Rabu, 31 Maret 2021

Ruam Genggam [Book Review]

 



Ruam Genggam, karya Judith Chung, terbitan bukumojok.

Saya membeli buku ini saat menjelang akhir tahun 2020, dan baru menuliskan review-nya di tahun 2021. Sangat menyayangkan sekali rasanya jika saya tidak menuliskan pendapat pribadi saya mengenai buku ini, meskipun saya baru sempat menuliskannya setelah 6 bulan lebih saya memiliki bukunya.


Buku ini menurut saya memiliki isi yang tidak biasanya dari buku kebanyakan seperti pada umumnya, pendapat-pendapat yang dibawakan oleh penulis dalam buku ini dibawakan dengan gaya bahasa yang sangat menarik dan tidak membosankan, terlebih jika itu adalah isu kehidupan yang menurut kita semua begitu sulit disampaikan. Namun, penulisnya mampu membawakan itu semua dengan kemasan yang cukup apik.


Jujur saja, awalnya saya merasa asing dengan buku seperti ini. Sewaktu tengah berkunjung ke toko buku langganan saya, saat itu saya dalam keadaan tengah memilih-milih buku, lalu kemudian pandangan saya terhenti pada buku ini. Satu-satunya alasan mengapa saya ingin membeli buku tersebut karena cover bukunya yang cukup menarik dan kutipan singkat di bagian depan cover. Aku jatuh cinta padamu, kala kita sedang duduk berdua dan menjatuhkannya lebih dalam lagi, kala kita sedang tidak bersama.


Bagi saya, buku dengan cover berwarna hitam selalu memiliki aksen yang cukup menarik. Terlebih pada kenyataannya saya menyukai seperti buku-buku terbitan Gradien Mediatama yang dominan hasil terbitannya menggunakan cover berwarna hitam. Selain minimalis, cover berwarna hitam pada buku menurut saya juga menjadi isyarat bahwa keluasan makna cukup digambarkan dengan sesingkat kata. Dan warna hitam selalu mampu menjadi daya tarik bagi kata tersebut untuk diselami lebih lanjut. Biar nanti isi yang menjelaskan semuanya, dan nyaris membuat hati jatuh cinta dalam tulisan-tulisannya.


Bahkan karya buku ke dua saya yang berjudul Tirani Logika juga memiliki desain cover berwarna hitam, dan sebagai penulisnya saya memang mengakui isinya yang cukup mengesankan, terlebih jika cover tersebut mewakili rasa penasaran banyak orang untuk merasa tertarik membaca isinya. Saya sangat berterima kasih kepada penerbit saya yang sangat memahami apa yang menjadi maunya saya meskipun sebenarnya say tidak meminta. Beruntungnya naskah saya saat itu memilih rumah yang cukup memberikan kepuasan dan kenyamanan.


Saat saya membaca halaman-halaman pertama pada buku ini, saya memang cukup terkesima dengan gaya bahasa yang dibawakan penulisnya. Namun saya cukup tahu diri, karena sudah sering mendapati hal yang sama, bahwa setiap buku yang awalnya mampu membuat pembaca terkesima, maka kebanyakan isi selanjutnya hanyalah biasa-biasa saja. Namun, hal tersebut itu tidak berlaku pada buku ini, saya menjadi sangat beruntung membeli buku ini karena bermodalkan rasa penasaran dan iseng-iseng sedikit. Nyatanya, dari awal hingga akhir, penyajian dalam buku ini sangat layak dibaca berulang kali sebagai bentuk kesadaran yang mengkoneksikan relativitas hidup kita dengan keadaan.


Sebenarnya ada banyak kutipan yang saya tandai dalam buku ini, tetapi saya akan membagikan satu yang menurut saya itu cukup menarik; Tidak ada mimpi yang tidak memiliki kesempatan untuk menjadi kenyataan. Jadi, yang benar-benar menghalangi kita adalah kasih sayang itu sendiri, Sayang. Tanpa kewarasan, seharusnya aku dan kamu mutlak berbeda. Benar, kita memang berbeda. Lelaki dan perempuan, berselisih satu sama lain, sepanjang hubungan, niscaya.


Juditch Chung mengemas ucapan-ucapan cinta antara dua orang manusia tanpa adanya melankolia yang justru membuat kita merasa bosan tatkala membacanya. Sebab hal-hal cinta di dalam buku ini dikuliti oleh kesadaran manusia dengan sangat utuh. Berawal dari kenyataan-kenyataan cinta yang lebih banyak memuat luka, hingga tiba di perasaan bahagia yang biasa-biasa saja, tidak dilebih-lebihkan dengan tujuan agar saat kita membacanya, degup jantung menjadi berdebar. Tentu sama sekali tidak ada dalam tulisannya.



Selain tulisan singkat pada cover buku yang ada di depan, cover belakang buku ini juga cukup membuat rasa penasaran saya meningkat sempurna. Dan alasan itulah yang membuat saya mengapa sebegitu inginnya membawa pulang buku ini. Meski tanpa saya membaca cover belakangnya, saya tetap jatuh cinta pada isyarat dalam kutipan singkat yang ada di depannya; "Malam itu, aku merasa tengah terjebak di suatu tempat yang asing. Tempat yang bahkan tidak pernah kubayangkan--di mana aku tidak perlu tersenyum atau mengangkat bahu: tanda tidak tahu. Dan aku tidak menjanjikan apa pun. Selain merapal namamu kala sepertiga malam, sepanjang umur. Terlepas dari berperan sebagai siapakah kamu di dalam kehidupanku pada masa depan."




Share: