Dari dulu semenjak kali pertama menyukai buku, saya sudah cukup resah dengan keberadaan orang-orang yang memiliki stigma negatif tentang filsafat. Karena kebetulan dulu beberapa buku yang saya sukai adalah buku-buku yang membicarakan tentang ketuhanan dan keterkaitannya dengan filsafat itu cukup erat. Namun, keresahan saya itu hanya bisa dipendam karena saya tidak serta merta fanatik kepada filsafat. Saya hanya suka dan sesekali mempelajari. Dan sejauh ini buku yang saya miliki yang isinya murni membahas filsafat hanya satu saja, selebihnya saya hanya mengoleksi buku-buku tentang ketuhanan yang biasanya dikaji kembali oleh ulama-ulama terkemuka seperti Dr. Haidar Bagir, atau prof Quraish Shihab, itu pun mengambil konteks kepada Syaikh Jalaludin Rumi.
Stigma orang-orang yang tiap kali mendengar kalau ada orang belajar filsafat pasti akan berasumsi, "Hati-hati jadi orang yang atheis," atau "Hati-hati kalau tersesat dalam memahaminya." Itu adalah asumsi paling familiar di mata masyarakat yang cukup dangkal dalam memahami ilmu pengetahuan, meski masih ada banyak stigma lainnya yang cukup negatif terhadap filsafat.
Kebetulannya lagi karena kuliah saya adalah jurusan filsafat, meski ini bukan jurusan yang saya inginkan, karena sedari awal saya lebih tertarik kepada psikologi. Saya cukup muak jika ditanyai orang mengenai jurusan perkuliahan saya, karena saya sudah lebih dulu tahu bagaimana tanggapan orang-orang yang bertanya cuma sekadar basa-basi. Padahal tempat kuliah saya yang sedari awal berbasis islam saja tetap membuat (sebagian) orang berasumsi negatif terhadap filsafat.
Bagi sebagian orang yang mengerti filsafat, kadang mereka memandang sinis ketika saya menjawab pertanyaannya bahwa jurusan kuliah saya adalah filsafat. Pandangannya terhadap saya seolah memancarkan keraguan kepada saya apakah saya sanggup mempelajari serta memahami ilmu filsafat itu sendiri. Padahal, secara sederhana tidak ada yang diberat-beratkan di dalam filsafat. Orang-orang saja yang keduluan memandangnya seperti itu karena tidak pernah tahu bahwa kenyataannya bertolak belakang. Namun, ada benarnya jika filsafat menjadi pelajaran yang cukup berat, yaitu bagi orang-orang yang malas membaca dan malas berpikir terhadap pendalamannya kepada ilmu pengetahuan.
Orang yang belajar filsafat tentu lahir dari karena banyaknya bacaan, hingga kemudian melahirkan rasa ingin tahu yang tinggi. Apapun bacaan yang kita baca, selama kita menyimpulkannya dengan penuh tanda tanya dan mencoba mensiasati kesimpulan tersebut, secara tidak langsung kita sudah berada di dalam ruang lingkup filsafat itu sendiri. Meski hanya secara garis kecil.
Sederhananya kalau ada orang yang berasumsi negatif kepada filsafat, ya karena mereka nggak pernah ngerti gimana konsep pengetahuan itu dipelajari. Dikatakan oleh dosen saya yang mengajar tentang pengantar filsafat, bahwa arti filsafat itu secara harfiah bermakna mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu dalam pengertian yang lebih umum yang bisa dipahami adalah cinta kepada pengetahuan. Jadi orang yang cinta kepada ilmu pengetahuan itu pasti menyukai yang namanya aktivitas belajar, ada semangat berpikir dan ada gairah berpikir di situ untuk mencari tahu terhadap persoalan-persoalan yang sebelumnya tidak diketahui.
Jadi, menurut saya pribadi, cuma orang-orang yang nggak pernah belajar yang nggak bisa ngerti apa kontekstualisasi terhadap pembelajaran itu sendiri, terlepas dari ilmu filsafat tentunya. Karena semua bentuk pembelajaran dan pengetahuan, induknya ya filsafat. Mengambil analogi dari perspektif agama, kalau ada orang yang mencaci maki manusia, maka berarti ia sama dengan mencaci maki Tuhan. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Sama dengan filsafat, kalau stigma terhadap filsafat sudah negatif, maka terhadap apapun pengetahuan yang dipelajarinya, juga pasti negatif. Karena filsafat adalah induk dari segala cabang ilmu pengetahuan.