Jumat, 17 Maret 2023

Dunia Sophie [book review]

Dunia Sophie, karya Jostein Gaarder, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, terbitan penerbit Mizan Pustaka.

Dunia Sophie adalah sebuah buku berjenis novel yang membahas tentang pengantar filsafat secara menyeluruh. Tidak heran mengapa buku ini menjadi sedemikian tebalnya karena memang memuat sejarah peradaban filsafat dari pertama kali digagas hingga filsafat di masa kontemporer sekarang. Mungkin tulisan ini akan mempunyai kesan review sekaligus curhat saya tentang dilema-dilema dalam membaca buku ini.

Saya mempunyai buku ini sekitar tahun 2018, yakni ketika saya baru saja masuk sekolah SMA, dan buku yang saya punya ini merupakan edisi baru dengan cetakan terjemahan yang ke-8.  Nah, yang membuat saya membeli buku tersebut ialah karena ketertarikan saya terhadap filsafat itu cukup dalam, pasalnya saya sering menemukan kutipan-kutipan kalimat tentang filsafat di media sosial dan itu nilainya sangat filosofis. Kebetulan juga saat itu toko buku langganan saya sedang memposting jualannya dan muncullah buku Dunia Sophie ini, lalu saya baca sinopsisnya, dan saya merasa tertarik untuk membelinya. Usai membeli buku tersebut dan membawanya pulang ke rumah, impresi yang saya dapatkan pertama kali adalah, anjir berat juga ya buku ini wkwk.

Dari nyeletuk bobot bukunya yang berat, akhirnya ketika saya mulai membaca buku tersebut, saya kewalahan sendiri, kapasitas otak saya tidak bisa bekerja secara maksimal untuk memahami setiap isi dari kalimat-kalimat yang ada di buku tersebut. Awalnya saya mencoba untuk memaksakan untuk membaca sampai 50 halaman pertama, tapi kenyataannya tidak bisa, pembahasannya benar-benar berat, saya sudah mengerahkan imajinasi saya semaksimal mungkin untuk membayangkan bagaimana alur cerita yang disuguhkan di dalam novel tersebut. Jujur, selain karena tema filsafat yang membuat saya tertarik untuk mengadopsi buku ini, juga karena ketegorisasi novelnya yang membuat saya juga tertarik. Karena sejauh saya membaca buku-buku novel, saya hanya membutuhkan waktu paling lama 1 minggu untuk menghabiskan seluruh bacaan yang tebalnya itu antara 300-400 an halaman.

Ternyata saya salah menduga, yang awalnya saya kira akan semenyenangkan seperti membaca novel-novel pada umumnya, tetapi buku ini berbeda. Mungkin memang karena saya juga baru pertama kali membaca buku novel terjemahan dari bahasa asing, pikir saya waktu itu. Saya awalnya masih ingin terus memaksa membaca buku tersebut, dengan sangat tertatih saya membacanya berulang-ulang agar saya bisa memahaminya, tapi tetap saja nihil. Akhirnya pada sekitar lembar halaman yang sudah hampir 200 an, saya benar-benar berhenti membaca buku tersebut dan menyimpannya di lemari buku koleksi saya.

Dua tahun kemudian menjelang kelulusan SMA, saya mulai menarik kembali buku tersebut dari lemari dan mengeluarkannya. Kebetulan karena pada saat itu tahun 2020 sedang lockdown besar-besaran, dan juga saya mempunyai banyak waktu luang disela mendaftar di jenjang perkuliahan. Maka saya memutuskan untuk kembali membaca buku itu lagi, dan saya agak mundur beberapa puluh halaman ke belakang untuk mengingat apa yang kemarin pernah saya baca, tetapi kenyataannya memang tetap nihil, saya masih tetap tidak bisa memahaminya sekaligus mengingat isinya. Memang pada saat saya kembali membaca buku tersebut, saya sudah mulai sedikit-sedikit memahami, tetapi ketika buku tersebut saya tutup, pikiran saya tentang apa yang tadi sudah dibaca juga ikut tertutup. Akhirnya saya banyak merutuki kekesalan pada diri saya sendiri karena kesulitan mencerna isi buku tersebut.

Buku Dunia Sophie ini juga yang pertama kali dalam sejarah hidup saya yang notabenenya suka membaca ini, tidak bisa saya tuntaskan dengan mudah. Kala itu koleksi saya sudah hampir mencapai seratus buku, dan cuma buku Dunia Sophie ini yang belum bisa saya tuntaskan, bahkan halaman yang belum dibaca pun banyak, apalagi yang perlu dipahami. Ketika libur panjang menjelang persiapan memasuki masa kuliah, saya tetap mencoba memaksa membaca buku tersebut meski tidak terlalu paham akan isinya, intinya saya hanya konsisten untuk membacanya, dan saya tetap kewalahan hingga di lembar halaman ke 300. Sungguh benar-benar buku yang menakjubkan.

Menjelang penerimaan mahasiswa sudah semakin dekat, akhirnya saya berfokus untuk mengusahakan agar bisa lanjut belajar di jenjang perkuliahan. Saya memilih Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, dan kala itu saya mengikuti jalur UM-PTKIN, saya lupa apa singkatannya wkwk. Intinya itu menggunakan jalur tes, dan ketika itu saya dihadapkan pada 3 minat bidang jurusan yang harus saya pilih. Karena saat itu saya sudah sangat lama tertarik pada psikologi islam, maka akhirnya saya memilih prodi tersebut di pilihan pertama, kemudian karena keharusan, saya mengisi Pendidikan Agama Islam pada pilihan kedua, dan Aqidah filsafat islam pada pilihan ketiga.

Ajaibnya, ketika pengumuman hasil tes keluar, saya tidak lolos untuk masuk di prodi jurusan psikologi Islam, dan jatuhnya malah ke prodi jurusan aqidah filsafat islam. Bayangkan, pilihan ketiga yang di bayangan kepala saya justru adalah kemungkinan jauh untuk terpilih, kenyataannya malah benar-benar terpilih. Awalnya saya menolak mentah-mentah, masih ada satu jalur lagi untuk saya bisa mengusahakan masuk di prodi jurusan psikologi islam, yakni melalui jalur tes mandiri, yang mana itu juga harus kembali mengeluarkan uang pendaftaran lagi dan lebih besar dari sebelumnya. 

Singkat cerita, saya kembali diharuskan memilih 3 opsi jurusan, dan pilihan saya tetap sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Setelah tes dilaksanakan dan hasil kelulusan diumumkan, ajaibnya saya malah tidak lolos di semua pilihan tersebut, yang artinya saya gagal. Itu adalah kondisi dan kenyataan terburuk saya, mengingat jalur mandiri adalah jalur tes terakhir. Namun, ternyata masih ada secercah harapan kecil, ada jalur mandiri arah bagi yang di pengumuman sama sekali gugur dari pilihannya. Jurusan yang ada di jalur mandiri arah tersebut juga terbatas di beberapa jurusan yang sudah ditentukan, yakni yang peminatnya memang sangat kurang, yang saya ingat salah satunya adalah bahasa arab, bahasa inggris, tentang fisika atau apalah itu intinya, juga beberapa prodi jurusan lain yang saya lupa, dan salah satunya adalah aqidah filsafat islam.

Sebenarnya, ada satu alasan kecil mengapa saya tetap ngotot memasukkan aqidah filsafat islam pada opsi tes kemarin, yakni karena awalnya saya tertarik pada filsafat, tetapi karena ketika saya membaca buku Dunia Sophie saja kepalang merasa berat, makanya saya cuma menjadikan itu opsi terakhir. Tapi tanpa berpikir panjang lagi saya langsung memilih aqidah filsafat islam itu sebagai jurusan kuliah saya, mengingat basic-basic yang pernah saya pelajari sebelumnya dan sedikit minat saya kepadanya. Namun kenyataannya sekarang malah saya nyaman menekuni jurusan kuliah tersebut, dan buku Dunia Sophie ini juga kembali saya baca ulang ketika Februari tahun 2023, lalu tuntas setuntas-tuntasnya di pertengahan Maret 2023, dengan pemahaman yang sejelas-jelasnya, dan perubahan impresi yang dulunya terasa berat, kini malah jadi terasa ringan dengan halaman sebanyak 800 an itu malah terasa kurang jika membahas filsafat secara menyeluruh dan panjang lebar.

Memang buku Dunia Sophie ini sangat menarik untuk kapabilitas tertentu, karena sang penulis sudah mengusahakan diri untuk menjelaskan persoalan rumit tentang filsafat menjadi sedemikian mudah dan menyenangkannya melalui sebuah imajinasi anak kecil. Maka dari karena itu buku ini berjenis novel ialah karena penulisnya berusaha membawakan pembahasan berat dalam filsafat melalui pendekatan imajinatif yang ada pada seorang anak remaja berusia 14 tahun bernama Sophie, dia mendapati banyak pertanyaan dalam hidupnya dan pembahasan berlalu dengan alur yang menyenangkan, ada banyak pengibaratan serta contoh-contoh yang dimuat dalam buku ini sehingga kita menjadi lebih mudah dalam memahami persoalan filsafat.

Yang paling mengejutkan dari buku ini adalah plot twist yang ada di akhir alur ceritanya, meski berbasis pengantar filsafat, penulis tidak menyampingkan rangkaian alur cerita yang menurut saya pribadi cukup filosofis dan sangat mewakili tema yang dibawakan dari buku ini. Sebagaimana biografi sang penulis, Jostein Gaarder memiliki ciri khas tulisan yang dapat memadukan keindahan dongeng dan kedalaman perenungan, dan hal itu terbukti dari salah satu karyanya yang sudah selesai saya baca ini, Dunia Sophie. Meski harus melewati hampir 4 tahun untuk kemudian saya bisa memahami isinya secara utuh, tetapi itu memang waktu yang harus saya bayar untuk mencapai pemahaman yang sangat brilian ini.

Oh iya, satu fakta menarik dari buku ini, ketika saya kembali membaca ulang buku ini di tahun 2023, saya sudah tertarik dengan sains yang berhubungan erat dengan filsafat. Sehingga saya memiliki banyak sekali keterkejutan dalam setiap pembahasannya yang banyak menyingung terhadap persoalan sains, bahkan saya juga baru menyadari bahwa di awal-awal halaman buku ini juga sudah tertuju pada sains dan berkaitan erat dengan alam.

Kadang saya sering iseng nanya sama diri sendiri, kok bisa ya suka sama sains? Terus pas belajar, dan bisa ngerti, kok yo enak ya wkwk. Ditambah lagi ketika bab terakhir buku ini membahas tentang big bang, kayaknya kalau orang yang nggak tertarik buat belajarnya, saya sendiri mengakui kalau bab terakhir di buku ini yang membahas tentang big bang agak cukup berat, pasalnya penulis berusaha menjelaskan hal tersebut berdasarkan perspektif pelajaran astronomi. Bab terakhir tentang big bang ini bisa jadi satu paradoks yang berat kalau dipikir-pikir, dan pada tulisan di bab terakhir ini pula juga diakhiri dengan kembali ke pertanyaan besar di awal pembahasan buku ini yang sekaligus pembahasan awal dalam filsafat yakni tentang asal-usul segala sesuatu. Sebenarnya masih nggak ekspek aja gitu antara buku sama ketertarikan yang lagi dipelajari jadi kayak punya algoritmanya.

Pada akhirnya memang penting buat kita mencari tahu sesuatu kalau kita merasa tertarik untuk mengetahuinya, karena memang itu akan jadi salah satu cara dalam proses belajar kita untuk memahami bagaimana alam semesta bekerja, dan tujuannya bukan buat unjuk rasa bangga, tapi menyadari akan ketidakberdayaan kita. Contoh kecil aja deh dari apa yang pernah dikatakan Einstein, "Alam semesta itu mengagumkan, hanya Tuhan yang bisa menciptakannya. Tugasku hanya mencari tahu bagaimana Dia melakukannya." Nah, sebelumnya saya pernah punya niat untuk mengangkat kutipan Einstein ini ke dalam konsep tauhid, sebagai refleksi atas keimanan kita selama ini, dan tujuannya buat diposting di blog, tapi sampai sekarang belum ketulis-tulis, berujung cuma nulis review tentang buku Dunia Sophie ini aja. Next lah ya wkwk

Share: