Rabu, 28 Juli 2021

Memaknai Rasa Cinta Kepada Diri Sendiri

Semenjak kampanye mencintai diri sendiri terdengar cukup familiar, orang-orang sering salah persepsi dalam memaknai dan merepresentasikannya. Paradigma mencintai diri sendiri adalah mindset yang terbentuk dari dalam diri kita saat kita sudah mengenali siapa diri kita yang sebenarnya.


Contoh, saat kita tahu apa yang menjadi keinginan dalam diri kita, maka kita akan mengusahakannya agar bisa tercapai, dan ketika kita berhasil mendapatkannya, kita tahu harus bagaimana mengelola pencapaian tersebut. Lebih terbuka soal keinginan, dan tidak enggan untuk bersuara terhadap penolakan. Terlebih ketika itu berhadapan dengan masalah sosial yang menyangkut dengan orang lain, seperti ajakan seseorang yang sebenarnya kita tidak ingin untuk mengiakannya. 


Apabila kita mengenali apa yang menjadi keinginan dalam diri kita, maka kita akan berusaha menolaknya. Nah, perihal menolak ini pula yang menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang tengah mencintai dirinya. Karena kita tahu, seberapa besar cinta kita kepada diri sendiri. Maka kita juga harus tahu, orang lain juga bisa mempunyai asumsi yang sama terhadap cinta kepada dirinya. Maka dari karena itu, kita harus bisa mengakumulasikan rasa penolakan kita dan menyuarakannya tanpa membuat orang itu kecewa kepada kita. 


Simpulnya, kita menolak ajakannya dengan cara yang halus dan sopan. Namun, sopan itu sendiri memiliki beragam arah untuk bisa diterima orang lain sebagai kerelaan, jangan sampai karena kita terlalu dalam mencintai diri, kita akhirnya melahirkan rasa apatisme yang membuat orang lain kecewa terhadap tanggapan yang sudah menjadi keinginan kita, yaitu penolakan itu tadi. Dan kebanyakan mereka yang menggunakan label cinta diri sendiri sering salah kaprah di bagian itu.


Saya sering mendapati orang-orang yang merasa dirinya superior karena merasa 'berhasil' mencintai dirinya sendiri, ditekankan dalam tanda kutip berhasil. Mereka merasa apa yang menurut mereka tidak sejalan dengan pilihannya akan begitu mudah untuk mereka tolak keberadaannya, salah satu contoh sederhananya adalah seperti ajakan seseorang tadi yang ditolaknya dengan rasa apatismenya, dan dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain terhadap dampak dari pilihan yang dia buat atas dirinya sendiri; jatuhnya malah egois.


Bahaya mencintai diri sendiri tanpa membawa rasa kemanusiaan itu adalah di saat cinta yang dirawat atas nama diri sendiri, dibangun dengan cara membunuh personalitas orang lain yang ada di sekitarnya. Bahkan terkadang, saat ada seseorang yang sadar dan peduli dengan caranya mencintai diri yang tidak tepat, seseorang yang sudah cukup piawai menghadapi kebijaksanaan dalam mencintai diri sendiri, mengambil sebuah tindakan kepadanya dengan menasehati, tetapi malah ditanggapi secara mentah-mentah oleh sebuah penolakan yang lagi-lagi digunakan atas nama mencintai diri, demi kebaikan diri sendiri. Cinta dan kebaikan yang tentu membunuh kepedulian orang lain dengan sikap apatismenya. Apa itu yang namanya mencintai diri sendiri?


Mungkin memang cara mereka untuk menjadi baik bagi diri sendiri harus diawali dengan menumbuhkan luka di hati orang lain, terlepas dari salah atau tidaknya tindakan atau perbuatan tersebut. Paradigma yang mungkin tercipta di kepalanya adalah mementingkan diri sendiri bahwa ke depannya harus bisa tetap mencintai diri, karena memang semenenangkan itu hasilnya. Kendati yang dikorbankankan adalah kepedulian orang lain kepadanya.


Orang-orang menjadi salah kaprah dalam mencintai diri sendiri karena mereka merasa nyaman telah menemukan semua pilihan yang selama ini mereka inginkan, tetapi mereka lupa untuk menyetarakan derajat orang lain untuk sama dengannya. Bahwa mencintai diri sendiri memiliki banyak sentimental yang dibangun oleh sebuah kepedulian dengan kapasitas yang cukup tinggi. Maka dari karena itu, sebelum kita mampu mengendalikan apa-apa yang ingin kita kendalikan, kita perlu mengendalikan diri kita sendiri dengan rasa kepedulian itu tadi. Tetapi kenapa saat kita ingin mengendalikan yang di luar diri, kita malah menyembunyikan rasa peduli?

Share: