Semakin orang mengenal kebebasan, semakin mereka tidak tahu aturan.
Diri yang selama ini menjalani hidup, diluntang-lantungkan oleh banyaknya pilihan, dan dari pilihan tersebut, kita dihadapkan pada sebuah proses yang terkadang membuat langkah tidak mampu menyelesaikannya. Lantas kebebasan yang kita rasakan akhirnya menjadi sebuah degradasi yang kehadirannya tidak kita sadari.
Saya itu orangnya pemalas, tapi saya mengakui kalau saya memiliki sikap disiplin, tetapi di dalam konsep-konsep tertentu, begitu pula halnya dalam perkara rajin. Nah, mengenai rajin dan disiplin, keduanya memiliki sekat tipis yang membedakan mana orang yang sedang mengendalikan waktu atas hidupnya, dan mana orang yang hidupnya dikendalikan oleh waktu.
Mungkin tanpa semua orang sadari, masing-masing dari kita tengah berjalan menjauhi dari ekspektasi yang ingin kita raih, di saat dengan lantangnya kita mengikrarkan ekspektasi tersebut. Bukan menjadi keanehan rasanya jika sebagian orang bersikap demikian, karena untuk mencapai sesuatu yang ingin kita raih, tidak akan selalu ada kemudahan untuk kita menggapainya. Maka dari karena itu kedisiplinan menjadi salah satu tantangan terbesar kita untuk bertanggung jawab atas apapun yang kita jadikan sebagai pilihan.
Sebagai seorang pemalas, kalau saya sudah tidak ingin melakukan sesuatu lagi untuk mengerjakan beberapa hal, maka saya tidak akan mengerjakannya sedikit pun. Misal, ketika saya sudah merebahkan diri di kasur dengan posisi dalam keadaan mengantuk, maka seberantakan apapun kamar yang saya tempati, saya akan tetap memilih untuk tidur. Persetan dengan kerapian. Namun, kesadaran saya akan rasa malas di sini bersifat sepele, dalam artian bahwa saya sedang tidak terikat oleh janji atau sesuatu hal di beberapa waktu.
Lain halnya ketika saya sudah berkomitmen atas sesuatu, entah itu dalam dua arah formal atau informal, dalam artian bahwa komitmen saya untuk melakukan kedisiplinan ini dibentuk dari luar diri saya sendiri yang sudah saya sepakati, atau memang komitmen yang saya bentuk sendiri. Kembali ke contoh pertama dalam perspektif berbeda. Ketika saya berada di kamar dengan posisi dalam keadaan mengantuk, pada saat itu kamar saya dalam keadaan berantakan, dan saya cukup merasa risih melihat hal tersebut. Pada kasus ini, saya akan memberi dua opsi untuk diri saya, memilih persetan atau berkomitmen untuk merapikan kamar. Jikalau sudah memilih komitmen, maka selelah apapun, saya harus tetap memilih waktu untuk merapikan kamar, dan biasanya saya akan mendadak menjadi orang yang perfeksionis. Karena bagi saya, ini adalah ranah informal yang tidak dibentuk dan diarahkan oleh orang lain, semua murni atas kemauan dan kehendak saya sendiri. Berbeda jika formal, dalam cakupan yang lebih luas perihal relasi, maka komitmen yang mencakup kedisiplinan ini akan membentuk bagaimana karakter diri kita.
Berkomitmen atas tiap-tiap sesuatu yang di dalamnya kita jadikan sebuah proses, terkadang selalu dipatahkan oleh keadaan yang tidak sesuai harapan. Karena memang, bagian dari sebuah proses adalah semua bentuk ragam kejadian-kejadian di mana kita mempertaruhkan keinginan untuk semua yang ada di hadapan sebagai keikhlasan kita dalam melakukan penerimaan.