Jangan mempersempit kehidupan kita hanya dengan personalitas, buka mata untuk melihat bahwa sebagian dari kita mengupayakan banyak cara untuk mengurung ide-ide yang sifatnya liar, menjadi sebuah karya yang mempunyai nilai. Personalitas hanyalah bagian dari kehidupan seseorang, sedangkan karya adalah bagian dari ide, pikiran, dan bahkan keresahan seseorang. Pada laman blog sebelumnya, saya sempat membawakan sebuah redaksi yang menyatakan bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh kita. Kendati di dalam tubuh kita terdapat otak yang secara nyata kita ketahui keberadaannya, tetapi otak akan berguna ketika kita memanfaatkan fungsinya.
Menurut saya pribadi, otak adalah kemampuan kita dalam menangkap keluasan isi dunia yang kemudian masuk ke dalam diri kita menjadi yang namanya pikiran. Dan seperti yang saya katakan dan yakini sebelumnya bahwa pikiran adalah bagian terpisah dari tubuh manusia. Jika kita memanfaatkan pikiran-pikiran yang bersifat liar itu untuk menjadi pemahaman yang lebih kompleks, maka lahirlah sebuah karya. Entah apapun bentuknya. Maka dari karena itu filosofi berfungsi untuk menyandarkan karya sebagai makna yang memiliki arti-arti tersendiri di berbagai kepala manusia yang menangkapnya.
Kembali ke personalitas, keberadaan orang-orang bijak yang terlampau mengerti bagaimana caranya menghargai dan menikmati karya orang lain, mungkin telah kalah saing oleh keberadaan mereka-mereka yang katanya juga "menikmati karya." Orang-orang menjadi keliru dalam menikmati karya ketika mereka juga menempatkan harapan di dalamnya, bahwa personalitas seseorang yang membuat karya tersebut harus sejalan dengan karyanya sendiri. Sederhananya, perbuatannya harus sesuai dengan ucapannya. Ya kembali lagi, karya adalah bagian terpisah dari personalitas, karya bisa hadir menjadi apapun bagi siapapun, terlebih jika itu menjadi motivasi terkuat bagi yang membuat karya itu sendiri, atau pun orang lain yang menikmatinya.
Karya memang selalu punya value masing-masing, dan itu memang tidak bisa terbantahkan begitu saja bahwa nilai itu berlandaskan pada personalitas seseorang yang membuat karya tersebut. Namun, value tersebut hanya menjadi bentuk indikasi bagi orang-orang yang memahami bahwa cara kita dalam menikmati karya, adalah murni menikmati karya tersebut, terlepas apa kisah hidup dan personalitasnya. Karya seni bukan soal memamerkan tentang kehidupan pribadi seseorang, karya seni adalah buah hasil dari persembunyiaan seseorang dari kehidupan pribadinya. Namun, yang disalah kaprahi dalam menikmati karya adalah, orang-orang akan berbondong-bondong menikmati suatu karya apabila itu menyangkut bagian dari kisah hidup pribadinya, seakan personalitas seseorang lebih penting dari karyanya. Kita sebegitu inginnya mencoba akrab dengan seseorang yang mempunyai bakat untuk berkarya dengan mencoba untuk mendekati kehidupan pribadinya. Hingga akhirnya kita membuat reputasi karya menjadi tergeserkan oleh stigma yang tidak bisa terbantahkan lagi karena bersifat pragmatis.