Senin, 13 Juli 2020

Kesadaran untuk sholat berbeda dengan tuntutan untuk sholat


Sholat bukan menjadi bagian dari pengibaratan sebuah aktivitas setor-tunai ataupun timbal balik dari sebuah interaksi. Di mana beban hidup akan terurai tatkala kewajiban sholat kita tertunai.

Kadang, sholat sering kali dijadikan sebagai aktivitas yang menggangu aktivis waktu kita dalam sebuah pekerjaan, yang diiringi oleh rasa takutnya hidup bersama kerancuan waktu jika tuntutan sholat tidak kita tunaikan dari perintah yang Tuhan wahyukan. Seolah-olah mediasi sholat adalah sebuah beban kita dalam kehidupan. Hingga akhirnya kita menunaikan sholat hanya untuk memenuhi sebuah tuntutan, demi terjalinnya sebuah keharmonisan waktu dalam kehidupan

Sebelumnya, saya ingin sedikit berbagi cerita mengenai pengalaman sholat yang saya jalani, hingga sampai saat ini saya menemukan kesadaran dalam sholat itu sendiri. Sedari kecil, sebelum berumur sepuluh tahun. Saya selalu di suruh orang tua saya untuk selalu melaksanakan sholat 5 waktu, namun ketika berumur rentang 7-9 tahun, saya memang sering malas untuk sholat, dan selalu bolong-bolong. Memang, sedari kecil sebelum sekolah TK, saya sering di ajak oleh orang tua saya pergi ke masjid, sholat berjamaah, dan saya selalu berada di samping orang tua saya. Kadang saya merasa iri dengan beberapa anak kecil yang dengan leluasanya mampu bercengkerama di shaf belakang bersama teman-temannya, tapi tidak dengan saya, dan saya tidak pernah punya keberanian untuk ikut nimbrung kepada mereka sebab karena saya takut jika nantinya saya akan dimarahi oleh orang tua saya.

Sejak masuk SD, rutinitas sholat saya sempat meningkat dan pernah sesekali saya pergi ke masjid seorang diri jika kebetulan ayah saya belum pulang bekerja. Namun kendala saya untuk melengkapi sholat 5 waktu terbatas pada sholat subuh. Saya adalah tipe orang yang jika sudah tidur akan sulit sekali untuk di bangunkan jika bukan karena kemauan sendiri untuk bangun. Dan itu sering kali juga menjadi kendala pada orang tua saya untuk menyuruh saya sholat subuh.

Saat sekolah saya menginjak antara kelas 3 atau 4 SD, orang tua saya membuat sebuah kesepakatan sendiri yang saya sendiri tidak menyetujuinya, namun saya tetap harus dipaksa menjalankan kesepakatan itu, yaitu orang tua saya akan memotong uang jajan sekolah jika saya tidak bisa bangun untuk sholat subuh. Dan itu juga menjadi kendala terbesar saya, dimana ketika saya tidak sholat subuh, maka jatah uang jajan saya akan berkurang. Mau tidak mau, untuk memenuhi standar uang jajan, saya harus berusaha sekuat mungkin untuk bangun dan melaksanakan sholat subuh. Itu adalah proses-proses sulit saya untuk membiasakan diri agar bisa bangun lebih pagi. Mengingat ada tuntutan yang harus saya penuhi, selain kewajiban untuk sholat, juga hasil dari sholat saya kala itu, yaitu memenuhi standar uang jajan sekolah.

Mungkin itu akan menjadi sebuah klise oleh objektivitas sholat yang saya laksanakan. Namun, saya tidak pernah menyadarinya waktu itu karena saya memang masih anak kecil. Sekarang di usia yang sudah bisa dibilang cukup dalam berumur, saya baru mengerti mengapa keterpaksaan untuk sholat itu perlu di tanamkan sedini mungkin, agar kelak yang semulanya tuntutan membawakan kita pahaman berupa kesadaran. Bahwa sholat yang kita laksanakan itu bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk diri kita sendiri. Hingga kita merasa bahwa sholat yang kita lakukan ini bukan semata-mata karena kita masih berada dalam perintah orang tua yang harus kita penuhi, melainkan karena ada hak dalam diri kita yang harus kita penuhi untuk mewujudkan rasa syukur kita. Entah itu apakah karena kita telah diberi suatu kesadaran ataupun hal lainnya yang itu membuat kita mengerti dengan keberadaan perintah sholat kepada seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Jadi, sholat yang kita tunaikan tidak lagi atas dasar sebuah suruhan, melainkan atas dasar sebuah kesadaran.

Share:

Minggu, 05 Juli 2020

Menjadi diri sendiri, Yang lebih manusiawi.

Kita selalu memiliki banyak hak dan pendapat atas diri sendiri, sebuah prinsip yang nantinya akan kita dapatkan untuk diri kita sendiri. Namun, ada yang jauh lebih penting daripada membicarakan tentang hak, pendapat, dan prinsip, yaitu tentang keadaan diri kita sendiri, tentang kepedulian untuk diri sendiri, seberapa inginnya diri kita untuk berpengaruh besar terhadap orang lain.

Di tengah-tengah zaman yang semakin berevolusi, ada titik keadaan yang mengerdilkan legalitas logika yang manusiawi, mengubah pandangan hidup dengan segala intimidasi. Kita seolah-olah hidup sebagai makhluk sosial, tetapi kita terlalu apatis terhadap dunia sosialisasi, bahkan dengan kemungkinan besar, ada banyak orang yang semakin asing terhadap makna sosial, dan sosialiasi.

Ada banyak orang yang meneriakkan suara-suara kebenaran, menegakkan suara-suara keadilan, mengerdilkan sifat manusia yang direnggut oleh peradaban. Namun mereka lupa bagaimana menjadikan diri mereka sendiri sebagai manusia, yang lebih mengerti terhadap apatisnya dunia sosialisasi. Karena dengan suara teriakan di tengah keramaian, kita akan semakin mengerdilkan status kemanusiaan.

Share: