Kata banyak orang, berbagi itu indah. Iya, benar. Namun, validasi keindahan akan dirasakan jika berhasil divisualisasikan. Dan kita hanya akan meluruhkan perhatian jika berhasil memvalidasi keadaan-keadaan yang benar demikian adanya.
Saya berucap demikian bukan karena saya merasa tidak memiliki panggung untuk bisa memvalidasi perhatian-perhatian yang saya miliki, untuk kemudian membuat orang lain memiliki perhatian yang sama seperti yang saya terima. Tentu tidak.
Jauh sebelum saya memutuskan untuk membuat konten daily journal ini dengan kegiatan memotret street photography, saya selalu memiliki perhatian-perhatian yang cukup memprihatinkan kepada orang-orang tertentu. Namun, saya tidak pernah memiliki upaya untuk menyalurkan rasa perhatian itu.
Sebagai orang yang idealis dan kadang suka apatis, saya cukup memvalidasi karakter saya yang cukup introvert ini. Saya agak begitu kesulitan membuka ruang percakapan dengan orang lain. Meski apapun niat baik yang saya ingin berikan, saya selalu memiliki ketidakmampuan untuk memvalidasi hal-hal tersebut.
Saya memang selalu suka sendirian, tetapi di beberapa keadaan tertentu, saya akan benci dengan kesendirian, jika itu harus membuat saya berbaur dengan lingkungan yang tidak memungkinkan agar saya berada di dalamnya sebagai seseorang yang apatis terhadap lingkungan.
Di malam akhir pekan sekitar pertengahan bulan November 2021, saya dan teman saya iseng-iseng berjalan di sepanjang jalan kota A Yani sembari memotret keadaan sekitar. Seperti biasa, akan selalu ada yang merebut perhatian saya, tetapi sayangnya hal itu hanya bisa terekam jelas di sebuah gambar pasif yang menunjukkan betapa sepelenya pandangan-pandangan kita terhadap hal-hal yang ingin diacuhkannya.
Saya akui, saya memang orang yang cukup apatis, tetapi karena saya memiliki hobi photography, terutama di bidang street photography, yang memang fokus utamanya adalah mengambil kejadian-kejadian di jalanan, akhirnya membuat perhatian saya terus-terusan luruh ke sana, kepada hal-hal yang pada kebanyakan orang begitu mudah mengacuhkannya.
Namun, bukan berarti dengan acuhnya mereka, akhirnya menjadikan mereka sebagai orang yang jahat terhadap perhatian-perhatian yang tidak mereka lihat.
Karena terkadang, kita hanya akan memilih kata hati, bagaimana kita dapat disentuh oleh kejadian-kejadian yang tertangkap di mata kita, dan hal tersebut tidak berlalu begitu saja.
Cukup sampai di sana, akhirnya di beberapa hari kemudian saya terlibat dialog dengan seorang teman yang biasanya selalu menemani saya memotret. Awalnya topik yang kami bicarakan menyangkut konsultasi teman saya yang ingin memulai belajar mengelola keuangan dan berinvestasi ke bursa efek Indonesia. Di tengah dialog konsultasi itu, kami akhirnya mulai memasuki bercandaan-bercandaan yang menyangkut tentang kemewahan, uang, dan ya, puncaknya tiba ketika teman saya mengatakan bahwa kemewahan terbesar adalah sedekah. Tentu saya akan menyepakati hal itu. Dari sana kemudian saya menimpali bahwa tiap bulan, saya memang selalu menyisihkan sebagian uang saya untuk mendonasikan kepada orang-orang yang membutuhkan sebagai bentuk sedekah saya.
Saya ingin bercerita sedikit, sebelum dialog-dialog itu kami ciptakan dengan perhatian-perhatian yang kami miliki ketika melakukan kegiatan street photography, saya sudah memiliki kesadaran tersendiri untuk berbagi. Setiap bulannya, saya selalu mendonasikannya ke platform online untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Saya memilih platform online karena hal itu adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan agar saya tidak merepotkan diri sendiri yang cukup introvert ini. Karena saya pasti akan kesulitan untuk menyampaikan bagaimana caranya berbicara normal, meskipun itu untuk kebaikan. Semua murni karena kemauan saya, tentu saya memilih terhadap kehendak hati agar saya benar-benar ikhlas mendonasikannya.
Singkat cerita, akhirnya teman saya menawarkan saya untuk berbagi kepada orang-orang di jalanan yang membutuhkan, tetapi dalam bentuk makanan. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiakannya. Di kepala saya, ini menjadi salah satu jalan pembuka bagi saya untuk mulai terjun pada keindahan-keindahan yang kata orang-orang akan didapatkan dari keikhlasan kita dalam membagikan hal-hal yang orang lain butuhkan. Akhirnya kami berbagi menyisihkan uang untuk memesan makanan, karena di sini posisinya saya hanya menerima jadi dan kebetulan teman saya yang bersedia direpotkan untuk mengurus pemesanan makanan, akhirnya saya menambahkan lagi uang yang kami kumpulkan agar bisa menambah porsi makanan yang nantinya bisa kami bawa dan bagikan. Rencananya, di awal bulan kami akan rutin melakukan kegiatan seperti ini.
Di awal bulan Desember 2021 kemarin, kami mengawali aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya. Kebetulan pada hari itu hujan sedang gerimis menggugur tipis, tetapi kami tetap melanjutkan niat. Karena tidak mungkin membatalkan pesanan makanan yang sudah dibuat untuk hari yang sudah kami tentukan, maka akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Kami memang benar-benar berniat ingin berbagi, jadi kami benar-benar tidak ingin mendokumentasikan apapun dari kegiatan sederhana kami ini sebagai bentuk momen street photography.
Meski makanan yang kami bawa tidak cukup banyak, tetapi setidaknya keikhlasan kami untuk berbagi cukup membuahkan kebahagiaan di hati orang lain. Beberapa orang yang kami singgahi untuk kami berikan rezeki, apalagi di tengah-tengah gerimis yang membuat mereka harus menepi, terlintas raut wajah gembira dari cara mereka menerima.