Kamis, 18 November 2021

Self healing

Fenomena self healing ini menjadi salah satu kemarakan yang ada di sosial media, orang-orang dengan mudahnya mengklaim metode self healing mereka yang mungkin dalam dunia psikologi itu nggak akan sama kasusnya dengan tiap-tiap manusia lainnya. 

Ngerti, mungkin maksud mereka adalah menunjukkan bahwa cara mereka melakukan self healing untuk dirinya tuh, gitu. Nggak salah sih sebenarnya. Cuma, kasian aja orang-orang yang mendapati hal-hal kayak gitu menjadi terdoktrin dan menganggap bahwa punya self healing sendiri tuh baik. Bahkan kelirunya kalau sampai mengira kalau nggak self healing, nggak baik. 

Orang lagi rame posting cara self healingnya masing-masing, terus kita malah jadi terobsesi untuk ikutan dan mencoba mencari-cari apa self healing yang cocok untuk kita, nggak gitu konsepnya. Jangan sampai menjadikan self healing itu sebagai sebuah keharusan untuk kita lakukan.

Menurut konten kreator psikologi, Analisa Widyaningrum, kemampuan memahami diri sendiri aja sudah termasuk self healing loh padahal.

Dari segi keilmuan, self healing mengarah pada proses pemulihan atau penyembuhan yang biasanya diakibatkan oleh gangguan psikologis atau trauma di masa lalu.

Sedangkan menurut Syahid Muhammad, kita baru akan bisa melakukan self healing kalau kita sudah punya kapasitas pengetahuan dan cara-cara yang tepat. Minimal kita mendatangi psikolog, minta bantuan sama mereka, biar kita tahu self healing yang cocok buat kita tuh apa. Jangan sembarangan milih-milih, bahwa, oh, ini bisa jadi cara self healing untuk kita, nggak sesempit itu sih kalau menurutnya. Ya dengan berkonsultasi ke profesional tadi bisa jadi salah satu cara yang tepat, dan nggak ada salahnya gitu. Malah kita jadi tahu penyebabnya apa dan kita bisa mengatasinya.

Ibarat kalau kita lagi sakit pilek, (terus kita konotasikan dengan konsep self healing tadi) kalau pilek itu kita konsultasikan ke dokter, pasti akan dikasih obat kan sama dokternya? Nah obat itu lah yang jadi self healingnya. Jangan karena kita pilek, terus kita self healing sendiri dengan milih obat sendiri. Gitu juga self healing, jangan malah karena satu masalah, kita memilih self healing kita sendiri yang padahal itu belum tentu sesuai. Nah gitu kira-kira konotasinya.

Namun, kecendrungan pilihan untuk membawa diri ke psikolog itu mungkin masih ada rasa sungkan. Soalnya kadang kita terlampau menganggap diri baik-baik aja, yang padahal kalau dikondisikan psikisnya lagi nggak baik-baik aja, dan kita menyangkali hal tersebut dengan harapan bahwa besok-besok kita sudah lebih baik daripada sebelumnya. Saya juga pernah memberikan cuitan di Twitter seperti ini, memendam dan menahan emosi secara terus-terusan hanya akan membuat kita merakit bom waktu dalam hidup kita sendiri, ibaratnya kayak kita lagi ngisi air ke dalam balon yang kalau udah kepenuhan akan ada saatnya buat pecah.

Makanya padahal sepenting itu emang buat kita punya profesional psikolog sendiri, biar kita tahu harus ke mana mengatasinya. Tapi stigma orang terhadap psikolog yang membuat kita nggak aware sama tindakan tersebut. Di era maya digital ini mungkin kesehatan mental sudah nggak jadi tabu lagi, walaupun sering kali banyak yang disalah kaprahi. Tapi di masyarakat mungkin masih aja belum bisa aware sama kesehatan mental ini.
Share: