Dunia memang begitu penuh anomali, bukan? Kepala manusia pun demikian. Tragedi-tragedi yang ada untuk dihadapi, kebanyakan gagal untuk dikemas sebagai kado terbaik yang jadi kejutan untuk kemudian hari.
Penyesalan-penyesalan yang begitu brengsek, dengan sukarela diambil untuk diemban dalam sebuah pikiran, seolah kedewasaan sedang diuji dari masalah yang diambil untuk dihadapi. Kenyataannya tidak seperti demikian, bukan?
Dalam larut waktu yang diterima oleh banyak insan manusia, dialog-dialog hampa tercipta dengan atau tanpa makna.
"Emang apa sih alasan yang sebenarnya ngebuat lo terus-terusan ngerasa gagal?" protesnya terus-terusan kepadaku setelah melalui obrolan panjang yang berusaha kualihkan, tetapi tetap saja tak terindahkan.
"Lo mau gue jawab?" sahutku kemudian.
"Ya, nggak harus. Tapi seenggaknya lo enggak harus terus-terusan jadi merasa bersalah,"
"Kalau emang sebenarnya gue salah?" selaku dengan cepat.
"Enggak. Kesalahan yang lo bawa, itu cuma persepsi yang lo bentuk. Justru dengan,"
"Nggak usah nasehatin gue deh, udah basi." Aku langsung memotong ucapannya, kemelut emosi yang memenuhi isi kepala tertahan rapi untuk tidak muntah begitu saja.
"Terserah lo mau nganggapnya apa, gue cuma mau bilang, selama lo masih ngebawa pikiran-pikiran buruk tentang masa lalu, lo enggak akan pernah bisa maju sebaik diri lo di hari ini."
"Gue nggak pernah bawa pikiran buruk tentang masa lalu," timpalku masih menyangkal ucapannya.
"Itu yang lo kira, yang lo pikir, yang lo anggap. Emangnya lo nggak ngerasa? Selama lo masih terus bersedia untuk merasa gagal, lo nggak pernah punya keberanian untuk menghadapi semua yang udah lo mulai, termasuk kita."
Sempurna sudah diriku mematung atas semua ucapan yang tidak bisa aku bantah lagi, sebisa mungkin logika terus mencari celah untuk membenarkan apa yang telah aku pilih, tetapi hati terus berontak pada orang yang sedang ada di hadapanku ini.
"Gue enggak pernah ngerasa gagal, gue cuma ngerasa belum cukup beruntung untuk mengontrol situasi yang ada, termasuk kita," paparku melanjutkan ucapan yang terasa masih tertinggal di kepala, sementara di kepalanya telah menentang semua dialektika ucapan yang telah aku lontarkan.
"Terus, kalau emang lo masih ngerasa belum cukup beruntung, apa ketemu sama gue termasuk salah satu di antaranya?"
Hening. Detak arloji yang terus berputar mendadak terdengar samar, semilir hembusan angin bersenandung lewat indera pendengaran. Pertanyaan yang tidak pernah aku duga sama sekali untuk keluar dari mulutnya, pada akhirnya benar-benar aku terima sebagai pertanyaan, dan sekarang aku menambah satu kebingungan baru untuk menghadapi situasi sekarang.
Kedua mata kami saling bersitatap, kemelut ego dari masing-masing jiwa memeluk raga untuk meminta pertanggung jawaban, gurat di wajahnya menyemai banyak ketulusan, manik matanya yang teduh memancarkan luasnya kepercayaan, lantas apakah aku masih layak menganggapnya sebagai keberuntungan yang tidak menyempurnakan? Tuhan, aku tidak ingin terjebak oleh banyak situasi yang membuat aku tersesat kepada diriku sendiri, apalagi jika harus membawa orang lain di dalamnya, lirihku bergumam dalam hati.
"Cukup ya, nyalahin diri sendirinya. Enggak apa-apa kalau emang butuh waktu buat tenang, tapi janji harus tetap bangkit. Ini bukan cuma sekali kita hadapi, tapi udah yang kesekian kali. Jadi jangan terus ngulang hal yang sama, ya." Ucapannya lirih terdengar dari balik tubuhku, tanpa sadar ia telah berada di sana untuk meredam amarah panjang ini, dan aku dengan turut serta menyandarkan wajah di puncak kepalanya, membelai lembut rambutnya yang mengisi sela-sela jemariku, menyemai semua bentuk ketenangan yang luruh dalam satu waktu yang sama.