Nah sekarang kembali lagi dengan klaim keselarasan ayat-ayat dari kitab suci yang relevan dengan penemuan ilmiah modern, coba kalau kita menggunakan logika dan cara berpikir yang sama, harusnya kita juga berlaku adil ketika informasi serupa muncul dalam kitab atau tulisan yang lebih tua daripada Alquran. Apakah itu artinya kitab tersebut lebih benar? Atau justru layak dianggap setara kesuciannya?
Contohnya dalam kitab Weda dalam himne-himne filosofis di bagian Samhita dan Rigveda, terdapat uraian mengenai kosmologi dan konsep partikel subatomik. Pemeluk agama Hindu bisa aja berargumen bahwa ajaran tersebut telah muncul ribuan tahun sebelum ilmu pengetahuan menemukan bukti empirisnya. Begitu pula dengan Kitab Yesaya pasal 40 ayat 22 dalam tradisi Kristen yang menyebut “dia yang duduk di atas lingkaran bumi.” Pernyataan ini sebenarnya juga mengandung perdebatan tafsir dan indikasi sebagai pengetahuan awal mengenai bentuk bumi yang bulat, tapi pernyataannya sudah ada jauh sebelum Galileo atau Kopernikus lahir.
Jika logika pencocokan seperti ini diterima tanpa kritik, maka kita juga harus menerima bahwa klaim keilahian dan validitas kitab lain memiliki argumen yang sama kuatnya. Ini tentu menjadi persoalan bagi umat Islam yang meyakini Alquran sebagai kitab paling benar, final, dan lengkap. Kalau kitab suci lain maupun pemikiran filsafat bisa mengajukan klaim serupa, maka posisi eksklusivitas Alquran menjadi problematis.
Fenomena serupa tidak hanya muncul pada teks keagamaan. Para filsuf Yunani kuno juga telah membicarakan konsep-konsep yang menjadi dasar sains modern jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan. Demokritos misalnya, merumuskan gagasan atomisme, bahwa seluruh realitas terbentuk dari partikel kecil tak terbagi bernama atomos. Gagasan ini mirip dengan teori atom modern yang berkembang pada abad ke-19, meski kemudian direvisi oleh temuan subatomik. Kemudian adalagi Aristoteles yang mengembangkan teori mengenai fisika, biologi, dan astronomi dan memengaruhi ilmu pengetahuan selama berabad-abad, sementara itu Eratosthenes pada 200 SM, berhasil menghitung keliling bumi dengan menggunakan cahaya matahari di dua kota dan hasilnya memiliki tingkat akurasi yang mengejutkan.
Lantas, apakah kebenaran sebuah kitab suci dapat dinilai dari seberapa banyak ia memuat informasi sains yang baru dipahami manusia di masa depan?
Soalnya, kebenaran sains itu bersifat tentatif menggunakan metode falsifikasi. Jadi kebenaran dalam sains tidak pernah final. Sementara kebenaran dari kitab suci merupakan kebenaran mutlak yang bersumber langsung dari Tuhan. Makanya ketika teori Newton tentang gravitasi, yang bertahan ratusan tahun, pada akhirnya dianalisis ulang oleh relativitas Einstein. Jika sains selalu berubah mengikuti data dan observasi baru, bagaimana kita bisa menyimpulkan bahwa fakta sains hari ini merupakan ukuran kebenaran wahyu yang sifatnya mutlak?
Di sisi lain, ketika ayat Al-Qur'an dicocokkan dengan temuan sains, apakah itu benar mencerminkan makna yang dimaksud oleh Al-Qur'an, atau hanya hasil penafsiran kita yang disesuaikan dengan temuan ilmiah modern? Biar kita merasakan keimanan yang lebih kuat jika ada fenomena sains yang ditemukan dan itu relevan dengan kitab suci?
Dalam tradisi tafsir terdapat konsep muhkamat dan mutasyabihat. Ayat muhkamat memiliki maksud yang tegas dan tidak membutuhkan penafsiran rumit, biasanya terkait hukum dan keyakinan inti. Sementara ayat mutasyabihat lebih multitafsir, ini membutuhkan pendekatan lebih dalam agar maknanya dapat dipahami. Banyak ayat yang hari ini dihubungkan dengan sains termasuk kategori ayat mutasyabihat, seperti pembahasan tentang penciptaan alam atau fenomena kosmik, yang mungkin bersifat simbolik atau metaforis.
Hal ini berkaitan pula dengan istilah qath’i dilalah dan zhonni dilalah. Qath’i dilalah menunjukkan makna yang pasti, sementara zhonni dilalah menunjukkan makna yang bersifat dugaan atau terbuka terhadap interpretasi. Ayat mutasyabihat termasuk dalam zhonni dilalah, sehingga pencocokannya dengan teori ilmiah dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda.
Sederhananya, kalau kita mencocokkan ayat yang berkaitan dengan fenomena sains, kita tahu nggak maksud sesungguhnya dari ayat tersebut itu apa? Apakah memang ayat itu ditujukan untuk menjelaskan fenomena sains? Coba pikirkan ulang sebagai umat muslim, Alquran itu kan secara luas dianggap sebagai sastra terbaik, mukjizat terbesar, dan standar kefasihan yang tidak tertandingi karena keindahannya yang memukau.
Karena itu, jika pencocokan dilakukan sepihak, maka ketika temuan ilmiah bertentangan dengan tafsir tertentu, seperti pada pembahasan evolusi, DNA, atau asal-usul manusia purba, pencocokan tersebut menjadi buntu. Karena enggak ada titik temu. Dalam konteks penciptaan manusia misalnya, Al-Qur'an sering dipahami secara tekstual merujuk pada konsep manusia berasal dari pasangan pertama, yakni nabi Adam dan Hawa. Ini jelas berkonflik dengan teori evolusi jika pendekatan yang dipakai adalah pencocokan literal.
Sains itu berdiri secara objektif, berdasarkan apa yang bisa diamati, diukur, dan diuji. Objeknya nggak berubah, tapi penafsirannya berubah mengikuti metode, instrumen, dan paradigma. Karena itu ilmu pengetahuan berkembang, sementara wahyu bergerak dalam ranah nilai dan makna, dan dia sifatnya absolut.
Ketika ayat Al-Qur'an dipaksa selalu selaras dengan penemuan ilmiah, maka akan muncul inkonsistensi. Misalnya ayat yang membahas tentang langit yang terentang atau meluas kemudian dikaitkan dengan teori Big Bang. Atau ayat yang membahas tujuh lapis langit yang kemudian dihubungkan dengan gagasan multiverse. Pada akhirnya ayat yang sesuai akan disandingkan, yang tidak sesuai akan diklaim sebagai metafora. Mekanismenya malah jadi selektif.
Padahal, kalau kita mau belajar lebih dalam. Ilmuwan muslim yang hidup di abad pertengahan waktu Islam lagi masa jaya-jayanya, nggak pernah ada dari mereka yang menyamakan antara ayat dari kitab suci saat mengembangkan pengetahuan sainsnya. Contohnya seperti Ibnu Al-Haytham atau populernya di Barat dengan sebutan Al-Hazen, merupakan seorang bapak ilmu optik modern. Di bukunya yang berjudul Al-Manazir, membangun teori tentang cahaya dan penglihatan lewat eksperimen yang metodologis. Dia nggak ngambil ayat dari kitab suci dulu buat bikin hipotesis, tapi dia pakai oberservasi, penelitian, eksperimen, analisis data, bahkan metode ilmiah.
Contoh lainnya adalah Ibnu Sina atau populernya di Barat dengan sebutan Avicenna, dia menulis salah satu ensiklopedia medis terbesar di dunia yang judulnya Al-Qonun fi Tib, dalam risetnya dia nggak menyambungkan ayat suci untuk disesuaikan dengan temuan ilmiahnya. Dia murni pakai logika, eksperimen, dan pengamatan empiris.
Jadi, apa yang dilakukan oleh ilmuwan muslim di abad pertengahan ini menjadi penting buat kita, bahwa mereka nggak pernah takut atau merasa perlu menyambungkan agama dengan sains, pada saat mereka melakukan penelitian. Karena mereka sudah paham bahwa agama dan sains itu berdiri di wilayahnya masing-masing, punya metodologi masing-masing. Agama memberikan nilai moral dan spiritualitas, sementara sains memberikan pemahaman tentang alam semesta. Jadi nggak perlu dipaksakan untuk nyambung satu sama lain, dan bukan untuk disambungkan apalagi disamakan juga.
Tapi bukan dalam artian bahwa mereka (para ilmuwan muslim) ini nggak ngerti wahyu Tuhan. Justru mereka ini mengerti betul tentang teologi, ada kok gagasan-gagasan mereka terkait teologi dan itu berdiri secara terpisah. Bahkan Ibnu Sina sendiri sampai disesatkan oleh al-Ghazali di dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah karena Ibnu Sina punya filsafat emanasi terkait filosofi yang dia yakini saat itu. Tapi mereka juga paham, memasukkan wahyu Tuhan ke metodologi sains, hanya membuat hasil temuan mereka jadi nggak universal, artinya hanya bisa diterima oleh umat muslim aja. Sementara nilai dari sains itu harus universal, biar bisa diterima semua orang tanpa pandang agamanya.
Mereka memandang wahyu sebagai sumber nilai dan motivasi, tetapi bukan parameter pengujian kebenaran ilmiah. Makanya ilmuwan muslim ini kan juga belajar dari ilmuwan lain yang bukan muslim, yang pada saat itu punya Baytul Hikmah di Baghdad, tempat di mana semua ilmu pengetahuan Yunani kuno diterjemahkan, dipelajari, dan diteliti ulang, semua itu terasa biasa aja buat mereka.
Kalau konsep cocoklogi ini dilakukan secara terus menerus tanpa mengerti konteksnya, hanya akan membuat salah paham soal agama, lantas membuat agama itu terkesan jumud. Padahal wahyu pertama umat Islam yang turun pertama kali dibawakan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saat itu adalah "iqro" artinya bacalah. Maksudnya bisa aja berarti kita disuruh untuk mempelajari dan mengeksplorasi dunia ini dengan cara yang mendalam.
Kalau belajar dari sejarah ilmuwan muslim yang hebat itu, harusnya kita juga bisa belajar bahwa saat membaca ayat-ayat dari kitab suci, kita harusnya menemukan pemicu bagaimana caranya kita mempelajari alam semesta lewat metodologi yang sudah disediakan oleh Tuhan. Ilmuwan-ilmuwan muslim tersebut, mengembangkan temuan ilmiahnya dengan banyak cara tanpa sekali pun menyandingkan temuannya kepada ayat di dalam kitab suci.
Untuk menulis keresahan ini aja, aku membaca puluhan paper yang mengkaji keterkaitan ayat-ayat kitab suci dengan fenomena sains. Paper yang aku masukkan di tulisan ini cuma beberapa aja sebagai gambaran umumnya.
Jadi, beberapa dari paper yang sudah aku baca itu punya kesan yang kuat untuk menunjukkan bahwa agama itu sangat relevan dengan zaman modern melalui temuan sains yang selaras dari ayat dalam kitab suci. Aku sih berharapnya paper ini tuh cuma hasil persepsi pribadi penelitinya aja yang bersifat subjektif dengan landasan-landasan yang berbasis referensi ilmiah.
Contohnya dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Ajar Permono dengan judul "Bucaillisme Ayat-Ayat Sains: Sebuah Kritik Metodologi" mengatakan bahwa dalam pengembangan sains, para ilmuwan "wajib" mencari dasar pijakan pada ayat-ayat Qur'an baik yang tersurat atau tersirat. Konsekuensinya, manakala terdapat pertentangan antara Qur'an dan sains, maka sainslah yang disalahkan dan dinafikan.
Coba, reaksi kita pas membaca hasil pembahasannya, gimana? Masa penemuan sains disalahkan hanya karena bertentangan dengan Alquran? By the way, penggalan kutipan tersebut tidak mewakili keseluruhan isinya, ya.
Menurutku, Tuhan mewahyukan Alquran sudah cukup istimewa, ketimbang sains yang kebenarannya pun masih bisa tumpang-tindih oleh banyak teori. Hanya saja, fakta-fakta ilmiah tuh akan menjadi terasa benar karena masuk akal oleh logika melalui pembuktiannya.
Misalnya dalam paper lain dengan judul "Qur'an on Embryology: A study of Quranic and modern concept of human development", ditulis oleh Ali Mohammad dari India, papernya membahas perbandingan antara teks Qur'an serta interpretasinya mengenai tahapan penciptaan manusia dan konsep embriologi modern. Penulisnya menelaah klaim bahwa beberapa ayat Qur'an mengandung pengetahuan embriologi modern dan menyelidiki apakah klaim itu valid dari sudut pandang biologi. Kenyataannya, paper ini cuma membahas interpretasi istilah, dan hasilnya bergantung pada tafsir.
Dalam paper lain lagi dengan judul "Islam and evolution: A brief review of quranic concept and contemporary thoughts", ditulis oleh Fozia Sadaf seorang dosen dari Pakistan. Papernya membahas konsep evolusi manusia dari perspektif ilmiah yang dikonfrontasikan dengan pandangan dalam Al-Qur'an mengenai penciptaan manusia. Tapi paper ini sifatnya hanya literatur review, bukan studi empiris baru, paper ini lebih banyak menyajikan argumen dan posisi interpretatif. Jadi tidak ada kesimpulan yang membuktikan evolusi atau menolaknya secara ilmiah, hanya mendata posisi-posisi aja.
Dalam paper yang ditulis oleh Muhammad Patri Arifin dengan judul "Applied Science dalam Wacana Tafsir Ilmi" menyatakan dalam kesimpulannya bahwa penafsiran Al-Quran dengan pendekatan ilmiah tidaklah dimaksudkan untuk menundukkan Alquran dengan teori-teori ilmiah. Akan tetapi berupaya untuk menjelaskan dan menyingkap hikmah isyarat-isyarat ilmiah dalam ayat-ayat kauniyah dengan menjadikan teori dan fakta ilmiah sebagai bukti kemukjizatan Alquran dari sisi isyarat ilmiah (I'jaz al-'ilmy) yang terkandung di dalamnya.
Nah untuk paper terakhir ini, aku perlu sedikit menjelaskan terkait I'jaz al-'ilmy, singkatnya ini tuh usaha membuktikan kesakralan teks kitab suci melalui kecocokan dengan ilmu modern, dan itu dianggap sebagai bukti bahwa kitab suci tersebut adalah wahyu yang berasal dari Tuhan yang maha mengetahui masa depan.
Masalah utamanya, I'jaz al-‘ilmy bukan ilmu, tapi metode penafsiran yang bersifat retroaktif. Tahapan umumnya kayak gini; sains menemukan sesuatu. Umat mencari ayat yang kira-kira mirip. Lalu ditafsir ke arah temuan baru. Kalau sains berubah, tafsirnya ikut berubah. Dalam istilah epistemologi, ini jadi bentuk confirmation bias.
Dari sini kita sudah bisa melihat polanya yang semakin keliatan jelas, paper-paper yang bertebaran dalam konteks ini hanya menyandingkan data-data sains yang diselaraskan melalui kitab suci, nanti hasil kesimpulannya bersifat interpretatif, dan sama sekali nggak ada penegasan yang memastikan hasil penelitiannya bisa menyandingkan keterkaitan fenomena sains dalam kitab suci secara pasti.
Sampai sini persoalannya jadi jelas, kalau sifatnya hanya tafsiran, berarti dalil agama yang otentik dari kitab suci akan melalui proses penalaran si penafsir dengan metodenya sehingga menjadi sebuah dalil. Nah problemnya adalah, tidak semua dalil agama dari hasil tafsiran, memiliki kebenaran yang sama dengan dalil agama yang otentik. Jangan malah menyamakan kedudukan tafsir atas kitab suci, lantas membuat kita meyakininya sebagai wahyu yang sama seperti kitab suci tersebut, lalu dicocokkan terhadap fenomena sains
Lagi-lagi aku perlu disclaimer keras bahwa aku bukan sedang merendahkan ahli-ahli tafsir, aku hanya berusaha membangun bagaimana cara kita melihat hasilnya dalam implementasi keilmuan dalam ranah-ranah tertentu.
Jadi sebenarnya yang bermasalah itu bukan karena keyakinan kita terhadap kitab suci yang membahas fenomena sains, tapi bagaimana metodologi kita memandang kitab suci dan fenomena sains. Karena kitab suci akan selalu relevan bahkan tanpa harus dijadikan bukti sebagai relevansi dalam fenomena sains.