Omong kosong banyak orang sama semua masalah yang dialami dalam hidupnya sendiri adalah mengedepankan egonya untuk memenuhi apa yang selama ini diperlukannya. Bullshit lah itu sama jalan keluar lewat saran, renungan akal sehat sama kata hati, diskusi sama diri, halah bacot. Selama jawaban yang tetap menang masih ego sendiri, itu nggak ngejadiin saran sebagai jawaban, tapi sebagai kampanye untuk menjawarakan sesuatu yang ego mau.
Pada akhirnya, setinggi apapun idealisme yang kita miliki terhadap ego yang ada di dalam diri kita, kita akan tetap hidup di dalam dunia yang isinya nggak cuma kita aja. Masih ada orang lain, dan itu jelas punya impact yang jauh bertentangan sama apa yang ego kita mau. Kendati demikian, hidup akan tetap berporos dengan semestinya, dengan dunia yang isinya nggak cuma kita aja, dan kita kehilangan hak untuk merasa sedemikian rupa menjadi manusia seutuhnya. Karena ya, yang ego mau sama apa yang kita mau beda, kesederhanaan nggak ada di sana sebagai jawaban yang menyehatkan.
Pun andai kita punya keberanian untuk memilih, saturasi eksistensi kita terhadap stereotipe yang dianut oleh banyak orang, tentu tergeserkan. Hingga akhirnya keberanian kita dalam memilih tadi diragukan, kendati yang kita pilih adalah kebenaran yang kita kita yakini.
Perkara kebenaran yang diyakini, kebanyakan orang akan mengatakan hal yang sama untuk berlindung terhadap apapun idealisme yang tiba-tiba muncul di kepalanya, dan itu memperluas variabel keprimitifan nalar dalam membijaksanai sesuatu, di luar konteks kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita yakini harusnya kebenaran yang murni nggak memuat kepuasan ego kita di dalamnya, agar kita mengerti bahwa kebenaran yang diyakini bersifat lebih subjektif.
Saya pernah mendapati ungkapan bahwa pemikiran yang ada dalam diri kita adalah bagian yang terpisah dari tubuh, sama halnya perasaan, pun keinginan. Entah, saya lupa pernah membaca atau mendengar ungkapan tersebut dari mana, saya hanya bisa mengingat bagian itu saja, dan saya mengamininya. Bahwa makhluk hidup bernama manusia hanya terbatas pada organ tubuh, dan yang menariknya dari manusia adalah karena ia dianugerahi akal dan pikiran. Agar akal dan pikiran berguna, maka diciptakanlah ego agar kita berupaya menggunakan pikiran kita untuk menentang semua kemauannya yang selalu melampaui batas dari kehidupan kita.
Namun, bagian buruknya adalah saat kita menemukan ada banyak orang yang secara sukarela memelihara egonya dalam bentuk dalih, semata agar kemauan dan pilihannya dibenarkan. Dan sayangnya lagi, kita juga kehilangan antusiasme untuk menuding sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang, kendati yang kita sampaikan adalah kebenaran. Contoh sederhananya seperti ketika kita mendapati perlawanan dari seseorang yang ada di konteks sebelumnya, bahwa ia mengakui kesalahannya dalam memutuskan pilihan dan menyadari kalau pilihannya terdinding oleh logika. Namun, upaya untuk keluar dari sana nyatanya nggak bisa ditemukan, kesadaran menjadi ada karena berbasis diskusi, dan menyadari penuh atas kesalahan tersebut juga hanya sebagai dalih, agar dia terhindar dari aspek-aspek yang sedang mencoba menyudutkannya.
See? Menjalani pilihan berdasarkan ego sendiri tuh enak, kendati resiko yang didapat cukup pahit. Namun, masih ada banyak korban yang bisa ditumbalkan. Dan bagian bodohnya, beberapa diantara kita juga secara sukarela menutup mata, ketika orang lain berlari kepada kita dengan membawa permasalahan yang bahkan sebelumnya sama sekali belum terselesaikan.