjaga dengan baik.
Dampak produktivitas kepada kaum milenial yang memiliki semangat tinggi dalam mengejar kesuksesan, terutama dalam sistem modern kapitalisme atau neoliberalisme rasa-rasanya sudah seperti menjadi sebuah kompetisi antar manusia dalam memiliki tuntutan hidup dan menggapainya. Dalam ruang lingkup internalisasi dunia pendidikan sekarang, kebanyakan dari kita selalu dituntut untuk selalu belajar agar mendapatkan nilai yang bagus, agar kita bisa masuk ke sebuah instansi atau universitas yang diinginkan, dan menghindari pengangguran.
Nyatanya? Buktinya? Dan ilmu yang sudah sejauh itu dipelajarinya?
Saya juga pernah bikin statement di Twitter, "Ironis juga kadang kalau ada orang yang nganggap belajar itu sebagai kompetisi. Seolah-olah pencapaian tertinggi adalah siapa yang paling pintar dalam belajar, nyatanya masalah dalam hidup lebih memberikan banyak arti pada pendewasaan." Dan statement terakhir "Tidak sedikit orang yang mengetahui banyak hal tentang ilmu kehidupan, meskipun ia memiliki kedangkalan pahaman tentang ilmu pendidikan. Namun realitas membuktikan keduanya menjadi sebuah reputasi yang sedang berkonspirasi. Padahal, cukup dengan memiliki ilmu tentang kehidupan, seseorang sudah berhak dikatakan sebagai seseorang yang berpengetahuan, meski itu diluar dari ilmu pendidikan."