Selasa, 02 November 2021

Keresahan

Semakin berkembangnya zaman, saya menyadari bahwa selama ini panggung yang sedang diperebutkan oleh orang lain itu adalah intelektualitas. Masing-masing dari mereka bahkan kita, akan berlomba-lomba menjadi orang yang piawai berbicara, beropini, berpendapat, bahkan mengkritik. 


Semuanya mungkin lahir dari kesadaran-kesadaran kita yang perlahan tumbuh, kita menyadari akan persetujuan banyak pihak yang oleh beberapa pihak lainnya tidak menyetujui. Dengan kemampuan bernalar dan menghadapi kenyataan, kita berada di pihak tidak setuju atas pilihan yang kita amini.


Lalu jalan keluar yang kita miliki atas semua hal yang tidak kita setujui oleh mayoritas banyak orang adalah dengan beropini dan berpendapat, sedangkan pendapat hanya akan bisa dilakukan ketika kita sudah mulai menyampaikannya, dan menyampaikan pendapat berarti menuntut kepiawaian berbicara dari diri kita.


Maka dari karena itu, kemampuan dan keberanian diri dalam berbicara untuk menyampaikan pendapat, menandakan bahwa kita sudah memiliki kemampuan bernalar yang kritis, artinya kita sudah menggerakkan nalar untuk mengkritisi hal-hal tertentu yang mungkin saja akan memiliki beragam konsekuensi.


Namun, fokus utamanya bukan di sana. Fokus utamanya adalah tertuju pada semua orang yang berambisi ke sana. Tujuannya mungkin sudah benar, tapi cara memperlihatkan proses dalam menuju tujuannya yang jadi tidak benar.


Sederhananya begini, orang kalau sudah ngomong panjang lebar, apalagi membawakan bahasan yang menarik, akan ada orang lainnya yang ikut tertarik, tetapi ada juga yang tidak. Yang mungkin tidak kita mengerti dari kepiawaian berbicara adalah, menganggap bahwa kita perlu diakui, isi kepala kita berhak disanjung, dan apa yang ada di kepala kita adalah benar. Di mana dalam hal tersebut terdapat salah satu indikasi bahwa paradigma berbicara yang dikemas oleh intelektualitas, menjadi salah kaprah oleh mereka yang menuhankan asumsinya. Karena kenyataannya tidak seperti itu adanya.


Mengkritisi beberapa hal tertentu memang lahir dari penalaran kita pada keadaan-keadaan yang tidak kita setujui atas diri kita sendiri; yang sifatnya pribadi. Namun, menggalakkan opini yang berangkat dari ranah pribadi kepada orang-orang yang belum tentu mampu menerimanya, tidak berangkat dari penalaran semata. Harus ada perlindungan-perlindungan di dalamnya, harus banyak sandaran di dalamnya, agar apa yang ada di dalam kepala kita bisa berdiri tegak dan tidak mudah jatuh. Karena percuma berdiri tegak kalau akhirnya akan jatuh juga.


Pada konteks ini saya memicu kepada beberapa orang yang ngomongnya cuma doang. Meskipun keresahannya nggak doang, tapi pengemasannya ini yang menjadikan stigma intelektualitas disalah kaprahi dan akhirnya membuat orang menjadi latah sama intelektualitas. Orang zaman sekarang tuh jadi serba nggak tahu batas, dalam semua konteks apapun, mereka jadi ngerasa bahwa yang dilakukannya adalah hal yang wajar aja. Salah satunya kepiawaian berbicara tadi, yang jika dibandingkan dengan kualitas isi otaknya dibandingkan keresahannya, jelas lebih berisi keresahan tersebut daripada isi otaknya. 


Nah masalahnya, kalau keresahan nggak dibarengi sama isi otak yang nggak bagus, dalam konteks ini adalah bacaan dan wawasan yang luas, maka hanya akan memperburuk keresahan itu sendiri jika semakin disalah kaprahi. Sebenarnya berwawasan nggak hanya dengan membaca, sih. Tapi, kan, secara objektif, berwawasan didapatkan dari seberapa banyaknya bacaan kita. Sederhananya, keresahan yang kita bawa bersama pemahaman yang seadanya dari kepala kita, hanya akan membentuk satu paradigma baru dalam hidup kita, yang kita sendiri mungkin akan kebingungan menghadapinya.

Share: