Jumat, 13 Oktober 2023

Enigma romantika tanya

"Kenapa lo tiba-tiba clingy gini sih sama gue? Bukannya kemarin-kemarin nggak gini? Kenapa, sih, kenapa?" tanyanya dengan suara lembut, mungkin takut jika pertanyaan itu akan menyinggungku. 


Aku terlebih dahulu merebahkan kepala di sisi bahunya, bergeming sejenak seraya menghidu harum aroma rambutnya. "Kenapa sih, ditanya mulu, nggak senang?" Aku menimpali jawabannya dengan balik bertanya, enggan sebenarnya untuk membahas itu.


"Ya, bukan gitu. Maksudnya, heran aja sih. Ini tuh semua serba mendadak, lo yang tiba-tiba welcome, lo yang tiba-tiba clingy, lo yang tiba-tiba manja, lo yang selalu denial sama perhatian orang-orang, dulu tuh gue nggak kenal elo yang kayak begini, tahu enggak? Dulu tuh, walaupun kesannya kayak teman biasa yang lebih sering dicuekin, gue nggak nganggap apa-apa, gue nggak ada tujuan juga sebenarnya waktu tiap hari ngerecokin elo tuh, kayak enak aja gitu buat ngejadiin lo sasaran buat gue jahilin, apes-apes elo baper. Tapi,"


Ucapannya terjeda ketika aku bangkit berdiri dan melangkahkan kaki untuk sedikit membuat jarak dengannya. Diamnya menjadi pertanda bahwa kebingungan lagi-lagi memeluknya saat berhadapan denganku yang dipenuhi banyak rahasia. Semua kejadian-kejadian memangnya harus punya alasan untuk bisa diterima? Kurasa itu akan relatif untuk bisa dijawab.


Perlahan aku memalingkan muka menghadap ke arah wajahnya, seketika raut wajah tak bersalah penuhi tiap relief inci lekuk wajahnya.


"Sorry, kalau gue tadi terlalu jujur. Tapi gue nggak ada maksud untuk bilang kayak begitu, gue cuma penasaran,"


"Penasaran karena akhirnya lo nggak bisa recokin gue lagi, kan? Dan akhirnya lo jadi risih sama semua yang gue lakukan, karena selama ini lo nggak berharap untuk itu, kan? Lo jadi terjebak di situasi ini, kan?" 


Mendadak aku memotong ucapannya dan berkata datar dari jarak yang telah aku buat sebelumnya. Sejak kalimat awal tadi diucapkan, wajahnya terkulai menunduk pelan. Rambut panjangnya yang tergerai indah itu akhirnya berhasil menutupi seluruh wajahnya dari penglihatanku. Kedua telingaku menangkap isakan yang sayup-sayup terdengar pelan.


Alih-alih mendekati dirinya, aku malah melangkahkan kaki ke arah mobilku yang terparkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Di tengah langkah mendekati mobil, aku mendengar suara derap langkah yang tergesa dari arah belakang. Enggan untuk menggubris, aku sama sekali tidak memelankan laju langkahku, sampai akhirnya satu pelukan mendarat tepat di tubuhku, membuat langkahku akhirnya terhenti dan mencerna sesaat untuk menghadapi situasi saat ini.


Di balik dekapan ini, sudah memecah suara isakan seperti dugaanku tadi yang terdengar samar di telinga. Usai pecahan tangisnya mereda, aku memberi isyarat padanya untuk melanjutkan langkah menuju mobil, dan aku masih memilih untuk membungkam suara.


Di dalam mobil, aku sudah menempati kursi kemudi, sementara dia sudah duduk di kursi penumpang di sampingku dengan mata sembab yang tak lagi dia tutupi. Pandangannya menatap datar ke arah depan, sama sekali tidak menoleh sedikit pun. Mesin mobil sudah kunyalakan beberapa detik yang lalu, membiarkan dingin udara AC menerpa wajah kami.


Lebih dari lima menit suasana di dalam mobil lengang, sama sekali tidak ada dialog yang tercipta sepanjang itu, bahkan aku juga tidak menjalankan mobil, hanya hening yang merajai di antara kami. Aku mencoba beralih dari posisi duduk semula, berpaling untuk menghadap ke arahnya dengan sempurna, lantas menghela napas dengan cukup dalam.


"Dalam hidup, nggak semua pertanyaan harus punya jawaban, kan? Ya at least itu buat gue pribadi, karena sejauh gue mengejar apa yang gue mau, gue nggak pernah dapat jawaban itu. Dan bukan menjadi kesalahan kalau akhirnya gue mundur dan berpaling dari itu semua, kan? Karena akhirnya gue jadi orang yang enggak diterima sama tujuan gue untuk ada di hidupnya, sementara orang lain berusaha ada buat gue. Apakah menjadi kebodohan kalau akhirnya gue memindahkan tujuan itu? Gue tahu kok yang gue mau itu apa, tapi kalau gue nggak bisa mendapatkannya, apakah gue harus bersikeras sama tujuan gue? Itu kan sama aja dengan gue nyiksa diri sendiri, mending sadar diri kali daripada nyiksa diri. Dan untuk pertanyaan lo, gue ngerti kok, ngerti banget, kalau nggak ada maksud buat lo untuk ngungkit hal itu."


Sejak aku mengawali ucapan, di tengah-tengah pembicaraan wajahnya mendadak beralih menghadap ke arahku untuk mendengarkan dengan takzim, raut polos disertai mata yang sedikit sembab itu, entah kenapa terlihat lebih menggemaskan dari biasanya. 


"Kita itu sama-sama keras kepala, tau. Lo yang selalu menyimpan banyak alasan, gue yang selalu penasaran. Kalau bagi lo, semua pertanyaan itu nggak harus ada jawaban, seenggaknya buat kita, berdamailah sama semua pertanyaan dan jawaban itu, karena kita butuh,"


"Buat apa?" timpalku cepat menyela omongannya.


Wajahnya tiba-tiba tertekuk takjub usai mendengarkan responku yang seperti itu karena memotong pembicaraannya. Terlihat dari tengkuk lehernya, dia sedang menelan ludah dengan cukup susah, ujung bibir bawahnya ia gigit dengan keras. 


Wajahku menyeringai lebar disertai kekehan kecil, kedua mataku menelusuri tiap inci lekuk wajahnya yang diselimuti kegelisahan. Ini yang kadang membuatku selalu merasa serba salah, selalu menempatkan dia di posisi antah berantah, menggantungkan semua rasa penasarannya dengan sia-sia. Lagi-lagi dia harus memutar kepala atas sanggahanku yang di luar logika. Memang, pilihanku untuk menerimanya juga merupakan bagian dari luar kepalaku, yang tiba-tiba saja sudah terlanjur seperti ini.


"Udah, nggak usah dijawab. Maaf gue terlalu merepotkan untuk setiap rasa penasaran lo, tapi intinya gue sayang sama lo."


Persis pada kalimat terakhir yang aku ucapkan, kedua pipinya bersemu merah. Pelukan atas jawaban paling hening merajai di antara kami berdua, tidak ada lagi kata-kata, tidak ada lagi tanya, hanya jawab tak terjeda yang hilang di antara semua bingung. Aku dengan segudang alasan pahit untuk merajut kisah dengannya, mencoba memendam jauh semua itu dari tiap penasarannya.

Share: