Jumat, 20 Agustus 2021

Kebencian di hati saya

Sebagai seorang manusia biasa yang tidak memiliki kuasa untuk terus berbuat baik kepada sesama manusia lainnya, yang ternyata nasib mereka juga tidak lebih buruk dari saya dalam menginterpretasikan pencitraannya. Maka saya ucapkan kebencian dari lubuk hati saya yang tulus dan dalam kepada mereka-mereka yang masih tidak bisa memahami diri mereka sendiri, tetapi berlagak seolah paling mengerti terhadap apa yang menjadi keinginan dalam hidup yang mereka jalani.


Kadang saya cukup heran kalau punya relasi pertemanan yang isinya seperti nggak ada arah ataupun tujuan, tapi anehnya mereka merasa bahagia atas kehampaan yang saya lihat itu. Kadang mereka mencuit, bahagia adalah di saat temanmu ada di kala kesepian sedang bertahta. Atau seperti ini, habisi masa mudamu dengan kegembiraan bersama teman, agar kelak jika kau tua nanti kau memiliki banyak cerita. Jika dua kutipan di atas cukup asing karena memang itu adalah karangan fiktif dari kepala saya atas observasi yang dikemas di dalam kepala saya. Namun mungkin, ada satu yang kiranya cukup fenomenal kita temukan. "Muda berkelana, tua bercerita." Itu captionnya loh. Latar belakangnya bisa berupa perjalanan saat sedang liburan, dan sialnya itu cuma terpampang di dunia yang nggak sepenuhnya nyata. Kalimat dan kata-kata itu cuma panggung buat nunjukin ke orang-orang yang katanya "teman" bahwa dia sedang berkelana untuk mengisi masa tuanya dengan cerita.

Padahal nih ya, kalau menurut pemikiran buruk saya, isi sebenarnya dari perjalanan itu juga nggak ada yang berarti untuk diceritakan. Karena saya juga pernah mengalami hal yang sama, dan sialnya saya cuma menjadi satu-satunya orang yang nggak bisa melakukan apa-apa selain ada dan hadir di dalamnya untuk menyaksikan hal-hal yang nggak bermanfaat itu, yang jelas sekali jauh dari selogan dari kutipan di atas. See, orang-orang sekarang tuh terkesan sangat ingin terlihat intelektual. Saya bicara seperti ini bukan karena saya merasa sudah intelektual, tapi karena saya merasa panggung yang mau ditunjukkin oleh orang lain itu perebutannya sama, ya cuma biar bisa kelihatan pintar aja.

Namun, dari beberapa perjalanan yang sudah pernah saya lalui, saya pernah mendapat banyak pemaknaan dan membawanya pulang saat saya menikmati perjalanan itu bersama diri saya sendiri. Tanpa ada keterlibatan orang lain di dalamnya, tanpa ada diskusi orang-orang di sekitar saya. Pemaknaan itu tumbuh secara tiba-tiba dari pemikiran saya yang begitu leluasa menikmati perjalanan itu sendiri. Saya cuma bisa memiliki waktu di dalam kepala saya untuk merekam semua yang saya dapatkan dari perjalanan tersebut. Makna-makna yang nggak akan pernah bisa habis walaupun berkali-kali sudah disebut. Saya kehilangan waktu untuk mengabadikan cerita di kehidupan yang nggak sepenuhnya nyata itu, apalagi untuk memikirkan kalimat bijak singkat sebagai penyempurna cerita dua puluh empat jamnya.

Karena sesusah-susahnya kita nyari caption buat dipajang di sosmed, nggak menjadikan diri kita terlihat lebih bijak dari kenyataan hidup yang kita lihat. Heran juga kadang sama orang yang berlagak merasa bijaksana saat mendapat kutipan bermakna yang terlintas begitu saja di kepalanya. Seolah motivasi bisa dilahirkan lewat kata-kata, seolah orang lain akan termotivasi dengan kalimatnya. Justru orang-orang kayak gitu jadi latah hidup sama kebijaksanaan, dan orang-orang yang latah dengan kebijaksanaan akan merasa bahwa dirinya benar-benar terlihat bijaksana daripada orang lain. 
Share:

Senin, 09 Agustus 2021

Integritas Intelektualistas


Zaman sekarang tuh banyak juga ya orang-orang yang sok intelektual, merasa open minded, merasa bijaksana. Karena, ya, kelihatannya cukup keren aja gitu, apalagi kalau di tongkrongan ada salah satu teman yang bicaranya panjang lebar ngebahas banyak perspektif. Duh, berasa paling bijaksana aja udah.


Mungkin emang karena open minded itu sendiri punya citra positif gitu kan ya, buat menarik perhatian banyak orang? Semata-mata supaya orang lain bisa ngelihat dirinya kalau dia punya wawasan yang luas, atau minimal dengan mengakui seperti itu dia punya barometer untuk merasa dirinya intelektual daripada orang lain yang bisanya cuma mendengar.


Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita mungkin saja sedang kekurangan orang-orang yang merelakan dirinya untuk menjadi pendengar, sedangkan di luar sana sudah terlalu banyak orang yang memaksa dirinya untuk berbicara karena ingin merebut perhatian publik. Biasanya orang-orang seperti itu wawasannya baru keluar dari zona nyamannya, dia baru melompat dari dangkalnya formalitas wawasan, ke banyak perspektif yang nggak punya batasan sebagai barometer kebijaksanaan pun wawasan. Semua hanya perkara perspektif, opini, dan wadah utamanya adalah diskusi.


Sedangkan orang-orang yang merasa intelektual karena baru mengenal luasnya wawasan, mereka suka mengajak orang untuk bicara yang jatuhnya bagi dia adalah diskusi, tapi bagi orang lain jatuhnya malah dia pamer wawasan. Tau kan maksud saya? Yang tiap ada orang mancing-mancing kita buat ngebahas sesuatu, dia yang nanya, malah dia sendiri yang jawab panjang lebar. Dan karena dia bicara panjang lebar begitu, dia jadi nggak punya banyak waktu untuk orang lain agar bisa ikut bicara dengannya.


Selain itu ada juga orang-orang yang merasa dirinya benar. Ini di atas orang yang merasa open minded tadi. Karena setelah merasa open minded, mereka merasa apa yang ada di dalam kepala mereka tuh adalah sesuatu yang output kendalinya adalah kebenaran.


Saya tidak menjustifikasi orang-orang seperti mereka, justru saya ingin mengajak semua yang membaca ini untuk melihat kembali atas dasar apa seseorang berbicara sedemikian beraninya, apalagi sampai mengemukakan perkara benar atau salah yang jatuhnya di luar diskusi satu arah. Kita harus tau apa yang menyebabkan seseorang punya pemikiran seperti itu, karena kebenaran yang datang dari satu mulut, selalu memiliki sebab atas kedatangannya, untuk kemudian diterima pada isi kepala dengan pemahaman yang cukup baik.


Mungkin kesannya akan terdengar cukup filosofis, tapi memang dari sinilah kita akan mampu mengerti bagaimana berwawasan yang sesungguhnya. Orang yang merasa dirinya intelektual karena mendengarkan pembicaraan orang lain, belum seintelektual orang yang membaca buah hasil pemikiran orang lain. Karena jelas jauh perbandingannya.  


Sederhananya, orang kalau ngomong cuma sekadar ngomong, bisa aja salah, dan kesalahan itu murni terucap dari mulutnya, karena bentuknya adalah omongan. kendati kesalahan tersebut mampu diklarifikasi secara langsung. 


Sedangkan tulisan dihasilkan melalui banyak proses, tulisan tidak langsung hadir begitu saja tanpa diketik dengan penuh riset, dan seseorang tidak akan pernah bisa membuat sebuah tulisan kecuali sedang mempunyai keresahan. Dan keresahan juga merupakan isi dari pemikiran seseorang yang kemudian diakumulasikan menjadi sebuah tulisan. Paling genap lagi, tulisan yang dibukukan. Karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan.

Share: