Senin, 20 September 2021

Stigma masyarakat terhadap filsafat

Dari dulu semenjak kali pertama menyukai buku, saya sudah cukup resah dengan keberadaan orang-orang yang memiliki stigma negatif tentang filsafat. Karena kebetulan dulu beberapa buku yang saya sukai adalah buku-buku yang membicarakan tentang ketuhanan dan keterkaitannya dengan filsafat itu cukup erat. Namun, keresahan saya itu hanya bisa dipendam karena saya tidak serta merta fanatik kepada filsafat. Saya hanya suka dan sesekali mempelajari. Dan sejauh ini buku yang saya miliki yang isinya murni membahas filsafat hanya satu saja, selebihnya saya hanya mengoleksi buku-buku tentang ketuhanan yang biasanya dikaji kembali oleh ulama-ulama terkemuka seperti Dr. Haidar Bagir, atau prof Quraish Shihab, itu pun mengambil konteks kepada Syaikh Jalaludin Rumi.


Stigma orang-orang yang tiap kali mendengar kalau ada orang belajar filsafat pasti akan berasumsi, "Hati-hati jadi orang yang atheis," atau "Hati-hati kalau tersesat dalam memahaminya." Itu adalah asumsi paling familiar di mata masyarakat yang cukup dangkal dalam memahami ilmu pengetahuan, meski masih ada banyak stigma lainnya yang cukup negatif terhadap filsafat.


Kebetulannya lagi karena kuliah saya adalah jurusan filsafat, meski ini bukan jurusan yang saya inginkan, karena sedari awal saya lebih tertarik kepada psikologi. Saya cukup muak jika ditanyai orang mengenai jurusan perkuliahan saya, karena saya sudah lebih dulu tahu bagaimana tanggapan orang-orang yang bertanya cuma sekadar basa-basi.  Padahal tempat kuliah saya yang sedari awal berbasis islam saja tetap membuat (sebagian) orang berasumsi negatif terhadap filsafat.


Bagi sebagian orang yang mengerti filsafat, kadang mereka memandang sinis ketika saya menjawab pertanyaannya bahwa jurusan kuliah saya adalah filsafat. Pandangannya terhadap saya seolah memancarkan keraguan kepada saya apakah saya sanggup mempelajari serta memahami ilmu filsafat itu sendiri. Padahal, secara sederhana tidak ada yang diberat-beratkan di dalam filsafat. Orang-orang saja yang keduluan memandangnya seperti itu karena tidak pernah tahu bahwa kenyataannya bertolak belakang. Namun, ada benarnya jika filsafat menjadi pelajaran yang cukup berat, yaitu bagi orang-orang yang malas membaca dan malas berpikir terhadap pendalamannya kepada ilmu pengetahuan. 


Orang yang belajar filsafat tentu lahir dari karena banyaknya bacaan, hingga kemudian melahirkan rasa ingin tahu yang tinggi. Apapun bacaan yang kita baca, selama kita menyimpulkannya dengan penuh tanda tanya dan mencoba mensiasati kesimpulan tersebut, secara tidak langsung kita sudah berada di dalam ruang lingkup filsafat itu sendiri. Meski hanya secara garis kecil.


Sederhananya kalau ada orang yang berasumsi negatif kepada filsafat, ya karena mereka nggak pernah ngerti gimana konsep pengetahuan itu dipelajari. Dikatakan oleh dosen saya yang mengajar tentang pengantar filsafat, bahwa arti filsafat itu secara harfiah bermakna mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu dalam pengertian yang lebih umum yang bisa dipahami adalah cinta kepada pengetahuan. Jadi orang yang cinta kepada ilmu pengetahuan itu pasti menyukai yang namanya aktivitas belajar, ada semangat berpikir dan ada gairah berpikir di situ untuk mencari tahu terhadap persoalan-persoalan yang sebelumnya tidak diketahui.


Jadi, menurut saya pribadi, cuma orang-orang yang nggak pernah belajar yang nggak bisa ngerti apa kontekstualisasi terhadap pembelajaran itu sendiri, terlepas dari ilmu filsafat tentunya. Karena semua bentuk pembelajaran dan pengetahuan, induknya ya filsafat. Mengambil analogi dari perspektif agama, kalau ada orang yang mencaci maki manusia, maka berarti ia sama dengan mencaci maki Tuhan. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Sama dengan filsafat, kalau stigma terhadap filsafat sudah negatif, maka terhadap apapun pengetahuan yang dipelajarinya, juga pasti negatif. Karena filsafat adalah induk dari segala cabang ilmu pengetahuan.


Share:

Minggu, 12 September 2021

Antara karya dan personalitas

Orang-orang yang dalam hidupnya nggak pernah punya karya nggak akan pernah bisa ngerti gimana caranya menghargai. Kendati personalitas seseorang yang membawakan karya tersebut dinilai cukup buruk, tetapi dia juga berhak untuk dinilai dan dihargai dari keberaniannya dalam melahirkan karya-karya tersebut, terlebih jika karya-karyanya membawakan impact untuk orang banyak. 


Jangan mempersempit kehidupan kita hanya dengan personalitas, buka mata untuk melihat bahwa sebagian dari kita mengupayakan banyak cara untuk mengurung ide-ide yang sifatnya liar, menjadi sebuah karya yang mempunyai nilai. Personalitas hanyalah bagian dari kehidupan seseorang, sedangkan karya adalah bagian dari ide, pikiran, dan bahkan keresahan seseorang. Pada laman blog sebelumnya, saya sempat membawakan sebuah redaksi yang menyatakan bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh kita. Kendati di dalam tubuh kita terdapat otak yang secara nyata kita ketahui keberadaannya, tetapi otak akan berguna ketika kita memanfaatkan fungsinya.


Menurut saya pribadi, otak adalah kemampuan kita dalam menangkap keluasan isi dunia yang kemudian masuk ke dalam diri kita menjadi yang namanya pikiran. Dan seperti yang saya katakan dan yakini sebelumnya bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh manusia. Jika kita memanfaatkan pikiran-pikiran yang bersifat liar itu untuk menjadi pemahaman yang lebih kompleks, maka lahirlah sebuah karya. Entah apapun bentuknya. Maka dari karena itu filosofi berfungsi untuk menyandarkan karya sebagai makna yang memiliki arti-arti tersendiri di berbagai kepala manusia yang menangkapnya.


Kembali ke personalitas, keberadaan orang-orang bijak yang terlampau mengerti bagaimana caranya menghargai dan menikmati karya orang lain, mungkin telah kalah saing oleh keberadaan mereka-mereka yang katanya juga "menikmati karya." Orang-orang menjadi keliru dalam menikmati karya ketika mereka juga menempatkan harapan di dalamnya, bahwa personalitas seseorang yang membuat karya tersebut harus sejalan dengan karyanya sendiri. Sederhananya, perbuatannya harus sesuai dengan ucapannya. Ya kembali lagi, karya adalah bagian terpisah dari personalitas, karya bisa hadir menjadi apapun bagi siapapun, terlebih jika itu menjadi motivasi terkuat bagi yang membuat karya itu sendiri, atau pun orang lain yang menikmatinya.


Karya memang selalu punya value  masing-masing, dan itu memang tidak bisa terbantahkan begitu saja bahwa nilai itu berlandaskan pada personalitas seseorang yang membuat karya tersebut. Namun, value tersebut hanya menjadi bentuk indikasi bagi orang-orang yang memahami bahwa cara kita dalam menikmati karya, adalah murni menikmati karya tersebut, terlepas apa kisah hidup dan personalitasnya. Karya seni bukan soal memamerkan tentang kehidupan pribadi seseorang, karya seni adalah buah hasil dari persembunyiaan seseorang dari kehidupan pribadinya. Namun, yang disalah kaprahi dalam menikmati karya adalah, orang-orang akan  berbondong-bondong menikmati suatu karya apabila itu menyangkut bagian dari kisah hidup pribadinya, seakan personalitas seseorang lebih penting dari karyanya. Kita sebegitu inginnya mencoba akrab dengan seseorang yang mempunyai bakat untuk berkarya dengan mencoba untuk mendekati kehidupan pribadinya. Hingga akhirnya kita membuat reputasi karya menjadi tergeserkan oleh stigma yang tidak bisa terbantahkan lagi karena bersifat pragmatis.

