Rabu, 25 September 2024

Melihat keindahan dengan memahami matematika

Di sini aku tidak akan membahas tentang angka-angka atau rumus yang ada di dalam matematika secara spesifik, karena toh aku juga tidak terlalu menyukainya wkwk. Aku cuma mau menguliti semampu yang aku bisa, apa yang ada di balik matematika, sehingga matematika mampu menciptakan keindahan, bukan hanya ke diri kita sendiri, bahkan ke alam semesta. Tapi sebelum itu disclaimer dulu bahwa tulisan ini datang dari seseorang yang sama sekali tidak pernah mencintai matematika dari ujung ke ujung, aku hanya suka dan tidak begitu serius menekuni bidang ini. Jadi tulisan ini sebisa mungkin ditulis dengan kemampuan kepenulisanku yang sederhana dan semoga bisa terbayang-bayang di kepala ketika sedang membacanya. 

Matematika pada dasarnya bukanlah angka atau simbol, matematika adalah bentuk. Karena pada akhirnya, matematika digunakan untuk mengukur sesuatu. Nah, kalau matematika terlihat tampak dalam mengukur sesuatu karena bentuknya yang reguler, dalam artian bisa dihitung, diperkirakan, dan dirumuskan, itu cukup mudah. Sedangkan kenyataannya, ada banyak bentuk yang sangat acak, random, tidak beraturan, dari dunia ini. Contohnya seperti gunung, kelihatannya seperti segitiga tetapi bukan. Awan, gelombang di lautan, pasir-pasir di pantai, bentuk petir, ranting-ranting pohon, semuanya tampak tidak beraturan. Tapi di dalam matematika, ini disebut dengan fractal. Salah seorang matematikawan bernama Benoit Mandelbort, mempelajari dan menemukan bahwa ada pola matematis sederhana yang justru memperlihatkan keteraturan. 

Tapi sebelum ke situ, sekarang coba bayangkan bentuk bumi yang sedang kita tinggali sekarang, adalah berbentuk lingkaran—bagi yang berkeyakinan bumi itu datar, kalian tidak diajak, jadi silakan skip saja. Pun matahari, bintang-bintang, planet-planet lain, bahkan lintasan bumi dalam mengelilingi matahari, lintasan matahari mengelilingi bima sakti, juga melingkar. 

Sekarang coba kita kembali sejenak ke pembelajaran matematika di sekolah dasar, rumus mencari luas lingkaran; πr². Kalau kita bahasakan agar bisa dimasukkan ke dalam hitungan, r² adalah jari-jari lingkaran sedangkan π adalah 3,14 atau 22/7. Tapi mungkin banyak di antara kita yang tidak tahu darimana asal bilangan tersebut. Jadi, π adalah rasio keliling lingkaran, kemudian dibagi diameternya. Hasil rasionya selalu sama 3,14, tidak peduli berapa pun besar atau kecilnya sebuah lingkaran, rasio itu tetap sama.

Tapi yang perlu kita tahu, angka 3,14 bukanlah angka yang sesungguhnya, angka tersebut hanyalah angka pendekatan. Karena di belakang 3,14 masih ada banyak angka lain yang berderet sangat panjang dan itu tidak ada habisnya. Menariknya, mengukur rasio keliling lingkaran dibagi diameternya tidak pernah semudah seperti kita menghitungnya di atas kertas menggunakan penggaris. Karena lingkaran memiliki lengkungan yang sempurna. Jarak dari titik pusat lingkaran ke setiap titik di sepanjang sisinya, itu sama. Maka dari karena itu banyak ahli matematika yang berusaha untuk mengukur rasio ini secara akurat, dan semakin akurat, nilainya akan semakin panjang. 

Melihat di website Wikipedia tentang π, pada abad ke-20 dan ke-21, para matematikawan dan ilmuan komputer menemukan pendekatan baru yang apabila digabungkan dengan daya komputasi komputer yang tinggi dan canggih, mampu memperpanjang representasi desimal π, komputer tercanggih hari ini sudah menghitung sampai 202 ribu triliun digit, di belakang koma. Link referensi, tanggal dimuat, beserta spesifikasi komputer dan orang yang melakukannya aku sertakan di sini. Maka dari karena itu nilai π masuk ke dalam bilangan irasional, karena itu tidak ada ujungnya dan tidak bisa dipecah ke bilangan apapun. Memang agak gila kalau mikirin sampai sejauh ini, aku aja mau muntah membayangkannya wkwk

Nah, karena nilai π tidak pernah ada ujungnya, itu artinya kita tidak pernah bisa menghitung luas keliling lingkaran dengan sempurna. Dengan kata lain, lingkaran sempurna itu tidak ada di dunia nyata. Semua hal yang ada di dunia ini, secara natural akan membentuk lingkaran, contohnya seperti yang aku sebutkan di awal tadi, bahkan tetesan air, sel-sel di tubuh manusia, sampai atom, bahkan sains dan teknologi, tidak akan ada tanpa memperhitungkan nilai π. Itu alasannya kenapa π ada di mana-mana, bahkan di dalam rumus fisika, bahasa pemrograman komputer super canggih, di dalamnya pasti ada π. Kalau kita bahkan menyadari sesuatu, π bahkan sangat dekat berada di sekitar kita. Namun, ini hanyalah satu fakta kecil yang belum membuat kita bisa melangkah lebih jauh dalam melihat bagaimana akhirnya matematika mampu menciptakan keindahan. 

Sekarang aku mau lanjut membahas bagian penting lainnya dari matematika, yakni fibonaci dan golden rasio. Secara singkatnya aku mengenal fibonaci dan golden rasio ini karena pekerjaanku dalam menggeluti pasar finansial dari teknis analisanya. Ada tools yang bernama fibonaci, kalau kita mengerti cara menganalisa lebih jauh, di dalam fibonaci ada istilah yang namanya golden rasio, yang mana ketika harga menyentuh area golden rasio dan melakukan reaksi dari sana, kita mampu mengambil keuntungan dengan mengambil posisi pembelian atau penjualan. Simpelnya, fibonaci adalah sebuah bilangan yang di mana setiap bilangannya adalah jumlah dari dari dua bilangan sebelumnya. Bilangan yang merupakan bagian dari bilangan Fibonacci dikenal sebagai deret Fibonacci. Kalau golden rasio ini adalah rasio panjang garis, yang mana kita membagi sebuah garis menjadi dua bagian, menjadi antara titik a ke titik b, dan titik c. Maka di dalam deret fibonaci, kita membagi panjang garis tersebut menjadi dua bagian, sehingga rasio tersebut digunakan sebagai area entry ideal. Berikut aku berikan contoh gambarannya.

Tapi faktanya, walaupun golden rasio ini cukup sederhana, tidak seperti nilai π tadi, hampir semua ukuran di alam semesta ini mengacu kepada golden rasio. Salah satunya ada di tubuh kita sendiri. Panjang lengan kita dari siku ke ujung jari dan siku ke ujung bahu, rasionya 1,618. Panjang tubuh kita dari pusar ke ujung kaki, dan pusar ke ujung kepala, rasionya sama. Begitu pula dengan anggota tubuh lainnya, seperti jari-jari tangan, rasionya sama. Bahkan sampai ke dalam organ tubuh kita pun, seperti jantung dan detak jantungnya, memiliki rasio yang sama. Dan golden rasio tidak hanya ada di tubuh manusia, golden rasio ada di mana-mana, di semua hal yang ada di sekitar kita. 

Dari semua penjelasan tersebut, kita tahu bahwa bilangan irasional tidak bisa memecahkan sesuatu. Bahkan fakta menariknya, seorang filsuf Yunani yang bergabung dalam grub matematikawan pyhtagoras bernama Hippasus menjadi penemu teori bilangan irasional. Namun sayangnya, teori tersebut ditolak dan bahkan penemunya dibuang ke laut. Tapi kenyataannya, bilangan irasional justru memperlihatkan banyak keindahan di alam semesta ini. Seperti nilai π yang ternyata banyak terjadi secara alami di alam semesta, menjadikannya satu keindahan yang tidak bisa kita ungkapan secara definisi, karena itulah esensinya.

Bumi, bulan yang kita lihat entah itu sabit atau purnama, matahari yang kita saksikan entah itu pagi atau petang, bintang-bintang yang mempercantik langit, planet-planet yang turut serta, di mana kita semua mampu melihatnya dari bumi, maka kita akan menjabarkannya sebagai bentuk keindahan. Tapi di balik itu, keindahan tersebut mempunyai pola matematis dari bilangan irasional atas bilangan yang tidak terhingga nilainya. Keajaiban π terletak pada bagaimana angka ini bisa menghubungkan berbagai fenomena alam, dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Di mana ada pola melingkar atau siklus, di situlah π muncul dan membawa harmoni matematis yang indah. π bukan cuma sekedar angka, tapi semacam "kunci" untuk membuka keindahan tersembunyi di alam semesta.

Dan kalau kita sadari bahwa nilai desimalnya nggak pernah berakhir atau berulang. Sifat ini menambah unsur mistis atau spiritual pada π, seakan-akan ini adalah angka yang menggambarkan keabadian dan tak terhingga. Meskipun kita bisa memotong lingkaran fisik sampai batas terkecil, nilai π selalu ada di sana, terus menyambung keliling dan diameter. Kalau kita mengacu pada keabadian, di mana sesungguhnya semua hal yang ada di alam semesta ini akan berakhir termasuk kehidupan kita sendiri, lantas π bisa jadi bernisbah kepada sesuatu yang lebih besar dari yang ada di pikiran kita.

Di awal aku sempat menyinggung soal fractal. Setelah memahami bilangan irasional dari bentuk-bentuk reguler, mari kita bedah bentuk-bentuk tidak reguler yang ternyata juga mempunyai pola matematis. Fractal adalah salah satu contoh keindahan pola matematis yang paling memukau. Fractal adalah pola yang berulang dalam berbagai skala, atau dengan kata lain, memiliki sifat self-similarity. Secara sederhana, kalau kita perbesar sebagian kecil dari pola fractal, kita akan menemukan bahwa pola yang sama akan terus berulang di setiap level zoom, dan itu bisa terjadi secara tak terhingga. Fenomena ini tidak hanya indah secara visual, tapi juga punya aplikasi nyata di alam dan ilmu pengetahuan.

Sebelum itu, untuk bisa memahami soal fractal, mari berkenalan sedikit sama istilah chaos game. Menurut Wikipedia chaos game merujuk pada metode pembuatan fraktal. Seperti yang kita tahu bahwa fractal itu adalah memahami pola matematis di balik ketidak beraturan. Chaos game itu simpel banget kalau dilihat dari konsep dasarnya. Pada dasarnya, chaos game adalah cara untuk menghasilkan pola fractal melalui aturan sederhana dan pengulangan. Caranya adalah dengan memulai dari sebuah titik acak di dalam sebuah bentuk geometris, seperti segitiga atau bentuk lainnya, dan kemudian kita bergerak menuju titik sudut bentuk itu dengan aturan tertentu.

Misalnya, untuk segitiga:

1. Pilih tiga titik sudut segitiga sebagai acuan.

2. Mulai dari satu titik acak di dalam segitiga.

3. Pilih salah satu titik sudut secara acak, lalu bergerak dari titik acak awal menuju titik sudut yang dipilih dengan aturan, seperti bergerak setengah jarak ke sana.

4. Tandai titik baru tempat kita berhenti.

5. Ulangi proses itu berkali-kali.

Hasil dari pengulangan ini akan menciptakan pola fractal, seperti Sierpinski triangle. Meski aturan yang diterapkan sederhana, hasil akhirnya adalah pola yang sangat teratur dan kompleks, yang menunjukkan bagaimana keteraturan bisa muncul dari proses acak. 

Fractal mampu mengungkapkan keindahan yang muncul dari keteraturan yang tersembunyi di balik kerumitan. Meskipun pola fractal sering terlihat kompleks dan tidak teratur pada pandangan pertama, mereka sebenarnya memiliki struktur yang sangat teratur yang dihasilkan oleh aturan matematis sederhana. Misalnya pola cabang-cabang pohon, gelombang di lautan, atau guratan kilat di langit, itu sebenarnya memiliki ketertiban dan pola matematis. Guratan petir di langit juga menunjukkan pola fractal. Dari sambaran utama, petir bercabang menjadi sambaran-sambaran lebih kecil, yang kemudian bercabang lagi. Pola ini mencerminkan bagaimana energi menyebar melalui medium udara.

Keindahan fractal bukan hanya di permukaan visual yang mengesankan, tapi juga pada kedalaman matematis yang menggambarkan cara alam bekerja. Fractal membuka pemahaman kita bahwa di balik kompleksitas yang kita lihat, ada pola-pola sederhana yang bisa mengatur fenomena-fenomena alami. Fractal adalah bukti nyata bahwa alam semesta bekerja dengan prinsip-prinsip matematis yang luar biasa, di mana sesuatu yang tampak acak dan kompleks bisa diatur oleh aturan sederhana yang mengulanginya secara terus-menerus. Mereka menggambarkan perpaduan sempurna antara keteraturan dan kekacauan, yang, pada akhirnya, adalah esensi dari keindahan.

Dengan memahami matematika, kita tidak hanya melihat dunia dengan lebih dalam, tapi juga menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terhubung oleh pola yang luar biasa indah. Matematika adalah bahasa yang menggambarkan harmoni tersembunyi, dari yang terlihat sederhana hingga yang tak kasat mata. Keajaiban π, fractal, dan golden ratio menunjukkan bahwa meskipun alam semesta tampak acak dan tak terduga, ada keteraturan yang menunggu untuk ditemukan. Pada akhirnya, keindahan yang kita lihat hanyalah refleksi dari harmoni kosmik yang dapat kita pahami lebih dalam melalui matematika—membuat kita merasa lebih kecil namun terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar.

Share:

Jumat, 20 September 2024

Ketika kemiskinan menjadi komoditas paling fenomenal

Sadar nggak sadar, peduli nggak peduli, mental pengemis itu selalu hadir di sekitar kita, atau bahkan di diri kita? Tau itu semua karena apa? Karena kita terkontaminasi sama kenyamanan ketika diberi, dengan usaha yang hanya perlu apresiasi. Gila, bro pikir cara dunia bekerja semudah itu? Aku akan ngomongin hal yang paling sensitif dan krusial, yakni uang dan kemiskinan.

Berdasarkan data dari BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2024 berkisar sebanyak 25,22 juta orang. Tau apa artinya? 25 juta orang sekian ini, akan menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang punya power untuk mengeksploitasi kemiskinan mereka, untuk mendapatkan hati mereka, untuk mendapatkan simpati mereka, dengan cara memberikan bantuan secara cuma-cuma entah itu dengan memberikan bahan pokok, uang, atau kebutuhan hidup lainnya. Sekilas, memang terlihat baik, bukan? Tapi yang namanya hidup, akan selalu mempunyai timbal balik yang berdasar, dalam hal ini jelas sekali konteksnya adalah maksud yang terselubung. 

Indonesia adalah negara dengan penganut sistem demokrasi, sehingga tantangan para penguasa untuk mendapatkan kekuasaan adalah mendapatkan suara terbanyak dari rakyat. Idealnya, ketika elite politik ingin menduduki suara terbanyak untuk mendapatkan kekuasaan, mereka harus melakukan kampanye, menyuarakan visi dan misi mereka selama nanti ketika menjabat sebagai pemimpin negara. Namun, ironinya, yang justru terjadi adalah, mereka menggunakan cara kotor yang terkesan bersih dan kita semua tau bagaimana bentuknya, tapi kita terkesan acuh karena merasa lumrah untuk dilakukan.

Berdasarkan pernyataan direktur eksekutif perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Nur Agustyati, "penyalahgunaan bantuan sosial (bansos) dari sumber anggaran negara (APBN/APBD) termasuk kategori politik uang saat masa kampanye". Dilansir dari website perludem. Sebagaimana yang aku tau dan temukan, realitanya ada banyak orang yang menganggap hal itu wajar dan sah-sah saja, ini seolah-olah menjadi semacam dogma tak berdasar yang sialnya dengan mudah untuk dianut oleh setiap orang. Apalagi ketika masyarakat yang memang secara ekonomi itu terbilang rendah, mereka sukar untuk menolak, mengingat kondisi hidupnya yang pas-pasan atau kurang. Hal ini menjadi beban berat untuk menolak tawaran yang diberikan ketika ada bantuan sosial. Bahkan ketika kasus bansos di masa pandemi misalnya, memperlihatkan bagaimana bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru dijadikan alat politik. Bukannya memberdayakan, bantuan ini malah memperpanjang ketergantungan masyarakat pada elite politik.

Kendati demikian, sasaran empuk ini tak berhenti dari situ saja, ada banyak konten kreator yang memanfaatkan kemiskinan dari masyarakat Indonesia sebagai komoditas bagi pertumbuhan followersnya. Aku mau mencoba membedah ini secara perlahan, di titik ini memang ada banyak hal yang terkesan tumpang tindih. 

Memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan daripada kita itu sebenarnya baik, bahkan sangat baik. Tapi sejak awal luruskan dulu niatnya, luruskan dulu tujuannya. Memang faktanya, banyak kita temukan di media sosial bagaimana seorang konten kreator dapat mempublikasi aksinya dalam memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Di titik ini, ada banyak persepsi yang bisa jadi tumpang tindih. Pertama, bisa menjadi baik karena akan mengundang simpati orang lain untuk ikut membantu. Kedua, bisa menjadi bahan bersyukur ke orang lain yang ternyata hidupnya masih lebih beruntung. Ketiga, bisa membentuk mental pengemis kepada setiap orang yang merasa dirinya, itu juga perlu untuk diberi. Atau bisa jadi ada persepsi lain selain ini.

Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa menghakimi setiap orang akan berada di posisi yang mana. Tapi agak kurang etis untuk mempertimbangkan baik buruknya dari segi konten kreator yang membagikan aktivitasnya dalam memberikan bantuan sosial kepada orang-orang yang membutuhkan. Di satu sisi, ada banyak orang yang bisa terbantu dengan aksinya. Di sisi yang lain, juga ada banyak orang yang bisa jadi berharap lebih kepada si konten kreator agar dirinya juga bisa diberi. Karena dengan data 25 juta lebih rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, kelompok ini menjadi target empuk, bukan hanya bagi politisi yang ingin mengamankan suara melalui bansos, tetapi juga konten kreator yang mencari engagement dengan memberi 'hadiah' tanpa menyelesaikan akar masalah.

Di sini aku mau membahas lebih jauh tentang mental miskin yang secara tidak langsung itu seperti ditanamkan ke dalam otak kita melalui apa yang kita konsumsi di sosial media. Ini bisa merujuk ke apa aja, kebanyakan pada label giveaway. Secara umum, tujuan dan diadakannya giveaway itu bagus, bisa jadi untuk mengapresiasi diri. Namun, ironinya ketika giveaway ini lumrah terjadi, ada banyak orang yang justru meminta untuk diadakan giveaway lagi, lagi, dan lagi. Entah karena memang awalnya terjadi karena rutinitas sebagai bentuk perayaan ketika apa, gitu, bisa jadi. Nah, ketika orang mulai merengek meminta untuk diadakan giveaway lagi, lagi, dan lagi. Secara nggak langsung, kan, itu menumbuhkan mental pengemis. Kita tau enaknya diberi, dan kita tau bahwa si orang yang memberi ini akan mudah memberikannya, dan kita melumrahkan hal ini terjadi. Belum lagi ketika giveaway berlangsung, kita berkompetisi dari banyak orang sebelum akhirnya menjadi pemenang. Ketika menang, dikata memang sudah rezekinya. Ketika kalah, bilangnya memang belum rezeki. Kendati demikian memang benar begitu konteksnya, tapi bisa menggeser bagaimana maksud sesungguhnya. 

Rezeki itu datang ketika kita berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkannya. Kendati dalam konteks giveaway kita juga melakukan usaha untuk mendapatkannya, misal dengan melakukan semua syarat yang diberikan, dan itu juga jadi salah satu bentuk ikhtiar. Benar, dan itu sah-sah aja. Tapi kalau akhirnya sampai ngegampangin rezeki lewat giveaway, ironi sekali. Bahkan utamanya rezeki itu kan mempunyai nilai ibadah untuk meningkatkan takwa. Kalau giveaway memang demikian membuatmu bertaqwa, alangkahnya dzolimnya dirimu sendiri terhadap rezeki. Di titik ini, minimal belajar bertahan di atas kaki sendiri. 

Dengan demikian akhirnya membuat label giveaway, yang awalnya terlihat sebagai cara influencer untuk 'berbagi rezeki', ternyata juga punya dampak buruk. Ketika pola ini jadi rutinitas, banyak orang mulai meminta lebih, berharap lebih, tanpa memberikan usaha yang sebanding. Ini adalah benih mental pengemis yang berbahaya: sebuah siklus di mana kita lebih fokus untuk menerima daripada berusaha menciptakan sesuatu sendiri.

Aku bukan orang yang berkompeten untuk mengomentari masalah kemiskinan ini, dan aku juga bukan orang yang banyak berkontribusi. Tapi yang mau aku sampaikan adalah, kalau tingkat kemiskinan di negara kita masih begitu tinggi, ini harus jadi pertimbangan erat kepada pemerintah untuk mengentaskannya. Bisa jadi dengan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, kendati kita semua tau, bagaimana susahnya mendapatkan pekerjaan di negara ini. 

Membagikan bantuan sosial juga sebenarnya bukan solusi utama, karena akan menjadi percuma ketika bantuan sosial diberikan secara masif, kalau masyarakatnya masih belum bisa berpikir kritis, minimal rasional, untuk keluar dari jerat kemiskinan. Karena kemiskinan tidak bisa dientaskan dengan hanya memberi, melainkan dengan menciptakan kesempatan bagi mereka untuk bangkit sendiri. Kendati hal ini juga berkaitan erat dengan kepentingan para elite dalam mengeksploitasi hal ini. Mohon maaf, aku mau menyebut sesuatu yang terkesan kurang etis dan kurang ajar, yakni bagaimana masyarakat dibiarkan nyaman untuk diberi dan membiarkannya dalam lingkaran setan bernama kemiskinan, karena eksploitasi dari hal yang paling fundamental, yakni kebodohan 

Karena sebenarnya antara kebodohan dan kemiskinan itu bisa jadi dua hal yang saling berkaitan. Orang akan sulit mendapatkan akses ke pendidikan tinggi karena kurang mampu secara biaya, sehingga taraf pendidikan banyak orang bisa jadi hanya sampai kepada pendidikan wajib yang masih ditanggung oleh negara. Itu pun, beberapa dari mereka bahkan ada yang tidak bisa mendapatkan akses karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan operasionalnya, seperti membeli seragam, sepatu, alat tulis, dll. Bahkan ironisnya, pendidikan wajib yang ditanggung oleh negara pun, memiliki sistem yang kurang baik jika itu dijadikan kiblat utama bagaimana masyarakat menempuh pendidikan. 

Asumsi liarku selalu mengatakan ini; masyarakat kita tuh seolah-olah dibiarkan dalam lingkaran setannya masing-masing, dengan suatu kenyamanan atau kebodohan. Dibiarkan dalam artian, semua yang terjadi dalam kehidupan sosial kita tuh terkesan akan terjadi secara baik-baik saja tanpa ada kurang, misalnya. Hal ini akan membatasi kita untuk berpikir lebih jauh, bagaimana semua sistem ini bekerja.

Share:

Kamis, 05 September 2024

Gaya hidup yang ideal nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial

Mau seidealis apapun lu menghadapi hidup, dengan standar yang lu bangun sesimpel apapun demi menunjang kelangsungan hidup, atau apapun itu lah dengan seabrek alasan dan harapan lu bertahan hidup. Lu cuma akan jadi bidak catur yang ada di dalam papan permainan, selama lu nggak berusaha keluar untuk berganti posisi sebagai seorang pemain, bukan diposisi yang dimainkan. Nggak ngerti?

Gini, realita kehidupan sosial kita sekarang tuh dibentuknya dari apa sih? Mayoritasnya kan dari media sosial yak, dunia maya. Semua standar dan bayang-bayang harapan, itu dibangun di atas algoritma dari paparan yang ada di media sosial. Lu nggak mungkin berbicara tentang healing dalam konteks liburan, kalau selama ini lu nggak terpapar sama standar media sosial. Iya, kan? Dan toh kenyataannya memang demikian. Konotasi healing akan mengarah kepada liburan, di luar makna harfiah yang berarti penyembuhan. Kendati konteks healing sebagai liburan juga dapat menjadi sarana penyembuhan dari sisi-sisi tertentu.

Namun, coba kita tarik lebih jauh lagi strukturnya, bagaimana standar sosial dan gaya hidup ideal, dibangun dari dua hal yang mestinya tidak saling berkaitan, menjadi saling berkaitan. Sehingga menjadi pilar ideologi di kepala kita yang cukup kerdil untuk memangkunya. Karena kerangka berpikir kita diatur oleh arus yang lebih besar; bernama algoritma. Dan dari semua sistem saraf yang ada di otak kita, sulit untuk menolak segala hal yang rasanya kian lumrah untuk diseragamkan, sehingga kita terbuai dan menjadi tidak berdaya atas standar hidup yang kita bangun untuk diri kita sendiri.

Paparan algoritma, dan bias kerangka berpikir kita, menyeret paksa diri kita untuk membangun standar sosial yang setara, sehingga terbentuklah pola hidup baru, yang menjadi standarisasi paling normal, sesimpel healing tadi salah satunya. Dalam contoh lain, sesimpel nongkrong di cafe, terus di story in sebagai ritual atau penyembahan atau validasi, atau apa lah itu, terserah. Terus nonton film di bioskop sambil story in tiketnya, atau story in judul film nya pas sudah di dalam studio. Terus nonton konser musisi favoritnya, atau konser musisi legendaris yang bahkan lu baru tau lagunya pas lu beli tiketnya, tapi lu tetap bela-belain datang ke konser itu demi menunjang eksistensi diri lu, dan jangan lupa, hampir nggak pernah ada orang yang absen dari mengangkat kamera hp nya, dan mengabadikannya di insta story. Masih banyak lagi lah yang lainnya, sialan, taik banget nulisin ritual Gen Z ini cokkk. Padahal aku gen Z, tapi aku nggak se-berdaya itu buat menyembah segala hal dari apa yang ada di media sosial.

Intinya nih ya, dari segala hal itu, dari pola hidup baru itu, dan karena standarisasi yang dinormalisasi itu, emang lu bisa membangun gaya hidup yang ideal di tengah realita sosial yang ada? Sedangkan gaya hidup ideal, nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial. Gini deh, idealis yang lu bangun aja kek gimana sih? Bisa menunjang kehidupan diri sendiri demi kelangsungan hidup, kan? Kalau iya, emang lu bisa nggak terpapar sama pola hidup baru sesimpel nongkrong-nongkrong di cafe gitu? Belum dengan meluapnya cafe-cafe yang punya nuansa berbeda yang semua orang akan menormalisasi untuk selalu berpindah tempat nongkrong dari cafe ke cafe.

Ah, nggak usah deh, katakan lu nggak suka nongkrong, introvert gitu, kek yang lagi nulis tulisan ini. Introvert tapi bacotan di tulisannya songong, iya itu saya. Ah lanjut, jadi lu cuma kerja nih, buat mencukupi hidup lu, demi kelangsungan hidup lu, udah nih cukup. Lu nggak peduli dengan semua kebisingan yang dilakukan oleh sebangsa lu. Tapi apa lu yakin, lu bisa tetap selamat dari paparan algoritma? Selama lu masih mengakses dunia maya? Ada banyak dunia hiburan yang disediakan media sosial, salah satunya judi online. Tapi ada satu kata nih buat pemain-pemain judol ini, "TOLOL".

Katakan lu nggak tertarik sama hiburan begituan, oke bagus lah, nggak usah jadi orang tolol minimal. Jadi lu tetap dengan ideologi lu yang ada nih, lu cuma perlu ngelakuin hal-hal yang menunjang kelangsungan hidup lu dengan cara bekerja. Oke, bagus. Tapi apa lu yakin, lu bisa survive dengan kondisi sosial di tengah finansial yang sistem ekonominya nggak begitu stabil? Udah bagus nih ideologinya cuma kerja buat menunjang kelangsungan hidup, pertanyaannya sekali lagi, apa lu bisa survive di tengah gejolak finansial yang nggak begitu stabil? Kalau lu cuma kerja dan terima gaji terus lu tabung tanpa lu berpikir tentang stabilitas ekonomi, apa lu bisa tetap survive?

Sekarang lu cek nilai tukar fiat lu, apakah itu naik atau turun? Gini ya, untuk yang kesekian kalinya diulang, ideologi kita atas gaya hidup yang ideal, itu nggak dibangun dari tegak lurusnya realita sosial. Dengan seminimalnya lu kerja tanpa perlu nongkrong, healing, nonton, dan segala hal lainnya, lu tetap akan dihajar sama hidup, karena toh hasil terima gaji lu, berada di dalam aturan yang semuanya sudah dikontrol dengan sangat apik. Semua upaya lu menyimpan hasil gaji lu dengan berhemat, ujung-ujungnya itu hasil keringat lu akan tetap digerus oleh sistem ekonomi bernama inflasi, deflasi, devaluasi, dari hasil kebijakan moneter.

Simpelnya gini, harga-harga barang pokok lambat laun akan terus naik, jadi otomatis kebutuhan daya beli lu juga jadi ikutan naik dong seiring waktu, nah tapi gaji lu nggak ikutan naik sesignifikan daya beli lu. Maka ujung-ujungnya? Lu juga tetap dihajar sama kehidupan sosial yang memang nggak sebanding lurus sama realita sosial. Dan ujung-ujungnya, lu hanya akan tetap menjadi bidak catur yang tengah dimainkan kehidupan, kendati sekeras apapun ideologi lu membentuk tentang gaya hidup ideal.

Bukannya bermaksud nyangkut pautin sama hal-hal sensitif berbau ekonomi apalagi finansial, tapi kan realitanya memang demikian adanya. Dan pada akhirnya, paradigma di dalam media sosial akan ngebuat hidup lu penuh dengan delusi; bahwa selama ini lu sudah cukup pintar melewati banyak hal, lu cukup bijak dalam mengambil pilihan, lu cukup kuat dalam menghadapi kehidupan, dan itu semua terjadi tanpa pernah lu sadari, bahwa di antara semua yang lu lakukan, ada di dalam bias yang sama sekali nggak pernah terjamah oleh pikiran lu.

Sekian, bacotan panjang lebar tak ada gunanya, terima gaji

Share: