Rabu, 14 Oktober 2020

Saat cintamu kepada seseorang tak sebesar cintamu kepada diri sendiri.


Satu hal yang paling sulit dalam memaknai sebuah kebahagiaan adalah cinta. Sebab kebahagiaan akan berarti ketika ada cinta yang berbalas di dalamnya. Namun, kebahagiaan akan berubah menjadi kekecewaan ketika cinta tak mengubah lawannya untuk juga berpihak dalam mencintainya. Singkatnya begini, jika kau menyayangi orang lain sebelum kau menyayangi diri sendiri, maka kau layaknya binatang. Namun jika kau menyayangi orang lain sesudah menyayangi diri sendiri, kau layaknya seorang manusia tanpa kebinatangan.

Maksudnya seperti ini, ketika kau mencintai orang lain sebelum kau mencintai diri sendiri, otomatis kau akan menyeluruhkan rasa cintamu kepada orang itu. Namun tanpa tahu apakah ada penerimaan ataukah penolakan di dalamnya. Jika di dalamnya terdapat sebuah penerimaan, itu adalah suatu keberuntungan yang amat besar. Langkah kemudian yang kau lakukan hanyalah menenggelamkan dirimu kepada orang yang kau cinta, menghilangkan seluruh kemauan apapun tentang dirimu demi orang yang kau cinta, dengan itu kau juga layaknya menyayangi diri sendiri.

Namun, jika di dalamnya terdapat penolakan, adalah sebuah keburukan yang menimpamu. Sebab mau tidak mau, kau harus bersiap untuk kehilangan sebagian dirimu, dan meratapinya dengan isakan yang tak ada seorang pun mampu menanggungnya selain dirimu, bahkan dirimu sendiri akan dibuatnya begitu lelah dalam merasakan kecewa, tetapi apa daya jika cinta yang kau tempatkan telah membuat kau sendiri layaknya seorang binatang, dan lambat laun ia akan mengikis kemanusiaan dalam dirimu.
Share:

Memaknai kegagalan


Sejatinya kegagalan itu bukan karena itu adalah ujian dalam hidup, melainkan karena memang diri kita sendiri yang menciptakan kegagalan tersebut. Well, kenapa begitu? Ya karena konsep awal sebuah kegagalan ialah ketika seorang manusia tidak bisa mencapai sebuah keinginan yang ada dalam dirinya.

Banyak orang yang menganggap ketika kita tidak dapat menggapai suatu impian, maka kita akan dihadapkan pada sebuah kegagalan. Mungkin benar begitu, tetapi sejatinya sebuah impian lahir dari sebuah keinginan yang direpresentasikan oleh suatu usaha pada sebuah pencapaian, yang jika semua itu tidak berbuah dengan baik, maka disimpulkan dengan kegagalan. Dan jika ditarik secara garis besar untuk memaknai sejatinya kegagalan, ialah ketika kita mampu mencukupi impian kita. Bukan berarti melarang untuk memiliki impian besar, tetapi balik lagi kepada diri kita, apakah siap menghadapi sebuah kegagalan?

Karena tidak semua orang yang dihadapkan pada kegagalan mampu mendewasa pada tiap-tiap penerimaan. Pada akhirnya, impian juga akan menjadi bagian dari dalam diri kita, yang jika tak sanggup menggapainya, itu berarti kita harus merelakan apa yang menjadi bagian dari dalam diri kita.

Mindset sebuah kegagalan yang lebih luasnya juga bisa direpresentasikan melalui keluhan-keluhan yang selama ini tidak diiringi bersama keyakinan. Saat impian dan usaha ada, tetapi tidak diiringi oleh keyakinan pasti bisa, pada akhirnya itu juga akan menjadi bentuk kegagalan tersendiri bagi kita.

Share:

Ambisi yang mematikan kata hati


Sejauh ini bentuk mindset sebuah ambisius itu sering kali terjebak pada lingkaran pendidikan. Bukan berarti ambisi perihal pendidikan itu tidak penting, hanya saja korelasi ambisi yang melingkari lingkup pendidikan selalu terkesan seperti mengurung ambisi itu sendiri, fatalnya ini malah berdampak ke minimnya toleransi dan menganggap sekitar kita sebagai sebuah benalu yang tidak relevan dengan ambisi itu tadi.

Definisi ambisi sendiri menurut KBBI adalah keinginan keras untuk mencapai sesuatu. Jatuhnya makna kata ambisi itu lebih dominan ke arah nafsu atau hasrat, sedangkan dalam suatu pembelajaran--entah itu dalam dunia pendidikan atau kehidupan--mengatakan bahwa istimewanya manusia itu terletak pada akalnya. Maksudnya, dengan akal kita akan mencukupkan segala sesuatu atas tiap-tiap usaha yang kita lakukan. Selama kita masih punya tujuan, kita masih akan tetap berada di jalan yang sama untuk sampai ke sana, nggak ada yang salah sama ambisi, hanya saja kadang orang salah kaprah dengan hasil yang ada di dalam ambisiusitas itu tadi.

Di sisi lain, manusia seperti apa yang bisa mempunyai mindset sehat perihal ambisi dan relevansi kata hati? Rumit memang jika ingin menyetarakannya pada keseimbangan. Seorang manusia tidak akan benar-benar menjadi manusia jika ia hanya berambisi pada apa yang ia ingini. Kata hati? Berguna apa ia untuk dijadikan ambisi? Justru kata hatilah yang mencukupi ambisi itu sendiri. 
Share:

Anomali Manusia


Entah darimana teorisasi dan spekulasi berawal, semua yang terlontar pada banyak kepala manusia sering kali menjadi bagian dari sebuah asumsi paling kritis, lantas menjadi idealisme paling egois, dan kebanyakan orang menggunakan embel-embel toleransi. 

Sejatinya pencitraan tentang toleransi hanya menjadi sandaran bagi banyak idealisme yang begitu egois untuk dimenangkan dari keinginannya, tetapi dengan tutur kata yang mengasumsikan toleransi tentunya. Semua yang diprasangkai oleh hal-hal positif sering kali diterima dengan asumsi yang asumtif, seolah-olah citra sebuah perspektif hanyalah tentang kebaikan. 

Nyatanya, keburukan juga ingin menempati kebaikan dengan diterimanya keburukan itu sendiri pada ranah kebaikan, hanya saja cara kebanyakan orang menganalisis hal-hal seperti ini menjadi sebuah ironi paling negatif.
Share:

Pengenalan diri pada sebuah pertanyaan

Apa saja yang kita miliki dari dalam kita sendiri, adalah keluasan anugerah Tuhan dalam mengiradatkan bagian dari sifat Tuhan itu sendiri. Konteks ini berlaku pada sebuah pengenalan diri bagi seseorang yang benar-benar ingin mengenali tentang dirinya. Namun sejatinya tidak ada yang pernah benar-benar ia pahami tentang dirinya tanpa menggunakan bantuan orang lain, meskipun ia sudah teramat cinta akan apa yang sampai saat ini ada dalam dirinya. Karena sejatinya orang lain itu masih menjadi bagian dari fitrah Tuhan dalam memperkerjakan logika untuk menemukannya pada sebuah makna.

Misalnya, saat seseorang begitu ingin mengenali apapun yang ada dalam dirinya, maka ada sebuah usaha yang menuju pada sebuah pencapaian tentang keberhasilannya dalam mengenali dirinya sendiri. Namun, di balik kenalnya ia dengan dirinya, masih ada hal lain yang tidak ia kenali pada dirinya.

Sesuatu yang sebenarnya kita kenali dari dalam diri kita sendiri mempunyai jangkauan yang tak terbatas, semua tentang eksploitasi langkah dan sebuah pahaman akan terus bertambah, tanpa sedikit pun mengurangi dari apa yang sebelumnya telah kita dapatkan.

Berhenti katakan bahwa setiap kita mempunyai kemampuan yang terbatas, dalam banyak konteks mungkin adalah kesabaran. Padahal lebih jauh dari itu, apapun yang mampu kita pahami dan kenali, semua tidak akan pernah bisa untuk dibatasi. Termasuk waktu dalam menapaktilasi usia yang sejatinya tidak pernah berhenti berdetak dalam kehidupan kita.
Share: