Rabu, 31 Maret 2021

Ruam Genggam [Book Review]

 



Ruam Genggam, karya Judith Chung, terbitan bukumojok.

Saya membeli buku ini saat menjelang akhir tahun 2020, dan baru menuliskan review-nya di tahun 2021. Sangat menyayangkan sekali rasanya jika saya tidak menuliskan pendapat pribadi saya mengenai buku ini, meskipun saya baru sempat menuliskannya setelah 6 bulan lebih saya memiliki bukunya.


Buku ini menurut saya memiliki isi yang tidak biasanya dari buku kebanyakan seperti pada umumnya, pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis dalam buku ini dibawakan dengan gaya bahasa yang sangat menarik dan tidak membosankan, terlebih jika itu adalah isu kehidupan yang menurut kita semua begitu sulit disampaikan. Namun, penulisnya mampu membawakan itu semua dengan kemasan yang cukup apik.


Jujur saja, awalnya saya merasa asing dengan buku seperti ini. Sewaktu tengah berkunjung ke toko buku langganan saya, saat itu saya dalam keadaan tengah memilih-milih buku, lalu kemudian pandangan saya terhenti pada buku ini. Satu-satunya alasan mengapa saya ingin membeli buku tersebut karena cover bukunya yang cukup menarik dan kutipan singkat di bagian depan cover. Aku jatuh cinta padamu, kala kita sedang duduk berdua dan menjatuhkannya lebih dalam lagi, kala kita sedang tidak bersama.


Bagi saya, buku dengan cover berwarna hitam selalu memiliki aksen yang cukup menarik. Terlebih pada kenyataannya saya menyukai seperti buku-buku terbitan Gradien Mediatama yang dominan hasil terbitannya menggunakan cover berwarna hitam. Selain minimalis, cover berwarna hitam pada buku menurut saya juga menjadi isyarat bahwa keluasan makna cukup digambarkan dengan sesingkat kata. Dan warna hitam selalu mampu menjadi daya tarik bagi kata tersebut untuk diselami lebih lanjut. Biar nanti isi yang menjelaskan semuanya, dan nyaris membuat hati jatuh cinta dalam tulisan-tulisannya.


Bahkan karya buku ke dua saya yang berjudul Tirani Logika juga memiliki desain cover berwarna hitam, dan sebagai penulisnya saya memang mengakui isinya yang cukup mengesankan, terlebih jika cover tersebut mewakili rasa penasaran banyak orang untuk merasa tertarik membaca isinya. Saya sangat berterima kasih kepada penerbit saya yang sangat memahami apa yang menjadi maunya saya meskipun sebenarnya say tidak meminta. Beruntungnya naskah saya saat itu memilih rumah yang cukup memberikan kepuasan dan kenyamanan.


Saat saya membaca halaman-halaman pertama pada buku ini, saya memang cukup terkesima dengan gaya bahasa yang dibawakan penulisnya. Namun saya cukup tahu diri, karena sudah sering mendapati hal yang sama, bahwa setiap buku yang awalnya mampu membuat pembaca terkesima, maka kebanyakan isi selanjutnya hanyalah biasa-biasa saja. Namun, hal tersebut itu tidak berlaku pada buku ini, saya menjadi sangat beruntung membeli buku ini karena bermodalkan rasa penasaran dan iseng-iseng sedikit. Nyatanya, dari awal hingga akhir, penyajian dalam buku ini sangat layak dibaca berulang kali sebagai bentuk kesadaran yang mengkoneksikan relativitas hidup kita dengan keadaan.


Sebenarnya ada banyak kutipan yang saya tandai dalam buku ini, tetapi saya akan membagikan satu yang menurut saya itu cukup menarik; Tidak ada mimpi yang tidak memiliki kesempatan untuk menjadi kenyataan. Jadi, yang benar-benar menghalangi kita adalah kasih sayang itu sendiri, Sayang. Tanpa kewarasan, seharusnya aku dan kamu mutlak berbeda. Benar, kita memang berbeda. Lelaki dan perempuan, berselisih satu sama lain, sepanjang hubungan, niscaya.


Juditch Chung mengemas ucapan-ucapan cinta antara dua orang manusia tanpa adanya melankolia yang justru membuat kita merasa bosan tatkala membacanya. Sebab hal-hal cinta di dalam buku ini dikuliti oleh kesadaran manusia dengan sangat utuh. Berawal dari kenyataan-kenyataan cinta yang lebih banyak memuat luka, hingga tiba di perasaan bahagia yang biasa-biasa saja, tidak dilebih-lebihkan dengan tujuan agar saat kita membacanya, degup jantung menjadi berdebar. Tentu sama sekali tidak ada dalam tulisannya.



Selain tulisan singkat pada cover buku yang ada di depan, cover belakang buku ini juga cukup membuat rasa penasaran saya meningkat sempurna. Dan alasan itulah yang membuat saya mengapa sebegitu inginnya membawa pulang buku ini. Meski tanpa saya membaca cover belakangnya, saya tetap jatuh cinta pada isyarat dalam kutipan singkat yang ada di depannya; "Malam itu, aku merasa tengah terjebak di suatu tempat yang asing. Tempat yang bahkan tidak pernah kubayangkan--di mana aku tidak perlu tersenyum atau mengangkat bahu: tanda tidak tahu. Dan aku tidak menjanjikan apa pun. Selain merapal namamu kala sepertiga malam, sepanjang umur. Terlepas dari berperan sebagai siapakah kamu di dalam kehidupanku pada masa depan."




Share:

Senin, 29 Maret 2021

Pendidik Yang Tak Terdidik


Sekarang, ada banyak seorang pengajar yang mengajar tanpa memberikan pendidikan yang baik pada orang lain. Kalau saya ambil arti dari KBBI, pendidikan berasal dari kata tunggal 'didik' yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, dan perbuatan mendidik. Nah, berangkat dari sana artinya pendidikan itu kan harusnya mengajarkan dengan penerapan yang berbasis teori, sehingga pengetahuan atas apa yang diajarkan kepada orang lain bisa tertanam di dalam pikirannya, begitu, kan?


Karena pendidikan bukan semata tentang pengetahuan akademik dalam suatu bidang, pendidikan adalah upaya yang mampu dan bisa dipengaruhi dalam bentuk contoh nyata, bukan hanya teori-teori belaka. Misalnya, kita adalah seorang pengajar yang harus mendidik seorang murid agar menjadi siswa yang terdidik, upaya itu perlu kita usahakan melalui bentuk dan cara kita memperlakukannya, juga diiringi oleh teori-teori yang menjadi bentuk dalam suatu pembelajaran. Kita boleh bersikap tegas agar murid yang kita didik ini menjadi orang yang terdidik, tetapi kita tidak boleh memaksa di luar hak yang ia punya. Apalagi memarahinya atas dasar kesalahannya, karena marahnya kita bisa jadi berangkat karena merasa bertanggung jawab atas kesalahan si murid tersebut. Padahal, antara guru dan murid itu sudah memiliki tugas dan hak yang sesuai porsinya masing-masing. 


Jadi, jangan pernah paksa orang lain agar bisa sesuai dari kriteria yang kita inginkan. Saya ingin mengambil contoh dan pengalaman pribadi saja, karena kebetulan saya menempuh sekolah berbasis aliyah yang di mana ada lebih banyak pelajaran-pelajaran berbasis agama di dalamnya. Jadi begini, misalnya seorang guru pengajar akhlak mengajarkan materi tentang akhlak kepada murid-muridnya. Apabila guru tersebut belum sepenuhnya berakhlak (bukan berarti tidak berakhlak) lalu mengajarkan tentang akhlak itu kepada murid-muridnya. Kesan akhlak itu menjadi ada hanya karena materi, dan kesempurnaan akhlak itu hanya ada pada pembicaraan, bukan pada penerapan. Jadi, kita tidak perlu bingung apabila menemukan orang-orang yang kurang berakhlak, padahal sudah belajar akhlak. Karena yang ia pelajari itu hanya tuntutan materi, bukan tuntutan hidup.


Kalau mengutip dari kitab hidayatussalikin yang terdapat pada permasalahan adab-adab orang alim, di perkara pertama itu disebutkan bahwa ia (guru) menanggung akan sesuatu, dan menerima sesuatu yang didatangkan oleh muridnya, baik daripada pertanyaan maupun pekerjaan yang menyusahkan ia. Hendaklah orang alim itu bersifat dengan sabar dalam menghadapi sesuatu yang diterimanya serta tidak memarahi perbuatan dari murid tersebut.


Jelas, bukan? Kalau akhlak itu bukan hanya sekadar kewajiban yang harus diteladani oleh seorang murid kepada gurunya, tetapi juga antara guru kepada muridnya. Dalam artian akhlak yang diterapkan itu memandang orang lain sebagai manusia sehingga kita wajib berakhlak kepadanya, pun juga dengan murid kepada gurunya. Makanya setiap orang yang disebut guru itu berhak dikatakan alim, dalam artian alim itu ia mengetahui sesuatu yang harus ia ajarkan kepada muridnya. Namun, tidak semua guru memiliki alim yang sempurna, yang tidak semua orang lain mampu mendapatkannya.


Dikatakan oleh KH Ahmad Zuhdiannor bahwa setiap guru ataupun orang tua, apabila belum sempurna ilmu pengetahuannya,  maka belum sempurna ajarannya. Maksudnya, apabila ada orang tua atau guru kita yang memerintahkan sesuatu kepada kita, lalu kita tidak menaatinya, maka biasanya mereka akan marah, kecewa, merasa tidak dihargai, merasa tidak dihormati, hanya karena kita tidak menaati perintahnya. Itu artinya, mereka belum menyadari posisi dirinya sebagai siapa.


Padahal bagi orang yang seharusnya sudah mengerti terhadap dirinya sendiri, mereka akan memerintah kepada anak ataupun murid, tetapi mereka tidak pernah marah ataupun kecewa kepada anak atau muridnya tersebut. Karena kita menyadari bahwa diri kita ini adalah hamba, dan sebenarnya hamba tidak layak untuk ditaati perintahnya, dan kita memang tidak memiliki kelebihan apa-apa yang memang layak untuk memerintahkan orang agar taat kepada kita. Semua yang kita perintahkan kepada seorang anak atau pun seorang murid, adalah tentang ketaatan ia kepada Allah. Jika seandainya mereka tidak mau menaatinya, maka kita lah yang seharusnya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka, meminta kemudahan kepada Allah agar mereka mau menaati perintah Allah. 


Pada sebuah kasus nyata beberapa waktu yang telah lewat, ada seorang guru agama yang pernah mengucapkan kata "lont*" kepada siswinya, hanya karena ia berboncengan dengan seorang laki-laki. Seandainya ucapan itu dikatakan oleh seorang guru yang bukan pengajar pelajaran agama, mungkin akan terdengar biasa saja. Hanya karena yang mengucapkan kalimat itu keluar dari mulut seorang guru pengajar agama, kita mungkin (pasti) akan terpaku pada latar belakang yang memuat nama 'agama' tersebut, yaitu guru agama. Mungkin kita akan bertanya-tanya,

"Kok guru agama bisa berkata seperti itu?"

"Kenapa orang seperti itu bisa menjadi guru agama?" 

Atau dengan sederet pertanyaan-pertanyaan lain yang dilatar belakangi dengan nama dan gelar individu berupa agama.


Kita sering kali menghadapi persoalan-persoalan yang bertentangan dari banyak orang melalui latar belakang dan gelar nama yang ia sandang, hingga kita menyalahkan latar belakang tersebut. Padahal sesungguhnya, kesalahan-kesalahan yang selama ini orang lain (atau bahkan kita) perbuat pada beberapa pihak, berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan dari latar belakang yang mempengaruhi karakter pribadi.


Share:

Jumat, 26 Maret 2021

Jika Kamu Berputus Asa, Maka Tak Layak Bagimu Surga

Saat sebelum kau dilahirkan ke dalam dunia, hingga akhirnya kau lahir ke dalam dunia. Allah senantiasa memberikanmu kehidupan. Lalu kau tumbuh menjadi seorang anak kecil yang lucu dan lugu, menyebabkan sebuah senyuman untuk orang tuamu, bukankah itu juga merupakan bagian dari manfaat dalam kehidupanmu?


Kemudian saat kau mulai memasuki masa kanak-kanak, kau akan diajarkan oleh orang tuamu membaca, menulis, berpikir, dan memberikanmu pahaman tentang agama. Jika sedari kecil, orang tuamu telah menanamkan keimanan kepada Tuhanmu, yaitu Allah. Akankah Allah memasukkanmu ke dalam neraka? Jika memang benar Allah ingin memasukkanmu ke dalam neraka, maka Allah tak akan pernah mengisi cahaya ketauhidan ke dalam hidupmu. Atau di lain hal, itu bisa saja menjadi sebab kasih sayang Allah kepadamu, karena Allah tidak ingin menghinakan hidupmu ketika Allah memaksamu ada di dalam surgaNya, itu sebabnya Allah menyucikan dosamu di dalam neraka. Karena sejatinya apa yang kita terima di akhirat nanti, tergantung dari bagaimana kita berbuat selama di dunia ini. 

kita terlahir sebagai umat dari nabi yang paling dimuliakan Allah, yaitu Rasulullah Saw. Bahkan Allah berfirman di dalam Al-Qur'an yang artinya menyatakan bahwa "Engkau adalah sebaik-baik umat di muka bumi ini." Maka dari karena itu, sehina apapun kita, seberapa banyak pun dosa, ingatlah bahwasanya keimanan masih ada dalam hati kita, dan betapa ampunan Allah itu lebih besar daripada dosa kita.

Maka tak berlebihan jika kita katakan bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Allah, itu adalah orang yang tak berhak mendapatkan jaminan surga.
Share:

Minggu, 21 Maret 2021

Tuntutan Untuk Merasa benar

Banyak orang yang selalu memiliki idealisme dalam dirinya sendiri, tetapi banyak juga dari mereka yang menyadari bahwa tidak semua idealismenya mampu diterima oleh orang lain sebagai perkara yang benar. 


Sesuatu yang kita takutkan terhadap sebuah idealisme adalah tentang kesalahan di mata banyak orang, dan sebuah kritik yang selalu memiliki kesan negatif dari dalam dirinya yang merasakan bahwa idealismenya menempati kesalahan.


Padahal sesungguhnya kebenaran datang dari kesalahan yang akhirnya diperbaiki, agar kemudian mampu menempati kebenaran. Namun, kebanyakan dari kita sering kali menutup keinginan untuk menyampaikan apa yang sejatinya kita rasa benar, dalam sebuah idealisme yang kita kurung bersama rasa takut terhadap sebuah kesalahan itu tadi, dan parahnya malah menuntut diri sendiri untuk menyempurnakan idealisme itu sebagai suatu perkara yang benar sebelum akhirnya benar-benar yakin untuk ditunjukkan.


Padahal sejatinya manusia itu "Al insaanu mahalul khotho' wan nisyan." Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Wajar jika apapun yang idealisme kita tonjolkan akan menempati kesalahan, karena disitulah letak sejatinya hidup kita sebagai seorang manusia.

Share:

Selasa, 16 Maret 2021

Oligarki Elitis


Pertemanan antar setiap manusia mungkin bisa dikonotasikan dengan konjungsi verbal antar tiap-tiap makhluk sosial. Namun, dari pertemenan, nggak harus ngebuat kita memaksa diri untuk ikut dan ada di crycle yang isi kepalanya beda sama kita. 

Dalam artian seperti ini, kita udah nggak ngerasa nyaman lagi saat ada di lingkungan pertemanan 'yang seperti ini.' Bukan lantaran nggak mau berteman atau membandingkan, hanya saja atmosfer yang nantinya kita terima akan sangat berbeda dari idealisme yang ada dalam diri kita, bahkan bisa jadi bertentangan. 

Mungkin ada, di satu waktu yang bisa membuat kita merasa bahwa ini pertemanan yang sehat banget, tapi nggak menutup kemungkinan kalau itu hanya bisa terjadi di titik waktu yang nggak lama, dalam artian, 'Kalau lagi serius, ya serius. Kalau lagi bercanda, ya bercanda' kurang lebih seperti itu. Jika yang kita dapati demikian, mungkin akan ada kecendrungan kita akan memaksa diri untuk beradaptasi 'di keadaan yang sedang bercanda' yang jelas-jelas keadaan itu bertentangan dengan idealisme yang ada dalam kepala kita.

Bukannya bermaksud sok idealis atau pilih-pilih, saya tahu bahwa kebanyakan dari waktu dalam hidup kita sedikit banyaknya akan dihabiskan di lingkuangan luar. Maka dari karena itu, saya memilih untuk menyesuaikan keadaan sama apa yang sesuai dengan apa yang menjadi mindset dalam hidup saya.

Mungkin jatuhnya terkesan seperti pilih-pilih, tapi ada yang ingin saya ungkapkan dari salah satu pemikiran saya, yang semoga saja bisa membawa perubahan dan memicu pemikiran pembaca untuk lebih mawas diri terhadap apa yang menjadi pilihan dalam hidup kita, agar kategori pilihan itu kita tahu akan berdampak apa nantinya di hidup kita.

"Lebih baik berteman dengan seorang yang dungu, tetapi kita mendapatkan banyak hal dari kedunguannya. Daripada berteman dengan orang yang sok asik, tetapi hanya kesenangan dan akibat lain di baliknya." Konotasi dari kalimat sok asik dan seterusnya menjadi ungkapan bahwa sering kali di dalam crycle pertemanan itu ada yang dengan sengaja menjatuhkan teman dengan maksud bercanda, dan semua orang mungkin sepakat menerima itu sebagai lelucon semata.

Orang-orang seperti itu sering kali tidak pernah bisa mengerti bagaimana kondisi mental setiap orang. Apabila mereka menganggap hal tersebut terkesan klise dan remeh, berarti ada yang sedang tidak beres pada dirinya. Bisa jadi karena ia tidak berhasil mencintai dirinya sendiri, sampai-sampai ia menyamakan orang lain seperti dirinya. Karena ada yang tidak sepenuhnya ia kenal dari dirinya, itu sebabnya letak keramaian hidupnya ada di luar diri, bukan di dalam diri.

Setiap orang memang punya isi kepala yang berbeda, dan nggak semua dari isi kepala yang beda bisa untuk dipaksa sama. 

Share:

Minggu, 14 Maret 2021

Menerka Makna, Memburu Waktu, dan Mengimplikasi Hari

Semenjak tahun 2021 bermula, hobi saya membaca buku perlahan menjadi teralihkan dengan kegiatan-kegiatan saya di sosial media. Saya menjadi lebih banyak menonton youtube dengan isi konten yang menurut saya mengedukasi, dan itu tarafnya setara dengan isi satu buku, bahkan beberapa buku.

Saya rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar HP/laptop hanya untuk menonton konten-konten yang menurut saya mengedukasi. Dari situ saya merasa bahwa menonton youtube dengan isi konten yang bermanfaat, mampu menemukan saya pada keinginan-keinginan yang selama ini menjadi tangga dalam kehidupan saya.

Saya mungkin merasa bahwa idealisme yang ada dalam diri saya akan sangat berbeda dengan kebanyakan dari masyarakat kita, dan itu terbukti adanya dari bagaimana saya menyaksikan waktu dalam hidup saya yang berada di sana saat sedang berada di kehidupan nyata. Namun, ada beberapa orang tertentu yang saya temukan dari tontonan isi youtube saya dan mendapati bahwa isi kepala mereka nyaris sama seperti idealisme yang ada dalam diri saya. Bahkan di beberapa komentar, ada orang-orang yang dengan intelektualitasnya ikut berbagi isi pikiran yang nyaris berkorelasi sama.

Yang saya herankan adalah, mengapa di saat sedang berada di lingkungan sekitar, perilaku setiap orang mendadak impulsif dari yang saya temukan di sosial media sebelumnya? Hal itu membuat saya cenderung ingin mengamati orang-orang di sekitar saya tentang bagaimana mereka menyaksikan waktu di kehidupan nyatanya, dan saya mendapatinya dengan atmosfer yang berbeda-beda. Hal ini bisa menadi indikasi bahwa taraf kehidupan nyata tidak sebanding lurus dengan intelektualitas diri yang cukup menonjol di dunia maya.

Saat aktivitas membaca buku saya cukup tersendat karena terkendala oleh kesibukan, saya semakin menyadari akan betapa berharganya waktu yang selama ini sudah saya lewati. Sebelum mempunyai kesibukan yang benar-benar serius, saya sempat memiliki banyak waktu untuk menghabiskannya dengan membaca buku. Di sisi lain, saya merasa bersyukur karena dulu sempat mendapati waktu yang saya habiskan dengan bacaan-bacaan tersebut.

Namun, bagaimana pun juga saya merasa bahwa keadaan ini sudah tidak cukup sehat dari pembagian waktu yang saya jalani. Saya menjadi kekurangan waktu untuk menghabiskan bacaan buku karena terburu oleh rasa lelah dan berujung ketiduran, dan besoknya saya masih mendapati kesibukan yang sama dari hari kemarin.

Meski kesibukan itu bukan bagian dari rutinitas, tetapi sekalinya saya mendapati diri dalam kesibukan, itu bisa menjadi waktu yang cukup lama untuk kembali beradaptasi pada waktu-waktu saya yang sudah terbiasa cukup lengang.

Saya tahu bahwa besok dan seterusnya, kesibukan itu akan semakin bertambah tarafnya seiring dengan kebutuhan standar dalam hidup kita. Namun, kesibukan di hari esok tidak akan pernah menjadi apik, jika hari ini saya tidak sungguh-sungguh belajar membagi waktu untuk menghentikan kesibukan sebagai titik jeda, bahwa tujuan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan telah berada di titik apa usaha kita berada. Karena yang sejatinya kita kejar dari hidup bukanlah bebas dari keterikatan, melainkan merasa puas di tengah ikatan yang telah kita relakan untuk mengikat diri kita.

Sebelum tahun 2020 berakhir, saya pernah memulai menggarap outline project untuk naskah novel yang rencananya akan saya tulis mulai awal tahun 2021, saya mengajak beberapa teman saya untuk bertukar pikiran dan pendapat mengenai isi naskah novel saya nantinya. Namun, kenyatannya hingga hari ini naskah tersebut tidak kunjung saya tulis. Karena dua project naskah yang sebelumnya sudah saya tulis sampai saat ini juga belum menemukan titik rampung. Jadilah saya mendiamkan outline project naskah akhir yang saya garap itu.

Dari kegagalan saya memulai rencana untuk menulis naskah novel baru di awal tahun 2021, membuat saya menjadi berpikir bahwa outline yang telah saya buat ini apabila semakin lama didiamkan, maka isinya akan semakin matang oleh keadaan. Dalam artian, jika dikemudian hari nanti saya kembali membuka isi outline tersebut, saya mendapati titik utama poin-poin apa yang nantinya harus diletakkan di dalamnya.

Meskipun begitu, saya merasa menjadi tidak lagi produktif untuk jangka waktu yang pendek, karena ada beberapa hari yang pastinya saya lewatkan dengan tidak menulis naskah buku. Walaupun hingga saat ini karya buku solo saya ada tiga, itu menjadi waktu yang cukup lama jika dibarometer oleh aktivitas dan kegiatan saya sehari-hari. Selain tiga karya solo, mungkin beberapa dari kalian ada yang tidak tahu bahwa saya mempunyai dua karya buku hasil keroyokan yang sengaja tidak saya masukkan ke dalam Published Book's.

Dua karya buku tersebut adalah cerpen yang saya tulis dan saya ikut sertakan dalam event yang diadakan oleh penerbit. Saya menulis dua cerpen untuk dua event dari dua penerbit berbeda, dan alhamdulillahnya kedua cerpen saya itu berhasil menjadi cerpen terpilih untuk dibukukan bersama cerpen-cerpen dari penulis lain.

Perihal waktu saya membaca ataupun menulis, bahkan hingga paragraf terakhir ini rampung, saya lebih mendahulukan kegiatan menulis tulisan ini sebelum memulai membaca nantinya (kalau memang masih ada keinginan untuk membaca.) Bukan karena malas, atau apa. Karena saya merasa rugi jika apa yang mengganggu dalam pikiran saya saat ini tidak tertumpahkan di dalam kalimat ini.  Meski sejak satu minggu terakhir ini saya sudah sangat jarang membaca buku, saya menjadi merelakan diri untuk memutar ulang ingatan pada buku-buku yang sudah pernah saya baca. Dan saya mendapati makna baru seiring dengan keadaan yang saya pikir sangat mutlak menjadi jawaban kehidupan yang sebelumnya sempat abstrak ketika saya temukan.
Share:

Jumat, 12 Maret 2021

Ibadahmu Untuk Apa?

Ketika kau sholat, kau gunakan untuk apa sholatmu?


Jangan pernah bicarakan tentang taatmu kepada Allah karena kau mampu beribadah. Karena terkadang, di balik semua taatmu, ada kepentingan pribadi yang juga ikut di dalamnya. Salah satunya fadhilat sholat, karena sering kali yang merusak esensi ibadah adalah fadhilat.

Apa yang membuatmu mampu sholat?
Jangan pernah bicarakan tentang kesehatan organ tubuhmu yang membuat kau mampu sholat. Karena di balik tabir yang mendinding banyak cerita, kau kerap terjebak di dalamnya. Bahwa sebenar-benarnya nilai ibadah bukan tentang ketaatan, tetapi tentang cinta yang melahirkan rindu. Yaitu sebuah penyakit yang begitu menggelora pada perasaan yang selama ini mampu menggetarkan pelataran-pelataran surga. Karena selama kau terjebak dalam kehidupan dunia, jalan keselamatanmu hanyalah rindu yang dilahirkan oleh rasa cinta.

Apa yang membuatmu cinta jika itu kau bicarakan pada lisan?

Jangan pernah bicarakan tentang perasaan yang kerap kali kau sebut membuncah tatkala kerinduan menghadirkan rasa gelisah. Karena cinta hanya bisa dirasakan oleh hati yang sepenuhnya pasrah, pada seluruh keinginan kekasihnya yang disebut dengan mahabbah. 
Share:

Kamis, 11 Maret 2021

Dewasa Itu Seperti Apa?


Dewasa itu nggak diukur dari usia, dewasa juga nggak diukur dari sebuah pengakuan diri sendiri kepada orang lain. Dewasa lebih condong kepada perbuatan kita yang selama ini telah menjadi penilaian di mata orang lain, yang menandakan kita sebagai sosok pribadi yang dewasa. 

Ada banyak orang yang menginginkan kedewasaan sebelum masanya tiba, memaksa usia remajanya untuk bersikap layaknya orang dewasa. Karena dalam pandangannya, dewasa adalah bentuk kebebasan di mana kita tidak lagi dilarang atas sesuatu yang kita pilih dan inginkan. Sebegitu inginkah kita diberikan kebebasan sampai-sampai mendambakan sebuah kedewasaan?
 
Pernah mikir sebentar nggak? Apa yang sebenarnya kamu tuju dari hidup ini? Umurmu sekarang berapa? Ke depannya kamu mau apa? Kemarin-kemarin apakah kamu sudah melewati hari yang menurutmu itu memberikan manfaat untuk orang lain? Pernah nyadar sama itu semua nggak?
 
Gini, semua orang itu pasti punya masalah dalam hidupnya masing-masing, tapi bukan berarti dengan masalah itu ada, kamu harus merasa tumbuh dewasa dulu untuk menyelesaikannya. Kamu harus cukup mengerti apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan untuk masalah itu, bagaimana kamu mengurainya secara perlahan agar bisa kembali lurus dan terselesaikan. Setelah kamu menyelesaikan satu masalah, bukan berarti kamu membanggakan sebuah masalah itu sebagai tanda dari kedewasaanmu, masalah akan tetap menjadi sebuah masalah, tetapi masalah seringnya menjadi utusan untuk mengantarkan sebuah hikmah.
 
Jadi, jangan ngerasa hidup tuh gini-gini aja, jangan ngerasa orang lain sibuk sama dunianya, jangan ngerasain apa yang nggak layak untuk dirasain. Pribadi yang observatif itu sering kali tahu ke mana pikirannya melangkah untuk menyikapi dunia dan lingkungannya.

Share:

Rabu, 10 Maret 2021

Antara Pilihan, Harapan, dan Kemungkinan


Beberapa di antara kita sering kali menjalani hidup berdasarkan beberapa harapan. Yang di dalam harapan tersebut mengharuskan kita untuk menghadapi sebuah pilihan. Dan di dalam pilihan, kita akan dihadapkan dengan sebuah kemungkinan, akan seperti apa kenyataan dari pilihan yang kita pilih tersebut merealisasikannya dalam hidup kita.

 

Tidak ada yang pernah menjanjikan sebuah kebahagiaan bagi sebuah harapan yang di dalamnya masih dihadapkan pada sebuah pilihan dan kemungkinan. Di mana pada akhirnya kita harus berpasrah pada sebuah pilihan yang akhirnya telah kita pilih.

 

Kemungkinan bukan sebenar-benarnya kenyataan pada kehidupan, akan tetapi kemungkinan adalah bentuk dari angan kita dalam me-reka sebuah kejadian pada pilihan yang nantinya akan kita hadapi pada kenyataan. Mungkin benar, hidup sering kali rumit dengan seluruh konspirasi yang bahkan tidak pernah sama sekali kita mengerti. Namun, apakah kita pernah berpikir, darimana datangnya sebuah kebahagiaan yang tidak pernah melewati sebuah perencanaan?

 

Konspirasi sering kali meruntuhkan logika kita dalam bekerja, di mana kita sering kali berpasrah pada apapun yang akhirnya kehidupan berikan. Dengan seluruh kebijakan yang akhirnya menghadirkan beberapa kebahagiaan. Karena antara harapan, pilihan, juga kemungkinan, adalah seni pewarnaan dari sebuah kehidupan yang hingga sekarang ini masih kita jalani.

Share:

Selasa, 09 Maret 2021

Hujan Dinihari


Di tengah malam yang sunyi dan senyap, aku tiba-tiba mendapati suara rintik hujan yang perlahan tetesannya menghunjam deras jatuh ke bumi. Langit memuntahkan nirwana di tengah waktu yang memelodikan kesunyian, aku yang ditempa di dalamnya bersama kesadaran yang tak kunjung larut akhirnya terpana dalam menafsirkan bunyi tetesnya. Karena satu di antara riuh hujan di penghujung malam, aku selalu mendapati hadirmu dari ujung ingatan.

Mungkin kau akan mengingatnya, pada hari dan tanggal tulisan ini dipublikasikan, dan kau seharunya menyadari bagaimana perasaanku sebelum akhirnya tulisan ini terbentuk. Karena tidak ada satupun dari kalimat singkat ini, yang mampu mengurai algoritma rasa dalam mewakili seutuhnya harapan. Karena percuma, selain aku, kau juga akan menyadarinya sendiri. Bahwa apa yang ada di dalam kepalaku saat ini, adalah apa yang kau sembunyikan kuat-kuat selama ini.

Hujan sempat berhenti sesaat, berganti dengan suara rintikan gerimis yang syahdu. Pada saat itu, pikiranku juga sempat terjeda dalam menuliskan bagian ini, tetapi tidak lama kemudian, hujan kembali menerkam buas, pada tetesan yang semakin mendominasi bumi dengan beringas. Jemariku seolah-olah dituntun oleh tarian hujan yang menghempas bersama hembusan angin, diterpa tak tentu arah, kemudian jatuh dan terperangah.

Mugkin orang-orang semakin meningkatkan kenikmatan dalam lelapnya, saat hawa dingin mulai merembas pada  tubuh. Temperature suhu pada pendingin ruanganku masih stabil, dan aku tak ada niatan untuk mematikan, sebab aku sudah akrab pada suhu tersebut. Persetan jika nanti matahari akan menjelang, suhu tubuh akan mengalami drastisnya perubahan.

Sebenarnya, ada yang ingin kuakhiri dalam penulisan ini. Namun, aku bingung harus bagaimana mengakhirinya. Sebagaimana aku tak ingin perasaan ini berakhir, pun apa yang memberatkan pikiran masih kuat untuk meminta diabadikan dalam tulisan. Harapanku tak tertulis panjang dan jelas di sini, tetapi harusnya kau sudah lebih dahulu mengetahuinya, giliran waktu yang menanti kapan saatnya akan tiba.

Agar tidak ada yang benar-benar kuakhiri, ada baiknya akan kumulai tulisan ini sebagai perjalanan pertama dari Daily Journal. Selamat menjalani aktivitas hari sebagaimana mestinya, akan kulanjutkan tidurku saat tulisan ini menjadi tidak lagi rahasia, dan aku hanya berharap itu sebagai pertanda.

Chairico Ilhami, 9 Maret 2021, 2:48AM.
Share:

Senin, 08 Maret 2021

Alasan Seseorang Tidak Bahagia

 


Kebahagiaan adalah suatu bentuk keadaan yang pasti selalu didambakan oleh seluruh manusia, kebahagiaan yang selalu diiming-imingi oleh kesenangan dan senyuman. Kebahagiaan sendiri menurut KBBI bermakna sebuah perasaan tentram dan damai. Akan tetapi, kita sering menemukan banyak orang yang masih mengakui bahwa dirinya belum bahagia, bahkan merasa seolah-olah waktu, dunia, semesta, bahkan Tuhan, tidak berpihak padanya. Ditambah lagi ketika kita yang mendengar itu mencelanya sebagai sebuah kesalahan. Tentu hal itu hanya akan membuatnya semakin tertutup pada kebahagiaan.

Kita bisa saja menjadi orang yang sama jahatnya dengan mereka yang tidak bahagia dan menuding orang yang di sekitarnya sebagai ketidakberpihakannya. Karena kita menganggap orang yang tidak mampu berbahagia itu adalah seseorang yang sudah merasakan putus asa. Padahal sebetulnya tidak, kebahagiaan akan selalu ada pada setiap kehidupan manusia, kebahagiaan yang hanya memiliki makna tersendiri pada pandangan mata hati.

Kebahagiaan tidak pernah hilang dalam hidup kita, hanya saja kita yang tidak pernah bisa menemukan letak kebahagiaan itu sendiri, kebahagiaan yang hanya berada dalam pandangan kita, dan berujung pada rasa yang kita ciptakan sebagai sebuah kebahagiaan.

Dikatakan oleh Haidar Bagir, seorang pengajar tasawuf, dalam bukunya yang berjudul Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan, bahwa sesungguhnya kehidupan tak memiliki sifat lain, kecuali kebaikan. Bahwa (apa yang tampak sebagai) kesusahan adalah kebaikan (juga), hanya saja dia tersamarkan. Kesusahan sesungguhnya tak lain dari kegagalan kita menembus permukaan luar atau kemasan saja, ketidakmampuan kita menangkap makna terdalam dari beberapa kejadian, dan ketidakberhasilan kita dalam meraih fenomena.

KH Ahmad Zuhdiannor juga pernah mengatakan bahwasanya orang yang mampu berbahagia adalah orang yang tidak mempermasalahkan hidupnya pada persoalan dunia, dan kemampuan hatinya dalam berpikiran positif terhadap apa yang telah Allah berikan dalam hidupnya.

Karena apa-apa yang kita anggap baik, pada akhirnya akan memperoleh kebaikan juga, dan sebaliknya apabila kita menganggap sesuatu sebagai keburukan, pada akhirnya juga akan datang sebagai keburukan
Share:

Sabtu, 06 Maret 2021

Baperan


Bisa jadi ini adalah masalah kita dan semua orang yang tidak mengerti dan salah kaprah dengan kata baperan.

Mungkin sudah banyak akun-akun media sosial yang menjabarkan keresahan soal statement baperan untuk orang-orang yang merasa tersinggung. Baper nggak seharusnya dijadikan benteng buat kalian yang udah nge-judge di keadaan yang salah, terus bisa-bisanya berlindung di balik kata baperan dengan aksentik yang mengendapkan judge itu sendiri sebagai suatu bercandaan. Contoh, di ruang lingkup pertemanan misalnya, ada seseorang yang dikenal sebagai main people view, terus ada satu temannya lagi yang just people ordinary. Kadang-kadang orang yang biasa-biasa aja alur pertemanannya, yang cuma mau ikutan rame doang pas ngumpul, bisa-bisanya dijadiin bercandaan sama mereka yang merasa punya banyak pandangan saat diperhatikan orang-orang, dan parahnya dia berdalih dari tujuan awal hanya untuk menghidupkan suasana. 

Bercandaan bisa lahir dari segi apa aja, selagi itu masih bisa ditolerir keadaannya. Tapi ini tongkrongan kalian man, bukan panggung stand up, ingat itu. Pikir sendiri dulu, contoh yang itu tadi, gimana rasanya?

Sekarang soal tersinggung, mungkin sekarang ada banyak orang yang takut buat ngerasa tersinggung sama dirinya sendiri, di saat ada banyak orang yang nggak ngejadiin sesuatu itu sebagai sebuah ketersinggungan. Dan akhirnya dia malah memaksa dirinya sendiri buat mendam ketersinggungannya, agar ia bisa merasa baik-baik aja. Oke wait, dipendam kan? Dengan tujuan untuk ngerasa baik-baik aja, kan? 

Itu artinya berusaha untuk bodo amat sama ketersinggungan tadi. Tapi masalahnya, sesuatu yang dipendam bersama ke-tidak ingin pedulian kita dalam melanjutkan keresahan sebagai sesuatu yang jadi ketersinggungan, kadang kita nggak punya tempatnya, hanya karena kita tahu bahwa banyak orang udah punya statement dengan baperan itu tadi. 

Solusinya, kita boleh patahkan statement baperan itu dengan menyebut panggung omongannya. Mereka bicara untuk apa? Dan mereka bicara di mana? Karena terkadang, bisa jadi ketersinggungan dikemas oleh sebuah harga yang dibayar mahal untuk sebuah punchline mengedukasi (sekalipun menyinggung) bukan mencaci.
Share: