Kamis, 23 Maret 2023

Emotion wellnes

Bagi sebagian orang, kesehatan fisik dan psikis menjadi sesuatu yang bertolak belakang adanya. Biasanya orang-orang yang beranggapan seperti itu adalah orang yang sedang sehat fisiknya, tetapi tidak sehat psikisnya. Namun, dia menolak untuk menyadari dan mengakui bahwa psikisnya sedang tidak baik-baik saja.

Ada banyak hal di dunia ini yang cukup rentan mempengaruhi kondisi psikis kita, sesederhana ketika kita mengajak orang lain untuk pergi ke suatu tempat tetapi orang yang kita ajak menolak tawaran kita, maka itu sudah cukup membuat kondisi psikis kita menjadi sedikit tidak baik. Euforia dan perasaan yang kita rasakan sudah pasti berbeda. Dan kita tidak pernah menyadari akan hal-hal seperti itu sebagai satu keadaan yang mempengaruhi psikis kita, dan secara perlahan jika tidak diatasi dengan baik akan mempengaruhi fisik kita.

Berpura-pura pada sesuatu yang sudah jelas-jelas kita tahu kenyataannya tidak baik, tidak akan membuatnya kembali menjadi baik. Di dalam psikologi ada istilah yang disebut dengan Emotion Wellnes yaitu kondisi kesehatan secara keseluruhan yang meliputi kesehatan emosi kita. Orang yang sehat secara emosi akan mampu menyadari apa yang dirasakannya. Orang yang sadar terhadap apa yang dirasakan, maka dia akan mampu mengendalikan perasaannya.

Pada saat kita mengalami satu kondisi yang tidak baik, untuk bisa memiliki emotional wellnes, kita perlu melatih coping skill kita. Coping skill itu terbagi menjadi dua, ada yang fokus terhadap basis solusi, ada yang berfokus terhadap basis emosi.

Selama kita masih diberi kesehatan secara fisik dan emosi dengan baik. Tidak perlu kita selalu mengeluh dengan mengisi harapan untuk selalu baik, tidak melulu kita harus selalu menghadapi hal-hal baik, tapi bagaimana cara kita bereaksi terhadap kebaikan yang kita pilih sebagai satu kendali kita untuk mempunyai emosional yang lebih baik lagi.

Jadi, yang paling mempengaruhi terhadap kesehatan mental kita tuh ya tergantung dari seberapa beraninya kita menghadapi kenyataan, seperti misalnya bahwa keadaan kita sekarang yang sedang enggak baik-baik aja, lalu kita mengakuinya. Maka hal-hal kayak gitu bisa jadi dorongan ke diri kita buat mengerti bahwa kalau lagi nggak baik, ya nggak apa-apa, hadapi aja. Toh nggak selamanya kalau lagi nggak baik itu buruk.

Share:

Jumat, 17 Maret 2023

Dunia Sophie [book review]

Dunia Sophie, karya Jostein Gaarder, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, terbitan penerbit Mizan Pustaka.

Dunia Sophie adalah sebuah buku berjenis novel yang membahas tentang pengantar filsafat secara menyeluruh. Tidak heran mengapa buku ini menjadi sedemikian tebalnya karena memang memuat sejarah peradaban filsafat dari pertama kali digagas hingga filsafat di masa kontemporer sekarang. Mungkin tulisan ini akan mempunyai kesan review sekaligus curhat saya tentang dilema-dilema dalam membaca buku ini.

Saya mempunyai buku ini sekitar tahun 2018, yakni ketika saya baru saja masuk sekolah SMA, dan buku yang saya punya ini merupakan edisi baru dengan cetakan terjemahan yang ke-8.  Nah, yang membuat saya membeli buku tersebut ialah karena ketertarikan saya terhadap filsafat itu cukup dalam, pasalnya saya sering menemukan kutipan-kutipan kalimat tentang filsafat di media sosial dan itu nilainya sangat filosofis. Kebetulan juga saat itu toko buku langganan saya sedang memposting jualannya dan muncullah buku Dunia Sophie ini, lalu saya baca sinopsisnya, dan saya merasa tertarik untuk membelinya. Usai membeli buku tersebut dan membawanya pulang ke rumah, impresi yang saya dapatkan pertama kali adalah, anjir berat juga ya buku ini wkwk.

Dari nyeletuk bobot bukunya yang berat, akhirnya ketika saya mulai membaca buku tersebut, saya kewalahan sendiri, kapasitas otak saya tidak bisa bekerja secara maksimal untuk memahami setiap isi dari kalimat-kalimat yang ada di buku tersebut. Awalnya saya mencoba untuk memaksakan untuk membaca sampai 50 halaman pertama, tapi kenyataannya tidak bisa, pembahasannya benar-benar berat, saya sudah mengerahkan imajinasi saya semaksimal mungkin untuk membayangkan bagaimana alur cerita yang disuguhkan di dalam novel tersebut. Jujur, selain karena tema filsafat yang membuat saya tertarik untuk mengadopsi buku ini, juga karena ketegorisasi novelnya yang membuat saya juga tertarik. Karena sejauh saya membaca buku-buku novel, saya hanya membutuhkan waktu paling lama 1 minggu untuk menghabiskan seluruh bacaan yang tebalnya itu antara 300-400 an halaman.

Ternyata saya salah menduga, yang awalnya saya kira akan semenyenangkan seperti membaca novel-novel pada umumnya, tetapi buku ini berbeda. Mungkin memang karena saya juga baru pertama kali membaca buku novel terjemahan dari bahasa asing, pikir saya waktu itu. Saya awalnya masih ingin terus memaksa membaca buku tersebut, dengan sangat tertatih saya membacanya berulang-ulang agar saya bisa memahaminya, tapi tetap saja nihil. Akhirnya pada sekitar lembar halaman yang sudah hampir 200 an, saya benar-benar berhenti membaca buku tersebut dan menyimpannya di lemari buku koleksi saya.

Dua tahun kemudian menjelang kelulusan SMA, saya mulai menarik kembali buku tersebut dari lemari dan mengeluarkannya. Kebetulan karena pada saat itu tahun 2020 sedang lockdown besar-besaran, dan juga saya mempunyai banyak waktu luang disela mendaftar di jenjang perkuliahan. Maka saya memutuskan untuk kembali membaca buku itu lagi, dan saya agak mundur beberapa puluh halaman ke belakang untuk mengingat apa yang kemarin pernah saya baca, tetapi kenyataannya memang tetap nihil, saya masih tetap tidak bisa memahaminya sekaligus mengingat isinya. Memang pada saat saya kembali membaca buku tersebut, saya sudah mulai sedikit-sedikit memahami, tetapi ketika buku tersebut saya tutup, pikiran saya tentang apa yang tadi sudah dibaca juga ikut tertutup. Akhirnya saya banyak merutuki kekesalan pada diri saya sendiri karena kesulitan mencerna isi buku tersebut.

Buku Dunia Sophie ini juga yang pertama kali dalam sejarah hidup saya yang notabenenya suka membaca ini, tidak bisa saya tuntaskan dengan mudah. Kala itu koleksi saya sudah hampir mencapai seratus buku, dan cuma buku Dunia Sophie ini yang belum bisa saya tuntaskan, bahkan halaman yang belum dibaca pun banyak, apalagi yang perlu dipahami. Ketika libur panjang menjelang persiapan memasuki masa kuliah, saya tetap mencoba memaksa membaca buku tersebut meski tidak terlalu paham akan isinya, intinya saya hanya konsisten untuk membacanya, dan saya tetap kewalahan hingga di lembar halaman ke 300. Sungguh benar-benar buku yang menakjubkan.

Menjelang penerimaan mahasiswa sudah semakin dekat, akhirnya saya berfokus untuk mengusahakan agar bisa lanjut belajar di jenjang perkuliahan. Saya memilih Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, dan kala itu saya mengikuti jalur UM-PTKIN, saya lupa apa singkatannya wkwk. Intinya itu menggunakan jalur tes, dan ketika itu saya dihadapkan pada 3 minat bidang jurusan yang harus saya pilih. Karena saat itu saya sudah sangat lama tertarik pada psikologi islam, maka akhirnya saya memilih prodi tersebut di pilihan pertama, kemudian karena keharusan, saya mengisi Pendidikan Agama Islam pada pilihan kedua, dan Aqidah filsafat islam pada pilihan ketiga.

Ajaibnya, ketika pengumuman hasil tes keluar, saya tidak lolos untuk masuk di prodi jurusan psikologi Islam, dan jatuhnya malah ke prodi jurusan aqidah filsafat islam. Bayangkan, pilihan ketiga yang di bayangan kepala saya justru adalah kemungkinan jauh untuk terpilih, kenyataannya malah benar-benar terpilih. Awalnya saya menolak mentah-mentah, masih ada satu jalur lagi untuk saya bisa mengusahakan masuk di prodi jurusan psikologi islam, yakni melalui jalur tes mandiri, yang mana itu juga harus kembali mengeluarkan uang pendaftaran lagi dan lebih besar dari sebelumnya. 

Singkat cerita, saya kembali diharuskan memilih 3 opsi jurusan, dan pilihan saya tetap sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Setelah tes dilaksanakan dan hasil kelulusan diumumkan, ajaibnya saya malah tidak lolos di semua pilihan tersebut, yang artinya saya gagal. Itu adalah kondisi dan kenyataan terburuk saya, mengingat jalur mandiri adalah jalur tes terakhir. Namun, ternyata masih ada secercah harapan kecil, ada jalur mandiri arah bagi yang di pengumuman sama sekali gugur dari pilihannya. Jurusan yang ada di jalur mandiri arah tersebut juga terbatas di beberapa jurusan yang sudah ditentukan, yakni yang peminatnya memang sangat kurang, yang saya ingat salah satunya adalah bahasa arab, bahasa inggris, tentang fisika atau apalah itu intinya, juga beberapa prodi jurusan lain yang saya lupa, dan salah satunya adalah aqidah filsafat islam.

Sebenarnya, ada satu alasan kecil mengapa saya tetap ngotot memasukkan aqidah filsafat islam pada opsi tes kemarin, yakni karena awalnya saya tertarik pada filsafat, tetapi karena ketika saya membaca buku Dunia Sophie saja kepalang merasa berat, makanya saya cuma menjadikan itu opsi terakhir. Tapi tanpa berpikir panjang lagi saya langsung memilih aqidah filsafat islam itu sebagai jurusan kuliah saya, mengingat basic-basic yang pernah saya pelajari sebelumnya dan sedikit minat saya kepadanya. Namun kenyataannya sekarang malah saya nyaman menekuni jurusan kuliah tersebut, dan buku Dunia Sophie ini juga kembali saya baca ulang ketika Februari tahun 2023, lalu tuntas setuntas-tuntasnya di pertengahan Maret 2023, dengan pemahaman yang sejelas-jelasnya, dan perubahan impresi yang dulunya terasa berat, kini malah jadi terasa ringan dengan halaman sebanyak 800 an itu malah terasa kurang jika membahas filsafat secara menyeluruh dan panjang lebar.

Memang buku Dunia Sophie ini sangat menarik untuk kapabilitas tertentu, karena sang penulis sudah mengusahakan diri untuk menjelaskan persoalan rumit tentang filsafat menjadi sedemikian mudah dan menyenangkannya melalui sebuah imajinasi anak kecil. Maka dari karena itu buku ini berjenis novel ialah karena penulisnya berusaha membawakan pembahasan berat dalam filsafat melalui pendekatan imajinatif yang ada pada seorang anak remaja berusia 14 tahun bernama Sophie, dia mendapati banyak pertanyaan dalam hidupnya dan pembahasan berlalu dengan alur yang menyenangkan, ada banyak pengibaratan serta contoh-contoh yang dimuat dalam buku ini sehingga kita menjadi lebih mudah dalam memahami persoalan filsafat.

Yang paling mengejutkan dari buku ini adalah plot twist yang ada di akhir alur ceritanya, meski berbasis pengantar filsafat, penulis tidak menyampingkan rangkaian alur cerita yang menurut saya pribadi cukup filosofis dan sangat mewakili tema yang dibawakan dari buku ini. Sebagaimana biografi sang penulis, Jostein Gaarder memiliki ciri khas tulisan yang dapat memadukan keindahan dongeng dan kedalaman perenungan, dan hal itu terbukti dari salah satu karyanya yang sudah selesai saya baca ini, Dunia Sophie. Meski harus melewati hampir 4 tahun untuk kemudian saya bisa memahami isinya secara utuh, tetapi itu memang waktu yang harus saya bayar untuk mencapai pemahaman yang sangat brilian ini.

Oh iya, satu fakta menarik dari buku ini, ketika saya kembali membaca ulang buku ini di tahun 2023, saya sudah tertarik dengan sains yang berhubungan erat dengan filsafat. Sehingga saya memiliki banyak sekali keterkejutan dalam setiap pembahasannya yang banyak menyingung terhadap persoalan sains, bahkan saya juga baru menyadari bahwa di awal-awal halaman buku ini juga sudah tertuju pada sains dan berkaitan erat dengan alam.

Kadang saya sering iseng nanya sama diri sendiri, kok bisa ya suka sama sains? Terus pas belajar, dan bisa ngerti, kok yo enak ya wkwk. Ditambah lagi ketika bab terakhir buku ini membahas tentang big bang, kayaknya kalau orang yang nggak tertarik buat belajarnya, saya sendiri mengakui kalau bab terakhir di buku ini yang membahas tentang big bang agak cukup berat, pasalnya penulis berusaha menjelaskan hal tersebut berdasarkan perspektif pelajaran astronomi. Bab terakhir tentang big bang ini bisa jadi satu paradoks yang berat kalau dipikir-pikir, dan pada tulisan di bab terakhir ini pula juga diakhiri dengan kembali ke pertanyaan besar di awal pembahasan buku ini yang sekaligus pembahasan awal dalam filsafat yakni tentang asal-usul segala sesuatu. Sebenarnya masih nggak ekspek aja gitu antara buku sama ketertarikan yang lagi dipelajari jadi kayak punya algoritmanya.

Pada akhirnya memang penting buat kita mencari tahu sesuatu kalau kita merasa tertarik untuk mengetahuinya, karena memang itu akan jadi salah satu cara dalam proses belajar kita untuk memahami bagaimana alam semesta bekerja, dan tujuannya bukan buat unjuk rasa bangga, tapi menyadari akan ketidakberdayaan kita. Contoh kecil aja deh dari apa yang pernah dikatakan Einstein, "Alam semesta itu mengagumkan, hanya Tuhan yang bisa menciptakannya. Tugasku hanya mencari tahu bagaimana Dia melakukannya." Nah, sebelumnya saya pernah punya niat untuk mengangkat kutipan Einstein ini ke dalam konsep tauhid, sebagai refleksi atas keimanan kita selama ini, dan tujuannya buat diposting di blog, tapi sampai sekarang belum ketulis-tulis, berujung cuma nulis review tentang buku Dunia Sophie ini aja. Next lah ya wkwk

Share:

Kamis, 16 Maret 2023

Membedah statement agama adalah sebuah dongeng dari perspektif filsafat

Sebelumnya, disclaimer dulu nih, ini persepsi pribadi yang basicnya nggak terlalu pintar-pintar amat dan hanya bermodal nekat, walaupun secara kebetulan saya sedang menempuh studi jurusan tersebut. Hitung-hitung evaluasi materi lah, toh ini platform saya sendiri wkwk, jadi enggak usah berharap akan menemukan jawabannya, tapi kalau mau menambah khazanah sudut pandang pemikiran, dipersilahkan.

Awalnya saya menemukan sebuah utas di Twitter yang menanyakan bahwa "Mengapa ibadah menyembah Tuhan butuh izin kepada manusia?" Sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu mengenai konteks pertanyaan tersebut, intinya saya hanya menangkap itu sebagai pertanyaan yang lurus-lurus aja, toh memang setiap pertanyaan itu tidak ada yang salah. Hanya jawabannya aja yang beragam, telepas dari benar atau salah nantinya, itu hanyalah sebuah persepsi.
Yaaa gimana yak, argumentasi se ekstrim itu kadang dibuatnya nggak asal-asalan, tentu ada yang melatarbelakangi hal tersebut sehingga memicu argumentasi tadi. Pertanyaannya, apakah itu benar atau salah? Poinnya sih bukan ada di benar atau salahnya ya, bukan juga soal adanya kesenjangan konteks di antara si penanya dan penanggap, tapi lebih ke perspektif apa yang harusnya ada di kepala kita ketika mengetahui hal itu.

Kapasitas kita untuk menganggap bahwa agama adalah bikinan manusia ini harus punya titik berangkat yang jelas dulu, justifikasi sesudahnya akan menentukan bagaimana nantinya. Misal, kita menganggap bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia, tetapi titik berangkat kita menganggap bahwa Tuhan dengan segala Rahman Rahim-Nya menciptakan manusia untuk menyembah diri-Nya sebagaimana yang termaktub di dalam QS Adz dzariyat ayat 56 "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." 

Nah, poin dari statement itu turunnya dari Alquran, Alquran kan kitab sucinya umat islam yak, jadi gimana tuh? Apa masih bisa kita menganggap bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia? Tapi di Al-Qur'an juga dijelaskan bahwasanya nanti akan ada suatu kaum yang menganggap bahwa agama ini hanyalah sebuah dongeng. 

Tapi sebelum lanjut lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui sejarah agama terlebih dahulu supaya memperjelas perspektif kita nantinya, yang pertama agama dalam konteks barat, jadi dalam konteks barat agama itu dipandang sebagai musuh dari kemajuan. Di awal abad modern, agama itu jadi suatu penghambat karena para tokoh gerejalah yang menentang para ilmuwan. Namun, di awal abad ke 19 Karl Marx mengatakan bahwa agama itu adalah candu, karena agama dibuat sebagai opium atau sarana ketenangan bagi orang yang menderita. Itulah yang kemudian mendorong Marx mendirikan proletar untuk menentang orang kapitalis dan orang yang tertindas, yakni karena agama. Namun, Marx sendiri juga pernah menganggap bahwa sebenarnya Tuhan itu hanyalah ciptaan manusia dan agama adalah proyeksi buatan manusia. Di sinilah teori kiri yang kemudian banyak diadopsi oleh pengikut setelah Marx. Ketika negara komunis pertama berdiri di rusia yang ditandai dengan agama yang tidak boleh beroperasi.

Adapun agama dalam perspektif filsafat Islam, yang perlu kita ketahui sebelumnya bahwa pada prinsipnya filsafat Islam itu adalah gabungan antara tradisi yang ada di luar Islam, dengan tradisi yang ada di dalam Islam itu sendiri. Tradisi yang ada di luar Islam itu adalah tradisi pemikiran Yunani, sedangkan tradisi yang ada di dalam Islam adalah isi yang terkait dengan persoalan-persoalan teologi atau keyakinan yang ada dalam konteks Islam. Sehingga ada relasi yang bersifat timbal balik antara akal dan wahyu dalam filsafat Islam. 

Di satu sisi filsafat Islam itu lahir dari tradisi pemikiran, di sisi lain pemikiran itu digunakan dalam rangka untuk mengulas atau menguraikan lebih jauh doktrin-doktrin atau ajaran-ajaran tentang teologi-teologi Islam, sehingga kemudian bisa dikatakan sebetulnya filsafat Islam ini adalah filsafat yang merepresentasikan relasi antara akal dan wahyu dalam Islam. Persoalan filsafat yang ada di dalam Islam ini sebetulnya hadir dalam rangka merespon persoalan-persoalan teologi yang muncul dalam persoalan akidah dahulu.

Dari kedua perspektif tersebut, jelas bahwa ada perbedaan yang sangat besar, tetapi keduanya benar dalam ranah ilmu pengetahuan. Bahwa agama menjadi penghambat, itu benar, dan fakta, tetapi dalam versi barat. Namun, dalam Islam sendiri, agama menjadi salah satu alat dalam merepresentasikan apa yang kita yakini, dan itu jelas dibahas dalam persoalan filsafat terutama dalam ranah teologi.

Sebenarnya, mau bagaimana pun kita menganggap bahwa agama itu adalah dongeng bikinan manusia, titik berangkat pemahaman kita (bagi orang yang mengaplikasikan pemikirannya) tetap jatuh kepada agama dengan argumentasi yang mendasari ritual-ritual peribadatan kita. Sebagaimana kita menganggap bahwa Tuhan adalah tujuan dari perjalanan hati kita, dan titik berangkat pemikiran kita tidak bisa mendustakan adanya agama yang mendasari perjalanan batin seseorang. Jadi, gimana? Sudah jelas salah dong harusnya orang yang mengatakan bahwa agama ini adalah dongeng bikinan manusia? Tentunya ini terlalu cozy untuk menjustifikasi benar salah.

Lantas, apasih ujungnya dari argumentasi orang itu tadi? Kan jawabannya sesederhana apakah argumentasi orang itu salah atau benar menurut pandangan agama, kan?  Atau paling nggak ini orang terjadi mispersepsi, yang satu nanya apa, satu jawabnya apa, gitu kan, yak? Mungkin bisa kali kita coba permisalkan kalau kita menolak bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia, dengan mengutip sebuah ayat Alquran di surat Al mutaffifin yang menyatakan bahwa apabila dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepada orang yang melampaui batas, maka mereka akan menganggap bahwa ayat Alqur'an tersebut hanyalah sebuah dongeng orang zaman dahulu.

Nah, dari situ mungkin kelihatan jelas ya poinnya, bahwa ketika ada orang yang menganggap agama ini adalah dongeng atau bikinan manusia, maka itu adalah orang yang melampaui batas seperti yang dimaksud dari ayat Alqur'an tadi. Namun, kalau kita telaah kembali dari statementnya yang lebih panjang lagi, ada sebuah poinnya yang mengatakan bahwa agama bisa bikin ini itu dll, termasuk memecah belah umat manusia. 
Benar, bisa jadi dalam hal ini agama diperalat oleh manusia demi kepentingan pribadinya, karena atas nama agama, manusia bisa bertindak semaunya, tentu saja dengan menjual agama sebagai tameng utamanya.
Lantas, siapa yang sebenarnya melampaui batas? Dia yang mengatakan agama hanyalah dongeng, atau sebenarnya malah kita yang melampaui batas karena mengeksploitasi perilaku kita atas nama agama? Kalau katanya Habib Husein Ja'far Al Hadar, utamanya kita mendidik orang lain itu agar dia bisa menjadi manusia, masalah agamanya apapun itu urusan pribadi dia. Karena orang mau didoktrinasi agama bagaimana pun, kalau rasa kemanusiaannya belum benar, maka dia akan menjadikan agama sebagai alat untuk melestarikan ego kebinatangannya.

Lalu, bagaimana sejatinya menyikapi statement agama adalah dongeng bikinan manusia ini? Karena, dipikir-pikir ada benarnya juga. Konteksnya bisa jadi sedang menyiratkan kepada orang-orang yang memperalat agama sebagai kepentingan pribadi, atau suatu kelompok. Sehingga dari pernyataan bahwa agama adalah dongeng bikinan manusia, adalah agama yang digunakan oleh sekelompok orang-orang tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu pula. Toh, kalau memang kita benar-benar menjadi orang yang beragama yang kita bangun adalah spritualitas kita kepada agama yang kita peluk dengan asas rahmatan lil alamin ini, yakni rahmat bagi semesta alam. Bukan tugas yang mudah untuk merepresentasikan rahmatan lil alamin ke dalam diri kita, karena itu berkaitan erat dengan spiritualitas kita yang hablumminallah dan hablumminannas. Hubungan vertikal kepada Tuhan, dan hubungan horizontal kepada manusia.

Seharusnya masih ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita bangun dari statement tersebut, karena dari pertanyaan itu kita akan terus menggali serta sekaligus mengkritisi statement itu dengan landasan ilmu pengetahuan. Namun, sebagai penutup, intinya adalah, seradikal apapun pertanyaan atau pun pernyataan, tanggapilah dengan sekritis mungkin. Kita ini diistimewakan oleh Tuhan karena dianugerahi akal sehat, maka gunakanlah akal tersebut sebaik mungkin. Kita jangan hanya terbatas pada benar atau salah, tetapi melangkah lebih jauh lagi kepada sebab-sebab yang memicu lahirnya persoalan tersebut, sehingga kita dapat mengidentifikasi permasalahan tersebut secara filosofis. Karena di dalam ilmu mantiq, kalau kita mau berpikir maka kita harus menghadapi masalah dan mengidentifikasi jenis masalah, baru nantinya kita bisa menguraikan permasalahan tersebut dengan logis dan sistematis.
Share:

Selasa, 14 Maret 2023

Suzume No Tojimari [Anime Review]

Sebagai seseorang yang selalu terpukau dengan garapan karya-karyanya Makoto Shinkai, Suzume No Tojimari adalah salah satu film yang tidak mungkin bisa saya lewatkan. Film ini bercerita tentang tokoh Suzume yang memiliki trauma masa lalu karena bencana alam yang membuat dia kehilangan ibunya. Ketika dia sudah berumur remaja dan bersekolah SMA, dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Soutta yang menanyakan kepada Suzume tentang sebuah tempat yang pernah dilanda bencana tsunami sebelumnya, dan pemuda itu mengatakan bahwa dia sedang mencari sebuah pintu. 

Rasa penasaran yang ada pada Suzume itu akhirnya membuat dia menghampiri tempat yang dia sebutkan pada pemuda itu, dan Suzume memang menemukan sebuah pintu di sana. Ketika Suzume mendekati pintu tersebut dan membukanya, dia bisa melihat sesuatu yang sangat indah di balik pintu tersebut, dan disebutkan pada film itu dengan nama "ever after". Namun, Suzume tidak bisa masuk ke dalamnya ketika ia mencoba memasukinya dari pintu tersebut. 

Membahas mengenai ever after yang dilihat oleh Suzume dari balik pintu, itu seperti membuka alam bawah sadar dia atas ingatan-ingatan yang pernah dilewatinya, karena seperti yang dijelaskan oleh Soutta bahwa ever after adalah tempat untuk orang yang sudah tidak ada di dunia, dan Suzume melihat keindahan yang disebut dengan ever after itu ketika ia sering bermimpi saat tidur. Melihat keindahan seperti yang ada pada mimpinya secara nyata dari balik sebuah pintu, justru membuka rasa trauma masa lalu Suzume ketika dia kehilangan ibunya saat sebuah tsunami melanda kampung halamannya. Karena rasa trauma tersebut, membuat dia kehilangan ingatan kenapa ibunya meninggalkannya.

Di pertengahan film, Soutta terjebak di dalam ever after, dan Suzume terobsesi untuk menyelamatkan Soutta. Menariknya, ketika awalnya Suzume tidak bisa memasuki ever after walaupun dia bisa melihat keindahan ever after tersebut dari balik sebuah pintu yang tempatnya pernah dilanda gempa bumi, pada akhirnya dia bisa memasuki ever after tersebut ketika dia menghampiri kampung halamannya yang dulu pernah dilanda gempa bumi. Hal ini disebabkan karena Suzume terobsesi ingin menyelamatkan Soutta dan mencoba untuk berdamai dengan kenyataan pahit di masa lalunya ketika kehilangan ibunya. Di kampung halamannya tersebut, Suzume menemukan sebuah buku diary miliknya di mana ia pernah terus bercerita tentang hari-harinya dalam buku diary tersebut, dan sebelum gempa bumi itu melanda kampung halamannya, Suzume menggambar sebuah pintu, lalu dia mengingat pintu itu yang berada di dekat rumahnya. Melalui pintu itulah Suzume bisa memasuki ever after dan menyelematkan Soutta.

Ketika Suzume berhasil memasuki ever after, dan berhasil menyelamatkan Soutta, Suzume sempat bertemu dengan seorang gadis yang masih kecil dan ternyata itu adalah dirinya sendiri, yang bertanya-tanya ke mana ibunya pergi, dan gadis kecil itu juga sekaligus mencari-cari keberadaan ibunya. Suzume remaja bisa berkomunikasi dengan Suzume masa kecil di dalam ever after secara nyata. Namun, mengapa Suzume bisa berada di dalam ever after? Karena dia membawa trauma masa lalunya yang membuat dia bisa meraih ever after tersebut.

Suzume remaja memberikan motivasi kepada Suzume kecil bahwa meskipun hidup itu berat tetapi dia harus tetap menjadi orang yang kuat. Hal itu dikatakan oleh Suzume sesaat sebelum dia keluar dari ever after dan menutup pintunya yang sekaligus juga menutup pintu trauma di dalam dirinya, hingga akhirnya Suzume berdamai atas rasa kehilangannya terhadap ibunya.

Secara keseluruhan, yang tidak boleh luput untuk dibanggakan dari film ini adalah visualnya, Makoto Shinkai tidak pernah gagal dalam memoles setiap detail-detail tiap scene yang ditayangkan menjadi gambar yang begitu memukau. Secara alur cerita, memang terasa lumayan tergesa-gesa, mengingat setiap kejadian yang dilalui oleh Suzume terutama ketika dia bertemu oleh laki-laki bernama Soutta, ini digambarkan dengan sangat tiba-tiba, begitu pula ketika Suzume yang tiba-tiba terobsesi untuk membantu Soutta. Namun, film ini tetap mengesankan, pengemasannya masih tidak kalah epik dari film-film anime Makoto Shinkai sebelumnya, tetapi kalau menurut saya pribadi, Suzume No Tojimari masih belum bisa menggeser posisi Kimi No Nawa secara keseluruhan isinya.
Share:

Rabu, 08 Maret 2023

Kilas balik manusia dalam usia

Dari sekian banyaknya waktu dan dari sekian banyaknya hari, aku menyadari bahwa enggak semua hal bisa dengan sempurna aku mengerti. Kendati semua hal terasa masuk akal di kepala, tetapi bukan jadi suatu kemudahan untuk kemudian bisa dicela. Ini bukan perkara benar atau salah, tapi tentang memperkaya diri dengan hikmah dari semua masalah.

Hari ini, umurku genap 20 tahun dan secara resmi akan memulai hari selanjutnya pada usia di kepala dua. Mungkin ini akan terdengar klise atau remeh temeh, tapi aku hanya sekadar berbagi apapun yang selama ini aku dapatkan, serta ingin mengulang kembali kepingan-kepingan ingatan di antara semua kejadian yang telah aku rasakan.

Angka 20 yang sekarang ini dirasa, jadi terdengar begitu lama jika dipikir-pikir ulang semenjak kali pertama aku bisa mengingat masa kecil. Tentu ketika masih balita, aku tidak bisa mengingat banyak, tetapi yang jelas aku masih mengingat di mana banyak sekali hal-hal acak yang terjadi di kepalaku. Mungkin kisaran usia 3-4 tahun, aku mempunyai ingatan di mana aku mulai diberikan kepercayaan untuk berjalan sendiri meski masih diberikan pengawasan oleh orang tuaku. Dan dari banyaknya kejadian, aku selalu mengingat momen di mana aku diberikan waktu untuk mengenal dunia luar bersama orang tua, waktu di mana hiruk pikuk keramaian kota masih terasa menyenangkan.

Aku masih mempunyai ingatan ketika aku masih bisa menangis ketika akan didaftarkan di sekolah TK. Menjadi manusia pendiam ketika memasuki jenjang sekolah dasar, dan meraih prestasi dengan ranking pertama selama berturut-turut hingga ke kelas tiga. Sisanya, aku bertransisi menjadi orang yang lebih mengeksplorasi banyak hal, bermain bola ketika sore di lapangan dekat rumah, bermain layang-layang, gasing, yoyo, kartu gambar, dan banyak hal lainnya. Dulu juga aku tidak diperbolehkan keluar malam, dan batas aku bermain di luar hanya boleh sampai jam 6 sore. Lewat dari itu, sudah dipastikan pintu rumah akan dikunci dan aku tidak bisa masuk hingga menjelang adzan maghrib tiba. Dan pastinya aku pernah mengalami hal itu, aku bermain kelewat batas hingga adzan maghrib hampir tiba, begitu sampai di rumah, pintunya sudah terkunci dan aku tidak bisa masuk ke dalam hingga orang tuaku selesai sholat maghrib. Pengalaman yang cukup mengesankan.

Aku juga masih memiliki ingatan di masa-masa SMP, masa di mana kenakalanku mulai terbentuk, dari yang dulunya tidak boleh keluar malam, akhirnya berani keluar malam, membawa motor sendiri walau belum punya SIM. Pada masa SMP juga aku pertama kali memberanikan diri untuk pergi liburan bersama teman-temanku, dan pengalaman paling mengesankan dulu adalah ketika seorang bocah yang cukup ingusan ini, nekat mendaki sebuah bukit, walaupun tidak terlalu tinggi, tapi aku merasa alam membentuk manusia yang memberanikan diri untuk bersahabat dengannya, sampai pada suatu momen aku harus meninggalkan salah satu yang menjadi hobiku itu. Pada masa SMP juga aku mulai berpacaran, berkali-kali ganti pacar, bahkan sampai ada yang sekaligus punya dua pasangan berbeda tanpa diketahui, malam mingguannya di siring, makan jagung bakar, pegangan tangan, jalan berdua, sesuatu yang benar-benar sederhana kala itu. 

Beranjak menuju SMA, adalah awal pembentukan karakter diriku, masih tetap nakal, sedikit, tapi dari yang dulunya cukup liar, kini menjadi lebih terkontrol, dan berusaha untuk tidak melampaui batas. Sejak SMA juga aku mulai jatuh cinta pada buku, aku suka membaca, aku suka riset, membaca buku-buku filsafat, mulai menulis, dan mempunyai karya buku pertama di awal usia 17 tahun. Tapi tidak berhenti di sana, aku terus mengembangkan diri dengan perjalanan-perjalanan hidup yang seperti itulah adanya. Sebuah pencapaian yang cukup hebat menurutku. Maka dari karena itu, aku juga ingin mengawali usia 20 tahun ini dengan hal-hal hebat. 

Dan hari ini, usiaku genap 20 tahun, dan aku masih menjadi seorang mahasiswa, menekuni keilmuan di bidang jurusan akidah dan filsafat islam. Dan tepat di hari ini, ada banyak hal yang harus mulai aku benahi. Aku ingin mengawali usia kepala dua ini dengan banyak mimpi, dengan banyak aksi, walaupun gagal adalah konsekuensi, maka aku harus menemukan kegagalan itu. Karena sejauh ini, aku hanya menciptakan rangkaian-rangkaian mimpi tersebut, maka aku harus menjemput banyak kegagalan itu terlebih dulu. Aku sangat percaya bahwa kesuksesan yang dialami oleh banyak orang, lahir dari banyak kegagalan yang diterimanya dengan sangat baik, kegagalan yang tidak mematahkan harapan untuk terus meraih impian.

Satu-satunya mimpi terbesarku ketika ingin mencapai usia dua puluh tahun adalah bisa menggapai seratus juta pertama, dan itu bukanlah sebuah keharusan, apalagi kewajiban. Karena setiap orang punya finansial yang berbeda-beda, dan itu bukanlah sebuah masalah. Ini hanyalah perihal impian yang tidak mesti terjadi, tapi cukup diamini. Mungkin di antara banyak orang akan banyak nyinyirnya, toh itu semua bukan hasil keringat sendiri, bukan hasil usaha dan perjuangan karena bekerja sendiri. Betul, itu sangat betul. Tapi kan ini perihal pengelolaan, ada kok orang di luar sana yang hidupnya persis seperti aku atau bahkan lebih, tapi enggak punya kesiapan finansial seperti aku. Dan bahkan sesekali aku juga pernah merasakan bagaimana susahnya perjuangan menghasilkan uang. Pada akhirnya, semua hanya perihal bagaimana kita bisa menghargai apa yang kita lakukan. Terlepas itu adil atau tidak di mata orang lain, setidaknya jalan yang kita tempuh tidak merugikan mereka. Semangat untuk tetap berjuang menjalani hari.

Lantas, apakah impian tersebut tidak aku usahakan? Begini, aku belajar mengelola keuangan dengan baik, walaupun itu masih diberi, toh pemberian itu kan adalah suatu kepercayaan untuk digunakan dengan baik. Setiap buku-buku yang aku beli, itu adalah hasil tabungan dari setiap uang-uang jajan yang diberikan kepadaku, aku tidak pernah meminta untuk dibelikan buku, aku hanya mengatur bagaimana aku bisa mengelola tanpa harus meminta. Cukup ketika diberikan, tanpa harus ada yang dilebih-lebihkan. Fun fact, di umur 16 tahun, aku pernah ikut seminar kewirausahaan, dan dari sana adalah awal aku mulai mengenal yang namanya investasi. Bahwa ada loh cara kita untuk bisa memperkerjakan duit kita, dan hasil-hasil return investasi itu cukup menjanjikan.

Sebelum mengenal instrumen investasi lebih jauh, aku juga sempat bertemu dengan seorang mentor yang membantuku untuk belajar membaca laporan keuangan perusahaan, cara membeli saham, dan mengelola aset-aset dari saham yang kita miliki agar tidak boncos dan rugi. Karena semuanya butuh ilmu, investasi tanpa ilmu, yang ada hanya menghabiskan uang karena kebodohan. Makanya sebelum berinvestasi aset, investasi dulu leher ke atasnya.

For your information juga, masuk di dunia investasi itu terbilang keputusan yang cukup berani bagiku di saat belum sepenuhnya berpenghasilan sendiri, tabungan-tabunganku yang ada itu hampir 90% aku alokasikan ke perusahaan-perusahaan BUMN dengan underlaying berupa surat berharga kepemilikan saham.

Dan beberapa waktu lalu, aku sempat memindahkan dana investasi dari satu sekuritas ke sekuritas lainnya. Karena awalnya dulu aku mempunyai dua instrumen investasi yang sekuritasnya berbeda, reksadana di bibit, saham di ajaib. Tapi kini aku mau menggabungkan keduanya di satu sekuritas yang sama, agar lebih mudah dan tidak memakan banyak ruang untuk aplikasi. Tentu saja aku kaget dengan hasil reksadana yang terkumpul itu, di atas 60 juta. Karena jujur saja, aku hampir tidak pernah mengecek hasil reksadana ini, aku hanya rutin menabungkan uangku untuk menambahkan nilainya, sampai akhirnya terkumpul sebanyak itu.

Tapi kembali lagi, itu memang bukan sepenuhnya hak milikku, orang tuaku memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengelola sebagian dari rekeningnya untuk aku tempatkan di reksadana, dan aku diberikan hak untuk mengklaimnya sebagai kepunyaanku, selama itu tidak dipakai dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Karena memang konsepnya mau berinvestasi untuk jangka panjang, makanya aku diberikan kepercayaan untuk menggunakannya sebagai penambah nilai investasi.

Itu hanya satu hal, terkait apa yang harus aku benahi dari hari ini, ada banyak hal yang harusnya bisa aku ceritakan. Namun, aku memilahnya untuk sebuah kepantasan. Aku bukan seseorang yang begitu pintar atau pun cerdas. Aku hanya seorang mahasiswa pemalas di jurusan aqidah dan filsafat islam yang kebetulan suka membaca buku, suka belajar, suka dan suka mengenai banyak hal baru. Tapi itu semua bukan jaminan kecerdasan, bukan? Aku hanya menyukainya, terlepas dari aku mengetahui hal tersebut, masih ada banyak hal yang tidak aku kuasai di dalamnya.

Realitas-realitas hidup yang aku jalani pun demikian, tidak semua hal yang aku tahu harus bisa aku kuasai. Aku hanya mengetahui sebagai sebuah tanda atau pun fenomena, bukan karena ingin menguasainya, karena, toh apapun yang ada di dalam dunia ini, kita akan terlalu kerdil jika begitu egois untuk menjadi salah satu orang yang bersikeras untuk menguasainya.

Dan aku, di sini, di dunia ini, ingin hidup dengan proses yang terus menerus aku jalani. Aku ingin membentuk nilai yang tidak bisa ditentukan oleh orang lain, aku hanya ingin membentuk nilai itu dengan diriku sendiri hingga kemudian orang lain menghargai nilai tersebut.

Dan salah satu hal yang ingin aku coba adalah, memulai bisnis. Aku bertekad kepada diriku sendiri untuk lebih mawas lagi soal impian-impian itu, oleh karenanya sejak hari ini, konsep-konsep mengenai bisnis itu sudah aku rancang, meskipun belum sepenuhnya matang. Tapi aku tahu, yang harus aku lakukan adalah memulainya, agar aku tahu apa saja kesalahan-kesalahan yang harus aku benahi dari semua awalan ini.

Bukan tanpa alasan mengapa aku menempatkan semua aset-asetku di investasi dan reksadana, bukan tanpa alasan aku belajar persoalan tentang ekonomi, atau pun sebagainya. Aku ingin menjalankan apa yang tidak semua orang bisa dan berani untuk melakukannya. Aku ingin melawan itu, menerjang semua kesulitan itu. Karena aku yakin, kegagalan yang aku bentuk nantinya, adalah kumpulan-kumpulan dari kepingan hikmah yang aku dapatkan. Terlepas dari akhir segalanya nanti akan berhasil atau tidak, itu hanyalah tentang cara kita bagaimana bisa menerimanya dengan hati yang berlapang dada.

Maka, di usiaku yang genap 20 tahun sekarang ini, semua mimpi-mimpi besarku, perlahan akan terus aku hidupkan. Meski jelas, sejak umur 17 tahun saja aku telah memulai hal-hal kecil mengenai impian tersebut. Dan bagiku, untuk membagikan hasilnya di saat sekarang, setelah waktu berjalan 3 tahun lamanya dari kemarin, masih bukan waktu yang tepat untuk mengklaimnya.

Gerusan-gerusan ideologi yang sampai saat ini aku bentuk, membuatku berhasil memandang sinis terhadap masa lalu. Namun, justru memang masa lalu yang kita dalami ke diri kita sendirilah, yang akhirnya membuat kita lebih cepat berkembang. Maka dari karena itu, seberkas catatan acak yang aku tulis ini, kelak akan menjadikan itu sebagai mozaik-mozaik atas jawaban hidup yang siapa tahu nantinya akan kita perlukan. Toh, apapun yang kita cari dari hidup ini, berasal dari dalam diri kita sendiri, maka untuk menemukannya, kembalilah kepada diri sendiri. Dari aku, yang menulis untuk diriku sendiri.
Share: