Selasa, 21 Juni 2022

Terobsesi pada barang mahal dapat mereduksi konsep tawakal

Sebagai orang biasa yang tidak terlalu kaya-kaya amat, saya nekat membeli barang-barang yang bagi saya harganya cukup fantastis. Bagi saya, ya, tidak berlaku bagi orang-orang yang memang sudah kaya dan menganggap harga yang saya bayar untuk dapat sesuatu yang saya mau itu dengan harga yang biasa saja.

Dengan adanya barang yang menurut saya berharga karena harganya yang terlalu luar biasa ini, sekali lagi, menurut saya! Penjagaan serta perhatian terhadap barang tersebut akan sangat ekstra. Contohnya ketika saya membeli laptop gaming yang sudah jelas harganya dua kali lipat dari harga laptop standard, maka kehatian-hatian saya dalam menggunakan laptop tersebut pasti sangat ekstra. Saya berusaha sekali untuk tidak membuat laptopnya menjadi lecet, bahkan debu secuil saja akan saya bersihkan. Bahkan saya akan berpikir dua kali untuk membawa laptop tersebut keluar rumah untuk alasan tertentu, karena ketakutan saya terhadap laptop tersebut serta kemungkinan-kemungkinan yang muncul nantinya.

Setelah itu, saya membeli sepatu yang bagi saya pribadi harganya cukup mahal, tetapi saya membelinya atas dasar suka dan memang sedang ada uangnya. Maka setelah memilikinya, perhatian-perhatian saya terhadap sepatu tersebut saat saya memakainya, tentu saja juga sangat ekstra. Karena satu harga sepatu yang saya beli dengan harga yang saya bayar itu setara 3-5 kali lipat harga sepatu biasa yang sering saya gunakan untuk harian. Maka kemarin ketika saya pulang dari mall, saya singgah sebentar ke masjid untuk melaksanakan sholat. Ketika ingin melepaskan sepatu tersebut dan membayangkan bahwa saya meletakkannya begitu saja di tepian masjid membuat saya berpikir tidak keruan jika nanti saya tinggal sholat. Pasalnya itu bukan sepatu murah yang bisa saya dapatkan begitu saja.

Padahal saya itu singgah di masjid loh, yang harusnya kita tahu mayoritas orang-orang yang singgah dan masuk ke dalam masjid di waktu sholat itu ya tujuannya pasti untuk sholat, tetapi saya malah tidak sanggup menerima fakta tersebut karena di sisi lain saya percaya bahwa ada kesempatan dalam kesempitan. Di pikiran saya, bisa saja orang mengambil meski tidak ada niatan tertentu, terlebih jika orang itu tahu seberapa fantastisnya harga sepatu yang saya miliki. Dari sini, saya merasa seperti sedang mereduksi konsep tawakal, padahal saya sudah menempatkan barang tersebut sesuai koridor atau batasan yang sudah disediakan pihak masjid. Namun, saya sulit menerima fakta tersebut apalagi jika harus meninggalkannya dengan tergeletak begitu saja.

Padahal, nih, ya, waktu saya memakai sepatu biasa, lalu singgah ke masjid dan acuh saja ketika meletakkannya di tepian masjid, tidak membuat saya kepikiran apa-apa, dan faktanya bahwa memang sepatu tersebut masih ada ketika saya selesai sholat. Hal tersebut bisa saja terjadi ketika saya memakai sepatu tadi, tetapi perhatian saya terhadap barang yang menurut saya mahal ini cukup sulit untuk membuat saya percaya dan yakin begitu saja. Makanya setelah saya membeli karena terobsesi pada barang mahal ini, saya merasa seperti sedang mereduksi konsep tawakal.
Share:

Sabtu, 28 Mei 2022

Seni menghadapi penderitaan

Tidak asing lagi rasanya bahwa konsep pragmatisme mengenai kebahagiaan dan kesenangan menjadi dalih utama dari tujuan hidup umat manusia. Saking ekstrimnya pragmatisme ini malah bisa jadi sampai membuat doktrinasi, bahwa memang kebahagiaanlah yang sejatinya justru harus diraih oleh manusia.

Secara faktual, kebahagiaan datang dengan euforia yang berlipat ganda, tetapi tidak pernah bisa bertahan lama. Namun sebaliknya, kesedihan malah menjadi salah satu emanasi yang memparadigmakan persepsi, oleh karena rasa sakit yang dialami dalam kesedihan tersebut. Karena begini, pada dasarnya generalisasi terhadap kebahagiaan dan kesedihan itu justru menutup pandangan kita dari sebuah kerelaan, atau pada tingkatan lain dan sederhananya disebut ikhlas. 

Karena kebahagiaan dan kesedihan itu menjadi satu kolase yang tak terpisahkan dari hidup kita, dan mengkategorikan dua hal tersebut menjadi sesuatu yang berbeda, justru membuat taraf keseimbangan hidup manusia menjadi cacat. Artinya memihak salah satu dari keduanya adalah bentuk keegoisan kita dalam hal merasakan. Padahal, kalau sedih ya sedih aja, dihadapi, dinikmati. Sama seperti kebahagiaan yang kala kita mendapatkannya, kita bisa menikmatinya. Kesedihan pun harus demikian.

Nah, adapun penderitaan, kini menjadi salah satu paradigma yang tak asing lagi ditemukan pada setiap makhluk sosial. Penderitaan kadang bisa datang dari mana saja, termasuk dari dua hal tentang kebahagiaan dan kesedihan tadi. Karena pada dasarnya, konsep penderitaan adalah sebuah penolakan yang tidak bisa kita terima secara asumsi. Misalnya begini, ketika kita sedang berbicara dengan orang lain dan kita berharap agar lawan bicara kita dapat memahami apa yang kita sampaikan, lalu kita mulai berasumsi pada orang tersebut melalui cara dia berekspresi dan bagaimana representasinya terhadap penyampaian kita, tanpa kita tahu bagaimana kenyataan sesungguhnya apakah lawan bicara kita tadi dapat memahami atau tidaknya dari apa yang kita sampaikan.

Asumsi yang lahir itu akhirnya membuat satu penderitaan di antara kebahagiaan dan kesedihan. Artinya, konsep kebahagiaan dan kesedihan masih tergeneralisasi dalam bentuk kategori yang berbeda. Lalu cara kita menghadapinya adalah justru dengan menyamaratakan konsep kebahagiaan dan kesedihan tadi sebagai satu tingkatan yang sama sekali tidak berbeda.
Share:

Jumat, 08 April 2022

Membersamai kisah dengan penuh hikmah

Untuk pertama kalinya di tahun 2022, saya memulai kembali kegiatan motret street photography, setelah terakhir kali saya motret di tengah kota pada akhir tahun 2021 kemarin. Tidak tanggung-tanggung, jarak saya tidak motret lumayan lama, selain karena memang disibukkan oleh beberapa kegiatan, juga karena bosannya akan tempat yang saya kunjungi, hingga akhirnya kami kehabisan opsi untuk sebuah tujuan di mana selanjutnya kembali untuk memotret.

Beruntungnya kali ini saya motret pada saat bulan Ramadhan, karena biasanya akan ada banyak momentum yang memiliki euforia berbeda daripada bulan-bulan lainnya. Jika Ramadhan tahun kemarin saya dan teman saya memotret di kawasan pasar Sudimampir karena ditiadakannya pasar Ramadhan, maka tahun ini, tahun 1443H pemerintah sudah kembali mengizinkan untuk dibukanya pasar Ramadhan setelah dua tahun ditiadakan. Namun, juga tetap mematuhi protokol dan jam berdagang yang dibatasi hanya sampai jam delapan malam. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang jam berdagangnya bisa sampai jam sepuluh malam. Pasar ramadhan di Banjarmasin ini sudah mengalami beberapa perpindahan, dari yang dulu sekali awalnya di depan Siring Tendean, kemudian pindah ke depan kantor walikota, lalu kemudian beberapa tahun belakangan pindah lagi di samping taman kamboja.

Sekitar menjelang jam lima sore saya berangkat dari rumah, di sepanjang jalan orang-orang tengah ramai beraktivitas memadati para penjual takjil untuk berbuka. Setibanya di sekitar kawasan taman kamboja, saya terlebih dulu mencari teman saya yang biasanya menemani saya ketika memotret. Begitu bertemu, akhirnya kami memulai titik potret dari tengah-tengah taman kamboja yang dipenuhi oleh anak-anak kecil yang sedang riang gembira bermain bersama orang tuanya.

Wajah-wajah penuh bahagia dan euforia yang tercipta di balik kepala mereka terhadap momentum bulan ramadhan yang tidak serupa dengan bulan-bulan lainnya, melekat pekat menjadi sebuah kenangan manis masa kecilnya. Saya percaya kejadian yang mereka lalui itu terkemas rapi di sudut ingatannya. Seperti bagaimana ketika saya yang masih mengingatnya betul bagaimana momen bulan ramadhan yang saya lalui ketika masih kecil. Semoga dunia akan terus baik-baik saja, biar kebahagiaan terus melimpah di wajah-wajah mereka yang tak sepenuhnya mengerti untuk memberi makna terhadap apa yang mereka hadapi, selain hanya bisa menikmati.

Setelah dirasa cukup mengambil setiap momen dari sudut-sudut cerita, akhirnya kami beranjak untuk melangkahkan kaki ke dalam area pasar ramadhan atau yang lebih dikenal dengan sebutan pasar wadai. Kami masuk ke dalam area pasar melalui pintu belakang, karena memang itu tujuan yang cukup dekat jika kami berjalan dari tengah taman.

Setibanya di dalam kawasan pasar, kami disambut oleh jejalan manusia yang tengah mencuci mata, memilah apa yang mereka suka, untuk kemudian mereka bawa sebagai sesuatu yang mereka punya. Ada banyak macam pedagang yang berada di sana, semua berbaur menjadi satu. Ramainya orang-orang yang berkunjung di sana membuat momen di pasar ramadhan menjadi metafora yang begitu istimewa. Ditambah lagi pada saat itu kita semua sebagai umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa, biasanya ketika sudah menjelang sore hari, rasa haus dan lapar sudah mulai meronta-ronta, apalagi ketika dihadapkan dengan banyaknya varian makanan dan minuman yang didagangkan di sini.

Kami berkeliling dan ikut bergumul di tengah keramaian untuk mengambil setiap sisi-sisi kejadian dengan cerita yang saya bentuk sendiri dalam kepala saya menjadi sebuah persepsi. Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, kami beranjak keluar area pasar, menjauhi kepadatan aktivitas manusia yang saling berinteraksi dalam jual beli. 

Kami kembali melangkah menuju area taman kamboja untuk beristirahat sejenak. Berbeda sekali rasanya jika memotret di tengah orang banyak daripada berjalan jauh dengan kondisi sekitar yang cukup lengang. Rasa lelahnya lebih terasa ketika kita berada di tengah orang banyak daripada berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh untuk mencari momen-momen di jalanan.

Usai beristirahat sejenak, pada saat itu waktu sudah akan menunjukkan pukul enam sore, artinya masih ada setengah jam lagi menuju waktu berbuka. Maka kami lanjut memotret dari bagian depan pasar yang berdampingan langsung dengan jalan umum. Beberapa bagian dari area pinggir jalan ada yang dijadikan sebagai tempat parkir sehingga membuat jalan agak sedikit macet. Bahkan setiap sudutnya tidak luput dari kendaraan-kendaraan yang terparkir untuk berkunjung ke pasar ramadhan.

Saking asyiknya melihat keramaian orang yang lalu lalang memasuki area pasar dan orang yang hanya sekadar berlalu ketika melewati jalanan, kami didesak oleh waktu berbuka yang sudah lumayan agak mepet. Kami akhirnya bergegas kembali ke dalam area pasar untuk mencari takjil berbuka, tetapi padatnya pasar dari orang-orang yang masih melakukan transaksi jual beli membuat saya urung untuk memilih takjil berbuka di sana. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Indomaret dan membeli sebotol minuman buat berbuka. Aktivitas yang sama kami lakukan seperti tahun sebelumnya.

Usai memilih minuman yang ingin dibeli, saya bergegas menuju kasir yang masih ada beberapa antrian. Ketika tiba giliran saya untuk membayar minuman yang ingin dibeli, adzan maghrib berkumandang, tanda waktu berbuka sudah datang. Begitu keluar dari Indomaret, awalnya saya ingin mencari tempat untuk berbuka, tetapi teman saya enggan dan langsung duduk di depan Indomaret untuk berbuka. Maka mau tidak mau saya juga mengikutinya.

Kebetulan, di samping teman saya ada seseorang yang berpakaian ala badut juga sedang berbuka dengan wajah yang kelihatan sangat lemas. Ada roti serta air mineral yang digunakannya untuk berbuka. Merasa penasaran, akhirnya teman saya mulai bertanya beberapa hal kepada dia. Di tengah pembicaraan, dia cukup terbuka untuk bercerita, maka akhirnya saya mulai tertarik untuk ikut nimbrung.

Di hari itu, dia kebetulan sedang ingin mencoba menjadi badut untuk menghibur orang-orang yang berada di kawasan pasar ramadhan. Namun, aktivitasnya dilarang oleh satpol PP yang sedang menjaga keamanan di area pasar. Sudah satu tahun belakangan ini dia melakoni pekerjaan menjadi seorang badut untuk menghibur orang di setiap jalanan. Sudah satu tahun belakangan pula ia tidak pulang ke rumahnya, kebetulan dia bekerja sebagai seorang badut ini di bawah seorang pimpinan yang menyediakan fasilitas tempat tinggal untuknya. Dia tidak tinggal bersama orang tuanya, begitu kami tanya detail kami tidak mendapatkan informasi yang jelas.

Dia hanya lulusan SMP, ketika kami tanya saat itu umurnya sudah 17 tahun. Sebenarnya ada latar belakang panjang mengapa akhirnya ia memilih profesi sebagai seorang badut, dan sudah banyak pula pekerjaan lain yang pernah ia lakoni. Dari menjadi badut, hasil uang yang ia dapatkan di hari itu akan dibagi kepada bosnya sebesar 50%. Namun, dengan fasilitas tempat tinggal dan baju badut yang sudah disediakan, katanya dia cukup menikmatinya, tetapi hanya sebagai bentuk perjuangan bertahan hidup dirinya sendiri.

Begitu dia selesai bercerita, akhirnya teman saya mengajak dia untuk makan bersama. Begitu selesai makan, saya berkeinginan untuk membagi sedikit rezeki kepada dia. Maka sebelum kami berpisah, saya memberikan titipan untuk dia pribadi. Dari sini pula saya meyakini, bahwa rezeki setiap orang tidak akan pernah bisa tertukar. Meski sekeras apa pun kita berusaha, semua sudah memiliki batasan-batasannya. Karena terkadang, ada seseorang yang hidupnya tidak seberuntung kita, tetapi perjuangannya mengalahkan rasa syukur kita terhadap keluhan-keluhan yang masih bisa kita impikan.

Setelah itu kami bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Begitu selesai, kami tidak langsung pulang begitu saja, kami masih melanjutkan untuk memotret dengan tema malam hari. Agar sekalian saya bisa menampung dua bahan foto sekaligus. Ketika kami sudah kembali ke area pasar ramadhan di malam hari, suasana memang masih cukup ramai, tetapi tidak terlalu padat. Sebagian dari mereka ada yang sudah menutup dagangannya. Bahkan kami juga tidak terlalu lama berada di sana.

Begitu waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Kami menyudahi kegiatan kami dan kembali beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkah untuk pulang.

Di permulaan ramadhan ini, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa. Juga semoga kita diberikan kemampuan untuk menjaga diri dari menahan segala hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Karena bagi saya, sebaik-baik manusia adalah ia yang mampu menjaga dirinya.

Semoga dengan banyaknya kejadian yang saya temukan di hari ini, dapat membawakan banyak hikmah untuk orang-orang yang memang dipilihkan oleh takdirnya melalui kebaikan-kebaikan yang penuh dengan keajaiban.

Share:

Kamis, 24 Maret 2022

Integritas kedisiplinan

Semakin orang mengenal kebebasan, semakin mereka tidak tahu aturan. 

Diri yang selama ini menjalani hidup, diluntang-lantungkan oleh banyaknya pilihan, dan dari pilihan tersebut, kita dihadapkan pada sebuah proses yang terkadang membuat langkah tidak mampu menyelesaikannya. Lantas kebebasan yang kita rasakan akhirnya menjadi sebuah degradasi yang kehadirannya tidak kita sadari.

Saya itu orangnya pemalas, tapi saya mengakui kalau saya memiliki sikap disiplin, tetapi di dalam konsep-konsep tertentu, begitu pula halnya dalam perkara rajin. Nah, mengenai rajin dan disiplin, keduanya memiliki sekat tipis yang membedakan mana orang yang sedang mengendalikan waktu atas hidupnya, dan mana orang yang hidupnya dikendalikan oleh waktu.

Mungkin tanpa semua orang sadari, masing-masing dari kita tengah berjalan menjauhi dari ekspektasi yang ingin kita raih, di saat dengan lantangnya kita mengikrarkan ekspektasi tersebut. Bukan menjadi keanehan rasanya jika sebagian orang bersikap demikian, karena untuk mencapai sesuatu yang ingin kita raih, tidak akan selalu ada kemudahan untuk kita menggapainya. Maka dari karena itu kedisiplinan menjadi salah satu tantangan terbesar kita untuk bertanggung jawab atas apapun yang kita jadikan sebagai pilihan.

Sebagai seorang pemalas, kalau saya sudah tidak ingin melakukan sesuatu lagi untuk mengerjakan beberapa hal, maka saya tidak akan mengerjakannya sedikit pun. Misal, ketika saya sudah merebahkan diri di kasur dengan posisi dalam keadaan mengantuk, maka seberantakan apapun kamar yang saya tempati, saya akan tetap memilih untuk tidur. Persetan dengan kerapian. Namun, kesadaran saya akan rasa malas di sini bersifat sepele, dalam artian bahwa saya sedang tidak terikat oleh janji atau sesuatu hal di beberapa waktu.

Lain halnya ketika saya sudah berkomitmen atas sesuatu, entah itu dalam dua arah formal atau informal, dalam artian bahwa komitmen saya untuk melakukan kedisiplinan ini dibentuk dari luar diri saya sendiri yang sudah saya sepakati, atau memang komitmen yang saya bentuk sendiri. Kembali ke contoh pertama dalam perspektif berbeda. Ketika saya berada di kamar dengan posisi dalam keadaan mengantuk, pada saat itu kamar saya dalam keadaan berantakan, dan saya cukup merasa risih melihat hal tersebut. Pada kasus ini, saya akan memberi dua opsi untuk diri saya, memilih persetan atau berkomitmen untuk merapikan kamar. Jikalau sudah memilih komitmen, maka selelah apapun, saya harus tetap memilih waktu untuk merapikan kamar, dan biasanya saya akan mendadak menjadi orang yang perfeksionis. Karena bagi saya, ini adalah ranah informal yang tidak dibentuk dan diarahkan oleh orang lain, semua murni atas kemauan dan kehendak saya sendiri. Berbeda jika formal, dalam cakupan yang lebih luas perihal relasi, maka komitmen yang mencakup kedisiplinan ini akan membentuk bagaimana karakter diri kita.

Berkomitmen atas tiap-tiap sesuatu yang di dalamnya kita jadikan sebuah proses, terkadang selalu dipatahkan oleh keadaan yang tidak sesuai harapan. Karena memang, bagian dari sebuah proses adalah semua bentuk ragam kejadian-kejadian di mana kita mempertaruhkan keinginan untuk semua yang ada di hadapan sebagai keikhlasan kita dalam melakukan penerimaan.

Share:

Rabu, 16 Februari 2022

Butterfly hug [book review]




Butterfly hug, karya Tenni Purwanti terbitan bukumojok

Entah telah berapa lama saya meninggalkan kategori reviews di laman blog saya sendiri, sebab sebegitu malasnya saya menulis di antara banyaknya buku-buku atau bahkan film-film serta anime yang ingin saya ulas. Saya keduluan menikmati karya-karya tersebut dan berujung selesai dengan ketakjuban yang tidak diiringi oleh ulasan untuk berbagi dan tidak meninggalkan ketakjuban itu dalam wujud tulisan. Jadi, buku ini kembali membuat saya bergairah untuk menulis ulasan lebih jauh mengenai kesan-kesan yang saya dapatkan.

Pertama kali saya membeli buku ini karena di halaman beranda Instagram saya muncul sebuah postingan yang berisi potongan kalimat tentang kesehatan mental, yang di antaranya terdapat beberapa buku rekomendasi. Seingat saya ada tiga buku rekomendasi, tetapi yang saya cari tahu hanya satu, yaitu buku ini.

Semenjak kuliah saya tidak diterima di jurusan psikologi, saya malah semakin giat untuk belajar hal tersebut semakin jauh dan dalam, ke mana pun saya bisa mempelajarinya. Mulai dari konten-konten YouTube dari seorang psikolog, bahkan mengikuti acara-acara webinar, semua tema yang menarik akan saya ikuti. Nah, buku butterfly hug ini menjadi salah satu daya tarik bagi saya, karena saya melihat buku tersebut diterbitkan oleh penerbit buku mojok, yang saya tahu kualitas bacaan dari penerbit tersebut biasanya cukup bagus. Maka membelilah saya dengan buku tersebut.

Sewaktu membaca halaman pertama buku tersebut, saya mendapati bagian prolog yang isinya sebuah cerita dari kehidupan seorang penulis. Awalnya saya mengira itu novel, tapi ternyata bukan. Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang penulis yang memiliki gangguan kesehatan mental, di dalam buku tersebut penulisnya menceritakan bagaimana awal mula gangguan kecemasan itu muncul, bagaimana caranya muncul, bagaimana ia menghadapinya, bagaimana ia mempersepsikannya, dari yang belum bertemu dengan mentor psikolog klinis sampai akhirnya bertemu juga.

Gaya bahasa kepenulisannya sendiri cukup ringan serta menarik, kita lebih seperti mendengar seseorang yang sedang curhat kepada kita, tetapi tidak dengan mendengarkan, melainkan membaca cerita hidupnya. Inti dari buku ini juga berkaitan erat dengan judulnya, yaitu butterfly hug. Sekilas kalau kita maknai kalimat tersebut adalah pelukan kupu-kupu, tetapi dalam istilah psikologi (yang saya dapat dari membaca buku ini) adalah sebuah teknik grounding untuk mengatur emosi di tubuh kita dengan kesadaran yang masih bisa kontrol ketika seseorang berada dalam gangguan kecemasannya


Buku ini mengajak kita semua yang telah membaca agar bisa lebih terbuka lagi terhadap isu kesehatan mental yang beberapa masih memiliki stigma yang negatif. Buku ini juga mengajak kita semua untuk lebih mawas diri terhadap kesehatan mental kita sendiri, jika hal itu terjadi, kita tau ke mana seharusnya kita menuju. Karena masalah seperti ini ada bukan untuk diabaikan dengan dalih apa saja, tetapi untuk diselesaikan agar tidak menggangu psikis kita.


Share:

Jumat, 04 Februari 2022

Dark jokes primitif dan agama yang dikebiri

Sudah sejak satu tahun terakhir ini saya merasakan familiarnya dark jokes di kalangan kelompok manusia, sebuah komedi gelap yang umumnya menyoroti terhadap sesuatu yang tabu dan sensitif, terutama topik yang dianggap menyakitkan apabila dibahas. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kedatangan dark jokes ini, tetapi masyakarat Indonesia selalu saja menyalah kaprahinya. Setidaknya itu asumsi saya.

Dark jokes sebenarnya adalah hiburan yang setingkat lebih tinggi daripada komedi biasa pada umumnya, apalagi jika hal tersebut dibawakan oleh orang yang cukup berkompeten untuk menguraikan konteks di dalamnya. Menurut informasi yang saya temukan di internet, dark jokes pertama kali dikenalkan oleh comika bernama Coki Pardede, yang saya asumsikan bahwa bercandaan soal agama juga mulai merambah karena dia.

Tidak, saya tidak menjustifikasi apapun kepada dia, tidak etis juga rasanya kalau mencari benar salah kepada orang lain atas kekesalan saya terhadap orang yang mengikuti gaya komedinya. Saya hanya ingin mengulas sedikit bagaimana persepsi saya mengenai dark jokes dan bercandaan karena agama ini, yang kemudian bagi saya disalah-kaprahi oleh (tidak semua) masyarakat Indonesia.

Kali pertama saya mengenal Coki Pardede adalah ketika saya mengikuti konten Habib Husein Ja'far Al Hadar yang judulnya "Islam jadi asyik, (feat Coki Pardede), di sana Habib Ja'far dan Coki berdiskusi soal agama, di situ saya baru tahu sedikit lebih jauh soal Coki, apalagi saat dia mengaku bahwa dia agnostik.

Sedikit pernyataan, setelah melihat konten diskusi habib Ja'far bersama Coki, saya mulai tertarik dengan diskusi dan pemikiran-pemikiran yang dibawakannya di konten apapun, terlebih kalau Coki sedang diundang sebagai narasumber oleh konten kreator. Saya mengagumi cara dia bernalar dan memikirkan sesuatu secara objektif dan logis, serta rasional. Dalam perspektif ilmu pengetahuan, saya akui saya cukup banyak belajar darinya.

Terlepas dari bagaimana dia berdiskusi, saya juga tertarik dengan gaya dia berkomedi, apalagi dengan humor yang terkesan gelap. Meskipun ada yang beberapa menyinggung dalam ranah agama, tetapi itu tidak masalah, dan bagi saya itu lucu. Di kepala saya, itu adalah pengemasan komedi yang membuat orang tertawa karena dia berhasil membuat orang lain merenungi terhadap agamanya sendiri, sekali pun dia sendiri tidak beragama.

Namun, fenomena geger momentum--kiranya begitulah saya menyebut orang-orang yang latah sama sesuatu yang lagi ngetrend. Apa-apa diikutin, apa-apa dikategoriiin, apa-apa dibecandaiin, semua yang lagi ngetrend bahkan jadi perbincangan hangat buat orang-orang yang butuh validasi sebagai makhluk sosial yang berintelektual--yang dialami oleh sebagian orang membuat saya menyorotinya dengan sinis. Untuk komedi dark jokes yang biasanya digunakan orang-orang sebagai bahan bercandaan di tongkrongannya, tidak menjadi masalah bagi saya, lebih tepatnya di telinga saya, pribadi tentunya. Sekali pun cringe sekali rasanya kalau apa-apa harus menggunakan dark jokes sebagai bahan bercandaan, seolah-olah primitif sekali humor mereka jika harus menggunakan tersebut.

Setingkat lebih tinggi dari dark jokes adalah bercandaan soal agama, dan perbandingan antara orang yang bercanda karena agama dan membercandai agama itu memiliki sekat yang cukup tipis. Artinya seseorang bisa saja membercandai agama hanya untuk sebuah humor yang sama sekali tidak ada kejenakaannya sama sekali, setidaknya itu menurut saya. Terlebih untuk orang-orang tolol yang memodifikasi kekafiran, bahkan sekaliber Tuhan, dan tradisi di luar muslim sebagai objektivitas bercandaan. Seolah-olah keberadaan mayoritas Islam di Indonesia menjadikan semua hal-hal yang di luar Islam menjadi objek bercandaan yang begitu jenaka bagi pemeluk--yang katanya--agama Islam itu sendiri.

Saya sebenarnya tidak peduli dan bodo amat sama orang-orang yang memiliki selera humor dan bercandaan karena agama, jika itu tidak melecehkan apa pun yang ada di dalam agama itu sendiri, mau pun agama lain. Tetapi telinga saya cukup muak mendengar bercandaan tentang agama yang seperti dikebiri oleh selera humor mereka yang cukup primitif. Seolah-olah komedi tidak mendapati kejenakaan jika itu berada di luar keagamaan. Karena semakin familiar kita menemukan, semakin sederhana kita mempermainkan. 

Selain selera komedi orang-orang yang latah dengan dark jokes dan agama, masih ada yang dikebiri di luar konteks agama dan komedi, yakni plesetan-plesetan yang menurutnya bercanda, dan itu di luar humor dalam konteks kejenakaan. Tapi, untuk hal ini saya masih berpegang teguh pada keapatisan yang saya miliki. Saya tidak memiliki urusan terhadap mereka yang mempermainkan dan memperalat agama untuk kepribadiannya sendiri, karena itu bukan urusan saya. 
Share:

Senin, 31 Januari 2022

Nadi(r)

Berada di dekat seseorang yang bersedia hadir dan memapah serta memangku perkara hidup, mampu menjadi salah satu enigma yang sama sekali tidak ingin cepat-cepat untuk diselesaikan. 

Dialog-dialog sederhana yang sering kita analogikan, menjadi salah satu konklusi tertinggi mengenai ekspektasi. Bahkan terkadang, kita bisa menjadi bagian dari ekspektasi itu sendiri, saat kita tidak merasakan apa-apa mengenai istimewanya anugerah yang kita terima.

Ini bukan kali pertama aku merasa berterima kasih kepada apapun yang telah mempertemukan kita. Sehingga kolase mengenai pencarian menjadi satu-satunya alasan mengapa kita ada untuk tetap bertahan.

Mungkin ini lebih dari sekadar romansa cinta, yang didramatisir oleh dialektika prakata. Sebab menumbuhkan relasi tidak soal menjatuhkan hati, tetapi perkara belajar bagaimana berhati-hati di antara dua hati. Mungkin itu pula sebabnya kita ada dan bertaut untuk saling memahami, bukan untuk saling mengasihi.

Karena aku percaya, kita sama-sama dibangun oleh idealisme masing-masing mengenai peradaban, belajar dari mana saja mengenai landasan dan falsafah kehidupan, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk tenggelam di dalam arus kehidupan yang tidak diinginkan. Meski omong kosong sekali rasanya kalau kita tidak pernah menginginkannya, tetapi konsep yang kita pahami mengenai waktu akhirnya menjadi landasan untuk tetap bertahan dalam rasa nyaman yang masing-masing kita temukan, tanpa melibatkan perasaan.

Meski ada banyak kalimat omong kosong yang diucapkan oleh orang-orang yang tidak begitu piawai memaknai perasaan, kita tetap bertahan untuk membungkam mulut-mulut yang haus dengan pembenaran. Melalui argumentasi yang dibawakan, kita seolah menjadi dua orang yang saling mengendalikan.

Meski tahu orang tidak akan peduli, tetapi kita mempunyai implikasi mengenai peradaban sebuah hari. Waktu-waktu yang mengitari kehidupan seorang manusia, dimanipulasi oleh dua hal yang diwakili oleh logika. Satu kepuasan, satunya lagi keharusan. Keduanya terdinding tipis oleh yang namanya harapan.

Kadang orang memang sebegitu ambigunya mehamami harapan sebagai kepuasan, seolah harapan adalah manifestasi kepuasan dan kebahagiaan. Hingga akhirnya kita lupa bahwa ada yang lebih besar dari itu semua, yakni kesederhanaan, dan itu menjadi bagian dari keharusan yang di dalamnya bisa kita carikan kepuasan.
Share:

Minggu, 09 Januari 2022

Mengakhiri dan mengawali tahun dengan badai

Sudah lebih dari seminggu tahun 2021 berlalu, kemelut badai dan berbagai macam tragedi terjadi. Semua orang kewalahan, bukan karena saling merasakan, melainkan saling mengalami, tanpa saling mengetahui.

2021 mungkin bukan tahun yang cukup baik, tetapi juga tidak kelihatan buruk. Di usiaku pada tahun itu, hari demi hari berlalu dengan cukup berat, persepsi-persepsi akan kejadian yang datang dan diterima tanpa bisa ditolak membuatku memikulnya dengan sedikit tertatih.

Pemberontakan terjadi, isi kepala ramai dipenuhi oleh idealisme lama, kenyataan-kenyataan realistis tentang prinsip yang bisa jadi tidak sejalan karena kemelut badai yang terlalu besar menghadang, menjadi ajang utama mengapa isi kepala memulai peperangan. 

Tubuh yang tidak siap menerima semua hantaman, dilukai oleh waktu-waktu yang mengkhianati keadaan. Tidak ada kalimat-kalimat motivasi yang sanggup menembus rangkaian sketsa kehidupan, warna-warna berubah menjadi kelabu. Di antara semua pilihan warna, hanya ada abu-abu, orientasi mozaik dari warna itu membuatku samar-samar menalar, berhati-hati mencerna, berhenti menduga, kemudian tiba di sebuah kenyataan yang menyiasati tanda.

Mungkin keajaiban tidak pernah hadir sebagai sesuatu yang menggemparkan dunia, meskipun kenyataannya ada beberapa orang yang percaya hal itu bersama faktanya. Lebih dari itu, keajaiban datang dari hal-hal kecil yang tidak terduga, dunia tidak gempar dan seolah itu adalah hal wajar, kita menerimanya sebagai sesuatu yang di luar nalar. Namun, keberadaan dunia beserta isinya lebih jauh dari nalar manusia. Kita menjadi segelintir isi alam semesta, tanpa kita sadari kita menjadi bagian dari mozaik-mozaik dunia. Hati kita dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan tentang perjuangan, sementara tubuh kita kehilangan kendali untuk menguasai kesadaran.

Aku mengalami banyak fase pada saat itu, mungkin yang pernah aku tulis pada blog ini adalah fase-fase brengsek dalam hidup. Padahal kenyataannya, ada yang berbanding terbalik dari itu, dan aku tidak menuliskannya, aku mendikte seolah keburukan adalah dalang utama bagaimana akhirnya kita bisa menemukan kebahagiaan. Meskipun kenyataannya demikian, karakter keburukan seharusnya tidak sebengis itu untuk diprafrasekan menjadi tulisan.

Aku mendapati keputusasaan tiba pada saat itu, lalu aku berpikir jika aku menemukan putus asa pada hari ini dengan kenyataan bahwa aku masih bisa melanjutkan hidup di hari yang sama, maka putus asa ini bukanlah akhir. Bisa jadi ini adalah gerbang pembuka, untuk rasa putus asa yang lebih besar lagi di hari-hari berikutnya. Namun, dari rasa putus asa tersebut aku percaya, merasa terjebak di dalamnya bukanlah hal yang terhormat untuk meminta kepada orang lain dan memvalidasi kerapuhan yang kita miliki.

Akhirnya idealisme dan realitas tentang kerealistisanku dalam menjalani hidup kembali. Mendramatisasi hal-hal yang rapuh tentang hidup menjadi obsesi untuk dirayakan sebagai kemenangan dan membuatku percaya bahwa bukan saatnya mengakhiri apa yang belum bisa diakhiri oleh diri kita sendiri. Karena sedari awal, hidup kita dimulai oleh pilihan yang tidak kita sadari, di saat hari ini kita menyadari bahwa itu adalah bagian dari pilihan. Begitu pula dengan penyelesaian, semua berakhir tanpa pilihan yang kita sadari, saat di suatu waktu setelahnya kita menyadari bahwa itu adalah bagian dari pilihan.

Sampai akhirnya 2022 tiba, tanpa berharap banyak untuk resolusi apapun di tahun tersebut, aku sudah lebih dulu pasrah. Dan kenyataannya, baru dua hari berlalu, badai kembali menerjang lebih hebat dari sebelumnya. Kupikir aku sudah siap menyambutnya karena pengalaman-pengalaman sebelumnya sudah kujadikan sebagai persiapan. Nyatanya, semua menjadi serba ambigu, sejauh apapun kita mempersiapkan, kita tidak akan bisa melebihi kebesaran dunia. Aku sempat mengutuk waktu untuk saat itu bahwa fase ini akan berlanjut sampai batas yang tidak aku ketahui ujungnya.

Lalu, keajaiban yang baru saja tadi kupaparkan, kembali menjadi peran untuk menuntunku keluar secara perlahan. Hingga kemudian aku menertawakan semuanya dan berhasil menuliskan semua yang aku bisa, di sini. Meski orang lain tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Meski orang lain tidak sedikit pun tertarik untuk berniat menjamah isi tulisannya, dan itu lebih baik menurutku.
Share: