Kamis, 29 Juni 2023

Risalah Ngopi

Saya pertama kali memulai perjalanan ngopi dengan sebenar-benarnya ngopi sejak tahun 2019, waktu itu saya diajak oleh salah seorang teman untuk menikmati kopi di salah satu kedai kecil sederhana. 

Kalau saya tidak salah, dulu itu masih cukup sulit untuk menemukan kedai kopi sederhana yang menyuguhkan kopi hasil racikan dari biji asli, karena sejauh yang saya temukan saya selalu mendapati warung kopi yang menyeduh kopi sachetan.

Saya masih ingat betul pesanan saya pertama kali karena begitu penasarannya dengan menu kopi americano, bahkan lebih parahnya saya memesan kopi tersebut dengan varian dingin, bukan panas.
Perlu diingat, sebagai seseorang yang baru pertama kali mengecap rasa kopi dari biji asli, tentu saja lidah saya langsung merasakan tidak enak yang luar biasa, saya tidak bisa menemukan rasa enaknya untuk dinikmati dari kopi tersebut, karena sebelum-sebelumnya saya hanya menikmati kopi sachet dengan tambahan gula yang menyeimbangi rasa kopi tersebut. Kemudian saya bertanya kepada teman saya apakah memang rasa kopi yang saya pesan ini memang demikian? Teman saya langsung menyambar gelas kopi milik saya lalu meminumnya, kemudian dia berucap bahwa memang rasanya seperti itu dan rasanya benar-benar pas. Karena sudah terlanjur memesan seperti itu, mau tidak mau saya harus bisa menghabiskannya. Memang selalu ada penolakan di lidah saya pada awalnya ketika meminum kopi tersebut. 

Di lain waktu, saya kembali mendatangi kedai kopi tersebut dan mencoba untuk memesan kopi susu sebagai penyesuaian di lidah saya, dan benar saja jika kopi susu yang saya rasa itu sungguh jauh berbeda sebagaimana kopi susu yang biasanya saya minum dalam bentuk sachetan. Pahit dan manisnya benar-benar beradu di lidah, tidak lantas salah satunya mendominasi.


Lambat laun, seiring berjalannya waktu, lidah saya mulai terbiasa dengan cita rasa kopi yang sesungguhnya, yang berada jauh di luar jangkauan oleh pengaruh gula. Cita rasa kafein yang dikecap oleh lidah menuju lambung, membentuk suatu dialektika terindah dari dalam kepala, beberapa hal terasa lebih ringan untuk dipikirkan bahkan direnungkan. Tetes demi tetes regukan yang lewat dari tenggorokan, menjadi salah satu opium dalam mencerna banyak pengertian.

Sejak saat itu, saya jatuh cinta secinta-cintanya pada kopi, dengan batas-batas yang diciptakan oleh tubuh, juga cita rasa yang lahir, tidak pernah alpa dari tiap gelas yang terseduh. Hingga kapan pun, ketika saya perlu mengurai benang kusut di kepala, kafein akan menjadi jawaban paling sederhana dengan sederet bacaan-bacaan yang saya suka. Kiranya memang demikian, kafein dan nikotin yang sesekali saya sulut lewat mulut, menjadi salah satu simfoni paling maknawi di tiap rangkaian nada bicara yang berbunyi.

Dalam beberapa kejadian, saya sering menulis perihal kopi yang menjadi teman penenang paling diam, di balik kepekatannya yang paling purba dan melampaui banyak masa. Ada banyak rentetan huruf yang merangkai serpihan kalimat menjadi utas tulisan paling lugas. Sebagaimana Usman Arrumy menitahkan surah kopi pada puisi, pun demikian dengan aku yang lancang mengikuti beserta kejahilan diri. Begini aku menuliskannya;

Pada lampu-lampu kota yang berjejer rapi

Kulihat di ujung bangku jalan, kekasihku tengah duduk sendirian
Isi kepalanya tengah bercengkerama pada sepi
Berdialog syahdu bersama secangkir kopi

Manakala kopi menjelma waktu
Aku akan hangus terbakar oleh rindu
Sebab kopi adalah sebuah detak
Bagi rindu yang membuat diri berontak

Manakala kopi menjelma sunyi
Aku akan terjebak dalam keheningan
Hening yang menjelma suara
Saat sepi menjelma aksara

Tatkala kekasihku telah menuliskan puisinya
Maka sejauh itu pula kehidupan tak kunjung nyata
Hening dan sepi yang kekasihku rasa
Hanyalah perjumpaan kami yang paling purba;
Berupa kata-kata

2019

Kopi-kopi itu adalah napas kehidupan bagi kata-kataku, ketika debar di dada sedang berdenyut menyebut namamu.

2020

Bahkan lebih jauh dari itu, karena berbasis kutu buku yang gemar membersamai bacaan dengan kopi, saya sempat menulis sebuah narasi seperti ini;
Secara sederhana, hubungan antar kopi dan buku bagi para pembaca adalah sekadar untuk melepas kantuk saat mata sedang khusyuk menyelami kata-kata. Namun lebih jauh dari itu, makrifat kopi adalah makna, saat mata melaksanakan syariatnya tatkala membaca. Dan kata-kata hanyalah tarekat, bagi sepasang mata yang mengais makna dalam sebuah hakikat.

2020

Di tahun 2019 saya mempunyai satu projek naskah untuk dibuat buku, ketika saya sudah terbiasa nongkrong di kedai kopi tersebut, saya mencoba mencari suasana baru dengan mencoba menulis di sana, dan saya benar-benar sendirian. Tahun-tahun tersebut masih menjadi tahun yang ideal untuk seseorang yang terbiasa sendiri ini, menikmati waktunya dengan penuh kedamaian, pun orang-orang sekitar yang kiranya sama seperti yang saya lakukan.

Selain dengan tempat yang berbeda, tulisan tersebut kini menjadi salah satu bagian dari isi yang saya masukkan di dalam buku pertama saya yang berjudul "Memeluk Duka". Transisi tempat yang saya pilih jelas saja karena perbedaan harga yang jauh lebih terjangkau dan utamanya karena rasa yang jauh lebih berbeda, ditambah bonus dengan barista yang sangat ramah sehingga dapat membentuk satu obrolan berarti perihal kopi.

Selain terbiasa sendiri untuk barang kali menulis dengan nuansa coffeshop sederhana, saya juga banyak menghabiskan waktu sendiri saya di tempat kopi sembari membaca buku.

Tatkala buku pertama saya selesai terbit, media informasi dunia sedang gempar memberitakan bahaya pandemi covid-19 yang muncul di Wuhan dengan segala dampaknya. Dua bulan kemudian Indonesia resmi melakukan Lockdown atas paparan pandemi yang mulai menyebar luas, tatkala itu juga tempat saya biasa menikmati kopi dibatasi penjualannya.

Namun ada satu, kedai kopi langganan saya yang pernah begitu saya banggakan dulunya, musabab karena pemiliknya yang begitu ramah dan enak diajak berbincang, hingga waktu yang dilalui menjadi tidak terasa panjang.
Bahkan sebagai bentuk apresiasi sang pemilik kedai, beliau berkenan memajang buku pertama saya di salah satu rak buku yang dapat dibaca secara umum oleh para pengunjung yang datang ke kedai kopinya. Sebuah kebanggaan yang cukup berarti dalam proses saya berkarya.

Di lain waktu saya juga terbiasa mencoba mencari suasana baru tentu dengan rasa kopinya dengan mengunjungi kota tetangga dari tempat tinggal saya, dan itu benar-benar menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Begitulah dinamika kafein pada kopi yang mampu menjadi teman terbaik untuk menjalani sebuah hari.
Tatkala malam tiba, lalu pergi menyambangi kedai kopi langganan saya untuk barang sejenak menyeruput satu atau dua gelas kopi dengan percakapan isi kepala yang tidak jelas, kemudian pulang kembali dengan semua tenang yang tiba-tiba terhimpun rapi.

Hingga semakin jauh waktu berlalu, semakin momentum diadu. Rangkaian-rangkaian ketenangan yang dulunya terhimpun mesra, runtuh dalam amuk tawa yang tumpahkan suara sekencang-kencangnya. Manusia memang sebegitu menderitanya, dan kita memang akan memilih satu tempat terbaik bagi segala penderitaan untuk bertandang, mengusir segala sesak yang dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan keresahan.

Dengan demikian, gaduh dan berisiknya isi kepala orang lain yang tumpah di mana-mana, tidak sebanding dengan apa yang tengah saya upayakan dari isi kepala untuk tidak sembarang menumpahkan segalanya. Perlahan-lahan saya tergerus oleh banyak momentum yang dikalahkan oleh kuantitas, segala hal yang mudah didapat memang akan selalu jadi panggung perebutan paling hebat, ya?
Hingga di satu titik, saya menemukan satu kenyamanan paling mesra bagi tenang yang berkontemplasi pada isi kepala, memilih tempat yang tidak semua orang rela memilihnya, menjadikan kemampuan saya dalam menjalaninya dengan penuh rela. Sebab memang segala tenang dan nyaman itu mempunyai harga yang harus dibayar oleh segala pilihan yang kita ambil dengan semua resikonya. Karena bagi seseorang yang terbiasa sendiri, tempat terasing yang katanya bergengsi akan menjadi pilihan yang layak diamini. Kendati setelahnya, hidup saya akan habis-habisan dijustifikasi.
Share:

Jumat, 23 Juni 2023

Mengalihkan penderitaan yang tak sepadan dari realita yang diharapkan

Aku yang sedari tadi sudah dengan perasaan curiga, mencuri pandang ke arah tangannya yang ditutup menggunakan hoodie panjang, lalu aku memberanikan diri untuk menarik lengan hoodie tersebut hingga kemudian terlihat jelas apa yang saat ini dia sembunyikan. "Kapan terakhir kali lo lakuin ini?" ucapku langsung menodongkan tanya padanya.


"Maksudnya apaan?" Dia masih berusaha berkilah untuk tidak mengakuinya sembari kembali menutup pergelangan tangannya, walaupun bukti nyata sudah dengan jelas ada di depan mata.


"Kalau emang lo nggak bisa berhenti buat self harm karena sesaknya penderitaan lo, minimal berhenti karena lo emang sayang sama gue. Gue ada buat lo, karena gue mau dengerin semua penderitaan lo, gue mau lo ngerelain penderitaan lo itu untuk ada dan lo hadapi, tapi nggak dengan cara yang kayak gini." Aku mengelus pelan kedua tangannya yang masih tersisa bekas goresan luka, pedih sekali rasanya harus merasakan bekas luka itu berada di tangan mungilnya.


"Gue nggak bisa nyatuin itu, itu dua hal yang berbeda, dan lo nggak akan ngerti," timpalnya dengan nada suara serak dan sesak yang bisa aku rasakan. Sulit memang jika harus mengungkit kembali rasa sakitnya yang sudah dilalui untuk jadi pembicaraan lagi.


"Really, gue nggak ngerti? Gue juga pernah ngalamin hal yang sama, gue juga pernah self harm. Lo lupa? Kita dipertemukan karena apa? Karena badai yang sama-sama kita hadapi, kan? Masalah-masalah yang kita limpahkan untuk ditertawakan, bukan? Tapi kenapa akhirnya lo mendadak kalah begini?" imbuhku dengan rentetan tanya yang tak bertuan.


"Gue nggak kalah, justru gue lagi bertahan." Nada suaranya agak meninggi, tetapi diiringi oleh rasa sesak yang masih dicoba untuk ditahannya.


"Dengan cara apa?" lirih gue pelan berusaha mengontrol emosi.


"Yaa itu," jawabnya cepat dan gamblang.


"Itu bukan bertahan, sayang. Itu kalah sama keadaan. Lo mengorbankan diri lo dengan asumsi bahwa lo memenangkan penderitaan itu, padahal kenyataannya enggak, lo hanya mengalihkan rasa sakit itu menjadi wujud nyata."


"Tapi cuma itu yang bisa gue lakukan, cuma itu yang bisa buat gue bertahan, dan cuma itu cara yang bisa buat gue masih ingin punya alasan untuk ketemu sama lo."


"Nggak, sama sekali nggak, lo salah." tukasku seraya menggelengkan kepala sembari memejamkan mata, kemudian beralih tempat duduk ke sampingnya seraya memegang kedua tangannya yang jelas sekali ada bekas irisan luka yang masih tersisa. Benar-benar pedih rasanya jika harus merasakan luka itu ada di tangannya karena penderitaan yang dia alami.


"Dengerin gue please, dengan sangat banget ini gue mohon, gue minta sama lo, please, berhenti untuk self harm, bisa?" pintaku dengan nada lemah sembari mendekatkan kepalaku ke hadapan wajahnya, tanpa aku sadari kedua pipinya sudah dibasahi oleh isakan tangis yang sejak tadi dia tahan, pertahanan dia kembali runtuh, dan aku kehilangan upaya untuk kembali menguatkannya.


"Please ya, gue mohon banget sama lo, gue minta sama lo, berhenti untuk self harm. Kalau lo nggak bisa berhenti karena penderitaan yang lo rasakan, minimal berhenti karena rasa sayang lo sama gue, apapun itu. Lo nggak mau kan, ngelibatin rasa sakit lo ini ke orang lain, apalagi gue, yang udah tau apa yang lo lakuin selama ini?"


Dia masih bergeming dengan isak tangisnya, kedua pipinya tak henti-hentinya dialiri oleh bulir air mata. "Please, bisa ya?" sekali lagi aku memohon dengan sangat kepadanya.


"Gue akan usaha," dengan terbata-bata dia menjawab permintaanku, dan seketika itu pula tubuhnya jatuh di pelukku.


Upaya self harm yang dilakukan oleh seseorang karena ingin mengalihkan rasa sakit, menjadikan orang-orang terdekatnya akan ikut terlibat dalam penderitaan tersebut. Badai yang ada di hidupnya, masalah-masalah yang ada di hidupnya, dengan penuh hati ingin kupayungi semua realitanya dengan suka rela, meski pias badai beserta penderitaan panjang itu akan tetap menerpa. Namun, ketakutan akan rasa sakit, lebih dulu sirna oleh keberanian-keberanian yang pernah kita rangkai untuk bangkit. 

Share:

Senin, 12 Juni 2023

Terpapar anxiety dari self diagnose yang berujung ilusi

Kekuatan media sosial dalam meromantisasi segala penderitaan tuh jadi ngebuat kita tervalidasi dan rasanya bisa jadi menenangkan gitu ya. Mungkin ini bisa jadi nilai positif, tapi kok makin ke sini pembawaan yang dikemas rapi dalam sebuah konten dengan mengusung konsep penderitaan, rasa-rasanya kayak cuma jadi permainan atau pamer situasi dengan elegan, dan utamanya bisa jadi mengandung keinginan untuk dinotice tanpa menggunakan cara yang norak. 


Tanpa bermaksud untuk menghakimi, apalagi menyudutkan seseorang yang memang mempunyai gangguan mental, tulisan ini saya buat semata-mata untuk menggambarkan penafsiran saya tentang imitasi yang diangkat dan dikemas oleh orang-orang di media sosial dengan effort yang begitu potensial. Dan kayaknya emang konsep mengenai penderitaan tuh adalah jalan pintas paling memudahkan ya, buat memvalidasi kekacauan pikiran dengan begitu elegan. Dengan begitu, kita bisa menarik simpati orang lain dan membuat mereka berbaur dengan kita melalui rasa kasihan yang berhasil kita dapatkan, sehingga energi untuk berbagi jadi meluap-luap sebagai obsesi. 


Fenomena anxiety ini sebenarnya menjadi persoalan yang cukup serius dalam ranah psikologi, anxiety sendiri merupakan gangguan kecemasan berlebih yang dihasilkan oleh stimulus dalam otak kita berupa pre frontal cortex dalam merespon kecemasan tersebut secara alami, hal ini ditandai dengan detak jantung kita yang menjadi berdebar lebih kencang, dan itu tidak bisa dimanipulasi. Maka yang bisa kita lakukan adalah menyadari rasa cemas tersebut karena itu adalah hal yang wajar. Namun, kalau kecemasan ini sudah sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari dan membuat kita tidak nyaman secara fisik apalagi psikis, maka sangat dianjurkan untuk mencari bantuan profesional untuk menangani hal ini.


Nah, permasalahannya, dari beberapa pemicu yang telah disebutkan melalui asal kecemasan tadi, kita sering kali malah mendiagnosa diri kita bahwa kita sedang mengalami anxiety. Memang bahwa pengakuan anxiety yang kita alami itu sangat tidak menyenangkan, terlalu kacau, ditambah dengan pikiran-pikiran berlebihan yang berdampak pada kesulitan tidur. Sehingga membuat kita yakin bahwa kita tengah terpapar anxiety dengan argumen-argumen data yang telah kita ketahui. Namun, jika dengan demikian kita memang merasakannya, apakah sebenarnya hal itu berpengaruh pada aktivitas kita sehari-hari, atau cuma sekadar datang ketika kita memang terlalu berlebihan dalam memikirkannya? 


Tentunya hal tersebut bisa dijawab oleh diri kita masing-masing yang merasakannya. Namun, poin pentingnya adalah, anxiety tidak sesederhana perasaan cemas, kacau, dan berantakannya isi kepala kita yang datang hanya di saat kita tengah menyadari dan memikirkannya. Anxiety ini justru lebih dari itu, dia merupakan gangguan kecemasan yang bahkan ketika kita tidak memikirkannya, kita justru sedang mengalaminya, dan itu memicu kepada kondisi fisik yang sangat tidak nyaman dan mengganggu pada kehidupan sehari-hari, hingga bisa memicu kita pada serangan panik akibat kecemasan yang berlebihan tadi.


Maka dari karena itu perlu penanganan profesional psikolog untuk membantu menanganinya. Bukan malah mendiagnosa diri kita sendiri dengan gejala-gejala yang ada dan kita masih tetap bertahan di dalamnya. Namun, perlu digarisbawahi juga bahwa kita perlu mengapresiasi orang-orang yang masih bisa bertahan melawan pikiran-pikiran yang berlebihan tentang kecemasan itu. Bisa jadi bahwa anxiety yang kita anggap dari hasil self diagnose itu hanyalah ilusi dari kekacauan-kekacauan isi kepala kita yang berlebihan sehingga membuat pikiran kita menjadi tidak nyaman, padahal sebenarnya kita tidak sedang mengalami anxiety secara benar-benar nyata yang justru menjadi persoalan yang cukup berat. Kita malah jadi orang yang cukup kuat untuk bertarung dengan kekacauan pikiran kita dengan batas-batas kewajaran yang masih terjaga, kendati hal tersebut memicu sesak di dada, tetapi kita masih bisa melaluinya, dan hari-hari yang kita lewati masih sama seperti sebelumnya.


Poin seperti itulah yang harusnya disorot ketika pikiran tengah kacau, meski kadang kalut, kadang abu-abu, selama kita masih tetap bertahan atas rasa sakit itu, bukan menjadi alasan mengapa kita harus menggelar anxiety sebagai validasi atas rasa sakit yang kita alami. Karena selama kita masih bisa bertahan atas rasa sakit tersebut, meski semenderita apapun kita menghadapinya, kita belum benar-benar ada di situasi sebagaimana orang dengan penderita anxiety yang hidupnya bahkan lebih menyeramkan dari kita. 


Namun, orang-orang yang terkena anxiety atas dasar pertimbangan dari seorang profesional psikolog, bahkan hidupnya jauh lebih beruntung karena telah berani untuk berkonsultasi kepada yang benar-benar ahli, ketimbang kita yang hanya menggelar validasi atas sebuah story yang kemudian kita amini. Anxiety tidak sesepele itu untuk dijadikan pilihan, karena itu bukan jawaban, dan solusi terbaik dari semua rasa sakit, adalah tetap menerimanya meski semenderita apapun diri kita, karena semua tempat berpulang ada pada diri kita sendiri, pada semua keputusan-keputusan yang kita ambil dengan semua keberanian untuk berkonsultasi kepada yang memang benar-benar ahli atau hanya sekadar untuk mencari validasi.

Share:

Kamis, 01 Juni 2023

Manusia dan labirin di jiwanya

Untuk kepadatan waktu dari sekian banyaknya temu, akhirnya kita kembali menemui kesepakatan dari banyaknya wacana rungu. Pastinya, ini sama sekali bukan cetera romansa dua pasang manusia. Karena kita hanyalah paradigma yang dibentuk oleh praduga dari isi kepala manusia lainnya.

Sebenarnya pelik tuk bahasakan apa yang mendera dari balik rahasia yang kita ciptakan, tetapi isi kepala menyerah tuk simpan lebih lama lagi dari sudut ingatan. Maka, demi tunaikan hangat yang telah lama membeku oleh bias-bias temu, kukibarkan kembali kehampaan itu melalui cermin yang kutemukan pada sosok seorang hawa, nasib dua orang manusia dan beberapa manusia lainnya yang tidak bisa kujangkau keberadaannya. Namun satu, ada satu yang setara untuk sama-sama limpahkan duka dengan rela.

Percaya, manusia punya pahit masing-masing yang disesap oleh hati atas kejadian yang membuat kenyataan tak lagi berarti. Dan entah bagaimana, bias dari ceruk matamu yang kutemukan oleh duka yang sama tetapi dari rajut kisah yang berbeda, menjadi kelabu yang berkabung di tatapan yang sama. Kau melimpahkan tangis dengan tenang di bahuku, sementara aku tak sengaja tumpahkan sebulir bening dari kelopak mataku di puncak kepalamu. Kita sama-sama dirundung oleh waktu dengan peliknya kejadian yang benturkan banyak tanya, tetapi kita menghadapinya dengan segala duka yang terpendam oleh peluk yang saling menguatkan.

Alih-alih dari praduga manusia atas kasmaran, bahkan aku tak seperti menganggapmu sebagai seorang teman, sahabat, apalagi kekasih, kita selaiknya musuh yang tidak saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan pembenaran. Aku dengan segudang tanya yang tak dapatkan percaya dari harapan yang kubentangkan dengan panjang, sementara kamu dengan tembok besar yang tak bisa kamu hancurkan demi gapai sebuah harapan. Kita setara oleh hancur yang bentangkan romantika tanya, sedang detik yang punya jawab melalang buana pada setiap kepala manusia, dibiarkannya tersesat dalam labirin masing-masing jiwa.
Share: