Sabtu, 03 Juli 2021

Perempuan cantik, menarik?


Teman saya tiba-tiba menyodorkan sebuah pertanyaan random, benar-benar random. Seperti sebuah angin yang tiba-tiba saja berhembus secara tiba-tiba. Bagai petir yang tiba-tiba menggelegar di siang yang terik tanpa ada mendung barang setitik. 


Di sebuah perjalanan pulang saat akan menuju rumah, sehabis membincangkan banyak hal di sebuah coffeshop, entah kenapa teman saya seperti ketinggalan tanya dan baru sempat mengingatnya ketika kami sudah ingin menuju persimpangan komplek rumah saya, dia tiba-tiba bertanya “Apa sebenarnya definisi wanita cantik?” Saya menerima pertanyaan itu sebagai pertanyaan yang benar-benar menarik. Saya memelankan laju motor sejenak, kemudian memberikan indikasi dan ruang waktu untuk memikirkannya sejenak.


Benar juga, kadang banyak orang yang menyebut wanita lain di luar sana sebagai wanita yang cantik. Namun, apa sesungguhnya kecantikan yang ia sebut itu? Dari mana ia mampu menyebut wanita itu sebagai wanita cantik? Saya tiba-tiba dibuat berpikir keras. Ternyata, hal-hal sederhana yang biasanya dilakukan orang lain bisa menjadi hal-hal rumit untuk dijelaskan.


Saya mengasumsikan kecantikan pada seorang perempuan itu karena ada sesuatu yang menarik dalam dirinya, hingga ia bisa dikatakan cantik karena ia telah memenuhi dirinya sebagai daya tarik yang membuat orang lain merasa tertarik padanya dan mengatakan bahwa ia cantik. Tidak mungkin kita mengatakan keindahan pada hal-hal buruk yang ada di depan mata kita. Setidaknya, yang secara spontan kita keluarkan adalah ketidaksukaan kita terhadap hal buruk itu, hingga kita tidak menemukan ketertarikan di dalamnya.

 

Lalu, jika orang-orang sering mengatakan para wanita itu sebagai cantik secara spontan dan tiba-tiba, itu artinya dia hanya melihat suatu keindahan secara sekilas dan tiba-tiba. Sebenarnya, saya tidak ingin mengatakan mereka bodoh karena telah mengatakan para wanita itu cantik dari yang telah ia lihat dengan matanya, karena sebenarnya yang mereka katakan cantik itu hanya pilihan sembarang dari yang telah dilihatnya.


Kecantikan seorang wanita itu terlahir dari dalam diri wanita itu sendiri, ada sesuatu dalam dirinya yang bisa membuat orang lain merasa tertarik padanya hingga mereka berkata cantik. Apabila seorang perempuan tidak memiliki daya tarik dalam dirinya, dia akan  menemukan kehampaan atas dirinya sendiri. Saya ambil contoh, ada seorang wanita yang penampilannya sangat biasa dan tidak ada orang lain yang mampu menilainya cantik dari kesederhanaannya. Namun, jika ada seseorang yang mengatakan ia cantik dengan pembawaan karakter yang ada dalam diri wanita tersebut, maka lahirlah kecantikan sesunnguhnya yang tidak bisa dilihat oleh orang lain sebagai sebuah kecantikan yang biasa. Seperti misalnya karena pikirannya yang kritis mungkin, atau karena ia produktif dalam setiap bakatnya, dan orang lain mengagumi itu sebagai sesuatu yang menurutnya menarik hingga mereka mampu melihat kecantikan dirinya yang utuh.


Jadi, cantik itu bukan semata-mata tentang responsif secara tiba-tiba dari fisik seseorang. Cantik itu adalah ketertarikan kita pada sesuatu yang ada dalam diri seseorang hingga kita mampu mengatakan ia sebagai seseorang yang benar-benar cantik. Jadi, kalau ada seseorang yang secara tiba-tiba mengatakan para wanita itu cantik dari pandangan matanya, itu adalah sikap responsif seseorang yang sifatnya sangat-sangat sementara. Karena perlahan-lahan, saat kita mengevaluasi kalimat yang kita ucapkan dengan mengenali karakteristik seorang perempuan itu tadi, maka baru akhirnya kita mengerti bahwa masing-masing orang punya kacamata yang beragam dalam menilai kecantikan seorang perempuan. Dan seperti yang sering kita temukan adanya di manapun kita menangkapnya, bahwa cantik itu adalah relatif. Tinggal bagaimana kita mengintervensikannya sebagai penilaian adaptif.

Share: