Rabu, 31 Desember 2025

Tafsir Ilmiah Sains dan Kitab Suci

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membuktikan Al-Qur’an melalui sains, melainkan membatasi secara metodologis relasi antara tafsir dan sains agar tidak saling merusak.

Pada tulisan sebelumnya aku sudah membahas isu di mana banyak orang sering mengaitkan tentang fenomena sains yang ternyata itu selaras di dalam kitab suci, dengan sarat maknanya bahwa kitab suci telah membahas hal tersebut jauh sebelum sains menemukannya, sehingga hal itu membuktikan betapa istimewanya kitab suci. Kalau logika berpikirnya ingin menyandingkan bahwa sains tidak lebih tinggi kebenarannya dari kitab suci, lantas dengan metode seperti apa menyimpulkan analisisnya?


Alquran ini kan jenisnya adalah teks yang tidak berbicara secara langsung, sehingga kemudian maknanya nanti akan diserahkan kepada masing-masing pembacanya. Maka dari karena itu, sangat tidak heran kenapa di dalam agama saja masih banyak terjadi perdebatan atau perbedaan pandangan, bahkan pada hukum-hukum yang sudah ditetapkan secara pasti, seperti misalnya hitungan tentang waris, faraidh, dan semacamnya. Teksnya tetap, tetapi pemahaman manusia terhadap teks itulah yang beragam.


Walaupun memang, wahyu Tuhan itu turun dalam bentuk lafadz, ayat, dan struktur bahasa. Tapi di luar itu, ada dunia yang membentang, yang juga berbicara dengan caranya sendiri. Kitab suci sebagai wahyu adalah teks yang memiliki struktur makna, arah normatif, dan tujuan teologis. Ia memberikan makna, bukan sekadar informasi. Alam semesta sebaliknya, tidak mengajarkan makna secara langsung. Alam tuh cuma menampilkan keteraturan, pola, dan hukum, yang kemudian ditangkap oleh akal manusia sebagai tanda. Maka yang berbicara sebenarnya bukan alam dalam pengertian literal, melainkan relasi antara fenomena alam dan rasio manusia.


Dengan demikian, alam tidak berfungsi sebagai sumber makna, melainkan sebagai medan penyingkapan tanda. Tanda-tanda ini bersifat terbuka, tidak final, dan membutuhkan penafsiran. Di sinilah sains bekerja. Sains bukan alat untuk menciptakan makna wahyu, tetapi sarana untuk membaca keteraturan alam secara sistematis. Hasil bacaan ini bersifat tentatif dan selalu terbuka untuk koreksi.


Dulu waktu aku masih SMA, pas masih suka baca buku tasawuf, aku selalu ingat sama tulisanku yang ini; alam semesta tuh kayak sajadah panjang di mana kita bisa beribadah dengan Tuhan lewat apa saja melalui alam semesta. Tapi dulu aku nggak ngerti tulisan ini mau kuarahin ke mana, tapi suka aja nulis begitu. Lantas setelah mempelajari sampai ke sini, aku perlu melihatnya dengan cara yang lebih komprehensif.


Kemudian bagaimana caranya tafsir ilmiah terhadap kitab suci mengungkapan makna sains? 


Kita perlu mengingat baik-baik bahwa tafsir itu bukan salinan langsung dari kitab suci, tafsir bukan jadi wahyu kedua setelah Al-Qur'an, tafsir itu hanyalah usaha manusia untuk mencoba memahami isi wahyu dari Al-Qur'an, tentunya dengan keilmuannya semasa hidup di zaman tersebut. Nggak ada manusia yang bisa melompat keluar dari konteks sosial di zamannya, termasuk para ulama yang kita kagumi. Mereka hidup di lingkungan yang dibentuk dengan cara pandang dan ilmu pengetahuan yang tersedia pada waktu itu. Sehingga hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa tafsirnya akan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. 


Dalam tradisi ushul fiqih, hubungan antara lafadz dan makna telah diklasifikasikan secara sistematis. Lafadz tidak selalu menunjuk pada makna dengan cara yang sama. Ada kalanya makna itu jelas, ada kalanya tidak, ada yang diletakkan untuk tujuan tertentu, dan ada yang digunakan dalam konteks tertentu. Dari sini lahir empat bentuk petunjuk makna.


Pertama, ibarah nash, yaitu ketika lafadz menunjuk langsung pada makna yang dimaksudkan oleh teks. Makna ini bersifat eksplisit dan dapat dipahami tanpa memerlukan penalaran tambahan. Kedua, isyarah nash, yakni ketika struktur lafadz mengandung petunjuk makna tambahan yang tidak dimaksudkan secara langsung, melainkan tersirat. Ketiga, dalalah nash, yaitu makna yang lahir dari konsekuensi logis teks, bukan dari lafadz literal maupun isyarat tersamar. Keempat, iqtida nash, yakni keadaan ketika suatu teks menuntut adanya makna tambahan agar maksudnya menjadi utuh dan tidak absurd.


Ketika kita mencoba membaca ayat tertentu dengan kacamata sains, otomatis kita lagi berpindah dari yang awalnya membaca makna tersurat, ke membaca makna tersirat. Kita bukan lagi melihat bahwa “ayat ini mau ngomong apa,” tapi “ayat ini mau menunjuk ke apa.” Nah, pola ini secara metodologis paling dekat dengan isyarah nash, dengan catatan bahwa isyarah nash ini tidak menabrak ke ibarah nash, serta tidak menafikan makna literal. Konsekuensinya, setiap klaim tafsir ilmiah tidak boleh naik kelas menjadi makna pasti (qat’i), apalagi dijadikan dasar akidah atau klaim kebenaran absolut.


Secara ushulli, tafsir sains itu nggak otomatis haram atau ngawur. Dia cuma berada di ruang interpretasi yang sifatnya multivalen. Dengan kata lain, sah sebagai kemungkinan makna, tapi tidak dapat dipaksakan sebagai satu-satunya makna yang dikehendaki wahyu. 

 

Makanya dalam istilah arab ada yang namanya fahmun nash’i, yakni pemahaman terhadap teks yang sifatnya itu stabil. Dan fahmul waqi, yakni pemahaman terhadap realitas yang terus bergerak. Jadi posisi tafsir terhadap sains ini berdiri di kaki fahmul waqi. Ia sah sebagai kemungkinan interpretasi, tetapi tidak dapat dipaksakan sebagai makna pasti dari teks wahyu.


Ketika tafsir sains keliru ditempatkan sebagai fahmun nash’i, makna wahyu menjadi bergantung pada pengetahuan ilmiah yang sifatnya sementara. Akibatnya, setiap sains direvisi, maka akan berpotensi mengguncang pemahaman keagamaan. Jadi, pemisahan antara fahmun nash’i dan fahmul waqi bukan untuk memisahkan wahyu dari realitas, melainkan untuk menjaga agar wahyu tetap normatif dan sains tetap berada di wilayah refleksi manusia.


Kadang biasanya orang sering ketipu dan mengira bahwa tafsir sains itu kayak Al-Qur’an lagi ngasih bocoran sains modern. Padahal itu cuma kompatibilitas interpretatif, bukan klaim bahwa ayat itu memang sedang menjelaskan fenomena sains. Tafsir sains dalam konteks ini, lebih tepat dipahami sebagai usaha manusia membaca ulang teks wahyu dengan khazanah pengetahuan yang baru, bukan sebagai verifikasi ilmiah atas kebenaran wahyu. Tafsir sains akan jadi bermasalah nanti bukan karena sainsnya, tetapi karena ia ditempatkan pada wilayah makna yang tidak dirancang untuk menampung perubahan.


Perlu diingat bahwa tafsir ilmiah tentunya berbasis ra'yi, atau pemahaman pribadi. Kalau berbasis ra'yi, kemudian siapa yang menjamin ra'yi-nya benar? Makanya nanti di dalam tafsir Bayani dan Irfani, memiliki tradisi yang kuat karena memastikan akurasi makna tekstual Al-Qur'an, dan menjaga kesetiaan pada konteks bahasa arab di zaman wahyu. Tafsir-tafsir seperti ini kerap dipelajari di kalangan santri yang sekolah di pesantren. Namun, ada sedikit masalah, tafsir ini tidak siap menghadapi fakta baru dari ilmu pengetahuan, karena mereka membaca ayat sesuai pengertian zaman hidupnya. Ditambah keterbatasan mufasir dengan lingkungannya yang kemudian bertabrakan dengan sains modern. 


Tapi batasan di sini bukan berarti itu tidak digunakan, justru tafsir Bayani akan sangat digunakan untuk melanjutkan kepada tafsir yang berikutnya. Seperti tafsir Burhani, yakni tafsir yang filosofis. Kemudian tafsirnya valid digunakan, dibandingkan tafsir Bayani dan Irfani, atau tafsir ilmiah sekali pun; karena tafsir tersebut adalah tafsir yang paling cocok digunakan di zaman sekarang. 


Imam al-Ghazali mengatakan dalam bukunya yang berjudul Al-I'tiqad fi Al-Iqtishad; mereka akhirnya memahami cara untuk menyatukan tuntutan wahyu dan akal. Mereka benar-benar yakin bahwa tidak ada kontradiksi antara wahyu tradisi dan kebenaran akal.


Nah, sekarang bagaimana posisi tafsir ilmiah atas fenomena sains bisa dilakukan? Di sini, tafsir ilmi itu baru bisa dikatakan tafsir ilmi yang bukan cocoklogi, ketika dia disandingkan pada kebenaran ilmiah, fakta ilmiah, bukan pada saat masih teori ilmiah. 


Karena sains itu, kalau sudah jadi kebenaran ilmiah dengan fakta ilmiahnya, itu relatif stabil terhadap teori, walaupun masih membuka ruang reinterpretasi. Nah, jadi tafsir ilmi itu bukan disandarkan pada teori ilmiah yang masih bisa berubah, tapi pada eksperimen atau observasinya.


Jadi kalau misalnya ada yang menafsirkan Al-Quran untuk membuktikan fakta sains, itu jelas cocoklogi. Tapi seandainya berangkat dari fakta ilmiah berbasis observasi dan eksperimen, kemudian dicari ayat Alquran-nya yang sesuai; walaupun ini bisa jadi pembenaran. Tapi ada argumentasi di sisi yang lain menurut tafsir ilmiah seperti Bucaillisme, beliau mengatakan bahwa hal tersebut bukan soal dicocoklogi, karena sains tidak membutuhkan itu. Tapi karena kita ingin tahu I'jaz Al-Qur'an, bahwa Alquran itu benar-benar I'jaz. Sekalipun I'jaz Al-Qur'an bukan hanya dipandang dari pemaparannya pada fakta ilmiah, masih banyak hal lain. Cuma yg nanti jadi masalahnya adalah bagaimana cara implementasi I'jaz Al-Qur'an yang benar. 


Kita tidak sedang membicarakan bahwa ketika kita tidak setuju, kemudian kita menolak I'jaz Al-Qur'an. Atau ketika kita setuju, kemudian kita mendukung I'jaz Al-Qur'an. Bukan begitu. Posisinya harus jelas dalam menempatkan koridor sains dan tafsir atas kitab suci yang berusaha menyandingkannya dengan fenomena sains.


Sehingga, usaha metodologi seperti Bucaillisme ini juga rawan menghadapi permasalahan saat mencoba menggabungkan sains dan kitab suci melalui tafsir, hanya karena ingin melihat I'jaz Al-Qur'an. Bucaillisme memang berangkat dari niat yang tampak mulia, yakni berusaha menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an melalui kesesuaiannya dengan temuan sains modern. Namun, justru di titik inilah problem metodologisnya muncul. Metode ini seolah-olah menjadikan sains sebagai kunci pembuka terhadap makna ayat kitab suci, bukan sebagai alat refleksi atas tanda-tanda Tuhan di alam semesta. Sehingga kesannya tampak seperti ayat-ayat Al-Qur’an dipaksa untuk berbicara ilmiah, kemudian diklaim sebagai bukti keajaiban. Padahal yang terjadi sering kali hanyalah pencocokan ulang makna teks agar selaras dengan teori tertentu. Dari sini bisa muncul masalah teologis, kebenaran tentang wahyu Tuhan digantungkan pada stabilitas sains.


Makanya nanti pertanyaannya, apakah cocoklogi yang tafsir ilmi ini berdasarkan definisinya mencapai kesepakatan? Nah ini belum tentu. Tafsir ilmi yang dibahas ini berdasarkan pada tafsir-tafsir yang mencari kecocokan antara kaidah ilmiah atau teori ilmiah terhadap Al-Qur'an. 


Ketika digunakan pada uji coba sains, tafsir Bayani, tafsir Irfani, atau tafsir Ilmi juga boleh dilakukan secara deduktif. Disebut boleh karena secara deduktif, Al-Qur'an itu diciptakan oleh Allah yang kebenarannya hanya mutlak milik Allah. Para penafsir hanya bisa mereka-reka sehingga mendekati kebenarannya, dan itu belum pasti benar bahwa ayat yang dimaksud berarti selaras dari kehendak Allah yang mewahyukannya.


Sedangkan dalam sains, kebenaran mutlaknya tidak ada, karena dalam sains itu harus ada peluang yang bisa difalsifikasi. Makanya ketika digunakan pada uji coba sains menggunakan pendekatan tafsir ilmiah. Maka tafsir ilmiah akan goyah ketika dicocokkan kepada hukum yang ada secara teori, sedangkan tafsir burhani bisa stabil karena tafsirnya bisa diadaptasi tanpa mengorbankan makna wahyu. Di sini, posisi tafsir burhani bukan karena secara tafsir ia lebih modern, tapi karena ia adaptif tanpa merusak makna. Ia menjadi unggul karena fleksibel secara rasional tapi disiplin secara makna. Kalau nanti sains berubah, ayatnya gak akan berubah. Karena yang berubah adalah tafsirnya. Sama kayak hukum waris, ayatnya tetap, tapi ulama bisa beda cara menerapkan hitungan atau konteks sosialnya. 

Jadi, tafsir ilmiah terhadap sains pada kitab suci bukan tentang menyatukan pemahaman atas kitab suci yang disandarkan pada fenomena sains, tapi tentang bagaimana masing-masing di antara keduanya ditempatkan secara proporsional. 


Tafsir ilmiah menjadi sah sejauh ia dipahami sebagai usaha interpretatif dalam ranah fahmul waqi, bukan sebagai penetapan makna teks dalam fahmun nash’i. Ketika tafsir sains dipaksa menjadi makna wahyu yang sifatnya final, yang terjadi bukan lagi soal menguatkan iman, tapi justru menimbulkan kerentanan dalam hal teologis. Karena makna wahyu digantungkan pada temuan ilmiah yang sifatnya tentatif dan terbuka untuk revisi.


Kehadiran kitab suci sebagai wahyu akan tetap berdiri dengan keistimewaannya tanpa harus bergantung pada validitas ilmiah. Sementara sains menjadi perangkat yang membantu kita dalam melihat tanda-tanda Tuhan di alam semesta, tetapi ia bukan jadi kunci utama untuk memahami makna wahyu. Sehingga, relasi antara wahyu dan sains seharusnya dibangun bukan di atas klaim pembuktian, melainkan pada kesadaran epistemik. Wahyu dijaga dalam wilayah normatifnya, sains dibiarkan bekerja dalam otonominya. Di titik inilah dialog keduanya menjadi sehat, tidak saling menundukkan, dan tidak juga saling menegasikan.

Share:

Selasa, 09 Desember 2025

Hubungan ayat kitab suci dan sains

Selama ini kita sering mendengar atau membaca pernyataan bahwa ketika ada penemuan ilmiah modern, ternyata Alquran telah lebih dulu membicarakannya sejak 14 abad lalu. Nah, menurutku klaim semacam ini tuh biasanya digunakan sebagai argumen untuk menunjukkan bahwa Alquran memiliki keistimewaan, sekaligus menjadi bukti keotentikan wahyu Tuhan. Tapi aku disclaimer dulu dari awal bahwa di sini aku sama sekali enggak meragukan kebenaran Al-Qur'an sama sekali, justru di sini aku ingin menegaskan bahwa Al-Qur'an tuh istimewa dengan cara dia berdiri di wilayahnya sendiri.

Nah sekarang kembali lagi dengan klaim keselarasan ayat-ayat dari kitab suci yang relevan dengan penemuan ilmiah modern, coba kalau kita menggunakan logika dan cara berpikir yang sama, harusnya kita juga berlaku adil ketika informasi serupa muncul dalam kitab atau tulisan yang lebih tua daripada Alquran. Apakah itu artinya kitab tersebut lebih benar? Atau justru layak dianggap setara kesuciannya?


Contohnya dalam kitab Weda dalam himne-himne filosofis di bagian Samhita dan Rigveda, terdapat uraian mengenai kosmologi dan konsep partikel subatomik. Pemeluk agama Hindu bisa aja berargumen bahwa ajaran tersebut telah muncul ribuan tahun sebelum ilmu pengetahuan menemukan bukti empirisnya. Begitu pula dengan Kitab Yesaya pasal 40 ayat 22 dalam tradisi Kristen yang menyebut “dia yang duduk di atas lingkaran bumi.” Pernyataan ini sebenarnya juga mengandung perdebatan tafsir dan indikasi sebagai pengetahuan awal mengenai bentuk bumi yang bulat, tapi pernyataannya sudah ada jauh sebelum Galileo atau Kopernikus lahir.


Jika logika pencocokan seperti ini diterima tanpa kritik, maka kita juga harus menerima bahwa klaim keilahian dan validitas kitab lain memiliki argumen yang sama kuatnya. Ini tentu menjadi persoalan bagi umat Islam yang meyakini Alquran sebagai kitab paling benar, final, dan lengkap. Kalau kitab suci lain maupun pemikiran filsafat bisa mengajukan klaim serupa, maka posisi eksklusivitas Alquran menjadi problematis.


Fenomena serupa tidak hanya muncul pada teks keagamaan. Para filsuf Yunani kuno juga telah membicarakan konsep-konsep yang menjadi dasar sains modern jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan. Demokritos misalnya, merumuskan gagasan atomisme, bahwa seluruh realitas terbentuk dari partikel kecil tak terbagi bernama atomos. Gagasan ini mirip dengan teori atom modern yang berkembang pada abad ke-19, meski kemudian direvisi oleh temuan subatomik. Kemudian adalagi Aristoteles yang mengembangkan teori mengenai fisika, biologi, dan astronomi dan memengaruhi ilmu pengetahuan selama berabad-abad, sementara itu Eratosthenes pada 200 SM, berhasil menghitung keliling bumi dengan menggunakan cahaya matahari di dua kota dan hasilnya memiliki tingkat akurasi yang mengejutkan.


Lantas, apakah kebenaran sebuah kitab suci dapat dinilai dari seberapa banyak ia memuat informasi sains yang baru dipahami manusia di masa depan?


Soalnya, kebenaran sains itu bersifat tentatif menggunakan metode falsifikasi. Jadi kebenaran dalam sains tidak pernah final. Sementara kebenaran dari kitab suci merupakan kebenaran mutlak yang bersumber langsung dari Tuhan. Makanya ketika teori Newton tentang gravitasi, yang bertahan ratusan tahun, pada akhirnya dianalisis ulang oleh relativitas Einstein. Jika sains selalu berubah mengikuti data dan observasi baru, bagaimana kita bisa menyimpulkan bahwa fakta sains hari ini merupakan ukuran kebenaran wahyu yang sifatnya mutlak? 


Di sisi lain, ketika ayat Al-Qur'an dicocokkan dengan temuan sains, apakah itu benar mencerminkan makna yang dimaksud oleh Al-Qur'an, atau hanya hasil penafsiran kita yang disesuaikan dengan temuan ilmiah modern? Biar kita merasakan keimanan yang lebih kuat jika ada fenomena sains yang ditemukan dan itu relevan dengan kitab suci?


Dalam tradisi tafsir terdapat konsep muhkamat dan mutasyabihat. Ayat muhkamat memiliki maksud yang tegas dan tidak membutuhkan penafsiran rumit, biasanya terkait hukum dan keyakinan inti. Sementara ayat mutasyabihat lebih multitafsir, ini membutuhkan pendekatan lebih dalam agar maknanya dapat dipahami. Banyak ayat yang hari ini dihubungkan dengan sains termasuk kategori ayat mutasyabihat, seperti pembahasan tentang penciptaan alam atau fenomena kosmik, yang mungkin bersifat simbolik atau metaforis.


Hal ini berkaitan pula dengan istilah qath’i dilalah dan zhonni dilalah. Qath’i dilalah menunjukkan makna yang pasti, sementara zhonni dilalah menunjukkan makna yang bersifat dugaan atau terbuka terhadap interpretasi. Ayat mutasyabihat termasuk dalam zhonni dilalah, sehingga pencocokannya dengan teori ilmiah dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda.


Sederhananya, kalau kita mencocokkan ayat yang berkaitan dengan fenomena sains, kita tahu nggak maksud sesungguhnya dari ayat tersebut itu apa? Apakah memang ayat itu ditujukan untuk menjelaskan fenomena sains? Coba pikirkan ulang sebagai umat muslim, Alquran itu kan secara luas dianggap sebagai sastra terbaik, mukjizat terbesar, dan standar kefasihan yang tidak tertandingi karena keindahannya yang memukau.


Karena itu, jika pencocokan dilakukan sepihak, maka ketika temuan ilmiah bertentangan dengan tafsir tertentu, seperti pada pembahasan evolusi, DNA, atau asal-usul manusia purba, pencocokan tersebut menjadi buntu. Karena enggak ada titik temu. Dalam konteks penciptaan manusia misalnya, Al-Qur'an sering dipahami secara tekstual merujuk pada konsep manusia berasal dari pasangan pertama, yakni nabi Adam dan Hawa. Ini jelas berkonflik dengan teori evolusi jika pendekatan yang dipakai adalah pencocokan literal.


Sains itu berdiri secara objektif, berdasarkan apa yang bisa diamati, diukur, dan diuji. Objeknya nggak berubah, tapi penafsirannya berubah mengikuti metode, instrumen, dan paradigma. Karena itu ilmu pengetahuan berkembang, sementara wahyu bergerak dalam ranah nilai dan makna, dan dia sifatnya absolut.


Ketika ayat Al-Qur'an dipaksa selalu selaras dengan penemuan ilmiah, maka akan muncul inkonsistensi. Misalnya ayat yang membahas tentang langit yang terentang atau meluas kemudian dikaitkan dengan teori Big Bang. Atau ayat yang membahas tujuh lapis langit yang kemudian dihubungkan dengan gagasan multiverse. Pada akhirnya ayat yang sesuai akan disandingkan, yang tidak sesuai akan diklaim sebagai metafora. Mekanismenya malah jadi selektif.


Padahal, kalau kita mau belajar lebih dalam. Ilmuwan muslim yang hidup di abad pertengahan waktu Islam lagi masa jaya-jayanya, nggak pernah ada dari mereka yang menyamakan antara ayat dari kitab suci saat mengembangkan pengetahuan sainsnya. Contohnya seperti Ibnu Al-Haytham atau populernya di Barat dengan sebutan Al-Hazen, merupakan seorang bapak ilmu optik modern. Di bukunya yang berjudul Al-Manazir, membangun teori tentang cahaya dan penglihatan lewat eksperimen yang metodologis. Dia nggak ngambil ayat dari kitab suci dulu buat bikin hipotesis, tapi dia pakai oberservasi, penelitian, eksperimen, analisis data, bahkan metode ilmiah.


Contoh lainnya adalah Ibnu Sina atau populernya di Barat dengan sebutan Avicenna, dia menulis salah satu ensiklopedia medis terbesar di dunia yang judulnya Al-Qonun fi Tib, dalam risetnya dia nggak menyambungkan ayat suci untuk disesuaikan dengan temuan ilmiahnya. Dia murni pakai logika, eksperimen, dan pengamatan empiris.


Jadi, apa yang dilakukan oleh ilmuwan muslim di abad pertengahan ini menjadi penting buat kita, bahwa mereka nggak pernah takut atau merasa perlu menyambungkan agama dengan sains, pada saat mereka melakukan penelitian. Karena mereka sudah paham bahwa agama dan sains itu berdiri di wilayahnya masing-masing, punya metodologi masing-masing. Agama memberikan nilai moral dan spiritualitas, sementara sains memberikan pemahaman tentang alam semesta. Jadi nggak perlu dipaksakan untuk nyambung satu sama lain, dan bukan untuk disambungkan apalagi disamakan juga.


Tapi bukan dalam artian bahwa mereka (para ilmuwan muslim) ini nggak ngerti wahyu Tuhan. Justru mereka ini mengerti betul tentang teologi, ada kok gagasan-gagasan mereka terkait teologi dan itu berdiri secara terpisah. Bahkan Ibnu Sina sendiri sampai disesatkan oleh al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah karena Ibnu Sina punya filsafat emanasi terkait filosofi yang dia yakini saat itu. Tapi mereka juga paham, memasukkan wahyu Tuhan ke metodologi sains, hanya membuat hasil temuan mereka jadi nggak universal, artinya hanya bisa diterima oleh umat muslim aja. Sementara nilai dari sains itu harus universal, biar bisa diterima semua orang tanpa pandang agamanya. 


Mereka memandang wahyu sebagai sumber nilai dan motivasi, tetapi bukan parameter pengujian kebenaran ilmiah. Makanya ilmuwan muslim ini kan juga belajar dari ilmuwan lain yang bukan muslim, yang pada saat itu punya Baytul Hikmah di Baghdad, tempat di mana semua ilmu pengetahuan Yunani kuno diterjemahkan, dipelajari, dan diteliti ulang, semua itu terasa biasa aja buat mereka. 


Kalau konsep cocoklogi ini dilakukan secara terus menerus tanpa mengerti konteksnya, hanya akan membuat salah paham soal agama, lantas membuat agama itu terkesan jumud. Padahal wahyu pertama umat Islam yang turun pertama kali dibawakan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saat itu adalah "iqro" artinya bacalah. Maksudnya bisa aja berarti kita disuruh untuk mempelajari dan mengeksplorasi dunia ini dengan cara yang mendalam.


Kalau belajar dari sejarah ilmuwan muslim yang hebat itu, harusnya kita juga bisa belajar bahwa saat membaca ayat-ayat dari kitab suci, kita harusnya menemukan pemicu bagaimana caranya kita mempelajari alam semesta lewat metodologi yang sudah disediakan oleh Tuhan. Ilmuwan-ilmuwan muslim tersebut, mengembangkan temuan ilmiahnya dengan banyak cara tanpa sekali pun menyandingkan temuannya kepada ayat di dalam kitab suci.


Untuk menulis keresahan ini aja, aku membaca puluhan paper yang mengkaji keterkaitan ayat-ayat kitab suci dengan fenomena sains. Paper yang aku masukkan di tulisan ini cuma beberapa aja sebagai gambaran umumnya. 


Jadi, beberapa dari paper yang sudah aku baca itu punya kesan yang kuat untuk menunjukkan bahwa agama  itu sangat relevan dengan zaman modern melalui temuan sains yang selaras dari ayat dalam kitab suci. Aku sih berharapnya paper ini tuh cuma hasil persepsi pribadi penelitinya aja yang bersifat subjektif dengan landasan-landasan yang berbasis referensi ilmiah. 


Contohnya dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Ajar Permono dengan judul "Bucaillisme Ayat-Ayat Sains: Sebuah Kritik Metodologi" mengatakan bahwa dalam pengembangan sains, para ilmuwan "wajib" mencari dasar pijakan pada ayat-ayat Qur'an baik yang tersurat atau tersirat. Konsekuensinya, manakala terdapat pertentangan antara Qur'an dan sains, maka sainslah yang disalahkan dan dinafikan.


Coba, reaksi kita pas membaca hasil pembahasannya, gimana? Masa penemuan sains disalahkan hanya karena bertentangan dengan Alquran? By the way, penggalan kutipan tersebut tidak mewakili keseluruhan isinya, ya.

Menurutku, Tuhan mewahyukan Alquran sudah cukup istimewa, ketimbang sains yang kebenarannya pun masih bisa tumpang-tindih oleh banyak teori. Hanya saja, fakta-fakta ilmiah tuh akan menjadi terasa benar karena masuk akal oleh logika melalui pembuktiannya. 


Misalnya dalam paper lain dengan judul "Qur'an on Embryology: A study of Quranic and modern concept of human development", ditulis oleh Ali Mohammad dari India, papernya membahas perbandingan antara teks Qur'an serta interpretasinya mengenai tahapan penciptaan manusia dan konsep embriologi modern. Penulisnya menelaah klaim bahwa beberapa ayat Qur'an mengandung pengetahuan embriologi modern dan menyelidiki apakah klaim itu valid dari sudut pandang biologi. Kenyataannya, paper ini cuma membahas interpretasi istilah, dan hasilnya bergantung pada tafsir.


Dalam paper lain lagi dengan judul "Islam and evolution: A brief review of quranic concept and contemporary thoughts", ditulis oleh Fozia Sadaf seorang dosen dari Pakistan. Papernya membahas konsep evolusi manusia dari perspektif ilmiah yang dikonfrontasikan dengan pandangan dalam Al-Qur'an mengenai penciptaan manusia. Tapi paper ini sifatnya hanya literatur review, bukan studi empiris baru, paper ini lebih banyak menyajikan argumen dan posisi interpretatif. Jadi tidak ada kesimpulan yang membuktikan evolusi atau menolaknya secara ilmiah, hanya mendata posisi-posisi aja.


Dalam paper yang ditulis oleh Muhammad Patri Arifin dengan judul "Applied Science dalam Wacana Tafsir Ilmi" menyatakan dalam kesimpulannya bahwa penafsiran Al-Quran dengan pendekatan ilmiah tidaklah dimaksudkan untuk menundukkan Alquran dengan teori-teori ilmiah. Akan tetapi berupaya untuk menjelaskan dan menyingkap hikmah isyarat-isyarat ilmiah dalam ayat-ayat kauniyah dengan menjadikan teori dan fakta ilmiah sebagai bukti kemukjizatan Alquran dari sisi isyarat ilmiah (I'jaz al-'ilmy) yang terkandung di dalamnya. 


Nah untuk paper terakhir ini, aku perlu sedikit menjelaskan terkait I'jaz al-'ilmy, singkatnya ini tuh usaha membuktikan kesakralan teks kitab suci melalui kecocokan dengan ilmu modern, dan itu dianggap sebagai bukti bahwa kitab suci tersebut adalah wahyu yang berasal dari Tuhan yang maha mengetahui masa depan. 


Masalah utamanya, I'jaz al-‘ilmy bukan ilmu, tapi metode penafsiran yang bersifat retroaktif. Tahapan umumnya kayak gini; sains menemukan sesuatu. Umat mencari ayat yang kira-kira mirip. Lalu ditafsir ke arah temuan baru. Kalau sains berubah, tafsirnya ikut berubah. Dalam istilah epistemologi, ini jadi bentuk confirmation bias.


Dari sini kita sudah bisa melihat polanya yang semakin keliatan jelas, paper-paper yang bertebaran dalam konteks ini hanya menyandingkan data-data sains yang diselaraskan melalui kitab suci, nanti hasil kesimpulannya bersifat interpretatif, dan sama sekali nggak ada penegasan yang memastikan hasil penelitiannya bisa menyandingkan keterkaitan fenomena sains dalam kitab suci secara pasti.


Sampai sini persoalannya jadi jelas, kalau sifatnya hanya tafsiran, berarti dalil agama yang otentik dari kitab suci akan melalui proses penalaran si penafsir dengan metodenya sehingga menjadi sebuah dalil. Nah problemnya adalah, tidak semua dalil agama dari hasil tafsiran, memiliki kebenaran yang sama dengan dalil agama yang otentik. Jangan malah menyamakan kedudukan tafsir atas kitab suci, lantas membuat kita meyakininya sebagai wahyu yang sama seperti kitab suci tersebut, lalu dicocokkan terhadap fenomena sains


Lagi-lagi aku perlu disclaimer keras bahwa aku bukan sedang merendahkan ahli-ahli tafsir, aku hanya berusaha membangun bagaimana cara kita melihat hasilnya dalam implementasi keilmuan dalam ranah-ranah tertentu. 


Jadi sebenarnya yang bermasalah itu bukan karena keyakinan kita terhadap kitab suci yang membahas fenomena sains, tapi bagaimana metodologi kita memandang kitab suci dan fenomena sains. Karena kitab suci akan selalu relevan bahkan tanpa harus dijadikan bukti sebagai relevansi dalam fenomena sains.

Share:

Sabtu, 29 November 2025

Rabu, 12 November 2025