Sabtu, 29 Mei 2021

Dunia, manusia, dan perubahannya

Saat dunia semakin menunjukkan perubahan, anehnya ada banyak manusia yang berada di dalamnya dan rela menghanyutkan diri dalam perubahan tersebut.


Perubahan zaman memang tidak bisa dilawan, tetapi perubahan zaman bisa dikendalikan, dan kita yang berada di dalam perubahan tersebut mampu mengendalikannya untuk diri kita sendiri. 


Kadang banyak orang yang secara tidak langsung merelakan diri mereka menjadi babu bagi perubahan zamannya. Seperti ingin tampil keren, ingin dipandang hebat, dan merasa sudah membawa manfaat untuk orang banyak. Namun, terkadang mereka mungkin lupa, kehidupan nyata tidak sedemikian rupa dalam memandang mereka untuk seperti itu, dan mungkin jalan keluarnya adalah sosial media. 


Bisa dikatakan bahwa sosial media adalah kehidupan kedua bagi orang-orang yang latah hidup dengan dunianya, karena kehidupan nyata sering kali memiliki wadah yang sempit untuk menerima mereka sebagai figur yang dirasa cocok untuk membawakan manfaat. Bisa dilihat dari seberapa besarnya mereka ingin memuaskan orang lain, dan tidak sempat memandang bahwa diri mereka sendiri ditindas habis oleh yang namanya tuntutan. Merasa harus seperti ini dan itu. 


Bahkan, orang-orang seperti itu kerap kali membantah aksinya dengan hobi yang disukai, sedangkan hobi adalah aktivitas yang dilakukan tanpa adanya tuntutan dengan lebih banyaknya waktu untuk menikmati. Meskipun orang-orang yang menganggap itu sebagai hobi karena memang menikmati, tetapi mereka tidak mampu menghilangkan tuntutan yang menjadi landasan mereka dalam menikmati. Apabila tuntutan tidak terlaksana, hobi yang disukai masih belum layak dinikmati.


Anehnya lagi, banyak orang yang terjun ke sana hanya karena memandang sepintas dengan aksi-aksi yang heroik. Merasa diri berguna bisa jadi meningkat di ranahnya. Dari sini, kesadaran diri untuk menyayangi keinginan dalam menikmati hidup menjadi terabaikan. Mereka terbiasa hidup bersama tuntutan-tuntutan yang menjadi landasan mereka untuk akhirnya bisa menikmati. Padahal, sejatinya hidup adalah menikmati apa yang kita sukai, tanpa harus ada tuntutan yang dibentuk oleh orang lain dengan dalih agar bisa saling membagikan rasa suka dan bahagianya. Karena menikmati dan membahagiakan sudah menjadi tugas masing-masing diri.


Saat kita sudah merasa bahagia pada diri kita sendiri dengan standar kesederhanaan yang kita ciptakan, kita menjadi mudah untuk berbaur dengan orang lain dengan sikap yang tidak lagi diubah-ubah, karena kita lebih dari sekadar tahu bahwa kita tidak perlu berupaya keras memandang luasnya dunia, sebab dunia sudah memandang kita sebagai sesuatu yang ada di dalamnya.

Share:

Rabu, 26 Mei 2021

Stigma berkarya dan berkarir

Banyak orang berpikir bahwa seorang seniman adalah seseorang yang bisa melahirkan karya seni. Namun, kebanyakan dari kita tidak sepenuhnya mengerti pada mahalnya sebuah harga dari satu karya seni. Bisa dikatakan bahwa karya adalah hasil perbuatan yang menjadi karakteristik seseorang yang ada dalam dirinya, yang menjadikan dia istimewa karena dia mampu membuatnya. Namun, kebanyakan orang memandang bahwa kita tidak dapat hidup dari karya yang dihasilkan, karena kita masih beranggapan bahwa karya adalah suatu hobi yang tidak terikat dengan karir. Mungkin pola pikir society kita tidak memandang karya seni sebagai profesi. Karena apa? Karena seniman bukanlah seseorang yang akan pasti menerima imbal hasil berupa uang. Sedangkan yang disebut profesi adalah yang bisa menghasilkan uang.


Bagaimana caranya agar orang lain memandang bahwa kita dapat hidup dari sebuah karya? Yaitu dengan adanya para penikmat karya. Sebelum kita mendapatkan seorang penikmat karya, kita perlu memicu orang lain agar tertarik pada karya yang kita hasilkan dan membuat mereka merasa terhibur serta membuat mereka merasa puas pada karya kita. Apapun itu bentuknya.


Saya pernah berbincang dengan seseorang mengenai kegiatan saya sebagai seorang penulis. Namun sebelum itu, saya tidak mengklaim diri saya sebagai seorang penulis hebat, tetapi saya berusaha untuk membuat diri saya sebagai seorang penulis yang membawakan manfaat. Saya mengungkapkan keinginan saya untuk bisa hidup dari karya, sementara dia bertanya dengan pekerjaan saya yang nantinya akan menjadi apa. Tidakkah dia, mereka, bahkan orang lain di luar sana, mampu memandang karya seni sebagai sesuatu yang lebih dari hobi? Karya memang tidak dapat menjanjikan kita untuk hidup dari sana, tetapi setidaknya dengan karya kita mampu membuat diri kita untuk tetap waras dengan yang namanya bekerja dalam menghasilkan karya.

Share:

Rabu, 19 Mei 2021

Rasa takut untuk bisa percaya

Ada banyak orang di dunia ini yang begitu ingin mengejar reputasi kebijaksanaan dalam dirinya, salah satu caranya adalah menjadi seorang yang mengemukakan banyak perspektif di beberapa kalangan pertemanannya. Dari sana, saya merasa cukup miris dengan orang-orang yang begitu gencar menjadi seorang pembicara, seolah-olah mereka adalah seorang motivator yang tiap kata-kata keluar dari mulutnya adalah bentuk-bentuk pernyataan yang cukup membangun, tetapi mereka tidak pernah mengerti bagaimana membangun diri menjadi seorang pendengar. 


Karena banyaknya orang-orang yang berbicara dengan menunjukkan kebijaksanaannya, membuat sebagian orang yang tidak seberuntung dengan dirinya membentuk stigma dan rasa takut tentang apa yang sedang dialaminya. Kadang, kita memang terlalu pandai berbicara sampai-sampai kita lupa bagaimana caranya menjadi seorang pendengar.


Bagian paling naif dari diri manusia adalah sebegitu beringasnya ingin mencuri perhatian manusia lainnya, dengan menunjukkan bahwa ia punya kelebihan yang kebanyakan orang lain nggak punya. Kita semua tentu percaya dan sepakat jika setiap masing-masing manusia punya cerita hidup yang berbeda-beda, dan tugas kehidupan kita sebagai makhluk sosial lainnya adalah dengan berbagi cerita satu sama lain, bukan membanggakan satu cerita diri dengan cukup egois.


Masalah utamanya tentu berada pada setiap orang yang terlanjur kehilangan rasa percayanya untuk bisa diizinkan bercerita dengan leluasa, karena memang terkadang kita juga perlu menceritakan apa yang sebenarnya perlu kita bagi agar kita merasa bahwa hidup yang kita jalani nggak hanya ada kita sendiri. Namun, kehilangan rasa percaya untuk bercerita membuat kita merasa tidak layak untuk menceritakannya, terlebih dengan rasa takut jika nantinya akan dibandingkan dengan cerita mereka yang tentu kita tahu akan jauh lebih nelangsa. Namun, melepaskan apa yang kita rasakan cukup berat, tidak harus dengan membandingkan hal-hal berat yang berhasil dilalui oleh orang lain.


Itu semua terjadi karena kita tidak cukup mengerti bagaimana caranya menjadi seorang pendengar yang mampu menyembuhkan perasaan-perasaan berat di hidup orang lain. Kita sudah terlanjur buta mengejar bagaimana caranya mendapatkan reputasi sebagai seseorang yang bijaksana, tetapi kita terlampau dungu bagaimana caranya menjadi seseorang yang bijaksana, terutama jika kita dihadapkan sebagai seorang pendengar yang diminta berbicara untuk menengahi keadaan yang tidak kita mengerti adanya.


Di luar dari itu semua, saya juga pernah merasakan hal terberat dalam hidup saya, dan di saat saya merasa mempunyai orang-orang terdekat yang saya percaya jika saya bisa bercerita banyak hal pada mereka. Namun sialnya, di saat saya  tengah merasa berantakan seperti itu, orang-orang terdekat sekali pun seolah terasa seperti tidak peduli dengan saya, padahal mereka ada, mereka cuma tidak tau karena saya tidak pernah mau cerita. Namun pilihan untuk bercerita bagi saya di saat sedang berantakan seperti itu seolah-olah menjadi aib terburuk yang begitu enggan saya bagi, karena saya merasa seperti sudah kehilangan rasa percaya dengan mereka yang sudah mendengar cerita saya, karena bentuk stigma negatif yang memenuhi isi kepala lebih dominan menguasai ketimbang perasaan lega yang nyatanya bisa didapat jika saya selesai membagikan semua ceritanya. Dan bagi saya stigma tersebut terbentuk karena banyaknya kenyataan yang saya lihat bahwa setiap kali kita bercerita, kita akan dihakimi oleh sebuah perbandingan yang jelas-jelas tidak ingin kita bayangkan

Share:

Jumat, 14 Mei 2021

Menjelang Lebaran


 

Pada malam terakhir di bulan Ramadhan tahun 1442H, saya menyempatkan diri untuk memotret street di daerah kawasan wisata Taman Siring Banjarmasin. Sederhana saja mengapa saya begitu ingin melakukan kegiatan street photography di saat malam lebaran seperti ini, di saat banyak orang berkumpul dengan keluarganya entah itu usai mengantar beras zakat fitrah, atau sedang disibukkan dengan kegiatan memasak untuk menjamu keluarga besar besok harinya. Saya justru meminta izin barang sejenak untuk keluar dari rumah tanpa ditanyai banyak hal selain (memang akan selalu) diberikan izin.


Saya berangkat dari rumah setelah selesai sholat isya dan langsung menuju ke rumah teman saya untuk menjemputnya. Di sepanjang jalan, lantunan takbir yang saling bersahutan di pengeras suara tiap-tiap masjid mengisi indera pendengaran. Sedari kecil, saya selalu merasakan perubahan yang begitu kentara terhadap nuansa Ramadhan dan lebaran. Sebelumnya, saya ingin berbagi cerita sedikit sebelum saya menuliskan kegiatan motret ini.


Sedari kecil saya memang sudah diajarkan untuk berpuasa, dan semenjak dari kelas tiga SD hingga di usia saat ini, saya selalu berpuasa penuh di tiap tahunnya. Meskipun pernah di suatu waktu saat saya merasa sangat kelelahan beraktivitas dan berkeinginan untuk membatalkan puasa, saya lantas memikirkan apa makna dan esensi puasa yang selama ini dipelajari. Untungnya hal itu mampu ditepis begitu saja saat saya sudah tiba di rumah dan langsung menenggelamkan tubuh di kasur dengan mengatur suhu pendingin ruangan menjadi yang paling dingin.


Puasa memang menjadi suatu kewajiban ibadah bagi setiap umat muslim, dan dari karena itu pula saya menjalankannya. Selama saya kuat menahan diri untuk tidak membatalkan puasa tanpa adanya udzur, saya akan menunaikannya. Namun, saya lihat ada banyak juga orang yang bahkan dengan entengnya membatalkan puasa mereka dengan beragam dalih bahwa saat tubuh sedang lelah, tidak diperkenankan untuk meneruskan puasa dikhawatirkannya akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, bagi saya stigma seperti itu cukup mampu dibentuk dari masing-masing orang, dengan setulus apa kita meniatkan hati sehingga diri mampu menjalani puasa bahkan apapun halangannya.


Selain itu, ada banyak juga orang yang berpuasa, tetapi mereka tidak menunaikan sholat lima waktu. Bahkan fenomena yang banyak terjadi di sekitar kita adalah dengan adanya momentum buka bersama, mereka menghabiskan waktu tanpa adanya melakukan sholat Maghrib. Seolah-olah ibadah sholat fardhu tidak sewajib dengan ibadah puasa. Ah tapi persetan lah, saya juga bukan orang agamis yang cukup mampu menilai mereka dari segi nilai agama. Meskipun saya beritikad bahwa saya tidak boleh meninggalkan ibadah wajib, tentu hal tersebut tidak menjadi barometer diri saya atas keimanan yang saya miliki. Saya melakukannya karena memang itu sudah menjadi kewajiban.


Dari karena itu, di malam lebaran ini, dengan maksud terselubung yang entah akan berarti apa, saya ingin memahami sekitar dengan saksama. Namun, dengan kegiatan motret inilah cara saya melakukannya. Karena menurut saya, sahabat paling dekat adalah waktu, dan teman paling akrab adalah kejadian. Dalam seni fotografi, keduanya cukup mampu untuk diabadikan.



Sesampainya di tempat yang dituju, saya terlebih dahulu memarkirkan motor dan meneliti spot-spot menarik yang bisa saya abading. Hal pertama yang saya ambil saat itu adalah menangkap keindahan kota Banjarmasin di malam hari dari beberapa sudut, ditambah dengan kembang api yang sesekali menghiasi langit. Karena saat itu pandemi masih melanda, jadi tidak ada kerumunan di sekitar tempat saya dan teman saya berada. Apalagi ada banyak polisi yang berjaga-jaga mengamankan lalu lintas dan menegur orang-orang yang melakukan kerumunan.



Ironis juga memang, dari Ramadhan tahun 1441H sampai 1442H, masyarakat tidak bisa mencari hiburan di tengah keramaian. Bahkan tahun-tahun sebelumnya selalu ada pawai keliling menggunakan mobil pickup yang sudah dihias sedemikian rupa untuk menyambut hari kemenangan, ditambah lagi dengan suara lantunan takbir yang diputar oleh pengeras suara. Namun sekarang apa daya, kita hanya bisa menerima semua keadaannya.



Setelah saya puas mengambil keindahan kota Banjarmasin, saya bergegas mengganti lensa kamera saya. Di samping tempat saya berdiri, ada beberapa orang tua yang membawa anaknya bermain di sana, tidak banyak memang. Namun, saya cukup terharu melihat kebahagiaan mereka bermain di sana. Bagaimana tidak, kondisi sekitar saat itu minim cahaya, bahkan boleh dikatakan cukup gelap, hanya ada beberapa lampu yang menerangi jalan, tetapi anak-anak itu mampu bermain dengan riangnya. Orang-orang yang berjualan, setia menunggu dagangannya untuk dibeli, sebab suasana memang tidak ramai. Namun, mereka tetap ada di waktu-waktu seperti itu untuk memenuhi waktu dengan pekerjaan mereka. Semoga kebahagiaan mereka tak ubahnya dengan kebahagiaan kita semua, meski cara kita menikmati kebahagiaan akan selalu berbeda.



Saya dan kawan saya lanjut berjalan menyusuri taman Siring kota Banjarmasin, di beberapa titik saya melewati anggota-anggota polisi yang sedang bertugas menjaga keamanan. Cukup jauh saya berjalan kaki mengelilingi Siring tersebut, dan sangat disayangkan saya tidak banyak menemukan momentum berkesan yang bisa saya abadikan. Saya lanjut berjalan dan kini harus menaiki trotoar yang ada di jembatan Merdeka untuk menyeberangi sungai Martapura yang membentang di bawah sana. Di tengah-tengah saya berjalan menaiki jembatan, saya mendapati dua orang anak kecil sedang tertidur pulas beserta dengan satu orang tua yang jika saya lihat usianya cukup renta. Mereka semua tertidur beralaskan karpet tipis kecil yang hanya cukup ditempati oleh mereka.



Saya hanya berani menangkap momen ini dari kejauhan, saya takut mengganggu tidur mereka dan saya pikir akan kurang sopan mengambil gambar mereka dengan kondisi seperti itu. Setelah itu saya lanjut berjalan dengan mengambil sebagian jalan raya yang cukup ramai dilintasi oleh pengendara motor dan mobil, sesekali para pengendara yang melintas di jembatan itu menengok ke arah mereka yang sedang tertidur. Saat langkah kaki saya tepat melangkah di samping tubuh mereka, saya melihat ada beberapa barang dan makanan di sana, terutama di kedua tangan anak kecil itu sedang menggenggam sebuah camilan. Kepala saya tiba-tiba penuh dengan bayangan tentang hidup mereka, semoga rasa syukur mereka tidak seburuk dengan kehidupan mereka.



Sekitar hampir dua jam saya berjalan dan mencari momen-momen berkesan yang bisa saya abadikan, kendati hanya ada beberapa momentum yang bisa saya dapat dan abadikan. Semuanya tidak lepas dari sebuah keluarga kecil yang tengah memberikan kebahagiaan untuk anaknya, di samping itu ada pula ada orang-orang yang bersedia membagikan kebahagiaannya dalam bertukar manfaat, bertukar senyum, dan bertukar kasih.



Pada malam menjelang lebaran di hari esoknya, masih ada banyak orang-orang yang sedang berjuang menghadapi alur cerita kehidupan. Mereka hadir untuk berbagi, untuk kemudian dicari dan ditemukan sebagai rasa terima kasih, lalu dibayar dengan sebuah kebahagiaan.



Kita dan mereka sama-sama ada, hadir untuk saling berbagi, memahami setiap sisi hidup dengan isi kepala yang secara sukarela menerjemahkan banyak makna.



Satu-satunya alasan mengapa saya begitu ingin mengejar momentum di malam lebaran kali ini, karena saya tidak ingin egois merasakan apa yang menjadi kesenangan saya setiap kali lebaran tiba. Saya rasa, ada banyak manusia yang tidak seberuntung dengan saya nasibnya, dan saya begitu ingin merasakan barang sedikit pun apa yang mereka lewati di hari itu.



Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi perjalanan motret saya belum berakhir saat itu. Salah seorang teman saya berkata ingin menyusul kegiatan saya. Sembari menunggu kedatangan teman saya itu, saya menyempatkan diri memotret keadaan-keadaan di sekitar tempat saya menunggu yang cukup ramai diisi oleh masyarakat. 



Saat teman saya tiba menghampiri, kami kemudian lanjut berjalan ke kawasan yang di sekitarnya dominan menjual jagung bakar, kata salah seorang dari teman saya menyebut nama tempat itu 'Tarakan.'



Saat itu jam sudah menunjukkan setengah sebelas lebih, tetapi masih ada banyak orang yang bersantai di sana. Beberapa momentum sempat terabadikan di kamera saya, di mana saat itu mereka-mereka yang berbincang entah membicarakan apa, terlihat begitu riang kelihatannya.



Ya, bagi saya adalah hal yang wajar jika orang-orang ingin menghabiskan waktunya lebih lama di malam menjelang lebaran ini, bisa jadi mereka ingin merasakan nuansa malam terakhir di bulan Ramadhan. Namun, pandangan utama saya bukan tertuju pada keramaian mereka, melainkan pada para-para penjual yang dengan senang hatinya membuka dagangan mereka. 



Secara tidak langsung, mereka sama-sama menikmati malam terakhir di bulan Ramadhan dengan cara yang berbeda, tetapi kebahagiaan yang mereka rasakan sudah semestinya setara.


Saat saya tengah asyik memotret, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang tengah menjadi tukang parkir mobil menyapa saya dan meminta juga ingin difoto. Saya pun mengiakannya, tetapi sangat disayangkan hasil fotonya kurang bagus, dan di saat saya meminta dia untuk berfoto ulang ada mobil yang datang. Sontak saja ia langsung mengatur arah parkir mobil tersebut, setelahnya dia enggan untuk difoto oleh saya. Karena saya cukup canggung saat berbicara dengan orang lain, otak saya selalu terlambat memikirkan apa yang harus saya bicarakan dengannya, bahkan bertanya nama pun saya tidak sempat mengutarakannya.


Untungnya ada teman saya yang cukup piawai mengajak orang lain berbicara, katanya usianya dia 13 tahun dan telah menekuni pekerjaan seperti itu dari umur 10 tahun. Setelahnya, obrolan teman saya anak itu terpotong karena tiba-tiba ada orang tua yang menegur anak itu dan menegaskan padanya untuk kembali bekerja. Kata dia, orang itu adalah ayahnya, sontak kami mengerti dengan situasinya saat itu. 


Padahal, jika saja saya dan dia dapat mendengar ceritanya lebih panjang, saya ingin menghadiahi anak itu dengan hadiah yang mungkin saja baginya cukup bernilai. Karena jujur saja, saya sangat jarang biasanya memiliki keinginan untuk memberikan apa-apa saat bertemu dengan orang lain. Namun, setelah saya pikir ulang, saya menjadi ragu. Di satu sisi, langkah saya sudah jauh dari anak itu. Di sisi lain, saya menjadi ragu karena saat melihat orang tuanya saat itu, membuat saya cukup kuat untuk mengurungkan niat saya. Andai saja orang tuanya belum menegur anak itu, sudah tentu dia akan mendapatkan kejutan yang memang pantas untuk diterimanya.




Sebelum saya melanjutkan langkah untuk pergi meninggalkan anak itu, semua dari kami  menyemangati pada pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Sedang waktu di saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Memang belum cukup larut, tetapi untuk anak seusianya, dia kehilangan jam tidur seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Jika suatu saat nanti saya kembali melakukan street photography di tempat itu dan kembali bertemu dengan dia, saya hanya ingin langsung memberinya kejutan tanpa basa-basi. Semoga nanti waktu kembali mengatur manusia-manusia seperti saya dan yang lainnya untuk bertemu dengan saling membagikan kebahagiaan.

Saya dan teman saya akhirnya mengistirahatkan diri di depan sebuah taman. Cukup lama saya bersantai di sana sekaligus mengambil foto diri sendiri setelah sekian banyak memotret dan mengejar momentum tak terduga. Sekitar pukul setengah satu malam, kami semua akhirnya beranjak menuju parkiran untuk pulang. Selama melangkah menuju parkiran, saya belum memasukkan kamera saya ke dalam tas, dan siapa sangka jika saya menemukan satu memontum tak terduga.


Setibanya di parkiran, saya tidak langsung pulang menuju rumah, melainkan lebih dulu mengantarkan teman saya sekaligus bersantai sebentar di sana. Salah seorang dari teman saya mengajak kami untuk makan bersama, mendengar hal itu saya sontak mengingat jika saya juga belum ada memakan nasi semenjak berbuka puasa. Inilah ketelodaran saya saat punya rencana yang bagi saya sangat harus saya lakukan. Akhirnya saya membelanjakan mereka semua makanan sebagai tanda terima kasih saya karena telah ditemani.

Di rumah teman saya, kami bersantai menikmati keheningan malam. Menyadari akan kepergian bulan Ramadhan, serta menyiapkan diri menyambut hari kemenangan. Naifnya, di hari yang fitri ini semua orang mendadak geger momentum dan memiliki kesan yang norak dalam merepresentasikannya.

Sekitar pukul dua pagi, akhirnya saya pamit kepada teman saya untuk pulang ke rumah. Sessampainya di rumah, masih ada banyak hal yang perlu saya benahi. Saya lebih dulu menyalakan pendingin ruangan di kamar saya karena merasa cukup gerah, kemudian meletakkan peralatan kamera secara sembarang di atas tempat tidur, setelahnya saya lebih dulu membersih diri agar terlihat lebih segar. 

Saat saya sudah kembali ke kamar, saya bergegas membereskan kamera. Biasanya saya akan membersihkan kamera secara telaten, tetapi tidak di malam itu, saya hanya membersihkan seadanya saja kemudian langsung kembali menyimpannya di dalam dry box. Tidak lupa juga saya kembali mencharger satu baterai kamera yang sudah benar-benar habis, sedang satunya masih tersisa setengah. Setelah sebelumnya sempat mengeluarkan kartu memori dari dalam kamera, kini saya beralih ke atas meja belajar dan membuka laptop untuk menyalin serta mengupload semua file foto ke drive agar teman-teman saya juga bisa memilikinya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat saya sudah menyelesaikan aktivitas saya. Meskipun ada sedikit rasa kantuk dan lelah, saya juga khawatir jika tidur di jam seperti ini nantinya akan bangun kebablasan di siang hari. Maka saya memutuskan untuk menunggu waktu hingga subuh dengan memainkan ponsel. Namun, karena internet rumah saya sedang digunakan untuk mengupload foto ke drive, alhasil kecepatan internet unduhan menjadi sangat lemot. Dan akhirnya saya tertidur entah saat waktu sudah menunjukkan pukul berapan, tetapi untungnya saya kembali terbangun saat lantunan tarhim masih bersenandung dari pengeras suara yang ada di masjid dekat rumah saya. Untung saja tidak kebablasan tidur, gumam saya dalam hati.

Saya kemudian bergegas menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat subuh, disusul dengan sholat ied nantinya. Ya, akhirnya tibalah seluruh umat muslim merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh bertarung melawan hawa nafsu. Satu-satunya alasan mengapa saya membawa daily journal hingga ke bagian ini karena saya ingin menceritakan sesuatu yang tidak sempat saya ceritakan pada seseorang.

Setelah sholat ied selesai dilaksanakan. Saya pulang ke rumah, biasanya saya dan keluarga akan berkunjung ke rumah keluarga saya yang lainnya di hari lebaran yang kedua atau ketiga. Di hari itu, perasaan saya sedikit campur aduk. Di satu sisi saya begitu berlawanan dengan fenomena maaf-maafan  banyak orang dari sosial media, di sisi lain saya juga menghaturkan maaf pada beberapa orang yang memang ingin saya jelaskan lebih rinci mengenai idealisme saya ini. Saya rasa ini sudah cukup egois bagi diri saya, karena secara tidak langsung saya seperti mengkontamisi pikiran orang lain agar menyetujui apa yang menjadi idealisme dalam kepala saya. Pemicu utamanya adalah karena saya merasa apa yang ada dalam kepala saya itu adalah sesuatu yang benar.

Namun, agaknya saya memang tidak diizinkan untuk memiliki ruang agar bisa menceritakannya. Mungkin cukup dari tulisan ini, semoga mereka mengerti bahwa idealisme saya ini tidak harus menjadi bagian dari pemakluman mereka, bahkan idealisme saya ini sangat layak untuk dibenci. Mengingat idealisme yang saya miliki selalu bertentangan dengan keadaan yang sedang dialami banyak orang.

Bahkan karena cukup muak melihat drama di sosial media dengan fenomena geger momentum ini, ditambah lagi dengan perasaan gundah saya karena tidak menemukan tempat bercerita. Akhirnya saya menjauhkan ponsel dari diri saya dan tenggelam dalam buku yang saat itu sedang saya baca. Bahkan di sela-sela waktunya saya menyempatkan diri untuk menulis blog ini. Karena bagi saya, tidak ada alasan kehilangan tempat bercerita, jika saya masih mempunyai media yang saya ciptakan memang untuk membahagiakan diri saya sendiri. Mungkin dari sini saya menjadi cukup percaya untuk tidak mengharap apa-apa dari orang lain, sedekat apapun kita pernah berinteraksi dengannya. Karena pada akhirnya, yang utama ada dalam diri kita, dan pilihan untuk berbahagia juga ada di sana.

Selamat hari raya idul fitri 1442H
Minal aidzin wal faizin
Ampun maaf dzohir bathin
Share:

Rabu, 12 Mei 2021

Fase-fase brengsek dalam hidup

Semua orang memang selalu punya fase-fase terburuk dalam hidupnya, ada banyak masalah yang datang tanpa bisa kita temukan jawabannya. Namun, tidak semua kenyataan itu bisa kita bagikan pada semua orang. Melihat orang lain bahagia, akhirnya membuat kita membentuk stigma di dalam kepala kita sendiri seolah-olah tidak ada kamus menyedihkan di hidup mereka. Hingga akhirnya kita memaksa diri sendiri untuk merasa bahagia saat bertemu dengan orang lain dan sejenak melupakan badai yang tengah menimpa diri kita. Nyatanya, kehidupan orang lain sama adanya dengan yang kita alami, mereka hanya kebingungan bagaimana menunjukkan perasaan terburuknya pada orang lain. Karena kacamata mereka dalam menilai kita sama dengan kacamata kita ketika melihat kehidupan mereka. Kita sama-sama saling menipu diri hanya untuk menunjukkan kebahagiaan yang pura-pura agar hidup kita tidak terlihat sebegitu buruknya.


Percayalah, aku juga pernah menjadi bagian dari itu. Pernah yang entah kapan musnah. Bahkan sekarang, aku kembali mengalaminya, lebih tepatnya baru saja kemarin, dan satu-satunya jalan terakhirku untuk melampiaskan rasa gundah itu adalah dengan menulis. Menulis apapun yang ingin kutulis, entah sejahat apa aku membentuk kalimatnya. Karena menurutku di saat itu, badai kehidupan yang menyerang lebih jahat dari usaha yang aku hadapi untuk menghalaunya. Meski berhasil, badai itu cukup ganas untuk membuat rasa menyerah menjadi semakin besar, mempertegas bahwa rasa pasrah adalah jalan terbaik, saat aku kebingungan ke mana harus berbagi rasa sakit.


Mungkin sebagian orang mempercayai rumah sebagai tempat terbaiknya untuk menepis rasa gundah. Namun, itu sangat tidak berarti untukku, aku lebih memilih dunia luar sebagai kambing hitam atas semua rasa berantakan yang kualami. Bahkan di tengah-tengah seperti itu, aku meminta beberapa orang temanku untuk menemaniku. Tentu saja dengan alasan ingin berkumpul dengan mereka, bukan karena aku ingin mengeluh dan berbagi cerita. Karena aku belum sepenuhnya sanggup untuk percaya dan bercerita pada sosok manusia yang di hidupnya juga tidak kalah jauh berbeda denganku. Cukup dengan bertukar obrolan dengan mereka, perlahan-lahan kuusir benang kusut yang memenuhi isi kepala.


Di saat aku sedang merasa berantakan seperti itu, masih saja ada orang yang berani-beraninya menghubungiku entah itu untuk berbasi-basi yang sangat tidak perlu dan berbicara sejenak dengan candaan-candaannya. Namun, sayangnya saat itu aku sangat memaki habis-habisan dengan mereka yang begitu lepasnya tertawa, meski aku juga akan ikut tertawa. Bukan untuk menghargai candaannya, melainkan untuk semua hidup yang kualami dengan begitu tragis, sampai-sampai aku juga mampu menertawainya dengan cukup miris. 


Kuakui memang sulit rasanya mencari tempat ternyaman di mana kita bisa merasa bebas dan diizinkan untuk merasa berantakan. Berulang kali waktu meluruhkan kejadian lama, menghantam nalar dan memaksa tawa tercipta. Meski pelampiasan paling kecilku berhasil membuat dalih, tetapi amigdala tentang perih tak cukup mampu membuatnya beralih. Persetan dengan praduga orang-orang, karena mustahil juga rasanya orang lain mampu peduli. Sekalipun peduli, yang diawalinya adalah pertanyaan yang sama sekali tidak ingin kujawab. Sedangkan yang aku hadapi saja aku tidak menemukan jawaban apa-apa, bagaimana bisa aku merelakan diri untuk menjawab pertanyaan orang lain yang cukup ambigu dengan formalitas peduli.


Manusia kadang begitu sulit mengerti banyak hal, maka dari karena itu cara paling ampuh adalah tidak memedulikannya. Pun peduli, mereka tidak pernah mengerti bagaimana caranya mengasihani. Alih-alih memncoba untuk peduli, cara mereka untuk mencoba mengerti saja lebih pantas untuk dikasihani dari orang-orang yang merasa dirinya berantakan, tetapi masih cukup punya cara menentukan kemauan terhadap rasa paling brengsek yang bercokol di jiwanya. 


Manusia-manusia yang sering merasa nelangsa memang banyak maunya. Inginnya seperti ini, kenyataannya seperti itu, hingga penerimaan nggak ada di sana sebagai jawaban. Membuat waktu menjadi serba salah dalam menentukan, sedangkan detik waktu terus berjalan. Dan hal itu pula yang membuatku akhirnya merasa berantakan oleh salah satu pemicu yang tidak pernah kuduga bahwa kehadirannya akan menjadi perasaan paling brengsek. 


Percaya tidak percaya, rasa trauma tentang mimpi yang tidak pernah bisa kita atur kehadirannya mampu menentukan bagaimana perasaan kita setelah terbangun dan melewati mimpi tersebut. Kita memang tidak bisa memesan mimpi. Namun terkadang, mimpi-mimpi itu secara sukarela menghadirkan apa-apa yang tidak ingin kita hadirkan, saat kita sudah menikmatinya dengan begitu nyaman dalam lelap. Sialnya, kenyataan tentang mimpi itu hanya akan mencabik rasa sakit dengan leluasa dengan rasa percuma yang sangat sia-sia. Jika semua orang mengira bahwa sebagian besar tentang rasa gundah yang kita alami datang dari rasa cinta dan hati yang kita hidupkan untuk menempatkan kasih sayang, bukan tidak mungkin jika aku akan mengakui bahwa sebagian besarnya memang berasal dari sana, meski tidak sepenuhnya.


Kadang aku lebih memilih persetan dengan rasa sakit tentang cinta daripada harus berlarut-larut merasa nelangsa di dalamnya. Karena bagiku cinta hanya perkara pilihan bodoh yang akhirnya kita jatuhi oleh harapan-harapan tentang bahagia, dan saat kita tidak bisa mendapatkannya kita akan menjadikan semua yang kita pilih sebelumnya sebagai kambing hitam dengan semua bentuk kesalahan. Jelas sekali bodohnya, karena aku pernah melaluinya dan aku tidak akan pernah kembali mengulang untuk yang kedua kalinya. Jatuh di lubang yang sama bukan perkara mengais makna, melainkan menunjukkan betapa bodohnya kita dalam meletakkan harapan.


Pada selasa pagi tanggal 11 Mei 2021 pukul 02:00 wita, sebuah lagu dari Lewis Capaldi yang berjudul Someone You Loved yang diputar dari laptopku ketika aku sedang membaca buku, tiba-tiba sampai di kedua telingaku dengan penuh pemaknaan dan hasratku untuk menuliskan semua yang aku rasakan. Aku bergegas membuka laman blogku dan secara perlahan menuliskan semuanya. Meski sulit, semua yang berhasil dilalui di hari kemarin juga masih memiliki rasa getir akan kehawatiran bahwa badai yang berlalu akan kembali oleh kejamnya hidup yang sesuka hati mendatangkan hal-hal yang sama sekali tidak kita inginkan kedatangannya.


Namun, aku percaya semakin jauh hari membawakan usia dalam hidup kita, semakin besar pula masalah yang datang untuk memastikan kebijaksanaan kita dalam memilih, dengan cara apa kita akan menghadapinya nanti. Dan satu-satunya hal yang paling kusyukuri dalam hidup adalah saat aku sedang merasa berantakan, aku tidak pernah memilih pelarian dengan hal-hal gelap yang biasanya dilakukan oleh banyak orang yang nasibnya tidak jauh berbeda denganku. Hanya saja pilihanku tidak jatuh di sana sebagai sebuah keharusan bahwa aku juga pantas memilihnya.

Share:

Selasa, 04 Mei 2021

Kimi No Nawa [Anime Review]


Kimi No Nawa atau Your Name adalah salah satu film animasi Jepang bergenre romance, fantasy yang dirilis pada tahun 2016 dan disutradarai oleh Makoto Shinkai. Ini adalah anime pertama kali yang saya tonton dan langsung membuat saya jatuh cinta terhadap anime-anime yang lainnya.


Sebelum memutuskan untuk menonton anime ini, sebenarnya saya adalah tipikal orang yang sangat anti dengan menonton anime, disertai dengan dalih bahwa saya tidak ingin disebut orang lain sebagai wibu. Karena kata wibu pada saat itu memiliki konotasi yang cukup negatif bagi saya pribadi. Namun, setelah menonton anime ini beberapa tahun yang lalu, saya punya perspektif lain mengenai apa sebenarnya itu wibu. Saya meyakini bahwa tidak semua orang yang menyukai anime berhak dikatakan sebagai wibu. Karena wibu adalah mereka yang begitu terpengaruh terhadap kebudayaan Jepang. Sedangkan orang yang menikmati anime sebagai tontonan, justru mempelajari banyak hal dari tontonannya.


Kimi No Nawa bercerita tentang seorang perempuan bernama Mitsuha Miyamizu dan seorang laki-laki bernama Taki Tachibana. Yang mana dari kedua tokoh tersebut sebelumnya tidak pernah saling mengenal dan tempat tinggalnya pun berada di dua kota yang sangat jauh. Namun, kedua di antaranya terkadang merasa seperti sedang bermimpi bertukar jiwa, tetapi lama-kelamaan mimpi itu terasa seperti nyata. Karena merasa seperti sedang tidak bermimpi, mereka berdua akhirnya membuat buku harian untuk mencatat kejadian yang mereka alami dan rasakan ketika sedang bertukar jiwa. Hingga akhirnya tiba suatu hari di mana fenomena di antara keduanya berhenti. 


Perasaan yang membuncah di hati keduanya itu akhirnya mendorong Taki Tachibana untuk mendatangi keberadaan Mitsuha Miyamizu, berbekal petunjuk yang diketahuinya melalui buku harian yang pernah masing-masing mereka tulis ketika mereka sedang bertukar jiwa dan raga.



Di tengah-tengah alur inilah para penonton akan terkejut dan menyadari semua keterkaitan alur cerita dengan bentuk visual yang disuguhkan di dalam anime ini. Makoto Shinkai begitu piawai mengemas adegan pertemuan mereka berdua dalam dua dimensi yang berbeda, dan hal itu lantas mulanya membuat penonton bertanya-tanya, hingga kemudian mengerti seutuhnya. Bahkan dari pengemasan visual yang cukup epic dan detail ini membuat hasilnya sangat memuaskan untuk dinikmati.


Dari anime ini saya mengakui kehebatan jepang dalam membuat, mengemas, dan mempersembahkan visual cerita cinta dengan alur yang sangat tidak diduga. Bayangkan saja di tahun 2016, anime ini sudah dirilis dengan alur cerita yang cukup epic. Jika di tahun-tahun berikutnya menyusul cerita-cerita epic tentang cinta, kiranya cukup Kimi No Nawa sebagai panggung utama inspirasinya. Dari anime ini pula saya menyusul ketertarikan dengan film-film anime lain yang tidak kalah epicnya.



Ending pada anime ini juga dikemas dengan sangat filosofis, di mana akhirnya Taki Tachibana dan Mitsuha Miyamizu saling tatap dan bertemu di barisan anak tangga yang saling berselisihan. Kemudian keduanya saling bertanya nama dan film pun selesai dengan segudang tanya di kepala para penonton. Namun bagi mereka yang menikmati alur ceritanya mungkin akan merasa cukup dengan akhir seperti itu, meskipun agak sedikit tanggung, tetapi pengemasannya yang memang cukup mengesankan.

Share:

Senin, 03 Mei 2021

Berbagi Tawa Berbagi Bahagia

Pada tanggal 26 April 2021 kemarin, saya kembali melakukan kegiatan motret Street di kawasan Pasar Besar Sudimampir. Karena kebetulan waktu itu masih bulan Ramadhan, saya dan teman saya memutuskan untuk berangkat sore hari agar saat nanti kelelahan, waktu berbuka puasa sudah menjelang dekat.


Meskipun saya datang saat sore hari, suasana di kawasan pasar tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Setidaknya masih ada beberapa pengunjung dan penjual yang masih berada di kawasan pasar tersebut. Dari parkiran saya dan teman saya perlahan-lahan menyusuri area sekitar pasar yang masih terparkir beberapa sepeda motor, ada juga orang-orang yang sibuk mengangkut barang, membersihkan toko, memungut sampah, semua kejadian-kejadian itu terekam di kepala saya dengan makna-makna kecil yang cukup berarti.



Hingga kemudian langkah kaki saya mengajak saya dan teman saya ke arah kerumunan anak-anak yang sedang asyik bermain, saya mulanya cukup segan untuk memotret kegiatan bermain mereka, dan akhirnya saya menyerahkan kamera saya kepada teman saya dan menyuruh dia untuk memotret kegiatan anak-anak tersebut. Reaksi mereka awalnya terlihat begitu malu-malu ketika tahu bahwa teman saya akan memotret mereka, tetapi setelah diajak berbincang sejenak dan ditawari berfoto lagi, mereka mengiakannya.



Kamera pun beralih ke tangan saya dan giliran saya yang meneruskan untuk mengambil view angle kegiatan mereka. Tercipta tawa yang begitu ringan di wajah mereka, kebahagiaan yang cukup sempurna untuk anak seusia mereka kala melihat dirinya dipotret dengan hasil yang mereka lihat sangat profesional. Meski saya cukup mengetahui bahwa keahlian saya jauh dari kata profesional, karena kegiatan ini hanya menjadi bagian dari hobi yang perlahan-lahan ingin saya tekuni.



Seorang kawan saya pernah berkata, "Entah yang di belakangmu tertawa atau tidak peduli denganmu ketika sedang jatuh, maka tidak ada pilihan lain selain bangkit." Kalimat tersebut begitu hidup jika diselaraskan dengan gambar di atas, dan maknanya benar-benar begitu terasa. Saya menjadi teringat dengan cerita di Novel Kala karya Syahid Muhammad dan Stefani Bella yang ceritanya menggambarkan seorang fotografer dan penulis yang saling mencocokkan karya keduanya. Dari sekian banyak saya memotret Street Photography, baru kali ini saya memiliki kesan secara mendalam. Bahkan sebelum hasil fotonya saya edit, saya dan anak-anak kecil tersebut bersama-sama melihat preview foto yang saya ambil, dan reaksi mereka terlihat senang, bahkan ada yang meminta difoto ulang. 


Salah seorang anak laki-laki yang memakai sepeda berkata ingin difoto saat sedang bersepeda dengan melepas kedua tangannya. Namun, sangat disayangkan karena hasil fotonya sedikit blur sehingga tidak saya muat ke dalam blog ini, tetapi saat saya menunjukkan hasil foto yang jauh dari kata cukup, dia sudah terlihat senang, melihat dirinya dipotret ketika sedang melakukan atraksi lepas tangan. Sepele memang, tetapi itu sangat menyenangkan. Dulu saya persis mengalami hal itu, bedanya hanya pada waktu dan keadaan, tidak dengan rasa bahagia yang didapatkan. Dari sana saya seolah-olah kembali di bawa ke masa lalu yang membuat saya semakin mensyukuri waktu di hari ini.



Melihat teduh senyum mereka membuat saya teringat dengan masa kecil saya dulu. Rupanya memang terlihat menyenangkan menjadi anak-anak. Namun, kita juga masih harus menyadari keadaan bahwa mengenang bukan berarti mengulang.



Setelah mereka puas melihat foto-foto yang saya ambil, kini mereka menjadi penasaran bagaimana caranya mengambil foto tersebut. Saya dengan sukarela memberitahu mereka bagian tombol mana yang perlu ditekan ketika kita ingin mengambil foto. Kemudian, satu di antara mereka meminta kepada saya agar bisa mencobanya, dan saya membiarkan mereka melakukannya. Tentu dengan tali strap yang masih membelit di lengan saya, walaupun saya juga sedikit khawatir kalau saja kameranya tiba-tiba terjatuh, karena kamera saya adalah kamera jenis DSLR yang notabene nya agak sedikit lebih berat dari kamera mirrorless, dari karena itu lah saya berupaya memegang strapnya dengan kuat. Namun, semua rasa takut itu cukup terbayar ketika melihat wajah bahagia mereka yang bisa memotret menggunakan kamera saya, meskipun jelas jika framing-nya berantakan, tapi setidaknya rasa penasaran mereka terbayarkan.


Bahkan salah seorang anak laki-laki yang sedari tadi bersepeda dengan melakukan atraksi melepas kedua tangannya, tiba-tiba berhenti dan menghampiri saya untuk mencoba seperti temannya. Katanya dia ingin menjadi youtuber--sembari tangannya meraih kamera yang sedari tadi sudah berada di tangan saya--jelas saya terkekeh pelan ketika mendengarnya. Entah bagaimana harusnya saya bereaksi terhadap kalimat tersebut, di satu sisi memang terdengar klise, tetapi di sisi lain terdengar seperti cita-cita yang pernah kita gaungkan semasa SD dulu, saat beberapa orang guru bertanya kepada kita mengenai apa cita-cita kita nanti. Tanpa pernah kita tahu, sekian tahun setelahnya seberapa kuat kita menyadari akan sulitnya menemukan cita-cita tersebut. Meskipun sulit, bukan berarti itu tidak mungkin ya.



Setelah puas berinteraksi dengan mereka, saya kemudian pamit dan meneruskan perjalanan memotret saya. Mungkin sejauh ini, bertemu dengan anak-anak seperti mereka adalah kejadian paling mengesankan yang singgah dalam hidup saya ketika sedang melakukan kegiatan Street Photography.



Saat itu hari sudah menjelang senja, dan kawasan sekitar pasar sudah mulai sepi. Namun, ada beberapa potret yang cukup menceritakan dengan visual yang saya tangkap ini. Semua bentuk kesinambungan hidup saya rasa cukup logis dengan melihat dengan sisi-sisi seperti ini.



Setelah dari kawasan pasar, saya melanjutkan perjalanan menuju depan kantor walikota Banjarmasin sekaligus ingin mencari takjil untuk saya berbuka nanti. Dulu sebelum pandemi Covid-19, di depan kantor walikota ini pernah menjadi tempat pasar ramadhan yang bagi saya memiliki atmosfernya di kepala masing-masing orang. Terutama dari bagaimana tempat dan keramaian yang saat itu terekam di ingatan, juga dengan panorama senja yang berlabuh di ujung barat sana, keindahannya cukup mampu mengisi pemandangan di kawasan ini. Namun sekarang, semuanya sudah terlihat berbeda. Meskipun tempat ini masih sama.

Bermodalkan dua botol teh kemasan yang kami beli di sebuah minimarket, sembari menunggu adzan maghrib berkumandang, saya merapikan kamera dari tas, lalu iseng-iseng melihat hasil potret yang cukup memuaskan. Hingga waktu adzan tiba, dahaga yang awalnya meronta, tercukupi dengan segelas minuman, dari arti-arti yang saya temukan dalam satu perjalanan di hari ini.


Selesai melepas dahaga dengan sebotol teh kemasan, kami kemudian beranjak ke sebuah masjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Untuk hari ini, kami memutuskan untuk tidak melaksanakan sholat terawih berjamaah. Usai melaksanakan sholat maghrib berjamaah, kami lanjut untuk mencari makan sebelum memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Share: