Menjadi seseorang yang mengedepankan idealisme dan prinsip-prinsip yang dibangun secara mandiri, terkadang selalu tidak mendapatkan tempat validasi yang layak di antara orang banyak. Ya, wajar, stigma kebenaran akan berhak divalidasi jika hal tersebut berada pada ranah mayoritas.
Tidak mengherankan kenapa orang-orang yang begitu takut terhadap sebuah kesalahan akan cenderung mengikuti pilihan-pilihan yang banyak orang lain lakukan, karena menurutnya pilihan tersebut sudah terasa benar. Meski jauh di dalam kepalanya, ada kebenaran yang lebih absolut daripada kebenaran yang saat ini ia yakini.
Orang cenderung akan kesulitan menghadapi kenyataan-kenyataan, yang berangkat dari keasingan seseorang dalam memulai pilihan pada hidupnya, dan hal itu tentu bertolak belakang dengan kenyataan yang dari sekian banyak orang lakukan.
Karena buat beberapa orang, kesalahan akan terasa menjadi begitu menakutkan ketika kita merasa berbeda dengan orang lain, dan merasa bahwa perbedaan itu adalah pilihan yang tidak benar. Kadang kita memang sebegitu takutnya terhadap sebuah perbedaan yang tidak siap kita hadapi keberadaannya, seolah-olah perbedaan menjadi salah satu kesalahan pribadi yang bahkan orang lain tidak boleh tahu jika kita sempat memiliki pilihan tersebut. Pilihan yang sempat berbeda tetapi dipaksa sama lantaran takut pada kesalahan.
Pada kenyataannya, kita berhak memilih menjadi egois atas pilihan-pilihan yang kita ambil dan kita yakini benar, selama pilihan-pilihan tersebut tidak merugikan orang lain. Namun sayangnya, tidak semua orang memiliki keberanian untuk menunjukkan perbedaan tersebut dan kita tidak siap atas kenyataan yang kita terima terhadap stigma orang lain.
Ada ketidaksiapan masing-masing dari kita semua terhadap hal-hal yang kita inginkan keberadaannya, dan tentu saja hal itu menjadikan semua yang kita jadikan sebagai sebuah pilihan, menjadi pertaruhan yang begitu rumit. Dan lebih krusialnya lagi, egoisme yang seharusnya kita bangun untuk menopang rasa takut kita terhadap sebuah perbedaan, disalah kaprahi pada zona nyaman yang kita rasakan.
Namun, memilih menjadi egois atas pilihan-pilihan yang kita ambil juga tidak lantas membuat kita menutup mata atas rasionalitas yang nilainya lebih tinggi dari idealisme kita. Dalam konteks bahwa kita menolak untuk menyadari akan sesuatu yang sifatnya lebih mutlak agar tidak cenderung menjadi sebuah pembenaran.