Senin, 29 April 2024

Kebohongan Terbesar Bank Sentral dan hegemoni new world order

Pertama-tama aku mau disclaimer keras dulu; aku sama sekali enggak punya latar belakang dalam disiplin ilmu ekonomi. Aku cuma kebetulan belajar aja, dan apa yang aku tulis di sini sama sekali enggak mencerminkan suatu kebenaran. Bisa jadi ada banyak kesalahan di dalamnya. Namun, beberapa aspek dalam tulisan ini juga diambil dari sumber-sumber yang cukup kredibel, salah satu di antaranya termasuk kolom media Tempo. Tema tulisan ini layak untuk dikritisi lebih dalam, sehingga muncullah tulisan ini. Dan satu hal yang menjadi alasan kuat kenapa aku ingin membagikan tulisan ini. Aku mau membuka pikiran kepada mereka-mereka yang secara sadar telah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan ini, untuk menyadari akan realita yang kita hadapi saat ini dalam dunia ekonomi, yang mana itu tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. 


Untuk menjembatani konteks tulisan selanjutnya, ada baiknya simak dulu tulisan berikut ini

Jadi gini, awalnya aku pernah nulis kalau sistem fiat di seluruh dunia itu selalu melahirkan pemerintahan yang korup. Kenapa demikian? (Asumsi pribadi aja ini, kemungkinan salahnya bisa banyak) Karena banyaknya jumlah nominal uang yang dimiliki oleh negara atau istilahnya APBN, maka ketika pejabat-pejabat yang punya kekuasaan untuk mengelola dana tersebut dan melihat nominal uang sebanyak itu untuk digunakan sebagai perputaran ekonomi negara, bisa jadi dibuat kalap untuk melahap sebagian uang negara tersebut oleh oknum-oknum keparat. 


Throwback dikit ke tulisan "changing world order" tadi pas bagian sejarah tahun 1971 ketika Amerika melepaskan standar emas dari dollar. Buat ngerti maksudnya, dulu mata uang dollar itu dicetaknya gak bisa sembarangan, harus ada emas fisik yang menjamin nilainya agar bisa mencetak dollar. Jadi ketika ada pasokan emas baru yang disimpan oleh pemerintah Amerika, baru lah dollar dapat dicetak sesuai nilai emas saat itu. 


Nah permasalahannya, pada tahun 1971, Richard Nixon sebagai presiden Amerika saat itu menyatakan bahwa dollar telah melepas standard nya dari emas. Artinya, bank sentral dapat mencetak uang tanpa harus dijamin lagi oleh emas fisik sebagai pelindung nilainya. Nah terus pertanyaannya, kalau dollar dicetak tanpa standar emas, apa yang melindungi nilai mata uang dollar itu sendiri? Ngga ada, sama sekali nggak ada. Even rupiah yang sampai saat ini kita pakai buat transaksi sehari-hari pun, nggak ada pelindung nilainya. Sekarang itu, pelindung nilai mata uang cuma sebatas kepercayaan. Itu makanya "fiat" dalam kata latin diartikan sebagai "terjadilah" atau "biarlah terjadi". Artinya masyarakat cuma disuruh percaya aja, disuruh tunduk sama keputusan pemerintah, bahwa kertas yang dicetak sama pemerintah itu, memiliki nilai untuk dijadikan sebagai alat tukar.


Ngomong-ngomong soal bank sentral, the federal reserve system adalah bank sentralnya dunia saat ini, yang berada di Amerika Serikat. Tapi sifatnya federal reserve ini independen, dia terpisah dari pemerintah Amerika itu sendiri. Karena sifatnya independen, semua kebijakan yang dibuat tidak harus meminta izin dan persetujuan kepada presiden Amerika, makanya federal reserve ini menjadi satu kekuatan tunggal yang berdiri di atas kakinya sendiri. Karena kekuatannya melebihi politisi dan hukum manapun, tidak ada sistem di luar federal reserve yang bisa mengontrol dan mengaudit semua kebijakannya, bahkan sekaliber negara. Tujuan pembentukan dari federal reserve sendiri awalnya adalah untuk mengontrol pusat sistem moneter agar meringankan krisis keuangan Amerika pada saat itu. Namun setelah itu barulah kebohongan tentang uang dimulai, dengan kebebasan federal reserve mencetak uang dari angin tanpa memiliki basis standar yang melindungi nilai keuangannya, mereka dapat dengan mudah untuk terus mencetak uang, dan meminjamkan hasil dollar yang dicetaknya kepada pemerintahan Amerika untuk menstabilkan atau menguatkan perekonomian. Alhasil melalui sistem mereka, baik itu pasar ataupun saham yang ada di dunia, dapat dengan mudah dibuat naik atau jatuh dengan waktu yang mereka suka. Dengan keleluasaan sistem dan kebijakan yang dimiliki federal reserve, keuangan dunia dapat dibuat jungkir balik sesuka mereka.


Karena dollar menjadi global reserve currency, itu sebabnya semua negara yang mempunyai mata uangnya sendiri, memiliki standarisasi nilai tukar yang mengacu pada dollar Amerika sebagai pusat mata uang dunia. Sederhananya begini, ketika Amerika melepas standard emas dari dollar, maka negara-negara lain pun demikian, yakni hanya dengan mendirikan bank sentral di setiap negara, sebagai pemangku kebijakan moneter atas nilai mata uang yang beredar di negaranya, maka terbentuklah regulasi yang melindungi fiat itu sendiri sebagai mata uang yang memiliki nilai untuk dijadikan alat tukar di masing-masing negara.


Kemudian, kebohongan terbesar bank sentral saat ini datang dari inflasi yang terjadi setiap tahunnya, maksud dari inflasi sendiri adalah kenaikan harga barang dan jasa yang mencakup kebutuhan pokok masyakarat. Mengutip tulisan dari kolom media Tempo, "Hasil penelitian menunjukkan, jika bank sentral hanya memfokuskan perhatiannya pada inflasi, mereka dapat mengendalikan inflasi dengan lebih baik. Tapi mengendalikan inflasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar cara untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, stabil, dan dengan tingkat pengangguran yang rendah. Tak ada bukti kuat yang menyimpulkan bahwa bank sentral independen yang memfokuskan upayanya hanya pada stabilitas harga punya kinerja lebih baik dalam menggapai sasaran ini."

Tapi untuk tau penggerak inflasi, kita perlu tahu dulu konsep supply and demand, atau hukum permintaan dan penawaran. Ketika terjadi banyak permintaan terhadap suatu barang, tetapi penawaran atau penyediaan barang yang beredarnya berkurang, maka harga-harga dari barang yang dibutuhkan ini akan melambung tinggi.


Nah ini, berdasarkan hukum permintaan dan penawaran. Karena bank sentral yang berdiri di setiap negara ini bersifat independen, artinya tidak terikat pada hukum-hukum yang dibuat oleh pemerintah di suatu negara. Maka setiap kali bank sentral ingin mencetak uang atas dasar kepentingan-kepentingan tertentu, bank sentral pasti akan mencetak uang tersebut tanpa mengkhawatirkan standar atau basis dari mata uang yang akan dicetaknya. Jadi, seberapa mereka perlu uangnya, sebanyak itu lah mereka akan mencetaknya. Artinya ketika ada uang yang dicetak, maka akan semakin banyak uang yang beredar, kemudian dampaknya akan semakin menurunkan nilai currency itu sendiri. Tapi ini uniknya makro ekonomi, ketika uang dicetak, terus inflasi terjadi, kebijakan moneter berperan untuk mengendalikan suku bunga agar nilai mata uangnya masih terkendali. Itu kenapa ironisnya mata uang fiat, sudah lah basisnya cuma kepercayaan, yang punya kuasa bisa nyetak duit dari angin, standar nilai alat tukarnya diukur dari kebijakan suku bunga; ilusi besarnya adalah keyakinan yang sifatnya semu. Ini semua terjadi dalam sistem moneter yang dikendalikan oleh bank sentral. Makanya Henry Ford pernah bilang; "Untungnya masyarakat tidak mengerti tentang konsep perbankan dan sistem moneter, karena jika mereka mengerti saya percaya akan ada revolusi besok pagi."


Tapi ini poin pentingnya; karena fiat ini cuma berbasis keyakinan, dan bank sentral bisa nyetak duit dari angin. Artinya uang yang selama ini kita usahakan dari kerja keras kita untuk mendapatkannya, lama kelamaan akan semakin tidak berarti nilainya karena bank sentral yang terus-terusan mencetak uang. Makanya, mau kalian kerja sampai goblok pun, numpuk duit lewat fiat, nabung di bank, nilainya akan mampus digerus inflasi. Iya secara nominal terkumpul banyak, tapi secara pricing power atau daya beli, akan terus menurun, karena harga-harga barang dan kebutuhan pokok semakin tinggi, mengalahkan upaya kita yang mengumpulkan kekayaan cuma mengandalkan tabungan dalam bentuk fiat. Ini yang kemudian menciptakan distopia antara masyarakat yang kaya dan miskin, yakni kesenjangan sosial yang tinggi.


Buat orang-orang yang ngerti sama hegemoni seperti ini, mereka pasti punya aset (modal) yang minimal bisa mempertahankan kekayaannya atau justru melipatgandakan kekayaannya. Justru kesenjangan sosial antara orang yang kaya dan miskin ada di sini nih, karena bagi orang-orang kaya yang punya aset, mereka bisa melakukan sesuatu agar asetnya (modal) tetap bertahan di tengah inflasi yang terus-terusan terjadi. Sementara orang miskin ini, katakanlah dia juga punya aset (modal), tetapi tidak begitu mencukupi untuk melakukan sesuatu agar bisa mengembangkan asetnya dalam melawan inflasi. Di situlah titik jurang yang memisahkan antara yang kaya akan semakin kaya karena pertumbuhan asetnya, dan yang miskin akan semakin miskin karena aset yang dimilikinya tidak kunjung berkembang, bahkan semakin digerus oleh inflasi.


Makanya dalam tatanan dunia saat ini, di tengah global reserve currency yang cuma di back up sama keyakinan kita pada pemerintah terhadap kebijakan bank sentral, semua sistem finansial kita diatur oleh mereka. Perdagangan pasar modal? Pasar valuta asing? Pasar cryptocurrency? Sedikit banyaknya pasti dipengaruhi oleh federal reserve lewat kebijakan moneter yang mengontrol keuangan dunia. Namun yang perlu kita ketahui sekarang adalah, sejak pandemi covid-19 federal reserve mencetak lebih banyak dollar. Bahkan di tahun 2021, 40% dollar yang beredar dicetak hanya dalam satu tahun. Tujuannya sih emang baik buat stimulus bagi negara yang saat itu lagi lockdown karena pandemi, tapi apa nggak mampus itu ke depannya dihajar sama inflasi? Ketika hal itu nanti terjadi, ketika dollar mulai collapse karena terlalu banyak mencetak uang, tatanan dunia baru akan dibentuk lagi. Karena berdasarkan sejarah, rata-rata global reserve currency hanya berlangsung 1 abad. Apa jadinya jika saat ini kita sedang berada dalam masa transisi? Dan apa jadinya aset kita yang cuma nganggur, diam, dan tidak menghasilkan apa-apa untuk kelangsungan hidup kita? Penting bagi kita untuk melawan inflasi atas kemudahan bank sentral dalam mencetak uang ini. Metodenya ada banyak yang bisa digunakan, bisa investasi di properti, real estate, emas, cryptocurrency, dll. Nah, dari banyaknya instrumen tersebut, cari yang paling ideal dan paling kita ngerti banget sama instrumennya, baru jalanin aset kita di sana. Karena orang-orang kaya itu yang kerja asetnya, bukan orangnya.

Share:

Selasa, 02 April 2024

Bias kasus korupsi terhadap stigma masyarakat

Indonesia udah jadi hal yang lumrah lah, ya, kalau membicarakan terkait kasus korupsi, tapi kalau bicara soal data dari seluruh negara, Indonesia memang bukan negara yang paling buruk dari segi korupsi, kendati pun menurut skor CPI, Indonesia berada di angka 34 dalam skala penilaian 0-100. Angka ini menunjukkan korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya berada pada angka 43. Dengan skor tersebut, Indonesia menempati peringkat 65 terburuk soal korupsi dari total 180 negara yang dinilai. (detik.com)

Tapi kesampingkan dulu perihal data. Ketika media-media membombardir headline nya dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum bajingan, maka sontak atensi masyakarat melambung tinggi dengan luapan penuh emosi, akan hal-hal delusi yang dilampiaskan sesuka hati. Wajar, kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum tolol dan bajingan itu pasti selalu mengundang kemarahan masyarakat, sekaligus merugikan banyak pihak. Akhir-akhir ini masih hangat berita korupsi terkait tambang timah yang merugikan negara hingga mencapai total 271T. Ini angka yang cukup fantastis untuk total kerugian yang disebabkan oleh oknum bangsat tersebut. Namun, terkait penindakan dan hukuman sudah mestinya kita serahkan saja kepada pihak yang lebih berwenang, kendati pun pihak berwenang tidak selalu memberikan kesimpulan paling setimpal atas kasus yang dibuatnya, lagi-lagi kepentingan oligarki akan selalu merugikan masyarakat kelas bawah yang tidak punya kekuatan apa-apa, selain suaranya yang dipungut dengan bayaran berupa angka. Demikian lah penindasan terus-terusan terjadi akibat pemangku kepentingan yang melindungi kepentingan oligarki.

Nah, dari kasus korupsi yang dilakukan oleh koruptor keparat itu, dan dari sekian banyak kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, masyakarat semakin membentuk paradigma baru di kepalanya terhadap para penguasa yang dilimpahi kekayaan, imbasnya tidak luput ke seseorang yang secara personal juga dilimpahi kekayaan. Akan selalu ada asumsi kotor yang beranggapan bahwa kekayaan yang dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, sedikit banyaknya adalah hasil korupsi atau minimal dari cara yang tidak halal. Nista sekali toh, literasi finansial masyakarat kita kalau sampai menganggap demikian? Kendati faktanya sesuai dugaan. 

Tapi bukan itu yang mestinya disorot dari orang-orang yang dilimpahkan rezeki lebih berupa kekayaan, kalau asumsi-asumsi yang datang dari masyarakat kita selalu membentuk pola pikir begitu, ya selamanya tingkat kelas sosial kita nggak akan bisa maju. 

Mestinya kalau kita kilas balik lebih jauh lagi, bagian paling naif dari korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum tolol itu, justru karena peran dari masyarakat itu sendiri. Karena apa? Literasi politik kita sangat cetek buat menentukan calon-calon pemimpin rakyat, selain presiden. 

Lagian, budaya korupsi itu sudah tumbuh subur sejak zaman dulu, sejak kita mengenal dari buku sejarah di sekolah bahwa ada yang namanya sistem kerja paksa dan para pekerjanya tidak digajih. Bullshit, faktanya bahwa pekerja kita memang dibayar, tetapi melalui seorang pejabat daerah, hanya saja pejabat daerah tersebut tidak menyalurkannya. Walaupun ada juga, ya bayarannya nggak sebanding. Nista sekali, bukan? Apalagi kalau sampai menganggap dulu waktu di zaman penjajahan belanda yang kasus datangnya VOC ke Indonesia dianggap sebagai penjajah, bukan. VOC adalah sebuah perusahaan, dia berbisnis di Indonesia. Tapi faktanya saat itu Indonesia dijajah, kan? Iya, perusahaan dari Belanda, berbisnis di Indonesia, dan memonopoli serta mengeksploitasi perdagangan di Indonesia, yang akhirnya meraup keuntungan secara ekonomi dengan memanfaatkan SDM kita. Gitu ya blok.

Nah, buat orang-orang tolol yang nggak ngerti sejarah dan malah melanggengkan budaya korupsi, emang awareness kalian segimana sih? Nerima suap dari politisi, nerima bantuan sosial pas lagi kampanye politik, manipulasi informasi ke orang tua atas kepentingan tertentu biar dapat duit lebih, dan lain sebagainya. Awarenes kalian sama budaya korupsi tuh gimana sih? Giliran level pejabat yang korupsi, teriakannya kencang, giliran level masyarakat atau dirinya sendiri, anyep. Emang tolol. Langgengin aja tuh budaya korupsi.

Skenarionya begini; Perusahaan tambang atau perusahaan dengan sektor komoditas lainnya, untuk bisa beroperasi secara legal, pastinya harus memiliki regulasi yang dibuat dan diatur oleh negara, mengerucut terus tuh izinnya hingga ke daerah di mana operasi tersebut dijalankan, nah yang bisa mengatur dan membuat regulasi itu adalah penguasa yang disebut sebagai wakil-wakil rakyat yang dipilih lewat pemilu; dalam hal ini kesampingkan dulu soal presiden. Kalau penguasanya bisa meloloskan izin pertambangan tanpa banyak pertimbangan hanya karena melihat potensi kekayaan yang bisa diraup demi kepentingan oligarki, ya jelas izin yang diberikan tidak akan menguntungkan bagi semua pihak dalam konteks ini adalah masyarakat. Ini bicara soal legal loh, apalagi kalau legal tapi di monopoli lewat kecurangan-kecurangan yang merugikan lebih banyak pihak. Izin tersebut diloloskan lewat penguasa yang mewakili kepentingan rakyat loh, mereka dipilih dari rakyat loh jadi bisa memimpin.  Nah, pertanyaannya, ketika masyarakat berperan aktif dalam pemilu, memang seberapa besar dan yakinnya kita untuk memilih setiap orang dari partai politik tertentu yang mewakili kepentingan kita sebagai rakyat? 

Kalau soal politik aja masyarakat kita dibutakan oleh suap-menyuap dengan imbal uang ratusan ribu, kemudian dalihnya harus memilih paslon-paslon tertentu. Ya artinya masyarakat kita memang setolol itu sama kepentingan negara, maunya kepentingan pribadi aja. Dampak dari ketololan itu yang akhirnya membuat negara jadi banyak dirugikan, karena dipimpin oleh orang-orang yang secara integritas memang bobrok, dan berawal dari hak individu yang pemilihnya juga bobrok. Dengan tidak mempertimbangkan kualitas paslon yang dipilih, ketika mereka menjabat sebagai wakil rakyat, maka apabila terjadi kasus-kasus besar yang merugikan rakyat, otomatis yang jadi peran utamanya kan, ya rakyat. Indonesia sudah bagus jadi negara demokrasi, syukur-syukur negara kita sudah diberikan hak memilih dalam menentukan pemimpin, justru harusnya itu digunakan sebaik mungkin, seselektif mungkin, agar suara kita ke depannya sebagai rakyat masih bisa didengar, lewat paslon yang kita kritisi.

Kalau sekarang aja masyakarat berdalih kepada pemangku kepentingan yang tidak mendengarkan suara rakyatnya. Lah, orang dia aja memimpin karena dipilih kok. Terus yang bela-belain golput karena sudah tahu endingnya akan begitu, ya itu lebih bobrok lagi, hak istimewa suara pilihannya tidak digunakan sebaik mungkin. Literasi politik kita yang justru harusnya ditingkatkan, agar orang-orang yang secara integritas tidak punya kredibilitas tertentu, dapat kita pertimbangkan sebelum hari pemilihan berlangsung. 

Share: