Untuk pertama kalinya di tahun 2022, saya memulai kembali kegiatan motret street photography, setelah terakhir kali saya motret di tengah kota pada akhir tahun 2021 kemarin. Tidak tanggung-tanggung, jarak saya tidak motret lumayan lama, selain karena memang disibukkan oleh beberapa kegiatan, juga karena bosannya akan tempat yang saya kunjungi, hingga akhirnya kami kehabisan opsi untuk sebuah tujuan di mana selanjutnya kembali untuk memotret.
Beruntungnya kali ini saya motret pada saat bulan Ramadhan, karena biasanya akan ada banyak momentum yang memiliki euforia berbeda daripada bulan-bulan lainnya. Jika Ramadhan tahun kemarin saya dan teman saya memotret di kawasan pasar Sudimampir karena ditiadakannya pasar Ramadhan, maka tahun ini, tahun 1443H pemerintah sudah kembali mengizinkan untuk dibukanya pasar Ramadhan setelah dua tahun ditiadakan. Namun, juga tetap mematuhi protokol dan jam berdagang yang dibatasi hanya sampai jam delapan malam. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang jam berdagangnya bisa sampai jam sepuluh malam. Pasar ramadhan di Banjarmasin ini sudah mengalami beberapa perpindahan, dari yang dulu sekali awalnya di depan Siring Tendean, kemudian pindah ke depan kantor walikota, lalu kemudian beberapa tahun belakangan pindah lagi di samping taman kamboja.
Sekitar menjelang jam lima sore saya berangkat dari rumah, di sepanjang jalan orang-orang tengah ramai beraktivitas memadati para penjual takjil untuk berbuka. Setibanya di sekitar kawasan taman kamboja, saya terlebih dulu mencari teman saya yang biasanya menemani saya ketika memotret. Begitu bertemu, akhirnya kami memulai titik potret dari tengah-tengah taman kamboja yang dipenuhi oleh anak-anak kecil yang sedang riang gembira bermain bersama orang tuanya.
Wajah-wajah penuh bahagia dan euforia yang tercipta di balik kepala mereka terhadap momentum bulan ramadhan yang tidak serupa dengan bulan-bulan lainnya, melekat pekat menjadi sebuah kenangan manis masa kecilnya. Saya percaya kejadian yang mereka lalui itu terkemas rapi di sudut ingatannya. Seperti bagaimana ketika saya yang masih mengingatnya betul bagaimana momen bulan ramadhan yang saya lalui ketika masih kecil. Semoga dunia akan terus baik-baik saja, biar kebahagiaan terus melimpah di wajah-wajah mereka yang tak sepenuhnya mengerti untuk memberi makna terhadap apa yang mereka hadapi, selain hanya bisa menikmati.
Setelah dirasa cukup mengambil setiap momen dari sudut-sudut cerita, akhirnya kami beranjak untuk melangkahkan kaki ke dalam area pasar ramadhan atau yang lebih dikenal dengan sebutan pasar wadai. Kami masuk ke dalam area pasar melalui pintu belakang, karena memang itu tujuan yang cukup dekat jika kami berjalan dari tengah taman.
Setibanya di dalam kawasan pasar, kami disambut oleh jejalan manusia yang tengah mencuci mata, memilah apa yang mereka suka, untuk kemudian mereka bawa sebagai sesuatu yang mereka punya. Ada banyak macam pedagang yang berada di sana, semua berbaur menjadi satu. Ramainya orang-orang yang berkunjung di sana membuat momen di pasar ramadhan menjadi metafora yang begitu istimewa. Ditambah lagi pada saat itu kita semua sebagai umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa, biasanya ketika sudah menjelang sore hari, rasa haus dan lapar sudah mulai meronta-ronta, apalagi ketika dihadapkan dengan banyaknya varian makanan dan minuman yang didagangkan di sini.
Kami berkeliling dan ikut bergumul di tengah keramaian untuk mengambil setiap sisi-sisi kejadian dengan cerita yang saya bentuk sendiri dalam kepala saya menjadi sebuah persepsi. Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, kami beranjak keluar area pasar, menjauhi kepadatan aktivitas manusia yang saling berinteraksi dalam jual beli.
Kami kembali melangkah menuju area taman kamboja untuk beristirahat sejenak. Berbeda sekali rasanya jika memotret di tengah orang banyak daripada berjalan jauh dengan kondisi sekitar yang cukup lengang. Rasa lelahnya lebih terasa ketika kita berada di tengah orang banyak daripada berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh untuk mencari momen-momen di jalanan.
Usai beristirahat sejenak, pada saat itu waktu sudah akan menunjukkan pukul enam sore, artinya masih ada setengah jam lagi menuju waktu berbuka. Maka kami lanjut memotret dari bagian depan pasar yang berdampingan langsung dengan jalan umum. Beberapa bagian dari area pinggir jalan ada yang dijadikan sebagai tempat parkir sehingga membuat jalan agak sedikit macet. Bahkan setiap sudutnya tidak luput dari kendaraan-kendaraan yang terparkir untuk berkunjung ke pasar ramadhan.
Saking asyiknya melihat keramaian orang yang lalu lalang memasuki area pasar dan orang yang hanya sekadar berlalu ketika melewati jalanan, kami didesak oleh waktu berbuka yang sudah lumayan agak mepet. Kami akhirnya bergegas kembali ke dalam area pasar untuk mencari takjil berbuka, tetapi padatnya pasar dari orang-orang yang masih melakukan transaksi jual beli membuat saya urung untuk memilih takjil berbuka di sana. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Indomaret dan membeli sebotol minuman buat berbuka. Aktivitas yang sama kami lakukan seperti tahun sebelumnya.
Usai memilih minuman yang ingin dibeli, saya bergegas menuju kasir yang masih ada beberapa antrian. Ketika tiba giliran saya untuk membayar minuman yang ingin dibeli, adzan maghrib berkumandang, tanda waktu berbuka sudah datang. Begitu keluar dari Indomaret, awalnya saya ingin mencari tempat untuk berbuka, tetapi teman saya enggan dan langsung duduk di depan Indomaret untuk berbuka. Maka mau tidak mau saya juga mengikutinya.
Kebetulan, di samping teman saya ada seseorang yang berpakaian ala badut juga sedang berbuka dengan wajah yang kelihatan sangat lemas. Ada roti serta air mineral yang digunakannya untuk berbuka. Merasa penasaran, akhirnya teman saya mulai bertanya beberapa hal kepada dia. Di tengah pembicaraan, dia cukup terbuka untuk bercerita, maka akhirnya saya mulai tertarik untuk ikut nimbrung.
Di hari itu, dia kebetulan sedang ingin mencoba menjadi badut untuk menghibur orang-orang yang berada di kawasan pasar ramadhan. Namun, aktivitasnya dilarang oleh satpol PP yang sedang menjaga keamanan di area pasar. Sudah satu tahun belakangan ini dia melakoni pekerjaan menjadi seorang badut untuk menghibur orang di setiap jalanan. Sudah satu tahun belakangan pula ia tidak pulang ke rumahnya, kebetulan dia bekerja sebagai seorang badut ini di bawah seorang pimpinan yang menyediakan fasilitas tempat tinggal untuknya. Dia tidak tinggal bersama orang tuanya, begitu kami tanya detail kami tidak mendapatkan informasi yang jelas.
Dia hanya lulusan SMP, ketika kami tanya saat itu umurnya sudah 17 tahun. Sebenarnya ada latar belakang panjang mengapa akhirnya ia memilih profesi sebagai seorang badut, dan sudah banyak pula pekerjaan lain yang pernah ia lakoni. Dari menjadi badut, hasil uang yang ia dapatkan di hari itu akan dibagi kepada bosnya sebesar 50%. Namun, dengan fasilitas tempat tinggal dan baju badut yang sudah disediakan, katanya dia cukup menikmatinya, tetapi hanya sebagai bentuk perjuangan bertahan hidup dirinya sendiri.
Begitu dia selesai bercerita, akhirnya teman saya mengajak dia untuk makan bersama. Begitu selesai makan, saya berkeinginan untuk membagi sedikit rezeki kepada dia. Maka sebelum kami berpisah, saya memberikan titipan untuk dia pribadi. Dari sini pula saya meyakini, bahwa rezeki setiap orang tidak akan pernah bisa tertukar. Meski sekeras apa pun kita berusaha, semua sudah memiliki batasan-batasannya. Karena terkadang, ada seseorang yang hidupnya tidak seberuntung kita, tetapi perjuangannya mengalahkan rasa syukur kita terhadap keluhan-keluhan yang masih bisa kita impikan.
Setelah itu kami bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Begitu selesai, kami tidak langsung pulang begitu saja, kami masih melanjutkan untuk memotret dengan tema malam hari. Agar sekalian saya bisa menampung dua bahan foto sekaligus. Ketika kami sudah kembali ke area pasar ramadhan di malam hari, suasana memang masih cukup ramai, tetapi tidak terlalu padat. Sebagian dari mereka ada yang sudah menutup dagangannya. Bahkan kami juga tidak terlalu lama berada di sana.
Begitu waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Kami menyudahi kegiatan kami dan kembali beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkah untuk pulang.
Di permulaan ramadhan ini, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa. Juga semoga kita diberikan kemampuan untuk menjaga diri dari menahan segala hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Karena bagi saya, sebaik-baik manusia adalah ia yang mampu menjaga dirinya.
Semoga dengan banyaknya kejadian yang saya temukan di hari ini, dapat membawakan banyak hikmah untuk orang-orang yang memang dipilihkan oleh takdirnya melalui kebaikan-kebaikan yang penuh dengan keajaiban.