Rabu, 01 Desember 2021

Berdamai dengan kekecewaan

Saat kita menyadari bahwa ada jurang di antara ekspektasi dan realita, maka kita akan merespons hal tersebut dengan emosi yang bernama kekecewaan. Wajar kecewa muncul karena ekspektasi yang diharapkan tidak terwujudkan. Namun, bagi mereka yang mempunyai value dalam dirinya untuk bisa menyadari kekecewaan itu sendiri, maka dia akan merespons kekecewaan tersebut dengan penerimaan, bukan penolakan.

Kecewa bisa menjadi salah satu respons tubuh berupa emosi yang jika kita sadari maka akan menimbulkan dampak positif, seni dari rasa kecewa dan rasa sakit yang kita terima, itu mampu mengubah pilihan-pilihan kita di hari ini agar ke depannya kita tidak kembali mengulang hal yang sama seperti sebelumnya. Mengutip perkataan dari seorang konten kreator psikologi, Analisa Widyaningrum, ada 4 perilaku yang bisa membuat kita termotivasi, salah satunya adalah perasaan untuk takut kecewa lagi. 

Dari perasaan takut kita untuk kecewa lagi nantinya, itu mampu menimbulkan usaha yang lebih berbeda dari sebelumnya, karena kita sadar bahwa kita ingin menghindari satu fase bernama kekecewaan. Namun, saat kita kembali menemukan rasa kecewa dari motivasi kita yang sebelumnya ingin menghindari kekecewaan, maka kita telah dibentuk oleh kekecewaan itu sendiri dengan sebuah keberanian yang lebih luas lagi dalam hal penerimaan.

Kadang emang kita yang nggak pernah bisa sadar, saat diri sudah mampu melawan terhadap penerimaan yang menyakitkan, maka kita dibentuk oleh kenyataan yang lebih luas lagi perihal kesiapan.

Mengutip dari buku "Duduk Dulu" karya Syahid Muhammad, kesiapan kadang tidak menunggu ketakutan hilang, atau cemas dan ragu lenyap. Kesiapan tidak melihat apakah kamu sudah merasa pantas atau belum. Kesiapan datang, ya karena sudah waktunya. Tahunya dari mana? Tidak ada yang tahu. Tidak ada. Bertindak, kadang karena siap, entah agar siap.

Share: