Jumat, 08 September 2023

Eunoia---hidup yang begitu nestapa

Saat dunia semakin munafik memberikan kehidupan, dia tetap bertahan meski berjalan di atas kekosongan, tanpa alasan, tanpa tujuan. Semua hanya perihal omong kosong yang begitu penuh oleh tipu daya. Bahkan dia sendiri tahu bahwa tubuhnya yang tak pernah disinggahi peluk meski sekalut apapun hidup, tetap mampu mempertahankan dirinya sendiri, dan waktu selalu berucap bangga dengannya. 


Karena percuma mengeluh kalau masih tidak ada yang peduli, percuma merasa nelangsa kalau cuma mengharap iba. Perasaan-perasaan egois tentang hidup sudah sebegitu beringasnya dia raup, semata-mata agar dia bisa tetap merasakan hidup. Nyatanya, dunia semakin mengasing. Sosialisme di hidupnya kini seolah berpaling. Dia hidup hanya untuk memenuhi kekosongan, makna dan arti hanya sebatas singgah untuk kemudian diabaikan. 


Kematian terasa begitu jauh dari keinginan, tetapi merasa mati terhadap dunia telah lebih dulu ia rasakan. Pikirnya, manusia memang kerap menginjak keegoisannya masing-masing dengan cara merasa tersiksa, sama seperti halnya ia yang begitu berontak tatkala malam tiba dan berharap tidur selamanya tatkala matahari menyapa. Namun, ada yang masih tidak bisa dimengerti dari dunia yang telah begitu rela memberikannya kehidupan; hidup tetapi kehilangan akal sehat, mati tetapi berupaya tuk hidup kembali. 


Sampai akhirnya tiba seseorang yang jauh dari angannya, menatap lekat ke arahnya, menyelami tiap inci manik matanya yang perlahan digenangi haru. Seseorang yang benar-benar sudah tidak lagi peduli siapa dirinya di mata dunia. Meski dengan tersuruk-suruk dan tertatih letih, keinginan untuk bangkit selalu memberi makna rumit pada titik paham yang sekelumit. Hingga akhirnya tubuh yang ringan itu terhempas jatuh dalam pelukan seseorang yang dengan sukarela membagikan peliknya niscaya. 


Dia adalah aku yang tak tertuliskan oleh kata-kata. Dan dunia tak pernah berhenti menampiknya, menghentikan pilihannya, bahkan sebelum kenyataan membuktikan segalanya. Semua usai sebelum kebahagiaan itu terurai. Benar-benar selesai hingga tidak ada lagi yang tersisa. Dan pada kenyataannya, tetap aku orangnya, bukan orang lain. Jadi salahkah jika aku putus asa? 


Tidak ada jawaban, hanya kosong. Bahkan kehidupan sendiri mampu tertawa kala menanggapinya. Omong kosong paling brengsek yang menjejali kenyataan bahwa pertanyaan bodoh itu bisa-bisanya berkelindan. 


Selalu ada yang tidak pernah tercukupi dari hidup, salah satunya ekspektasi. Dan satu-satunya putus asa terbesar dalam hidup adalah, berjuang untuk diakui oleh kehidupan, namun dibunuh lebih dulu oleh kehidupan itu sendiri. Entah siapa yang kini menjadi bajingan, aku yang ada dalam kehidupan, atau mungkin kehidupan itu sendiri?

Share: