Minggu, 10 Desember 2023

Adiwarna di nabastala

Udah lama kan ya enggak nge share hasil-hasil motret, ya karena emang ga ada effort lagi aja buat nyalurin emosinya ke sana. Aku terlalu banyak pilihan dalam meluapkan ekspresi-ekspresi atas segala situasi yang dihadapi. 

Nah di kesempatan kemarin, kebetulan aku ada effort buat motret lagi, sembari gabut lah itu ya masuknya. Pergi lah malam-malam aku ke bukit Tahura, dari jam 12 sampai jam 3 malam mandek di sana, motret-motret langit. Sebenarnya alasan kenapa aku mendadak tiba-tiba ingin pergi ke Tahura karena di hari itu cuaca siang sampai ke malamnya benar-benar cerah, untuk musim penghujan seperti Desember sekarang, kecil sekali kemungkinan untuk menemui di mana situasi tidak dijatuhi hujan, dan kebetulan hari itu hujan tidak turun bahkan sampai aku menjejakkan kaki di bukit tersebut, kendati beberapa saat setelahnya awan mendung mulai berkabung.

Dari sini yang kemudian momen-momen indah dan penuh kedamaian mulai muncul buat aku sadari, sejak aku mendirikan tripod dan naroh HP di situ buat ngerekam lintasan milky way, aku perlu nunggu sekitaran 40 menitan buat menuhin hasil foto sebanyak 80 file. Karena untuk ngedapetin lintasan milky way harus ngarahin kamera ke arah matahari terbit, jadi satu HP yang ada di tripod benar-benar standby di sana sembari terus ngejepret otomatis terus-menerus.


Sementara di arah sebaliknya, dari arah-arah matahari tenggelam, lintasan kilat terus menyambar indah, dalam sepersekian detik langit menjadi terang, merah jingga menyala terpampang di ujung cakrawala, bahkan gumpalan-gumpalan awan terus mengepul di bawah sana. Kendati gelap, panorama cantiknya langit benar-benar memeluk penglihatan dengan penuh pemaknaan. 


Karena satu HP masih digunakan untuk memotret lintasan milky way, jadilah aku inisiatif untuk menggunakan HP satu lagi untuk memotret dari arah langit yang di sana kilat terus menyambar. Hanya bermodalkan dua batu yang cukup menopang HP untuk berdiri tegap, aku akhirnya mengatur pengaturan kamera untuk menghasilkan foto otomatis sebanyak 30 foto dalam Shutter speed 30 detik.


Sembari menunggu HP melakukan pekerjaannya, aku dengan santai duduk melihat ke segala arah, langit yang dipenuhi bintang, bukit-bukit di sekitar yang dipeluk awan, kilat yang terus menyambar, sejuk angin yang memagut dingin dari tubuh. Diamku ditemani oleh kepulan-kepulan asap rokok yang berhembus, tenang sekaligus damai merebak, isi pikiran berurai penuh irama, lantunan syukur terpanjat erat. Nikmat mana lagi pada saat itu ketika mata begitu leluasa melihat keindahan alam yang telah Tuhan ciptakan, lalu aku dengan kebisaan yang aku punya juga sedang mengabadikannya. Bukan hanya sekadar lewat dan dilihat lalu diingat, tetapi juga dibawa pulang dalam bentuk visual yang tak terkalahkan indahnya.

Aku rasa, menjadi seorang hamba yang dianugerahi kesadaran untuk bisa bersyukur ketika melihat sesuatu dan selalu menghadapi situasi dengan pemahaman yang penuh arti, ngebuat aku jadi enggak pernah punya alasan buat ngeluhin apa-apa atas hal yang ada di luar dari kontrol diri kita. Padahal langit malam itu gelap, bulan pun enggak ada, langit nya juga enggak begitu cerah-cerah amat, gumpalan-gumpalan awan terus mengitari langit oleh hembusan angin yang membawanya terus berjalan, bahkan dengan kilatan cahaya yang sesekali menyambar, menandakan bahwa hujan bisa turun kapan saja. Namun begitulah aku, aku yang enggak pernah punya kemampuan buat ngeluhin atas situasi yang sedang dihadapi, aku selalu menerimanya dengan penuh penerimaan.


Bahkan ketika di jalan pulang pun, saat waktu sudah menunjukkan jam 4 pagi, hujan mulai turun di perjalanan pulang saat hendak menuju Banjarmasin. Kendati demikian, aku tetap melaluinya, toh aku juga sudah menyiapkan jas hujan dari balik jok motor. Setelah digunakan, lanjut aja jalan pulang, hujan semakin deras mengguyur sampai kemudian aku tiba di kota, lampu-lampu jalan yang bergradasi di pantulan jalan tampak indah di penglihatan, lagi-lagi di situasi seperti itu aku masih bisa melantunkan syukur betapa banyaknya momen yang masih bisa aku temukan dan bisa aku nikmati. Aku juga sempat mengabadikan momen jalanan yang sepi dan dipenuhi oleh gradasi lampu jalanan di hamparan aspal basah yang cukup memukau keindahan. Bahkan ketika sudah di dekat rumah, lantunan adzan subuh mulai melengking dari setiap mesjid yang aku lewati, sesampainya di rumah aku langsung meluapkan rasa syukur tersebut dalam kewajiban yang aku segerakan.


Tuhan, betapa indah dan cantiknya segala hal yang kau ciptakan, terlepas itu makhluk hidup atau benda mati, semua yang Kau jadikan di muka bumi tampak begitu menawan untuk dinikmati. Bahkan dalam ciptaanmu yang begitu agung laiknya Kau ciptakan seorang kekasih yang sangat dicintai, demikian pula aku yang juga menghimpun segenap rasa dan mendebarkan degup jantung dari hati yang tertawan oleh kecintaan ini.

Tuhan, aku benar-benar ingin mencintaimu lewat kekasihku, sebab binar tatap matanya berhasil mengantarkan pancaran ilahiahMu kepadaku. Bahkan ketika aku sedang memuji cantiknya, aku begitu yakin tengah berzikir kepadaMu yang telah berkuasa menciptakan hadirnya. Semua perasaan itu hadir karenaMu Tuhan, tetapi kehadirannya menuntunku dalam perjalanan kehambaan.

Dari langit yang indahnya aku nikmati begitu leluasa, aku menitipkan banyak pesan dalam luapan penuh rasa. Semoga mataku tidak buta dalam melihat keindahan, kendati situasi tidak serupa seperti ekspektasi. Karena yang dituju dari langit adalah indah yang mengejutkan, bukan indah yang direncakan.

Share:

Minggu, 26 November 2023

Bait-bait renjana di tiap tanya

Gemericik air dari langit menebarkan sensasi dingin sekaligus menguarkan takjub dari lubuk hati, ada yang selalu aku suka ketika harus menerjang hujan di malam hari, entah itu deras atau gerimis, selalu ada satu alasan kecil mengapa aku begitu leluasa menikmati limpahan-limpahan basahnya.


Karib dengan kesendirian, kerap membawaku terbiasa untuk menjadi diri sendiri yang sulit berubah, kendati situasi membawa orang lain di tengah-tengahnya. Namun, aku akan selalu menjadikannya misterius di segala keadaan, dengan segenap percaya yang dilapangkan.


Langkah kakiku sudah hampir tiba di depan pintu mall, tetapi dari arah samping ada derap langkah kaki yang bergegas menuju ke arahku dengan suara samarnya memenuhi indera pendengaran. Aku tak menggubris sapaannya, saat tubuhnya sudah berada di samping langkahku, ia langsung menggait pergelangan tanganku dengan tangannya, langkah kakiku tetap melaju memasuki mall. Kadang dia pendiam, kadang juga impulsif, sikapnya begitu kondisional di situasi tertentu.


"Buset cuek amat, ngomong dikit nggak bisa apa?" tukasnya mendadak cemberut, lekas ia memalingkan muka ke sembarang arah. Langkah kaki kami berhenti di atas eskalator yang terus berjalan.


"Iya cantik, kenapa?" sahutku terlampau pelan, entah apakah dia mendengar atau tidak. 


Kepalanya memutar pelan, kali ini pandangannya lurus ke depan, bola matanya melirik ke arahku seakan seperti sedang mengintip sesuatu. Hoodie berwarna biru yang cukup mentereng itu terlihat kebesaran di tubuhnya, sekilas aku melirik penampilannya yang terlihat tidak begitu menonjolkan eksposur untuk memperoleh atensi. Namun aku selalu salah tingkah sendiri melihat penampilannya seperti itu, sekilas lagi aku menatap pada diriku sendiri. Ya ampun, apa yang bisa aku banggakan? Gumamku dalam hati.


Hilir mudik orang-orang di pusat perbelanjaan menjadi tontonan monoton di tempat duduk kami, hidangan makanan serta minuman yang sudah tersaji di depan kami seakan hanya menjadi ornamen di atas meja dari sebuah pertemuan yang entah akan membawa apa. Kami terus berdialog tanpa arah, bercerita banyak hal dari pertemuan yang terkesan sulit untuk digapai dari realita yang sedekat sekarang.


“Gue penasaran deh, berapa banyak sih orang yang penasaran sama semua isi kepala lo?” 


Aku terkekeh pelan, senyumku mengembang lebar di kedua sudut bibir. Mengundang senyumnya yang tak kalah menarik untuk dipandang sedekat ini. Kedua pipinya menyembul dengan secercah keindahan tersirat di balik tudung kepala dari hoodie yang tengah ia kenakan. Udara dingin Banjarmasin malam ini yang gerimisnya sesekali masih turun berhasil membuat tubuh kami memagut dingin, tidak seperti malam-malam biasanya yang berlalu dengan menyertakan gerah di tubuh. 


“Kenapa, lo mau nambahin peserta lain setelah diri lo?“ jawabku menimpali pertanyaannya tadi.


“Dih, ogah, najis banget, sorry aja nih ya, gue nggak tertarik buat ngerti sama isi kepala lo, sama isi kepala sendiri aja udah rumit buat ngertiinnya.”


“Nah bagus, itu yang paling penting.” 


Senyumnya tergelar tipis, samar suara gelak tawa hadir memenuhi indera pendengaranku. Dia menundukkan kepala hingga sejajar dengan meja yang memisah tempat duduk kami. Tanpa memungkiri apa-apa, aku mendaratkan telapak tangan tepat di atas ubun-ubun kepalanya, sementara jemariku mengelus kepalanya dengan perlahan.


Mendadak tubuhnya bergeming. Mendapati ia yang tidak merespon, aku malah menempatkan dagu di atas kepalanya sembari memajamkan mata, telapak tanganku turun ke belakang lehernya yang masih ditutupi oleh tudung kepala hoodie yang tengah ia kenakan. 


Kami menciptakan keteduhan yang menjelma energi positif, degup jantung kami berdenyut dengan penuh irama. Sejenak, segala sesak tetiba luruh seiring hembusan napas yang kami hela.


“Eh tapi serius ya, lo itu orang yang paling cocok buat numbuhin kenyamanan, semua kebingungan yang lo buat ke gue selama ini, bikin gue berhasil jadi diri gue sendiri.” 


Aku menautkan alis dan menanggapi ucapannya dengan cukup skeptis. "Maksudnya? Kebingungan, kenyamanan, hubungannya sama gue? Terus, selama ini, maksudnya?" imbuhku tak mengerti dengan maksud ucapannya.


"Giliran gue yang sekarang nggak ngerti sama semua pertanyaan lo?" tegasnya mendadak kesal.


Aku terus bergeming di tengah kekesalannya, karena jujur saja aku masih tidak menangkap penuh maksud dari ucapannya tadi. Kendati demikian, aku tetap harus mengambil alih suasana hatinya yang sudah benar-benar rusak. Sejenak aku memutar otak untuk berusaha mencairkan suasana di tengah kesalnya yang masih berkabung. Kini ia malah fokus memainkan hp nya tanpa sedikit pun memperhatikanku yang masih kebingungan.


"Mau dengan alasan apapun, kalau untuk jadi diri sendiri kayaknya nggak perlu berlebihan untuk ngelibatin gue, deh. Takutnya lo kecewa. Jadi diri sendiri itu cukup dengan kesadaran-kesadaran yang selama ini lo bentuk. Cukup dari perhatian-perhatian kecil yang lo kumpulkan. Cukup dari rasa syukur dan terima kasih yang berhasil lo panjatkan."


"Tapi, emangnya lo ada niatan buat ngecewain gue?" tanyanya kemudian saat atensinya berhasil aku raih kembali.


"Kalau realitanya lo kecewa karena gue?" tanyaku balik.


"Nggak mungkin," tegasnya lantang.


"Nggak ada yang nggak mungkin, orang kasmaran aja kalau udah pisah, sakit hatinya yang paling awal justru dengan nyalahin mantannya, kan?" timpalku memberikan argumen.


"Emang lo begitu?" tanyanya balik.


"Gue pribadi enggak, bisa jadi mantan gue yang nganggapnya begitu," jawabku jujur.


"Terus lo terima disalahin gitu?"


"Ya terus gimana, mau nolak? Asumsi orang lain nggak bikin gue kenyang apalagi menderita, lagian kalau kita sudah kepalang sakit hati, kenapa kita masih punya energi untuk menyelipkan kebencian di dalamnya apalagi sampai nyari-nyari celah kesalahannya? Emang opsi untuk menerima ada di urutan ke berapa?" ungkapku panjang lebar.


"Eh tapi bentar dulu deh, gue jadi kepikiran, emangnya dulu lo pisah karena apa?" 


"Gue mau jawab pisah dengan baik-baik, tapi realitanya banyak orang kan enggak pernah mau menerima bahwa ada perpisahan yang benar-benar baik, yang bersangkutan juga kayaknya enggak menganggap itu perpisahan yang baik kala itu. Tapi ya pada intinya, ada kepercayaan yang nggak bisa gue lanjutin, ada prinsip yang nggak bisa diterusin, dan ideologi yang udah enggak bisa sejalan lagi. Mau diterusin paksa bagaimana pun juga, bakalan ada yang terus tersakiti di dalamnya, karena gue gak mau itu terjadi, makanya gue mau menyudahi itu."


"Kita?" lirihnya pelan. Aku menyadari ada keanehan dari cara dia menyimak ucapanku, lantas dengan segera aku kembali merubah topik pembicaraan.


"Daki lo, tuh, kita." 


"Apasih, serius tau nanyanya," ketusnya seraya berdecak sebal.


Aku sendiri bingung mau menjawabnya bagaimana lagi, kali ini lekas kuraih kepalanya yang masih terasa berat untuk digerakan mendekat ke arahku, sebab kesalnya yang masih membumbung di perasaannya. Dengan cepat kukecup puncak kepalanya yang tidak lagi tertutupi oleh tudung hoodie yang ia kenakan.


"Jalani apa yang kita yakini sekarang. Kalau lo udah percaya, nggak usah lagi khawatir sama apa yang udah lo percayai. Karena gue menghargai besarnya kepercayaan." 

Share:

Jumat, 13 Oktober 2023

Enigma romantika tanya

"Kenapa lo tiba-tiba clingy gini sih sama gue? Bukannya kemarin-kemarin nggak gini? Kenapa, sih, kenapa?" tanyanya dengan suara lembut, mungkin takut jika pertanyaan itu akan menyinggungku. 


Aku terlebih dahulu merebahkan kepala di sisi bahunya, bergeming sejenak seraya menghidu harum aroma rambutnya. "Kenapa sih, ditanya mulu, nggak senang?" Aku menimpali jawabannya dengan balik bertanya, enggan sebenarnya untuk membahas itu.


"Ya, bukan gitu. Maksudnya, heran aja sih. Ini tuh semua serba mendadak, lo yang tiba-tiba welcome, lo yang tiba-tiba clingy, lo yang tiba-tiba manja, lo yang selalu denial sama perhatian orang-orang, dulu tuh gue nggak kenal elo yang kayak begini, tahu enggak? Dulu tuh, walaupun kesannya kayak teman biasa yang lebih sering dicuekin, gue nggak nganggap apa-apa, gue nggak ada tujuan juga sebenarnya waktu tiap hari ngerecokin elo tuh, kayak enak aja gitu buat ngejadiin lo sasaran buat gue jahilin, apes-apes elo baper. Tapi,"


Ucapannya terjeda ketika aku bangkit berdiri dan melangkahkan kaki untuk sedikit membuat jarak dengannya. Diamnya menjadi pertanda bahwa kebingungan lagi-lagi memeluknya saat berhadapan denganku yang dipenuhi banyak rahasia. Semua kejadian-kejadian memangnya harus punya alasan untuk bisa diterima? Kurasa itu akan relatif untuk bisa dijawab.


Perlahan aku memalingkan muka menghadap ke arah wajahnya, seketika raut wajah tak bersalah penuhi tiap relief inci lekuk wajahnya.


"Sorry, kalau gue tadi terlalu jujur. Tapi gue nggak ada maksud untuk bilang kayak begitu, gue cuma penasaran,"


"Penasaran karena akhirnya lo nggak bisa recokin gue lagi, kan? Dan akhirnya lo jadi risih sama semua yang gue lakukan, karena selama ini lo nggak berharap untuk itu, kan? Lo jadi terjebak di situasi ini, kan?" 


Mendadak aku memotong ucapannya dan berkata datar dari jarak yang telah aku buat sebelumnya. Sejak kalimat awal tadi diucapkan, wajahnya terkulai menunduk pelan. Rambut panjangnya yang tergerai indah itu akhirnya berhasil menutupi seluruh wajahnya dari penglihatanku. Kedua telingaku menangkap isakan yang sayup-sayup terdengar pelan.


Alih-alih mendekati dirinya, aku malah melangkahkan kaki ke arah mobilku yang terparkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Di tengah langkah mendekati mobil, aku mendengar suara derap langkah yang tergesa dari arah belakang. Enggan untuk menggubris, aku sama sekali tidak memelankan laju langkahku, sampai akhirnya satu pelukan mendarat tepat di tubuhku, membuat langkahku akhirnya terhenti dan mencerna sesaat untuk menghadapi situasi saat ini.


Di balik dekapan ini, sudah memecah suara isakan seperti dugaanku tadi yang terdengar samar di telinga. Usai pecahan tangisnya mereda, aku memberi isyarat padanya untuk melanjutkan langkah menuju mobil, dan aku masih memilih untuk membungkam suara.


Di dalam mobil, aku sudah menempati kursi kemudi, sementara dia sudah duduk di kursi penumpang di sampingku dengan mata sembab yang tak lagi dia tutupi. Pandangannya menatap datar ke arah depan, sama sekali tidak menoleh sedikit pun. Mesin mobil sudah kunyalakan beberapa detik yang lalu, membiarkan dingin udara AC menerpa wajah kami.


Lebih dari lima menit suasana di dalam mobil lengang, sama sekali tidak ada dialog yang tercipta sepanjang itu, bahkan aku juga tidak menjalankan mobil, hanya hening yang merajai di antara kami. Aku mencoba beralih dari posisi duduk semula, berpaling untuk menghadap ke arahnya dengan sempurna, lantas menghela napas dengan cukup dalam.


"Dalam hidup, nggak semua pertanyaan harus punya jawaban, kan? Ya at least itu buat gue pribadi, karena sejauh gue mengejar apa yang gue mau, gue nggak pernah dapat jawaban itu. Dan bukan menjadi kesalahan kalau akhirnya gue mundur dan berpaling dari itu semua, kan? Karena akhirnya gue jadi orang yang enggak diterima sama tujuan gue untuk ada di hidupnya, sementara orang lain berusaha ada buat gue. Apakah menjadi kebodohan kalau akhirnya gue memindahkan tujuan itu? Gue tahu kok yang gue mau itu apa, tapi kalau gue nggak bisa mendapatkannya, apakah gue harus bersikeras sama tujuan gue? Itu kan sama aja dengan gue nyiksa diri sendiri, mending sadar diri kali daripada nyiksa diri. Dan untuk pertanyaan lo, gue ngerti kok, ngerti banget, kalau nggak ada maksud buat lo untuk ngungkit hal itu."


Sejak aku mengawali ucapan, di tengah-tengah pembicaraan wajahnya mendadak beralih menghadap ke arahku untuk mendengarkan dengan takzim, raut polos disertai mata yang sedikit sembab itu, entah kenapa terlihat lebih menggemaskan dari biasanya. 


"Kita itu sama-sama keras kepala, tau. Lo yang selalu menyimpan banyak alasan, gue yang selalu penasaran. Kalau bagi lo, semua pertanyaan itu nggak harus ada jawaban, seenggaknya buat kita, berdamailah sama semua pertanyaan dan jawaban itu, karena kita butuh,"


"Buat apa?" timpalku cepat menyela omongannya.


Wajahnya tiba-tiba tertekuk takjub usai mendengarkan responku yang seperti itu karena memotong pembicaraannya. Terlihat dari tengkuk lehernya, dia sedang menelan ludah dengan cukup susah, ujung bibir bawahnya ia gigit dengan keras. 


Wajahku menyeringai lebar disertai kekehan kecil, kedua mataku menelusuri tiap inci lekuk wajahnya yang diselimuti kegelisahan. Ini yang kadang membuatku selalu merasa serba salah, selalu menempatkan dia di posisi antah berantah, menggantungkan semua rasa penasarannya dengan sia-sia. Lagi-lagi dia harus memutar kepala atas sanggahanku yang di luar logika. Memang, pilihanku untuk menerimanya juga merupakan bagian dari luar kepalaku, yang tiba-tiba saja sudah terlanjur seperti ini.


"Udah, nggak usah dijawab. Maaf gue terlalu merepotkan untuk setiap rasa penasaran lo, tapi intinya gue sayang sama lo."


Persis pada kalimat terakhir yang aku ucapkan, kedua pipinya bersemu merah. Pelukan atas jawaban paling hening merajai di antara kami berdua, tidak ada lagi kata-kata, tidak ada lagi tanya, hanya jawab tak terjeda yang hilang di antara semua bingung. Aku dengan segudang alasan pahit untuk merajut kisah dengannya, mencoba memendam jauh semua itu dari tiap penasarannya.

Share:

Jumat, 08 September 2023

Eunoia---hidup yang begitu nestapa

Saat dunia semakin munafik memberikan kehidupan, dia tetap bertahan meski berjalan di atas kekosongan, tanpa alasan, tanpa tujuan. Semua hanya perihal omong kosong yang begitu penuh oleh tipu daya. Bahkan dia sendiri tahu bahwa tubuhnya yang tak pernah disinggahi peluk meski sekalut apapun hidup, tetap mampu mempertahankan dirinya sendiri, dan waktu selalu berucap bangga dengannya. 


Karena percuma mengeluh kalau masih tidak ada yang peduli, percuma merasa nelangsa kalau cuma mengharap iba. Perasaan-perasaan egois tentang hidup sudah sebegitu beringasnya dia raup, semata-mata agar dia bisa tetap merasakan hidup. Nyatanya, dunia semakin mengasing. Sosialisme di hidupnya kini seolah berpaling. Dia hidup hanya untuk memenuhi kekosongan, makna dan arti hanya sebatas singgah untuk kemudian diabaikan. 


Kematian terasa begitu jauh dari keinginan, tetapi merasa mati terhadap dunia telah lebih dulu ia rasakan. Pikirnya, manusia memang kerap menginjak keegoisannya masing-masing dengan cara merasa tersiksa, sama seperti halnya ia yang begitu berontak tatkala malam tiba dan berharap tidur selamanya tatkala matahari menyapa. Namun, ada yang masih tidak bisa dimengerti dari dunia yang telah begitu rela memberikannya kehidupan; hidup tetapi kehilangan akal sehat, mati tetapi berupaya tuk hidup kembali. 


Sampai akhirnya tiba seseorang yang jauh dari angannya, menatap lekat ke arahnya, menyelami tiap inci manik matanya yang perlahan digenangi haru. Seseorang yang benar-benar sudah tidak lagi peduli siapa dirinya di mata dunia. Meski dengan tersuruk-suruk dan tertatih letih, keinginan untuk bangkit selalu memberi makna rumit pada titik paham yang sekelumit. Hingga akhirnya tubuh yang ringan itu terhempas jatuh dalam pelukan seseorang yang dengan sukarela membagikan peliknya niscaya. 


Dia adalah aku yang tak tertuliskan oleh kata-kata. Dan dunia tak pernah berhenti menampiknya, menghentikan pilihannya, bahkan sebelum kenyataan membuktikan segalanya. Semua usai sebelum kebahagiaan itu terurai. Benar-benar selesai hingga tidak ada lagi yang tersisa. Dan pada kenyataannya, tetap aku orangnya, bukan orang lain. Jadi salahkah jika aku putus asa? 


Tidak ada jawaban, hanya kosong. Bahkan kehidupan sendiri mampu tertawa kala menanggapinya. Omong kosong paling brengsek yang menjejali kenyataan bahwa pertanyaan bodoh itu bisa-bisanya berkelindan. 


Selalu ada yang tidak pernah tercukupi dari hidup, salah satunya ekspektasi. Dan satu-satunya putus asa terbesar dalam hidup adalah, berjuang untuk diakui oleh kehidupan, namun dibunuh lebih dulu oleh kehidupan itu sendiri. Entah siapa yang kini menjadi bajingan, aku yang ada dalam kehidupan, atau mungkin kehidupan itu sendiri?

Share:

Senin, 28 Agustus 2023

Manusia yang rapuh terhadap persepsi, runtuh dalam amuk tragedi

Dunia memang begitu penuh anomali, bukan? Kepala manusia pun demikian. Tragedi-tragedi yang ada untuk dihadapi, kebanyakan gagal untuk dikemas sebagai kado terbaik yang jadi kejutan untuk kemudian hari. 

Penyesalan-penyesalan yang begitu brengsek, dengan sukarela diambil untuk diemban dalam sebuah pikiran, seolah kedewasaan sedang diuji dari masalah yang diambil untuk dihadapi. Kenyataannya tidak seperti demikian, bukan?

Dalam larut waktu yang diterima oleh banyak insan manusia, dialog-dialog hampa tercipta dengan atau tanpa makna.

"Emang apa sih alasan yang sebenarnya ngebuat lo terus-terusan ngerasa gagal?" protesnya terus-terusan kepadaku setelah melalui obrolan panjang yang berusaha kualihkan, tetapi tetap saja tak terindahkan.

"Lo mau gue jawab?" sahutku kemudian.

"Ya, nggak harus. Tapi seenggaknya lo enggak harus terus-terusan jadi merasa bersalah," 

"Kalau emang sebenarnya gue salah?" selaku dengan cepat.

"Enggak. Kesalahan yang lo bawa, itu cuma persepsi yang lo bentuk. Justru dengan,"

"Nggak usah nasehatin gue deh, udah basi." Aku langsung memotong ucapannya, kemelut emosi yang memenuhi isi kepala tertahan rapi untuk tidak muntah begitu saja.

"Terserah lo mau nganggapnya apa, gue cuma mau bilang, selama lo masih ngebawa pikiran-pikiran buruk tentang masa lalu, lo enggak akan pernah bisa maju sebaik diri lo di hari ini."

"Gue nggak pernah bawa pikiran buruk tentang masa lalu," timpalku masih menyangkal ucapannya.

"Itu yang lo kira, yang lo pikir, yang lo anggap. Emangnya lo nggak ngerasa? Selama lo masih terus bersedia untuk merasa gagal, lo nggak pernah punya keberanian untuk menghadapi semua yang udah lo mulai, termasuk kita."

Sempurna sudah diriku mematung atas semua ucapan yang tidak bisa aku bantah lagi, sebisa mungkin logika terus mencari celah untuk membenarkan apa yang telah aku pilih, tetapi hati terus berontak pada orang yang sedang ada di hadapanku ini.

"Gue enggak pernah ngerasa gagal, gue cuma ngerasa belum cukup beruntung untuk mengontrol situasi yang ada, termasuk kita," paparku melanjutkan ucapan yang terasa masih tertinggal di kepala, sementara di kepalanya telah menentang semua dialektika ucapan yang telah aku lontarkan.

"Terus, kalau emang lo masih ngerasa belum cukup beruntung, apa ketemu sama gue termasuk salah satu di antaranya?"

Hening. Detak arloji yang terus berputar mendadak terdengar samar, semilir hembusan angin bersenandung lewat indera pendengaran. Pertanyaan yang tidak pernah aku duga sama sekali untuk keluar dari mulutnya, pada akhirnya benar-benar aku terima sebagai pertanyaan, dan sekarang aku menambah satu kebingungan baru untuk menghadapi situasi sekarang.

Kedua mata kami saling bersitatap, kemelut ego dari masing-masing jiwa memeluk raga untuk meminta pertanggung jawaban, gurat di wajahnya menyemai banyak ketulusan, manik matanya yang teduh memancarkan luasnya kepercayaan, lantas apakah aku masih layak menganggapnya sebagai keberuntungan yang tidak menyempurnakan? Tuhan, aku tidak ingin terjebak oleh banyak situasi yang membuat aku tersesat kepada diriku sendiri, apalagi jika harus membawa orang lain di dalamnya, lirihku bergumam dalam hati.

"Cukup ya, nyalahin diri sendirinya. Enggak apa-apa kalau emang butuh waktu buat tenang, tapi janji harus tetap bangkit. Ini bukan cuma sekali kita hadapi, tapi udah yang kesekian kali. Jadi jangan terus ngulang hal yang sama, ya." Ucapannya lirih terdengar dari balik tubuhku, tanpa sadar ia telah berada di sana untuk meredam amarah panjang ini, dan aku dengan turut serta menyandarkan wajah di puncak kepalanya, membelai lembut rambutnya yang mengisi sela-sela jemariku, menyemai semua bentuk ketenangan yang luruh dalam satu waktu yang sama.

Share:

Minggu, 06 Agustus 2023

Keparat cilik yang licik

Masing-masing orang punya posisi, masing-masing orang punya tragedi, dan masing-masing orang punya solusi, tinggal bagaimana dinamika yang kita lakukan berjalan sesuai konsistensi sebuah pilihan. 


Di mata orang yang mengerti segalanya, justifikasi menjadi panggung utama dalam membela diri. Egosentrisme yang dipelihara memainkan peran dengan sebaik-baiknya, menjadikan semua hal yang berbeda sebagai kesalahan yang tak terbantahkan oleh realita. Karena semua perihal bijak adalah isi kepala yang mengerti banyak hal dari seisi dunia, kiranya.


Sadar sama semua cetek yang diri alami atas sebuah justifikasi, aku menolak mentah perihal persepsi yang saling tumpah. Ketimbang terus memaksakan arus, lebih baik tenggelam jauh ke lubuk paling dasar yang sulit terjamah oleh apapun itu.


Bahkan saking sadarnya sama semua omong kosong diri yang tidak dihargai, membuatku jauh lebih lapang atas tenang ketimbang dijustifikasi. Sebab aku tidak pernah menempatkan kompetisi sebagai sebuah persaingan, sekitar aja yang begitu rentan mengambil kesimpulan dengan demikian. Padahal yang menyulitkan dari hidup kan pilihan-pilihan yang kita ambil dari sebuah perbandingan, tapi tetap aja ngotot memilihnya sebagai keputusan. Ujung-ujungnya pasti akan selalu ada korban untuk dijadikan sebaai ajang kesalahan yang digaungkan.


Karena ironi paling dekat dari hidup manusia, adalah orang-orang yang kita tempatkan rasa percaya di dalamnya. Namun, realita atas hidup dan waktu yang berlalu, tidak menunjukkan hasil apa-apa, selain harapan yang rapuh atas kecewa yang begitu penuh.


Apa yang bisa kita harapkan dari orang lain? Bisa saling silaturahmi aja udah syukur. Ketimbang merelakan ego berperang untuk merebutkan kemenangan, lebih baik tidak ikut terlibat jauh dari semua masalah yang berlabuh. Pasang topeng terbaikmu pada dunia dan sekitarmu yang begitu rentan menginjak nilai-nilai yang selama ini kamu bangun, dunia memang dipenuhi oleh keparat cilik yang merasa mahir memainkan posisi. Dengan begitu, kau aman di balik semua kepolosan yang kemudian berhasil kita tertawakan.


Tawa yang tercipta dari sebuah realita tentang ironi manusia, atas kosong yang menjelma makna dalam ruang hampa, bagi diri yang runtuh dalam amuk logika. Karena, toh siapa yang rela, kalau sudah begini ceritanya?

Share:

Rabu, 19 Juli 2023

Ketika harapan dalam bereksistensi menunggangi atensi sebagai validasi

Kenapa sih "need someone to talk" yang dikejar-kejar oleh banyak orang tuh jatuhnya jadi kayak obsesi? Emang sekrusial apa sih peran someone to talk tuh sampai ngebuat kita ngebet untuk ngejar atensinya? Ngerti, kadang buat beberapa orang, untuk meringankan penderitaan yang dialami, kita bisa meluapkannya dengan cara bercerita sama orang lain. Tapi emang harus demikian? 


Kalau emang cara terampuhnya seperti itu, artinya kan kita masih bergantung sama orang lain. Walaupun di satu titik kesadaran, kita bisa menghadapinya sendirian, tapi harapan kita untuk menginginkan someone to talk itu masih ada, kan?


Selama kita masih menggantungkan penderitaan itu sama harapan kita ke orang lain, kita berpotensi gagal menjadi manusia yang merdeka atas diri kita sendiri. Kita kehilangan pilihan untuk menghadapi dan menyelesaikannya sendirian, kendati pikiran untuk menghadapinya memang ada, tetapi harapan yang tumbuh dengan mengharapkan kehadiran orang lain justru membunuh upaya terkuat kita dalam menghadapinya secara mandiri.


Meskipun mungkin pernah di antara kita semua terbesit untuk pasrah atas realita yang kita hadapi bahwa ternyata kita enggak semudah itu dalam menemukan seseorang yang pantas untuk sekadar berbagi cerita, sehingga kita menjadi sukarela untuk menerimanya dengan kesendirian kita dengan masih membawa redaksi "need someone to talk" itu tadi dengan kesan yang sepertinya juga masih memuat harapan. Namun, upaya terbaik yang berhasil dihadapi setidaknya telah mencukupi kebutuhan diri.


Sadar nggak sih kalau kita ngebuka peluang dialog sama orang lain, bahkan sekadar ngobrol sederhana atau sesepele mungkin, otomatis kita melibatkan dua isi kepala yang berbeda dalam satu pembahasan, pun enggak ada yang dibahas, obrolan tersebut pastinya melibatkan dua orang, kan? Ngerti kan poinnya? 


Sebenarnya nggak ada yang salah, semua orang punya hak masing-masing dalam membutuhkan apapun atau siapapun, tapi penekanan ingin dinotice dan berharap dikasih atensi dari "need someone to talk" itu, ngebuat kita membuka peluang harapan yang sepaket sama kekecewaan. Dan ironisnya, harapan itu diperbesar sama kemauan kita sendiri; yang cowok ngarepin punya someone to talk ke cewek, dan yang cewek juga ngarepinnya punya someone to talk ke cowok, bahkan bisa jadi ditambah dengan standar-standar harapan lainnya. Padahal, kan, enggak harus njing! Orang dari awal redaksinya "need someone to talk", jangan malah dipersempit sama harapan kita sendiri. 


Terus, kalau akhirnya kita nggak ketemu? Yang ada kita malah berhadapan sama realita yang ngebawa kita pada keinginan "need someone to talk" itu tadi, tetapi dengan kenyataannya yang enggak ada siapa-siapa, dan kita masih sendirian. Niatnya mau memperkecil penderitaan, eh kita malah menambahnya dari sisi lain. Makanya kesulitan banyak orang buat mengenali dirinya sendiri, menjadikan mereka sesulit itu untuk berdialog sama dirinya sendiri. 


Sudah jadi hal yang lumrah kan kalau generasi anak muda zaman sekarang tuh rentan sama segala penderitaan, entah itu dari kekacauan pikiran, depresi, gangguan kecemasan, atau berbagai instrumen mengecewakan lainnya. Nyadar nggak sih penderitaan yang kita alami itu triggernya karena apa? Pun tau penyebabnya, emang kita punya pilihan untuk berdamai sama situasinya? Atau keberanian untuk menghindarinya, emang kita punya kesadaran untuk itu? 


Ada banyak hal remeh-temeh di dunia ini yang berpotensi untuk mengecewakan kita, dan kita juga bisa sekaligus mengidentifikasi hal-hal tersebut sebagai solusi dalam menghadapinya dengan setiap sesak yang bangsat itu. Jangan mau kalah sama situasi yang ngebuat kita lemah, berontak dengan damai karena sadar sama pilihan yang kita ambil tanpa mendestruksi diri kita sendiri.

Share:

Rabu, 12 Juli 2023

Omong kosong cinta, patah hati, dan mati rasa yang penuh dengan anomali

Rasanya saya sudah cukup muak untuk membicarakan hal ini berulang kali. Namun, keresahan untuk membahas perkara ini tidak akan pernah tuntas. Maka saya akan tetap hadir dalam berbagai dimensi, dalam berbagai tipe dan aspek tema yang sama, namun di resah yang berbeda.


Bicara soal omong kosong, apa yang sesungguhnya cinta berikan untuk manusia? Mungkin ini kedengarannya akan cukup relatif dan juga fleksibel, karena setiap orang akan mendefinisikannya dengan cara yang berbeda-beda, tetapi dengan tetap bersandar di tempat yang sama. Maka omong kosong soal cinta, itu sebenarnya tidak ada. Tidak pernah ada yang omong kosong jika itu berbicara cinta, tetapi akan selalu ada banyak omong kosong yang lahir dari kepala saya mengenai cinta, dan itu membuat saya menghukumi setiap fase yang saya lihat dengan ambigu. Mungkin ini kedengarannya seperti saya yang terusik dengan hal-hal tersebut, seolah-olah saya seperti menghakimi orang lain yang sedang kasmaran dengan cinta yang ada di hatinya. Namun, bukan di situ poin utamanya, tetapi pada patah hati dan mati rasa yang kemudian diromantisasi manusianya.


Setiap orang yang memulai pilihannya dalam menjatuhkan cinta, maka kesiapan mengenai patah hati dan mati rasa justru harus ikut serta. Anomali-anomali yang didapatkan seseorang ketika sedang kasmaran justru membutakannya pada banyak kesiapan. Dengan dalih support system, mereka berlindung di balik pembenaran yang tidak mau membuat mereka menjadi kesepian. Ini bukan soal iri apalagi dengki, beberapa orang yang terbuai dengan pasangannya atas nama cinta, justru digeneralisasi dengan perasaan bahagia.


Masuk ke persoalan patah hati, tidak berbeda dengan orang kasmaran. Saya sering mendapati orang-orang yang patah hati dan justru berorasi dengan statement-statement yang mengatasnamakan bijaksana sebagai dalih utama untuk menjustifikasi pengalaman buruk yang pernah dialaminya. Bahkan orang-orang yang sedang berada di fase patah hati ini akan mendadak menjadi seorang intelektualis yang membuka opini-opininya dengan berangkat dari pengalamannya.


Mengenai mati rasa yang justru memiliki sekat tipis dengan patah hati, orang-orang yang merasa mati rasa karena cinta ini biasanya cenderung menutup diri dengan dalih trauma. Kesedihan-kesedihan yang dirasakannya perlu suatu validasi dengan objektivitas yang dinilainya mampu membuat diri lega. Dari mati rasa, biasanya seseorang cenderung memiliki banyak peluang untuk menikmati waktu dengan dirinya sendiri. Dalam opini saya, beberapa orang mungkin juga mengutuk pengalaman pahitnya sehingga ia sampai di titik mati rasa ini. Alih-alih mengambil makna dengan serangkaian momen pahitnya dengan bijaksana, atau membenahi segala hal yang selama ini telah menjadi satu kesalahan. Justru malah rasa berontak dan tidak terima yang menggelora dari lubuk hatinya, kendati kenyataannya saya tidak menemukan faktanya, dan bukan berarti pula bahwa ini adalah pengalaman saya.


Dari mati rasa ini pula yang kemudian membuat orang-orang menggeneralisasi sudut pandangnya dalam melihat sesuatu, karena berangkat dari trauma tersebut akhirnya mereka menjadi lebih idealis dengan pilihan beraninya untuk melanjutkan hidup menggunakan tembok tertinggi yang sukar ditembus. Namun jika itu kembali menyangkut ke tipe orang yang disukai, kendati berdalih belajar dari pengalaman, bisa jadi benteng tinggi itu akan runtuh, dan lingkaran setan itu kembali terulang.


Sebegitu kosong dan hampanya diri kita sampai-sampai memuat orang lain sebagai salah satu peran dalam membentuk harapan bernama bahagia dari diri kita, padahal ironinya manusia, kan, untuk menciptakan kebahagiaannya sendiri aja begitu penuh anomali. Kendati berargumen dengan saling melengkapi, emang selama ini kita sudah benar-benar mencukupi diri kita sendiri, gitu? Sampai akhirnya punya keberanian untuk memilih orang lain sebagai peran dalam pertukaran saling melengkapi.

Share:

Kamis, 06 Juli 2023

Pola pikir gengsi yang merusak asumsi

Dengan seluruh persepsi dan justifikasi orang-orang tentang semua keenakan hidup yang saya poles sedemikian rupa untuk membentuk citra karakter dari story yang sifatnya ilusi, kiranya saya sudah cukup siap untuk menerima penghakiman dari segala segi. Entah itu dari narasi paling familiar, "Kamu mah hidupnya enak." Sampai narasi paling intimidatif yang bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana orang-orang mempersepsikannya. 


Enggak apa-apa, enggak salah mereka mengira demikian, toh yang saya haturkan pada media maya adalah citra yang tidak sesungguhnya, yang bahkan jika dinilai dari segi apapun, ya semuanya adalah high value yang tiada tanding bagi segala gengsi yang bersanding. Saya juga tidak berdalih apa-apa, saya juga tidak merasa tersinggung atau disinggung, justru saya menerimanya dengan penuh kerelaan, karena itulah kesiapan yang saya bentuk atas justifikasi manusia terhadap segala persepsinya.


Ngerti---yang enggak bakalan bisa diterima orang lain sebagai pengertian hingga lantas menolak mentah-mentah apa yang saya mengerti---manusia tuh punya kondisi hidup yang berbeda-beda, akan menjadi problem kalau dibanding-bandingkan, tapi saya enggak pernah punya pilihan untuk membandingkan, karena yang paling buruk dari segi kategori, adalah membandingkan apa yang tidak seharusnya dibandingkan untuk dijadikan pilihan.


Justru sebenarnya saya sedang menjalani apa yang saya pilih, kendati pilihan saya bagi orang lain adalah memenuhi gengsi, tapi saya tidak menganggap demikian karena memang yang saya temukan adalah kenyamanan dan titik berangkatnya berasal dari kemauan. Persoalannya bukan hanya sesepele gengsi, tapi kerelaan merangkai situasi yang jika ketika kita memilihnya, kita masih akan membandingkannya dengan yang lain, serta terobsesi untuk terus berupaya memilihnya, itulah yang sebenarnya gengsi. Dan sebenarnya saya tidak pernah menganggap wah, atau istimewa sesuatu, karena semua memang wajar sesuai porsinya.


Ketika beberapa orang bertengger dalam sebuah branding atas kedaulatan pilihannya tanpa perbandingan, ya pastinya tidak ada permasalahan, tidak ada yang dirugikan. Nyinyiran orang lain juga tidak lantas membiayai gaya hidup yang katanya mentereng itu, kendati gaya hidup mentereng perlu modal. Namun, berangkat dari membandingkan kapasitas diri untuk menggapai semua hal yang mentereng dengan memaksakannya lewat perbandingan dalam suatu pilihan, itu sama sekali enggak akan pernah jadi jawaban. Gaya hidup mentereng bukan validasi sosial, kendati yang dianggap dari gaya hidup mentereng adalah semua hal yang berbau gengsi. Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah perihal kemauan dalam melakukan pilihan tanpa harus membandingkannya lagi.


Lantas, apakah hidup saya enak? Tentu saja, dari semua pencitraan yang saya bentuk, hidup saya enak untuk sebuah cerita satu hari yang saya bagikan di media sosial, dengan segala polesan yang begitu ciamik, dan komparasi yang meningkatkan segala nilai kementerengan yang ada di cerita tersebut. Hingga menginjak hari berikutnya, saya tidak lagi memiliki bahan untuk membagikan hal-hal mentereng seperti yang saya bagikan sebelumnya di hari kemarin. Bukan karena saya tidak mampu untuk kembali melakukannya, tapi karena saya tidak memaksakan untuk itu, saya hanya memilihnya untuk satu situasi tertentu yang saya inginkan begitu. Seperti itu, kan, hidup enaknya saya?

Share:

Kamis, 29 Juni 2023

Risalah Ngopi

Saya pertama kali memulai perjalanan ngopi dengan sebenar-benarnya ngopi sejak tahun 2019, waktu itu saya diajak oleh salah seorang teman untuk menikmati kopi di salah satu kedai kecil sederhana. 

Kalau saya tidak salah, dulu itu masih cukup sulit untuk menemukan kedai kopi sederhana yang menyuguhkan kopi hasil racikan dari biji asli, karena sejauh yang saya temukan saya selalu mendapati warung kopi yang menyeduh kopi sachetan.

Saya masih ingat betul pesanan saya pertama kali karena begitu penasarannya dengan menu kopi americano, bahkan lebih parahnya saya memesan kopi tersebut dengan varian dingin, bukan panas.
Perlu diingat, sebagai seseorang yang baru pertama kali mengecap rasa kopi dari biji asli, tentu saja lidah saya langsung merasakan tidak enak yang luar biasa, saya tidak bisa menemukan rasa enaknya untuk dinikmati dari kopi tersebut, karena sebelum-sebelumnya saya hanya menikmati kopi sachet dengan tambahan gula yang menyeimbangi rasa kopi tersebut. Kemudian saya bertanya kepada teman saya apakah memang rasa kopi yang saya pesan ini memang demikian? Teman saya langsung menyambar gelas kopi milik saya lalu meminumnya, kemudian dia berucap bahwa memang rasanya seperti itu dan rasanya benar-benar pas. Karena sudah terlanjur memesan seperti itu, mau tidak mau saya harus bisa menghabiskannya. Memang selalu ada penolakan di lidah saya pada awalnya ketika meminum kopi tersebut. 

Di lain waktu, saya kembali mendatangi kedai kopi tersebut dan mencoba untuk memesan kopi susu sebagai penyesuaian di lidah saya, dan benar saja jika kopi susu yang saya rasa itu sungguh jauh berbeda sebagaimana kopi susu yang biasanya saya minum dalam bentuk sachetan. Pahit dan manisnya benar-benar beradu di lidah, tidak lantas salah satunya mendominasi.


Lambat laun, seiring berjalannya waktu, lidah saya mulai terbiasa dengan cita rasa kopi yang sesungguhnya, yang berada jauh di luar jangkauan oleh pengaruh gula. Cita rasa kafein yang dikecap oleh lidah menuju lambung, membentuk suatu dialektika terindah dari dalam kepala, beberapa hal terasa lebih ringan untuk dipikirkan bahkan direnungkan. Tetes demi tetes regukan yang lewat dari tenggorokan, menjadi salah satu opium dalam mencerna banyak pengertian.

Sejak saat itu, saya jatuh cinta secinta-cintanya pada kopi, dengan batas-batas yang diciptakan oleh tubuh, juga cita rasa yang lahir, tidak pernah alpa dari tiap gelas yang terseduh. Hingga kapan pun, ketika saya perlu mengurai benang kusut di kepala, kafein akan menjadi jawaban paling sederhana dengan sederet bacaan-bacaan yang saya suka. Kiranya memang demikian, kafein dan nikotin yang sesekali saya sulut lewat mulut, menjadi salah satu simfoni paling maknawi di tiap rangkaian nada bicara yang berbunyi.

Dalam beberapa kejadian, saya sering menulis perihal kopi yang menjadi teman penenang paling diam, di balik kepekatannya yang paling purba dan melampaui banyak masa. Ada banyak rentetan huruf yang merangkai serpihan kalimat menjadi utas tulisan paling lugas. Sebagaimana Usman Arrumy menitahkan surah kopi pada puisi, pun demikian dengan aku yang lancang mengikuti beserta kejahilan diri. Begini aku menuliskannya;

Pada lampu-lampu kota yang berjejer rapi

Kulihat di ujung bangku jalan, kekasihku tengah duduk sendirian
Isi kepalanya tengah bercengkerama pada sepi
Berdialog syahdu bersama secangkir kopi

Manakala kopi menjelma waktu
Aku akan hangus terbakar oleh rindu
Sebab kopi adalah sebuah detak
Bagi rindu yang membuat diri berontak

Manakala kopi menjelma sunyi
Aku akan terjebak dalam keheningan
Hening yang menjelma suara
Saat sepi menjelma aksara

Tatkala kekasihku telah menuliskan puisinya
Maka sejauh itu pula kehidupan tak kunjung nyata
Hening dan sepi yang kekasihku rasa
Hanyalah perjumpaan kami yang paling purba;
Berupa kata-kata

2019

Kopi-kopi itu adalah napas kehidupan bagi kata-kataku, ketika debar di dada sedang berdenyut menyebut namamu.

2020

Bahkan lebih jauh dari itu, karena berbasis kutu buku yang gemar membersamai bacaan dengan kopi, saya sempat menulis sebuah narasi seperti ini;
Secara sederhana, hubungan antar kopi dan buku bagi para pembaca adalah sekadar untuk melepas kantuk saat mata sedang khusyuk menyelami kata-kata. Namun lebih jauh dari itu, makrifat kopi adalah makna, saat mata melaksanakan syariatnya tatkala membaca. Dan kata-kata hanyalah tarekat, bagi sepasang mata yang mengais makna dalam sebuah hakikat.

2020

Di tahun 2019 saya mempunyai satu projek naskah untuk dibuat buku, ketika saya sudah terbiasa nongkrong di kedai kopi tersebut, saya mencoba mencari suasana baru dengan mencoba menulis di sana, dan saya benar-benar sendirian. Tahun-tahun tersebut masih menjadi tahun yang ideal untuk seseorang yang terbiasa sendiri ini, menikmati waktunya dengan penuh kedamaian, pun orang-orang sekitar yang kiranya sama seperti yang saya lakukan.

Selain dengan tempat yang berbeda, tulisan tersebut kini menjadi salah satu bagian dari isi yang saya masukkan di dalam buku pertama saya yang berjudul "Memeluk Duka". Transisi tempat yang saya pilih jelas saja karena perbedaan harga yang jauh lebih terjangkau dan utamanya karena rasa yang jauh lebih berbeda, ditambah bonus dengan barista yang sangat ramah sehingga dapat membentuk satu obrolan berarti perihal kopi.

Selain terbiasa sendiri untuk barang kali menulis dengan nuansa coffeshop sederhana, saya juga banyak menghabiskan waktu sendiri saya di tempat kopi sembari membaca buku.

Tatkala buku pertama saya selesai terbit, media informasi dunia sedang gempar memberitakan bahaya pandemi covid-19 yang muncul di Wuhan dengan segala dampaknya. Dua bulan kemudian Indonesia resmi melakukan Lockdown atas paparan pandemi yang mulai menyebar luas, tatkala itu juga tempat saya biasa menikmati kopi dibatasi penjualannya.

Namun ada satu, kedai kopi langganan saya yang pernah begitu saya banggakan dulunya, musabab karena pemiliknya yang begitu ramah dan enak diajak berbincang, hingga waktu yang dilalui menjadi tidak terasa panjang.
Bahkan sebagai bentuk apresiasi sang pemilik kedai, beliau berkenan memajang buku pertama saya di salah satu rak buku yang dapat dibaca secara umum oleh para pengunjung yang datang ke kedai kopinya. Sebuah kebanggaan yang cukup berarti dalam proses saya berkarya.

Di lain waktu saya juga terbiasa mencoba mencari suasana baru tentu dengan rasa kopinya dengan mengunjungi kota tetangga dari tempat tinggal saya, dan itu benar-benar menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Begitulah dinamika kafein pada kopi yang mampu menjadi teman terbaik untuk menjalani sebuah hari.
Tatkala malam tiba, lalu pergi menyambangi kedai kopi langganan saya untuk barang sejenak menyeruput satu atau dua gelas kopi dengan percakapan isi kepala yang tidak jelas, kemudian pulang kembali dengan semua tenang yang tiba-tiba terhimpun rapi.

Hingga semakin jauh waktu berlalu, semakin momentum diadu. Rangkaian-rangkaian ketenangan yang dulunya terhimpun mesra, runtuh dalam amuk tawa yang tumpahkan suara sekencang-kencangnya. Manusia memang sebegitu menderitanya, dan kita memang akan memilih satu tempat terbaik bagi segala penderitaan untuk bertandang, mengusir segala sesak yang dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan keresahan.

Dengan demikian, gaduh dan berisiknya isi kepala orang lain yang tumpah di mana-mana, tidak sebanding dengan apa yang tengah saya upayakan dari isi kepala untuk tidak sembarang menumpahkan segalanya. Perlahan-lahan saya tergerus oleh banyak momentum yang dikalahkan oleh kuantitas, segala hal yang mudah didapat memang akan selalu jadi panggung perebutan paling hebat, ya?
Hingga di satu titik, saya menemukan satu kenyamanan paling mesra bagi tenang yang berkontemplasi pada isi kepala, memilih tempat yang tidak semua orang rela memilihnya, menjadikan kemampuan saya dalam menjalaninya dengan penuh rela. Sebab memang segala tenang dan nyaman itu mempunyai harga yang harus dibayar oleh segala pilihan yang kita ambil dengan semua resikonya. Karena bagi seseorang yang terbiasa sendiri, tempat terasing yang katanya bergengsi akan menjadi pilihan yang layak diamini. Kendati setelahnya, hidup saya akan habis-habisan dijustifikasi.
Share:

Jumat, 23 Juni 2023

Mengalihkan penderitaan yang tak sepadan dari realita yang diharapkan

Aku yang sedari tadi sudah dengan perasaan curiga, mencuri pandang ke arah tangannya yang ditutup menggunakan hoodie panjang, lalu aku memberanikan diri untuk menarik lengan hoodie tersebut hingga kemudian terlihat jelas apa yang saat ini dia sembunyikan. "Kapan terakhir kali lo lakuin ini?" ucapku langsung menodongkan tanya padanya.


"Maksudnya apaan?" Dia masih berusaha berkilah untuk tidak mengakuinya sembari kembali menutup pergelangan tangannya, walaupun bukti nyata sudah dengan jelas ada di depan mata.


"Kalau emang lo nggak bisa berhenti buat self harm karena sesaknya penderitaan lo, minimal berhenti karena lo emang sayang sama gue. Gue ada buat lo, karena gue mau dengerin semua penderitaan lo, gue mau lo ngerelain penderitaan lo itu untuk ada dan lo hadapi, tapi nggak dengan cara yang kayak gini." Aku mengelus pelan kedua tangannya yang masih tersisa bekas goresan luka, pedih sekali rasanya harus merasakan bekas luka itu berada di tangan mungilnya.


"Gue nggak bisa nyatuin itu, itu dua hal yang berbeda, dan lo nggak akan ngerti," timpalnya dengan nada suara serak dan sesak yang bisa aku rasakan. Sulit memang jika harus mengungkit kembali rasa sakitnya yang sudah dilalui untuk jadi pembicaraan lagi.


"Really, gue nggak ngerti? Gue juga pernah ngalamin hal yang sama, gue juga pernah self harm. Lo lupa? Kita dipertemukan karena apa? Karena badai yang sama-sama kita hadapi, kan? Masalah-masalah yang kita limpahkan untuk ditertawakan, bukan? Tapi kenapa akhirnya lo mendadak kalah begini?" imbuhku dengan rentetan tanya yang tak bertuan.


"Gue nggak kalah, justru gue lagi bertahan." Nada suaranya agak meninggi, tetapi diiringi oleh rasa sesak yang masih dicoba untuk ditahannya.


"Dengan cara apa?" lirih gue pelan berusaha mengontrol emosi.


"Yaa itu," jawabnya cepat dan gamblang.


"Itu bukan bertahan, sayang. Itu kalah sama keadaan. Lo mengorbankan diri lo dengan asumsi bahwa lo memenangkan penderitaan itu, padahal kenyataannya enggak, lo hanya mengalihkan rasa sakit itu menjadi wujud nyata."


"Tapi cuma itu yang bisa gue lakukan, cuma itu yang bisa buat gue bertahan, dan cuma itu cara yang bisa buat gue masih ingin punya alasan untuk ketemu sama lo."


"Nggak, sama sekali nggak, lo salah." tukasku seraya menggelengkan kepala sembari memejamkan mata, kemudian beralih tempat duduk ke sampingnya seraya memegang kedua tangannya yang jelas sekali ada bekas irisan luka yang masih tersisa. Benar-benar pedih rasanya jika harus merasakan luka itu ada di tangannya karena penderitaan yang dia alami.


"Dengerin gue please, dengan sangat banget ini gue mohon, gue minta sama lo, please, berhenti untuk self harm, bisa?" pintaku dengan nada lemah sembari mendekatkan kepalaku ke hadapan wajahnya, tanpa aku sadari kedua pipinya sudah dibasahi oleh isakan tangis yang sejak tadi dia tahan, pertahanan dia kembali runtuh, dan aku kehilangan upaya untuk kembali menguatkannya.


"Please ya, gue mohon banget sama lo, gue minta sama lo, berhenti untuk self harm. Kalau lo nggak bisa berhenti karena penderitaan yang lo rasakan, minimal berhenti karena rasa sayang lo sama gue, apapun itu. Lo nggak mau kan, ngelibatin rasa sakit lo ini ke orang lain, apalagi gue, yang udah tau apa yang lo lakuin selama ini?"


Dia masih bergeming dengan isak tangisnya, kedua pipinya tak henti-hentinya dialiri oleh bulir air mata. "Please, bisa ya?" sekali lagi aku memohon dengan sangat kepadanya.


"Gue akan usaha," dengan terbata-bata dia menjawab permintaanku, dan seketika itu pula tubuhnya jatuh di pelukku.


Upaya self harm yang dilakukan oleh seseorang karena ingin mengalihkan rasa sakit, menjadikan orang-orang terdekatnya akan ikut terlibat dalam penderitaan tersebut. Badai yang ada di hidupnya, masalah-masalah yang ada di hidupnya, dengan penuh hati ingin kupayungi semua realitanya dengan suka rela, meski pias badai beserta penderitaan panjang itu akan tetap menerpa. Namun, ketakutan akan rasa sakit, lebih dulu sirna oleh keberanian-keberanian yang pernah kita rangkai untuk bangkit. 

Share:

Senin, 12 Juni 2023

Terpapar anxiety dari self diagnose yang berujung ilusi

Kekuatan media sosial dalam meromantisasi segala penderitaan tuh jadi ngebuat kita tervalidasi dan rasanya bisa jadi menenangkan gitu ya. Mungkin ini bisa jadi nilai positif, tapi kok makin ke sini pembawaan yang dikemas rapi dalam sebuah konten dengan mengusung konsep penderitaan, rasa-rasanya kayak cuma jadi permainan atau pamer situasi dengan elegan, dan utamanya bisa jadi mengandung keinginan untuk dinotice tanpa menggunakan cara yang norak. 


Tanpa bermaksud untuk menghakimi, apalagi menyudutkan seseorang yang memang mempunyai gangguan mental, tulisan ini saya buat semata-mata untuk menggambarkan penafsiran saya tentang imitasi yang diangkat dan dikemas oleh orang-orang di media sosial dengan effort yang begitu potensial. Dan kayaknya emang konsep mengenai penderitaan tuh adalah jalan pintas paling memudahkan ya, buat memvalidasi kekacauan pikiran dengan begitu elegan. Dengan begitu, kita bisa menarik simpati orang lain dan membuat mereka berbaur dengan kita melalui rasa kasihan yang berhasil kita dapatkan, sehingga energi untuk berbagi jadi meluap-luap sebagai obsesi. 


Fenomena anxiety ini sebenarnya menjadi persoalan yang cukup serius dalam ranah psikologi, anxiety sendiri merupakan gangguan kecemasan berlebih yang dihasilkan oleh stimulus dalam otak kita berupa pre frontal cortex dalam merespon kecemasan tersebut secara alami, hal ini ditandai dengan detak jantung kita yang menjadi berdebar lebih kencang, dan itu tidak bisa dimanipulasi. Maka yang bisa kita lakukan adalah menyadari rasa cemas tersebut karena itu adalah hal yang wajar. Namun, kalau kecemasan ini sudah sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari dan membuat kita tidak nyaman secara fisik apalagi psikis, maka sangat dianjurkan untuk mencari bantuan profesional untuk menangani hal ini.


Nah, permasalahannya, dari beberapa pemicu yang telah disebutkan melalui asal kecemasan tadi, kita sering kali malah mendiagnosa diri kita bahwa kita sedang mengalami anxiety. Memang bahwa pengakuan anxiety yang kita alami itu sangat tidak menyenangkan, terlalu kacau, ditambah dengan pikiran-pikiran berlebihan yang berdampak pada kesulitan tidur. Sehingga membuat kita yakin bahwa kita tengah terpapar anxiety dengan argumen-argumen data yang telah kita ketahui. Namun, jika dengan demikian kita memang merasakannya, apakah sebenarnya hal itu berpengaruh pada aktivitas kita sehari-hari, atau cuma sekadar datang ketika kita memang terlalu berlebihan dalam memikirkannya? 


Tentunya hal tersebut bisa dijawab oleh diri kita masing-masing yang merasakannya. Namun, poin pentingnya adalah, anxiety tidak sesederhana perasaan cemas, kacau, dan berantakannya isi kepala kita yang datang hanya di saat kita tengah menyadari dan memikirkannya. Anxiety ini justru lebih dari itu, dia merupakan gangguan kecemasan yang bahkan ketika kita tidak memikirkannya, kita justru sedang mengalaminya, dan itu memicu kepada kondisi fisik yang sangat tidak nyaman dan mengganggu pada kehidupan sehari-hari, hingga bisa memicu kita pada serangan panik akibat kecemasan yang berlebihan tadi.


Maka dari karena itu perlu penanganan profesional psikolog untuk membantu menanganinya. Bukan malah mendiagnosa diri kita sendiri dengan gejala-gejala yang ada dan kita masih tetap bertahan di dalamnya. Namun, perlu digarisbawahi juga bahwa kita perlu mengapresiasi orang-orang yang masih bisa bertahan melawan pikiran-pikiran yang berlebihan tentang kecemasan itu. Bisa jadi bahwa anxiety yang kita anggap dari hasil self diagnose itu hanyalah ilusi dari kekacauan-kekacauan isi kepala kita yang berlebihan sehingga membuat pikiran kita menjadi tidak nyaman, padahal sebenarnya kita tidak sedang mengalami anxiety secara benar-benar nyata yang justru menjadi persoalan yang cukup berat. Kita malah jadi orang yang cukup kuat untuk bertarung dengan kekacauan pikiran kita dengan batas-batas kewajaran yang masih terjaga, kendati hal tersebut memicu sesak di dada, tetapi kita masih bisa melaluinya, dan hari-hari yang kita lewati masih sama seperti sebelumnya.


Poin seperti itulah yang harusnya disorot ketika pikiran tengah kacau, meski kadang kalut, kadang abu-abu, selama kita masih tetap bertahan atas rasa sakit itu, bukan menjadi alasan mengapa kita harus menggelar anxiety sebagai validasi atas rasa sakit yang kita alami. Karena selama kita masih bisa bertahan atas rasa sakit tersebut, meski semenderita apapun kita menghadapinya, kita belum benar-benar ada di situasi sebagaimana orang dengan penderita anxiety yang hidupnya bahkan lebih menyeramkan dari kita. 


Namun, orang-orang yang terkena anxiety atas dasar pertimbangan dari seorang profesional psikolog, bahkan hidupnya jauh lebih beruntung karena telah berani untuk berkonsultasi kepada yang benar-benar ahli, ketimbang kita yang hanya menggelar validasi atas sebuah story yang kemudian kita amini. Anxiety tidak sesepele itu untuk dijadikan pilihan, karena itu bukan jawaban, dan solusi terbaik dari semua rasa sakit, adalah tetap menerimanya meski semenderita apapun diri kita, karena semua tempat berpulang ada pada diri kita sendiri, pada semua keputusan-keputusan yang kita ambil dengan semua keberanian untuk berkonsultasi kepada yang memang benar-benar ahli atau hanya sekadar untuk mencari validasi.

Share:

Kamis, 01 Juni 2023

Manusia dan labirin di jiwanya

Untuk kepadatan waktu dari sekian banyaknya temu, akhirnya kita kembali menemui kesepakatan dari banyaknya wacana rungu. Pastinya, ini sama sekali bukan cetera romansa dua pasang manusia. Karena kita hanyalah paradigma yang dibentuk oleh praduga dari isi kepala manusia lainnya.

Sebenarnya pelik tuk bahasakan apa yang mendera dari balik rahasia yang kita ciptakan, tetapi isi kepala menyerah tuk simpan lebih lama lagi dari sudut ingatan. Maka, demi tunaikan hangat yang telah lama membeku oleh bias-bias temu, kukibarkan kembali kehampaan itu melalui cermin yang kutemukan pada sosok seorang hawa, nasib dua orang manusia dan beberapa manusia lainnya yang tidak bisa kujangkau keberadaannya. Namun satu, ada satu yang setara untuk sama-sama limpahkan duka dengan rela.

Percaya, manusia punya pahit masing-masing yang disesap oleh hati atas kejadian yang membuat kenyataan tak lagi berarti. Dan entah bagaimana, bias dari ceruk matamu yang kutemukan oleh duka yang sama tetapi dari rajut kisah yang berbeda, menjadi kelabu yang berkabung di tatapan yang sama. Kau melimpahkan tangis dengan tenang di bahuku, sementara aku tak sengaja tumpahkan sebulir bening dari kelopak mataku di puncak kepalamu. Kita sama-sama dirundung oleh waktu dengan peliknya kejadian yang benturkan banyak tanya, tetapi kita menghadapinya dengan segala duka yang terpendam oleh peluk yang saling menguatkan.

Alih-alih dari praduga manusia atas kasmaran, bahkan aku tak seperti menganggapmu sebagai seorang teman, sahabat, apalagi kekasih, kita selaiknya musuh yang tidak saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan pembenaran. Aku dengan segudang tanya yang tak dapatkan percaya dari harapan yang kubentangkan dengan panjang, sementara kamu dengan tembok besar yang tak bisa kamu hancurkan demi gapai sebuah harapan. Kita setara oleh hancur yang bentangkan romantika tanya, sedang detik yang punya jawab melalang buana pada setiap kepala manusia, dibiarkannya tersesat dalam labirin masing-masing jiwa.
Share:

Sabtu, 20 Mei 2023

Bias emosional manusia dalam bersosial media

Kerancuan banyak orang dalam mengomentari banyak hal sering kali terjadi oleh bias-bias emosional, sehingga di suatu wadah yang menampung kebebasan berekspresi, kehadirannya justru mengintimidasi


Begini, bias emosional manusia tuh kan paling sering terjadi dan tervalidasi adanya dari sosial media, dan kita semua punya kesempatan untuk merasakan hal itu. Nah, yang menjadi persoalan adalah, di tengah ledakan bias-bias emosional yang ada, kita kalap oleh sesuatu yang terbatas dari pemahaman kita. 


Ketika kita mendapati ada perbedaan pendapat dengan orang lain, dan kita tidak setuju dengan statementnya, atau bahkan sudah bisa dikatakan keliru. Ya, katakanlah seperti itu, sebagai analogi sederhana saja untuk menggambarkan bagaimana akhirnya bisa emosional itu tumbuh di benak kita. Sehingga akhirnya kita punya potensi untuk menyerang personalitas dia atas dasar kesalahan yang dia lakukan. Nah, penyerangan kita atas dasar potensi yang kita dapat dari kesalahannya, itu hanya akan memenangkan ego kita, dan itu tidak menjamin bahwa yang kita lakukan itu adalah hal yang benar. bisa menjadi selalu benar.


Makanya hal paling sulit untuk menolak perbedaan asumsi itu adalah ketika kita terlanjur melampiaskan bias-bias emosional itu ke ranah personal. Misal, ada orang yang sedang merasa marah atau kecewa, lantas dia mengeluhkan dan mengeluarkan unek-uneknya itu lewat sosial media menggunakan karakter tulisan yang dia punya, hasil keluhannya yang keluar itu kan bisa jadi cuma statement untuk memvalidasi perasaannya, nggak ada hubungannya sama personalitasnya. 


Jadi, ketika memang kita berbeda pendapat atas unek-uneknya yang berupa statement itu tadi, ya emang cuma statementnya aja yang nggak relevan sama hidup kita, bukan personalnya. Kita malah keliru dan keduluan memandang personalnya ketimbang membenahi statementnya.

Share: