Rabu, 19 Juli 2023

Ketika harapan dalam bereksistensi menunggangi atensi sebagai validasi

Kenapa sih "need someone to talk" yang dikejar-kejar oleh banyak orang tuh jatuhnya jadi kayak obsesi? Emang sekrusial apa sih peran someone to talk tuh sampai ngebuat kita ngebet untuk ngejar atensinya? Ngerti, kadang buat beberapa orang, untuk meringankan penderitaan yang dialami, kita bisa meluapkannya dengan cara bercerita sama orang lain. Tapi emang harus demikian? 


Kalau emang cara terampuhnya seperti itu, artinya kan kita masih bergantung sama orang lain. Walaupun di satu titik kesadaran, kita bisa menghadapinya sendirian, tapi harapan kita untuk menginginkan someone to talk itu masih ada, kan?


Selama kita masih menggantungkan penderitaan itu sama harapan kita ke orang lain, kita berpotensi gagal menjadi manusia yang merdeka atas diri kita sendiri. Kita kehilangan pilihan untuk menghadapi dan menyelesaikannya sendirian, kendati pikiran untuk menghadapinya memang ada, tetapi harapan yang tumbuh dengan mengharapkan kehadiran orang lain justru membunuh upaya terkuat kita dalam menghadapinya secara mandiri.


Meskipun mungkin pernah di antara kita semua terbesit untuk pasrah atas realita yang kita hadapi bahwa ternyata kita enggak semudah itu dalam menemukan seseorang yang pantas untuk sekadar berbagi cerita, sehingga kita menjadi sukarela untuk menerimanya dengan kesendirian kita dengan masih membawa redaksi "need someone to talk" itu tadi dengan kesan yang sepertinya juga masih memuat harapan. Namun, upaya terbaik yang berhasil dihadapi setidaknya telah mencukupi kebutuhan diri.


Sadar nggak sih kalau kita ngebuka peluang dialog sama orang lain, bahkan sekadar ngobrol sederhana atau sesepele mungkin, otomatis kita melibatkan dua isi kepala yang berbeda dalam satu pembahasan, pun enggak ada yang dibahas, obrolan tersebut pastinya melibatkan dua orang, kan? Ngerti kan poinnya? 


Sebenarnya nggak ada yang salah, semua orang punya hak masing-masing dalam membutuhkan apapun atau siapapun, tapi penekanan ingin dinotice dan berharap dikasih atensi dari "need someone to talk" itu, ngebuat kita membuka peluang harapan yang sepaket sama kekecewaan. Dan ironisnya, harapan itu diperbesar sama kemauan kita sendiri; yang cowok ngarepin punya someone to talk ke cewek, dan yang cewek juga ngarepinnya punya someone to talk ke cowok, bahkan bisa jadi ditambah dengan standar-standar harapan lainnya. Padahal, kan, enggak harus njing! Orang dari awal redaksinya "need someone to talk", jangan malah dipersempit sama harapan kita sendiri. 


Terus, kalau akhirnya kita nggak ketemu? Yang ada kita malah berhadapan sama realita yang ngebawa kita pada keinginan "need someone to talk" itu tadi, tetapi dengan kenyataannya yang enggak ada siapa-siapa, dan kita masih sendirian. Niatnya mau memperkecil penderitaan, eh kita malah menambahnya dari sisi lain. Makanya kesulitan banyak orang buat mengenali dirinya sendiri, menjadikan mereka sesulit itu untuk berdialog sama dirinya sendiri. 


Sudah jadi hal yang lumrah kan kalau generasi anak muda zaman sekarang tuh rentan sama segala penderitaan, entah itu dari kekacauan pikiran, depresi, gangguan kecemasan, atau berbagai instrumen mengecewakan lainnya. Nyadar nggak sih penderitaan yang kita alami itu triggernya karena apa? Pun tau penyebabnya, emang kita punya pilihan untuk berdamai sama situasinya? Atau keberanian untuk menghindarinya, emang kita punya kesadaran untuk itu? 


Ada banyak hal remeh-temeh di dunia ini yang berpotensi untuk mengecewakan kita, dan kita juga bisa sekaligus mengidentifikasi hal-hal tersebut sebagai solusi dalam menghadapinya dengan setiap sesak yang bangsat itu. Jangan mau kalah sama situasi yang ngebuat kita lemah, berontak dengan damai karena sadar sama pilihan yang kita ambil tanpa mendestruksi diri kita sendiri.

Share:

Rabu, 12 Juli 2023

Omong kosong cinta, patah hati, dan mati rasa yang penuh dengan anomali

Rasanya saya sudah cukup muak untuk membicarakan hal ini berulang kali. Namun, keresahan untuk membahas perkara ini tidak akan pernah tuntas. Maka saya akan tetap hadir dalam berbagai dimensi, dalam berbagai tipe dan aspek tema yang sama, namun di resah yang berbeda.


Bicara soal omong kosong, apa yang sesungguhnya cinta berikan untuk manusia? Mungkin ini kedengarannya akan cukup relatif dan juga fleksibel, karena setiap orang akan mendefinisikannya dengan cara yang berbeda-beda, tetapi dengan tetap bersandar di tempat yang sama. Maka omong kosong soal cinta, itu sebenarnya tidak ada. Tidak pernah ada yang omong kosong jika itu berbicara cinta, tetapi akan selalu ada banyak omong kosong yang lahir dari kepala saya mengenai cinta, dan itu membuat saya menghukumi setiap fase yang saya lihat dengan ambigu. Mungkin ini kedengarannya seperti saya yang terusik dengan hal-hal tersebut, seolah-olah saya seperti menghakimi orang lain yang sedang kasmaran dengan cinta yang ada di hatinya. Namun, bukan di situ poin utamanya, tetapi pada patah hati dan mati rasa yang kemudian diromantisasi manusianya.


Setiap orang yang memulai pilihannya dalam menjatuhkan cinta, maka kesiapan mengenai patah hati dan mati rasa justru harus ikut serta. Anomali-anomali yang didapatkan seseorang ketika sedang kasmaran justru membutakannya pada banyak kesiapan. Dengan dalih support system, mereka berlindung di balik pembenaran yang tidak mau membuat mereka menjadi kesepian. Ini bukan soal iri apalagi dengki, beberapa orang yang terbuai dengan pasangannya atas nama cinta, justru digeneralisasi dengan perasaan bahagia.


Masuk ke persoalan patah hati, tidak berbeda dengan orang kasmaran. Saya sering mendapati orang-orang yang patah hati dan justru berorasi dengan statement-statement yang mengatasnamakan bijaksana sebagai dalih utama untuk menjustifikasi pengalaman buruk yang pernah dialaminya. Bahkan orang-orang yang sedang berada di fase patah hati ini akan mendadak menjadi seorang intelektualis yang membuka opini-opininya dengan berangkat dari pengalamannya.


Mengenai mati rasa yang justru memiliki sekat tipis dengan patah hati, orang-orang yang merasa mati rasa karena cinta ini biasanya cenderung menutup diri dengan dalih trauma. Kesedihan-kesedihan yang dirasakannya perlu suatu validasi dengan objektivitas yang dinilainya mampu membuat diri lega. Dari mati rasa, biasanya seseorang cenderung memiliki banyak peluang untuk menikmati waktu dengan dirinya sendiri. Dalam opini saya, beberapa orang mungkin juga mengutuk pengalaman pahitnya sehingga ia sampai di titik mati rasa ini. Alih-alih mengambil makna dengan serangkaian momen pahitnya dengan bijaksana, atau membenahi segala hal yang selama ini telah menjadi satu kesalahan. Justru malah rasa berontak dan tidak terima yang menggelora dari lubuk hatinya, kendati kenyataannya saya tidak menemukan faktanya, dan bukan berarti pula bahwa ini adalah pengalaman saya.


Dari mati rasa ini pula yang kemudian membuat orang-orang menggeneralisasi sudut pandangnya dalam melihat sesuatu, karena berangkat dari trauma tersebut akhirnya mereka menjadi lebih idealis dengan pilihan beraninya untuk melanjutkan hidup menggunakan tembok tertinggi yang sukar ditembus. Namun jika itu kembali menyangkut ke tipe orang yang disukai, kendati berdalih belajar dari pengalaman, bisa jadi benteng tinggi itu akan runtuh, dan lingkaran setan itu kembali terulang.


Sebegitu kosong dan hampanya diri kita sampai-sampai memuat orang lain sebagai salah satu peran dalam membentuk harapan bernama bahagia dari diri kita, padahal ironinya manusia, kan, untuk menciptakan kebahagiaannya sendiri aja begitu penuh anomali. Kendati berargumen dengan saling melengkapi, emang selama ini kita sudah benar-benar mencukupi diri kita sendiri, gitu? Sampai akhirnya punya keberanian untuk memilih orang lain sebagai peran dalam pertukaran saling melengkapi.

Share:

Kamis, 06 Juli 2023

Pola pikir gengsi yang merusak asumsi

Dengan seluruh persepsi dan justifikasi orang-orang tentang semua keenakan hidup yang saya poles sedemikian rupa untuk membentuk citra karakter dari story yang sifatnya ilusi, kiranya saya sudah cukup siap untuk menerima penghakiman dari segala segi. Entah itu dari narasi paling familiar, "Kamu mah hidupnya enak." Sampai narasi paling intimidatif yang bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana orang-orang mempersepsikannya. 


Enggak apa-apa, enggak salah mereka mengira demikian, toh yang saya haturkan pada media maya adalah citra yang tidak sesungguhnya, yang bahkan jika dinilai dari segi apapun, ya semuanya adalah high value yang tiada tanding bagi segala gengsi yang bersanding. Saya juga tidak berdalih apa-apa, saya juga tidak merasa tersinggung atau disinggung, justru saya menerimanya dengan penuh kerelaan, karena itulah kesiapan yang saya bentuk atas justifikasi manusia terhadap segala persepsinya.


Ngerti---yang enggak bakalan bisa diterima orang lain sebagai pengertian hingga lantas menolak mentah-mentah apa yang saya mengerti---manusia tuh punya kondisi hidup yang berbeda-beda, akan menjadi problem kalau dibanding-bandingkan, tapi saya enggak pernah punya pilihan untuk membandingkan, karena yang paling buruk dari segi kategori, adalah membandingkan apa yang tidak seharusnya dibandingkan untuk dijadikan pilihan.


Justru sebenarnya saya sedang menjalani apa yang saya pilih, kendati pilihan saya bagi orang lain adalah memenuhi gengsi, tapi saya tidak menganggap demikian karena memang yang saya temukan adalah kenyamanan dan titik berangkatnya berasal dari kemauan. Persoalannya bukan hanya sesepele gengsi, tapi kerelaan merangkai situasi yang jika ketika kita memilihnya, kita masih akan membandingkannya dengan yang lain, serta terobsesi untuk terus berupaya memilihnya, itulah yang sebenarnya gengsi. Dan sebenarnya saya tidak pernah menganggap wah, atau istimewa sesuatu, karena semua memang wajar sesuai porsinya.


Ketika beberapa orang bertengger dalam sebuah branding atas kedaulatan pilihannya tanpa perbandingan, ya pastinya tidak ada permasalahan, tidak ada yang dirugikan. Nyinyiran orang lain juga tidak lantas membiayai gaya hidup yang katanya mentereng itu, kendati gaya hidup mentereng perlu modal. Namun, berangkat dari membandingkan kapasitas diri untuk menggapai semua hal yang mentereng dengan memaksakannya lewat perbandingan dalam suatu pilihan, itu sama sekali enggak akan pernah jadi jawaban. Gaya hidup mentereng bukan validasi sosial, kendati yang dianggap dari gaya hidup mentereng adalah semua hal yang berbau gengsi. Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah perihal kemauan dalam melakukan pilihan tanpa harus membandingkannya lagi.


Lantas, apakah hidup saya enak? Tentu saja, dari semua pencitraan yang saya bentuk, hidup saya enak untuk sebuah cerita satu hari yang saya bagikan di media sosial, dengan segala polesan yang begitu ciamik, dan komparasi yang meningkatkan segala nilai kementerengan yang ada di cerita tersebut. Hingga menginjak hari berikutnya, saya tidak lagi memiliki bahan untuk membagikan hal-hal mentereng seperti yang saya bagikan sebelumnya di hari kemarin. Bukan karena saya tidak mampu untuk kembali melakukannya, tapi karena saya tidak memaksakan untuk itu, saya hanya memilihnya untuk satu situasi tertentu yang saya inginkan begitu. Seperti itu, kan, hidup enaknya saya?

Share: