Minggu, 21 November 2021

Musim hujan dan harapan yang tenggelam

Weekend kemarin, saya baru punya waktu luang sekaligus niat, usaha, dan upaya untuk motret kembali. Kali ini saya berniat motret di daerah alun-alun Martapura. Lokasi yang belum pernah saya jadikan tempat untuk hunting street photography. Awalnya saya memang sudah punya niat ini dari sejak lama, tetapi apa ada daya waktu yang saya punya rasa-rasanya serba nggak bisa menyempatkannya. Selain ada kesibukan, tentu saja saya juga malas jika harus berkeliling dan berjalan sendirian, walaupun sembari memotret keadaan sekitar memang adalah hobi saya.


Seperti biasa, pastinya saya mengajak salah seorang teman yang biasanya memang selalu menemani saya ketika sedang hunting street photography, dia juga orang yang cukup suka dengan kegiatan tersebut. Maka di hari Minggu tanggal 14 November 2021, kami berangkat dari Banjarmasin pada pukul 3 siang. Nah, yang menariknya, drama dari wacana kami adalah, rencana awal ingin berangkat sekitar jam 9 pagi, biar udaranya masih fresh, enak, segar, apalagi kalau membayangkan nanti suasana di alun-alun sedang ramai pengunjung yang sedang beraktivitas menikmati akhir pekan. Pasti ada banyak momen yang bisa diabadikan. Namun kenyataan membuktikan bahwa rencana akan tetap menjadi wacana, pada malam harinya, saya memang sengaja begadang hingga sampai jam 4 pagi di rumah teman saya. Ketika sampai di rumah maka saya langsung tertidur dan terbangun saat hari sudah menjelang adzan Zuhur. Pun juga dengan teman saya yang terbangun kesiangan, membuat kami akhirnya merubah sedikit jadwal dan berencana untuk berangkat sekitar jam 2 siang, dan tentu saja lagi-lagi itu hanyalah rencana yang menjadi wacana.


Seperti yang tadi saya katakan, kami berangkat pada pukul 3 siang, dengan bonus awan mendung yang menyelimuti langit. Memang, rencana motret di musim-musim penghujan bukanlah ide yang baik, tetapi terkadang hasil-hasil jepretan foto sehabis hujan turun, akan sangat menakjubkan. Okelah, saya mengantongi opsi kedua tersebut, jika seandainya nanti memang hujan akan turun.


Belum ada setengah perjalanan kami tempuh, hujan mengguyur di sekitar daerah gapura selamat datang kota Banjarmasin. Saya tetap melanjutkan perjalanan meski hujan mengguyur lumayan deras. Beruntungnya saat saya sudah memacu motor membelah jalanan lintas kota tersebut, hujan berangsur-angsur berhenti.


Ketika kami melintasi jalanan di depan bandar udara Syamsuddin Noor, saya melihat awal hitam yang cukup tebal di depan mata saya, dan memang keadaan sudah cukup gelap. Saya sudah berfirasat besar bahwa sebelum tiba di Martapura, kami akan diguyur hujan. Dan benar saja, tidak jauh setelah kami melewati bandara, hujan mengguyur dengan sangat deras, kali ini saya tidak bisa memaksa untuk meneruskan perjalanan tanpa memakai jas hujan. Berhentilah kami di pinggir jalan untuk membenahi tas yang berisi kamera agar tidak terkena air hujan, sekaligus saya ingin memakai jas hujan agar kami bisa tetap melanjutkan perjalanan walaupun secara perlahan. 


Di tengah hujan yang sangat deras itu saya memacu motor dengan sangat pelan, jas hujan yang saya pakai rasa-rasanya tidak cukup menangkal kami yang sedang ingin berlindung di baliknya. Tetesan-tetesan air yang terhempas di atas jas hujan berbunyi nyaring. Saya tetap nekat melajukan kendaraan sampai akhirnya saya menemukan sebuah masjid. Kami berhenti di sana untuk melaksanakan sholat ashar sekalian menunggu hujan agak sedikit reda. Agak ciut juga nyali saya jika tetap nekat memaksakan keadaan, terlebih ada kamera yang sangat saya khawatirkan.


Namun, setelah usai sholat, hujan juga tidak kunjung reda. Kalut juga akhirnya rencana kami yang ingin motret sehabis hujan jika sampai saat ini hujannya tidak kunjung reda. Sekitar kurang dari setengah jam menunggu hujan reda yang sebenarnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, akhirnya kami memutuskan untuk bersinggah ke rumah salah seorang teman perempuan saya, kebetulan dulu kita satu sekolah Aliyah Negeri di Banjarmasin, tetapi rumahnya di Banjarbaru, dan kebetulan jarak rumahnya sudah cukup dekat dari masjid yang sekarang kami singgahi ini. Karena hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, maka kami menunggu intensitas derasnya agak sedikit menurun, agar kami bisa tetap melanjutkan sedikit perjalanan ke rumah teman saya walaupun masih harus menggunakan jas hujan.


Sekitar jam lima sore akhirnya kami tiba di rumah teman saya, dan ternyata di sana juga ada dua orang teman saya yang lainnya yang sudah lebih dulu tiba. Katanya memang ingin berkunjung. Jadi lah kami berteduh di sana sembari kembali bercengkrama setelah sekian lama semenjak lulus SMA kita semua sibuk dengan dunia masing-masing. Percakapan hangat itu rasa-rasanya mampu menghalau atmosfer kedinginan yang diciptakan oleh tetesan hujan.


Benar saja dugaan kami bahwa hujannya pasti akan awet, karena hingga menjelang adzan maghrib pun masih tidak ada tanda-tanda akan reda. Paling mentok sampai gerimis lalu kemudian kembali deras, begitu saja terus. Kami akhirnya mulai jenuh menunggu, sampai kemudian waktu isya datang. Saya bersama dua orang teman laki-laki saya melakukan sholat isya berjamaah, lalu kemudian menunggu sebentar sampai hujan benar-benar kembali gerimis, maka kita semua akan nekat beranjak dari rumah teman saya. Tidak enak juga rasa-rasanya berlama-lama di sana, takut merepotkan.


Sekitar jam delapan malam lewat sedikit akhirnya hujan mulai kembali gerimis, dua orang teman saya yang sebelumnya lebih dulu tiba itu memutuskan untuk pulang ke Banjarmasin lebih dulu. Sementara saya dan teman saya tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Martapura walau hujan masih mengguyur tipis. Karena memang teman saya ada memiliki hajat dan keinginan untuk menyempatkan waktunya berziarah ke kubah alm guru sekumpul.



Sekitar jam sembilan malam kami tiba di alun-alun, dengan kondisi hujan yang agak semi-semi reda tetapi masih meneteskan airnya meski secara tipis-tipis, saya akhirnya memutuskan untuk tetap memotret walau hanya mendapatkan hasil foto yang sangat sedikit, ditambah lagi pada saat itu suasana di alun-alun sudah sangat-sangat sepi dan gelap. Hanya ada beberapa pedagang yang bersiap menutup lapaknya, beberapa masih ada yang bertahan.



Kami terus berjalan mengelilingi sekitar alun-alun dengan tempo berjalan yang cukup cepat, suasana sekitar yang cukup sepi membuat kami tidak cukup bergairah untuk memotret lebih banyak.



Namun, ada yang cukup menarik perhatian saya. Dulu, Martapura selalu menjadi tempat yang selalu saya kunjungi setiap minggu malamnya untuk menghadiri majelis maulid yang ada di Sekumpul, tetapi semenjak pandemi covid-19, saya menjadi sangat-sangat jarang ke sana. Baru kali ini saya kembali berkesempatan menjejakkan kaki di sini. Martapura yang dikenal dengan julukan kota santri ini benar-benar tidak lepas dari euforia yang saya rasakan ketika melihat ada sekelompok pemuda yang melewati kami dengan memakai pakaian muslim lengkap. Saya kembali merasakan kehadiran betapa menyenangkannya menjadi mereka.



Sebenarnya, semenjak saya menyukai dunia sastra, saya banyak melahirkan tulisan-tulisan di kota ini. Daya tarik untuk mengungkapkan betapa kagumnya saya pada kota ini menjadikan sebuah jembatan bagi saya menjadi seorang penulis. Walau entah sekarang apakah saya masih bisa seproduktif dahulu ketika saya bersinggah di kota ini, saya akan meninggalkan barang kali beberapa tulisan untuk kemudian saya baca ulang di rumah. 

Jika ingin melihat lebih lanjut lagi mengenai jepretan saya, bisa dilihat di instagram saya atau klik di sini 



Mungkin hanya sekitar 30 menit lebih kami berjalan dan berkeliling, akhirnya kami memutuskan berhenti dan berencana untuk langsung pulang ke Banjarmasin. Namun, sebelum memutuskan pulang, teman saya mengajak makan di salah satu lapak nasi goreng yang kebetulan tidak jauh dari kami memarkirkan motor. Saya pun hanya mengiakannya saja.



Setelah selesai makan, kami semua bertolak dari Martapura ke Banjarmasin pada sekitar jam 10 malam. Dengan kondisi hujan yang masih tidak sepenuhnya reda, saya tetap melanjutkan perjalanan dengan kondisi pakaian yang sudah lumayan cukup basah. Apalagi saat itu saya sudah tidak memakai hoodie dan hanya memakai kaos biasa karena hoodie yang saya kenakan sebelumnya sudah cukup basah.

Sesampainya di Banjarmasin, lebih tepatnya sebelum fly over, saya berhenti sejenak di pinggir jalan A yani untuk memesankan teman saya ojek online. Karena malam sudah cukup larut dan hujan masih tidak juga reda, rasa-rasanya saya sudah cukup malas untuk mengantar teman saya karena rumahnya tidak searah dengan tujuan ke rumah saya, apalagi besok pagi sehabis subuh saya sudah harus masuk kuliah, walaupun masih online.

Di saat kami sedang santai sembari menunggu tukang ojek itu datang menjemput teman saya, ada satu hal yang menarik perhatian saya, lagi-lagi bias bekas hujan dan langit yang membiru gelap lekat, membuat saya sangat-sangat bergaira untuk memotretnya menggunakan kamera. Namun, karena lensa dan body kamera sudah terpisah, saya sudah cukup malas untuk mengeluarkannya, jadilah saya memotret hanya dengan mengguakan kamera HP.



Setibanya tukang ojek itu menjemput teman saya, akhirnya saya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan perasaan setengah menyesal setengah tidak, karena niat saya ingin memotret hari itu benar-benar tidak sesuai ekspektasi, walaupun ada beberapa hasil yang saya dapat, tetap saja saya belum cukup puas. Namun, niat saya untuk motret kembali di sana masih ada dan pastinya saya akan kebali lagi ke sana di lain waktu yang semoga hasilnya akan memuaskan dan memenuhi ekspektasi saya. Dan ya, meski sematang apapun kita berencana, sekeras apapun kita memaksa, pada akhirnya keadaan yang bertolak belakang tidak seharusnya membuat kita menyesal. Karena sejatinya penyesalan datang dari orang-orang yang sedari awal tidak pernah mempunyai pilihan untuk memulai.

Share:

Kamis, 18 November 2021

Self healing

Fenomena self healing ini menjadi salah satu kemarakan yang ada di sosial media, orang-orang dengan mudahnya mengklaim metode self healing mereka yang mungkin dalam dunia psikologi itu nggak akan sama kasusnya dengan tiap-tiap manusia lainnya. 

Ngerti, mungkin maksud mereka adalah menunjukkan bahwa cara mereka melakukan self healing untuk dirinya tuh, gitu. Nggak salah sih sebenarnya. Cuma, kasian aja orang-orang yang mendapati hal-hal kayak gitu menjadi terdoktrin dan menganggap bahwa punya self healing sendiri tuh baik. Bahkan kelirunya kalau sampai mengira kalau nggak self healing, nggak baik. 

Orang lagi rame posting cara self healingnya masing-masing, terus kita malah jadi terobsesi untuk ikutan dan mencoba mencari-cari apa self healing yang cocok untuk kita, nggak gitu konsepnya. Jangan sampai menjadikan self healing itu sebagai sebuah keharusan untuk kita lakukan.

Menurut konten kreator psikologi, Analisa Widyaningrum, kemampuan memahami diri sendiri aja sudah termasuk self healing loh padahal.

Dari segi keilmuan, self healing mengarah pada proses pemulihan atau penyembuhan yang biasanya diakibatkan oleh gangguan psikologis atau trauma di masa lalu.

Sedangkan menurut Syahid Muhammad, kita baru akan bisa melakukan self healing kalau kita sudah punya kapasitas pengetahuan dan cara-cara yang tepat. Minimal kita mendatangi psikolog, minta bantuan sama mereka, biar kita tahu self healing yang cocok buat kita tuh apa. Jangan sembarangan milih-milih, bahwa, oh, ini bisa jadi cara self healing untuk kita, nggak sesempit itu sih kalau menurutnya. Ya dengan berkonsultasi ke profesional tadi bisa jadi salah satu cara yang tepat, dan nggak ada salahnya gitu. Malah kita jadi tahu penyebabnya apa dan kita bisa mengatasinya.

Ibarat kalau kita lagi sakit pilek, (terus kita konotasikan dengan konsep self healing tadi) kalau pilek itu kita konsultasikan ke dokter, pasti akan dikasih obat kan sama dokternya? Nah obat itu lah yang jadi self healingnya. Jangan karena kita pilek, terus kita self healing sendiri dengan milih obat sendiri. Gitu juga self healing, jangan malah karena satu masalah, kita memilih self healing kita sendiri yang padahal itu belum tentu sesuai. Nah gitu kira-kira konotasinya.

Namun, kecendrungan pilihan untuk membawa diri ke psikolog itu mungkin masih ada rasa sungkan. Soalnya kadang kita terlampau menganggap diri baik-baik aja, yang padahal kalau dikondisikan psikisnya lagi nggak baik-baik aja, dan kita menyangkali hal tersebut dengan harapan bahwa besok-besok kita sudah lebih baik daripada sebelumnya. Saya juga pernah memberikan cuitan di Twitter seperti ini, memendam dan menahan emosi secara terus-terusan hanya akan membuat kita merakit bom waktu dalam hidup kita sendiri, ibaratnya kayak kita lagi ngisi air ke dalam balon yang kalau udah kepenuhan akan ada saatnya buat pecah.

Makanya padahal sepenting itu emang buat kita punya profesional psikolog sendiri, biar kita tahu harus ke mana mengatasinya. Tapi stigma orang terhadap psikolog yang membuat kita nggak aware sama tindakan tersebut. Di era maya digital ini mungkin kesehatan mental sudah nggak jadi tabu lagi, walaupun sering kali banyak yang disalah kaprahi. Tapi di masyarakat mungkin masih aja belum bisa aware sama kesehatan mental ini.
Share:

Selasa, 02 November 2021

Keresahan

Semakin berkembangnya zaman, saya menyadari bahwa selama ini panggung yang sedang diperebutkan oleh orang lain itu adalah intelektualitas. Masing-masing dari mereka bahkan kita, akan berlomba-lomba menjadi orang yang piawai berbicara, beropini, berpendapat, bahkan mengkritik. 


Semuanya mungkin lahir dari kesadaran-kesadaran kita yang perlahan tumbuh, kita menyadari akan persetujuan banyak pihak yang oleh beberapa pihak lainnya tidak menyetujui. Dengan kemampuan bernalar dan menghadapi kenyataan, kita berada di pihak tidak setuju atas pilihan yang kita amini.


Lalu jalan keluar yang kita miliki atas semua hal yang tidak kita setujui oleh mayoritas banyak orang adalah dengan beropini dan berpendapat, sedangkan pendapat hanya akan bisa dilakukan ketika kita sudah mulai menyampaikannya, dan menyampaikan pendapat berarti menuntut kepiawaian berbicara dari diri kita.


Maka dari karena itu, kemampuan dan keberanian diri dalam berbicara untuk menyampaikan pendapat, menandakan bahwa kita sudah memiliki kemampuan bernalar yang kritis, artinya kita sudah menggerakkan nalar untuk mengkritisi hal-hal tertentu yang mungkin saja akan memiliki beragam konsekuensi.


Namun, fokus utamanya bukan di sana. Fokus utamanya adalah tertuju pada semua orang yang berambisi ke sana. Tujuannya mungkin sudah benar, tapi cara memperlihatkan proses dalam menuju tujuannya yang jadi tidak benar.


Sederhananya begini, orang kalau sudah ngomong panjang lebar, apalagi membawakan bahasan yang menarik, akan ada orang lainnya yang ikut tertarik, tetapi ada juga yang tidak. Yang mungkin tidak kita mengerti dari kepiawaian berbicara adalah, menganggap bahwa kita perlu diakui, isi kepala kita berhak disanjung, dan apa yang ada di kepala kita adalah benar. Di mana dalam hal tersebut terdapat salah satu indikasi bahwa paradigma berbicara yang dikemas oleh intelektualitas, menjadi salah kaprah oleh mereka yang menuhankan asumsinya. Karena kenyataannya tidak seperti itu adanya.


Mengkritisi beberapa hal tertentu memang lahir dari penalaran kita pada keadaan-keadaan yang tidak kita setujui atas diri kita sendiri; yang sifatnya pribadi. Namun, menggalakkan opini yang berangkat dari ranah pribadi kepada orang-orang yang belum tentu mampu menerimanya, tidak berangkat dari penalaran semata. Harus ada perlindungan-perlindungan di dalamnya, harus banyak sandaran di dalamnya, agar apa yang ada di dalam kepala kita bisa berdiri tegak dan tidak mudah jatuh. Karena percuma berdiri tegak kalau akhirnya akan jatuh juga.


Pada konteks ini saya memicu kepada beberapa orang yang ngomongnya cuma doang. Meskipun keresahannya nggak doang, tapi pengemasannya ini yang menjadikan stigma intelektualitas disalah kaprahi dan akhirnya membuat orang menjadi latah sama intelektualitas. Orang zaman sekarang tuh jadi serba nggak tahu batas, dalam semua konteks apapun, mereka jadi ngerasa bahwa yang dilakukannya adalah hal yang wajar aja. Salah satunya kepiawaian berbicara tadi, yang jika dibandingkan dengan kualitas isi otaknya dibandingkan keresahannya, jelas lebih berisi keresahan tersebut daripada isi otaknya. 


Nah masalahnya, kalau keresahan nggak dibarengi sama isi otak yang nggak bagus, dalam konteks ini adalah bacaan dan wawasan yang luas, maka hanya akan memperburuk keresahan itu sendiri jika semakin disalah kaprahi. Sebenarnya berwawasan nggak hanya dengan membaca, sih. Tapi, kan, secara objektif, berwawasan didapatkan dari seberapa banyaknya bacaan kita. Sederhananya, keresahan yang kita bawa bersama pemahaman yang seadanya dari kepala kita, hanya akan membentuk satu paradigma baru dalam hidup kita, yang kita sendiri mungkin akan kebingungan menghadapinya.

Share: