Tulisan ini tidak bertujuan untuk membuktikan Al-Qur’an melalui sains, melainkan membatasi secara metodologis relasi antara tafsir dan sains agar tidak saling merusak.
Pada tulisan sebelumnya aku sudah membahas isu di mana banyak orang sering mengaitkan tentang fenomena sains yang ternyata itu selaras di dalam kitab suci, dengan sarat maknanya bahwa kitab suci telah membahas hal tersebut jauh sebelum sains menemukannya, sehingga hal itu membuktikan betapa istimewanya kitab suci. Kalau logika berpikirnya ingin menyandingkan bahwa sains tidak lebih tinggi kebenarannya dari kitab suci, lantas dengan metode seperti apa menyimpulkan analisisnya?
Alquran ini kan jenisnya adalah teks yang tidak berbicara secara langsung, sehingga kemudian maknanya nanti akan diserahkan kepada masing-masing pembacanya. Maka dari karena itu, sangat tidak heran kenapa di dalam agama saja masih banyak terjadi perdebatan atau perbedaan pandangan, bahkan pada hukum-hukum yang sudah ditetapkan secara pasti, seperti misalnya hitungan tentang waris, faraidh, dan semacamnya. Teksnya tetap, tetapi pemahaman manusia terhadap teks itulah yang beragam.
Walaupun memang, wahyu Tuhan itu turun dalam bentuk lafadz, ayat, dan struktur bahasa. Tapi di luar itu, ada dunia yang membentang, yang juga berbicara dengan caranya sendiri. Kitab suci sebagai wahyu adalah teks yang memiliki struktur makna, arah normatif, dan tujuan teologis. Ia memberikan makna, bukan sekadar informasi. Alam semesta sebaliknya, tidak mengajarkan makna secara langsung. Alam tuh cuma menampilkan keteraturan, pola, dan hukum, yang kemudian ditangkap oleh akal manusia sebagai tanda. Maka yang berbicara sebenarnya bukan alam dalam pengertian literal, melainkan relasi antara fenomena alam dan rasio manusia.
Dengan demikian, alam tidak berfungsi sebagai sumber makna, melainkan sebagai medan penyingkapan tanda. Tanda-tanda ini bersifat terbuka, tidak final, dan membutuhkan penafsiran. Di sinilah sains bekerja. Sains bukan alat untuk menciptakan makna wahyu, tetapi sarana untuk membaca keteraturan alam secara sistematis. Hasil bacaan ini bersifat tentatif dan selalu terbuka untuk koreksi.
Dulu waktu aku masih SMA, pas masih suka baca buku tasawuf, aku selalu ingat sama tulisanku yang ini; alam semesta tuh kayak sajadah panjang di mana kita bisa beribadah dengan Tuhan lewat apa saja melalui alam semesta. Tapi dulu aku nggak ngerti tulisan ini mau kuarahin ke mana, tapi suka aja nulis begitu. Lantas setelah mempelajari sampai ke sini, aku perlu melihatnya dengan cara yang lebih komprehensif.
Kemudian bagaimana caranya tafsir ilmiah terhadap kitab suci mengungkapan makna sains?
Kita perlu mengingat baik-baik bahwa tafsir itu bukan salinan langsung dari kitab suci, tafsir bukan jadi wahyu kedua setelah Al-Qur'an, tafsir itu hanyalah usaha manusia untuk mencoba memahami isi wahyu dari Al-Qur'an, tentunya dengan keilmuannya semasa hidup di zaman tersebut. Nggak ada manusia yang bisa melompat keluar dari konteks sosial di zamannya, termasuk para ulama yang kita kagumi. Mereka hidup di lingkungan yang dibentuk dengan cara pandang dan ilmu pengetahuan yang tersedia pada waktu itu. Sehingga hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa tafsirnya akan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam tradisi ushul fiqih, hubungan antara lafadz dan makna telah diklasifikasikan secara sistematis. Lafadz tidak selalu menunjuk pada makna dengan cara yang sama. Ada kalanya makna itu jelas, ada kalanya tidak, ada yang diletakkan untuk tujuan tertentu, dan ada yang digunakan dalam konteks tertentu. Dari sini lahir empat bentuk petunjuk makna.
Pertama, ibarah nash, yaitu ketika lafadz menunjuk langsung pada makna yang dimaksudkan oleh teks. Makna ini bersifat eksplisit dan dapat dipahami tanpa memerlukan penalaran tambahan. Kedua, isyarah nash, yakni ketika struktur lafadz mengandung petunjuk makna tambahan yang tidak dimaksudkan secara langsung, melainkan tersirat. Ketiga, dalalah nash, yaitu makna yang lahir dari konsekuensi logis teks, bukan dari lafadz literal maupun isyarat tersamar. Keempat, iqtida nash, yakni keadaan ketika suatu teks menuntut adanya makna tambahan agar maksudnya menjadi utuh dan tidak absurd.
Ketika kita mencoba membaca ayat tertentu dengan kacamata sains, otomatis kita lagi berpindah dari yang awalnya membaca makna tersurat, ke membaca makna tersirat. Kita bukan lagi melihat bahwa “ayat ini mau ngomong apa,” tapi “ayat ini mau menunjuk ke apa.” Nah, pola ini secara metodologis paling dekat dengan isyarah nash, dengan catatan bahwa isyarah nash ini tidak menabrak ke ibarah nash, serta tidak menafikan makna literal. Konsekuensinya, setiap klaim tafsir ilmiah tidak boleh naik kelas menjadi makna pasti (qat’i), apalagi dijadikan dasar akidah atau klaim kebenaran absolut.
Secara ushulli, tafsir sains itu nggak otomatis haram atau ngawur. Dia cuma berada di ruang interpretasi yang sifatnya multivalen. Dengan kata lain, sah sebagai kemungkinan makna, tapi tidak dapat dipaksakan sebagai satu-satunya makna yang dikehendaki wahyu.
Makanya dalam istilah arab ada yang namanya fahmun nash’i, yakni pemahaman terhadap teks yang sifatnya itu stabil. Dan fahmul waqi, yakni pemahaman terhadap realitas yang terus bergerak. Jadi posisi tafsir terhadap sains ini berdiri di kaki fahmul waqi. Ia sah sebagai kemungkinan interpretasi, tetapi tidak dapat dipaksakan sebagai makna pasti dari teks wahyu.
Ketika tafsir sains keliru ditempatkan sebagai fahmun nash’i, makna wahyu menjadi bergantung pada pengetahuan ilmiah yang sifatnya sementara. Akibatnya, setiap sains direvisi, maka akan berpotensi mengguncang pemahaman keagamaan. Jadi, pemisahan antara fahmun nash’i dan fahmul waqi bukan untuk memisahkan wahyu dari realitas, melainkan untuk menjaga agar wahyu tetap normatif dan sains tetap berada di wilayah refleksi manusia.
Kadang biasanya orang sering ketipu dan mengira bahwa tafsir sains itu kayak Al-Qur’an lagi ngasih bocoran sains modern. Padahal itu cuma kompatibilitas interpretatif, bukan klaim bahwa ayat itu memang sedang menjelaskan fenomena sains. Tafsir sains dalam konteks ini, lebih tepat dipahami sebagai usaha manusia membaca ulang teks wahyu dengan khazanah pengetahuan yang baru, bukan sebagai verifikasi ilmiah atas kebenaran wahyu. Tafsir sains akan jadi bermasalah nanti bukan karena sainsnya, tetapi karena ia ditempatkan pada wilayah makna yang tidak dirancang untuk menampung perubahan.
Perlu diingat bahwa tafsir ilmiah tentunya berbasis ra'yi, atau pemahaman pribadi. Kalau berbasis ra'yi, kemudian siapa yang menjamin ra'yi-nya benar? Makanya nanti di dalam tafsir Bayani dan Irfani, memiliki tradisi yang kuat karena memastikan akurasi makna tekstual Al-Qur'an, dan menjaga kesetiaan pada konteks bahasa arab di zaman wahyu. Tafsir-tafsir seperti ini kerap dipelajari di kalangan santri yang sekolah di pesantren. Namun, ada sedikit masalah, tafsir ini tidak siap menghadapi fakta baru dari ilmu pengetahuan, karena mereka membaca ayat sesuai pengertian zaman hidupnya. Ditambah keterbatasan mufasir dengan lingkungannya yang kemudian bertabrakan dengan sains modern.
Tapi batasan di sini bukan berarti itu tidak digunakan, justru tafsir Bayani akan sangat digunakan untuk melanjutkan kepada tafsir yang berikutnya. Seperti tafsir Burhani, yakni tafsir yang filosofis. Kemudian tafsirnya valid digunakan, dibandingkan tafsir Bayani dan Irfani, atau tafsir ilmiah sekali pun; karena tafsir tersebut adalah tafsir yang paling cocok digunakan di zaman sekarang.
Imam al-Ghazali mengatakan dalam bukunya yang berjudul Al-I'tiqad fi Al-Iqtishad; mereka akhirnya memahami cara untuk menyatukan tuntutan wahyu dan akal. Mereka benar-benar yakin bahwa tidak ada kontradiksi antara wahyu tradisi dan kebenaran akal.
Nah, sekarang bagaimana posisi tafsir ilmiah atas fenomena sains bisa dilakukan? Di sini, tafsir ilmi itu baru bisa dikatakan tafsir ilmi yang bukan cocoklogi, ketika dia disandingkan pada kebenaran ilmiah, fakta ilmiah, bukan pada saat masih teori ilmiah.
Karena sains itu, kalau sudah jadi kebenaran ilmiah dengan fakta ilmiahnya, itu relatif stabil terhadap teori, walaupun masih membuka ruang reinterpretasi. Nah, jadi tafsir ilmi itu bukan disandarkan pada teori ilmiah yang masih bisa berubah, tapi pada eksperimen atau observasinya.
Jadi kalau misalnya ada yang menafsirkan Al-Quran untuk membuktikan fakta sains, itu jelas cocoklogi. Tapi seandainya berangkat dari fakta ilmiah berbasis observasi dan eksperimen, kemudian dicari ayat Alquran-nya yang sesuai; walaupun ini bisa jadi pembenaran. Tapi ada argumentasi di sisi yang lain menurut tafsir ilmiah seperti Bucaillisme, beliau mengatakan bahwa hal tersebut bukan soal dicocoklogi, karena sains tidak membutuhkan itu. Tapi karena kita ingin tahu I'jaz Al-Qur'an, bahwa Alquran itu benar-benar I'jaz. Sekalipun I'jaz Al-Qur'an bukan hanya dipandang dari pemaparannya pada fakta ilmiah, masih banyak hal lain. Cuma yg nanti jadi masalahnya adalah bagaimana cara implementasi I'jaz Al-Qur'an yang benar.
Kita tidak sedang membicarakan bahwa ketika kita tidak setuju, kemudian kita menolak I'jaz Al-Qur'an. Atau ketika kita setuju, kemudian kita mendukung I'jaz Al-Qur'an. Bukan begitu. Posisinya harus jelas dalam menempatkan koridor sains dan tafsir atas kitab suci yang berusaha menyandingkannya dengan fenomena sains.
Sehingga, usaha metodologi seperti Bucaillisme ini juga rawan menghadapi permasalahan saat mencoba menggabungkan sains dan kitab suci melalui tafsir, hanya karena ingin melihat I'jaz Al-Qur'an. Bucaillisme memang berangkat dari niat yang tampak mulia, yakni berusaha menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an melalui kesesuaiannya dengan temuan sains modern. Namun, justru di titik inilah problem metodologisnya muncul. Metode ini seolah-olah menjadikan sains sebagai kunci pembuka terhadap makna ayat kitab suci, bukan sebagai alat refleksi atas tanda-tanda Tuhan di alam semesta. Sehingga kesannya tampak seperti ayat-ayat Al-Qur’an dipaksa untuk berbicara ilmiah, kemudian diklaim sebagai bukti keajaiban. Padahal yang terjadi sering kali hanyalah pencocokan ulang makna teks agar selaras dengan teori tertentu. Dari sini bisa muncul masalah teologis, kebenaran tentang wahyu Tuhan digantungkan pada stabilitas sains.
Makanya nanti pertanyaannya, apakah cocoklogi yang tafsir ilmi ini berdasarkan definisinya mencapai kesepakatan? Nah ini belum tentu. Tafsir ilmi yang dibahas ini berdasarkan pada tafsir-tafsir yang mencari kecocokan antara kaidah ilmiah atau teori ilmiah terhadap Al-Qur'an.
Ketika digunakan pada uji coba sains, tafsir Bayani, tafsir Irfani, atau tafsir Ilmi juga boleh dilakukan secara deduktif. Disebut boleh karena secara deduktif, Al-Qur'an itu diciptakan oleh Allah yang kebenarannya hanya mutlak milik Allah. Para penafsir hanya bisa mereka-reka sehingga mendekati kebenarannya, dan itu belum pasti benar bahwa ayat yang dimaksud berarti selaras dari kehendak Allah yang mewahyukannya.
Jadi, tafsir ilmiah terhadap sains pada kitab suci bukan tentang menyatukan pemahaman atas kitab suci yang disandarkan pada fenomena sains, tapi tentang bagaimana masing-masing di antara keduanya ditempatkan secara proporsional.
Tafsir ilmiah menjadi sah sejauh ia dipahami sebagai usaha interpretatif dalam ranah fahmul waqi, bukan sebagai penetapan makna teks dalam fahmun nash’i. Ketika tafsir sains dipaksa menjadi makna wahyu yang sifatnya final, yang terjadi bukan lagi soal menguatkan iman, tapi justru menimbulkan kerentanan dalam hal teologis. Karena makna wahyu digantungkan pada temuan ilmiah yang sifatnya tentatif dan terbuka untuk revisi.
Kehadiran kitab suci sebagai wahyu akan tetap berdiri dengan keistimewaannya tanpa harus bergantung pada validitas ilmiah. Sementara sains menjadi perangkat yang membantu kita dalam melihat tanda-tanda Tuhan di alam semesta, tetapi ia bukan jadi kunci utama untuk memahami makna wahyu. Sehingga, relasi antara wahyu dan sains seharusnya dibangun bukan di atas klaim pembuktian, melainkan pada kesadaran epistemik. Wahyu dijaga dalam wilayah normatifnya, sains dibiarkan bekerja dalam otonominya. Di titik inilah dialog keduanya menjadi sehat, tidak saling menundukkan, dan tidak juga saling menegasikan.
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
.png)
.png)
%201.png)
.png)
%200.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
.png)
.png)