Kamis, 22 Juli 2021

Perjalanan paling menyedihkan

Dalam sebuah caption yang saya gunakan untuk sebuah postingan di Instagram, saya menulis; mengamati semua bentuk keindahan bisa menjadi upaya terbaik dalam menghilangkan banyak alasan untuk menyerah.

Saya tersenyum miris membacanya saat saya menyadari bahwa di tengah kegiatan saya dalam menikmati keindahan dengan sebuah pengasingan seperti ini, sama sekali tidak pernah menghilangkan alasan saya untuk menyerah. Sama sekali tidak. Bahkan saya semakin kesulitan menemukan alasan-alasan untuk bangkit, tetapi saya tidak kunjung menemukan halaman akhir dari semua rasa sakit ini.

Di lain waktu, saya sempat menulis narasi yang cukup mempunyai banyak tanda tanya atas karakter yang saya ciptakan. Seorang bocah ingusan keluar dari rahim ibunya dengan keadaan menangis tatkala menghadapi kenyataan pahitnya dunia, namun kemudian kasih sayang orang tuanya menyambut kehadiran bocah mungil tersebut dengan penuh senyum dan tawa. Singkat saja, sepaling tidak saat bocah itu beranjak dewasa, lalu kemudian jiwanya dibunuh secara perlahan.

Secara tidak sadar mereka seperti sedang mendidik, tetapi yang dirasakan bocah itu seperti sedang dihardik. Dan satu-satunya keputusan terburuk bocah itu adalah, mengiakan permintaannya kepada Tuhan untuk hidup di dunia saat merasa sesak ketika hidup di dalam rahim ibunya, lalu menyesal ketika menghadapi kenyataan bahwa kehidupan dunia lebih kejam daripada kehidupan dia sebelumnya.

Tidak ada yang perlu diistimewakan, semua hanya tentang kerelaan diri dalam mempertahankan hidup dari dunia yang tidak henti-hentinya menikam.

Saya tidak ingin memberikan penjelasan panjang lebar mengenai sebab apa dan kenapa saya menulis tulisan tersebut. Pada akhirnya, saya menemukan satu alasan terbesar mengapa saya lari dari semua masalah yang selama ini saya hadapi, karena akhirnya saya menemukan satu alasan dari penyesalan tersebut. Penyesalan yang harus saya hadapi sepanjang saya hidup. Penyesalan yang tidak lagi bisa saya kembalikan selain menghabiskan semua waktu kekecewaan tersebut dengan penuh rasa sia-sia. 

Saya ada di dunia, tetapi seperti tidak dianggap ada. Saya cukup mampu mendapatkan semua yang saya mau, tetapi saya tidak menemukan kebahagiaan di dalamnya. Saya seperti sedang tidak merasakan hidup yang sebenar-benarnya hidup. Dan atas kehidupan yang selama ini masih saya jalani, saya seperti sedang menghabiskan penyesalan saya sendiri. Di dalam penyesalan yang saya ciptakan karena sudah memilih untuk terlahir ke dunia ini.

Di sebuah tempat wisata yang pernah saya kunjungi, saya sempat menyaksikan dan melihat bagaimana cara seorang anak kecil yang sedang merengek manja ingin meminta dibelikan mainan kepada orang tuanya. Namun karena hal terdesak, entah karena alasan apa pun yang saya tidak ketahui, orang tuanya berbohong kepada anaknya bahwa toko mainan tersebut sedang tutup, dan mirisnya orang tua itu langsung berkata kepada sang pemilik toko mainan itu, seolah bekerja sama untuk sang anaknya agar tidak jadi membeli mainan yang diinginkannya itu. Kemudian orang tua tersebut menggendong anaknya menjauh, dan baru beberapa langkah kemudian, sang anak kembali menunjuk ke arah sesuatu pada seorang penjual yang sedang diinginkannya, dengan isak tangis tentunya. Namun, orang tuanya seolah tutup telinga dan semakin mempercepat langkahnya menjauh dari daerah tersebut, sampai akhirnya hilang dari pandangan saya.

"Dek, semoga nanti hidupmu tidak seburuk aku. Perasaan yang kita rasakan persis sama, walaupun keadaan kita cukup berbeda. Semoga kau tidak menemukan penderitaan serupa yang sering disembunyikan banyak orang, Dek." Saya berdiri dari tempat duduk, kemudian mengusap pelan kedua mata saya yang entah kenapa tiba-tiba berkaca-kaca. Di ujung sana lembayung senja tengah berlabuh, menggantikan terik yang siap melepas sauh.

Share: