Kenapa sih "need someone to talk" yang dikejar-kejar oleh banyak orang tuh jatuhnya jadi kayak obsesi? Emang sekrusial apa sih peran someone to talk tuh sampai ngebuat kita ngebet untuk ngejar atensinya? Ngerti, kadang buat beberapa orang, untuk meringankan penderitaan yang dialami, kita bisa meluapkannya dengan cara bercerita sama orang lain. Tapi emang harus demikian?
Kalau emang cara terampuhnya seperti itu, artinya kan kita masih bergantung sama orang lain. Walaupun di satu titik kesadaran, kita bisa menghadapinya sendirian, tapi harapan kita untuk menginginkan someone to talk itu masih ada, kan?
Selama kita masih menggantungkan penderitaan itu sama harapan kita ke orang lain, kita berpotensi gagal menjadi manusia yang merdeka atas diri kita sendiri. Kita kehilangan pilihan untuk menghadapi dan menyelesaikannya sendirian, kendati pikiran untuk menghadapinya memang ada, tetapi harapan yang tumbuh dengan mengharapkan kehadiran orang lain justru membunuh upaya terkuat kita dalam menghadapinya secara mandiri.
Meskipun mungkin pernah di antara kita semua terbesit untuk pasrah atas realita yang kita hadapi bahwa ternyata kita enggak semudah itu dalam menemukan seseorang yang pantas untuk sekadar berbagi cerita, sehingga kita menjadi sukarela untuk menerimanya dengan kesendirian kita dengan masih membawa redaksi "need someone to talk" itu tadi dengan kesan yang sepertinya juga masih memuat harapan. Namun, upaya terbaik yang berhasil dihadapi setidaknya telah mencukupi kebutuhan diri.
Sadar nggak sih kalau kita ngebuka peluang dialog sama orang lain, bahkan sekadar ngobrol sederhana atau sesepele mungkin, otomatis kita melibatkan dua isi kepala yang berbeda dalam satu pembahasan, pun enggak ada yang dibahas, obrolan tersebut pastinya melibatkan dua orang, kan? Ngerti kan poinnya?
Sebenarnya nggak ada yang salah, semua orang punya hak masing-masing dalam membutuhkan apapun atau siapapun, tapi penekanan ingin dinotice dan berharap dikasih atensi dari "need someone to talk" itu, ngebuat kita membuka peluang harapan yang sepaket sama kekecewaan. Dan ironisnya, harapan itu diperbesar sama kemauan kita sendiri; yang cowok ngarepin punya someone to talk ke cewek, dan yang cewek juga ngarepinnya punya someone to talk ke cowok, bahkan bisa jadi ditambah dengan standar-standar harapan lainnya. Padahal, kan, enggak harus njing! Orang dari awal redaksinya "need someone to talk", jangan malah dipersempit sama harapan kita sendiri.
Terus, kalau akhirnya kita nggak ketemu? Yang ada kita malah berhadapan sama realita yang ngebawa kita pada keinginan "need someone to talk" itu tadi, tetapi dengan kenyataannya yang enggak ada siapa-siapa, dan kita masih sendirian. Niatnya mau memperkecil penderitaan, eh kita malah menambahnya dari sisi lain. Makanya kesulitan banyak orang buat mengenali dirinya sendiri, menjadikan mereka sesulit itu untuk berdialog sama dirinya sendiri.
Sudah jadi hal yang lumrah kan kalau generasi anak muda zaman sekarang tuh rentan sama segala penderitaan, entah itu dari kekacauan pikiran, depresi, gangguan kecemasan, atau berbagai instrumen mengecewakan lainnya. Nyadar nggak sih penderitaan yang kita alami itu triggernya karena apa? Pun tau penyebabnya, emang kita punya pilihan untuk berdamai sama situasinya? Atau keberanian untuk menghindarinya, emang kita punya kesadaran untuk itu?
Ada banyak hal remeh-temeh di dunia ini yang berpotensi untuk mengecewakan kita, dan kita juga bisa sekaligus mengidentifikasi hal-hal tersebut sebagai solusi dalam menghadapinya dengan setiap sesak yang bangsat itu. Jangan mau kalah sama situasi yang ngebuat kita lemah, berontak dengan damai karena sadar sama pilihan yang kita ambil tanpa mendestruksi diri kita sendiri.