Sebagai orang biasa yang tidak terlalu kaya-kaya amat, saya nekat membeli barang-barang yang bagi saya harganya cukup fantastis. Bagi saya, ya, tidak berlaku bagi orang-orang yang memang sudah kaya dan menganggap harga yang saya bayar untuk dapat sesuatu yang saya mau itu dengan harga yang biasa saja.
Dengan adanya barang yang menurut saya berharga karena harganya yang terlalu luar biasa ini, sekali lagi, menurut saya! Penjagaan serta perhatian terhadap barang tersebut akan sangat ekstra. Contohnya ketika saya membeli laptop gaming yang sudah jelas harganya dua kali lipat dari harga laptop standard, maka kehatian-hatian saya dalam menggunakan laptop tersebut pasti sangat ekstra. Saya berusaha sekali untuk tidak membuat laptopnya menjadi lecet, bahkan debu secuil saja akan saya bersihkan. Bahkan saya akan berpikir dua kali untuk membawa laptop tersebut keluar rumah untuk alasan tertentu, karena ketakutan saya terhadap laptop tersebut serta kemungkinan-kemungkinan yang muncul nantinya.
Setelah itu, saya membeli sepatu yang bagi saya pribadi harganya cukup mahal, tetapi saya membelinya atas dasar suka dan memang sedang ada uangnya. Maka setelah memilikinya, perhatian-perhatian saya terhadap sepatu tersebut saat saya memakainya, tentu saja juga sangat ekstra. Karena satu harga sepatu yang saya beli dengan harga yang saya bayar itu setara 3-5 kali lipat harga sepatu biasa yang sering saya gunakan untuk harian. Maka kemarin ketika saya pulang dari mall, saya singgah sebentar ke masjid untuk melaksanakan sholat. Ketika ingin melepaskan sepatu tersebut dan membayangkan bahwa saya meletakkannya begitu saja di tepian masjid membuat saya berpikir tidak keruan jika nanti saya tinggal sholat. Pasalnya itu bukan sepatu murah yang bisa saya dapatkan begitu saja.
Padahal saya itu singgah di masjid loh, yang harusnya kita tahu mayoritas orang-orang yang singgah dan masuk ke dalam masjid di waktu sholat itu ya tujuannya pasti untuk sholat, tetapi saya malah tidak sanggup menerima fakta tersebut karena di sisi lain saya percaya bahwa ada kesempatan dalam kesempitan. Di pikiran saya, bisa saja orang mengambil meski tidak ada niatan tertentu, terlebih jika orang itu tahu seberapa fantastisnya harga sepatu yang saya miliki. Dari sini, saya merasa seperti sedang mereduksi konsep tawakal, padahal saya sudah menempatkan barang tersebut sesuai koridor atau batasan yang sudah disediakan pihak masjid. Namun, saya sulit menerima fakta tersebut apalagi jika harus meninggalkannya dengan tergeletak begitu saja.
Padahal, nih, ya, waktu saya memakai sepatu biasa, lalu singgah ke masjid dan acuh saja ketika meletakkannya di tepian masjid, tidak membuat saya kepikiran apa-apa, dan faktanya bahwa memang sepatu tersebut masih ada ketika saya selesai sholat. Hal tersebut bisa saja terjadi ketika saya memakai sepatu tadi, tetapi perhatian saya terhadap barang yang menurut saya mahal ini cukup sulit untuk membuat saya percaya dan yakin begitu saja. Makanya setelah saya membeli karena terobsesi pada barang mahal ini, saya merasa seperti sedang mereduksi konsep tawakal.