Dewasa itu nggak
diukur dari usia, dewasa juga nggak diukur dari sebuah pengakuan diri sendiri
kepada orang lain. Dewasa lebih condong kepada perbuatan kita yang selama ini telah
menjadi penilaian di mata orang lain, yang menandakan kita sebagai sosok
pribadi yang dewasa.
Ada banyak orang yang menginginkan kedewasaan sebelum
masanya tiba, memaksa usia remajanya untuk bersikap layaknya orang dewasa.
Karena dalam pandangannya, dewasa adalah bentuk kebebasan di mana kita tidak lagi
dilarang atas sesuatu yang kita pilih dan inginkan. Sebegitu inginkah kita diberikan kebebasan sampai-sampai mendambakan sebuah kedewasaan?
Pernah mikir
sebentar nggak? Apa yang sebenarnya kamu tuju dari hidup ini? Umurmu sekarang
berapa? Ke depannya kamu mau apa? Kemarin-kemarin apakah kamu sudah melewati
hari yang menurutmu itu memberikan manfaat untuk orang lain? Pernah nyadar sama
itu semua nggak?
Gini, semua orang
itu pasti punya masalah dalam hidupnya masing-masing, tapi bukan berarti dengan masalah
itu ada, kamu harus merasa tumbuh dewasa dulu untuk menyelesaikannya. Kamu
harus cukup mengerti apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan untuk masalah itu,
bagaimana kamu mengurainya secara perlahan agar bisa kembali lurus dan
terselesaikan. Setelah kamu menyelesaikan satu masalah, bukan berarti kamu
membanggakan sebuah masalah itu sebagai tanda dari kedewasaanmu, masalah akan
tetap menjadi sebuah masalah, tetapi masalah seringnya menjadi utusan untuk
mengantarkan sebuah hikmah.
Jadi, jangan ngerasa
hidup tuh gini-gini aja, jangan ngerasa orang lain sibuk sama dunianya,
jangan ngerasain apa yang nggak layak untuk dirasain. Pribadi yang observatif itu sering kali tahu
ke mana pikirannya melangkah untuk menyikapi dunia dan lingkungannya.