Hal paling brengsek yang sering diharapkan oleh manusia saat sedang punya masalah itu adalah kepedulian, tetapi sayangnya harga kepedulian untuk sebuah rasa yang tulus tidak pernah menemukan tempat yang tepat, selain jatuh dalam sebuah kesialan.
Bullshit sekali rasanya ketika ada orang yang menyarankan untuk bercerita dengan dalih siapa tahu bisa membantu. Karena pada akhirnya cerita itu nggak lagi berharga untuk membayar sebuah rasa lega. Bahkan lebih parahnya, rasa percaya kita atas sebuah cerita yang kita tuangkan dengan penuh emosi dan harapan untuk bisa menemukan jalan keluar dari inti masalah kita ini, nyatanya sama sekali tidak terpenuhi. Hanya karena kebijaksanaannya dalam menyikapi kepedulian tersebut setingkat dengan perasaan superiornya bahwa masih ada rasa kemanusiaan di hatinya.
Mungkin benar adanya jika titik tersulit seorang manusia untuk mengerti terhadap manusia lainnya adalah mengakui ketidaksanggupannya dalam membijaksanai dirinya sendiri atas rasa pedulinya terhadap orang lain, namun tetap mengupayakannya dengan tingkat kepercayaan diri yang cukup bodoh.
Peduli yang saya maksud di sini adalah peduli dalam konteks terhadap masalah yang poin utamanya, kita nggak ada waktu buat cerita saat kita dituntut untuk bercerita. Karena mereka merasa setelah kita bercerita kita akan menemukan rasa lega seperti kebanyakan masalah manusia pada umumnya, maka dari karena itu kepedulian yang mereka berikan isinya cuma berupa ucapan semangat yang sama sekali nggak menemukan kita pada solusi atas masalah yang kita hadapi ini.
Sialnya lagi, konteks kepedulian seperti ini sudah terkontaminasi jauh dan dalam dengan drama-drama yang memang menuntut sebuah rasa semangat. Semata-mata hanya karena ingin dilihat dan dipedulikan, hingga sebegitunya merendahkan diri untuk meminta sebuah pandangan. Bahkan dengan begitu, seolah masalah dapat selesai begitu saja ketika ego berhasil mendapat apa yang diinginkannya.
Mungkin memang, bagi sebagian banyak orang atas suatu masalah yang bahkan jawabannya hanya bisa ditentukan oleh waktu, mereka dapat menemukan semangat barunya ketika mereka merasa ada yang tengah memedulikannya ketika bercerita dan mendapati tanggapan yang isinya berdampak dalam menciptakan energi positif serta dapat membangun keyakinannya untuk tidak terlanjur pasrah dan menyerah begitu saja. Dalam lain konteks, kepedulian dua arah atas beberapa masalah yang disetarakan oleh satu jawaban, sama sekali tidak membentuk kepedulian atas nama kemanusiaan.
Kepedulian itu menolong, bukan semata menanggapi. Kalau dari awal cuma modal tanggapan, ada baiknya tidak menunjukkan rasa superior karena bersedia menjadi wadah untuk bercerita. Lain halnya ketika ada orang yang merasa tertolong saat ceritanya sudah didengar, itu bentuk kepedulian. Dan bentuk itu pula yang wujudnya paling menonjol dalam kehidupan kita, hingga kita lupa bahwa masih ada kepedulian yang setingkat lebih tinggi dari menuntut cerita kenapa dan memastikannya dengan baik-baik saja setelah selesai bercerita. Dan toleransi paling manusiawi dari sebuah rasa peduli adalah ketika seseorang tidak sedang merasa superior atas kepeduliannya terhadap orang lain dengan sebab dan latar belakang tertentu.
Superior yang sedari tadi saya maksud di atas adalah ketika mereka menunjukkan rasa pedulinya, maka mereka ingin menunjukkan rasa kemanusiaannya dengan bukti-bukti nyata bahwa dengan aksi seperti ini lah jalan untuk mewujudkan ego dirinya agar dipandang sebagai manusia yang manusiawi--tak tahu diri--dapat terbukti.