Share:

Senin, 06 September 2021

Egosentrisme Kebenaran


Omong kosong banyak orang sama semua masalah yang dialami dalam hidupnya sendiri adalah mengedepankan egonya untuk memenuhi apa yang selama ini diperlukannya. Bullshit lah itu sama jalan keluar lewat saran, renungan akal sehat sama kata hati, diskusi sama diri, halah bacot. Selama jawaban yang tetap menang masih ego sendiri, itu nggak ngejadiin saran sebagai jawaban, tapi sebagai kampanye untuk menjawarakan sesuatu yang ego mau.


Pada akhirnya, setinggi apapun idealisme yang kita miliki terhadap ego yang ada di dalam diri kita, kita akan tetap hidup di dalam dunia yang isinya nggak cuma kita aja. Masih ada orang lain, dan itu jelas punya impact yang jauh bertentangan sama apa yang ego kita mau. Kendati demikian, hidup akan tetap berporos dengan semestinya, dengan dunia yang isinya nggak cuma kita aja, dan kita kehilangan hak untuk merasa sedemikian rupa menjadi manusia seutuhnya. Karena ya, yang ego mau sama apa yang kita mau beda, kesederhanaan nggak ada di sana sebagai jawaban yang menyehatkan.


Pun andai kita punya keberanian untuk memilih, saturasi eksistensi kita terhadap stereotipe yang dianut oleh banyak orang, tentu tergeserkan. Hingga akhirnya keberanian kita dalam memilih tadi diragukan, kendati yang kita pilih adalah kebenaran yang kita kita yakini. 


Perkara kebenaran yang diyakini, kebanyakan orang akan mengatakan hal yang sama untuk berlindung terhadap apapun idealisme yang tiba-tiba muncul di kepalanya, dan itu memperluas variabel keprimitifan nalar dalam membijaksanai sesuatu, di luar konteks kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita yakini harusnya kebenaran yang murni nggak memuat kepuasan ego kita di dalamnya, agar kita mengerti bahwa kebenaran yang diyakini bersifat lebih subjektif.


Saya pernah mendapati ungkapan bahwa pemikiran yang ada dalam diri kita adalah bagian yang terpisah dari tubuh, sama halnya perasaan, pun keinginan. Entah, saya lupa pernah membaca atau mendengar ungkapan tersebut dari mana, saya hanya bisa mengingat bagian itu saja, dan saya mengamininya. Bahwa makhluk hidup bernama manusia hanya terbatas pada organ tubuh, dan yang menariknya dari manusia adalah karena ia dianugerahi akal dan pikiran. Agar akal dan pikiran berguna, maka diciptakanlah ego agar kita berupaya menggunakan pikiran kita untuk menentang semua kemauannya yang selalu melampaui batas dari kehidupan kita.


Namun, bagian buruknya adalah saat kita menemukan ada banyak orang yang secara sukarela memelihara egonya dalam bentuk dalih, semata agar kemauan dan pilihannya dibenarkan. Dan sayangnya lagi, kita juga kehilangan antusiasme untuk menuding sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang, kendati yang kita sampaikan adalah kebenaran. Contoh sederhananya seperti ketika kita mendapati perlawanan dari seseorang yang ada di konteks sebelumnya, bahwa ia mengakui kesalahannya dalam memutuskan pilihan dan menyadari kalau pilihannya terdinding oleh logika. Namun, upaya untuk keluar dari sana nyatanya nggak bisa ditemukan, kesadaran menjadi ada karena berbasis diskusi, dan menyadari penuh atas kesalahan tersebut juga hanya sebagai dalih, agar dia terhindar dari aspek-aspek yang sedang mencoba menyudutkannya.


See? Menjalani pilihan berdasarkan ego sendiri tuh enak, kendati resiko yang didapat cukup pahit. Namun, masih ada banyak korban yang bisa ditumbalkan. Dan bagian bodohnya, beberapa diantara kita juga secara sukarela menutup mata, ketika orang lain berlari kepada kita dengan membawa permasalahan yang bahkan sebelumnya sama sekali belum terselesaikan.

Share: