Tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya yang berjudul, "Tuntutan untuk merasa benar." Mengenai kejujuran dan kebenaran, keduanya merupakan hal yang baik dalam memperoleh suatu tujuan dan kebaikan. Namun, kejujuran seringkali kehilangan eksistensi oleh kebenaran. Contoh, di ruang lingkup sekolah, saat kita menjawab soal-soal ulangan. Ada yang berhasrat untuk menjawabnya dengan jujur, ada pula yang berhasrat untuk menjawabnya dengan benar. Keduanya sama-sama berasal dari sifat yang baik untuk kemudian mengeksistensikan kebaikan. Namun, sering kali sesuatu yang benar malah menjadi kebanggaan utama daripada kejujuran.
Yaitu di saat mereka yang menjawab soal dengan jujur (tanpa mencontek) malah dianggap tidak belajar karena suatu ulangan yang dihadapinya hingga ia mendapat nilai di bawah rata-rata. Padahal tidak semua orang akan memiliki kapasitas yang sama terhadap suatu pembelajaran yang dicernanya. Malah yang menjawab soal dengan benar, akan dibanggakan tanpa tahu latar belakang apa yang membuat mereka menjawab soal dengan benar. Pandangan seperti ini malah akan menjadi hitam putih terhadap suatu kebaikan.
Contoh lain, di ruang lingkup keluarga, saat seorang anak memecahkan suatu barang berharga yang terbuat dari kaca, dan orang tuanya masih belum mengetahuinya. Jika orang tuanya tahu tentu mereka akan marah kepada si anak atas perbuatan yang dia lakukan. Namun, kebanyakan seorang anak tidak pernah memiliki keberanian untuk berkata jujur atas suatu kesalahannya, dikarenakan timbal balik yang sudah jelas-jelas ia ketahui akibatnya. Di sini, tuntutan untuk merasa benar atas sebuah kesalahan yang diperbuatnya malah menggelapkan kebaikan yang ada dalam dirinya, yaitu dengan menghindari kejujurannya terhadap sebuah kesalahan.
Allah berfirman di dalam QS Al Maidah ayat 5 yang sebagian artinya mengatakan "Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan." Kemudian saya teringat perkataan Habib Husein Ja'far Al Hadar, "Yang Allah perintahkan kepada hambaNya itu adalah berlomba-lomba kepada kebaikan, bukan berlomba-lomba kepada kebenaran. Karena kebenaran itu seperti sesuatu yang tidak harus selalu kita munculkan. Ibaratnya seperti ketika kita memakai celana dalam, itu adalah sesuatu yang benar, tetapi kita tidak harus menunjukkannya kepada orang lain bahwa kita telah memakai celana dalam tersebut." Jadi, kebenaran itu adalah sesuatu yang lahir dalam diri kita dan keyakinan kita. Sedangkan kebaikan itu adalah refleksi dari kebenaran yang kita yakini ada dalam diri kita untuk kemudian kita eksistensikan melalui perbuatan kita.
Yang menyebabkan kejujuran dan kebenaran menjadi hitam putih dalam pandangan banyak orang adalah, karena yang diagungkan dari suatu kebaikan adalah kebenarannya, tanpa tahu apa yang menyebabkan seseorang untuk menjadi benar. Meskipun kejujuran juga bagian daripada kebaikan, tetapi memihak salah satu di antara dua kebaikan dengan menutup satu pihak yang sama baiknya, maka itu sama saja dengan menghitam-putihkan kebaikan itu sendiri. Bahkan pada tulisan saya yang kemarin, orang lain cenderung menuntut dirinya untuk merasa benar karena ia tahu bahwa kejujuran terhadap idealismenya akan diterima jika ia telah menempati kebenaran. Dan dengan menuntut diri untuk merasa benar, kita seolah-olah melupakan eksistensi diri kita sebagai manusia yang sejatinya selalu memiliki tempat salah dan lupa, "Al insaanu mahalul khoto' wan nisyan."
Yang penting bagaimana kita berlaku jujur untuk mengungkapkan kebenaran, daripada kita berbohong demi menuntut kebenaran. Agar kebaikan tidak lagi menjadi hitam dan putih dalam suatu pandangan perbedaan.