Kadang pilihan selalu datang saat kita dihadapkan oleh sebuah asumsi yang memaksa kita untuk memilih pilihan tersebut. Umumnya, kesadaran diri dalam memutuskan sebuah pilihan terjadi karena kita dibebankan oleh rasa tanggung jawab yang tidak ingin kita ambil, karena kita sadar bahwa dari beberapa pilihan yang kita pilih, kita akan dihadapkan oleh situasi yang ada di dalam pilihan tersebut, yang sekaligus menjadi tanggung jawab kita karena kita telah memutuskan untuk memilihnya.
Contoh, saat kita sedang merasa bersalah kepada orang lain (dalam konteks bahwa perasaan bersalah ini adalah asumsi yang kita pilih dan ambil untuk kita rasakan, padahal orang lain yang kita asumsikan bersalah kepadanya, sama sekali tidak merasa kenapa-kenapa), kita seolah-olah sedang merasa tertekan karena kita tidak mempunyai jalan keluar untuk merasa bebas tanpa ada merasa bersalah di dalamnya. Akhirnya kita memberanikan diri untuk mendaulat sebuah pilihan seperti meminta maaf kepada orangnya, semata-mata untuk menyelesaikan dan memperbaiki asumsi yang ada di dalam kepala kita tadi.
Merasa bersalah itu kan asumsi, jalan keluarnya minta maaf. Sedangkan tanggung jawab kita sama rasa bersalah itu tadi akan selesai kalau kita sudah minta maaf. Terus kelanjutannya kalau kita mau memperbaiki semua rasa bersalah yg kita asumsikan (dalam contoh sederhana seperti seseorang yang pernah ada untuk kita, kemudian kita sia-siakan kehadirannya dan baru menyesal di kemudian hari. Lalu akhirnya kita merasa bersalah kepada orangnya dan ingin kembali memperbaiki apa yang dulunya pernah kita lakukan) sadari itu karena memang pilihan kita sendiri, sadari itu karena memang kita yang mau, bukan karena balas budi, bukan karena nggak enakan, bukan juga karena kasihan.
Ngerasa bersalah sama orang lain nggak lantas ngebuat kita jadi jahat sama diri sendiri oleh sebuah tekanan yang harus kita pilih. Tapi ya semuanya akan kembali lagi sama kedaulatan pilihan yang ada dalam diri kita, karena pilihan adalah hak prerogatif masing-masing orang, dan tentunya nggak ada orang lain yang mesti terlibat di dalamnya.
Kalau kita masih ngerasa jahat sama keadaan sekarang hanya karena kita ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu, itu artinya kita masih belum menemukan kedaulatan memilih yang seharusnya mampu mengusir stigma rasa jahat yang selama ini menjadi beban pikiran dalam kepala kita. Karena saat kita sudah berani mempunyai pilihan untuk memperbaiki, rasa jahat itu adalah stigma yang harus kita hapus saat kita sudah memulai pilihan tersebut.