Kamis, 01 Juni 2023

Manusia dan labirin di jiwanya

Untuk kepadatan waktu dari sekian banyaknya temu, akhirnya kita kembali menemui kesepakatan dari banyaknya wacana rungu. Pastinya, ini sama sekali bukan cetera romansa dua pasang manusia. Karena kita hanyalah paradigma yang dibentuk oleh praduga dari isi kepala manusia lainnya.

Sebenarnya pelik tuk bahasakan apa yang mendera dari balik rahasia yang kita ciptakan, tetapi isi kepala menyerah tuk simpan lebih lama lagi dari sudut ingatan. Maka, demi tunaikan hangat yang telah lama membeku oleh bias-bias temu, kukibarkan kembali kehampaan itu melalui cermin yang kutemukan pada sosok seorang hawa, nasib dua orang manusia dan beberapa manusia lainnya yang tidak bisa kujangkau keberadaannya. Namun satu, ada satu yang setara untuk sama-sama limpahkan duka dengan rela.

Percaya, manusia punya pahit masing-masing yang disesap oleh hati atas kejadian yang membuat kenyataan tak lagi berarti. Dan entah bagaimana, bias dari ceruk matamu yang kutemukan oleh duka yang sama tetapi dari rajut kisah yang berbeda, menjadi kelabu yang berkabung di tatapan yang sama. Kau melimpahkan tangis dengan tenang di bahuku, sementara aku tak sengaja tumpahkan sebulir bening dari kelopak mataku di puncak kepalamu. Kita sama-sama dirundung oleh waktu dengan peliknya kejadian yang benturkan banyak tanya, tetapi kita menghadapinya dengan segala duka yang terpendam oleh peluk yang saling menguatkan.

Alih-alih dari praduga manusia atas kasmaran, bahkan aku tak seperti menganggapmu sebagai seorang teman, sahabat, apalagi kekasih, kita selaiknya musuh yang tidak saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan pembenaran. Aku dengan segudang tanya yang tak dapatkan percaya dari harapan yang kubentangkan dengan panjang, sementara kamu dengan tembok besar yang tak bisa kamu hancurkan demi gapai sebuah harapan. Kita setara oleh hancur yang bentangkan romantika tanya, sedang detik yang punya jawab melalang buana pada setiap kepala manusia, dibiarkannya tersesat dalam labirin masing-masing jiwa.
Share: