Senin, 31 Januari 2022

Nadi(r)

Berada di dekat seseorang yang bersedia hadir dan memapah serta memangku perkara hidup, mampu menjadi salah satu enigma yang sama sekali tidak ingin cepat-cepat untuk diselesaikan. 

Dialog-dialog sederhana yang sering kita analogikan, menjadi salah satu konklusi tertinggi mengenai ekspektasi. Bahkan terkadang, kita bisa menjadi bagian dari ekspektasi itu sendiri, saat kita tidak merasakan apa-apa mengenai istimewanya anugerah yang kita terima.

Ini bukan kali pertama aku merasa berterima kasih kepada apapun yang telah mempertemukan kita. Sehingga kolase mengenai pencarian menjadi satu-satunya alasan mengapa kita ada untuk tetap bertahan.

Mungkin ini lebih dari sekadar romansa cinta, yang didramatisir oleh dialektika prakata. Sebab menumbuhkan relasi tidak soal menjatuhkan hati, tetapi perkara belajar bagaimana berhati-hati di antara dua hati. Mungkin itu pula sebabnya kita ada dan bertaut untuk saling memahami, bukan untuk saling mengasihi.

Karena aku percaya, kita sama-sama dibangun oleh idealisme masing-masing mengenai peradaban, belajar dari mana saja mengenai landasan dan falsafah kehidupan, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk tenggelam di dalam arus kehidupan yang tidak diinginkan. Meski omong kosong sekali rasanya kalau kita tidak pernah menginginkannya, tetapi konsep yang kita pahami mengenai waktu akhirnya menjadi landasan untuk tetap bertahan dalam rasa nyaman yang masing-masing kita temukan, tanpa melibatkan perasaan.

Meski ada banyak kalimat omong kosong yang diucapkan oleh orang-orang yang tidak begitu piawai memaknai perasaan, kita tetap bertahan untuk membungkam mulut-mulut yang haus dengan pembenaran. Melalui argumentasi yang dibawakan, kita seolah menjadi dua orang yang saling mengendalikan.

Meski tahu orang tidak akan peduli, tetapi kita mempunyai implikasi mengenai peradaban sebuah hari. Waktu-waktu yang mengitari kehidupan seorang manusia, dimanipulasi oleh dua hal yang diwakili oleh logika. Satu kepuasan, satunya lagi keharusan. Keduanya terdinding tipis oleh yang namanya harapan.

Kadang orang memang sebegitu ambigunya mehamami harapan sebagai kepuasan, seolah harapan adalah manifestasi kepuasan dan kebahagiaan. Hingga akhirnya kita lupa bahwa ada yang lebih besar dari itu semua, yakni kesederhanaan, dan itu menjadi bagian dari keharusan yang di dalamnya bisa kita carikan kepuasan.
Share:

Minggu, 09 Januari 2022

Mengakhiri dan mengawali tahun dengan badai

Sudah lebih dari seminggu tahun 2021 berlalu, kemelut badai dan berbagai macam tragedi terjadi. Semua orang kewalahan, bukan karena saling merasakan, melainkan saling mengalami, tanpa saling mengetahui.

2021 mungkin bukan tahun yang cukup baik, tetapi juga tidak kelihatan buruk. Di usiaku pada tahun itu, hari demi hari berlalu dengan cukup berat, persepsi-persepsi akan kejadian yang datang dan diterima tanpa bisa ditolak membuatku memikulnya dengan sedikit tertatih.

Pemberontakan terjadi, isi kepala ramai dipenuhi oleh idealisme lama, kenyataan-kenyataan realistis tentang prinsip yang bisa jadi tidak sejalan karena kemelut badai yang terlalu besar menghadang, menjadi ajang utama mengapa isi kepala memulai peperangan. 

Tubuh yang tidak siap menerima semua hantaman, dilukai oleh waktu-waktu yang mengkhianati keadaan. Tidak ada kalimat-kalimat motivasi yang sanggup menembus rangkaian sketsa kehidupan, warna-warna berubah menjadi kelabu. Di antara semua pilihan warna, hanya ada abu-abu, orientasi mozaik dari warna itu membuatku samar-samar menalar, berhati-hati mencerna, berhenti menduga, kemudian tiba di sebuah kenyataan yang menyiasati tanda.

Mungkin keajaiban tidak pernah hadir sebagai sesuatu yang menggemparkan dunia, meskipun kenyataannya ada beberapa orang yang percaya hal itu bersama faktanya. Lebih dari itu, keajaiban datang dari hal-hal kecil yang tidak terduga, dunia tidak gempar dan seolah itu adalah hal wajar, kita menerimanya sebagai sesuatu yang di luar nalar. Namun, keberadaan dunia beserta isinya lebih jauh dari nalar manusia. Kita menjadi segelintir isi alam semesta, tanpa kita sadari kita menjadi bagian dari mozaik-mozaik dunia. Hati kita dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan tentang perjuangan, sementara tubuh kita kehilangan kendali untuk menguasai kesadaran.

Aku mengalami banyak fase pada saat itu, mungkin yang pernah aku tulis pada blog ini adalah fase-fase brengsek dalam hidup. Padahal kenyataannya, ada yang berbanding terbalik dari itu, dan aku tidak menuliskannya, aku mendikte seolah keburukan adalah dalang utama bagaimana akhirnya kita bisa menemukan kebahagiaan. Meskipun kenyataannya demikian, karakter keburukan seharusnya tidak sebengis itu untuk diprafrasekan menjadi tulisan.

Aku mendapati keputusasaan tiba pada saat itu, lalu aku berpikir jika aku menemukan putus asa pada hari ini dengan kenyataan bahwa aku masih bisa melanjutkan hidup di hari yang sama, maka putus asa ini bukanlah akhir. Bisa jadi ini adalah gerbang pembuka, untuk rasa putus asa yang lebih besar lagi di hari-hari berikutnya. Namun, dari rasa putus asa tersebut aku percaya, merasa terjebak di dalamnya bukanlah hal yang terhormat untuk meminta kepada orang lain dan memvalidasi kerapuhan yang kita miliki.

Akhirnya idealisme dan realitas tentang kerealistisanku dalam menjalani hidup kembali. Mendramatisasi hal-hal yang rapuh tentang hidup menjadi obsesi untuk dirayakan sebagai kemenangan dan membuatku percaya bahwa bukan saatnya mengakhiri apa yang belum bisa diakhiri oleh diri kita sendiri. Karena sedari awal, hidup kita dimulai oleh pilihan yang tidak kita sadari, di saat hari ini kita menyadari bahwa itu adalah bagian dari pilihan. Begitu pula dengan penyelesaian, semua berakhir tanpa pilihan yang kita sadari, saat di suatu waktu setelahnya kita menyadari bahwa itu adalah bagian dari pilihan.

Sampai akhirnya 2022 tiba, tanpa berharap banyak untuk resolusi apapun di tahun tersebut, aku sudah lebih dulu pasrah. Dan kenyataannya, baru dua hari berlalu, badai kembali menerjang lebih hebat dari sebelumnya. Kupikir aku sudah siap menyambutnya karena pengalaman-pengalaman sebelumnya sudah kujadikan sebagai persiapan. Nyatanya, semua menjadi serba ambigu, sejauh apapun kita mempersiapkan, kita tidak akan bisa melebihi kebesaran dunia. Aku sempat mengutuk waktu untuk saat itu bahwa fase ini akan berlanjut sampai batas yang tidak aku ketahui ujungnya.

Lalu, keajaiban yang baru saja tadi kupaparkan, kembali menjadi peran untuk menuntunku keluar secara perlahan. Hingga kemudian aku menertawakan semuanya dan berhasil menuliskan semua yang aku bisa, di sini. Meski orang lain tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Meski orang lain tidak sedikit pun tertarik untuk berniat menjamah isi tulisannya, dan itu lebih baik menurutku.
Share: