Selasa, 16 Maret 2021

Oligarki Elitis


Pertemanan antar setiap manusia mungkin bisa dikonotasikan dengan konjungsi verbal antar tiap-tiap makhluk sosial. Namun, dari pertemenan, nggak harus ngebuat kita memaksa diri untuk ikut dan ada di crycle yang isi kepalanya beda sama kita. 

Dalam artian seperti ini, kita udah nggak ngerasa nyaman lagi saat ada di lingkungan pertemanan 'yang seperti ini.' Bukan lantaran nggak mau berteman atau membandingkan, hanya saja atmosfer yang nantinya kita terima akan sangat berbeda dari idealisme yang ada dalam diri kita, bahkan bisa jadi bertentangan. 

Mungkin ada, di satu waktu yang bisa membuat kita merasa bahwa ini pertemanan yang sehat banget, tapi nggak menutup kemungkinan kalau itu hanya bisa terjadi di titik waktu yang nggak lama, dalam artian, 'Kalau lagi serius, ya serius. Kalau lagi bercanda, ya bercanda' kurang lebih seperti itu. Jika yang kita dapati demikian, mungkin akan ada kecendrungan kita akan memaksa diri untuk beradaptasi 'di keadaan yang sedang bercanda' yang jelas-jelas keadaan itu bertentangan dengan idealisme yang ada dalam kepala kita.

Bukannya bermaksud sok idealis atau pilih-pilih, saya tahu bahwa kebanyakan dari waktu dalam hidup kita sedikit banyaknya akan dihabiskan di lingkuangan luar. Maka dari karena itu, saya memilih untuk menyesuaikan keadaan sama apa yang sesuai dengan apa yang menjadi mindset dalam hidup saya.

Mungkin jatuhnya terkesan seperti pilih-pilih, tapi ada yang ingin saya ungkapkan dari salah satu pemikiran saya, yang semoga saja bisa membawa perubahan dan memicu pemikiran pembaca untuk lebih mawas diri terhadap apa yang menjadi pilihan dalam hidup kita, agar kategori pilihan itu kita tahu akan berdampak apa nantinya di hidup kita.

"Lebih baik berteman dengan seorang yang dungu, tetapi kita mendapatkan banyak hal dari kedunguannya. Daripada berteman dengan orang yang sok asik, tetapi hanya kesenangan dan akibat lain di baliknya." Konotasi dari kalimat sok asik dan seterusnya menjadi ungkapan bahwa sering kali di dalam crycle pertemanan itu ada yang dengan sengaja menjatuhkan teman dengan maksud bercanda, dan semua orang mungkin sepakat menerima itu sebagai lelucon semata.

Orang-orang seperti itu sering kali tidak pernah bisa mengerti bagaimana kondisi mental setiap orang. Apabila mereka menganggap hal tersebut terkesan klise dan remeh, berarti ada yang sedang tidak beres pada dirinya. Bisa jadi karena ia tidak berhasil mencintai dirinya sendiri, sampai-sampai ia menyamakan orang lain seperti dirinya. Karena ada yang tidak sepenuhnya ia kenal dari dirinya, itu sebabnya letak keramaian hidupnya ada di luar diri, bukan di dalam diri.

Setiap orang memang punya isi kepala yang berbeda, dan nggak semua dari isi kepala yang beda bisa untuk dipaksa sama. 

Share: