Rabu, 03 Juli 2024

Lebih dari egoku

Pemutar musik di dashboard mobil terus mengalunkan lagu yang berjudul "Lebih Dari Egoku" milik Mawar De Jongh. Kedua mataku hanya menatap lurus ke arah jalanan yang ada di depan. Mobil yang tengah kukendarai berjalan normal di siang hari yang terasa begitu terik ini, jalanan cukup lengang, laju mobil bergerak dengan leluasa membelah jalanan di tengah kota. 

Lagu terus mengalun merdu melalui indera pendengaranku, membuat kepalaku terus memikirkan setiap bait-bait liriknya yang berjalan merdu.

Di kursi sebelah, ada seseorang yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri, tangannya terus bergerilya menggulir layar handphonenya, sesekali berpose dengan berbagai macam gaya dengan bentuk muka yang dibuat berbeda. Sementara lagu terus mengalun merdu, menuju reff yang akhirnya berhasil membuat aku bersenandung pelan.

Melalui senandung itu, pendengarannya mulai terusik, wajahnya mendelik ke arahku, kedua matanya ikut menyipit dengan tatapan penuh penasaran, sontak aku berhenti menyenandungkan lirik lagu tersebut, lantas kembali fokus menyetir mobil. 

Wajahnya mendelik penasaran, "Kenapa lo?" tanyanya.

"Hmm." Aku berdehem singkat, "Ya nyanyi aja tadi." pungkasku menimpali pertanyaannya. Lagu terus berlanjut.

Karena untukku kamu lebih penting dari egoku. 

Mulutku kembali bersenandung melanjutkan lirik lagu, kali ini sedikit lebih keras sehingga terdengar jelas di telinganya. Sampai di titik akhir aku bersenandung, dari sudut mata aku menangkap wajahnya yang hendak mengalihkan pandangannya dariku. 

Jelas sekali kedua pipinya bersemu, kendati hanya lirik lagu, ada kemungkinan lirik yang keluar dari mulutku terdengar seperti rayuan baginya. Meski sekilas, dia langsung kembali sibuk memainkan handphone-nya, dan aku kembali fokus menyetir mobil.  

"Nyanyi apa ngungkapin isi hati tuh?" sindirnya di balik mata dan tangan yang masih fokus memainkan handphone.

"Maunya apa?" tanyaku balik.

"Kebiasaan ya, orang nanya malah ditanya balik." ketusnya seraya melayangkan tangannya dan memukul pelan bahuku.

Obrolan berhenti sejenak, lagu terus berputar hingga akhirnya berhenti. Hening terjadi beberapa saat sebelum akhirnya lagu berikutnya diputar.

"Mau jawab, nggak?" tanyanya lagi dengan suara lirih.

Kini dia sudah tidak lagi sibuk memainkan handphone, kedua matanya nanar menatap jalanan di depan. Sesekali aku melirik ke arahnya, masih enggan menjawab pertanyaannya. Entah ego mana yang mengendarai isi kepalaku saat ini, sampai tanya seremeh itu saja masih enggan aku ungkapkan.

"Kalau gue ngungkapin isi hati, emang lo percaya?" ucapku lirih sambil mencuri pandang ke arahnya, mobil terus melaju membelah jalanan yang lengang.

"Gue?" tunjuknya ke diri sendiri. "Lebih dari ego, lo?" timpalnya dengan nada datar hingga membuat jeda sejenak. 

"Percaya aja sih, walaupun kadang ada ragunya." Dia melanjutkan.

"Ragu kenapa emangnya?" tanyaku mulai penasaran. Hati kecilku sedikit mencelos, obrolan seperti ini harusnya tidak terjadi ketika aku sedang menyetir mobil.

Belum sempat dia menjawab, secara kebetulan beberapa meter lagi ada Indomaret yang terdapat Coffe Point, tanpa berpikir panjang aku langsung memutar setir dan memarkirkan mobil.

"Mau pesan apa?" tawarku kepadanya seolah melupakan pertanyaan barusan.

"Kopi susu gula aren aja deh, sekalian beliin air mineral botol ya." ucapnya yang kemudian aku balas dengan anggukan kepala. 

Kakiku mulai beranjak keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu masuk Indomaret. Aku terlebih dahulu memesan kopi pesanannya dan kopi Americano untukku, baru kemudian aku melipir untuk membeli air mineral sesuai pesanannya.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai membeli air mineral, kopi pesananku juga sudah selesai dibuat. Aku melanjutkan langkah keluar Indomaret dan menuju ke pintu mobil di samping tepat duduknya, kedua tanganku yang penuh dengan pegangan kopi dan air mineral botol itu sampai mengetuk kaca jendela mobil. 

Begitu kaca mobil dibuka, aku menyerahkan salah satu kopi dan juga air mineral pesanannya, baru kemudian aku melipir untuk kembali masuk ke kursi kemudi. Siang hari masih terasa begitu terik, aku enggan bersantai di luar. Aku biarkan mobil terparkir dengan mesin yang masih menyala.

Beberapa kali menyesap kopi, aku mulai kembali ingin melanjutkan obrolan. "Tadi gue mau nanya, emangnya lo ragu kenapa?" 

Dirinya sempat tersedak kecil ketika masih menenggak kopinya. "Masih penasaran lo?" timpalnya.

"Ya, iya, heran aja." tukasku lagi.

"Heran? Berarti lo berharap gue percaya gitu?" tukasnya dengan nada membingungkan.

"Ya, enggak terlalu berharap juga sih, cuma penasaran aja sama tanggapan lo." Aku menimpali datar, berusaha menyembunyikan rasa penasaran.

Wajahnya kini tersenyum lebar, dan aku selalu dibuat tersipu oleh senyumannya. Kedua sudut di bibirnya selalu menjadi pemandangan paling indah di setiap kedipan mataku. Sontak kedua tanganku bergerak, menyelipkan rambutnya yang masih tergerai menutupi wajah cantiknya ke balik telinga.

Dia dengan begitu impulsifnya langsung mendekatkan tubuh ke arahku, kepalanya bersandar di bahuku, senyumnya masih terpampang jelas, indah sekali. Kedua tanganku dibuatnya tidak bisa diam untuk barang sejenak mencubit kedua pipinya yang membentuk guratan indah itu di senyumnya.

"Jawab ngapa, malah senyum-senyum ngehe begini," tukasku menutupi rasa salah tingkah sendiri.

"Jujur gue nggak bisa berkilah bagaimana, gue juga nggak jago menjawab pertanyaan begitu. Iya, percaya kok gue sama lo, percaya banget malah, secara dari semua sikap lo aja, itu udah cukup ngebuat gue percaya, tapi kadang emang ada ragunya."

"Ya, itu, ragu kenapa?" tanyaku berusaha untuk fokus pada inti pertanyaan.

"Dari semua hal yang ngebikin gue percaya sama lo, kenapa lo malah tertarik dan penasaran sama apa yang ngebuat gue ragu sama lo, kenapa? Emang dari banyak hal yang bisa ngebuat gue percaya sama lo, itu tuh nggak cukup buat lo? Sampai lo lebih tertarik kenapa gue punya keraguan itu?" gerutunya mendadak kesal.

Mulutnya terus berceloteh di dalam dekapanku. Aku menghela napas sejenak, berusaha tenang menyikapi pertanyaannya itu. Kadang memang secara realita, inilah kami yang dipertemukan oleh ragam tanya, menghadapi hubungan dengan penuh makna tanda tanya, dan menjalani semua rasa percaya dengan alasan-alasan yang selalu tercipta di balik setiap tanya.

"Gue cuma ragu, kenapa sih sampai saat ini, lo masih betah berlindung di balik semua rahasia, berharap semua orang yang lo kenal agar enggak sepenuhnya tahu apa yang terjadi di antara kita. Emang apa sih alasan terbesar lo sampai saat ini masih nyembunyiin hubungan kita dari publik? Lo punya ideologi lain atau emang lo lagi nunggu sesuatu dari masa lalu lo?" 

Rentetan pertanyaan itu mendadak pecah dari mulutnya, ia menarik diri dari dekapanku, lantas bersandar kembali pada sandaran di kursinya. Kepalanya mendongak sebentar diiringi helaan napas yang terasa berat. Ini yang kadang selalu membuatku ambigu dengan sikapnya, semua terjadi secara tiba-tiba jika kesempatan itu ada. 

"Gue sama sekali nggak nunggu sesuatu dari masa lalu gue, justru gue sudah berdamai sama semua itu. Kalau gue nggak berdamai sama masa lalu gue, yang jelas sekarang gue nggak mungkin ada di sini bareng sama lo." Jelasku.

"Ya, terus, apa dong alasan terbesar lo?" Sahutnya.

"Gue cuma mau ngejaga omongan gue sendiri setelah hubungan terakhir gue yang terasa bangsat itu, gue nggak mau kalau harus ngulangin drama-drama anjing yang bikin kepala gue pusing, hanya karena karena dinaungi status semu. Dan gue nggak mau bawa-bawa permasalahan dari status hubungan yang pada akhirnya kita bentuk begitu; seperti justifikasi yang diakui, misalnya. Gue nggak mau begitu. Kalau gue beneran suka, gue akan komit sama lo semampu gue, bukan mainin perasaan lo semau gue."

"Tapi dengan lo nggak ngasih kepastian sama hubungan kita aja, lo udah mainin perasaan gue, tau." Sanggahnya cepat.

"Oh, ya? Coba sebutin dari segi mananya gue mainin perasaan lo? Apa hal yang kurang dari gue atas semua hal yang udah lo dapetin dari gue sampai sekarang? Validasi kebahagiaan kayak standar video-video romansa di tiktok? Drama-drama cinta menggugah hati? Cerita romansa perjalanan kita yang harusnya bisa dipublikasikan di sosial media, gitu? Kalau maunya emang begitu, dari awal lo harusnya nggak perlu segigih itu buat ngeruntuhin keyakinan gue untuk tetap sendiri, karena dari awal gue udah nyaman sendiri. Tapi semenjak lo segigih itu berusaha, dan setiap kita sering menghabiskan waktu bersama, lo selalu bisa memaklumi gue atas ideologi yang berdiri di atas kepala gue sendiri, sampai pada akhirnya gue ngerasa welcome dengan semua sikap-sikap lo yang kayak begitu." Jelasku penuh penekanan.

Keadaan menjadi hening secara tiba-tiba. Suara berisik lalu-lalang yang terjadi di luar mobil seolah menjadi latar belakang yang mengisi keheningan di antara kami. Helaan napas di antara kami pun terasa bagai dentuman yang nyaring. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara.

"Kalau lo emang nggak nyaman sama ideologi gue, harusnya dari awal, La. Dari awal, harusnya kita enggak terlalu mengenal lebih dalam. Dari awal, harusnya kita enggak perlu berkomunikasi intens. Kalau sekarang udah terlanjur sayang begini, gimana gue menghadapi semuanya? Gue manusia keras kepala, La. Ideologi gue selalu tegak lurus di atas kepala gue, tapi gue juga udah terlanjur sayang sama lo. Kalau lo punya cara, kasih tau gimana gue harus menghadapinya. Gue nggak mau kalau harus menjadikan lo sebagai orang yang terus-terusan mengerti bagaimana ideologi gue, nggak mau gue."

Keadaan kembali hening, suara mesin mobil bahkan bisa terdengar jelas di telinga kami setelah perdebatan kecil itu. 

"Tapi gue juga sayang sama lo." Gumamnya pelan.

Lagi-lagi hati kecilku mencelos, degup jantungku seperti ada yang tengah menyentil, berdetak tidak keruan, tak seirama seperti biasanya. 

"Dan itu cukup, gue nggak minta lebih sama lo." Sambungnya lagi.

Ucapannya barusan, benar-benar di luar kendali logika untuk direspon secara tiba-tiba. Ada banyak hal yang sulit dipercaya bahkan hingga sampai di titik ini, di tengah hubungan yang selalu menjadi pertanyaan apakah dua di antara kami saling mencintai? Namun perasaan untuk menyayangi, itu selalu lebih besar daripada ingin memilikinya sebagai seseorang yang dicinta.

Kehadirannya, adalah yang utama setelah kemelut sesak menyela. Perasaan tak terungkapkan itu, menjadi nisbi di dalam amigdala. Dan kasih sayang itu, menjadi lebih besar dari egoku. Ego yang selalu menghimpun segenap apa maunya diri, tanpa harus disetir ekspektasi.

Salah satu tanganku merangkul bahunya, menarik dirinya untuk mendekap di balik tubuhku, sementara dia hanya menurut saja. Begitu kepalanya tersampir di depan dadaku, aku memeluknya erat sekali, menghidu harum aroma parfum khasnya yang menyatu di tubuh, juga wangi rambutnya selalu candu untuk dihidu. Dengan pelan, kepalaku bertumpu di puncak kepalanya, mengelus lembut rambutnya yang tergerai sedikit berantakan. Samar kudengar detak jantungnya berdegup, berpacu dengan detak jantungku. 

"Apaan deh, masa gara-gara lirik lagu doang, malah jadi gini. Maaf deh ya, gue nggak bermaksud bikin masalah sama lo. Love you." Ucapnya seraya kepalanya menyembul keluar menghadap ke arah wajahku.

Lagi, ucapannya tergelar usai diamku yang terus merajai diri. Wanita jenis apa dia sampai rela meminta maaf hanya karena perdebatan kecil oleh kemelut egoku yang tak jua memenuhi inginnya? Tuhan, kali ini aku kembali meminta, agar tak libatkan dia dengan seluruh egoku yang masih keras kepala. Karena dengan jujur, aku masih ingin menganggapnya lebih dari egoku, dan lebih dari sekedar orang yang menyayangiku. 

"Love you to, btw." Bisikku cepat seraya mengecup pelan bibirnya. Dengan gegas tanganku langsung menurunkan tuas rem tangan, kemudian kembali melajukan mobil.

Kebiasaan deh, kalau nyium tuh singkat-singkat terus." Decaknya sembari mencebikkan mulut. 

"Takut khilaf," timpalku cepat.

"Khilaf apaan, orang lo nyosor tiba-tiba, gue kokop juga tuh sekalian ubun-ubun," hardiknya dengan raut wajah menyebalkan. Sementara aku hanya bisa terkekah pelan mendengar kelakarnya.

Share: