Senin, 09 Agustus 2021

Integritas Intelektualistas


Zaman sekarang tuh banyak juga ya orang-orang yang sok intelektual, merasa open minded, merasa bijaksana. Karena, ya, kelihatannya cukup keren aja gitu, apalagi kalau di tongkrongan ada salah satu teman yang bicaranya panjang lebar ngebahas banyak perspektif. Duh, berasa paling bijaksana aja udah.


Mungkin emang karena open minded itu sendiri punya citra positif gitu kan ya, buat menarik perhatian banyak orang? Semata-mata supaya orang lain bisa ngelihat dirinya kalau dia punya wawasan yang luas, atau minimal dengan mengakui seperti itu dia punya barometer untuk merasa dirinya intelektual daripada orang lain yang bisanya cuma mendengar.


Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita mungkin saja sedang kekurangan orang-orang yang merelakan dirinya untuk menjadi pendengar, sedangkan di luar sana sudah terlalu banyak orang yang memaksa dirinya untuk berbicara karena ingin merebut perhatian publik. Biasanya orang-orang seperti itu wawasannya baru keluar dari zona nyamannya, dia baru melompat dari dangkalnya formalitas wawasan, ke banyak perspektif yang nggak punya batasan sebagai barometer kebijaksanaan pun wawasan. Semua hanya perkara perspektif, opini, dan wadah utamanya adalah diskusi.


Sedangkan orang-orang yang merasa intelektual karena baru mengenal luasnya wawasan, mereka suka mengajak orang untuk bicara yang jatuhnya bagi dia adalah diskusi, tapi bagi orang lain jatuhnya malah dia pamer wawasan. Tau kan maksud saya? Yang tiap ada orang mancing-mancing kita buat ngebahas sesuatu, dia yang nanya, malah dia sendiri yang jawab panjang lebar. Dan karena dia bicara panjang lebar begitu, dia jadi nggak punya banyak waktu untuk orang lain agar bisa ikut bicara dengannya.


Selain itu ada juga orang-orang yang merasa dirinya benar. Ini di atas orang yang merasa open minded tadi. Karena setelah merasa open minded, mereka merasa apa yang ada di dalam kepala mereka tuh adalah sesuatu yang output kendalinya adalah kebenaran.


Saya tidak menjustifikasi orang-orang seperti mereka, justru saya ingin mengajak semua yang membaca ini untuk melihat kembali atas dasar apa seseorang berbicara sedemikian beraninya, apalagi sampai mengemukakan perkara benar atau salah yang jatuhnya di luar diskusi satu arah. Kita harus tau apa yang menyebabkan seseorang punya pemikiran seperti itu, karena kebenaran yang datang dari satu mulut, selalu memiliki sebab atas kedatangannya, untuk kemudian diterima pada isi kepala dengan pemahaman yang cukup baik.


Mungkin kesannya akan terdengar cukup filosofis, tapi memang dari sinilah kita akan mampu mengerti bagaimana berwawasan yang sesungguhnya. Orang yang merasa dirinya intelektual karena mendengarkan pembicaraan orang lain, belum seintelektual orang yang membaca buah hasil pemikiran orang lain. Karena jelas jauh perbandingannya.  


Sederhananya, orang kalau ngomong cuma sekadar ngomong, bisa aja salah, dan kesalahan itu murni terucap dari mulutnya, karena bentuknya adalah omongan. kendati kesalahan tersebut mampu diklarifikasi secara langsung. 


Sedangkan tulisan dihasilkan melalui banyak proses, tulisan tidak langsung hadir begitu saja tanpa diketik dengan penuh riset, dan seseorang tidak akan pernah bisa membuat sebuah tulisan kecuali sedang mempunyai keresahan. Dan keresahan juga merupakan isi dari pemikiran seseorang yang kemudian diakumulasikan menjadi sebuah tulisan. Paling genap lagi, tulisan yang dibukukan. Karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan.

Share: