Rabu, 16 Februari 2022

Butterfly hug [book review]




Butterfly hug, karya Tenni Purwanti terbitan bukumojok

Entah telah berapa lama saya meninggalkan kategori reviews di laman blog saya sendiri, sebab sebegitu malasnya saya menulis di antara banyaknya buku-buku atau bahkan film-film serta anime yang ingin saya ulas. Saya keduluan menikmati karya-karya tersebut dan berujung selesai dengan ketakjuban yang tidak diiringi oleh ulasan untuk berbagi dan tidak meninggalkan ketakjuban itu dalam wujud tulisan. Jadi, buku ini kembali membuat saya bergairah untuk menulis ulasan lebih jauh mengenai kesan-kesan yang saya dapatkan.

Pertama kali saya membeli buku ini karena di halaman beranda Instagram saya muncul sebuah postingan yang berisi potongan kalimat tentang kesehatan mental, yang di antaranya terdapat beberapa buku rekomendasi. Seingat saya ada tiga buku rekomendasi, tetapi yang saya cari tahu hanya satu, yaitu buku ini.

Semenjak kuliah saya tidak diterima di jurusan psikologi, saya malah semakin giat untuk belajar hal tersebut semakin jauh dan dalam, ke mana pun saya bisa mempelajarinya. Mulai dari konten-konten YouTube dari seorang psikolog, bahkan mengikuti acara-acara webinar, semua tema yang menarik akan saya ikuti. Nah, buku butterfly hug ini menjadi salah satu daya tarik bagi saya, karena saya melihat buku tersebut diterbitkan oleh penerbit buku mojok, yang saya tahu kualitas bacaan dari penerbit tersebut biasanya cukup bagus. Maka membelilah saya dengan buku tersebut.

Sewaktu membaca halaman pertama buku tersebut, saya mendapati bagian prolog yang isinya sebuah cerita dari kehidupan seorang penulis. Awalnya saya mengira itu novel, tapi ternyata bukan. Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang penulis yang memiliki gangguan kesehatan mental, di dalam buku tersebut penulisnya menceritakan bagaimana awal mula gangguan kecemasan itu muncul, bagaimana caranya muncul, bagaimana ia menghadapinya, bagaimana ia mempersepsikannya, dari yang belum bertemu dengan mentor psikolog klinis sampai akhirnya bertemu juga.

Gaya bahasa kepenulisannya sendiri cukup ringan serta menarik, kita lebih seperti mendengar seseorang yang sedang curhat kepada kita, tetapi tidak dengan mendengarkan, melainkan membaca cerita hidupnya. Inti dari buku ini juga berkaitan erat dengan judulnya, yaitu butterfly hug. Sekilas kalau kita maknai kalimat tersebut adalah pelukan kupu-kupu, tetapi dalam istilah psikologi (yang saya dapat dari membaca buku ini) adalah sebuah teknik grounding untuk mengatur emosi di tubuh kita dengan kesadaran yang masih bisa kontrol ketika seseorang berada dalam gangguan kecemasannya


Buku ini mengajak kita semua yang telah membaca agar bisa lebih terbuka lagi terhadap isu kesehatan mental yang beberapa masih memiliki stigma yang negatif. Buku ini juga mengajak kita semua untuk lebih mawas diri terhadap kesehatan mental kita sendiri, jika hal itu terjadi, kita tau ke mana seharusnya kita menuju. Karena masalah seperti ini ada bukan untuk diabaikan dengan dalih apa saja, tetapi untuk diselesaikan agar tidak menggangu psikis kita.


Share:

Jumat, 04 Februari 2022

Dark jokes primitif dan agama yang dikebiri

Sudah sejak satu tahun terakhir ini saya merasakan familiarnya dark jokes di kalangan kelompok manusia, sebuah komedi gelap yang umumnya menyoroti terhadap sesuatu yang tabu dan sensitif, terutama topik yang dianggap menyakitkan apabila dibahas. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kedatangan dark jokes ini, tetapi masyakarat Indonesia selalu saja menyalah kaprahinya. Setidaknya itu asumsi saya.

Dark jokes sebenarnya adalah hiburan yang setingkat lebih tinggi daripada komedi biasa pada umumnya, apalagi jika hal tersebut dibawakan oleh orang yang cukup berkompeten untuk menguraikan konteks di dalamnya. Menurut informasi yang saya temukan di internet, dark jokes pertama kali dikenalkan oleh comika bernama Coki Pardede, yang saya asumsikan bahwa bercandaan soal agama juga mulai merambah karena dia.

Tidak, saya tidak menjustifikasi apapun kepada dia, tidak etis juga rasanya kalau mencari benar salah kepada orang lain atas kekesalan saya terhadap orang yang mengikuti gaya komedinya. Saya hanya ingin mengulas sedikit bagaimana persepsi saya mengenai dark jokes dan bercandaan karena agama ini, yang kemudian bagi saya disalah-kaprahi oleh (tidak semua) masyarakat Indonesia.

Kali pertama saya mengenal Coki Pardede adalah ketika saya mengikuti konten Habib Husein Ja'far Al Hadar yang judulnya "Islam jadi asyik, (feat Coki Pardede), di sana Habib Ja'far dan Coki berdiskusi soal agama, di situ saya baru tahu sedikit lebih jauh soal Coki, apalagi saat dia mengaku bahwa dia agnostik.

Sedikit pernyataan, setelah melihat konten diskusi habib Ja'far bersama Coki, saya mulai tertarik dengan diskusi dan pemikiran-pemikiran yang dibawakannya di konten apapun, terlebih kalau Coki sedang diundang sebagai narasumber oleh konten kreator. Saya mengagumi cara dia bernalar dan memikirkan sesuatu secara objektif dan logis, serta rasional. Dalam perspektif ilmu pengetahuan, saya akui saya cukup banyak belajar darinya.

Terlepas dari bagaimana dia berdiskusi, saya juga tertarik dengan gaya dia berkomedi, apalagi dengan humor yang terkesan gelap. Meskipun ada yang beberapa menyinggung dalam ranah agama, tetapi itu tidak masalah, dan bagi saya itu lucu. Di kepala saya, itu adalah pengemasan komedi yang membuat orang tertawa karena dia berhasil membuat orang lain merenungi terhadap agamanya sendiri, sekali pun dia sendiri tidak beragama.

Namun, fenomena geger momentum--kiranya begitulah saya menyebut orang-orang yang latah sama sesuatu yang lagi ngetrend. Apa-apa diikutin, apa-apa dikategoriiin, apa-apa dibecandaiin, semua yang lagi ngetrend bahkan jadi perbincangan hangat buat orang-orang yang butuh validasi sebagai makhluk sosial yang berintelektual--yang dialami oleh sebagian orang membuat saya menyorotinya dengan sinis. Untuk komedi dark jokes yang biasanya digunakan orang-orang sebagai bahan bercandaan di tongkrongannya, tidak menjadi masalah bagi saya, lebih tepatnya di telinga saya, pribadi tentunya. Sekali pun cringe sekali rasanya kalau apa-apa harus menggunakan dark jokes sebagai bahan bercandaan, seolah-olah primitif sekali humor mereka jika harus menggunakan tersebut.

Setingkat lebih tinggi dari dark jokes adalah bercandaan soal agama, dan perbandingan antara orang yang bercanda karena agama dan membercandai agama itu memiliki sekat yang cukup tipis. Artinya seseorang bisa saja membercandai agama hanya untuk sebuah humor yang sama sekali tidak ada kejenakaannya sama sekali, setidaknya itu menurut saya. Terlebih untuk orang-orang tolol yang memodifikasi kekafiran, bahkan sekaliber Tuhan, dan tradisi di luar muslim sebagai objektivitas bercandaan. Seolah-olah keberadaan mayoritas Islam di Indonesia menjadikan semua hal-hal yang di luar Islam menjadi objek bercandaan yang begitu jenaka bagi pemeluk--yang katanya--agama Islam itu sendiri.

Saya sebenarnya tidak peduli dan bodo amat sama orang-orang yang memiliki selera humor dan bercandaan karena agama, jika itu tidak melecehkan apa pun yang ada di dalam agama itu sendiri, mau pun agama lain. Tetapi telinga saya cukup muak mendengar bercandaan tentang agama yang seperti dikebiri oleh selera humor mereka yang cukup primitif. Seolah-olah komedi tidak mendapati kejenakaan jika itu berada di luar keagamaan. Karena semakin familiar kita menemukan, semakin sederhana kita mempermainkan. 

Selain selera komedi orang-orang yang latah dengan dark jokes dan agama, masih ada yang dikebiri di luar konteks agama dan komedi, yakni plesetan-plesetan yang menurutnya bercanda, dan itu di luar humor dalam konteks kejenakaan. Tapi, untuk hal ini saya masih berpegang teguh pada keapatisan yang saya miliki. Saya tidak memiliki urusan terhadap mereka yang mempermainkan dan memperalat agama untuk kepribadiannya sendiri, karena itu bukan urusan saya. 
Share: