Sabtu, 24 Januari 2026

Belajar dari sains yang berani salah

Sebagai catatan pembuka di tahun 2026, aku perlu membahas sebuah detail penting sebagai bentuk relevansi atas tiap-tiap postingan tulisan di blog ini ke depannya nanti. Walaupun sejak awal tahun ini, waktuku lebih banyak dihabiskan untuk bermain game, ketimbang baca buku dan belajar. Tapi itu urusan lain, karena toh aku juga suka aktivitas tersebut.

Nah, karena duniaku lebih banyak dihabiskan untuk menulis dan melihat tulisan, enggak heran kalau semua hal yang aku sukai dan pelajari lebih banyak terabadikan dalam bentuk tulisan juga, sebagaimana biasanya aku mengemasnya dalam format esay.

Pertama-tama, aku sedang giat belajar tentang sains. Tapi, aku enggak tiba-tiba langsung minat terhadap sains dalam sekejap waktu, ada latar belakang ceritanya yang cukup panjang. Intinya, ketertarikanku terhadap sains dimulai dari disiplin keilmuan yang sudah aku jalani di institusi pendidikan, lalu dari setiap proses belajar yang berusaha untuk memahaminya, rasa penasaranku muncul perlahan-lahan.

Jadi, setiap tulisan yang aku posting di sini nantinya, tentu saja merupakan hasil belajarku yang berusaha dikemas ulang dalam format esay yang menurutku cukup ringan. Namun, apa yang kelihatannya terkesan akademis, itu sama sekali enggak mencerminkan kebenaran ilmiah, apalagi valid disebut pengetahuan. 

Aku membagikan tulisan di blog ini, semata-mata hanya melemparkan hasil belajarku. Kendati demikian, bukan berarti aku pesimis atas tulisanku sendiri, enggak. Justru, ketika nanti aku memposting tulisan-tulisan baru, aku lagi menguji pengetahuanku sendiri. Kalau memang beneran ada orang yang baca tulisan-tulisan di blog ini, harapannya ya semoga bisa kritis aja dalam menerima informasi.

Jadi, aku mau mulai pembahasan dari kebeneran ilmiah sains. Alasannya, karena aku lagi kagum-kagumnya belajar sains, sehingga aku sampai begitu terpukau dengan metode saintifik para ilmuwan dalam menjelaskan setiap fenomena. Kalau kita tahu, sains ini kan bekerja di ranah yang sifatnya materialistik, dalam artian bahwa semua kesimpulannya ditarik berdasarkan fenomena yang sudah terjadi, semua orang bisa melihatnya, jadi fenomena itu bisa dibuktikan, bisa diuji, dan bisa diverifikasi oleh semua orang. Nah, pembahasan ini juga menjadi poin penting sebagai pondasi atas dua tulisan yang sebelumnya sudah aku posting di blog ini. 

Yang membuatku kagum sama sains tuh bukan karena perkembangan pesatnya di zaman sekarang, tapi intelektualitas para ilmuwan di zaman dulu yang berhasil menemukan cara-cara dalam mengajukan fenomena jadi sebuah pengetahuan. Tapi yang membuatku makin kagum sama sains tuh bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memiliki prosedur untuk mengakui kemungkinan salah. Terkait hal ini nanti akan dijelaskan lebih lanjut. Jadi, sains tuh nggak berangkat dari klaim kebenaran absolut, tetapi dari metode yang memungkinkan untuk dikoreksi.

Kalau kita tahu, orang-orang di zaman dulu tuh kalau ngelihat semua kejadian di alam semesta, mereka menyimpulkannya lewat mitos. Misalnya, pas ada petir di langit. Mereka menganggap petir itu adalah amarah para dewa. Kendati demikian, mitos tuh jadi sistem pengetahuan awal bagi umat manusia. Ia jadi sebuah upaya rasional pada masanya untuk memberi makna terhadap realitas yang belum dapat dijelaskan. Namun, ketika sebuah penjelasan keliru, nggak ada prosedur untuk membantahnya. Ia kebal dari kesalahan, dan justru di situlah letak masalah epistemologisnya. Pengetahuan yang tidak membuka ruang untuk salah, hanya akan membeku jadi dogma.

Sekarang masuk ke era filsuf Yunani, dari Thales, Anaximander, sampai Heraclitus, mereka mulai menanyakan apakah alam semesta ini tunduk pada prinsip rasional? Nah, di titik ini pengetahuan pelan-pelan mulai bergeser dari yang awalnya siapa jadi ke bagaimana. Dari yang awalnya "siapa yang bikin petir?" jadi "gimana prinsip di balik petir?". Artinya, sumber penjelasan berpindah dari yang awalnya otoritatif mitologis menuju hukum dan logos.

Sebelum lanjut lebih jauh, aku mau menegaskan satu hal bahwa alasanku mengagumi sains yang basisnya dari latar belakang pendidikan akademis, yakni filsafat, ya karena emang orang-orang filsafat zaman dulu itu dekat banget sama sains. Jadi ibaratnya kita bilang mereka filsuf ya sama aja kayak bilang mereka saintis, cuma karena zaman itu istilah sains belum ada dan tergabung sama filsafat naturalis, jadilah kita nyebut mereka tuh filsuf. Apa yang hari ini kita sebut sebagai sains modern, sebenarnya lahir dari filsafat alam melalui sebuah upaya reflektif mereka dalam memahami realitas secara rasional dan sistematis. Jadi, sains tuh bukan muncul sebagai lawan dari filsafat, tapi sebagai anak kandungnya, yang kemudian memisahkan diri karena kebutuhan metodologis.

Memasuki abad modern, upaya memahami alam semesta jadi semakin kompleks. Misalnya rasionalisme, begitu besar menempatkan kepercayaan pada akal sebagai sumber utama pengetahuan. Sedangkan empirisisme, menekankan pengalaman inderawi sebagai fondasi segala pengetahuan. Kemudian ada positivisme yang mencoba mereduksi pengetahuan, hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang dapat diverifikasi secara empiris. Masing-masing pendekatan ini menawarkan kekuatan, tetapi juga menyimpan kelemahan mendasar. Misalnya pada rasionalisme, terlalu percaya sama kemampuan akal untuk menyingkap realitas. Empirisisme, nggak bisa menjamin bahwa pola masa lalu akan selalu berlaku di masa depan. Dan positivisme justru bisa menyempitkan pengetahuan hanya pada apa yang dapat diukur, dengan mengorbankan pertanyaan makna.

Makanya nanti muncul pertanyaan tentang batas antara sains dan bukan sains itu di mana? Karena sebenarnya ini bukan persoalan yang bisa berdiri sendiri. Ia berakar pada masalah yang lebih mendasar, yakni pada apa yang membuat sesuatu layak disebut sebagai pengetahuan. Persoalan ini tidak hanya muncul dalam diskursus ilmiah, tetapi juga dalam ranah pengetahuan sehari-hari yang bersifat personal.

Dalam konteks pengetahuan pribadi, kita kerap memperdebatkan apakah sebuah keyakinan bisa dianggap sah karena didukung oleh alasan-alasan yang kita sadari, atau cukup karena ia lahir dari proses kognitif yang bekerja dengan baik, meskipun kita tidak sepenuhnya memahami mekanismenya.  

Nah, di awal abad ke 20, kelompok lingkaran Wina mencoba menjawabnya melalui gagasan verifikasi. Mereka percaya bahwa sebuah pernyataan baru bisa disebut ilmiah kalau bisa diuji langsung lewat pengalaman. Semakin mudah diverifikasi, maka akan jadi semakin ilmiah. Sederhananya, kalau tidak bisa dibuktikan lewat observasi atau eksperimen, ya itu bukan sains.

Kemudian nanti datang Karl Popper dengan gagasannya yang hampir berlawanan, doi bilang bahwa sains itu bukan soal ngumpulin bukti sebanyak-banyaknya untuk membenarkan teori. Tapi, sains itu adalah teori ilmiah yang berani salah. Yakni teori yang memberikan prediksi jelas dan bisa runtuh seketika kalau fakta tidak mendukungnya. Inilah inti dari falsifikasi. 

Perbedaannya sederhana, bagi positivisme logis, teori akan kuat jika bisa diverifikasi. Sementara menurut Popper, teori akan kuat jika berani diuji dengan kemungkinan untuk gagal atau salah. 

Kritik Popper terhadap positivisme logis ini akhirnya mengubah cara pandang kita dalam memahami sains. Melalui hal ini juga kita bisa ngerti kenapa falsifikasi bukan sekadar metode ilmiah, tapi juga gagasan besar sebagai bangunan epistemologi dalam filsafat sains. 

Popper dalam bukunya The Logic of Scientific Discovery mengajukan kritik keras terhadap verifikasi dan induksi sebagai dasar metode sains. Doi ngelihat ada masalah mendasar dari cara kita membuktikan sebuah teori. 

Pertama, masalah induksi. Popper ngasih contoh klasik dengan analogi, bahwa gak peduli seberapa banyak kita ngelihat angsa berwarna putih, mau itu setiap hari dan di mana pun, tapi kita gak bisa bisa memastikan bahwa semua angsa di dunia itu berwarna putih. Kalau cara berpikir kita berdasarkan bukti yang bisa dilihat bahwa ada banyak angsa putih di dunia ini, lalu kita mengajukan teori demikian, maka sekalinya ada satu angsa berwarna hitam, runtuhlah teori semua angsa berwarna putih. Jadi, seribu contoh tentang "iya", nggak sekuat satu contoh "tidak".

Kedua, kelemahan verifikasi. Popper ngerasa curiga terhadap teori-teori yang terlalu mudah dianggap benar. Dia mencontohkan psikoanalisis Freud dan Marxisme, dua teori besar yang kelihatannya selalu punya jawaban atas segala situasi. Bagi Popper, kalau sebuah teori bisa menjelaskan apapun yang terjadi, justru itu bisa jadi tanda bahaya. Karena berarti ia sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa. Ini mirip kayak tipe teman yang selalu punya firasat akurat sama kita. Misalnya saat kita sukses, temen kita bilang bahwa firasatnya benar. Waktu kita gagal, temen kita bilang bahwa firasatnya dari awal udah curiga. Pada akhirnya kita lagi nggak dibuat kagum sama kecerdasannya, tapi sadar bahwa firasat teman kita itu sifatnya lentur banget, bisa dibelokin sesuai keadaan. Nah, Popper melihat hal yang sama ke teori-teori yang mengandalkan verifikasi: ketika sebuah teori terlalu fleksibel, maka ia berhenti jadi alat sains dan berubah jadi semacam ramalan horoskop versi akademik. 

Dari semua itu, Popper mengambil posisi tajam bahwa kekuatan ilmiah sebuah teori tidak terletak pada seberapa mudah ia dibenarkan, tapi pada seberapa berani ia mengambil resiko untuk dibuktikan salah. Bagi Popper, teori ilmiah adalah teori yang pasang badan di hadapan bukti. Jika salah, ya udah, dia gugur dengan terhormat. Kalau bertahan, ia naik kelas jadi lebih kuat. Bukan karena benar, tapi karena belum terbukti salah. Dari sinilah kemudian lahir gagasan besar Popper tentang falsifikasi, sebuah cara pandang yang mengubah sains dari yang awalnya hanya mencari pembenaran, jadi mencari keberanian untuk diuji. 

Menurut Popper, kalau kita mau menentukan mana yang benar-benar sains dan yang cuma kedengaran ilmiah, kita harus melihat apakah sebuah teori bisa dibuktikan salah? Bukan karena teori itu mudah dibenarkan. 

Sesuatu dianggap ilmiah hanya ketika ia berani mengambil resiko empiris. Artinya, harus jelas kondisi seperti apa yang akan membuat teori itu salah. Teori gravitasi Newton adalah contoh teori yang sangat ilmiah karena membuat prediksi yang ketat, kalau planet bergerak dengan cara A, maka orbitnya bergerak dengan cara B. Tidak ada ruang untuk alasan berkilah. Ketika para astronom menemukan bahwa orbit Merkurius tidak sesuai prediksi Newton, itu langsung jadi tanda bahaya, dalam istilah Popper, teori Newton akhirnya terfalsifikasi. Bukan karena teori Newton salah total, tapi hanya kalah di medan tertentu. Dan dari kegagalan itulah Einstein maju membawa teori relativitas yang lebih akurat. Di sini sains bergerak maju justru karena ada teori yang berani salah. Makanya klaim psikoanalisis atau astrologi, itu gak bisa disebut ilmiah, karena gak ada kondisi jelas yang bisa menggugurkan klaimnya yang terlihat lentur dan fleksibel. 

Popper menekankan bahwa sains bukanlah upaya membangun teori yang tidak bisa diganggu gugat, tapi sains adalah proses terus-menerus untuk mencari di mana teori kita keliru, lalu memperbaikinya. Ilmuwan yang baik adalah ilmuwan yang mencari cara dalam menghancurkan teorinya sendiri, bukan membentengi diri agar teori tersebut selalu terlihat benar. Di sinilah keindahan falsifikasi, yakni sebuah keberanian untuk salah, yang justru membuat sains jadi terlihat kuat. 

Pendekatan Popper ini dikenal sebagai rasionalisme kritis, karena Popper percaya bahwa akal adalah alat terbaik kita untuk memahami dunia. Tapi akal tidak boleh dimanjakan, ia harus terus menerus diuji, dikoreksi, dan siap merevisi dirinya sendiri. Rasionalisme kritis mengajarkan kita untuk selalu punya ruang skeptis. Setiap klaim harus bisa dikritik dan diuji oleh bukti. Kemudian, Popper menolak ide bahwa sains menjadi besar karena mengumpulkan banyak kebenaran. Menurutnya, sains tumbuh justru karena berani membuang teori yang salah. Ketika teori gagal menjelaskan data baru, ia harus diganti oleh teori yang lebih kuat. Bukan karena teori baru pasti benar tapi karena sejauh ini ia yang paling tahan banting.

Pada akhirnya, rasionalisme kritis bukan sekadar metode berpikir, tapi juga sikap hidup. Ia mengajarkan kita kebiasaan intelektual yang sederhana tapi penting, bahwa jangan hanya mencari bukti yang mendukung keyakinan yang kita miliki, tapi cari juga bukti yang bisa menyanggahnya. Kalau kita cuma mau mencari pembenaran, kita akan selalu menemukan apa yang ingin kita lihat. Tapi ketika kita berani mencari sanggahan, barulah kita menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Intinya, gunakan akal tapi jangan mudah percaya sama akal. Selalu uji, tantang, dan koreksi cara berpikir kita sendiri. Itulah inti rasionalisme kritis Popper, sekaligus fondasi dari sikap ilmiah yang autentik. 

Share:

Rabu, 31 Desember 2025

Tafsir Ilmiah Sains dan Kitab Suci

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membuktikan Al-Qur’an melalui sains, melainkan membatasi secara metodologis relasi antara tafsir dan sains agar tidak saling merusak.

Pada tulisan sebelumnya aku sudah membahas isu di mana banyak orang sering mengaitkan tentang fenomena sains yang ternyata itu selaras di dalam kitab suci, dengan sarat maknanya bahwa kitab suci telah membahas hal tersebut jauh sebelum sains menemukannya, sehingga hal itu membuktikan betapa istimewanya kitab suci. Kalau logika berpikirnya ingin menyandingkan bahwa sains tidak lebih tinggi kebenarannya dari kitab suci, lantas dengan metode seperti apa menyimpulkan analisisnya?


Alquran ini kan jenisnya adalah teks yang tidak berbicara secara langsung, sehingga kemudian maknanya nanti akan diserahkan kepada masing-masing pembacanya. Maka dari karena itu, sangat tidak heran kenapa di dalam agama saja masih banyak terjadi perdebatan atau perbedaan pandangan, bahkan pada hukum-hukum yang sudah ditetapkan secara pasti, seperti misalnya hitungan tentang waris, faraidh, dan semacamnya. Teksnya tetap, tetapi pemahaman manusia terhadap teks itulah yang beragam.


Walaupun memang, wahyu Tuhan itu turun dalam bentuk lafadz, ayat, dan struktur bahasa. Tapi di luar itu, ada dunia yang membentang, yang juga berbicara dengan caranya sendiri. Kitab suci sebagai wahyu adalah teks yang memiliki struktur makna, arah normatif, dan tujuan teologis. Ia memberikan makna, bukan sekadar informasi. Alam semesta sebaliknya, tidak mengajarkan makna secara langsung. Alam tuh cuma menampilkan keteraturan, pola, dan hukum, yang kemudian ditangkap oleh akal manusia sebagai tanda. Maka yang berbicara sebenarnya bukan alam dalam pengertian literal, melainkan relasi antara fenomena alam dan rasio manusia.


Dengan demikian, alam tidak berfungsi sebagai sumber makna, melainkan sebagai medan penyingkapan tanda. Tanda-tanda ini bersifat terbuka, tidak final, dan membutuhkan penafsiran. Di sinilah sains bekerja. Sains bukan alat untuk menciptakan makna wahyu, tetapi sarana untuk membaca keteraturan alam secara sistematis. Hasil bacaan ini bersifat tentatif dan selalu terbuka untuk koreksi.


Dulu waktu aku masih SMA, pas masih suka baca buku tasawuf, aku selalu ingat sama tulisanku yang ini; alam semesta tuh kayak sajadah panjang di mana kita bisa beribadah dengan Tuhan lewat apa saja melalui alam semesta. Tapi dulu aku nggak ngerti tulisan ini mau kuarahin ke mana, tapi suka aja nulis begitu. Lantas setelah mempelajari sampai ke sini, aku perlu melihatnya dengan cara yang lebih komprehensif.


Kemudian bagaimana caranya tafsir ilmiah terhadap kitab suci mengungkapan makna sains? 


Kita perlu mengingat baik-baik bahwa tafsir itu bukan salinan langsung dari kitab suci, tafsir bukan jadi wahyu kedua setelah Al-Qur'an, tafsir itu hanyalah usaha manusia untuk mencoba memahami isi wahyu dari Al-Qur'an, tentunya dengan keilmuannya semasa hidup di zaman tersebut. Nggak ada manusia yang bisa melompat keluar dari konteks sosial di zamannya, termasuk para ulama yang kita kagumi. Mereka hidup di lingkungan yang dibentuk dengan cara pandang dan ilmu pengetahuan yang tersedia pada waktu itu. Sehingga hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa tafsirnya akan tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. 


Dalam tradisi ushul fiqih, hubungan antara lafadz dan makna telah diklasifikasikan secara sistematis. Lafadz tidak selalu menunjuk pada makna dengan cara yang sama. Ada kalanya makna itu jelas, ada kalanya tidak, ada yang diletakkan untuk tujuan tertentu, dan ada yang digunakan dalam konteks tertentu. Dari sini lahir empat bentuk petunjuk makna.


Pertama, ibarah nash, yaitu ketika lafadz menunjuk langsung pada makna yang dimaksudkan oleh teks. Makna ini bersifat eksplisit dan dapat dipahami tanpa memerlukan penalaran tambahan. Kedua, isyarah nash, yakni ketika struktur lafadz mengandung petunjuk makna tambahan yang tidak dimaksudkan secara langsung, melainkan tersirat. Ketiga, dalalah nash, yaitu makna yang lahir dari konsekuensi logis teks, bukan dari lafadz literal maupun isyarat tersamar. Keempat, iqtida nash, yakni keadaan ketika suatu teks menuntut adanya makna tambahan agar maksudnya menjadi utuh dan tidak absurd.


Ketika kita mencoba membaca ayat tertentu dengan kacamata sains, otomatis kita lagi berpindah dari yang awalnya membaca makna tersurat, ke membaca makna tersirat. Kita bukan lagi melihat bahwa “ayat ini mau ngomong apa,” tapi “ayat ini mau menunjuk ke apa.” Nah, pola ini secara metodologis paling dekat dengan isyarah nash, dengan catatan bahwa isyarah nash ini tidak menabrak ke ibarah nash, serta tidak menafikan makna literal. Konsekuensinya, setiap klaim tafsir ilmiah tidak boleh naik kelas menjadi makna pasti (qat’i), apalagi dijadikan dasar akidah atau klaim kebenaran absolut.


Secara ushulli, tafsir sains itu nggak otomatis haram atau ngawur. Dia cuma berada di ruang interpretasi yang sifatnya multivalen. Dengan kata lain, sah sebagai kemungkinan makna, tapi tidak dapat dipaksakan sebagai satu-satunya makna yang dikehendaki wahyu. 

 

Makanya dalam istilah arab ada yang namanya fahmun nash’i, yakni pemahaman terhadap teks yang sifatnya itu stabil. Dan fahmul waqi, yakni pemahaman terhadap realitas yang terus bergerak. Jadi posisi tafsir terhadap sains ini berdiri di kaki fahmul waqi. Ia sah sebagai kemungkinan interpretasi, tetapi tidak dapat dipaksakan sebagai makna pasti dari teks wahyu.


Ketika tafsir sains keliru ditempatkan sebagai fahmun nash’i, makna wahyu menjadi bergantung pada pengetahuan ilmiah yang sifatnya sementara. Akibatnya, setiap sains direvisi, maka akan berpotensi mengguncang pemahaman keagamaan. Jadi, pemisahan antara fahmun nash’i dan fahmul waqi bukan untuk memisahkan wahyu dari realitas, melainkan untuk menjaga agar wahyu tetap normatif dan sains tetap berada di wilayah refleksi manusia.


Kadang biasanya orang sering ketipu dan mengira bahwa tafsir sains itu kayak Al-Qur’an lagi ngasih bocoran sains modern. Padahal itu cuma kompatibilitas interpretatif, bukan klaim bahwa ayat itu memang sedang menjelaskan fenomena sains. Tafsir sains dalam konteks ini, lebih tepat dipahami sebagai usaha manusia membaca ulang teks wahyu dengan khazanah pengetahuan yang baru, bukan sebagai verifikasi ilmiah atas kebenaran wahyu. Tafsir sains akan jadi bermasalah nanti bukan karena sainsnya, tetapi karena ia ditempatkan pada wilayah makna yang tidak dirancang untuk menampung perubahan.


Perlu diingat bahwa tafsir ilmiah tentunya berbasis ra'yi, atau pemahaman pribadi. Kalau berbasis ra'yi, kemudian siapa yang menjamin ra'yi-nya benar? Makanya nanti di dalam tafsir Bayani dan Irfani, memiliki tradisi yang kuat karena memastikan akurasi makna tekstual Al-Qur'an, dan menjaga kesetiaan pada konteks bahasa arab di zaman wahyu. Tafsir-tafsir seperti ini kerap dipelajari di kalangan santri yang sekolah di pesantren. Namun, ada sedikit masalah, tafsir ini tidak siap menghadapi fakta baru dari ilmu pengetahuan, karena mereka membaca ayat sesuai pengertian zaman hidupnya. Ditambah keterbatasan mufasir dengan lingkungannya yang kemudian bertabrakan dengan sains modern. 


Tapi batasan di sini bukan berarti itu tidak digunakan, justru tafsir Bayani akan sangat digunakan untuk melanjutkan kepada tafsir yang berikutnya. Seperti tafsir Burhani, yakni tafsir yang filosofis. Kemudian tafsirnya valid digunakan, dibandingkan tafsir Bayani dan Irfani, atau tafsir ilmiah sekali pun; karena tafsir tersebut adalah tafsir yang paling cocok digunakan di zaman sekarang. 


Imam al-Ghazali mengatakan dalam bukunya yang berjudul Al-I'tiqad fi Al-Iqtishad; mereka akhirnya memahami cara untuk menyatukan tuntutan wahyu dan akal. Mereka benar-benar yakin bahwa tidak ada kontradiksi antara wahyu tradisi dan kebenaran akal.


Nah, sekarang bagaimana posisi tafsir ilmiah atas fenomena sains bisa dilakukan? Di sini, tafsir ilmi itu baru bisa dikatakan tafsir ilmi yang bukan cocoklogi, ketika dia disandingkan pada kebenaran ilmiah, fakta ilmiah, bukan pada saat masih teori ilmiah. 


Karena sains itu, kalau sudah jadi kebenaran ilmiah dengan fakta ilmiahnya, itu relatif stabil terhadap teori, walaupun masih membuka ruang reinterpretasi. Nah, jadi tafsir ilmi itu bukan disandarkan pada teori ilmiah yang masih bisa berubah, tapi pada eksperimen atau observasinya.


Jadi kalau misalnya ada yang menafsirkan Al-Quran untuk membuktikan fakta sains, itu jelas cocoklogi. Tapi seandainya berangkat dari fakta ilmiah berbasis observasi dan eksperimen, kemudian dicari ayat Alquran-nya yang sesuai; walaupun ini bisa jadi pembenaran. Tapi ada argumentasi di sisi yang lain menurut tafsir ilmiah seperti Bucaillisme, beliau mengatakan bahwa hal tersebut bukan soal dicocoklogi, karena sains tidak membutuhkan itu. Tapi karena kita ingin tahu I'jaz Al-Qur'an, bahwa Alquran itu benar-benar I'jaz. Sekalipun I'jaz Al-Qur'an bukan hanya dipandang dari pemaparannya pada fakta ilmiah, masih banyak hal lain. Cuma yg nanti jadi masalahnya adalah bagaimana cara implementasi I'jaz Al-Qur'an yang benar. 


Kita tidak sedang membicarakan bahwa ketika kita tidak setuju, kemudian kita menolak I'jaz Al-Qur'an. Atau ketika kita setuju, kemudian kita mendukung I'jaz Al-Qur'an. Bukan begitu. Posisinya harus jelas dalam menempatkan koridor sains dan tafsir atas kitab suci yang berusaha menyandingkannya dengan fenomena sains.


Sehingga, usaha metodologi seperti Bucaillisme ini juga rawan menghadapi permasalahan saat mencoba menggabungkan sains dan kitab suci melalui tafsir, hanya karena ingin melihat I'jaz Al-Qur'an. Bucaillisme memang berangkat dari niat yang tampak mulia, yakni berusaha menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an melalui kesesuaiannya dengan temuan sains modern. Namun, justru di titik inilah problem metodologisnya muncul. Metode ini seolah-olah menjadikan sains sebagai kunci pembuka terhadap makna ayat kitab suci, bukan sebagai alat refleksi atas tanda-tanda Tuhan di alam semesta. Sehingga kesannya tampak seperti ayat-ayat Al-Qur’an dipaksa untuk berbicara ilmiah, kemudian diklaim sebagai bukti keajaiban. Padahal yang terjadi sering kali hanyalah pencocokan ulang makna teks agar selaras dengan teori tertentu. Dari sini bisa muncul masalah teologis, kebenaran tentang wahyu Tuhan digantungkan pada stabilitas sains.


Makanya nanti pertanyaannya, apakah cocoklogi yang tafsir ilmi ini berdasarkan definisinya mencapai kesepakatan? Nah ini belum tentu. Tafsir ilmi yang dibahas ini berdasarkan pada tafsir-tafsir yang mencari kecocokan antara kaidah ilmiah atau teori ilmiah terhadap Al-Qur'an. 


Ketika digunakan pada uji coba sains, tafsir Bayani, tafsir Irfani, atau tafsir Ilmi juga boleh dilakukan secara deduktif. Disebut boleh karena secara deduktif, Al-Qur'an itu diciptakan oleh Allah yang kebenarannya hanya mutlak milik Allah. Para penafsir hanya bisa mereka-reka sehingga mendekati kebenarannya, dan itu belum pasti benar bahwa ayat yang dimaksud berarti selaras dari kehendak Allah yang mewahyukannya.


Sedangkan dalam sains, kebenaran mutlaknya tidak ada, karena dalam sains itu harus ada peluang yang bisa difalsifikasi. Makanya ketika digunakan pada uji coba sains menggunakan pendekatan tafsir ilmiah. Maka tafsir ilmiah akan goyah ketika dicocokkan kepada hukum yang ada secara teori, sedangkan tafsir burhani bisa stabil karena tafsirnya bisa diadaptasi tanpa mengorbankan makna wahyu. Di sini, posisi tafsir burhani bukan karena secara tafsir ia lebih modern, tapi karena ia adaptif tanpa merusak makna. Ia menjadi unggul karena fleksibel secara rasional tapi disiplin secara makna. Kalau nanti sains berubah, ayatnya gak akan berubah. Karena yang berubah adalah tafsirnya. Sama kayak hukum waris, ayatnya tetap, tapi ulama bisa beda cara menerapkan hitungan atau konteks sosialnya. 

Jadi, tafsir ilmiah terhadap sains pada kitab suci bukan tentang menyatukan pemahaman atas kitab suci yang disandarkan pada fenomena sains, tapi tentang bagaimana masing-masing di antara keduanya ditempatkan secara proporsional. 


Tafsir ilmiah menjadi sah sejauh ia dipahami sebagai usaha interpretatif dalam ranah fahmul waqi, bukan sebagai penetapan makna teks dalam fahmun nash’i. Ketika tafsir sains dipaksa menjadi makna wahyu yang sifatnya final, yang terjadi bukan lagi soal menguatkan iman, tapi justru menimbulkan kerentanan dalam hal teologis. Karena makna wahyu digantungkan pada temuan ilmiah yang sifatnya tentatif dan terbuka untuk revisi.


Kehadiran kitab suci sebagai wahyu akan tetap berdiri dengan keistimewaannya tanpa harus bergantung pada validitas ilmiah. Sementara sains menjadi perangkat yang membantu kita dalam melihat tanda-tanda Tuhan di alam semesta, tetapi ia bukan jadi kunci utama untuk memahami makna wahyu. Sehingga, relasi antara wahyu dan sains seharusnya dibangun bukan di atas klaim pembuktian, melainkan pada kesadaran epistemik. Wahyu dijaga dalam wilayah normatifnya, sains dibiarkan bekerja dalam otonominya. Di titik inilah dialog keduanya menjadi sehat, tidak saling menundukkan, dan tidak juga saling menegasikan.

Share:

Selasa, 09 Desember 2025

Hubungan ayat kitab suci dan sains

Selama ini kita sering mendengar atau membaca pernyataan bahwa ketika ada penemuan ilmiah modern, ternyata Alquran telah lebih dulu membicarakannya sejak 14 abad lalu. Nah, menurutku klaim semacam ini tuh biasanya digunakan sebagai argumen untuk menunjukkan bahwa Alquran memiliki keistimewaan, sekaligus menjadi bukti keotentikan wahyu Tuhan. Tapi aku disclaimer dulu dari awal bahwa di sini aku sama sekali enggak meragukan kebenaran Al-Qur'an sama sekali, justru di sini aku ingin menegaskan bahwa Al-Qur'an tuh istimewa dengan cara dia berdiri di wilayahnya sendiri.

Nah sekarang kembali lagi dengan klaim keselarasan ayat-ayat dari kitab suci yang relevan dengan penemuan ilmiah modern, coba kalau kita menggunakan logika dan cara berpikir yang sama, harusnya kita juga berlaku adil ketika informasi serupa muncul dalam kitab atau tulisan yang lebih tua daripada Alquran. Apakah itu artinya kitab tersebut lebih benar? Atau justru layak dianggap setara kesuciannya?


Contohnya dalam kitab Weda dalam himne-himne filosofis di bagian Samhita dan Rigveda, terdapat uraian mengenai kosmologi dan konsep partikel subatomik. Pemeluk agama Hindu bisa aja berargumen bahwa ajaran tersebut telah muncul ribuan tahun sebelum ilmu pengetahuan menemukan bukti empirisnya. Begitu pula dengan Kitab Yesaya pasal 40 ayat 22 dalam tradisi Kristen yang menyebut “dia yang duduk di atas lingkaran bumi.” Pernyataan ini sebenarnya juga mengandung perdebatan tafsir dan indikasi sebagai pengetahuan awal mengenai bentuk bumi yang bulat, tapi pernyataannya sudah ada jauh sebelum Galileo atau Kopernikus lahir.


Jika logika pencocokan seperti ini diterima tanpa kritik, maka kita juga harus menerima bahwa klaim keilahian dan validitas kitab lain memiliki argumen yang sama kuatnya. Ini tentu menjadi persoalan bagi umat Islam yang meyakini Alquran sebagai kitab paling benar, final, dan lengkap. Kalau kitab suci lain maupun pemikiran filsafat bisa mengajukan klaim serupa, maka posisi eksklusivitas Alquran menjadi problematis.


Fenomena serupa tidak hanya muncul pada teks keagamaan. Para filsuf Yunani kuno juga telah membicarakan konsep-konsep yang menjadi dasar sains modern jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan. Demokritos misalnya, merumuskan gagasan atomisme, bahwa seluruh realitas terbentuk dari partikel kecil tak terbagi bernama atomos. Gagasan ini mirip dengan teori atom modern yang berkembang pada abad ke-19, meski kemudian direvisi oleh temuan subatomik. Kemudian adalagi Aristoteles yang mengembangkan teori mengenai fisika, biologi, dan astronomi dan memengaruhi ilmu pengetahuan selama berabad-abad, sementara itu Eratosthenes pada 200 SM, berhasil menghitung keliling bumi dengan menggunakan cahaya matahari di dua kota dan hasilnya memiliki tingkat akurasi yang mengejutkan.


Lantas, apakah kebenaran sebuah kitab suci dapat dinilai dari seberapa banyak ia memuat informasi sains yang baru dipahami manusia di masa depan?


Soalnya, kebenaran sains itu bersifat tentatif menggunakan metode falsifikasi. Jadi kebenaran dalam sains tidak pernah final. Sementara kebenaran dari kitab suci merupakan kebenaran mutlak yang bersumber langsung dari Tuhan. Makanya ketika teori Newton tentang gravitasi, yang bertahan ratusan tahun, pada akhirnya dianalisis ulang oleh relativitas Einstein. Jika sains selalu berubah mengikuti data dan observasi baru, bagaimana kita bisa menyimpulkan bahwa fakta sains hari ini merupakan ukuran kebenaran wahyu yang sifatnya mutlak? 


Di sisi lain, ketika ayat Al-Qur'an dicocokkan dengan temuan sains, apakah itu benar mencerminkan makna yang dimaksud oleh Al-Qur'an, atau hanya hasil penafsiran kita yang disesuaikan dengan temuan ilmiah modern? Biar kita merasakan keimanan yang lebih kuat jika ada fenomena sains yang ditemukan dan itu relevan dengan kitab suci?


Dalam tradisi tafsir terdapat konsep muhkamat dan mutasyabihat. Ayat muhkamat memiliki maksud yang tegas dan tidak membutuhkan penafsiran rumit, biasanya terkait hukum dan keyakinan inti. Sementara ayat mutasyabihat lebih multitafsir, ini membutuhkan pendekatan lebih dalam agar maknanya dapat dipahami. Banyak ayat yang hari ini dihubungkan dengan sains termasuk kategori ayat mutasyabihat, seperti pembahasan tentang penciptaan alam atau fenomena kosmik, yang mungkin bersifat simbolik atau metaforis.


Hal ini berkaitan pula dengan istilah qath’i dilalah dan zhonni dilalah. Qath’i dilalah menunjukkan makna yang pasti, sementara zhonni dilalah menunjukkan makna yang bersifat dugaan atau terbuka terhadap interpretasi. Ayat mutasyabihat termasuk dalam zhonni dilalah, sehingga pencocokannya dengan teori ilmiah dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda.


Sederhananya, kalau kita mencocokkan ayat yang berkaitan dengan fenomena sains, kita tahu nggak maksud sesungguhnya dari ayat tersebut itu apa? Apakah memang ayat itu ditujukan untuk menjelaskan fenomena sains? Coba pikirkan ulang sebagai umat muslim, Alquran itu kan secara luas dianggap sebagai sastra terbaik, mukjizat terbesar, dan standar kefasihan yang tidak tertandingi karena keindahannya yang memukau.


Karena itu, jika pencocokan dilakukan sepihak, maka ketika temuan ilmiah bertentangan dengan tafsir tertentu, seperti pada pembahasan evolusi, DNA, atau asal-usul manusia purba, pencocokan tersebut menjadi buntu. Karena enggak ada titik temu. Dalam konteks penciptaan manusia misalnya, Al-Qur'an sering dipahami secara tekstual merujuk pada konsep manusia berasal dari pasangan pertama, yakni nabi Adam dan Hawa. Ini jelas berkonflik dengan teori evolusi jika pendekatan yang dipakai adalah pencocokan literal.


Sains itu berdiri secara objektif, berdasarkan apa yang bisa diamati, diukur, dan diuji. Objeknya nggak berubah, tapi penafsirannya berubah mengikuti metode, instrumen, dan paradigma. Karena itu ilmu pengetahuan berkembang, sementara wahyu bergerak dalam ranah nilai dan makna, dan dia sifatnya absolut.


Ketika ayat Al-Qur'an dipaksa selalu selaras dengan penemuan ilmiah, maka akan muncul inkonsistensi. Misalnya ayat yang membahas tentang langit yang terentang atau meluas kemudian dikaitkan dengan teori Big Bang. Atau ayat yang membahas tujuh lapis langit yang kemudian dihubungkan dengan gagasan multiverse. Pada akhirnya ayat yang sesuai akan disandingkan, yang tidak sesuai akan diklaim sebagai metafora. Mekanismenya malah jadi selektif.


Padahal, kalau kita mau belajar lebih dalam. Ilmuwan muslim yang hidup di abad pertengahan waktu Islam lagi masa jaya-jayanya, nggak pernah ada dari mereka yang menyamakan antara ayat dari kitab suci saat mengembangkan pengetahuan sainsnya. Contohnya seperti Ibnu Al-Haytham atau populernya di Barat dengan sebutan Al-Hazen, merupakan seorang bapak ilmu optik modern. Di bukunya yang berjudul Al-Manazir, membangun teori tentang cahaya dan penglihatan lewat eksperimen yang metodologis. Dia nggak ngambil ayat dari kitab suci dulu buat bikin hipotesis, tapi dia pakai oberservasi, penelitian, eksperimen, analisis data, bahkan metode ilmiah.


Contoh lainnya adalah Ibnu Sina atau populernya di Barat dengan sebutan Avicenna, dia menulis salah satu ensiklopedia medis terbesar di dunia yang judulnya Al-Qonun fi Tib, dalam risetnya dia nggak menyambungkan ayat suci untuk disesuaikan dengan temuan ilmiahnya. Dia murni pakai logika, eksperimen, dan pengamatan empiris.


Jadi, apa yang dilakukan oleh ilmuwan muslim di abad pertengahan ini menjadi penting buat kita, bahwa mereka nggak pernah takut atau merasa perlu menyambungkan agama dengan sains, pada saat mereka melakukan penelitian. Karena mereka sudah paham bahwa agama dan sains itu berdiri di wilayahnya masing-masing, punya metodologi masing-masing. Agama memberikan nilai moral dan spiritualitas, sementara sains memberikan pemahaman tentang alam semesta. Jadi nggak perlu dipaksakan untuk nyambung satu sama lain, dan bukan untuk disambungkan apalagi disamakan juga.


Tapi bukan dalam artian bahwa mereka (para ilmuwan muslim) ini nggak ngerti wahyu Tuhan. Justru mereka ini mengerti betul tentang teologi, ada kok gagasan-gagasan mereka terkait teologi dan itu berdiri secara terpisah. Bahkan Ibnu Sina sendiri sampai disesatkan oleh al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah karena Ibnu Sina punya filsafat emanasi terkait filosofi yang dia yakini saat itu. Tapi mereka juga paham, memasukkan wahyu Tuhan ke metodologi sains, hanya membuat hasil temuan mereka jadi nggak universal, artinya hanya bisa diterima oleh umat muslim aja. Sementara nilai dari sains itu harus universal, biar bisa diterima semua orang tanpa pandang agamanya. 


Mereka memandang wahyu sebagai sumber nilai dan motivasi, tetapi bukan parameter pengujian kebenaran ilmiah. Makanya ilmuwan muslim ini kan juga belajar dari ilmuwan lain yang bukan muslim, yang pada saat itu punya Baytul Hikmah di Baghdad, tempat di mana semua ilmu pengetahuan Yunani kuno diterjemahkan, dipelajari, dan diteliti ulang, semua itu terasa biasa aja buat mereka. 


Kalau konsep cocoklogi ini dilakukan secara terus menerus tanpa mengerti konteksnya, hanya akan membuat salah paham soal agama, lantas membuat agama itu terkesan jumud. Padahal wahyu pertama umat Islam yang turun pertama kali dibawakan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saat itu adalah "iqro" artinya bacalah. Maksudnya bisa aja berarti kita disuruh untuk mempelajari dan mengeksplorasi dunia ini dengan cara yang mendalam.


Kalau belajar dari sejarah ilmuwan muslim yang hebat itu, harusnya kita juga bisa belajar bahwa saat membaca ayat-ayat dari kitab suci, kita harusnya menemukan pemicu bagaimana caranya kita mempelajari alam semesta lewat metodologi yang sudah disediakan oleh Tuhan. Ilmuwan-ilmuwan muslim tersebut, mengembangkan temuan ilmiahnya dengan banyak cara tanpa sekali pun menyandingkan temuannya kepada ayat di dalam kitab suci.


Untuk menulis keresahan ini aja, aku membaca puluhan paper yang mengkaji keterkaitan ayat-ayat kitab suci dengan fenomena sains. Paper yang aku masukkan di tulisan ini cuma beberapa aja sebagai gambaran umumnya. 


Jadi, beberapa dari paper yang sudah aku baca itu punya kesan yang kuat untuk menunjukkan bahwa agama  itu sangat relevan dengan zaman modern melalui temuan sains yang selaras dari ayat dalam kitab suci. Aku sih berharapnya paper ini tuh cuma hasil persepsi pribadi penelitinya aja yang bersifat subjektif dengan landasan-landasan yang berbasis referensi ilmiah. 


Contohnya dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Ajar Permono dengan judul "Bucaillisme Ayat-Ayat Sains: Sebuah Kritik Metodologi" mengatakan bahwa dalam pengembangan sains, para ilmuwan "wajib" mencari dasar pijakan pada ayat-ayat Qur'an baik yang tersurat atau tersirat. Konsekuensinya, manakala terdapat pertentangan antara Qur'an dan sains, maka sainslah yang disalahkan dan dinafikan.


Coba, reaksi kita pas membaca hasil pembahasannya, gimana? Masa penemuan sains disalahkan hanya karena bertentangan dengan Alquran? By the way, penggalan kutipan tersebut tidak mewakili keseluruhan isinya, ya.

Menurutku, Tuhan mewahyukan Alquran sudah cukup istimewa, ketimbang sains yang kebenarannya pun masih bisa tumpang-tindih oleh banyak teori. Hanya saja, fakta-fakta ilmiah tuh akan menjadi terasa benar karena masuk akal oleh logika melalui pembuktiannya. 


Misalnya dalam paper lain dengan judul "Qur'an on Embryology: A study of Quranic and modern concept of human development", ditulis oleh Ali Mohammad dari India, papernya membahas perbandingan antara teks Qur'an serta interpretasinya mengenai tahapan penciptaan manusia dan konsep embriologi modern. Penulisnya menelaah klaim bahwa beberapa ayat Qur'an mengandung pengetahuan embriologi modern dan menyelidiki apakah klaim itu valid dari sudut pandang biologi. Kenyataannya, paper ini cuma membahas interpretasi istilah, dan hasilnya bergantung pada tafsir.


Dalam paper lain lagi dengan judul "Islam and evolution: A brief review of quranic concept and contemporary thoughts", ditulis oleh Fozia Sadaf seorang dosen dari Pakistan. Papernya membahas konsep evolusi manusia dari perspektif ilmiah yang dikonfrontasikan dengan pandangan dalam Al-Qur'an mengenai penciptaan manusia. Tapi paper ini sifatnya hanya literatur review, bukan studi empiris baru, paper ini lebih banyak menyajikan argumen dan posisi interpretatif. Jadi tidak ada kesimpulan yang membuktikan evolusi atau menolaknya secara ilmiah, hanya mendata posisi-posisi aja.


Dalam paper yang ditulis oleh Muhammad Patri Arifin dengan judul "Applied Science dalam Wacana Tafsir Ilmi" menyatakan dalam kesimpulannya bahwa penafsiran Al-Quran dengan pendekatan ilmiah tidaklah dimaksudkan untuk menundukkan Alquran dengan teori-teori ilmiah. Akan tetapi berupaya untuk menjelaskan dan menyingkap hikmah isyarat-isyarat ilmiah dalam ayat-ayat kauniyah dengan menjadikan teori dan fakta ilmiah sebagai bukti kemukjizatan Alquran dari sisi isyarat ilmiah (I'jaz al-'ilmy) yang terkandung di dalamnya. 


Nah untuk paper terakhir ini, aku perlu sedikit menjelaskan terkait I'jaz al-'ilmy, singkatnya ini tuh usaha membuktikan kesakralan teks kitab suci melalui kecocokan dengan ilmu modern, dan itu dianggap sebagai bukti bahwa kitab suci tersebut adalah wahyu yang berasal dari Tuhan yang maha mengetahui masa depan. 


Masalah utamanya, I'jaz al-‘ilmy bukan ilmu, tapi metode penafsiran yang bersifat retroaktif. Tahapan umumnya kayak gini; sains menemukan sesuatu. Umat mencari ayat yang kira-kira mirip. Lalu ditafsir ke arah temuan baru. Kalau sains berubah, tafsirnya ikut berubah. Dalam istilah epistemologi, ini jadi bentuk confirmation bias.


Dari sini kita sudah bisa melihat polanya yang semakin keliatan jelas, paper-paper yang bertebaran dalam konteks ini hanya menyandingkan data-data sains yang diselaraskan melalui kitab suci, nanti hasil kesimpulannya bersifat interpretatif, dan sama sekali nggak ada penegasan yang memastikan hasil penelitiannya bisa menyandingkan keterkaitan fenomena sains dalam kitab suci secara pasti.


Sampai sini persoalannya jadi jelas, kalau sifatnya hanya tafsiran, berarti dalil agama yang otentik dari kitab suci akan melalui proses penalaran si penafsir dengan metodenya sehingga menjadi sebuah dalil. Nah problemnya adalah, tidak semua dalil agama dari hasil tafsiran, memiliki kebenaran yang sama dengan dalil agama yang otentik. Jangan malah menyamakan kedudukan tafsir atas kitab suci, lantas membuat kita meyakininya sebagai wahyu yang sama seperti kitab suci tersebut, lalu dicocokkan terhadap fenomena sains


Lagi-lagi aku perlu disclaimer keras bahwa aku bukan sedang merendahkan ahli-ahli tafsir, aku hanya berusaha membangun bagaimana cara kita melihat hasilnya dalam implementasi keilmuan dalam ranah-ranah tertentu. 


Jadi sebenarnya yang bermasalah itu bukan karena keyakinan kita terhadap kitab suci yang membahas fenomena sains, tapi bagaimana metodologi kita memandang kitab suci dan fenomena sains. Karena kitab suci akan selalu relevan bahkan tanpa harus dijadikan bukti sebagai relevansi dalam fenomena sains.

Share:

Sabtu, 29 November 2025