Minggu, 17 Oktober 2021

Menemukan keindahan dari hal-hal kebiasaan

Semenjak saya mulai kuliah, saya menjadi terobsesi untuk mengalokasikan waktu-waktu menjadi produktif, dalam artian bahwa saya memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal lebih giat lagi dari sebelumnya. Terlepas dari tuntutan akademik tentunya. Kendati setiap saya belajar, saya merasa bahwa saya sedang memenuhi tuntutan akademik, tetapi saya menikmatinya karena ini perkara kemauan saya sendiri. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan tuntutan akademik, apalagi dibarengi dan dilabeli oleh ambisiusitas, tetapi hanya saya saja yang kurang enak dalam mengartikannya, apalagi mempersepsikannya. Bahkan dalam kasus ini, saya sangat bertolak belakang dengan makna dan arti ambisiusitas yang didambakan oleh banyak orang.

Kebetulan waktu-waktu kosong saya untuk melakukan me time hanya ada pada Sabtu malam, tidak seperti dulu-dulu ketika sebelum saya kuliah yang bahkan hampir setiap malam kalau saya mau, saya bisa keluar rumah dan menikmatinya. Pada Sabtu malam tanggal 16 Oktober 2021, seperti biasa saya selalu berangkat sendiri dari rumah, kebetulannya lagi pada malam itu saya sedang ingin menggunakan motor, biasanya saya selalu menggunakan mobil. Saya berangkat dari rumah menuju ke salah satu tempat makan sendiri, lalu menghabiskan waktu di sana hingga tempat tersebut ingin tutup.

Sebagai seseorang yang terkadang bisa menjadi introvert, saya biasanya akan menghabiskan waktu di sana dengan membaca buku atau menulis apa saja yang bisa saya tulis, dan hal yang saya lakukan saat itu hanyalah membaca, karena semakin ke sini saya semakin menyadari akan keaktifan saya menulis sudah sangat jarang. Bahkan ketika daily journal ini saya rilis, saya perlu mengumpulkan niat dulu karena setelahnya saya merasa perlu membagikan hal-hal yang saya temukan di kepala saya mengenai perjalanan ini.

Ketika jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:30 lebih, saya menghubungi seorang teman yang biasanya saya ajak untuk nongkrong bareng, barang kali saya bisa ngumpul bersama. Kalau pun tidak saya biasanya akan mencari tempat lain sendirian untuk bisa melanjutkan me time saya. Karena kebetulan saat itu dia mengatakan sedang berada di tempat angkringan teman saya, maka bergegaslah saya ke sana. Sesampainya di sana, ada 4 orang teman saya yang lainnya. Namun, saya tidak menemukan teman saya yang membuka lapak angkringan ini. Saya masih berprasangka bahwa mungkin dia sedang sibuk, karena kebetulan saat itu orang-orang di angkringannya sedang ramai pengunjung.

Hingga menjelang sekitar pukul 22:30, saya dapat kabar dari yang menjaga angkringan tersebut bahwa teman saya ini sedang ada kesibukan di daerah Barabai. Alhasil kami berlima yang biasanya akan begadang di situ bersama teman saya yang membuka lapak angkringan ini, menjadi kehilangan arah untuk menentukan tempat di mana nantinya menghabiskan waktu untuk menikmati malam.

Saya mengusulkan untuk mencari tempat nongkrong di daerah Banjarbaru. Karena cukup bosan juga rasanya kalau terus-terusan menjamah tempat nongkrong di daerah sendiri, maka dari karena itu sesekali saya mau mencoba ke tempat yang berbeda dan cukup membutuhkan waktu untuk sampai ke sana, apalagi ini sudah menjelang larut malam. Meski awalnya sempat ada perdebatan sesaat, tetapi setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya kami berlima sepakat untuk mencari tempat nongkrong di sana. Sekitar pukul 22:45, kami berangkat dari Banjarmasin. Di sini keputusan saya untuk membawa motor menjadi tepat karena kebetulan kami berlima. Biasanya kalau saya sedang bawa mobil, saya biasanya cuma membawa dua orang teman dekat saya, atau bahkan terkadang mereka sama sekali tidak saya ajak, jikalau kebetulan saya memang sedang ingin sendiri.

Karena di tengah perjalanan kami menempuh dengan kecepatan sedang, akhirnya kami baru tiba di daerah Banjarbaru pada pukul 23:30, itu pun harus dipenuhi oleh drama dengan tempat tujuan yang sudah mau tutup. Karena memang jam kami tiba di kota tersebut sudah cukup larut. Namun, kami tidak menyerah begitu saja untuk menentukan di mana tempat yang masih buka dan bisa melayani kami. Hingga akhirnya kami menemukan salah satu tempat kopi yang ada di sekitar bandar udara Syamsuddin Noor.

Yang unik dari keinginan saya untuk memilih Banjarbaru sebagai tempat kopi adalah, karena saya mendapati euforia yang cukup jauh berbeda seperti tempat-tempat kopi di Banjarmasin. Menurut persepsi saya pribadi, orang-orang di Banjarmasin pergi ke tempat kopi hanya untuk berbangga diri dan memewahkan crycle masing-masing. Menurut persepsi saya pribadi, ya. Beda kalau di Banjarbaru, saya selalu mendapati tempat-tempat kopi di mana baristanya cukup royal dalam melayani dan berbicara dengan kami, lebih tepatnya saya sendiri. Karena pada dasarnya saya bukan orang yang mudah buat diajak bicara, apalagi sama orang asing. Meski di Banjarmasin saya juga mempunyai salah satu kedai kopi seperti itu. Namun sayangnya, saat ini tempat tersebut sudah berubah menjadi ranah yang cukup hedonisme. Hingga akhirnya sampai saat ini saya sudah tidak lagi berkunjung ke kedai kopi tersebut.

Setelah kami selesai memesan, seperti biasa saya akan mengasingkan diri dengan membaca buku, sedangkan empat teman saya yang lainnya bermain kartu domino. Ditemani oleh secangkir americano hangat tanpa gula, saya tenggelam dalam lautan kata yang saya baca, imajinasi merebak memenuhi isi kepala. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi, dan keempat teman saya sudah selesai bermain kartu domino. Sebenarnya kami masih ingin untuk berlama-lama, tetapi salah satu dari teman saya ada yang tidak bisa pulang terlalu larut, maka akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Di saat dalam perjalanan pulang ini lah, kepala saya disinggahi oleh berbagai macam kecamuk pikiran ketika saya melihat sesuatu apapun dari pandangan mata saya. Pertama, ketika saya melihat lapangan bandar udara Syamsuddin Noor, saya menengadahkan kepala sembari menatap takjub rasi bintang yang berpendar indah, ditambah lagi dengan rembulan yang sudah setengah purnama. Pada malam itu kebetulan langit sedang cantik-cantiknya, dan yang sangat saya sayangkan adalah pada saat itu saya sedang tidak membawa kamera DSLR. Ketika saya mencoba untuk memotret keindahan langit malam itu menggunakan kamera hp, maka representasi hasilnya sangat tidak sesuai seperti apa yang saya lihat. Estetika keindahannya sama sekali tidak ada. Hingga pada akhirnya saya hanya bisa bergumam pada diri sendiri, merutuki atas penyesalan karena saya tidak membawa kamera. Bahkan oleh kecamuk pikiran yang saat itu memenuhi kepala, saya memendamnya bersama makna-makna yang ketika saya menatap keindahan langit, kecamuk pikiran tersebut mereda dan hilang begitu saja.

Bahkan setibanya saya di Banjarmasin dan baru memasuki gapura selamat datang di Banjarmasin, pandangan mata saya tidak bisa lepas dari keindahan langit yang terus saja menggugah, indah, bahkan membuat mata candu akan keindahannya. Ditambah lagi saat sudah memasuki perkotaan di jalan A Yani, lampu-lampu yang berderet rapi dari pinggir, tengah marka jalan, hingga pepohonan kiri dan kanan, membuat definisi kesempurnaan yang sangat indah. Untuk malam itu, Banjarmasin seperti sedang berbunga-bunga, kesunyian menjadi tajuk utama yang menyempurnakan keindahannya. Dan saya menemukan keindahan dari sudut-sudut yang tak biasa saya sadari keberadaannya.
Share: