Aku yang sedari tadi sudah dengan perasaan curiga, mencuri pandang ke arah tangannya yang ditutup menggunakan hoodie panjang, lalu aku memberanikan diri untuk menarik lengan hoodie tersebut hingga kemudian terlihat jelas apa yang saat ini dia sembunyikan. "Kapan terakhir kali lo lakuin ini?" ucapku langsung menodongkan tanya padanya.
"Maksudnya apaan?" Dia masih berusaha berkilah untuk tidak mengakuinya sembari kembali menutup pergelangan tangannya, walaupun bukti nyata sudah dengan jelas ada di depan mata.
"Kalau emang lo nggak bisa berhenti buat self harm karena sesaknya penderitaan lo, minimal berhenti karena lo emang sayang sama gue. Gue ada buat lo, karena gue mau dengerin semua penderitaan lo, gue mau lo ngerelain penderitaan lo itu untuk ada dan lo hadapi, tapi nggak dengan cara yang kayak gini." Aku mengelus pelan kedua tangannya yang masih tersisa bekas goresan luka, pedih sekali rasanya harus merasakan bekas luka itu berada di tangan mungilnya.
"Gue nggak bisa nyatuin itu, itu dua hal yang berbeda, dan lo nggak akan ngerti," timpalnya dengan nada suara serak dan sesak yang bisa aku rasakan. Sulit memang jika harus mengungkit kembali rasa sakitnya yang sudah dilalui untuk jadi pembicaraan lagi.
"Really, gue nggak ngerti? Gue juga pernah ngalamin hal yang sama, gue juga pernah self harm. Lo lupa? Kita dipertemukan karena apa? Karena badai yang sama-sama kita hadapi, kan? Masalah-masalah yang kita limpahkan untuk ditertawakan, bukan? Tapi kenapa akhirnya lo mendadak kalah begini?" imbuhku dengan rentetan tanya yang tak bertuan.
"Gue nggak kalah, justru gue lagi bertahan." Nada suaranya agak meninggi, tetapi diiringi oleh rasa sesak yang masih dicoba untuk ditahannya.
"Dengan cara apa?" lirih gue pelan berusaha mengontrol emosi.
"Yaa itu," jawabnya cepat dan gamblang.
"Itu bukan bertahan, sayang. Itu kalah sama keadaan. Lo mengorbankan diri lo dengan asumsi bahwa lo memenangkan penderitaan itu, padahal kenyataannya enggak, lo hanya mengalihkan rasa sakit itu menjadi wujud nyata."
"Tapi cuma itu yang bisa gue lakukan, cuma itu yang bisa buat gue bertahan, dan cuma itu cara yang bisa buat gue masih ingin punya alasan untuk ketemu sama lo."
"Nggak, sama sekali nggak, lo salah." tukasku seraya menggelengkan kepala sembari memejamkan mata, kemudian beralih tempat duduk ke sampingnya seraya memegang kedua tangannya yang jelas sekali ada bekas irisan luka yang masih tersisa. Benar-benar pedih rasanya jika harus merasakan luka itu ada di tangannya karena penderitaan yang dia alami.
"Dengerin gue please, dengan sangat banget ini gue mohon, gue minta sama lo, please, berhenti untuk self harm, bisa?" pintaku dengan nada lemah sembari mendekatkan kepalaku ke hadapan wajahnya, tanpa aku sadari kedua pipinya sudah dibasahi oleh isakan tangis yang sejak tadi dia tahan, pertahanan dia kembali runtuh, dan aku kehilangan upaya untuk kembali menguatkannya.
"Please ya, gue mohon banget sama lo, gue minta sama lo, berhenti untuk self harm. Kalau lo nggak bisa berhenti karena penderitaan yang lo rasakan, minimal berhenti karena rasa sayang lo sama gue, apapun itu. Lo nggak mau kan, ngelibatin rasa sakit lo ini ke orang lain, apalagi gue, yang udah tau apa yang lo lakuin selama ini?"
Dia masih bergeming dengan isak tangisnya, kedua pipinya tak henti-hentinya dialiri oleh bulir air mata. "Please, bisa ya?" sekali lagi aku memohon dengan sangat kepadanya.
"Gue akan usaha," dengan terbata-bata dia menjawab permintaanku, dan seketika itu pula tubuhnya jatuh di pelukku.
Upaya self harm yang dilakukan oleh seseorang karena ingin mengalihkan rasa sakit, menjadikan orang-orang terdekatnya akan ikut terlibat dalam penderitaan tersebut. Badai yang ada di hidupnya, masalah-masalah yang ada di hidupnya, dengan penuh hati ingin kupayungi semua realitanya dengan suka rela, meski pias badai beserta penderitaan panjang itu akan tetap menerpa. Namun, ketakutan akan rasa sakit, lebih dulu sirna oleh keberanian-keberanian yang pernah kita rangkai untuk bangkit.